Kamis, 20 Oktober 2022

APPARATION : MENUJU DUNIA PARALEL

 


Karya : Ruth Aurel Saragih

Seorang lelaki tengah berlari tergesa-gesa dengan sebuah paper bag di tangannya. Dua menit lalu ia sedang berada di sebuah toko buku dan tanpa sengaja telinganya menangkap pembicaraan pengunjung lain yang mengatakan bahwa toko mainan di seberang memiliki stok action figure Harry Potter keluaran terbaru, berukuran 30 cm yang memang sedikit produksinya. Dapat dipastikan, action figure itu memiliki harga yang tidak murah. Lelaki itu adalah Meteor Damar Langit. Entah apa maksud orang tuanya memberikan nama 'meteor' padanya. Namun kata ayahnya, lahirnya Teo bertepatan dengan fenomena bintang jatuh.

Sudah sedari kecil lelaki yang sering dipanggil Teo itu menyukai segala hal tentang Harry Potter, saat kecil Teo sangat ingin memiliki kekuatan seperti Harry Potter.

"Pa. Papa tau Harry Potter, kan? Teo kalau udah besar nanti mau jadi seperti itu."

"Kamu ingin punya sihir? Itu tidak mungkin Teo. Haha,"

"Bukan itu, Pa. Maksud Teo, punya kekuatan menghilang. Jika dipikir, pasti seru jika nanti Teo bisa berpindah jarak jauh dalam hitungan detik."

Ibunya yang turut mendengarkan, kini membuka suara. "Hanya karena Teo bisa memikirkannya, bukan berarti Teo bisa melakukannya." Sontak pernyataan ibunya membuat Teo kesal.

"Justru karena Teo bisa memikirkannya, maka Teo harus bisa melakukannya, Ma. Buktinya, Roger Shawyer, dia bisa membuktikan bahwa kekuatan menghilang seperti itu ada."

Teo ini jenius, bahkan diumurnya yang masih 6 tahun saat itu, dia telah mengetahui tentang Roger Shawyer dan mempelajari penemuan tokoh itu. Sampai saat ini, umurnya yang menginjak 22 tahun prinsipnya masih sama.

Baginya akan sangat menyenangkan jika mantra 'apparation' tidak hanya ada di dunia fantasi, tetapi dapat ia lakukan.

Napasnya kini tak beraturan saat tiba di depan toko. Demi mendapatkan figure itu, Teo rela berlari sekencangnya. Tak perlu waktu lama, Teo langsung mengambil figure itu dan kemudian membayarnya. Teknologi pembayaran dizaman ini sudah sangat praktis. Hampir semua orang telah menggunakan alat yang disebut chip, bentuknya seperti jam tangan, sebenarnya memang jam tangan, tetapi dengan bentuk yang lebih tipis dan pipih. Chip ini merupakan inovasi yang telah digunakan selama lebih 1 tahun ini. Benda ini sangat multifungsi, selain dapat digunakan untuk komunikasi, benda ini dapat digunakan sebagai alat pembayaran dan pengganti tiket transportasi umum. Cara kerjanya cukup sederhana, hanya dengan menempelkan chip pada mesin pembaca dan seluruh transaksi pun dapat selesai dalam sekejap.

"Apparation," ujar Teo sambil mengangkat tangan kanannya, kemudian menjentikkan tangannya, berharap mantra itu akan bekerja padanya. Sangat mengagumkan, jika dia bisa teleportasi ke kamarnya sekarang, kan?

"Huh, sepertinya aku terlalu tidak sabar dengan proyek besar itu," ujarnya frustasi yang diakhiri dengan tawa kecilnya.

•••

Dengan wajah masam, Teo memasuki rumahnya membawa 2 paper bag yang dibawanya sedari tadi. Terlihat tidak bersemangat. Seminggu ini kepalanya benar-benar dibuat pusing oleh proyeknya yang belum selesai, ditambah lagi dia harus mengurus anak kecil yang tinggal dirumahnya.

"Kakak pulang!" ujar Teo lesu. Tidak ada yang menyahut. Dimana anak itu? Biasanya saat Teo pulang anak itu akan menyambutnya dengan antusias. "Eos..ayolah, tidak usah bersembunyi." Anak kecil itu adalah Eos. Alfo Eos, berusia 7 tahun, sangat usil, narsis dan banyak tanya. Eos adalah keponakan Teo, orang tuanya menitipkan Eos karena ada urusan penting di luar negeri. Jika seperti itu seharusnya Eos memanggil Teo dengan sebutan om, kan?

"Siapa yang bersembunyi? Kakak pikir Eos tidak ada kerjaan yang lebih penting, huh?" Eos yang menuruni anak tangga berceloteh dengan kesal, bibirnya sengaja di monyong-monyongkan.

"Oh," jawab Teo singkat.

"Kak, pinjam buku dong, mau baca." Eos memang suka membaca, hari-harinya ia habiskan untuk membaca buku. Seperti tadi, saat Teo mencarinya. Eos di kamarnya sedang membaca buku. "Nanti. Kakak mau tidur dulu," ucap Teo tanpa menggubris pertanyaan Eos.

"Eos ikut boleh ya?" tanya Eos. Selama Eos tinggal dirumah Teo, belum pernah sekalipun Teo mengizinkannya untuk masuk ke kamar Teo. Aneh. "Eos curiga ada sesuatu dikamar kakak, apa jangan-jangan di kamar kak Teo ada pe--"

"Stt, ga ada apa-apa, Eos," potong Teo. Dengan segera dia meninggalkan Eos yang masih memikirkan tentang apa yang sebenarnya Teo sembunyikan darinya.

Eos mirip sekali dengan Teo, bukan dari penampilan ataupun wajah, tetapi dari sifatnya. Mereka berdua memiliki rasa ingin tau yang tinggi. Jika sudah bertekad, mereka akan melakukannya.

•••

Sambil membawa barang yang dibelinya tadi, Teo memasuki kamarnya. Tidak langsung tidur, melainkan menuju meja belajarnya. Meletakkan paper bag yang berisi action figure Harry Potter yang baru dibelinya itu. Teo mengambil beberapa lembar kertas HVS dan pulpen dari laci mejanya. Walaupun teknologi zaman ini sudah sangat maju, tapi percayalah penggunaan kertas dan tinta masih sangat diperlukan oleh semesta ini. Saatnya ia kembali menulis, kembali berkutat dengan rumus-rumus dan coretan tangannya, melakukan perhitungan yang teliti untuk penemuannya. Satu minggu ini dia belum melakukan pengembangan apapun bagi penemuan yang dikerjakannya, dia harus segera menyelesaikan penemuan itu, sebuah teknologi yang dapat menggemparkan dunia. Tidak mudah memikirkannya. Beberapa kali dia menjedotkan kepalanya ke meja merasa frustasi. Namun setelah itu dia kembali bersemangat dengan mengambil beberapa buku referensi, sesekali dia mencari informasi dari chip canggih yang dimilikinya. Sudah hampir 3 jam Teo berkutat dengan pulpennya. Suara gesekan pulpen dan kertas itu seakan lantunan melodi bagi Teo, kepalanya kini ikut bergoyang mengikuti irama suara coretan itu. Dan berhenti, sepertinya Teo telah menemukan titik terang.

Teo berdiri, mengangkat kedua tangannya yang menggenggam beberapa lembar kertas hasil coretannya. Kemudian merebahkan diri di tempat tidurnya.

"Brilian, materi itu sudah pasti mengandung tekanan negatif yang tinggi dan kerapatan energi. Ah, mengapa tidak terpikir dari kemarin."

"Ini mudah sekali. Penemuan ini akan berhasil, yeah," teriak Teo kegirangan. Kini pandangannya tertuju pada sebuah petak yang berada tepat di bawah meja belajarnya, tersenyum. Dengan kertas-kertas yang masih dalam genggamannya, Teo tertidur.

•••

BYUR! "Eh, air apa ini?" Teo yang sedang tertidur itu mendesah pelan. Tidur siangnya kini hancur karena ulah anak kecil usil ini, yang tak lain adalah Eos. Teo mengerjapkan matanya berkali-kali, wajahnya tampak kusut. Baru setengah jam dia tertidur dan kini dia harus terbangun akibat segelas air yang ditumpahkan ke wajahnya.

"Tidak bisakah kau membiarkan aku tidur sebentar saja, huh? Dan mengapa kau masuk dalam kamarku?" celotehnya dengan nada kesal.

"Dengerin dulu. Di luar, ada teman kakak, katanya mau ketemu. Kalau saja dia tidak menyuruh ku membangunkan kakak dengan cara ini, aku juga tidak akan melakukannya," balas Eos tak kalah kesal.

"Disuruh? Lalu kenapa kau menurut hah?" Teo frustasi.

"Em, dia menjanjikanku sebuah mainan hehe," jawab Eos tanpa rasa bersalah. Baiklah, tidak ada gunanya berdebat dengan anak itu, anak kecil selalu benar. "Ayo keluar."

"Maaf, kak." ujar Eos merasa bersalah. "Ngomong-ngomong, exotic dan teleportasi itu apa, kak?" Teo yang tengah berjalan menuju pintu menghentikan gerakannya. Apa Eos telah membaca tulisannya? Gawat.

•••

Kini mereka menaiki tranportasi umum, kami menyebutnya trem, tentunya sudah dikembangkan dengan teknologi yang lebih tinggi. Sebenarnya sangat mirip dengan kereta maglev, tidak memiliki roda. Trem ini mengambang 10 mm di atas rel, dan di dorong oleh magnet bermuatan listrik. Jika menggunakan kereta maglev, kalian pasti sedikit terganggu dengan kebisingannya, berbeda dengan trem ini yang hampir tidak menghasilkan suara. Teknologi yang amat maju ini sangat hebat bukan?

"Jadi mengapa kau datang kerumah? Bukankah bisa menelepon  saja?" tanya Teo pada perempuan yang berada disampingnya, Zura. Kita dapat menebak, Zura lah yang meyuruh Eos membangunkan Teo dengan segelas air.

"Aku sudah menghubungimu berkali-kali," ujar Zura dengan kesal. Dengan segera Teo mengecek jam tangan multifungsinya. "Eh, iya, hehe. Maaf, Zura. Ketiduran tadi," ucap Teo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya, terserah." Teo menganga. Seperti perempuan ini sedang sensitif, buktinya dia mengeluarkan kata-kata andalan kaum perempuan. Jarang sekali Zura seperti ini.

"Ah, bagaimana kita makan sambil membahas proyek kita, Ra? Aku akan mengajak Io dan Ian juga." Katanya, jika perempuan sedang bad mood, dengan diberi makanan, mood mereka langsung membaik bukan? Itulah yang dipikirkan Teo saat ini.

Zura kini melirik Teo dengan mata yang berbinar, "Sebenarnya aku datang dengan tujuan itu. Kita harus menyelesaikan proyek ini secepatnya. Dan kita harus makan, karena kau yang mengajak maka kau yang mentraktir. Oke?" Teo kembali menganga, semudah ini untuk mengembalikan mood perempuan?

"Huft, baiklah." Dengan segera Teo menghubungi si kembar Io dan Ian. Eos yang dari tadi fokus mendengar percakapan Teo dan Zura mengangkat suara. "Kakak ngerjain proyek apa sih?"

"Nanti juga tau," ucap Teo mengakhiri.

•••

Sebuah restoran bernuansa kuno namun dengan teknologi yang tinggi. Pengunjung memesan makanan cukup dengan mengetuk pelan meja restoran, kemudian memilih makanan melalui hologram yang ditampilkan pada meja itu. Mengesankan. Teo, Zura, Rian, Rion dan Eos duduk disebuah meja berbentuk persegi panjang.

"Siapa anak kecil ini?" tanya Io. "Keponakan," balas Teo. Sebenarnya dia tidak ingin mengajak Eos tadi, tetapi Eos memaksa dengan berjanji untuk tetap anteng dan tidak banyak tanya saat bertemu teman-teman Teo.

"Jadi, kapan kita melanjutkannya? Proyek kita. Huft, kita semua tau Profesor telah berharap besar pada penemuan kita ini, sponsor yang mendukung juga telah memberikan biaya yang besar," tanya Ian langsung pada intinya.

"Kelanjutan proyek kita tergantung material terakhir itu. Aku sudah melakukan pencarian terhadap material itu, sudah dapat sih, tapi belum yakin. Untuk penemuan ini kita harus memikirkannya dengan baik," balas Io.

"Aku juga sudah menemukannya," jawab Teo dan Zura serempak. Sementara Eos menahan tawa melihat keduanya. Walaupun dia anak kecil, tapi Eos tau ada sesuatu diantara keduanya.

"Sebuah materi bermassa negatif, menurut perhitunganku dia cukup kuat untuk menstabilkan wormhole. Exotic matter," lanjut Zura, menyampaikan argumennya.

"Ya, tepat sekali. Jika penelitianku benar, seharusnya bahan itu memiliki suhu yang rendah. Maksudku, materi itu bisa kita buat dengan mendinginkan beberapa bahan dengan suhu yang rendah. Terdengar mudah, tapi sebenarnya tidak." Penjelasan Teo ini seperti membuka pikiran mereka semua. Langkah untuk menyelesaikan penemuan itu semakin dekat.

"Seperti Helium Superfluida maksudmu?" tanya Ian tepat sasaran.

Setelah bertukar pikiran selama beberapa jam, mereka memutuskan untuk menghubungi Prof. George melalui chip, kemudian setelah mendapat persetujuan mereka berencana membuat materi exotic itu segera. Sudah melakukan beberapa perhitungan, akhirnya mereka yakin bahwa bahan itulah yang memang mereka perlukan.

"Pulang yok, kak!" Mereka hampir lupa ada Eos yang sedari tadi sudah bosan mendengar percakapan mengherankan ini.

•••

Sudah 2 hari setelah Teo dan teman-temannya menyelesaikan penciptaan material terakhir yang mereka sebut dengan exotic matter itu. Rencananya minggu depan mereka akan melakukan percobaan terhadap alat teleportasi ciptaan mereka. Sebelumnya pembuatan exotic matter itu dipenuhi dengan berbagai perdebatan dan beberapa masalah, dimulai dari bahan-bahan yang sulit ditemukan serta beberapa alat yang tidak mereka miliki. Untungnya, sekali lagi, teknologi yang berkembang membantu mereka. Penghitungan yang akurat mereka lakukan, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun, penemuan ini tidak boleh berakhir sia-sia karena sedikit kesalahan.

Saat ini Teo berada di kamarnya, kembali memperhatikan petak kecil yang ada di bawah meja belajarnya. Dirinya tak bisa menahan senyumnya saat ini. Tinggal hitungan hari mereka akan melakukan percobaan atas penemuan mereka. Teo berdiri, menuju ruangan tersembunyi dalam kamarnya. Ya, petak kecil di bawah meja belajarnya itu adalah penghubung antara kamarnya dan ruang bawah. Dihubungkan oleh tangga kayu. Ruangan tersebut tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil berukuran 15m x 12m, dengan desain sederhana bernuansa coklat. Ruangan minimalis ini rapi dengan beberapa rak buku besar yang merupakan tempat koleksi buku Harry potter kesayangannya. Tidak hanya itu Teo juga memiliki banyak buku yang mempelajari tentang Fisika Kuantum. Tepat di satu sisi ruangan terdapat meja besar yang penuh dengan berbagai barang-barang yang digunakannya untuk menciptakan sebuan teknologi yang sudah lama mereka rancang. Tempat inilah yang menjadi markas Teo dan teman-temannya untuk menciptakan alat teleportasi.

Sebelumnya pada tahun 2035, beberapa ilmuan di Universitasnya telah berhasil menciptakan alat teleportasi ini. Mereka telah mengembangkan bahasa pemrograman komputer, metode komunikasi dan komputasi kuantum sebagai instrumen dasar teknologi teleportasi. Bahkan mereka menciptakan komputer kapasitas tinggi yang sanggup menangkap seluruh detail 3 dimensi tubuh manusia, NMR serta ESR yang digunakan untuk men-scan sebagian besar atom dari tubuh manusia. Namun, sepertinya terdapat sedikit kesalahan dalam perakitan teknologi itu. Pada tahap percobaan terjadi kegagalan yang amat fatal, 2 relawan mati terbakar saat terjadi distorsi ruang dan waktu. Kabarnya, wormhole buatan yang mereka ciptakan tidak cukup stabil untuk melakukan teleportasi. Teknologi ini akan mengirim tubuh manusia yang telah dikacaukan partikelnya dengan kecepatan cahaya lalu menyusun kembali partikel tersebut di tempat lain. Wajar saja jika ada sedikit kesalahanpun akan menyebabkan manusia yang menggunakan alat tersebut dapat menjadi debu dalam seketika.

 Sebenarnya hal terpenting dalam teleportasi adalah menciptakan wormhole terlebih dahulu. Wormhole buatan ini dapat diciptakan dengan memanipulasi suatu area dengan energi gravitasi dalam jumlah yang sangat besar, dengan adanya wormhole memungkinkan kita memindahkan materi melalui medan magnet yang bersifat invisible. Sederhananya, wormhole yang sering disebut sebagai jalan tikus antarsemesta ini merupakan jalur menuju tempat yang dituju. Jika tidak ada wormhole kemana partikel-partikel itu akan dipindahkan? Dan jika wormhole tersebut tidak stabil tentu saja segala kemungkinan terburuk akan terjadi, seperti relawan itu.

Dengan gagalnya teknologi itu membuat para ilmuan tersebut menghentikan proyek berbahaya tersebut, bahkan banyak negara yang telah menentang pengembangan teknologi yang amat berbahaya itu. Namun dengan nekat, kami bersama Prof. George dan beberapa tokoh yang membantu, mencari tahu segala informasi mengenai alat itu berniat untuk melanjutkan penemuan berbahaya itu. Kami berhasil mendapatkan rahasia proyek yang telah berhentikan beberapa puluh tahun lalu itu. Prof. George mengenal para ilmuan itu tentunya. Ia merupakan salah satu dari ilmuan itu.

"Lanjutkan penemuan kami.  Kalian memiliki potensi. Kita tidak boleh menyerah dengan gagalnya uji coba 12 tahun silam. Tugas kalian hanya perlu merancang ulang alat itu kemudian menciptakan sebuah benda yang dapat menstabilkan alat itu. Informasi mengenai alat itu akan kukirim sebentar lagi. Ingat, proyek ini rahasia, jangan sampai ada seorangpun mengetahui tentang proyek ini, bahkan keluarga kalian sekalipun."

Sejauh ini sudah 85% perkembangan alat ini, bisa dibilang sudah sama persis seperti teknologi teleportasi yang digunakan Ilmuan saat itu. Teknologi zaman yang sudah maju ini, sedikit memudahkan mereka dalam pengembangan dan pencarian data-data mengenai teleportasi. Sudah 2 tahun ini mereka menghabiskan waktu untuk mengerjakan proyek besar sekaligus berbahaya ini. Merancang kembali penemuan 12 tahun lalu itu ternyata tidak mudah.

Teo memperhatikan sebuah alat berbentuk kubus di depannya. Sebuah alat teleportasi dengan berbagai peralatan canggih di kiri-kanannya. Alat tersebut dihubungkan dengan sebuah mesin pengatur titik koordinat tujuan yang dipenuhi dengan berbagai tombol-tombol berwarna merah, biru, kuning, hijau, dan banyak tombol hitam.

"Jika penemuan ini berhasil pasti akan hebat sekali, dunia akan terkejut dengan teknologi ini. Semua yang kubayangkan akan terwujud. Mungkin aku bisa pergi ke planet lain dengan waktu yang singkat. Atau menjadi pahlawan super? Huh, hebat sekali," ujarku dramatis, merasa bangga dengan penemuan ini. Sesekali menghapus air mata yang sebenernya tidak ada.

Mungkin jika orang lain melihatku saat ini, mereka akan berasumsi bahwa aku tidak waras. Untungnya aku sendiri di ruangan ini. Membebaskanku untuk melompat kegirangan saat ini. Jujur saja, ini adalah penemuan terhebatku. Ralat, penemuan terhebat kami. Wajar jika aku saat ini aku bertingkah sedikit gila.

"Kak? Kenapa kayak orang kesurupan gitu? Kakak sakit?" Eos, entah mengapa dia datang disaat seperti ini. Eh, bagaimana dia mengetahui ruangan ini?

•••

Hari yang mereka tunggu sudah tiba. Hari ini mereka berlima akan melakukan percobaan terhadap alat teleportasi penemuan mereka. Eos yang telah mengetahui tentang penemuan besar sekaligus berbahaya ini bersikeras untuk ikut dalam tahap uji coba.

"Prof, alat ini berbahaya, sebaiknya Eos tinggal saja,kan?" ucap Teo, tidak setuju Eos ikut.

Monitor besar di hadapan mereka menampilkan wajah Prof. George. "Biarkan saja dia ikut, dia keras kepala. Lagi pula anak ini sangat jenius. Siapa tau dia bisa menjadi penerus kalian nantinya." Baiklah keputusan Prof. George tidak bisa diganggu gugat.

Sesuai kesepakatan, Io akan tetap tinggal untuk mengoperasikan komputer . Sementara Prof. George tetap mengawasi lewat monitor. Bagaimanapun juga, ruangan ini harus tetap terjaga keamanannya. Bagaimana jika tiba-tiba ada seekor kucing menekan tombol-tombol ini?

Uji coba pertama mereka lakukan dengan teleportasi benda. Teo dengan senang hati memberikan salah satu action figurenya untuk diteleportasi. Pada figure itu Io memasang sebuah alat yang bisa mendeteksi keberadaan benda itu, seperti GPS. Figure tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat berbentuk kubus itu. Dengan koordinat yang telah ditentukan, benda itu diteleport. Dan, figure itu menghilang.

"Kemana koordinat tujuannya, kak?" Eos bertanya penasaran. "Koordinatnya tepat di tempat ini, tahun 2040. Ah, tunggu sebentar, alat pelacaknya aktif. Lihat titik hijau di monitor? Titiknya bergerak, kemungkinan benda itu dibawa seseorang. Ini berhasil!" Jelas Io, membuat semua berteriak kegirangan kecuali Prof. George yang masih terhubung lewat monitor dan Eos yang terlihat kebingungan.

"2040 berarti 7 tahun yang lalu. Tapi bukannya teleportasi ke masa lalu itu tidak mungkin, kak? Karena waktu berjalan 1 arah maka kita tidak bisa ke masa lalu. Atau teori itu yang salah?" Eos menyampaikan argumennya. Sepengetahuan Eos menurut buku yang sering dia baca, teleportasi masa lalu itu tidak mungkin.

"Eos benar, tapi GPS pada buku tersebut menunjukkan teleportasi tadi berhasil ke koordinat tujuan," ujar Prof. George. "Lalu bagaimana sekarang? Kita tetap lanjutkan? Ayolah, aku sudah tidak sabar," desak Teo tanpa rasa khawatir sedikitpun.

Kini wajah Prof. George terlihat serius. "Baiklah. Sekarang saatnya uji coba kedua. Ingat, teleportasi manusia membutuhkan tenaga listrik yang besar, kemungkinan listrik kota ini akan padam selama 5 jam untuk mengirim kalian ke lokasi tujuan. Yang berarti kalian tidak bisa menghubungi kami saat listrik padam. Saling menjaga, itu yang utama."

"Baik, Prof."

Teo, Zura, Eos dan Ian memasuki kubus itu. Sementara Io mengatur koordinat tujuan sesuai dengan uji coba pertama tadi. Dengan ini mereka akan mengetahui apakah teleportasi masa lalu itu ada. Pintu alat itu tertutup. Io menekan tombol merah. Teleportasi berjalan.

Rasanya aneh, pusing.

Seolah sesuatu sedang mengoyak tubuhku.

Tidak menyakitkan, rasanya seperti ditekan.

Darahku seperti terpompa dengan keras.

Mual. Rasanya mual. Aku ingin muntah.

Apa itu? Aku melihat sebuah cahaya putih.

Surga? Apa aku telah mati?

BRAK!! Teo memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Teleportasi ini berhasil? Ia melihat Eos, Zura dan Ian yang juga memegangi kepala. Teleportasi ini mengerikan, rasanya seperti diguncang dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Teo memperhatikan sekitarnya, tidak bisa memastikan apakah ini benar-benar masa lalu. Suasana tidak jauh berbeda, tapi ada yang aneh. Kota ini sepi. Kemana orang-orang, padahal biasanya sore hari seperti inilah banyak manusia beraktivitas.

Mereka berempat berjalan beriringan, saat ini mereka belum dapat mengabari Io, listrik disana pasti padam. Teo tahu persis, tahun 2040 bukanlah seperti ini. Kota ini seperti kota mati.

"Hei, lihat setiap atap bangunan ini. Semuanya atapnya berbentuk setengah bola," Zura bingung.

"Kota ini aneh. Lihat tumbuhannya. Aku tidak pernah melihat tumbuhan seperti itu," lanjut Ian. Benar kata Zura dan Ian, kota ini aneh. Bangunannya, tumbuhan dan suasananya berbeda dengan kota kami. Hanya saja tata peletakan bangunannya sama persis dengan kota kami.

Menurut tata letak kota mereka, seharusnya saat ini mereka berjalan mengarah ke rumah Zura. Mereka persis tiba di rumah yang seharusnya adalah rumah Zura. Desain dan warna rumahnya sama dengan rumah Zura di kota kami, pembedanya terletak pada bentuk atap yang menyerupai setengah bola. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba seorang perempuan berambut panjang keluar dari dalam rumah. Perempuan itu sama persis seperti Zura hanya saja rambutnya tidak pendek seperti Zura.

"Hah? Kalian siapa?"

Cantik, batin Teo.

•••

Sudah 90 menit berlalu setelah teleportasi itu. Yang artinya saat ini mereka masih belum bisa mengabari Io dan Prof. George bahwa saat ini mereka tidak berada pada masa lalu, tetapi berada di alam lain. Bukan surga maupun neraka, tapi dunia lain, dunia paralel. Mereka tidak pernah menyangka teleportasi ini akan membawa mereka menembus dimensi yang berbeda.

Mereka berada di kamar Zura saat ini, bukan Zura teman Teo, tetapi Zura yang mirip dengan Zura temannya Teo. Membingungkan.

"Siapa tadi namamu? Maksudku nomor berapa?" Ian bertanya pada perempuan yang mirip Zura, sedikit bingung dengan pertanyaannya sendiri.

"Zura. Namaku Zura1425, kalian sudah menanyakan ini berulang kali," ucapnya kesal.

"Lalu apa fungsi angka di belakang nama, kakak?" Kini Eos yang bertanya. "Apa seperti angka yang menunjukkan banyaknya Zura di dunia paralel? Berarti sudah ada sekitar seribu dunia paralel yang terbentuk atau mungkin lebih. Di luar sana bisa saja kita menemukan Zura dengan angka yang lebih besar, kan?"

"Zura," panggil Teo.

"Kenapa?" Zura dan Zura1425 menjawab serempak. Mereka tertawa bersama.

"Zura1425, apa nama kota ini?"

"Kota Erath."

•••

Dari cerita Zura1425, kini mereka benar-benar yakin, bahwa saat ini mereka berada di dimensi lain. Mereka tidak terkejut dengan hal ini. Alam semesta yang sangat luas tidak menutup kemungkinan adanya banyak dunia lain yang terbentuk. Inflasi yang membentuk big bang tidak hanya terjadi sekali tentunya. Dunia yang kita tempati kini merupakan salah satu dari berpuluh juta dunia yang ada, atau bahkan miliaran.

Satu jam mereka habiskan untuk membahas perbedaan dunia asli mereka dan dunia paralel ini. Banyak informasi menarik yang membuat Teo dan teman-temannya penasaran.  Cukup mencengangkan mengetahui bahwa orang-orang di kota ini beraktivitas saat malam hari dan beristirahat pada siang hari. Seperti kelelawar.

Untung saja saat tiba di Kota Erath ini mereka bertemu dengan Zura1425 yang berbaik hati dan mempercayai mereka untuk masuk dalam rumahnya dan tidak mengira mereka adalah teroris yang dapat menyerang kapan saja. Sepertinya Zura1425 akan menjadi pemandu wisata yang baik untuk menjelajahi dunia paralel ini.

"Sebelumnya juga ada manusia yang melakukan teleportasi kesini," Zura1425 menampakkan wajah muram. Jika ia menceritakan hal ini, bayangan kejadian kala itu akan kembali menyakitinya. "Pemerintahan kami sangat menentang adanya penggunaan teknologi canggih, apalagi teleportasi. Setiap penduduk yang ketahuan melakukan teleportasi kesini ataupun menuju tempat lain, mereka akan dikejar sampai dapat."

Sontak Ian bertanya, "Lalu apa yang akan mereka lakukan?" Ada sedikit rasa takut ketika mendengar penjelasan Zura1425. Bagaimana jika mereka ketahuan melakukan teleportasi kesini?

"Mereka akan dibunuh."

Tiga kata itu cukup membuat mereka semua ketakutan. Dibunuh? Zura1425 yang menyadari ketakutan mereka itu kemudian berkata, "Tenang saja, selama kalian tetap di sini dan tidak menunjukkan gelagat mencurigakan kalian akan aman."

"Siapa yang melakukan teleportasi kesini, kak?"

Zura1425 tidak menjawab, hanya tersenyum kecil. Eos merasakan Zura1425 tahu sedikit banyaknya tentang kejadian itu. Teo yang memperhatikan juga tersenyum kecil.

"Kak Zura1425, bagaimana jika kami memanggil kakak dengan sebutan Zuzu saja?"

"Boleh, Eos." Zuzu meng-iyakan.

Zuzu ini manis ya, ucap Teo dalam hati.

 

•••

Jam menunjukkan pukul 8 malam, aktivitas kota ini sudah mulai ramai. Dengan lampu-lampu jalan serta cahaya bulan yang menjadi penerang, masyarakat kota ini melakukan berbagai aktivitas yang biasa dilakukan dipagi hari. Ada yang berolahraga, bersekolah, bekerja, berjualan dan lainnya. Sementara Zuzu yang seharusnya bersekolah memilih untuk bolos hari ini. Alasannya, Zuzu takut meninggalkan Teo dan teman-temannya di rumahnya.

"Kalian tidak ingin berjalan-jalan keluar?" Tawar Zuzu bersemangat. Selama ini Zuzu tidak memiliki teman yang bisa diajak bermain, semua orang di kotanya ini sangat ambisius sehingga melupakan hal kecil yang sangat berharga, yaitu cinta dan kebahagiaan. Hari-hari mereka sangat monoton, bekerja, bekerja dan terus bekerja. Membosankan. Kehadiran Teo dan teman-temannya membuat Zuzu merasakan kehangatan.

"Tidak apa-apa jika kami keluar?"

"Tidak apa, tapi kalian tidak boleh menggunakan teknologi kalian tentunya atau pembunuh itu bisa mendeteksi kalian, haha. Dan harus mengganti pakaian. Sesuaikan dengan pakaian kota kami. Zura pakai baju aku,ya." Zuzu menawarkan, sementara Zura mengangguk kecil.

"Eh? Aku gimana? Ga pake bajunya Zuzu, kan?" Pertanyaan Teo itu membuat Zuzu tertawa.

"Tentu saja tidak, Teo. Teo dan Ian pake baju ayahnya Zuzu."

"Eh? Zuzu masih punya ayah ya? Kirain udah ga ada, sama kayak Zura. Ayah Zura meninggalkan karena kecelakaan waktu itu. Hehe," tanya Zura.

"Udah ga ada juga kok, Ra. Ayah meninggal, dibunuh."

•••

Berbagai pertanyaan melintas di kepala Teo. Ayah Zura meninggal karena kecelakaan, Ayah Zuzu meninggal karena dibunuh. Beginikah cara kerja dunia paralel, berisi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi? Zura dan Zura1425 sangat mirip bagaikan anak kembar, keduanya sama-sama sudah tidak memiliki ayah, tapi dengan alasan kematian yang berbeda.

"Iya, kak. Begitulah cara kerjanya, dunia paralel terbentuk karena adanya kemungkinan yang bisa terjadi. Semakin banyak kemungkinan semakin banyak dunia yang terbentuk. Begitu sih kira-kira yang pernah Eos baca," jelas Eos sok tahu.

"Sejak kapan bisa baca pikiran,huh?" Eos tak menjawab, pandangannya teralihkan dengan pemandangan yang dilihatnya. Burung-burung berkicau dan ayam berkokok dimalam hari. Ini gila. Dan kini aku mengetahui alasan mengapa kami harus menganti baju tadi. Orang-orang ini mengenakan pakaian berwarna putih di malam hari.

Kami mengelilingi kota ini, sesekali tertawa menikmati perjalanan. Zuzu yang awalnya dikira pendiam, seringkali melontarkan sebuah lelucon.

"Aku yakin sekali kalian merasa aneh dengan kotaku ini, jika kalian ingin tertawa, tertawa saja." Alhasil, aku dan Eos tertawa kencang mendengar itu. Bayangkan saja kalian melihat orang-orang lari pagi dimalam hari. Kemudian sarapan dimalam hari. Aneh.

"Ngomong-ngomong kapan rencana kalian akan kembali? Aku khawatir jika kalian ketahuan nantinya."

"Besok siang sepertinya, aku juga tidak mau berlama-lama di tempat aneh ini," ucap Ian, tanpa sadar membuat Zuzu tersenyum kecut. Jujur saja, baru beberapa jam bertemu dengan mereka tetapi Zuzu sudah merasakan kenyamanan.

"Oh iya, Zu. Kenapa kamu tidak melaporkan kami? Maksudku, bisa saja sekarang kamu berteriak mengatakan kami melakukan teleportasi kesini?" Tanya Teo penasaran.

"Aku tidak mau melakukannya, aku tidak mau kehilangan lagi," Zuzu tersenyum tipis.

"Kehilangan lagi? Maksudnya? Maaf, aku sedikit penasaran," ucap Teo hati-hati.

"Orang yang pernah melakukan teleportasi kesini. Federasi perdamaian dunia yang menentang teknologi teleportasi membunuhnya. Padahal tidak ada sedikitpun niatnya untuk berbuat jahat, menghancurkan kota. Dia orang yang baik, aku mengaguminya. Tidak ada manusia di kota ini yang memiliki rasa tulus dan empati sepertinya. Kenyataan bahwa dia mirip sekali dengan salah satu dari kalian, membuatku tak ingin merasakan kehilangan lagi. Kemudian ayahku juga. Ayahku yang merawat aku sedari kecil ditembak mati oleh federasi itu karena membantu lelaki itu melarikan diri. Dua orang yang amat penting bagiku, mati karena federasi itu. Kedatangan kalian kesini, jelas membuat kenangan lama itu hidup kembali," jelas Zuzu sambil menitikkan air mata.

Zura yang mengerti perasaan Zuzu kini memeluknya. Memang perkara kehilangan, kematianlah yang paling menyakitkan.

"Teo. Apa kau mendengar? Akhirnya kalian bisa dihubungi? Bagaimana? Berhasilkan?" Suara Io kini terdengar dari chip yang Teo miliki, secara otomatis muncul hologram kecil yang menampilkan Io yang tengah berbicara padanya. Teo ingat sesuatu.

"Tidak apa-apa jika kami keluar?"

"Tidak apa, tapi kalian tidak boleh menggunakan teknologi kalian tentunya atau pembunuh itu bisa mendeteksi kalian, haha. Dan..."

"Io, ini cukup serius. Jangan menghubungi kami sebelum aku yang menghubungimu duluan"

Gawat. Beberapa orang kini memperhatikan kearah mereka, sudah pasti hologram yang muncul dari chip Teo mencuri perhatian orang yang berlalu-lalang. Beberapa dari mereka berteriak memanggil federasi perdamaian dunia. Habislah mereka.

"Matikan benda itu, Teo," desak Zura

"Berpencar, kita harus berpencar, kak. Akan sangat mencolok jika kita berlari bersama saat ini, tetap tenang," ujar Eos. Ide bagus.

Kami kemudian berpisah menuju rumah Zuzu melalui jalur yang berbeda.

•••

"Lapor, kami mendeteksi adanya penggunaan teknologi aneh di sekitar pusat kota."

"Teknologi ini hampir sama dengan kejadian tahun lalu."

"Menurut laporan, jumlah target lebih dari 3 orang."

"Segera lacak lokasi dan musnahkan."

•••

Mereka berlima kini sudah berada di rumah Zuzu, dengan segera mereka memikirkan cara untuk kembali ke dunia mereka. Teo mencoba menghubungi Io untuk membuka portal teleportasi. Tidak berhasil, lampu kota ini padam. Chip ini tidak akan bekerja saat lampu padam.

"Sepertinya informasi mengenai kita telah sampai pada federasi itu. Mereka sengaja memadamkan listrik kota ini agar kita tidak bisa kabur," tebak Ian dengan benar.

"Ini gawat. Setidaknya ada 2 pilihan, tetap menunggu listrik menyala, atau pergi ke kota lain yang terdekat?"

"Keduanya sangat berbahaya, Zu. Bisa saja mereka lebih dulu mengetahui posisi kita," ucap Zura ketakutan.

"Mau gimana lagi? Tidak ada cara lain. Sebaiknya kita pergi dari kota ini. Kemungkinan mereka menghidupkan listrik kota ini sangat kecil. Mungkin di kota seberang kita bisa mendapatkan listrik," Zuzu mendesak.

"Bagaimana jika mereka mengenali kita di luar sana?"

"Berdiam di sini juga tidak aman, Kak. Kita bisa menyamar, berganti pakaian, menggunakan topi. Intinya wajah kita tidak boleh terlihat jelas," pendapat Eos disetujui.

Mereka berganti pakaian dengan harapan tak ada yang mengenali mereka. Mereka memutuskan untuk pergi ke kota lain yang jaraknya cukup dekat, kota Khenet. Jaraknya hanya 1 jam jika menggunakan transportasi umum.

Disepanjang perjalanan, mereka melihat papan iklan yang menunjukkan gambar mereka, berita ini telah menyebar di seluruh kota.  Untung saja gambar itu tidak terlalu jelas. Dan setidaknya penampilan mereka saat ini tak cukup mirip dengan gambar yang beredar itu.

Merasa aman, bernapas lega

•••

"Bagaimana? Sudah ada yang menjaga di kota lain? Kota Khenet?"

"Sudah. Diperkirakan target akan menuju kota ini."

"Siapkan senjata!"

•••

Mereka tiba di kota Khenet, lebih sunyi dibandingkan kota sebelumnya. Zuzu memiliki rumah di kota ini, peninggalan ayahnya. Mungkin di tempat itulah mereka bisa melakukan teleportasi. Tidak ada sedikitpun kendala menuju rumah Zuzu. Sesampainya disana, Teo mencoba kembali chip yang melingkar pada lengannya. Menyala. Chip ini menyala. Dengan sigap Teo menghubungi Io.

"Io, gawat. Kami dalam bahaya, waktu kami tidak banyak. Cepat buka portal teleportasi."

"Ini membutuhkan waktu, Teo. Sekit--,"suara Io terputus-putus. Chip Teo mati. Seperti ada yang menyerap listrik kota ini secara tiba-tiba. Benar saja, sebuah kapsul terbang muncul di langit kota. Ini yang menyebabkan jaringan terputus. Kapsul terbang itu menyerap listrik kota Khenet.

"Itu adalah kapsul terbang milik federasi perdamaian dunia. Jangan ada yang keluar," perintah Zuzu.

 Portal teleportasi itu belum terbuka, atau malah belum dibuka oleh Io. Kami melihat dari jendela, puluhan orang berseragam bersiap keluar dari dalam kapsul. Dengan berbagai senjata yang mereka bawa, berpencar ke berbagai rumah warga.

Portal teleportasi sudah sedikit membuka dibelakang kami. Ukuran yang terbentuk belum memungkinkan kami untuk masuk.  Sementara itu, dua orang anggota federasi mengetuk pintu rumah Zuzu. Mereka menggedor berusaha masuk karena tak kunjung mendapat respon dari dalam.

Posisi kami terdesak. Bagaimana ini? Portal teleportasi belum terbuka sepenuhnya. Zuzu memutuskan untuk keluar, anggota federasi akan curiga jika tidak ada seorangpun yang keluar dari rumah ini. Terlambat, informasi tentang keberadaan mereka telah diketahui anggota federasi, mereka mendeteksi adanya kekuatan besar dalam rumah ini.

"Kita bertemu lagi, di tempat yang sama dan disituasi yang sama. Dimana manusia-manusia itu, hah?" Salah satu dari mereka mendorong Zuzu kasar.

"Siapa? Maksudmu apa?" Zuzu mencoba mengulur waktu hingga portal itu dapat terbuka sepenuhnya.

"Jangan coba-coba untuk melindungi mereka. Apa kau ingin seperti ayahmu juga? Rela mati tertembak demi manusia berbahaya seperti mereka?

"Mereka tidak berbahaya, kalianlah yang berbahaya!" Kesal Zuzu, kemudian mendorong orang-orang itu. Kini ia berlari menghampiri Teo dan teman-temannya di ruangan atas.

"Cepat kembalilah kedunia kalian!" Teriak Zuzu pada Teo.

"Bagaimana denganmu, Zu? Kau akan ikut dengan kami,kan?" Teo bertanya penuh harap. Dia tak ingin meninggalkan Zuzu di kota aneg ini.

"Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja. Cepatlah!"

"Portal ini belum terbuka sepenuhnya."

Kedua anggota federasi kini berada dihadapan mereka. Sial. Kurang lama Zuzu mengulur waktu. Salah satu dari mereka menghubungi anggota yang lain, meminta bantuan. Kini senjata yang mereka bawa ditodongkan kearah Teo dan teman-temannya.

Portal itu telah terbuka sempurna. Zuzu harus memanfaatkan portal itu dengan baik. Zuzu menerjang kedua anggota federasi. Kemudian berteriak keras menyuruh agar Teo membawa temannya masuk ke dalam portal itu.

"Pergilah Teo, aku tidak mau kalian mati di tempat ini. Sudah cukup kejadian waktu itu. Kembalilah," mohon Zuzu sambil menahan pergerakan 2 anggota federasi.

Teo terpaku, ia tidak bisa meninggalkan Zuzu di tempat ini. Terlambat, sebuah tangan telah menarik Teo mendekat ke portal. Teo, Eos, Ian dan Zura tertarik ke dalam portal.

Teo masih dapat melihat dengan samar, anggota federasi itu menembak bagian dada kiri Zuzu. Mengenaskan. Sebelum akhirnya, pandangan Teo menghitam.

"Kembalilah ke duniamu, Teo. Terimakasih telah berkunjung. Jujur, kau mirip sekali dengannya. Saat aku melihatmu, kenangan itu kembali berputar di kepalaku. Dengan mengingatnya saja, aku bahagia."

"Mungkin aku tidak bisa mengubah masalalu, Teo. Tapi aku cukup bersyukur bisa bersamamu satu hari ini. Setidaknya ingatan kejadian kelam kala itu, tergantikan dengan rasa bahagiaku bertemu denganmu kembali."

"Aku tidak akan merasakan kehilangan lagi, karena akulah yang telah hilang. Bahagia di duniamu ya, Teo. Jangan buru-buru melupakan aku!"

•••

Sudah seminggu saat kembalinya mereka dari dunia paralel. Sudah seminggu ini juga Teo tidak pernah keluar kamar. Sosok Zuzu, dia tidak bisa melupakannya. Akhir-akhir ini, Zuzu sering muncul dalam mimpinya. Pertemuan mereka memang singkat, tetapi rasanya mereka seperti telah lama bertemu. Jika tahu seperti ini, mungkin Teo tidak akan bersikeras melakukan teleportasi saat itu.

"Teo. Kita tidak bisa merubah masalalu, tetapi kita bisa berusaha untuk masa mendatang. Jika saat ini kamu bersedih, besok kamu harus tersenyum kembali!"

•••

Teo mengambil laptopnya, kemudian mengetikkan sesuatu. Satu halaman, dua halaman, tiga halaman hingga berpuluh-puluh halaman. Kini perasaannya ia luapkan melalui sebuah tulisan.

"Kisahmu akan kutuliskan dalam sebuah cerita, Zu. Mungkin aku bukan penulis yang baik. Tetapi, kamu akan menjadi tokoh terbaik dalam ceritaku."

•••

 

Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Editor : Cetrin Pebiola Haloho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...