Karya : Ruth Aurel Saragih
Seorang lelaki tengah berlari tergesa-gesa dengan sebuah paper bag di tangannya. Dua menit lalu ia sedang berada di sebuah toko buku dan tanpa sengaja telinganya menangkap pembicaraan pengunjung lain yang mengatakan bahwa toko mainan di seberang memiliki stok action figure Harry Potter keluaran terbaru, berukuran 30 cm yang memang sedikit produksinya. Dapat dipastikan, action figure itu memiliki harga yang tidak murah. Lelaki itu adalah Meteor Damar Langit. Entah apa maksud orang tuanya memberikan nama 'meteor' padanya. Namun kata ayahnya, lahirnya Teo bertepatan dengan fenomena bintang jatuh.
Sudah
sedari kecil lelaki yang sering dipanggil Teo itu menyukai segala hal tentang
Harry Potter, saat kecil Teo sangat ingin memiliki kekuatan seperti Harry
Potter.
"Pa.
Papa tau Harry Potter, kan? Teo kalau udah besar nanti mau jadi seperti
itu."
"Kamu
ingin punya sihir? Itu tidak mungkin Teo. Haha,"
"Bukan
itu, Pa. Maksud Teo, punya kekuatan menghilang. Jika dipikir, pasti seru jika
nanti Teo bisa berpindah jarak jauh dalam hitungan detik."
Ibunya
yang turut mendengarkan, kini membuka suara. "Hanya karena Teo bisa
memikirkannya, bukan berarti Teo bisa melakukannya." Sontak pernyataan
ibunya membuat Teo kesal.
"Justru
karena Teo bisa memikirkannya, maka Teo harus bisa melakukannya, Ma. Buktinya,
Roger Shawyer, dia bisa membuktikan bahwa kekuatan menghilang seperti itu
ada."
Teo ini
jenius, bahkan diumurnya yang masih 6 tahun saat itu, dia telah mengetahui
tentang Roger Shawyer dan mempelajari penemuan tokoh itu. Sampai saat ini, umurnya
yang menginjak 22 tahun prinsipnya masih sama.
Baginya
akan sangat menyenangkan jika mantra 'apparation' tidak hanya ada di dunia fantasi,
tetapi dapat ia lakukan.
Napasnya
kini tak beraturan saat tiba di depan toko. Demi mendapatkan figure itu, Teo
rela berlari sekencangnya. Tak perlu waktu lama, Teo langsung mengambil figure itu
dan kemudian membayarnya. Teknologi pembayaran dizaman ini sudah sangat
praktis. Hampir semua orang telah menggunakan alat yang disebut chip, bentuknya
seperti jam tangan, sebenarnya memang jam tangan, tetapi dengan bentuk yang
lebih tipis dan pipih. Chip ini merupakan inovasi yang telah digunakan selama
lebih 1 tahun ini. Benda ini sangat multifungsi, selain dapat digunakan untuk
komunikasi, benda ini dapat digunakan sebagai alat pembayaran dan pengganti
tiket transportasi umum. Cara kerjanya cukup sederhana, hanya dengan
menempelkan chip pada mesin pembaca dan seluruh transaksi pun dapat selesai
dalam sekejap.
"Apparation,"
ujar Teo sambil mengangkat tangan kanannya, kemudian menjentikkan tangannya,
berharap mantra itu akan bekerja padanya. Sangat mengagumkan, jika dia bisa
teleportasi ke kamarnya sekarang, kan?
"Huh,
sepertinya aku terlalu tidak sabar dengan proyek besar itu," ujarnya
frustasi yang diakhiri dengan tawa kecilnya.
•••
Dengan
wajah masam, Teo memasuki rumahnya membawa 2 paper bag yang dibawanya sedari
tadi. Terlihat tidak bersemangat. Seminggu ini kepalanya benar-benar dibuat pusing
oleh proyeknya yang belum selesai, ditambah lagi dia harus mengurus anak kecil
yang tinggal dirumahnya.
"Kakak
pulang!" ujar Teo lesu. Tidak ada yang menyahut. Dimana anak itu? Biasanya
saat Teo pulang anak itu akan menyambutnya dengan antusias. "Eos..ayolah,
tidak usah bersembunyi." Anak kecil itu adalah Eos. Alfo Eos, berusia 7
tahun, sangat usil, narsis dan banyak tanya. Eos adalah keponakan Teo, orang
tuanya menitipkan Eos karena ada urusan penting di luar negeri. Jika seperti
itu seharusnya Eos memanggil Teo dengan sebutan om, kan?
"Siapa
yang bersembunyi? Kakak pikir Eos tidak ada kerjaan yang lebih penting,
huh?" Eos yang menuruni anak tangga berceloteh dengan kesal, bibirnya
sengaja di monyong-monyongkan.
"Oh,"
jawab Teo singkat.
"Kak,
pinjam buku dong, mau baca." Eos memang suka membaca, hari-harinya ia
habiskan untuk membaca buku. Seperti tadi, saat Teo mencarinya. Eos di kamarnya
sedang membaca buku. "Nanti. Kakak mau tidur dulu," ucap Teo tanpa
menggubris pertanyaan Eos.
"Eos
ikut boleh ya?" tanya Eos. Selama Eos tinggal dirumah Teo, belum pernah
sekalipun Teo mengizinkannya untuk masuk ke kamar Teo. Aneh. "Eos curiga
ada sesuatu dikamar kakak, apa jangan-jangan di kamar kak Teo ada pe--"
"Stt,
ga ada apa-apa, Eos," potong Teo. Dengan segera dia meninggalkan Eos yang
masih memikirkan tentang apa yang sebenarnya Teo sembunyikan darinya.
Eos
mirip sekali dengan Teo, bukan dari penampilan ataupun wajah, tetapi dari
sifatnya. Mereka berdua memiliki rasa ingin tau yang tinggi. Jika sudah
bertekad, mereka akan melakukannya.
•••
Sambil
membawa barang yang dibelinya tadi, Teo memasuki kamarnya. Tidak langsung
tidur, melainkan menuju meja belajarnya. Meletakkan paper bag yang berisi
action figure Harry Potter yang baru dibelinya itu. Teo mengambil beberapa
lembar kertas HVS dan pulpen dari laci mejanya. Walaupun teknologi zaman ini
sudah sangat maju, tapi percayalah penggunaan kertas dan tinta masih sangat
diperlukan oleh semesta ini. Saatnya ia kembali menulis, kembali berkutat
dengan rumus-rumus dan coretan tangannya, melakukan perhitungan yang teliti
untuk penemuannya. Satu minggu ini dia belum melakukan pengembangan apapun bagi
penemuan yang dikerjakannya, dia harus segera menyelesaikan penemuan itu,
sebuah teknologi yang dapat menggemparkan dunia. Tidak mudah memikirkannya.
Beberapa kali dia menjedotkan kepalanya ke meja merasa frustasi. Namun setelah
itu dia kembali bersemangat dengan mengambil beberapa buku referensi, sesekali
dia mencari informasi dari chip canggih yang dimilikinya. Sudah hampir 3 jam
Teo berkutat dengan pulpennya. Suara gesekan pulpen dan kertas itu seakan
lantunan melodi bagi Teo, kepalanya kini ikut bergoyang mengikuti irama suara
coretan itu. Dan berhenti, sepertinya Teo telah menemukan titik terang.
Teo
berdiri, mengangkat kedua tangannya yang menggenggam beberapa lembar kertas
hasil coretannya. Kemudian merebahkan diri di tempat tidurnya.
"Brilian,
materi itu sudah pasti mengandung tekanan negatif yang tinggi dan kerapatan
energi. Ah, mengapa tidak terpikir dari kemarin."
"Ini
mudah sekali. Penemuan ini akan berhasil, yeah," teriak Teo kegirangan.
Kini pandangannya tertuju pada sebuah petak yang berada tepat di bawah meja
belajarnya, tersenyum. Dengan kertas-kertas yang masih dalam genggamannya, Teo
tertidur.
•••
BYUR!
"Eh, air apa ini?" Teo yang sedang tertidur itu mendesah pelan. Tidur
siangnya kini hancur karena ulah anak kecil usil ini, yang tak lain adalah Eos.
Teo mengerjapkan matanya berkali-kali, wajahnya tampak kusut. Baru setengah jam
dia tertidur dan kini dia harus terbangun akibat segelas air yang ditumpahkan
ke wajahnya.
"Tidak
bisakah kau membiarkan aku tidur sebentar saja, huh? Dan mengapa kau masuk
dalam kamarku?" celotehnya dengan nada kesal.
"Dengerin
dulu. Di luar, ada teman kakak, katanya mau ketemu. Kalau saja dia tidak
menyuruh ku membangunkan kakak dengan cara ini, aku juga tidak akan
melakukannya," balas Eos tak kalah kesal.
"Disuruh?
Lalu kenapa kau menurut hah?" Teo frustasi.
"Em,
dia menjanjikanku sebuah mainan hehe," jawab Eos tanpa rasa bersalah.
Baiklah, tidak ada gunanya berdebat dengan anak itu, anak kecil selalu benar.
"Ayo keluar."
"Maaf,
kak." ujar Eos merasa bersalah. "Ngomong-ngomong, exotic dan
teleportasi itu apa, kak?" Teo yang tengah berjalan menuju pintu
menghentikan gerakannya. Apa Eos telah membaca tulisannya? Gawat.
•••
Kini
mereka menaiki tranportasi umum, kami menyebutnya trem, tentunya sudah
dikembangkan dengan teknologi yang lebih tinggi. Sebenarnya sangat mirip dengan
kereta maglev, tidak memiliki roda. Trem ini mengambang 10 mm di atas rel, dan
di dorong oleh magnet bermuatan listrik. Jika menggunakan kereta maglev, kalian
pasti sedikit terganggu dengan kebisingannya, berbeda dengan trem ini yang
hampir tidak menghasilkan suara. Teknologi yang amat maju ini sangat hebat
bukan?
"Jadi
mengapa kau datang kerumah? Bukankah bisa menelepon saja?" tanya Teo pada perempuan yang
berada disampingnya, Zura. Kita dapat menebak, Zura lah yang meyuruh Eos
membangunkan Teo dengan segelas air.
"Aku
sudah menghubungimu berkali-kali," ujar Zura dengan kesal. Dengan segera
Teo mengecek jam tangan multifungsinya. "Eh, iya, hehe. Maaf, Zura.
Ketiduran tadi," ucap Teo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya,
terserah." Teo menganga. Seperti perempuan ini sedang sensitif, buktinya
dia mengeluarkan kata-kata andalan kaum perempuan. Jarang sekali Zura seperti
ini.
"Ah,
bagaimana kita makan sambil membahas proyek kita, Ra? Aku akan mengajak Io dan
Ian juga." Katanya, jika perempuan sedang bad mood, dengan diberi makanan,
mood mereka langsung membaik bukan? Itulah yang dipikirkan Teo saat ini.
Zura
kini melirik Teo dengan mata yang berbinar, "Sebenarnya aku datang dengan
tujuan itu. Kita harus menyelesaikan proyek ini secepatnya. Dan kita harus
makan, karena kau yang mengajak maka kau yang mentraktir. Oke?" Teo
kembali menganga, semudah ini untuk mengembalikan mood perempuan?
"Huft,
baiklah." Dengan segera Teo menghubungi si kembar Io dan Ian. Eos yang
dari tadi fokus mendengar percakapan Teo dan Zura mengangkat suara. "Kakak
ngerjain proyek apa sih?"
"Nanti
juga tau," ucap Teo mengakhiri.
•••
Sebuah
restoran bernuansa kuno namun dengan teknologi yang tinggi. Pengunjung memesan
makanan cukup dengan mengetuk pelan meja restoran, kemudian memilih makanan
melalui hologram yang ditampilkan pada meja itu. Mengesankan. Teo, Zura, Rian,
Rion dan Eos duduk disebuah meja berbentuk persegi panjang.
"Siapa
anak kecil ini?" tanya Io. "Keponakan," balas Teo. Sebenarnya
dia tidak ingin mengajak Eos tadi, tetapi Eos memaksa dengan berjanji untuk
tetap anteng dan tidak banyak tanya saat bertemu teman-teman Teo.
"Jadi,
kapan kita melanjutkannya? Proyek kita. Huft, kita semua tau Profesor telah
berharap besar pada penemuan kita ini, sponsor yang mendukung juga telah
memberikan biaya yang besar," tanya Ian langsung pada intinya.
"Kelanjutan
proyek kita tergantung material terakhir itu. Aku sudah melakukan pencarian
terhadap material itu, sudah dapat sih, tapi belum yakin. Untuk penemuan ini
kita harus memikirkannya dengan baik," balas Io.
"Aku
juga sudah menemukannya," jawab Teo dan Zura serempak. Sementara Eos
menahan tawa melihat keduanya. Walaupun dia anak kecil, tapi Eos tau ada
sesuatu diantara keduanya.
"Sebuah
materi bermassa negatif, menurut perhitunganku dia cukup kuat untuk
menstabilkan wormhole. Exotic matter," lanjut Zura, menyampaikan
argumennya.
"Ya,
tepat sekali. Jika penelitianku benar, seharusnya bahan itu memiliki suhu yang
rendah. Maksudku, materi itu bisa kita buat dengan mendinginkan beberapa bahan
dengan suhu yang rendah. Terdengar mudah, tapi sebenarnya tidak."
Penjelasan Teo ini seperti membuka pikiran mereka semua. Langkah untuk
menyelesaikan penemuan itu semakin dekat.
"Seperti
Helium Superfluida maksudmu?" tanya Ian tepat sasaran.
Setelah
bertukar pikiran selama beberapa jam, mereka memutuskan untuk menghubungi Prof.
George melalui chip, kemudian setelah mendapat persetujuan mereka berencana
membuat materi exotic itu segera. Sudah melakukan beberapa perhitungan,
akhirnya mereka yakin bahwa bahan itulah yang memang mereka perlukan.
"Pulang
yok, kak!" Mereka hampir lupa ada Eos yang sedari tadi sudah bosan
mendengar percakapan mengherankan ini.
•••
Sudah 2
hari setelah Teo dan teman-temannya menyelesaikan penciptaan material terakhir
yang mereka sebut dengan exotic matter itu. Rencananya minggu depan mereka akan
melakukan percobaan terhadap alat teleportasi ciptaan mereka. Sebelumnya
pembuatan exotic matter itu dipenuhi dengan berbagai perdebatan dan beberapa
masalah, dimulai dari bahan-bahan yang sulit ditemukan serta beberapa alat yang
tidak mereka miliki. Untungnya, sekali lagi, teknologi yang berkembang membantu
mereka. Penghitungan yang akurat mereka lakukan, jangan sampai ada kesalahan
sedikitpun, penemuan ini tidak boleh berakhir sia-sia karena sedikit kesalahan.
Saat
ini Teo berada di kamarnya, kembali memperhatikan petak kecil yang ada di bawah
meja belajarnya. Dirinya tak bisa menahan senyumnya saat ini. Tinggal hitungan
hari mereka akan melakukan percobaan atas penemuan mereka. Teo berdiri, menuju
ruangan tersembunyi dalam kamarnya. Ya, petak kecil di bawah meja belajarnya
itu adalah penghubung antara kamarnya dan ruang bawah. Dihubungkan oleh tangga
kayu. Ruangan tersebut tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil berukuran
15m x 12m, dengan desain sederhana bernuansa coklat. Ruangan minimalis ini rapi
dengan beberapa rak buku besar yang merupakan tempat koleksi buku Harry potter
kesayangannya. Tidak hanya itu Teo juga memiliki banyak buku yang mempelajari
tentang Fisika Kuantum. Tepat di satu sisi ruangan terdapat meja besar yang
penuh dengan berbagai barang-barang yang digunakannya untuk menciptakan sebuan
teknologi yang sudah lama mereka rancang. Tempat inilah yang menjadi markas Teo
dan teman-temannya untuk menciptakan alat teleportasi.
Sebelumnya
pada tahun 2035, beberapa ilmuan di Universitasnya telah berhasil menciptakan
alat teleportasi ini. Mereka telah mengembangkan bahasa pemrograman komputer,
metode komunikasi dan komputasi kuantum sebagai instrumen dasar teknologi
teleportasi. Bahkan mereka menciptakan komputer kapasitas tinggi yang sanggup
menangkap seluruh detail 3 dimensi tubuh manusia, NMR serta ESR yang digunakan
untuk men-scan sebagian besar atom dari tubuh manusia. Namun, sepertinya
terdapat sedikit kesalahan dalam perakitan teknologi itu. Pada tahap percobaan
terjadi kegagalan yang amat fatal, 2 relawan mati terbakar saat terjadi
distorsi ruang dan waktu. Kabarnya, wormhole buatan yang mereka ciptakan tidak
cukup stabil untuk melakukan teleportasi. Teknologi ini akan mengirim tubuh
manusia yang telah dikacaukan partikelnya dengan kecepatan cahaya lalu menyusun
kembali partikel tersebut di tempat lain. Wajar saja jika ada sedikit
kesalahanpun akan menyebabkan manusia yang menggunakan alat tersebut dapat
menjadi debu dalam seketika.
Sebenarnya hal terpenting dalam teleportasi adalah
menciptakan wormhole terlebih dahulu. Wormhole buatan ini dapat diciptakan
dengan memanipulasi suatu area dengan energi gravitasi dalam jumlah yang sangat
besar, dengan adanya wormhole memungkinkan kita memindahkan materi melalui
medan magnet yang bersifat invisible. Sederhananya, wormhole yang sering
disebut sebagai jalan tikus antarsemesta ini merupakan jalur menuju tempat yang
dituju. Jika tidak ada wormhole kemana partikel-partikel itu akan dipindahkan?
Dan jika wormhole tersebut tidak stabil tentu saja segala kemungkinan terburuk
akan terjadi, seperti relawan itu.
Dengan
gagalnya teknologi itu membuat para ilmuan tersebut menghentikan proyek
berbahaya tersebut, bahkan banyak negara yang telah menentang pengembangan
teknologi yang amat berbahaya itu. Namun dengan nekat, kami bersama Prof.
George dan beberapa tokoh yang membantu, mencari tahu segala informasi mengenai
alat itu berniat untuk melanjutkan penemuan berbahaya itu. Kami berhasil
mendapatkan rahasia proyek yang telah berhentikan beberapa puluh tahun lalu
itu. Prof. George mengenal para ilmuan itu tentunya. Ia merupakan salah satu
dari ilmuan itu.
"Lanjutkan
penemuan kami. Kalian memiliki potensi.
Kita tidak boleh menyerah dengan gagalnya uji coba 12 tahun silam. Tugas kalian
hanya perlu merancang ulang alat itu kemudian menciptakan sebuah benda yang
dapat menstabilkan alat itu. Informasi mengenai alat itu akan kukirim sebentar
lagi. Ingat, proyek ini rahasia, jangan sampai ada seorangpun mengetahui
tentang proyek ini, bahkan keluarga kalian sekalipun."
Sejauh
ini sudah 85% perkembangan alat ini, bisa dibilang sudah sama persis seperti
teknologi teleportasi yang digunakan Ilmuan saat itu. Teknologi zaman yang
sudah maju ini, sedikit memudahkan mereka dalam pengembangan dan pencarian
data-data mengenai teleportasi. Sudah 2 tahun ini mereka menghabiskan waktu
untuk mengerjakan proyek besar sekaligus berbahaya ini. Merancang kembali
penemuan 12 tahun lalu itu ternyata tidak mudah.
Teo
memperhatikan sebuah alat berbentuk kubus di depannya. Sebuah alat teleportasi
dengan berbagai peralatan canggih di kiri-kanannya. Alat tersebut dihubungkan
dengan sebuah mesin pengatur titik koordinat tujuan yang dipenuhi dengan
berbagai tombol-tombol berwarna merah, biru, kuning, hijau, dan banyak tombol
hitam.
"Jika
penemuan ini berhasil pasti akan hebat sekali, dunia akan terkejut dengan
teknologi ini. Semua yang kubayangkan akan terwujud. Mungkin aku bisa pergi ke
planet lain dengan waktu yang singkat. Atau menjadi pahlawan super? Huh, hebat
sekali," ujarku dramatis, merasa bangga dengan penemuan ini. Sesekali
menghapus air mata yang sebenernya tidak ada.
Mungkin
jika orang lain melihatku saat ini, mereka akan berasumsi bahwa aku tidak
waras. Untungnya aku sendiri di ruangan ini. Membebaskanku untuk melompat kegirangan
saat ini. Jujur saja, ini adalah penemuan terhebatku. Ralat, penemuan terhebat
kami. Wajar jika aku saat ini aku bertingkah sedikit gila.
"Kak?
Kenapa kayak orang kesurupan gitu? Kakak sakit?" Eos, entah mengapa dia
datang disaat seperti ini. Eh, bagaimana dia mengetahui ruangan ini?
•••
Hari
yang mereka tunggu sudah tiba. Hari ini mereka berlima akan melakukan percobaan
terhadap alat teleportasi penemuan mereka. Eos yang telah mengetahui tentang
penemuan besar sekaligus berbahaya ini bersikeras untuk ikut dalam tahap uji
coba.
"Prof,
alat ini berbahaya, sebaiknya Eos tinggal saja,kan?" ucap Teo, tidak
setuju Eos ikut.
Monitor
besar di hadapan mereka menampilkan wajah Prof. George. "Biarkan saja dia
ikut, dia keras kepala. Lagi pula anak ini sangat jenius. Siapa tau dia bisa
menjadi penerus kalian nantinya." Baiklah keputusan Prof. George tidak
bisa diganggu gugat.
Sesuai
kesepakatan, Io akan tetap tinggal untuk mengoperasikan komputer . Sementara
Prof. George tetap mengawasi lewat monitor. Bagaimanapun juga, ruangan ini
harus tetap terjaga keamanannya. Bagaimana jika tiba-tiba ada seekor kucing
menekan tombol-tombol ini?
Uji
coba pertama mereka lakukan dengan teleportasi benda. Teo dengan senang hati
memberikan salah satu action figurenya untuk diteleportasi. Pada figure itu Io
memasang sebuah alat yang bisa mendeteksi keberadaan benda itu, seperti GPS.
Figure tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat berbentuk kubus itu. Dengan
koordinat yang telah ditentukan, benda itu diteleport. Dan, figure itu menghilang.
"Kemana
koordinat tujuannya, kak?" Eos bertanya penasaran. "Koordinatnya
tepat di tempat ini, tahun 2040. Ah, tunggu sebentar, alat pelacaknya aktif.
Lihat titik hijau di monitor? Titiknya bergerak, kemungkinan benda itu dibawa
seseorang. Ini berhasil!" Jelas Io, membuat semua berteriak kegirangan
kecuali Prof. George yang masih terhubung lewat monitor dan Eos yang terlihat
kebingungan.
"2040
berarti 7 tahun yang lalu. Tapi bukannya teleportasi ke masa lalu itu tidak
mungkin, kak? Karena waktu berjalan 1 arah maka kita tidak bisa ke masa lalu.
Atau teori itu yang salah?" Eos menyampaikan argumennya. Sepengetahuan Eos
menurut buku yang sering dia baca, teleportasi masa lalu itu tidak mungkin.
"Eos
benar, tapi GPS pada buku tersebut menunjukkan teleportasi tadi berhasil ke
koordinat tujuan," ujar Prof. George. "Lalu bagaimana sekarang? Kita
tetap lanjutkan? Ayolah, aku sudah tidak sabar," desak Teo tanpa rasa
khawatir sedikitpun.
Kini
wajah Prof. George terlihat serius. "Baiklah. Sekarang saatnya uji coba
kedua. Ingat, teleportasi manusia membutuhkan tenaga listrik yang besar,
kemungkinan listrik kota ini akan padam selama 5 jam untuk mengirim kalian ke
lokasi tujuan. Yang berarti kalian tidak bisa menghubungi kami saat listrik
padam. Saling menjaga, itu yang utama."
"Baik,
Prof."
Teo,
Zura, Eos dan Ian memasuki kubus itu. Sementara Io mengatur koordinat tujuan
sesuai dengan uji coba pertama tadi. Dengan ini mereka akan mengetahui apakah
teleportasi masa lalu itu ada. Pintu alat itu tertutup. Io menekan tombol
merah. Teleportasi berjalan.
Rasanya
aneh, pusing.
Seolah
sesuatu sedang mengoyak tubuhku.
Tidak
menyakitkan, rasanya seperti ditekan.
Darahku
seperti terpompa dengan keras.
Mual.
Rasanya mual. Aku ingin muntah.
Apa
itu? Aku melihat sebuah cahaya putih.
Surga?
Apa aku telah mati?
BRAK!!
Teo memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Teleportasi ini berhasil?
Ia melihat Eos, Zura dan Ian yang juga memegangi kepala. Teleportasi ini
mengerikan, rasanya seperti diguncang dalam kecepatan yang sangat tinggi.
Teo
memperhatikan sekitarnya, tidak bisa memastikan apakah ini benar-benar masa
lalu. Suasana tidak jauh berbeda, tapi ada yang aneh. Kota ini sepi. Kemana
orang-orang, padahal biasanya sore hari seperti inilah banyak manusia
beraktivitas.
Mereka
berempat berjalan beriringan, saat ini mereka belum dapat mengabari Io, listrik
disana pasti padam. Teo tahu persis, tahun 2040 bukanlah seperti ini. Kota ini
seperti kota mati.
"Hei,
lihat setiap atap bangunan ini. Semuanya atapnya berbentuk setengah bola,"
Zura bingung.
"Kota
ini aneh. Lihat tumbuhannya. Aku tidak pernah melihat tumbuhan seperti
itu," lanjut Ian. Benar kata Zura dan Ian, kota ini aneh. Bangunannya,
tumbuhan dan suasananya berbeda dengan kota kami. Hanya saja tata peletakan
bangunannya sama persis dengan kota kami.
Menurut
tata letak kota mereka, seharusnya saat ini mereka berjalan mengarah ke rumah
Zura. Mereka persis tiba di rumah yang seharusnya adalah rumah Zura. Desain dan
warna rumahnya sama dengan rumah Zura di kota kami, pembedanya terletak pada
bentuk atap yang menyerupai setengah bola. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba
seorang perempuan berambut panjang keluar dari dalam rumah. Perempuan itu sama
persis seperti Zura hanya saja rambutnya tidak pendek seperti Zura.
"Hah?
Kalian siapa?"
Cantik,
batin Teo.
•••
Sudah
90 menit berlalu setelah teleportasi itu. Yang artinya saat ini mereka masih
belum bisa mengabari Io dan Prof. George bahwa saat ini mereka tidak berada
pada masa lalu, tetapi berada di alam lain. Bukan surga maupun neraka, tapi
dunia lain, dunia paralel. Mereka tidak pernah menyangka teleportasi ini akan
membawa mereka menembus dimensi yang berbeda.
Mereka
berada di kamar Zura saat ini, bukan Zura teman Teo, tetapi Zura yang mirip
dengan Zura temannya Teo. Membingungkan.
"Siapa
tadi namamu? Maksudku nomor berapa?" Ian bertanya pada perempuan yang
mirip Zura, sedikit bingung dengan pertanyaannya sendiri.
"Zura.
Namaku Zura1425, kalian sudah menanyakan ini berulang kali," ucapnya
kesal.
"Lalu
apa fungsi angka di belakang nama, kakak?" Kini Eos yang bertanya.
"Apa seperti angka yang menunjukkan banyaknya Zura di dunia paralel?
Berarti sudah ada sekitar seribu dunia paralel yang terbentuk atau mungkin
lebih. Di luar sana bisa saja kita menemukan Zura dengan angka yang lebih besar,
kan?"
"Zura,"
panggil Teo.
"Kenapa?"
Zura dan Zura1425 menjawab serempak. Mereka tertawa bersama.
"Zura1425,
apa nama kota ini?"
"Kota
Erath."
•••
Dari
cerita Zura1425, kini mereka benar-benar yakin, bahwa saat ini mereka berada di
dimensi lain. Mereka tidak terkejut dengan hal ini. Alam semesta yang sangat
luas tidak menutup kemungkinan adanya banyak dunia lain yang terbentuk. Inflasi
yang membentuk big bang tidak hanya terjadi sekali tentunya. Dunia yang kita
tempati kini merupakan salah satu dari berpuluh juta dunia yang ada, atau
bahkan miliaran.
Satu
jam mereka habiskan untuk membahas perbedaan dunia asli mereka dan dunia
paralel ini. Banyak informasi menarik yang membuat Teo dan teman-temannya
penasaran. Cukup mencengangkan
mengetahui bahwa orang-orang di kota ini beraktivitas saat malam hari dan
beristirahat pada siang hari. Seperti kelelawar.
Untung
saja saat tiba di Kota Erath ini mereka bertemu dengan Zura1425 yang berbaik
hati dan mempercayai mereka untuk masuk dalam rumahnya dan tidak mengira mereka
adalah teroris yang dapat menyerang kapan saja. Sepertinya Zura1425 akan
menjadi pemandu wisata yang baik untuk menjelajahi dunia paralel ini.
"Sebelumnya
juga ada manusia yang melakukan teleportasi kesini," Zura1425 menampakkan
wajah muram. Jika ia menceritakan hal ini, bayangan kejadian kala itu akan
kembali menyakitinya. "Pemerintahan kami sangat menentang adanya
penggunaan teknologi canggih, apalagi teleportasi. Setiap penduduk yang
ketahuan melakukan teleportasi kesini ataupun menuju tempat lain, mereka akan
dikejar sampai dapat."
Sontak
Ian bertanya, "Lalu apa yang akan mereka lakukan?" Ada sedikit rasa
takut ketika mendengar penjelasan Zura1425. Bagaimana jika mereka ketahuan
melakukan teleportasi kesini?
"Mereka
akan dibunuh."
Tiga
kata itu cukup membuat mereka semua ketakutan. Dibunuh? Zura1425 yang menyadari
ketakutan mereka itu kemudian berkata, "Tenang saja, selama kalian tetap
di sini dan tidak menunjukkan gelagat mencurigakan kalian akan aman."
"Siapa
yang melakukan teleportasi kesini, kak?"
Zura1425
tidak menjawab, hanya tersenyum kecil. Eos merasakan Zura1425 tahu sedikit
banyaknya tentang kejadian itu. Teo yang memperhatikan juga tersenyum kecil.
"Kak
Zura1425, bagaimana jika kami memanggil kakak dengan sebutan Zuzu saja?"
"Boleh,
Eos." Zuzu meng-iyakan.
Zuzu
ini manis ya, ucap Teo dalam hati.
•••
Jam
menunjukkan pukul 8 malam, aktivitas kota ini sudah mulai ramai. Dengan
lampu-lampu jalan serta cahaya bulan yang menjadi penerang, masyarakat kota ini
melakukan berbagai aktivitas yang biasa dilakukan dipagi hari. Ada yang
berolahraga, bersekolah, bekerja, berjualan dan lainnya. Sementara Zuzu yang
seharusnya bersekolah memilih untuk bolos hari ini. Alasannya, Zuzu takut
meninggalkan Teo dan teman-temannya di rumahnya.
"Kalian
tidak ingin berjalan-jalan keluar?" Tawar Zuzu bersemangat. Selama ini
Zuzu tidak memiliki teman yang bisa diajak bermain, semua orang di kotanya ini
sangat ambisius sehingga melupakan hal kecil yang sangat berharga, yaitu cinta
dan kebahagiaan. Hari-hari mereka sangat monoton, bekerja, bekerja dan terus
bekerja. Membosankan. Kehadiran Teo dan teman-temannya membuat Zuzu merasakan
kehangatan.
"Tidak
apa-apa jika kami keluar?"
"Tidak
apa, tapi kalian tidak boleh menggunakan teknologi kalian tentunya atau
pembunuh itu bisa mendeteksi kalian, haha. Dan harus mengganti pakaian.
Sesuaikan dengan pakaian kota kami. Zura pakai baju aku,ya." Zuzu
menawarkan, sementara Zura mengangguk kecil.
"Eh?
Aku gimana? Ga pake bajunya Zuzu, kan?" Pertanyaan Teo itu membuat Zuzu
tertawa.
"Tentu
saja tidak, Teo. Teo dan Ian pake baju ayahnya Zuzu."
"Eh?
Zuzu masih punya ayah ya? Kirain udah ga ada, sama kayak Zura. Ayah Zura
meninggalkan karena kecelakaan waktu itu. Hehe," tanya Zura.
"Udah
ga ada juga kok, Ra. Ayah meninggal, dibunuh."
•••
Berbagai
pertanyaan melintas di kepala Teo. Ayah Zura meninggal karena kecelakaan, Ayah
Zuzu meninggal karena dibunuh. Beginikah cara kerja dunia paralel, berisi
kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi? Zura dan Zura1425 sangat mirip
bagaikan anak kembar, keduanya sama-sama sudah tidak memiliki ayah, tapi dengan
alasan kematian yang berbeda.
"Iya,
kak. Begitulah cara kerjanya, dunia paralel terbentuk karena adanya kemungkinan
yang bisa terjadi. Semakin banyak kemungkinan semakin banyak dunia yang terbentuk.
Begitu sih kira-kira yang pernah Eos baca," jelas Eos sok tahu.
"Sejak
kapan bisa baca pikiran,huh?" Eos tak menjawab, pandangannya teralihkan
dengan pemandangan yang dilihatnya. Burung-burung berkicau dan ayam berkokok
dimalam hari. Ini gila. Dan kini aku mengetahui alasan mengapa kami harus
menganti baju tadi. Orang-orang ini mengenakan pakaian berwarna putih di malam
hari.
Kami
mengelilingi kota ini, sesekali tertawa menikmati perjalanan. Zuzu yang awalnya
dikira pendiam, seringkali melontarkan sebuah lelucon.
"Aku
yakin sekali kalian merasa aneh dengan kotaku ini, jika kalian ingin tertawa,
tertawa saja." Alhasil, aku dan Eos tertawa kencang mendengar itu.
Bayangkan saja kalian melihat orang-orang lari pagi dimalam hari. Kemudian
sarapan dimalam hari. Aneh.
"Ngomong-ngomong
kapan rencana kalian akan kembali? Aku khawatir jika kalian ketahuan
nantinya."
"Besok
siang sepertinya, aku juga tidak mau berlama-lama di tempat aneh ini,"
ucap Ian, tanpa sadar membuat Zuzu tersenyum kecut. Jujur saja, baru beberapa
jam bertemu dengan mereka tetapi Zuzu sudah merasakan kenyamanan.
"Oh
iya, Zu. Kenapa kamu tidak melaporkan kami? Maksudku, bisa saja sekarang kamu
berteriak mengatakan kami melakukan teleportasi kesini?" Tanya Teo
penasaran.
"Aku
tidak mau melakukannya, aku tidak mau kehilangan lagi," Zuzu tersenyum
tipis.
"Kehilangan
lagi? Maksudnya? Maaf, aku sedikit penasaran," ucap Teo hati-hati.
"Orang
yang pernah melakukan teleportasi kesini. Federasi perdamaian dunia yang
menentang teknologi teleportasi membunuhnya. Padahal tidak ada sedikitpun
niatnya untuk berbuat jahat, menghancurkan kota. Dia orang yang baik, aku
mengaguminya. Tidak ada manusia di kota ini yang memiliki rasa tulus dan empati
sepertinya. Kenyataan bahwa dia mirip sekali dengan salah satu dari kalian,
membuatku tak ingin merasakan kehilangan lagi. Kemudian ayahku juga. Ayahku
yang merawat aku sedari kecil ditembak mati oleh federasi itu karena membantu
lelaki itu melarikan diri. Dua orang yang amat penting bagiku, mati karena
federasi itu. Kedatangan kalian kesini, jelas membuat kenangan lama itu hidup
kembali," jelas Zuzu sambil menitikkan air mata.
Zura
yang mengerti perasaan Zuzu kini memeluknya. Memang perkara kehilangan,
kematianlah yang paling menyakitkan.
"Teo.
Apa kau mendengar? Akhirnya kalian bisa dihubungi? Bagaimana?
Berhasilkan?" Suara Io kini terdengar dari chip yang Teo miliki, secara
otomatis muncul hologram kecil yang menampilkan Io yang tengah berbicara
padanya. Teo ingat sesuatu.
"Tidak
apa-apa jika kami keluar?"
"Tidak
apa, tapi kalian tidak boleh menggunakan teknologi kalian tentunya atau
pembunuh itu bisa mendeteksi kalian, haha. Dan..."
"Io,
ini cukup serius. Jangan menghubungi kami sebelum aku yang menghubungimu
duluan"
Gawat.
Beberapa orang kini memperhatikan kearah mereka, sudah pasti hologram yang
muncul dari chip Teo mencuri perhatian orang yang berlalu-lalang. Beberapa dari
mereka berteriak memanggil federasi perdamaian dunia. Habislah mereka.
"Matikan
benda itu, Teo," desak Zura
"Berpencar,
kita harus berpencar, kak. Akan sangat mencolok jika kita berlari bersama saat
ini, tetap tenang," ujar Eos. Ide bagus.
Kami
kemudian berpisah menuju rumah Zuzu melalui jalur yang berbeda.
•••
"Lapor,
kami mendeteksi adanya penggunaan teknologi aneh di sekitar pusat kota."
"Teknologi
ini hampir sama dengan kejadian tahun lalu."
"Menurut
laporan, jumlah target lebih dari 3 orang."
"Segera
lacak lokasi dan musnahkan."
•••
Mereka
berlima kini sudah berada di rumah Zuzu, dengan segera mereka memikirkan cara
untuk kembali ke dunia mereka. Teo mencoba menghubungi Io untuk membuka portal
teleportasi. Tidak berhasil, lampu kota ini padam. Chip ini tidak akan bekerja
saat lampu padam.
"Sepertinya
informasi mengenai kita telah sampai pada federasi itu. Mereka sengaja
memadamkan listrik kota ini agar kita tidak bisa kabur," tebak Ian dengan
benar.
"Ini
gawat. Setidaknya ada 2 pilihan, tetap menunggu listrik menyala, atau pergi ke
kota lain yang terdekat?"
"Keduanya
sangat berbahaya, Zu. Bisa saja mereka lebih dulu mengetahui posisi kita,"
ucap Zura ketakutan.
"Mau
gimana lagi? Tidak ada cara lain. Sebaiknya kita pergi dari kota ini.
Kemungkinan mereka menghidupkan listrik kota ini sangat kecil. Mungkin di kota
seberang kita bisa mendapatkan listrik," Zuzu mendesak.
"Bagaimana
jika mereka mengenali kita di luar sana?"
"Berdiam
di sini juga tidak aman, Kak. Kita bisa menyamar, berganti pakaian, menggunakan
topi. Intinya wajah kita tidak boleh terlihat jelas," pendapat Eos
disetujui.
Mereka
berganti pakaian dengan harapan tak ada yang mengenali mereka. Mereka
memutuskan untuk pergi ke kota lain yang jaraknya cukup dekat, kota Khenet.
Jaraknya hanya 1 jam jika menggunakan transportasi umum.
Disepanjang
perjalanan, mereka melihat papan iklan yang menunjukkan gambar mereka, berita
ini telah menyebar di seluruh kota.
Untung saja gambar itu tidak terlalu jelas. Dan setidaknya penampilan
mereka saat ini tak cukup mirip dengan gambar yang beredar itu.
Merasa
aman, bernapas lega
•••
"Bagaimana?
Sudah ada yang menjaga di kota lain? Kota Khenet?"
"Sudah.
Diperkirakan target akan menuju kota ini."
"Siapkan
senjata!"
•••
Mereka
tiba di kota Khenet, lebih sunyi dibandingkan kota sebelumnya. Zuzu memiliki
rumah di kota ini, peninggalan ayahnya. Mungkin di tempat itulah mereka bisa
melakukan teleportasi. Tidak ada sedikitpun kendala menuju rumah Zuzu.
Sesampainya disana, Teo mencoba kembali chip yang melingkar pada lengannya.
Menyala. Chip ini menyala. Dengan sigap Teo menghubungi Io.
"Io,
gawat. Kami dalam bahaya, waktu kami tidak banyak. Cepat buka portal teleportasi."
"Ini
membutuhkan waktu, Teo. Sekit--,"suara Io terputus-putus. Chip Teo mati.
Seperti ada yang menyerap listrik kota ini secara tiba-tiba. Benar saja, sebuah
kapsul terbang muncul di langit kota. Ini yang menyebabkan jaringan terputus.
Kapsul terbang itu menyerap listrik kota Khenet.
"Itu
adalah kapsul terbang milik federasi perdamaian dunia. Jangan ada yang
keluar," perintah Zuzu.
Portal teleportasi itu belum terbuka, atau
malah belum dibuka oleh Io. Kami melihat dari jendela, puluhan orang berseragam
bersiap keluar dari dalam kapsul. Dengan berbagai senjata yang mereka bawa,
berpencar ke berbagai rumah warga.
Portal
teleportasi sudah sedikit membuka dibelakang kami. Ukuran yang terbentuk belum
memungkinkan kami untuk masuk. Sementara
itu, dua orang anggota federasi mengetuk pintu rumah Zuzu. Mereka menggedor
berusaha masuk karena tak kunjung mendapat respon dari dalam.
Posisi
kami terdesak. Bagaimana ini? Portal teleportasi belum terbuka sepenuhnya. Zuzu
memutuskan untuk keluar, anggota federasi akan curiga jika tidak ada seorangpun
yang keluar dari rumah ini. Terlambat, informasi tentang keberadaan mereka
telah diketahui anggota federasi, mereka mendeteksi adanya kekuatan besar dalam
rumah ini.
"Kita
bertemu lagi, di tempat yang sama dan disituasi yang sama. Dimana
manusia-manusia itu, hah?" Salah satu dari mereka mendorong Zuzu kasar.
"Siapa?
Maksudmu apa?" Zuzu mencoba mengulur waktu hingga portal itu dapat terbuka
sepenuhnya.
"Jangan
coba-coba untuk melindungi mereka. Apa kau ingin seperti ayahmu juga? Rela mati
tertembak demi manusia berbahaya seperti mereka?
"Mereka
tidak berbahaya, kalianlah yang berbahaya!" Kesal Zuzu, kemudian mendorong
orang-orang itu. Kini ia berlari menghampiri Teo dan teman-temannya di ruangan
atas.
"Cepat
kembalilah kedunia kalian!" Teriak Zuzu pada Teo.
"Bagaimana
denganmu, Zu? Kau akan ikut dengan kami,kan?" Teo bertanya penuh harap.
Dia tak ingin meninggalkan Zuzu di kota aneg ini.
"Jangan
khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja. Cepatlah!"
"Portal
ini belum terbuka sepenuhnya."
Kedua
anggota federasi kini berada dihadapan mereka. Sial. Kurang lama Zuzu mengulur
waktu. Salah satu dari mereka menghubungi anggota yang lain, meminta bantuan.
Kini senjata yang mereka bawa ditodongkan kearah Teo dan teman-temannya.
Portal
itu telah terbuka sempurna. Zuzu harus memanfaatkan portal itu dengan baik.
Zuzu menerjang kedua anggota federasi. Kemudian berteriak keras menyuruh agar
Teo membawa temannya masuk ke dalam portal itu.
"Pergilah
Teo, aku tidak mau kalian mati di tempat ini. Sudah cukup kejadian waktu itu.
Kembalilah," mohon Zuzu sambil menahan pergerakan 2 anggota federasi.
Teo
terpaku, ia tidak bisa meninggalkan Zuzu di tempat ini. Terlambat, sebuah
tangan telah menarik Teo mendekat ke portal. Teo, Eos, Ian dan Zura tertarik ke
dalam portal.
Teo
masih dapat melihat dengan samar, anggota federasi itu menembak bagian dada
kiri Zuzu. Mengenaskan. Sebelum akhirnya, pandangan Teo menghitam.
"Kembalilah
ke duniamu, Teo. Terimakasih telah berkunjung. Jujur, kau mirip sekali
dengannya. Saat aku melihatmu, kenangan itu kembali berputar di kepalaku.
Dengan mengingatnya saja, aku bahagia."
"Mungkin
aku tidak bisa mengubah masalalu, Teo. Tapi aku cukup bersyukur bisa bersamamu
satu hari ini. Setidaknya ingatan kejadian kelam kala itu, tergantikan dengan
rasa bahagiaku bertemu denganmu kembali."
"Aku
tidak akan merasakan kehilangan lagi, karena akulah yang telah hilang. Bahagia
di duniamu ya, Teo. Jangan buru-buru melupakan aku!"
•••
Sudah
seminggu saat kembalinya mereka dari dunia paralel. Sudah seminggu ini juga Teo
tidak pernah keluar kamar. Sosok Zuzu, dia tidak bisa melupakannya. Akhir-akhir
ini, Zuzu sering muncul dalam mimpinya. Pertemuan mereka memang singkat, tetapi
rasanya mereka seperti telah lama bertemu. Jika tahu seperti ini, mungkin Teo
tidak akan bersikeras melakukan teleportasi saat itu.
"Teo.
Kita tidak bisa merubah masalalu, tetapi kita bisa berusaha untuk masa
mendatang. Jika saat ini kamu bersedih, besok kamu harus tersenyum
kembali!"
•••
Teo
mengambil laptopnya, kemudian mengetikkan sesuatu. Satu halaman, dua halaman,
tiga halaman hingga berpuluh-puluh halaman. Kini perasaannya ia luapkan melalui
sebuah tulisan.
"Kisahmu
akan kutuliskan dalam sebuah cerita, Zu. Mungkin aku bukan penulis yang baik.
Tetapi, kamu akan menjadi tokoh terbaik dalam ceritaku."
•••
Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba
Editor : Cetrin Pebiola Haloho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar