Karya: Gresya V Haloho
Namaku Gresya Haloho.
Ini kisahku. Dimana saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMP dengan usia 13
tahun. Aku anak pertama dari 5 bersaudara. Nama adikku yang pertama, Jhon Fadli
Haloho. Dia berusia 11 tahun duduk dikelas 6 SD. Nama adikku yang kedua, Chilvia
Haloho, masih TK dan berusia 6 tahun. Adikku ketiga bernama Jhon Kedro Haloho
dengan usianya 3 tahun. Dan adik bungsuku bernama Airin Haloho, usianya masih 2
tahun. Kami anak dari pasangan inisial J.Haloho dan L.Silaban. Kami terlahir
dalam keluarga yang sederhana.
Orangtuaku bekerja sebagai petani. Setiap hari mereka sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.
Orangtuaku mengajarkan kami anak-anaknya untuk belajar dan bekerja keras dengan giat untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga, aku selalu berusaha untuk mendapatkan ranking di kelas walaupun itu sepuluh besar. Aku seorang anak perempuan yang mudah menangis.
Dipagi hari, Ibu membangunkan ku dari tempat tidur untuk bergegas ke
sekolah. Kurapikan tempat tidurku, mandi, pakai seragam sekolah dan tidak lupa
dengan serapan pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:20 dimana saatnya aku dan
adik pertamaku harus berangkat ke sekolah. Seperti biasa aku dan adikku selalu
diantar ke sekolah oleh Ayahku menggunakan kendaraan motor. Tapi untuk kali
ini, tidak. Dikarenakan Ayahku lagi kurang enak badan (kurang sehat). Tidak ada
pilihan lain. Aku dan adikku terpaksa harus jalan kaki ke sekolah.
"Kami berangkat ke sekolah dulu ya Ibu,
Ayah." ucapku sambil menyalam dan mencium tangan Ayah dan Ibuku.
"Iya, hati-hati dijalan. Kalau
mau nyebrang harus lihat kiri kanan. Jangan lari-lari!" ucap Ayah dan
Ibuku.
Tiba disekolah. Jam 07:15 baris
dilapangan. Pelajaran dimulai pukul 07.45. Pulang sekolah pukul 13:15. Kutunggu
temanku di gerbang sekolah. Aku dan temanku jalan kaki sama-sama pulang ke
rumah. Ketika aku berjalan menuju rumahku, aku melihat tetanggaku dan bidan
desa berada di rumahku.
"Ibu, ini ada apa, kok
ramai?" tanyaku pada Ibu.
"Ibu akan membawa ayahmu ke
Rumah Sakit untuk memeriksa penyakit nya. Kamu jaga adek dulu ya. Nanti sore
kami akan pulang." ujar Ibuku.
Adik ketiga dan si bungsuku menangis ketika melihat Ayah dan Ibu akan
pergi. Mereka minta ikut. Tapi tidak di izinkan. Akupun ikut menangis. Ini
pertama kalinya mereka berdua meninggalkan adikku yang masih kecil. Tetanggaku
menggendong adikku dan berusaha untuk mendiamkan mereka.
Sore pun tiba, Ayah dan Ibu sudah pulang dari Rumah Sakit. Kutanya Ibuku
tentang hasil pemeriksaan Ayah. Ternyata Ayahku terkena penyakit tumor. Ada
benjolan di dalam perutnya. Orang-orang bilang, penyakit itu muncul karena Ayah
sering tidak makan dan di warung makanannya hanya mie instan. Ibuku bingung
membawa Ayahku harus berobat kemana. Keluarga dari Ayahku bahkan orang
disekitar kami berpendapat bahwa lebih baik Ayah di bawa berobat jalan (obat
alami) saja daripada berobat ke dokter. Ibuku pun berpikir seperti itu. Dan ibu
membawa Ayah untuk berobat.
Hari demi hari, bulan demi bulan Ibuku sudah berusaha membawa Ayahku
kesana kesini untuk berobat. Aku sangat salut melihat Ibuku sendiri berjuang
untuk membantu Ayahku melawan penyakitnya. Akan tetapi masih saja belum ada
perubahan pada Ayahku bahkan semakin memburuk.
Pada malam hari, tiba-tiba sakit Ayahku kambuh. Dia menjerit kesakitan.
Ibuku bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Pada saat itu juga hujan
turun. Ibu pun lari meminta bantuan ke rumah tetanggaku yang mempunyai mobil.
Mereka mau membantu kami untuk membawa Ayahku ke RS. Ibu pun bergegas menyusun
perlengkapan untuk dibawa ke RS seperti selimut, termos, dan baju ganti untuk
Ayah dan Ibuku. Untuk biaya pengobatan RS Ayahku nanti, Ibu pun membawa kartu
BPJS karena uang kami tidak cukup untuk membayarnya. Sebelum berangkat, Ibu
menyampaikan pesan kepadaku.
"Nanti pagi, kamu kan sekolah.
Adik-adik titipkan saja dulu sama Inanguda."
"Iya bu!" jawabku sambil
meneteskan air mata.
Ibu memelukku. Mereka pun berangkat. Aku hanya
bisa berdoa dari rumah untuk kesembuhan Ayahku.
Pagi pun tiba. Aku bergegas untuk ke sekolah. Kurapikan semua rumahku.
Kumasak nasi dan lauk untuk kuberi makan adik-adikku.Kubuatkan susu untuk adik
bungsuku. Sebelum berangkat ke sekolah, kutitipkan adikku ke rumah Inanguda.
Kebetulan anaknya seumuran dengan adik kedua dan si bungsuku. Dan akhirnya aku
diantar oleh Bapaudaku ke sekolah dengan kendaraan motor. Tiba di gerbang
sekolah kusalam tangan Bapaudaku seperti aku menyalam tangan Ayahku dulu
sebelum dia pergi ke RS. Saat di kelas, aku tidak konsentrasi belajar. Aku
selalu kepikiran adikku. Entah kenapa aku berpikir adikku saat ini sedang
menangis mencari Ayah dan Ibuku. Mereka tidak tahu kalau Ayah dan Ibuku
sekarang sedang berada di RS.
Pulang dari sekolah, aku langsung ke rumah. Kuganti pakaianku. Masuk
kamar lalu menangis. Aku cape ngurusin adikku sendirian. Aku bingung kami harus
tinggal dimana. Adik keduaku kuserahkan sama inanguda. Aku dan ketiga adikku
tinggal bersama di rumah Nenek dan
Kakek. Meskipun adikku gak suka melihat Nenekku karena kegalakannya. Setiap
malam aku terganggu untuk tidur, gara-gara adikku situkang nangis dan cerewel,
dan terkadang mereka juga ngompol.
Setiap pagi aku harus bangun jam 04:00, untuk mengerjakan apa yang seharusnya
menjadi tugasku baik dalam bidang memasak, merapikan rumah nenekku,dan menyiapkan
susu untuk adik bungsuku supaya aku tidak telat pergi ke sekolah.
Ketika mau berangkat ke sekolah,
adikku bertanya padaku, "Kak,
Ibu dimana?"
"Ibu lagi pergi beli kue untuk
kelian. Tunggu disini ya, sama Nenek. Kaka
mau kesekolah." jawabku dengan membohongi mereka.
Adikku menangis. Mereka tidak mau
sama Nenek. Adikku minta ikut. Aku bingung harus gimana lagi. Akhirnya ada
tetangga datang berusaha untuk mendiamkan adikku. Aku pergi secara diam-diam.
Dua minggu kemudian, Ayah dan Ibu pulang dari RS. Aku sangat gembira,
karena masih bisa melihat kedua orangtua yang sangat aku sayangi. Langsung
kupeluk Ayahku sambil meneteskan air mata.
"Ayah cepat sembuh ya!" ujarku.
Ibu bercerita kepadaku. Kata dokter
jalan terbaik untuk Ayah saat ini harus di operasi. Ibuku pun berusaha keras
untuk mencari biaya operasi Ayahku, termasuk meminjam uang dari Nenekku. Akan
tetapi pinjaman dari Nenek tidak akan cukup untuk biaya operasi Ayah. Tidak ada
pilihan lain lagi, Ibu pun menjual tanah kami. Seminggu kemudian, Ayah dan Ibu
pergi ke RS. Puji Tuhan, Ibu memberitahuku dan semua keluarga bahwa operasi
Ayah berjalan dengan lancar. Kami pun turut bersuka cita. Setelah di operasi,
Ayahku harus kemoterapi 1 kali dalam seminggu.
Kata dokter, Ayah dan Ibu sudah bisa
pulang ke rumah. Keesokan harinya semua keluarga, tetangga, teman ayahku para
guru sekolah minggu, dan Inang pendeta juga datang ke rumah untuk menjenguk
Ayahku. Setiap hari aku dan ibu selalu semangat untuk menjaga dan merawat
Ayahku supaya cepat sembuh. Dan aku selalu membuat jus buah untuk Ayahku (usul
dari Pak Dokter).
Kamis, 17 Mei 2018. Aku hendak
berangkat ke sekolah. Kusalam dan kucium tangan Ibu dan Ayahku. Akan tetapi
ketika aku pamit pada ayahku, diwaktu itu dia tidak mengeluarkan satu kata pun
dari mulutnya. Aku sangat bingung.
"Ayah kenapa ya," ucapku
dalam hati.
Pulang sekolah dan tiba dirumah, semua keluarga
Nenek, Kakek, Bapauda dan Inanguda sedang berada di rumahku. Aku bertanya pada
Ibu kenapa mereka ada di sini. Kata Ibu, ini permintaan Ayahku. Ayahku ingin
mereka semua ada di sini. Heran bukan? Ayah sebelumnya gak mau makan dan minum
obat sama sekali, tiba-tiba di hari itu Ayahku selera makan dan mau minum obat.
Ibupun menyuruhku membuat jus buah untuk Ayah. Ketika aku sedang berada di
dapur, Bapaudaku datang mengambil nasi
untuk Ayahku.
"Jika kita rutin memberi Ayah
obat dan memberinya makan yang banyak , 2 minggu lagi Ayah akan sembuh."
ucap Bapauda dengan senang hati.
"Iya Bapauda." (dengan
wajah yang ceria).
Aku sangat berterima kasih kepada
Tuhan dan sangat bahagia. Kami menyuapkan
makan, minum obat buat Ayahku. Dan aku yang terkahir memberi jus buah
pada Ayahku. Tiba-tiba Ayah langsung lemas tidak berdaya.
"Ayah kenapa?" ucapku
dengan rasa ketakutan.
Ibu langsung menggendong Ayahku
dipangkuaannya.
"Ini kenapa, Ayah kenapa. Ayah,
Ayah bangung!" (Sambil mengangis dan menggoyang-goyangkan badan Ayahku).
Kami semua teriak menangis. Yang
kutakutkan pun terjadi. Ayahku sudah sehat selamanya. Ternyata Ayahku sudah
tidak bernyawa lagi.
"Ayah, Ayah. Kenapa kau tinggalkan kami? Ayah gak
sayang lagi sama kami? Ayahhhhhhhhh......(menjerit menangis).
Ibuku benar-benar sangat sedih.
Karena pasangan hidupnya kini sudah tiada. Ibuku pingsan melihat keadaan Ayahku
yang sudah tidak bernyawa lagi. Ibuku memecahkan kaca lemari kami. Orang-orang
berusaha untuk membuat ibuku tenang. Dia sangat kehilangan. Bukan hanya dia,
aku, adikku dan kami semua memang
betul-betul sangat kehilangan. Aku semakin tak kuasa membendung air mata. Dalam
hidupku tidak pernah terbesit sedikit pun pemikiran bahwa Ayahku akan pergi
selamanya. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Aku, Ibuku dan
semua keluarga hanya bisa menangis pilu melihat kepergian Ayahku. Aku tidak
percaya kalau Ayahku benar-benar sudah tiada.
Semua orang memelukku dan berkata,
"Yang sabar ya Boru, kamu harus kuat. Kamu anak pertama. Lihat adek-adekmu
masih kecil, lihat mama itu. Kau harus bisa jadi Kaka yang baik, harus bisa
jadi panutan buat adek-adekmu. Kau harus bisa menghibur mama. Sekarang kau lah
kawan mama bertukar pikiran. Jangan lagi kau pikirkan Ayah itu, udah tenang dia
di alam barunya. Tetap sabar ya Boru, kau harus kuat. Ingat dibalik duka pasti
ada suka."
Ketika aku mengalami hal menyedihkan itu, aku selalu menyalahkan Tuhan.
Mengatakan bahwa Tuhan tidak adil, Tuhan itu tidak melihat keadaan keluargaku
yang rapuh, dan Tuhan tidak pernah mengerti akan hidup yang kualami.
Sekian dan
Terimakasih.
Penulis adalah Siswa dari SMA N 1
Purba
kelas XII IPA 2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar