Selasa, 18 Januari 2011

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG


Sumber:
Buku Kumpulan Cerpen “Para Penanti”
Judul Cerpen : Badai di Pinggir Jalan Bulan di Tepi Jurang
Penulis  : Rudi Hartono Saragih
Halaman : 83-87
Penerbit : Mentiko Publisher tahun 2008
ISBN : 978-602-95059-01

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG
Rudi Hartono Saragih

Malam  jatuh. Bulan membulat sempurna, sedang  lipatan-lipatan  awan  yang  semula  terperangkap  gelap  mulai  berbalut bias  purnama.  Kupandangi  perjalanan malam,  sejujurnya  bukan hanya jejak-jejak hening yang kudapati. Tetapi juga lamunan yang teramat panjang. Siluet-siluet penghidupan membentang dalam pikiranku. Betapa tidak, saat ini berpuluh pengalaman hidup sedang bergumul dalam otakku. Ya, sudah sejak kemarin bahkan kemarin lalu pengembaraan hidup dan kehidupan mengajakku menyusuri belantara  suka  dan  duka.  Aku  pernah  menyibak  kebahagiaan. Dulu, bahkan dulu sekali, aku sempat mencecap manisnya menjadi putra sulung. Saat ayahku masih mampu mencari nafkah, segala kebutuhanku  terpenuhi.  Sebelum  ayah  mengalami  kecelakaan mobil  yang  membuatnya  lumpuh,  sedang  ibu  jauh  lebih mengenaskan, aku hanya bisa melihat jasadnya berlumuran darah. Semenjak  itu,  aku  baru mengerti  bahwa menjadi  putra  sulung merupakan tanggung jawab yang teramat besar.
 Sejujurnya, jika harus berkata jujur, tak ada lagi yang dapat kubanggakan dalam keluargaku selain harga diri. Ya, harta benda kami  telah  terkuras  untuk  biaya  perobatan  ayah,  itupun  belum cukup. Pada akhirnya yang  tersisa hanyalah sepetak  rumah yang menampung empat kepala. Namun, walau tinggal sepetak rumah, aku tak akan menjualnya demi cita-citaku. Ya, aku memang masih sekolah, aku bermimpi menjadi sarjana. Bahkan aku juga bermimpi mengantarkan ke dua adikku meraih mimpinya. Sebab bagi tekadku miskin  bukanlah  halangan,  ketidakmauan  dan  ketidakberanian menakklukkan dunia itulah miskin yang sebenarnya.
Selama  ini,  untuk  menjaga  sejengkal  perut  kami  agar  tidak keroncongan, aku dan kedua adikku berkerja. Ya, sebenarnya aku tak tega melihat Lince dan Atma memeras keringat demi mengais rupiah, aku tak tega melihat keduanya beriringan mengumpulkan botol-botol  bekas,  tetapi  jika  mengandalkan  recehan  yang kudapatkan  dari mengamen, maka  sudah  pasti  tak  akan  cukup. Beruntung, untuk biaya  sekolah aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Sedang Lince memperoleh dana santunan dari pihak sekolah.
* * *
  Malam  semakin  jatuh.  Bulan membulat,  namun  terlihat pucat di mataku. Kulihat ayah  tidur dipeluk Atma. Ah,  si bungsu yang malang. Tak seharusnya kau cecap air mata kesedihan, tetapi inilah adanya. Di usia enam  tahun kau harus memikul  tanggung jawab keluarga. Pada cekung matanya, kulihat palung penghidupan mendalami bola matanya. Mata yang indah. Di mata adikku bukan hanya kudapati tatap mata kekanak-kanakan, tetapi juga tajamnya kedewasaan mendalami mata  air  airmata  kehidupan.  Kualihkan pandanganku pada sosok Lince, kali  ini aku  tersenyum, ada satu warisan ibu yang melekat dalam dirinya. Rambut ikalnya. Aku ingat betul, geraian rambut ibu serupa mayang. Hitam dan lembut. Ah, sedang apa ibu kini di surga?
  “Ibu,  sudahkah  ibu  tertidur malam  ini  di  surga? Apakah Tuhan mendongeng  cerita  untuk  ibu  sebelum  ibu  tidur  seperti yang ibu lakukan pada kami?”
  Perlahan air mataku membulir. Pecah dan melandai di pipi. Pada akhirnya aku coba beranjak dari jendela setelah menutupnya, kurebahkan  tubuhku  di  atas  tikar.  Sebab  ranjang  kami  hanya mampu menampung tiga orang saja. Minggu pagi merupakan hari yang kunantikan, sebab aku bisa  seharian mencurahkan pikiran memenuhi kantong plastikku dengan  recehan. Namun,  sebelum  aku berangkat  tiba-tiba  ayah memanggilku. Suaranya parau, wajahnya pucat.
  “Kau tahu mengapa ayah menamaimu Badai?”
  Aku menggeleng. 
“Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”  Aku hanya menunduk. Diam.
 “Apa kau mengerti apa yang ayah maksudkan?”  Aku semakin menunduk. Diam. 
 “Bicaralah.” 
“Ya Ayah. Badai mengerti, karena itulah Badai diam. Sebab untuk mewujudkan harapan ayah maka Badai harus berbuat, bukan hanya berkata.” 
“Ayah bangga padamu.” 
Entahlah,  aku  sendiri  belum  yakin  dengan  perkataanku, tetapi  demi  menumbuhkan  semangat  ayah  maka  aku  harus mengatakannya.
“Adikmu mana?” 
“Lagi ke warung yah”
 “Ngutang lagi?” 
Aku hanya mampu mengangguk.  
“Maafkan Ayah,  tak seharusnya kalian mengalami semua ini”
Aku  tak  mampu  membalas  ucapan  ayah,  yang  dapat kulakukan hanya menggenggam jemari ayah. Keharuan menyeruak dalam  dadaku.  Beruntung  tak  lama  berselang  Lince  dan  Atma datang. Pagi ini kami berhutang dua mug beras, dan dua ikat sayur bayam untuk sarapan.
* * *
Di persimpangan jalan aku berpisah dengan ke dua adikku. Mengais  nasib.  Di  lampu merah  kumainkan  alat musikku,  yang terbuat  dari  tutup-tutup  botol  bekas  yang  dipipihkan.  Dengan semangat kusenandungkan lagu kebangsaan anak jalanan.
  “Ngamen di pinggir jalan
  Konser lewat nyanyian 
  Sekedar untuk cari makan tuan 
  Dan sisanya buat bayar sekolahan
  Daripada maling ayam 
  Dipukuli, tiga bulan tahanan 
  Lebih baik aku mengamen tuan.”

            Dalam hati aku tersenyum, saat sorot mataku menangkap beberapa  lembar uang  ribuan masuk ke plastik yang kusodorkan. Saat  matahari  tepat  mengarah  ke  ubun-ubun,  kujumpai  adik-adikku di  tempat yang  telah kami  janjikan. Di perempatan  jalan, kulihat adikku melambaikan tangannya.
  “Bagaimana hasil kalian hari ini?” 
  “Lumayan bang, baru saja kami jual rongsokan yang kami dapat, dihargai tiga ribu enam ratus rupiah.”
  Aku tersenyum miris.  
  “Kalau abang?”
  Kuambil  kantong  plastikku,  kukeluarkan  recehan  yang kudapat. Lumayan, aku dapat empat ribu tujuh ratus rupiah. Segera saja kuserahkan uang itu pada adikku.
 “Nah,  pulanglah,  siapkan  makan  ayah.  Nanti  abang menyusul.”
* * *
            Kuiringi  langkah  adikku  dengan  ekor  mataku  yang menatapnya  tanpa  henti,  sampai menghilang  ditikungan  jalan. Kini,  aku  harus  melanjutkan  menggurat  nasibku.  Aku  harus mendapatkan tambahan uang. Sebab aku ingin membeli buku tulis baru. Ya, bukuku habis, aku  tak mungkin memintanya dari ayah. Maka aku harus mencari sendiri, mungkin sepenggal hari ini aku bisa mendapatkan uang untuk membelinya.
             Aku  lanjutkan  nada-nada  sumbangku  di  lampu  merah, sepertinya  Tuhan memberi  jalan  padaku.  Saat  kusenandungkan alunan  lagu didekat mobil sedan, tiba-tiba pintu terkuak. Mataku seakan  terlontar  saat  kulihat  selembar  uang    lima puluh  ribuan masuk  dalam  kantong  plastikku.  Ah,  Tuhan  telah menurunkan malaikat  bagiku.  Dengan  uang  ini  aku  bisa membeli  buku  dan mencicil hutang di warung.   Dengan penuh semangat aku menyelesaikan bait  laguku, sampai-sampai aku tak sadar lampu hijau telah menyala. Buru-buru aku melangkah ketepi jalan, namun tiba-tiba datang sepeda motor menghantam  tubuhku. 
Aku  terkapar,  kupeluk  erat-erat  kantong plastikku,  sebab  dikantong  plastikku  telah  tersimpan  mimpiku membeli  buku. Namun,  aku  tak  tahan  lagi  saat  semua menjadi gelap, yang kuingat bukan lagi buku, bukan pula hutang yang akan kucicil,  tetapi aku  ingat adikku, almarhumah  ibuku dan sepotong pesan ayah yang masih terngiang di telingaku.
  “Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”

Serambi KOMPAK, 05 Juni 2009

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...