Rabu, 10 November 2021

HIDUPKU TERASA HAMPA

 



Karya: Gresya V Haloho

                                       

         Namaku Gresya Haloho. Ini kisahku. Dimana saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMP dengan usia 13 tahun. Aku anak pertama dari 5 bersaudara. Nama adikku yang pertama, Jhon Fadli Haloho. Dia berusia 11 tahun duduk dikelas 6 SD. Nama adikku yang kedua, Chilvia Haloho, masih TK dan berusia 6 tahun. Adikku ketiga bernama Jhon Kedro Haloho dengan usianya 3 tahun. Dan adik bungsuku bernama Airin Haloho, usianya masih 2 tahun. Kami anak dari pasangan inisial J.Haloho dan L.Silaban. Kami terlahir dalam keluarga yang sederhana.

       Orangtuaku bekerja sebagai petani. Setiap hari mereka sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Orangtuaku mengajarkan kami anak-anaknya untuk belajar dan bekerja keras dengan giat untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga, aku selalu berusaha untuk mendapatkan ranking di kelas walaupun itu sepuluh besar. Aku seorang anak perempuan yang mudah menangis.

       Dipagi hari, Ibu membangunkan ku dari tempat tidur untuk bergegas ke sekolah. Kurapikan tempat tidurku, mandi, pakai seragam sekolah dan tidak lupa dengan serapan pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:20 dimana saatnya aku dan adik pertamaku harus berangkat ke sekolah. Seperti biasa aku dan adikku selalu diantar ke sekolah oleh Ayahku menggunakan kendaraan motor. Tapi untuk kali ini, tidak. Dikarenakan Ayahku lagi kurang enak badan (kurang sehat). Tidak ada pilihan lain. Aku dan adikku terpaksa harus jalan kaki ke sekolah.

 "Kami berangkat ke sekolah dulu ya Ibu, Ayah." ucapku sambil menyalam dan mencium tangan Ayah dan Ibuku.

"Iya, hati-hati dijalan. Kalau mau nyebrang harus lihat kiri kanan. Jangan lari-lari!" ucap Ayah dan Ibuku.

        Tiba disekolah. Jam 07:15 baris dilapangan. Pelajaran dimulai pukul 07.45. Pulang sekolah pukul 13:15. Kutunggu temanku di gerbang sekolah. Aku dan temanku jalan kaki sama-sama pulang ke rumah. Ketika aku berjalan menuju rumahku, aku melihat tetanggaku dan bidan desa berada di rumahku.

"Ibu, ini ada apa, kok ramai?" tanyaku pada Ibu.

"Ibu akan membawa ayahmu ke Rumah Sakit untuk memeriksa penyakit nya. Kamu jaga adek dulu ya. Nanti sore kami akan pulang." ujar Ibuku.

       Adik ketiga dan si bungsuku menangis ketika melihat Ayah dan Ibu akan pergi. Mereka minta ikut. Tapi tidak di izinkan. Akupun ikut menangis. Ini pertama kalinya mereka berdua meninggalkan adikku yang masih kecil. Tetanggaku menggendong adikku dan berusaha untuk mendiamkan mereka.

      Sore pun tiba, Ayah dan Ibu sudah pulang dari Rumah Sakit. Kutanya Ibuku tentang hasil pemeriksaan Ayah. Ternyata Ayahku terkena penyakit tumor. Ada benjolan di dalam perutnya. Orang-orang bilang, penyakit itu muncul karena Ayah sering tidak makan dan di warung makanannya hanya mie instan. Ibuku bingung membawa Ayahku harus berobat kemana. Keluarga dari Ayahku bahkan orang disekitar kami berpendapat bahwa lebih baik Ayah di bawa berobat jalan (obat alami) saja daripada berobat ke dokter. Ibuku pun berpikir seperti itu. Dan ibu membawa Ayah untuk berobat.

       Hari demi hari, bulan demi bulan Ibuku sudah berusaha membawa Ayahku kesana kesini untuk berobat. Aku sangat salut melihat Ibuku sendiri berjuang untuk membantu Ayahku melawan penyakitnya. Akan tetapi masih saja belum ada perubahan pada Ayahku bahkan semakin memburuk.

       Pada malam hari, tiba-tiba sakit Ayahku kambuh. Dia menjerit kesakitan. Ibuku bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Pada saat itu juga hujan turun. Ibu pun lari meminta bantuan ke rumah tetanggaku yang mempunyai mobil. Mereka mau membantu kami untuk membawa Ayahku ke RS. Ibu pun bergegas menyusun perlengkapan untuk dibawa ke RS seperti selimut, termos, dan baju ganti untuk Ayah dan Ibuku. Untuk biaya pengobatan RS Ayahku nanti, Ibu pun membawa kartu BPJS karena uang kami tidak cukup untuk membayarnya. Sebelum berangkat, Ibu menyampaikan pesan kepadaku.

"Nanti pagi, kamu kan sekolah. Adik-adik titipkan saja dulu sama Inanguda."

"Iya bu!" jawabku sambil meneteskan air mata.

 Ibu memelukku. Mereka pun berangkat. Aku hanya bisa berdoa dari rumah untuk kesembuhan Ayahku.

       Pagi pun tiba. Aku bergegas untuk ke sekolah. Kurapikan semua rumahku. Kumasak nasi dan lauk untuk kuberi makan adik-adikku.Kubuatkan susu untuk adik bungsuku. Sebelum berangkat ke sekolah, kutitipkan adikku ke rumah Inanguda. Kebetulan anaknya seumuran dengan adik kedua dan si bungsuku. Dan akhirnya aku diantar oleh Bapaudaku ke sekolah dengan kendaraan motor. Tiba di gerbang sekolah kusalam tangan Bapaudaku seperti aku menyalam tangan Ayahku dulu sebelum dia pergi ke RS. Saat di kelas, aku tidak konsentrasi belajar. Aku selalu kepikiran adikku. Entah kenapa aku berpikir adikku saat ini sedang menangis mencari Ayah dan Ibuku. Mereka tidak tahu kalau Ayah dan Ibuku sekarang sedang berada di RS.

       Pulang dari sekolah, aku langsung ke rumah. Kuganti pakaianku. Masuk kamar lalu menangis. Aku cape ngurusin adikku sendirian. Aku bingung kami harus tinggal dimana. Adik keduaku kuserahkan sama inanguda. Aku dan ketiga adikku tinggal bersama di rumah  Nenek dan Kakek. Meskipun adikku gak suka melihat Nenekku karena kegalakannya. Setiap malam aku terganggu untuk tidur, gara-gara adikku situkang nangis dan cerewel, dan terkadang mereka juga  ngompol. Setiap pagi aku harus bangun jam 04:00, untuk mengerjakan apa yang seharusnya menjadi tugasku baik dalam bidang memasak, merapikan rumah nenekku,dan menyiapkan susu untuk adik bungsuku supaya aku tidak telat pergi ke sekolah.

Ketika mau berangkat ke sekolah, adikku bertanya padaku,  "Kak, Ibu  dimana?"

"Ibu lagi pergi beli kue untuk kelian. Tunggu disini ya, sama Nenek. Kaka  mau kesekolah." jawabku dengan membohongi mereka.

Adikku menangis. Mereka tidak mau sama Nenek. Adikku minta ikut. Aku bingung harus gimana lagi. Akhirnya ada tetangga datang berusaha untuk mendiamkan adikku. Aku pergi secara diam-diam.

       Dua minggu kemudian, Ayah dan Ibu pulang dari RS. Aku sangat gembira, karena masih bisa melihat kedua orangtua yang sangat aku sayangi. Langsung kupeluk Ayahku sambil meneteskan air mata.

 "Ayah cepat sembuh ya!" ujarku.

Ibu bercerita kepadaku. Kata dokter jalan terbaik untuk Ayah saat ini harus di operasi. Ibuku pun berusaha keras untuk mencari biaya operasi Ayahku, termasuk meminjam uang dari Nenekku. Akan tetapi pinjaman dari Nenek tidak akan cukup untuk biaya operasi Ayah. Tidak ada pilihan lain lagi, Ibu pun menjual tanah kami. Seminggu kemudian, Ayah dan Ibu pergi ke RS. Puji Tuhan, Ibu memberitahuku dan semua keluarga bahwa operasi Ayah berjalan dengan lancar. Kami pun turut bersuka cita. Setelah di operasi, Ayahku harus kemoterapi 1 kali dalam seminggu.

        Kata dokter, Ayah dan Ibu sudah bisa pulang ke rumah. Keesokan harinya semua keluarga, tetangga, teman ayahku para guru sekolah minggu, dan Inang pendeta juga datang ke rumah untuk menjenguk Ayahku. Setiap hari aku dan ibu selalu semangat untuk menjaga dan merawat Ayahku supaya cepat sembuh. Dan aku selalu membuat jus buah untuk Ayahku (usul dari Pak Dokter).

        Kamis, 17 Mei 2018. Aku hendak berangkat ke sekolah. Kusalam dan kucium tangan Ibu dan Ayahku. Akan tetapi ketika aku pamit pada ayahku, diwaktu itu dia tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Aku sangat bingung.

"Ayah kenapa ya," ucapku dalam hati.

Pulang  sekolah dan tiba dirumah, semua keluarga Nenek, Kakek, Bapauda dan Inanguda sedang berada di rumahku. Aku bertanya pada Ibu kenapa mereka ada di sini. Kata Ibu, ini permintaan Ayahku. Ayahku ingin mereka semua ada di sini. Heran bukan? Ayah sebelumnya gak mau makan dan minum obat sama sekali, tiba-tiba di hari itu Ayahku selera makan dan mau minum obat. Ibupun menyuruhku membuat jus buah untuk Ayah. Ketika aku sedang berada di dapur, Bapaudaku datang  mengambil nasi untuk Ayahku.

"Jika kita rutin memberi Ayah obat dan memberinya makan yang banyak , 2 minggu lagi Ayah akan sembuh." ucap Bapauda dengan senang hati.

"Iya Bapauda." (dengan wajah yang ceria).

Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan dan sangat bahagia. Kami menyuapkan  makan, minum obat buat Ayahku. Dan aku yang terkahir memberi jus buah pada Ayahku. Tiba-tiba Ayah langsung lemas tidak berdaya.

"Ayah kenapa?" ucapku dengan rasa ketakutan.

Ibu langsung menggendong Ayahku dipangkuaannya.

"Ini kenapa, Ayah kenapa. Ayah, Ayah bangung!" (Sambil mengangis dan menggoyang-goyangkan badan  Ayahku).

Kami semua teriak menangis. Yang kutakutkan pun terjadi. Ayahku sudah sehat selamanya. Ternyata Ayahku sudah tidak bernyawa lagi.

"Ayah,  Ayah. Kenapa kau tinggalkan kami? Ayah gak sayang lagi sama kami? Ayahhhhhhhhh......(menjerit menangis).

Ibuku benar-benar sangat sedih. Karena pasangan hidupnya kini sudah tiada. Ibuku pingsan melihat keadaan Ayahku yang sudah tidak bernyawa lagi. Ibuku memecahkan kaca lemari kami. Orang-orang berusaha untuk membuat ibuku tenang. Dia sangat kehilangan. Bukan hanya dia, aku, adikku dan  kami semua memang betul-betul sangat kehilangan. Aku semakin tak kuasa membendung air mata. Dalam hidupku tidak pernah terbesit sedikit pun pemikiran bahwa Ayahku akan pergi selamanya. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Aku, Ibuku dan semua keluarga hanya bisa menangis pilu melihat kepergian Ayahku. Aku tidak percaya kalau Ayahku benar-benar sudah tiada.

Semua orang memelukku dan berkata, "Yang sabar ya Boru, kamu harus kuat. Kamu anak pertama. Lihat adek-adekmu masih kecil, lihat mama itu. Kau harus bisa jadi Kaka yang baik, harus bisa jadi panutan buat adek-adekmu. Kau harus bisa menghibur mama. Sekarang kau lah kawan mama bertukar pikiran. Jangan lagi kau pikirkan Ayah itu, udah tenang dia di alam barunya. Tetap sabar ya Boru, kau harus kuat. Ingat dibalik duka pasti ada suka."

      Ketika aku mengalami hal menyedihkan itu, aku selalu menyalahkan Tuhan. Mengatakan bahwa Tuhan tidak adil, Tuhan itu tidak melihat keadaan keluargaku yang rapuh, dan Tuhan tidak pernah mengerti akan hidup yang kualami.

Sekian dan Terimakasih.               

                                                         Penulis adalah Siswa dari SMA N 1 Purba

 kelas XII IPA 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...