Tampilkan postingan dengan label Rudi Saragih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudi Saragih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 November 2023

Script Film Pendek: PEMUDA MERAH PUTIH

 

SCRIPT FILM PENDEK

 

PEMUDA MERAH PUTIH

Written By

Rudi Saragih

 

 

Sinopsis:

Pemuda dari berbagai daerah menghuni sebuah asrama. Tokohnya memiliki berbagai karakter masing-masing. Sebagian besar dari mereka ternyata memiliki jiwa nasionalis yang kuat namun jiwa kedaerahannya tetap melekat. Obrolannya sepertinya spele, tetapi memiliki makna yang kuat.

 

Tokoh dan Karakter

1.     Gery          => Gokil, ekspresif dan nasionalis

2.    Ivan           => Berjiwa tenang dan Pintar

3.    David         => Reseh, cerdik dan berlogat batak

4.    Firman       => Ramah dan berlogat jawa

5.    Ardi           => Dungu, Baik, pakai kacamata tebal dan hobi gadget

6.    Winda       => Crewet

7.    Kevin         => Disiplin (just by phone)

8.    Evi              => Cuek (just by phone)

 

 

FADE IN

 

SCENE  1 Interior (INT) Kamar Asrama 1

Cast: Gery, Hugo

 

SETTING: Suasana kamar asrama sedikit berserak. Beberapa buku terletak di atas meja dan setengah gelas kopi. Gery sedang menempel Poster Soekarno. Ivan tiduran sambil membaca di kasur tingkat II.

 

Senin, 24 Juni 2013

Puisi: Ibu Juga Pendidik




Universitas Negeri Medan
Desember 2011

Ibu Juga Pendidik
Oleh Rudi Hartono Saragih

Dan,
Kurangkai rindu dalam ranah esok hari,
menitih harap,
menggapai asa,
meraih cita-cita.

kutahu, berbakti itu hakiki insan,
kusadar, mengabdi itu kemuliaan jiwa yang tegar


ibu,
sebentar lagi anakmu akan mengabdi kepada anak bangsa,
memuliakan insan-insan kelu di sudut negeri ini,
membatik fajar untuk masa depan kita dan bangsa ini,

Selasa, 18 Januari 2011

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG


Sumber:
Buku Kumpulan Cerpen “Para Penanti”
Judul Cerpen : Badai di Pinggir Jalan Bulan di Tepi Jurang
Penulis  : Rudi Hartono Saragih
Halaman : 83-87
Penerbit : Mentiko Publisher tahun 2008
ISBN : 978-602-95059-01

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG
Rudi Hartono Saragih

Malam  jatuh. Bulan membulat sempurna, sedang  lipatan-lipatan  awan  yang  semula  terperangkap  gelap  mulai  berbalut bias  purnama.  Kupandangi  perjalanan malam,  sejujurnya  bukan hanya jejak-jejak hening yang kudapati. Tetapi juga lamunan yang teramat panjang. Siluet-siluet penghidupan membentang dalam pikiranku. Betapa tidak, saat ini berpuluh pengalaman hidup sedang bergumul dalam otakku. Ya, sudah sejak kemarin bahkan kemarin lalu pengembaraan hidup dan kehidupan mengajakku menyusuri belantara  suka  dan  duka.  Aku  pernah  menyibak  kebahagiaan. Dulu, bahkan dulu sekali, aku sempat mencecap manisnya menjadi putra sulung. Saat ayahku masih mampu mencari nafkah, segala kebutuhanku  terpenuhi.  Sebelum  ayah  mengalami  kecelakaan mobil  yang  membuatnya  lumpuh,  sedang  ibu  jauh  lebih mengenaskan, aku hanya bisa melihat jasadnya berlumuran darah. Semenjak  itu,  aku  baru mengerti  bahwa menjadi  putra  sulung merupakan tanggung jawab yang teramat besar.
 Sejujurnya, jika harus berkata jujur, tak ada lagi yang dapat kubanggakan dalam keluargaku selain harga diri. Ya, harta benda kami  telah  terkuras  untuk  biaya  perobatan  ayah,  itupun  belum cukup. Pada akhirnya yang  tersisa hanyalah sepetak  rumah yang menampung empat kepala. Namun, walau tinggal sepetak rumah, aku tak akan menjualnya demi cita-citaku. Ya, aku memang masih sekolah, aku bermimpi menjadi sarjana. Bahkan aku juga bermimpi mengantarkan ke dua adikku meraih mimpinya. Sebab bagi tekadku miskin  bukanlah  halangan,  ketidakmauan  dan  ketidakberanian menakklukkan dunia itulah miskin yang sebenarnya.
Selama  ini,  untuk  menjaga  sejengkal  perut  kami  agar  tidak keroncongan, aku dan kedua adikku berkerja. Ya, sebenarnya aku tak tega melihat Lince dan Atma memeras keringat demi mengais rupiah, aku tak tega melihat keduanya beriringan mengumpulkan botol-botol  bekas,  tetapi  jika  mengandalkan  recehan  yang kudapatkan  dari mengamen, maka  sudah  pasti  tak  akan  cukup. Beruntung, untuk biaya  sekolah aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Sedang Lince memperoleh dana santunan dari pihak sekolah.
* * *
  Malam  semakin  jatuh.  Bulan membulat,  namun  terlihat pucat di mataku. Kulihat ayah  tidur dipeluk Atma. Ah,  si bungsu yang malang. Tak seharusnya kau cecap air mata kesedihan, tetapi inilah adanya. Di usia enam  tahun kau harus memikul  tanggung jawab keluarga. Pada cekung matanya, kulihat palung penghidupan mendalami bola matanya. Mata yang indah. Di mata adikku bukan hanya kudapati tatap mata kekanak-kanakan, tetapi juga tajamnya kedewasaan mendalami mata  air  airmata  kehidupan.  Kualihkan pandanganku pada sosok Lince, kali  ini aku  tersenyum, ada satu warisan ibu yang melekat dalam dirinya. Rambut ikalnya. Aku ingat betul, geraian rambut ibu serupa mayang. Hitam dan lembut. Ah, sedang apa ibu kini di surga?
  “Ibu,  sudahkah  ibu  tertidur malam  ini  di  surga? Apakah Tuhan mendongeng  cerita  untuk  ibu  sebelum  ibu  tidur  seperti yang ibu lakukan pada kami?”
  Perlahan air mataku membulir. Pecah dan melandai di pipi. Pada akhirnya aku coba beranjak dari jendela setelah menutupnya, kurebahkan  tubuhku  di  atas  tikar.  Sebab  ranjang  kami  hanya mampu menampung tiga orang saja. Minggu pagi merupakan hari yang kunantikan, sebab aku bisa  seharian mencurahkan pikiran memenuhi kantong plastikku dengan  recehan. Namun,  sebelum  aku berangkat  tiba-tiba  ayah memanggilku. Suaranya parau, wajahnya pucat.
  “Kau tahu mengapa ayah menamaimu Badai?”
  Aku menggeleng. 
“Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”  Aku hanya menunduk. Diam.
 “Apa kau mengerti apa yang ayah maksudkan?”  Aku semakin menunduk. Diam. 
 “Bicaralah.” 
“Ya Ayah. Badai mengerti, karena itulah Badai diam. Sebab untuk mewujudkan harapan ayah maka Badai harus berbuat, bukan hanya berkata.” 
“Ayah bangga padamu.” 
Entahlah,  aku  sendiri  belum  yakin  dengan  perkataanku, tetapi  demi  menumbuhkan  semangat  ayah  maka  aku  harus mengatakannya.
“Adikmu mana?” 
“Lagi ke warung yah”
 “Ngutang lagi?” 
Aku hanya mampu mengangguk.  
“Maafkan Ayah,  tak seharusnya kalian mengalami semua ini”
Aku  tak  mampu  membalas  ucapan  ayah,  yang  dapat kulakukan hanya menggenggam jemari ayah. Keharuan menyeruak dalam  dadaku.  Beruntung  tak  lama  berselang  Lince  dan  Atma datang. Pagi ini kami berhutang dua mug beras, dan dua ikat sayur bayam untuk sarapan.
* * *
Di persimpangan jalan aku berpisah dengan ke dua adikku. Mengais  nasib.  Di  lampu merah  kumainkan  alat musikku,  yang terbuat  dari  tutup-tutup  botol  bekas  yang  dipipihkan.  Dengan semangat kusenandungkan lagu kebangsaan anak jalanan.
  “Ngamen di pinggir jalan
  Konser lewat nyanyian 
  Sekedar untuk cari makan tuan 
  Dan sisanya buat bayar sekolahan
  Daripada maling ayam 
  Dipukuli, tiga bulan tahanan 
  Lebih baik aku mengamen tuan.”

            Dalam hati aku tersenyum, saat sorot mataku menangkap beberapa  lembar uang  ribuan masuk ke plastik yang kusodorkan. Saat  matahari  tepat  mengarah  ke  ubun-ubun,  kujumpai  adik-adikku di  tempat yang  telah kami  janjikan. Di perempatan  jalan, kulihat adikku melambaikan tangannya.
  “Bagaimana hasil kalian hari ini?” 
  “Lumayan bang, baru saja kami jual rongsokan yang kami dapat, dihargai tiga ribu enam ratus rupiah.”
  Aku tersenyum miris.  
  “Kalau abang?”
  Kuambil  kantong  plastikku,  kukeluarkan  recehan  yang kudapat. Lumayan, aku dapat empat ribu tujuh ratus rupiah. Segera saja kuserahkan uang itu pada adikku.
 “Nah,  pulanglah,  siapkan  makan  ayah.  Nanti  abang menyusul.”
* * *
            Kuiringi  langkah  adikku  dengan  ekor  mataku  yang menatapnya  tanpa  henti,  sampai menghilang  ditikungan  jalan. Kini,  aku  harus  melanjutkan  menggurat  nasibku.  Aku  harus mendapatkan tambahan uang. Sebab aku ingin membeli buku tulis baru. Ya, bukuku habis, aku  tak mungkin memintanya dari ayah. Maka aku harus mencari sendiri, mungkin sepenggal hari ini aku bisa mendapatkan uang untuk membelinya.
             Aku  lanjutkan  nada-nada  sumbangku  di  lampu  merah, sepertinya  Tuhan memberi  jalan  padaku.  Saat  kusenandungkan alunan  lagu didekat mobil sedan, tiba-tiba pintu terkuak. Mataku seakan  terlontar  saat  kulihat  selembar  uang    lima puluh  ribuan masuk  dalam  kantong  plastikku.  Ah,  Tuhan  telah menurunkan malaikat  bagiku.  Dengan  uang  ini  aku  bisa membeli  buku  dan mencicil hutang di warung.   Dengan penuh semangat aku menyelesaikan bait  laguku, sampai-sampai aku tak sadar lampu hijau telah menyala. Buru-buru aku melangkah ketepi jalan, namun tiba-tiba datang sepeda motor menghantam  tubuhku. 
Aku  terkapar,  kupeluk  erat-erat  kantong plastikku,  sebab  dikantong  plastikku  telah  tersimpan  mimpiku membeli  buku. Namun,  aku  tak  tahan  lagi  saat  semua menjadi gelap, yang kuingat bukan lagi buku, bukan pula hutang yang akan kucicil,  tetapi aku  ingat adikku, almarhumah  ibuku dan sepotong pesan ayah yang masih terngiang di telingaku.
  “Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”

Serambi KOMPAK, 05 Juni 2009

Rabu, 17 November 2010

TEMPATKAN KEKELUARGAAN PADA TEMPAT YANG TEPAT

Oleh Rudi Saragih*

Jika sampah dibuang pada tempatnya, mengapa nepotisme tidak diperlakukan serupa? Pilih bulu itu boleh, tapi harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Memang salah, jika menyamakan antara hak-hak publik dan hak-hak pribadi. Tidak bisa dipungkiri, budaya dan nilai rasa kekeluargaan masyarakat Indonesia yang sangat tinggi. Itu identitas bangsa, itu kekayaan budaya bangsa.
Rasa kekeluargaan yang negatif tinggi inilah yang memicu tingginya nepotisme. Tentunya setiap orang menginginkan keluarga dan orang-orang terdekatnya sukses. Siapa sih yang gak mau balas budi? Siapa coba yang enggan menolong orang-orang terdekatnya? Itu baik. Itu khasanah budaya. Namun, tentunya ada hal sisi yang buruk di samping sisi yang baik.
Ada tempat kekeluargaan yang tepat. Tentunya tidak salah jika kita menempatkan anak kita menjadi manejer, memilih seseorang dengan pertimbangan pribadi untuk menempati suatu posisi di perusahaan pribadi.
Yang menjadi masalah besar adalah menganggap perusahaan publik menjadi seperti milik pribadi. Mungkin biar ‘dianggap jago’, sehingga sesuka hati mengambil tindakan. Padahal, ada instrumen penilaian terhadap sesuatu objek yang telah ditetapkan dalam perusahaan/instansi pemerintah (publik). Pemegang jabatan cukup melaksanakan.
Nah dalam hal ini, perlu adanya profesionalitas menempatkan kekeluargaan. Harus berani berlawanan dengan hati nurani ‘kekeluargaan sisi negatif’, jika ingin  menjadi pelayan publik. Hilangkan penyakit mengakar di negeri ini!


Kamis, 04 November 2010

Maningon Pistar Do Hita Anak Simalungun


Assalamualaikum, Wm. Wb.
Horas…! Horas…! Horas…!

Naparlobei, diateitupa ma hubani naibata namambere hagoluhan hubani hita bei. Sonai homa hubani hita haganup na roh i jon, sai anjanah sangap-sangap ma hita das hu pudi ari.
I jon, i tanoh Simalungun on, domma maju. Jaman sonari on bahat do salian perkembangan na dong. Janah halak na pistar ma na boi mambaen goluh ni salih madear. Humbani ai, ase boi hita pistar maningon bahat do mambasa buku. Maningon rajin do homa marsikolah, sonai homa makkorjahon PR na ibere guru.
Jaman sonari on ro rayoh na do anak-anak manuntut ilmu. Dearan do bi sadea marguro-guro. Padahal anggo sadea pistar ro bahat na do boi ihorjahon. Janah ro dearni ma hagoluhanni haduan. Humbani aima ase porlu do tumang rajin-rajin marsikolah.  Songon uppasa ni halak simalungun
“Halambir ni sindamak, ikuhur dop ibolah.
Sonaha pe nini halak, ulang lupa marsikolah.”
Ibagas uppasa ai, age sondiha pangayob ni hasoman lao marguro-guro, na parlobei ma tong horjahon horja na madear. Ibagas ma ai makhorjahon PR na ibaen guru, ibagas ma ai mangurupi namatoras ni bei, pakon ibagas ma ai mambasa.
Namambaen jolma pistar, salah sada ma ai mambasa. Seng boi sasada jolma pistar anggo rayoh do ia mambasa. Halani ai, porlu do salian i biasahon namambasa on. Porlu ni ai ase boi mamppagok parbinotoh lao manghadapi hamajuon jaman sonarion. Maningon rajin do mambasa nian anak-anak sonarion. Maningon rajin do marlajar anak simalungun ase roh dearni simalungun ta on.
Anggo rayoh-rayoh do hita marlajar, na laho marsikkor do andohar. Tapi anggo rajin do hita marlajar, salih raja ma hita i tanoh simalungun on. Naima nini hata ni uppasa,
“Roba sipissarpissar, parsidingan ni leto.
Mardohar anggo pistar marsikkor anggo oto.”
Sonai ma porlu ni salian na marlajar on. Anggo lang hita marlajar, anggo hita pelang mamajuhon tanoh hatubuhon ta on, seng adong halak na legan na ra humbani ai. Anggo rayoh-rayoh do hita, salih babu ma akin hita i tanoh hatubuhan ta on.
Maningon malo-malo do homa hita manorih parubahan na adong i tanoh simalungun on. Halani gok do parubahan na lang sosok hubi adat ni simalungun. Halani ai, maningon rajin do hita marlajar, songon diha do satong-tongna ada ni simalungun. Aima nini ase ulang ikatahon lupa bona.
Nai pe nini hata ai haganupan, seng boi tarlaksana hapistaron ni halak simalungun anggo lang di dukung haganupan. Sai andohar ma mintor maju hita haganupan halak simalungun. Sai pistar-pistar ma hita anak-anak simalungun.
Na songon manutup hata on, dong sada uppasa namadear.
Boras sabur-saburan, iboban ni pinggan pasu.  Horas hita ganupan, sai jumpahan pasu-pasu.” Sonai ma lobei.
Horas Simalungun. Horas… Horas… Horas…!
Assalamualaikum, Wm. Wb.

Rabu, 27 Oktober 2010

NEURON BERKOTAK-KOTAK


Kepulan dioksida dari mulut tak’ cukup mengantar keindahan hingga ubun-ubun nurani.
Ada gelisah yang harus dicambuk diantara konflik.
Ada letih yang harus dihina kala mendung menyapa.
Ada hasrat "kobel" yang harus dihempas indahnya tarian bangau.
d...a....n...

Senin, 25 Oktober 2010

Ejaan Jiwa



Kau baru saja mengungkapkan ilmu padi diantara orang kerdil
Dalam malam guratan evaluasi terpahat kemilau, sahabat
Dari jiwa-jiwa sedih hari kemarin
Kita telah membubut kebersamaan

Cakap-cakap Tentang Esai [Katanya]



Tulisan prosa berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek / bidang kehidupan. Tulisan ini mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan analisis, sintesis dan kesimpulan yang khas dari penulisnya.

Langkah-langkah membuat Esai

1. Mulailah dengan Semangat! Dan jangan melemahkan diri anda katakana pada diri anda
    “Ayo … (sebutkan nama anda) kamu pasti bisa!” opsssssss.... tetap senyum....

Minggu, 24 Oktober 2010

TUNAS TERATAI

Oleh Rudi Hartono Saragih
Untuk Inisiatif dan Taman Madya Tamsis T.Tinggi

Dalam hening seisi surau,
bertabur kesucian tak terukur,
pelangi mengukir cinta di pucuk teratai,
menggores ranah intelektual, dalam nurani kala cahaya lahir.

Kamis, 21 Oktober 2010

Mulai Cegah Korupsi Dari Hal Kecil!


Kegagalan pembangunan dan personalisasi hak-hak orang banyak mengantarkan Indonesia ke peringkat ketiga tertinggi angka korupsi di dunia. Sebuah hal yang  memprihatinkan, negara yang beragama dan terkenal dengan keramahannya mencoreng mukanya sendiri dengan korupsi.  Kejahatan korupsi mengakar di masyarakat Indonesia. Kejahatan ini memiliki sistem yang abstrak. Pemotongan dana dari atasan hingga bawahan, sehingga alokasi pelaksanaan program dalam pembangunan tinggal sisa-sisa pembagian para pejabat yang tidak bertanggung jawab. Hidup dalam Negara seperti permainan yang tidak memiliki sistem yang ketat. Kekuatan hukum dibolak-balik semena-mena oleh penegak hukum.

Rabu, 11 Agustus 2010

Universitas yang Sesungguhnya

Rudi Hartono Saragih

“Nanti lama tamatnya.” Kata-kata itu yang selalu terucap dari mahasiswa yang tidak ingin mengecap organisasi di kampus. Cara pandang ini mengkambinghitamkan organisasi sebagai penyebab lamanya menyelesaikan studi. Tidakkah terpikir bahwa semua itu sangat erat kaitannya dengan manajemen pribadi dalam menjalankan tugas akademisi?
Momok ini memang terbentuk ketika mengetahui lama tamatnya para organisator yang sering disebut aktivis. Namun perlu dikaji ulang latar belakang penyebab masalah tersebut. Tidak hanya itu, ketakutan dipersulit dosen juga tidak terenyahkan oleh orang yang disebut agen perubahan ini.

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...