Jumat, 26 November 2021

KEMAH DI BUKIT GUNDUL


                                               

                          Karya : Sepanya saragih

 

     Kemah Di bukit gundul. Berjalan melewati pos satu ke pos berikut nya. Dan disitu

kita bisa melihat mana teman yang egois dan yang tidak egois. Yang cape akan beristirahat yang masih kuat akan terus lanjut dan yang haus akan minum sendiri.

 “Aagh....  Kenapa teman ku begitu egois ya.” bisik ku dalam hati.

 “Rizal, ayo kita lanjutkan perjalanan.” bentak Riko Yang masi kuat berjalan.

     Dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos ke 2 dengan muka yang lesu, kelihatan tidak bersemangat. Sesampainya di pos 2 aku bersama teman mulai merasakan cape sekali karna pos, ke pos itu berjarak sekitar 800 m.

Selasa, 23 November 2021

SAYUR RAJUT

KARYA: MAY CLARA SARAGIH

Kring........

Alarm handphoneku berbunyi. Pagi sudah tiba. Saya bangun dan saya langsung cucu muka ke kamar mandi.

 Selesai ditemukan saya langsung pergi ke dapur, mengambil sepiring nasi dengan lauk. Saya pun sarapan. Selesai sarapan saya langsung bergegas mengambil pisau dan rajut. Saya pun pergi ke ladang. Memotong sayur yang ada di ladang. Sampai di ladang, saya langsung memotong sayur dengan cepat supaya bapak saya tidak marah karena menunggu terlalu lama. Jam menunjukkan jam 12.30. Ayah saya pun datang dari rumahMenemui saya di ladang. Ayah saya bun tiba di ladang.

"Nak apakah sudah selesai." berjalan mendekati saya.

PESTA PORA RESAHKU

 



Karya: MARIA EVI FANI PURBA

 

***

          Berdenyut seperti nadi, berdetak seperti jantung demikian hati ini yang tak kunjung temukan kedamaian.  Aku Whis Ania, gadis yang barusaja menjejalkan kaki di bangku kuliah dengan jurusan sastra Indonesia disalah satu universitas swasta di daerah ini. Panggil saja aku Whis, si pengagum bintang yang bertebar cantik di angkasa.

          Malam ini hujan turun sangat lebat, membasahi tanah yang kering kerontang. Ini bukan hujan pertama bulan ini, bukan juga hujan terakhir bulan September ini, ini hanya hujan yang sama dengan hujan-hujan lainnya. Tak ada yang istimewa. Namun entah mengapa rasanya ada yang salah. Gelisah melanda jiwa, pikiran pun tak tenang juga. Seakan hati ini punya kendali sendiri di luar nalar dan logika.

GERBANG SEKOLAH

 


Karya : Desmina Malau

Kring....

 Suara alarm handphone milikku,  Membangunkan ku. Sedikit tersenyum malu di wajahku mengingat bunga tidur tentang pria tampan itu. Tubuhku yang masih berbaring di atas kasur kecil masih dengan rasa malas. Melirik sedikit ke kanan sebuah seragam putih abu-abu tergantung rapi dan bersih yang  menanti ku.

Tak.tak.ta.kk.tak...suara Langkahku yang membawa diriku ke depan  sebuah jendela kecil rumahku. Membukanya. Sinar matahari dan udara segar yang seketika kudapat dari sebuah pagi yang sangat cerah. Seragam dengan rambut rapi ku membuatku terlihat lebih cantik di depan sebuah cermin milikku.berjalan menuju depan pintu kamar . pintu yang ditutui dengan gorden kuning dengan motif bunga -bunga putih kecil.itu adalah kamar ibuku.

"Tok...tok....tok...buuu?" Ucap ku dari depan pintu kamar.

KONCO

 Oleh: Binsar Purba 



  Hari mulai gelap. Mentari pun mulai tenggelam disebelah barat. Akupun mulai bergegas meninggalkan pantai.

  "Apakah kita akan pulang?"

 Tanya seorang temanku yg datang menghampiriku seolah olah belum puas menunjukkan kebolehannya. Sebut saja namanya namanya Makesa. Makesa adalah satu dari sekian temanku yang hobbynya suka berenang. Setiap kali pergi berenang senangnya bukan main. Tak heran jika dia bertanya begitu.

  "Apa lagi yang akan kita lakukan, hari sudah mulai gelap sedangkan kampung kita masih jauh." balasku seakan akan tidak tau perasaan Makesa.

Jumat, 12 November 2021

MASA SEKOLAHKU


 

Karya: Andreas M.Gulo

 

Di suatu pagi yang sangat dingin dan matahari belum hadir menyapa, tiba-tiba suara alarm berbunyi. Aku pun terbangun sembari merapikan tempat tidurku dan  bergegas untuk bersiap-siap  pergi ke sekolah. Aku pergi dengan menggunakan sepeda motor. Jarak antara rumah ke sekolahku sangat jauh. Tak lupa aku pun berpamitan kepada kedua orang tuaku.

Sampailah aku di persimpangan jalan menuju sekolahku. Aku bertemu dengan teman ku  si Erwin

"Lagi ngapain bro disini? Belum mau pergi ke sekolah kah?" tanyaku padanya.

Rabu, 10 November 2021

HIDUPKU TERASA HAMPA

 



Karya: Gresya V Haloho

                                       

         Namaku Gresya Haloho. Ini kisahku. Dimana saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMP dengan usia 13 tahun. Aku anak pertama dari 5 bersaudara. Nama adikku yang pertama, Jhon Fadli Haloho. Dia berusia 11 tahun duduk dikelas 6 SD. Nama adikku yang kedua, Chilvia Haloho, masih TK dan berusia 6 tahun. Adikku ketiga bernama Jhon Kedro Haloho dengan usianya 3 tahun. Dan adik bungsuku bernama Airin Haloho, usianya masih 2 tahun. Kami anak dari pasangan inisial J.Haloho dan L.Silaban. Kami terlahir dalam keluarga yang sederhana.

       Orangtuaku bekerja sebagai petani. Setiap hari mereka sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

PERSAHABATAN, SEKOLAH, DAN KEHIDUPAN


By : Desi Madarispa Purba



     Suatu hari disekolah dalam kelas ada tiga orang murid yang sedang berbincang bincang, anak-anak ini mempunyai geng bernama tralalatrilili, yaitu Tara, Lala, Tri, dan Lili, maka dari itu mereka menamakan gengnya "TRALALATRILILI".

      Dengan ceria Tara, Lala, dan tri masuk ke kelas, mereka merasa ada yang kurang mereka sangat kebingungan apa yg menurut mereka yang kurang.

  "Oh.....ya Lili, pantas saja sepi banget biasanya kan dia yang paling bawel." ucap Tri.

Membantu Ayah dan Ibu

 


Karya. Juni suprianto damanik

 

Saya tau hidup ini sangat keras. Saya tau hidup ini menginginkan perjuangan yang sangat keras. Bahkan saya sadar hidup ini menuntut agar setiap manusia mampu memperkuat perjuangannya masing masing. Hidup ini sangat sangat keras. Siapa yang tidak berjuang dalam mencapai suatu kebutuhan hidup nya maka dia akan menderita. Maka untuk itu saya menuliskan suatu karangan saya yang tidak begitu sempurna ini dan saya akan memulainya.

Pada awalnya saya menceritakan kehidupan saya yang sederhana. Pada setiap hari saya harus membantu orang tua saya. Orang tua saya adalah petani. Saya anak pertama dari lima bersaudara. Setiap hari saya bangun pagi dengan cepat. Pada dasarnya saya setiap hari sekolah. Pada suatu hari saya berbincang dengan orang tua saya yaitu ayah saya. Saya pun bertanya.

"Pak.. Bagaimana sih kebijakan yang harus kita perbuat agar perekonomian kita berubah?"

SAHABAT

 



By: Inha Parhusip



         Di sebuah kampung ada tiga teman  yang mulai dari kecil selalu bermain bersama. Canda tawa yang bahagia. Tiga sekawan ini selalu tolong menolong mulai dari kecil. Nama tiga sekawan ini adalah Irwan, Tono,  dan Aldo. Tiga teman ini hidup dari keluarga yang berbeda. Irwan dari keluarga sederhana, Tono dan Aldo bisa dibilang lumayanlah. Persahabatan mereka dimulai dari TK. Dimana mereka tidak pernah saling mengejek.

         Mereka pun melewati masa masa sekolah bersama SD, SMP, dan SMA. Mereka melewati masa-masa susah senang bersama. Namun hal buruk menimpa keluarga Irwan karena ayah nya meningal dunia karena sakit paru-paru. Teman-temannya pun turut berdukacita.

CERITA IBUKU


Karya: Grace Christine Malau

 

Zahra POV

  Disuatu sore, aku dan adikku sedang duduk di teras depan rumah. Kami berbincang-bincang dengan ibu, sambil menunggu ayah pulang dari tempat kerjanya. Kami bersama sama memandang indahnya langit sore yang berwarna jingga. Aku berfikir, betapa beruntungnya aku mempunyai keluarga yang bahagia serta harmonis. Ah andai ayah sudah ada disini. Akupun jadi teringat dan berfikir bagaimana dulu hubungan ayah dengan ibu. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, namaku Zahra, aku mempunyai adik bernama Zahwa dan mempunyai orang tua yang sangat menyayangi kami. Ayahku bernama Zaidan dan ibuku bernama Zahara. Yahh inisial nama kami dari huruf Z semua hehe.

"Ibu, ayo ceritakan bagaimana kisah ibu dengan ayah dulu. Bagaimana kalian bisa berhubungan sampai menikah saat ini?" pintaku  pada ibu.

"PERJALANAN MENJANDI TENTARA"

 By: Jenrio Pakpahan

 


 

Ibuku merupakan tulang punggung bagi hampir disetiap keluarga. Di usianya yang sudah senja ibuku tetap mencari nafkah bagi aku,  kakek dan nenekku. Ibuku merupakan seorang kowad (Tentara wanita), namun tidak seperti kebanyakan yang kowad lakukan, seperti menjaga perdamaian, menjaga perbatasan, dan bahkan dikirim ke daerah yang sedang terjadi konglik, ibuku bekerja di bagian jasmani tentara yang biasanya melatih para tentara agar dapat naik pangkat dan juga mengurusi kegiatan tersebut, nyatanya tidak, kadang ibuku sering melakukan kegiatan yang menguras waktu dan tenaga sehingga harus kerja lembur yang akhirnya ibuku tidak dapat pulang ke "rumah ", karena aku dan kakek, nenekku dipisahkan oleh jarak, aku dan kakek, nenekku tinggal di Huta tongah dan ibu tinggal di siantar. Cukup sekian bagian dari orientasi, dari sini saya akan bercerita tentang perjalanan hidup ibu saya dimulai dari sekolah hingga sekarang menjadi perwira Karir, dan kata "Ibu" diganti menjadi "Aku".

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...