(Rudi Hartono Saragih, Mantan Litbang Pers Mahasiswa Kreatif UNIMED, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia .)
Fungsi pers kampus sebagai kontrol sosial terletak pada esensi berita yang disajikan. Keberadaannya di kampus menuai berbagai reaksi. Jika beritanya mengangkat nama baik seseorang/kelompok civitas akademika akan ada suguhan senyuman. Sebaliknya, wajah masam akan menjadi kebiasaan apabila menyajikan berita yang mengkritik. Padadasarnya hal itu bukan mengkritik namun hanya menyajikan pemberitaan yang akurat dan menarik. Dan ini sebuah kesalahpahaman antara pers mahasiswa dengan civitas akademika.
Disadari, eksistensi pers mahasiswa tergantung pada kepengurusan. Sebagai wadah belajar, pers mahasiswa acap kali tergantung pada SDM yang setiap tahunnya berganti. Kondisi ini menjadi tantangan besar karena manajemen organisasi terus berganti. Pemimpin yang berbeda akan membuat situasi organisasi yang berbeda juga.
Pers mahasiswa sangat erat kaitannya dengan aktivitas jurnalisme kampus yang mendukung atau menolak keputusan rektorat. Berita yang disuguhkan mengkritisi atau sebagai ‘tangan humas’ di kampus. mengkritik rektorat menjadi sebuah dilema besar. Kenapa tidak? Sebagian besar sumber dana cetak itu bersumber dari dana kemahasiswaan yang dikelola rektorat. Kritik itu bisa membuat pers kampus tidak terbit (tidak diberi dana cetak). Sebaliknya jika mendukung, berita yang disuguhkan hanya berita seremonial, tidak memiliki analisis panjang, dengan demikian para mahasiswa tidak tertarik untuk membacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar