Rabu, 19 Oktober 2022

Awal Mula Cinta



Karya: Adelia Evi Vani Sidauruk

 

 

Hallo aku  Aca Emanuel dipangil Aca, usiaku 15 tahun dan aku anak tunggal. Ayahku bernama Jodi, usianya 40 tahun berkerja sebagai pengusaha elektronik. Ibuku Bernama Jihan berusia 38 tahun bekerja sebagai pengusaha kue yang dibuka di samping rumah. Puji Tuhan keluargaku sangat sejahtra dan harmonis. Sekarang aku duduk di kelas X MIPA 1, aku bercita-cita sebagai Dokter, aku mendapatkan dukungan penuh dari kedua orangtuaku.

 Pukul 05:30 aku bangun pagi lalu aku menuju dapur, ya seperti biasa aku sudah melihat ibuku melakukan aktivitas rutinnya yaitu memasak.

"Selamat pagi bu," ucapku sambil memeluk ibuku.

"Selamat pagi sayang (mencium kepala) ini minum dulu," ucap ayahku sambil menyodorkan minumku.

" Terimakasih bu," ucapku dan meminum susu yang diberikan ibu kepadaku.

"Langsung siap-siap ya Ca, jangan sampai kamu telat ke sekolah."

"Iya bu, aku mandi dulu."

 

Dipagi hari aku memang tidak pernah diperbolehkan ibuku untuk membantunya, dia ingin aku fokus pada persiapanku kesekolah. Pukul 6:20 aku sudah selesai dengan pakaian sekolahku, kubawa tasku kemeja makan supaya tidak lagi ke kamar sebelum berangkat sekolah. Dimeja makan sudah kulihat ayahku duduk dengan secangkir kopi dengan laptop, iya ayahku dipagi hari memang sudah sibuk dengan perkerjaannya. Kulihat ayahku sedang melihat investasinya di laptop. Ya ayahku senang sekali melakukan investasi, katanya sangat banyak keuntungannya, mungkin ayahku sudah ahli makanya ayahku mengatakan hal tersebut.

"Selamat pagi ayah," ucapku sambil memeluk ayahku.

"Selamat pagi putriku yang cantik," balas ayah sambil mencium kepalaku.

"Yah, mau kopi ayah boleh?"

"Tidak boleh nak kenapa kamu ingin kopi? Apakah kamu mengantuk?"

"Tidak ayah, aku hanya ingin mencicipi saja."

"Tidak nak, kamu minum susu saja, ini ibumu sudah buat."

"Terimakasih ibu, ayah."

"Ca, kamu kan udah seminggu jadi kelas X SMA gimana seru gak di sekolahnya?"

"Seru bu, semua teman-temanku sangat antusias belajar."

"Apakah kamu melihat pria tampan di sekolahmu?" (menutup laptop)

"Tidak ayah, karna laki-laki tampan ada di rumah ini." (sambil tertawa kecil)

Ibu dan ayah hanya mengganguk setelah mendengar perkataanku, kami menikmati sarapan dengan obrolan kecil.

 "Ini bekal nya ca, buku dan tugas jangan ada yang ketingalan ya."

"Iya bu.."

"Ayo brangkat nak, ayah ke garasi dulu buat ngeluarin mobil, kamu pakai sepatu."

"Okey ayah."(memakai sepatu)

"Ca, kalo ada apa-apa di sekolah kabarin ibu atau ayah ya."

"Pasti ibuku sayang.. Aca brangkat sekolah ya bu." ( memeluk dan menyalam ibu)

"Semangat sekolahnya sayang, hati-hati." (mencium kepala dan menyalam)

Aku berangkat kesekolah diantar oleh ayah, perjalanan dari rumah kesekolah memakan waktu 25-30 menit. Di perjalanan kami selalu mengobrol dengan ayah.

"Aca."

"Iya ayah."

"Apakah ada pria tampan di sekolahmu?"

"Ayah ini pertanyaan yang sama  kedua kali ayah tanyakan, kenapa ayah menanyakan hal ini?"

"Kamu sangat cantik, baik dan juga cerdas Ca. Ayah yakin pasti ada yang menyukai kamu dan mencoba mendekati kamu."

"Ayah ayah…."  ( sambil tertawa terbahak-bahak)

"Kenapa tertawa ca?"

"Setiap hari ayah dan ibu cek hp Aca, apakah ada yang dekatin Aca yah? Ada-ada saja ayah."

"Diusia segini sangat wajar jika menyukai lawan jenis, Itu hal menyenangkan Ca. percaya deh sama ayah. Tapi jika memang tidak ada sekarang ayah juga senang, tapi nanti jika sudah ada Aca harus janji bakal cerita sama  ayah."

"Siap ayahku."

Tak terasa udah sampai di sekolah, kupeluk ayahku.

"Aca sekolah ya yah."

"Semangat sayang, kalo ada apa-apa kabarin ayah atau ibu."

"Iya ayah."

 

Aku turun dari mobil lalu masuk ke dalam sekolah, kelasku ada di lantai dua. Aku naik tangga dengan tas bekal di tangan kiriku. Ada beberapa anak laki-laki yang turun tangga dengan berlari dan mereka menyengolku sampai aku terjatuh. Mereka kabur tanpa merasa bersalah. Laki-laki yang berjalan di belakangku membantu ku. "Kakimu luka, ayo ke UKS", ujar laki-laki itu.

Aku hanya menangis karna aku merasa kakiku sangat sakit. Aku semakin syok Ketika dia mengendongku ke UKS. Laki-laki itu meletakkanku di bed UKS lalu mengambil P3K. dia mengobati luka dikakiku, walaupun aku terus menangis dia hanya terus diam sambil mengobati kakiku.

"Sudah selesai, jangan terus menangis,” ujarnya, aku masih terus menangis.

"Apakah masih sangat sakit?” aku hanya mengganguk.

Dia meniup kakiku yang sudah diperbannya.

"Tunggu sebentar ya,” dia keluar dari UKS, dia meniggalkan ku sendiri. Sangat tega pria itu yang ada dipikiranku.

 Aku ingin menelpon ibuku tapi aku takut mereka sangat khawatir. Tapi Kalo tidak memberitahu  aku akan sendiri di UKS ini, aku tidak tau pria itu datang lagi atau tidak. Aku sangat binggung akan keputusan yang akan kuambil. Tiba-tiba pria itu datang dengan 3 pria yang menyengolku itu.

"Ini pria yang menyengolmu tadi?” tanyanya padaku, dan aku mengganguk.

"Kami minta maaf, kami gak sengaja," ujar ketiga pria yang menyengolku.

"Tidak sengaja tapi kalian kabur, apakah kalian pria? tanya pria yang menolongku “Kami minta maaf, kami salah,” ujar ketiga pria itu Kembali.

"Udah gapapa,lain kali di tangga jangan lari-lari,” kataku.

"Baik, sekali lagi kami minta maaf,”  ujar ketiga pria itu.

"Keluar,” ujar pria yang menolongku.

Ketiga pria itu keluar dari UKS.

"Aku aca, terimakasi telah membantuku,” ucapku pada pria itu.

"Aku daniel, iya sama-sama."

"Apakah kamu sangup untuk berdiri menuju kelasmu?"

" Tidak, aku merasa kakiku sangat sakit."

"Apakah kamu ingin pulang? Dimana rumahmu?"

"Aku ingin menelepon orangtuaku tapi aku takut mereka pasti sangat kawatir. Ayah ibuku pasti sangat marah besar pada orang yang mebuat kakiku luka."

"Sini aku hubungi."

"Gausah, aku takut."

"Bukan kamu yang menghubungi, tapi aku."

"Gausah Daniel."

"Trus kamu mau gak pulang? Mau gak mau pasti orangtuamu bakal tau,sini aku yang hubungi orangtuamu."

"Yasudah." (mengambil hp dari tas dan memberikan kepada Daniel)

 

Daniel mengetik dan mencoba menghubungi ayahku,dia keluar dari uks saat menghubugi ayahku. Aku tidak tau apa yang dikatakan Daniel ke ayahku. Daniel menyerahkan hpku lalu dia duduk di kursi di samping Bedku tempat aku di baringkan. Daniel hanya diam setelah menghubungi ayahku.

"Apa yang kamu katakana pada ayahku?"

"Aku hanya mengatakan kamu jatuh dari tanggga."

"Lalu apa kata ayahku."

"Ayahmu sedang menuju kesini."

"Tapi kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?"

"Gapapa."

 

Aku sangat khawatir,kulihat Daniel sangat pucat. Kami berdua menunggu kedatangan ayah dan ibuku.

"Acaaaaaa, kamu gapapa nak? Mana yang sakit sayang?" ( menangis)

"Udah gapapa bu, udah di obatain kok."

"Kita kerumah sakit ya nak."

"Iya bu."

Aku melihat ayah menatap Daniel,dan Daniel menunduk saat ayahku sudah sampai. Aku tidak mengerti mengapa ayah menatap Daniel dangan tatapan marah.

"Ayo yah.. kita harus bawa Aca kerumah sakit."

"Aca sabar ya nak… sakit sekali ya?"

"Gak ko yah, udah diobatin."

 

Ayah mengendongku, lalu Daniel ikut dibelakang ayahku. Aku dimasukkan ke mobil dibelakang Bersama ibu. Aku kaget Daniel ikut di depan Bersama ayahku. Kami menuju rumah sakit dengan keadaan hening di mobil dan tatapan ayahku sesekali kepada Daniel. Apa sebenarnya yang dikatakan Daniel pada ayahku sampai Daniel ditatap begitu oleh ayahku. Kami sampai dirumah sakit ayahku mengendongku sampai aku dicek dokter. Dokter mengatakan kakiku hanya luka kecil dan Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kulihat wajah ayah ku yang sudah mulai senyum.

"Aca, selain kakimu adakah yang sakit?"

"Tidak ada ayah."

"Sebelum sampai ke sekolah ibu gabisa mikir Ca, ibu takut kamu kenapa napa nak."

"Gapapa bu, udah di obatin tadi di UKS."

"Kamu 1 bulan home school aja ya nak."

"Gausah bu, Aca masih bisa sekolah di sekolah,aca gapapa bu. Hanya luka sikit ini."

"Yah.. liat Aca, gamau home school."

"Acaaa, kamu home school aja ya, ayah sama ibu gak tenang kondisi kamu begini kamu ke sekolah."

"Aca gapapa bu,yah.. Aca bisa jalan kok."

"Kamu lain kali kalo jalan jangan buru-buru, lihatkan akibatnya sampai ke anak saya." (menatap Daniel)

"Saya minta maaf om,tante. Saya salah. Gara-gara saya kakinya Aca luka."

"Daniel.. kamu ngomong apa?"

"Kamu kelas berapa Daniel?"

"X MIPA II om."

"Saya bakal bilang ke kepala sekolah supaya lebih memperhatikan kamu, kamu sudah membuat anak saya celaka. Saya mengatakan kepada kepala sekolah supaya mengantisipasi kejadian begini lagi di sekolah kalian."

"Ayah… tapi bukan Daniel yang buat kaki Aca luka."

"Ca… maafin aku. Jangan tutupi hal ini dari ayah kamu. Memang aku yang buat kaki kamu jadi luka begitu."

"Kamu ngomong apa sih, yakan memang bukan kamu."

"Sudah Aca, kamu gak usah belain dia."

"Ayah.. percaya sama Aca. Bukan Daniel yang buat Aca jatuh dan buat kaki Aca luka. Kamu lagi Daniel, ngapain kamu ngakuin kesalahan yang bukan kamu yang buat?"

"Sebenarnya yang benar siapa Ca?"

"Bu, Yah… justru Daniel lah yang nolongin Aca pas di senggol 3 laki-laki di tangga. Daniel juga yang bawa aca ke UKS, Daniel juga yang perban kaki Aca sebelum ayah dan ibu datang. Awalnya Aca gak berani hubungi Ayah dan Ibu. Tapi Daniel bilang gapapa dan hubungi ayah dan ibu."

"Lalu kenapa Daniel bilang ke ayah bahwasannya dia tidak sengaja senggol kamu karena dia buru-buru."

"Daniel, kalo bukan kamu pelakunya kamu gak perlu mengakuinya nak. Ini akan membuat kerugian pada diri kamu. Mengorbankan yang bukan kamu lakukan."

"Lagian ngapain kamu ngakuin itu Daniel, padahal bukan kamu."

"Maaf tante om. Saya pikir ini akan memperbaiki keadaan, supaya om dan tante tidak sangat kawatir dan emosi melihat Aca terluka. Jadi tidak masalah saya rasa yang menjadi korban emosi itu. Maka saya melakukan hal itu."

"Daniel.. harusnya kamu tidak melakukan hal itu. Akuilah apa yang kamu perbuat. Terimakasih ya  nak. Kamu udah nolongin Aca. Kamu sangat baik hati nak."

"Terimakasih Daniel, kamu sudah nolongin Aca."

"Sama-sama om,tante."

"Daniel kita makan siang di rumah ya."

"Gausah om, saya pulang saja."

"Ayolah nak."

"Daniel ayo, ayah dan ibuku udah ajak loh."

"Baiklah om,tante."

 

Kamipun menuju rumah, di perjalanan  kami mengobrol.

"Daniel kamu berapa bersaudara?"

"Saya anak tunggal om."

"Sama seperti Aca ya."

"Aca anak tunggal ya om"

"Iya Daniel. Ayah, ibu kerja apa?"

"Ayah polisi dan Ibu bidan om."

"Wah wah.. berarti kamu juga pasti ingin seperti ayahmu kan?"

"Iya om."

"Iya nak, kejarlah cita-cita agar orangtua gembira. Kamu mau gak jadi sahabat Aca?"

"Ayah… ayah nanya apa sih?"

"Keknya benar Ca, kamu perlu sahabat buat jagain kamu di sekolah."

"Iya tante boleh."

"Aku gamau." (dengan wajah usil)

"Acaaaa… "

"Bercanda yah.."

 

Kamipun sampai di rumah dan menikmati makan siang bersama, setelah makan bersama ayahku mengantar Daniel kerumahnya. Ayahku bertemu dengan orangtua Daniel dan mengobrol dengan orang tua Daniel. Mulai saat itu, Daniel resmi menjadi sahabat laki-laki yang di setujui ayahku. Di sekolah Daniel sangat memperhatikan ku mulai dari sampai sekolah hingga aku pulang di jemput Ayahku. Daniel juga selalu mengobrol dengan ayahku saat mengantarku maupun saat menjemputku.

Daniel sangat menjagaku setiap waktu yang dia miliki di sekolah. Kami pun mulai sering Bersama saat istirahat. Tak sedikit yang mengatakan kami pacaran. Kami juga dicalonkan sebagai ketua dan wakil ketua Osis. Itu yang membuat kami semakin dekat. Saat sudah menjabat sebagi ketua dan aku wakil, aku merasakan bahwasannya perasaan ini bukan sahabat lagi. Ya aku mulai menyukai Daniel, aku tidak tau apakah Daniel juga menyukai ku. Ataukah dia hanya menggapku sahabat. Aku mulai salting saat Daniel selalu menjagaku seperti pesan ayahku. Aku memberanikan diri untuk menanyakan Daniel saat jam istirahat di taman sekolah.

"Daniel kamu anggap aku apa?"

"Sahabat."

"Hanya sebatas itu?"

"Kenapa kamu menanyakan ini?"

"Ya gapapa nanya aja, takutnya kamu suka dan jatuh cinta sama aku."

"Kalo iya apa yang bisa kuperbuat, ini perasaan."

"Kamu ngomong apa?"

"Apa yang bisa kuperbuat, aku memang suka dan sayang?"

"Sejak kapan kamu mulai suka dan sayang?"

"Sejak  di rumah sakit saat kakimu terluka."

"Oh itu yang buat kamu mau jadi sahabat aku?"

"Kalo iya kenapa?"

"Kamu kok baru ngomong."

"Aku sangat menghargai apa yang diharapkan ayahmu kepadaku, aku harus menepatinya."

"Sampai kapan kamu ingin menjadi sahabatku dengan perasaanmu ini?"

"Sampai selamanya jika itu yang ayahmu inginkan."

"Apakah kamu tidak ingin menjelaskan kepada Ayahku?"

"Tidak, Ayahmu pasti tau sendiri nantinya."

Mulai saat itu aku dan Daniel sama sama menjalani persahabatan dengan perasaan yang bener benar saling suka dan menyayangi. Akupun tak tau sampai kapan. Semoga ayahku memahami perasaanku dan perasaan Daniel.

    

 

                                                                                                 Editor: Tita Princesva Damanik

                                                                                                Penulis: Siswa SMA N 1 PURBA  2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...