Sumber:

Buku Kumpulan Cerpen “Para Penanti”
Judul Cerpen : Badai di Pinggir Jalan Bulan di Tepi Jurang
Penulis : Rudi Hartono Saragih
Halaman : 83-87
Penerbit : Mentiko Publisher tahun 2008
ISBN : 978-602-95059-01
BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG
Rudi Hartono Saragih
Malam jatuh. Bulan membulat sempurna, sedang lipatan-lipatan awan yang semula terperangkap gelap mulai berbalut bias purnama. Kupandangi perjalanan malam, sejujurnya bukan hanya jejak-jejak hening yang kudapati. Tetapi juga lamunan yang teramat panjang. Siluet-siluet penghidupan membentang dalam pikiranku. Betapa tidak, saat ini berpuluh pengalaman hidup sedang bergumul dalam otakku. Ya, sudah sejak kemarin bahkan kemarin lalu pengembaraan hidup dan kehidupan mengajakku menyusuri belantara suka dan duka. Aku pernah menyibak kebahagiaan. Dulu, bahkan dulu sekali, aku sempat mencecap manisnya menjadi putra sulung. Saat ayahku masih mampu mencari nafkah, segala kebutuhanku terpenuhi. Sebelum ayah mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya lumpuh, sedang ibu jauh lebih mengenaskan, aku hanya bisa melihat jasadnya berlumuran darah. Semenjak itu, aku baru mengerti bahwa menjadi putra sulung merupakan tanggung jawab yang teramat besar.
Sejujurnya, jika harus berkata jujur, tak ada lagi yang dapat kubanggakan dalam keluargaku selain harga diri. Ya, harta benda kami telah terkuras untuk biaya perobatan ayah, itupun belum cukup. Pada akhirnya yang tersisa hanyalah sepetak rumah yang menampung empat kepala. Namun, walau tinggal sepetak rumah, aku tak akan menjualnya demi cita-citaku. Ya, aku memang masih sekolah, aku bermimpi menjadi sarjana. Bahkan aku juga bermimpi mengantarkan ke dua adikku meraih mimpinya. Sebab bagi tekadku miskin bukanlah halangan, ketidakmauan dan ketidakberanian menakklukkan dunia itulah miskin yang sebenarnya.
Selama ini, untuk menjaga sejengkal perut kami agar tidak keroncongan, aku dan kedua adikku berkerja. Ya, sebenarnya aku tak tega melihat Lince dan Atma memeras keringat demi mengais rupiah, aku tak tega melihat keduanya beriringan mengumpulkan botol-botol bekas, tetapi jika mengandalkan recehan yang kudapatkan dari mengamen, maka sudah pasti tak akan cukup. Beruntung, untuk biaya sekolah aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Sedang Lince memperoleh dana santunan dari pihak sekolah.
* * *
Malam semakin jatuh. Bulan membulat, namun terlihat pucat di mataku. Kulihat ayah tidur dipeluk Atma. Ah, si bungsu yang malang. Tak seharusnya kau cecap air mata kesedihan, tetapi inilah adanya. Di usia enam tahun kau harus memikul tanggung jawab keluarga. Pada cekung matanya, kulihat palung penghidupan mendalami bola matanya. Mata yang indah. Di mata adikku bukan hanya kudapati tatap mata kekanak-kanakan, tetapi juga tajamnya kedewasaan mendalami mata air airmata kehidupan. Kualihkan pandanganku pada sosok Lince, kali ini aku tersenyum, ada satu warisan ibu yang melekat dalam dirinya. Rambut ikalnya. Aku ingat betul, geraian rambut ibu serupa mayang. Hitam dan lembut. Ah, sedang apa ibu kini di surga?
“Ibu, sudahkah ibu tertidur malam ini di surga? Apakah Tuhan mendongeng cerita untuk ibu sebelum ibu tidur seperti yang ibu lakukan pada kami?”
Perlahan air mataku membulir. Pecah dan melandai di pipi. Pada akhirnya aku coba beranjak dari jendela setelah menutupnya, kurebahkan tubuhku di atas tikar. Sebab ranjang kami hanya mampu menampung tiga orang saja. Minggu pagi merupakan hari yang kunantikan, sebab aku bisa seharian mencurahkan pikiran memenuhi kantong plastikku dengan recehan. Namun, sebelum aku berangkat tiba-tiba ayah memanggilku. Suaranya parau, wajahnya pucat.
“Kau tahu mengapa ayah menamaimu Badai?”
Aku menggeleng.
“Ayah ingin kau mampu memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.” Aku hanya menunduk. Diam.
“Apa kau mengerti apa yang ayah maksudkan?” Aku semakin menunduk. Diam.
“Bicaralah.”
“Ya Ayah. Badai mengerti, karena itulah Badai diam. Sebab untuk mewujudkan harapan ayah maka Badai harus berbuat, bukan hanya berkata.”
“Ayah bangga padamu.”
Entahlah, aku sendiri belum yakin dengan perkataanku, tetapi demi menumbuhkan semangat ayah maka aku harus mengatakannya.
“Adikmu mana?”
“Lagi ke warung yah”
“Ngutang lagi?”
Aku hanya mampu mengangguk.
“Maafkan Ayah, tak seharusnya kalian mengalami semua ini”
Aku tak mampu membalas ucapan ayah, yang dapat kulakukan hanya menggenggam jemari ayah. Keharuan menyeruak dalam dadaku. Beruntung tak lama berselang Lince dan Atma datang. Pagi ini kami berhutang dua mug beras, dan dua ikat sayur bayam untuk sarapan.
* * *
Di persimpangan jalan aku berpisah dengan ke dua adikku. Mengais nasib. Di lampu merah kumainkan alat musikku, yang terbuat dari tutup-tutup botol bekas yang dipipihkan. Dengan semangat kusenandungkan lagu kebangsaan anak jalanan.
“Ngamen di pinggir jalan
Konser lewat nyanyian
Sekedar untuk cari makan tuan
Dan sisanya buat bayar sekolahan
Daripada maling ayam
Dipukuli, tiga bulan tahanan
Lebih baik aku mengamen tuan.”
Dalam hati aku tersenyum, saat sorot mataku menangkap beberapa lembar uang ribuan masuk ke plastik yang kusodorkan. Saat matahari tepat mengarah ke ubun-ubun, kujumpai adik-adikku di tempat yang telah kami janjikan. Di perempatan jalan, kulihat adikku melambaikan tangannya.
“Bagaimana hasil kalian hari ini?”
“Lumayan bang, baru saja kami jual rongsokan yang kami dapat, dihargai tiga ribu enam ratus rupiah.”
Aku tersenyum miris.
“Kalau abang?”
Kuambil kantong plastikku, kukeluarkan recehan yang kudapat. Lumayan, aku dapat empat ribu tujuh ratus rupiah. Segera saja kuserahkan uang itu pada adikku.
“Nah, pulanglah, siapkan makan ayah. Nanti abang menyusul.”
* * *
Kuiringi langkah adikku dengan ekor mataku yang menatapnya tanpa henti, sampai menghilang ditikungan jalan. Kini, aku harus melanjutkan menggurat nasibku. Aku harus mendapatkan tambahan uang. Sebab aku ingin membeli buku tulis baru. Ya, bukuku habis, aku tak mungkin memintanya dari ayah. Maka aku harus mencari sendiri, mungkin sepenggal hari ini aku bisa mendapatkan uang untuk membelinya.
Aku lanjutkan nada-nada sumbangku di lampu merah, sepertinya Tuhan memberi jalan padaku. Saat kusenandungkan alunan lagu didekat mobil sedan, tiba-tiba pintu terkuak. Mataku seakan terlontar saat kulihat selembar uang lima puluh ribuan masuk dalam kantong plastikku. Ah, Tuhan telah menurunkan malaikat bagiku. Dengan uang ini aku bisa membeli buku dan mencicil hutang di warung. Dengan penuh semangat aku menyelesaikan bait laguku, sampai-sampai aku tak sadar lampu hijau telah menyala. Buru-buru aku melangkah ketepi jalan, namun tiba-tiba datang sepeda motor menghantam tubuhku.
Aku terkapar, kupeluk erat-erat kantong plastikku, sebab dikantong plastikku telah tersimpan mimpiku membeli buku. Namun, aku tak tahan lagi saat semua menjadi gelap, yang kuingat bukan lagi buku, bukan pula hutang yang akan kucicil, tetapi aku ingat adikku, almarhumah ibuku dan sepotong pesan ayah yang masih terngiang di telingaku.
“Ayah ingin kau mampu memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”
Serambi KOMPAK, 05 Juni 2009