Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2022

𝗠𝗲𝘀𝗶𝗻 𝗪𝗮𝗸𝘁𝘂



ᴏʟᴇʜ: ᴀʀᴅᴏ ꜱᴀᴘᴜᴛʀᴀ ꜱɪʟᴀʟᴀʜɪ

 

"Apakah aku bisa kembali ke masa Lalu?"

 "Jika iya apa yg akan terjadi? apakah hidupku akan berubah?" ucapku dalam hati. 

"Memangnya Ini Doraemon?, yang punya mesin waktu di meja belajar  Nobita apa?" gumamku.

         Termenung dan saat itu memori masa lalu terputar kembali di kepalaku

"Kringggg... saatnya istirahat pertama diimulai," begitulah suara bel  SMPku dulu.

"Do kantin gas?" tanya Andre temanku."

"Ayok haus pula aku  pengen beli es pino," sahutku.

"Aku ikut la ..bareng kita tapi, ke toilet dulu yok," ujar Thomas

"Ayoklah akupun mending ke toilet dulu sebelum makan es, nanti sakit perut pulak, repot lagi."

Kami pun pergi ke toilet yang tidak jauh dari kelas kami 9C (Sembilan C).

Selasa, 23 November 2021

KONCO

 Oleh: Binsar Purba 



  Hari mulai gelap. Mentari pun mulai tenggelam disebelah barat. Akupun mulai bergegas meninggalkan pantai.

  "Apakah kita akan pulang?"

 Tanya seorang temanku yg datang menghampiriku seolah olah belum puas menunjukkan kebolehannya. Sebut saja namanya namanya Makesa. Makesa adalah satu dari sekian temanku yang hobbynya suka berenang. Setiap kali pergi berenang senangnya bukan main. Tak heran jika dia bertanya begitu.

  "Apa lagi yang akan kita lakukan, hari sudah mulai gelap sedangkan kampung kita masih jauh." balasku seakan akan tidak tau perasaan Makesa.

Rabu, 03 November 2021

JEMIMA



 Oleh Lia Kristiani Manihuruk

 

            Jemima Athena Belladona, seorang wanita yang biasa-biasa saja menurut dirinya sendiri tetapi tidak menurut mata orang yang melihatnya. Nama Jemima sebenarnya memiliki arti merpati kecil sedangkan Athena diambil dari nama Dewi Athena, dan Belladona yang sebenarnya merupakan sebuah jenis bunga beracun yang dapat merusak saraf. Jemi begitu orang biasanya memanggilnya, dia anak yang memiliki mata cokelat yang indah, tinggi, kulit putih bersih, dan postur tubuh yang bagus. Dia benar-benar anak yang  introvert. Pendiam dan juga cerdas. Sangkin introvert nya dia tidak memiliki satu teman dekat pun selama hampir dua tahun dia SMA, dia tinggal di sebuah kota kecil.

            Kehidupan remaja Jemi sebenarnya baik-baik saja hingga akan ada satu hari dimana semuanya akan berubah. Pagi itu Jemima berangkat ke sekolah seperti biasanya, sangat pagi. Kenapa dia berangkat sangat pagi? Ya, jelas aja untuk menghindari siswa-siswa lain saat dia berjalan menuju kelasnya. Suasana kelas benar-benar tenang hingga teman-teman lain berdatangan dan mengobrol satu sama lain. Dan duarrrr........... sebuah tangan menggeplak meja guru dengan keras. Dia adalah Joy anak perempuan terheboh dikelas.

Selasa, 02 November 2021

DUNIA PERPISAHAN

 


                                                      Karya:Rotua Yesefine Beatrix Damanik

 

Kehidupan 4 bersaudara Deri, Doni, Vita, dan Mora.

Keluarga ini yang dulunya keluarga harmonis dimana orang tua dari 4 bersaudara ini saling menyayangi sesama mereka.

Suatu ketika kedua orang tua mereka meninggal  dengan secara mengenaskan. semenjak kepergian orang tuanya keharmonisan keluarga mereka mulai dilanda keretakan.

Dimana Mora mulai tidak menyukai adiknya Doni.

‘’Hey Doni…. Kamu kira Karena kamu anak paling bungsu sehingga semua yang ada disini menjadi hak milik kamu!!’’

Mencintai Dalam Diam





Karya : Setianna Sinaga


       Disuatu pagi yang sejuk, aku berjalan menyusuri Jalan raya di sambut dengan angin pagi yang sangat sejuk.

     Sedikit tentangku, aku duduk di bangku SMA kelas 12. Namaku Ana, Banyak yang mengatakan kisah di bangku SMA itu menyenangkan dan itu memang kuakui benar, tapi aku punya kisah yang sedikit memalukan diriku di dalam SMA ku.

     Suatu pagi, bel berbunyi tanda pembelajaran akan segera dimulai. Kelas yang berpenghuni 27 orang ini sudah sangat antusias menerima pelajaran yang akan di sampaikan guru PKN kami.

  Dalam  pembelajaran yang satu ini aku sangat bersemangat karna aku sangat menyukai Pkn saat mulai dari kelas 10.

1 DEKADE

 



Karya: DIO PRATAMA*

 

Satu dekade sudah berlalu, kenangan itu masih saja melekat dan terpikirkan dalam ingatanku. Mulai dari bermain dan bercerita, dari bersuka dan berduka. Ada satu hal yang masih kuingat kejadian dan peristiwa yang membuat aku bersedih. Yaitu dimana persahabatan kita berdua harus terpisah. Sebelum aku menceritakan peristiwa yang aku alami Perkenalkan aku: Lisa Syela Budikusuma, aku lahir di Bandung pada 01 Maret 2000. Aku memiliki 2 Orang adik dan 1 Orang kakak laki-laki. Mereka sangat sayang kepadaku. Balik kecerita awal, peristiwa yang ku alami adalah 1 orang sahabat ku yang sangat aku sayangi pergi meninggalkanku, karena orang tuanya harus bekerja diluar kota. Pada saat kami terakhir kali bersama dia berkata:

 

"Ini hanya sementara saja,Lisa." katanya padaku meyakinkanku.

"Apakah kau yakin,kita bisa bertemu lagi?" ucapku membendung air mata.

Jumat, 29 Oktober 2021

SAHABAT


Karya : Devira Sinaga

         


                       

 


Kringgg............. 

Bunyi alarm membangunkanku dari tidur, aku Memandang ke arah jendela sepertinya matahari mulai menunjukkan dirinya pertanda Pagi sudah kembali, aku Turun dari tempat tidur lalu membereskan Kasurku dan bergegas mandi, setelah mandi aku berjalan menuju dapur menghampiri ibuku yang sedang memasak untuk sarapan kami.

 "Pagi bu." aku menyapa ibuku sambil mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis.

 "Pagi juga," ibuku melirik ke arah ku dan lanjut memasak sarapan untuk kami, setelah selesai memasak kami pun serapan bersama, saatsedang makan aku teringat dengan rencana bersama temanku yang akan pergi jalan jalan ke sebuah pantai.

Rabu, 13 April 2011

AKU



Maafku kepada daun semilir tunas yang telah tumbuh.
 Bukan  tidak mungkin yang neuron menderu bersebab hati gundah menapaki jiwa yang goyah.
Terimalah sehelai gumam yang menelurkan bahwa aku sedih melihat ini.
Lantas dalam perjalanan kemarin, kuakui ada ketedeledoranku memutar gerigi perputaran waktu.
Jika aku ingin melepas dahaga, beri aku waktu.
Akan ku sulam hari kemarin untuk menebus air mata yang kau endapkan di ujung diskusi hari itu.
 Ah, tidak juga aku mungkin menepuk dada sambil tersipu melihat butir peluhmu.
Semoga.
Berikan aku ijinmu wahai Maha Pencipta.

Selasa, 18 Januari 2011

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG


Sumber:
Buku Kumpulan Cerpen “Para Penanti”
Judul Cerpen : Badai di Pinggir Jalan Bulan di Tepi Jurang
Penulis  : Rudi Hartono Saragih
Halaman : 83-87
Penerbit : Mentiko Publisher tahun 2008
ISBN : 978-602-95059-01

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG
Rudi Hartono Saragih

Malam  jatuh. Bulan membulat sempurna, sedang  lipatan-lipatan  awan  yang  semula  terperangkap  gelap  mulai  berbalut bias  purnama.  Kupandangi  perjalanan malam,  sejujurnya  bukan hanya jejak-jejak hening yang kudapati. Tetapi juga lamunan yang teramat panjang. Siluet-siluet penghidupan membentang dalam pikiranku. Betapa tidak, saat ini berpuluh pengalaman hidup sedang bergumul dalam otakku. Ya, sudah sejak kemarin bahkan kemarin lalu pengembaraan hidup dan kehidupan mengajakku menyusuri belantara  suka  dan  duka.  Aku  pernah  menyibak  kebahagiaan. Dulu, bahkan dulu sekali, aku sempat mencecap manisnya menjadi putra sulung. Saat ayahku masih mampu mencari nafkah, segala kebutuhanku  terpenuhi.  Sebelum  ayah  mengalami  kecelakaan mobil  yang  membuatnya  lumpuh,  sedang  ibu  jauh  lebih mengenaskan, aku hanya bisa melihat jasadnya berlumuran darah. Semenjak  itu,  aku  baru mengerti  bahwa menjadi  putra  sulung merupakan tanggung jawab yang teramat besar.
 Sejujurnya, jika harus berkata jujur, tak ada lagi yang dapat kubanggakan dalam keluargaku selain harga diri. Ya, harta benda kami  telah  terkuras  untuk  biaya  perobatan  ayah,  itupun  belum cukup. Pada akhirnya yang  tersisa hanyalah sepetak  rumah yang menampung empat kepala. Namun, walau tinggal sepetak rumah, aku tak akan menjualnya demi cita-citaku. Ya, aku memang masih sekolah, aku bermimpi menjadi sarjana. Bahkan aku juga bermimpi mengantarkan ke dua adikku meraih mimpinya. Sebab bagi tekadku miskin  bukanlah  halangan,  ketidakmauan  dan  ketidakberanian menakklukkan dunia itulah miskin yang sebenarnya.
Selama  ini,  untuk  menjaga  sejengkal  perut  kami  agar  tidak keroncongan, aku dan kedua adikku berkerja. Ya, sebenarnya aku tak tega melihat Lince dan Atma memeras keringat demi mengais rupiah, aku tak tega melihat keduanya beriringan mengumpulkan botol-botol  bekas,  tetapi  jika  mengandalkan  recehan  yang kudapatkan  dari mengamen, maka  sudah  pasti  tak  akan  cukup. Beruntung, untuk biaya  sekolah aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Sedang Lince memperoleh dana santunan dari pihak sekolah.
* * *
  Malam  semakin  jatuh.  Bulan membulat,  namun  terlihat pucat di mataku. Kulihat ayah  tidur dipeluk Atma. Ah,  si bungsu yang malang. Tak seharusnya kau cecap air mata kesedihan, tetapi inilah adanya. Di usia enam  tahun kau harus memikul  tanggung jawab keluarga. Pada cekung matanya, kulihat palung penghidupan mendalami bola matanya. Mata yang indah. Di mata adikku bukan hanya kudapati tatap mata kekanak-kanakan, tetapi juga tajamnya kedewasaan mendalami mata  air  airmata  kehidupan.  Kualihkan pandanganku pada sosok Lince, kali  ini aku  tersenyum, ada satu warisan ibu yang melekat dalam dirinya. Rambut ikalnya. Aku ingat betul, geraian rambut ibu serupa mayang. Hitam dan lembut. Ah, sedang apa ibu kini di surga?
  “Ibu,  sudahkah  ibu  tertidur malam  ini  di  surga? Apakah Tuhan mendongeng  cerita  untuk  ibu  sebelum  ibu  tidur  seperti yang ibu lakukan pada kami?”
  Perlahan air mataku membulir. Pecah dan melandai di pipi. Pada akhirnya aku coba beranjak dari jendela setelah menutupnya, kurebahkan  tubuhku  di  atas  tikar.  Sebab  ranjang  kami  hanya mampu menampung tiga orang saja. Minggu pagi merupakan hari yang kunantikan, sebab aku bisa  seharian mencurahkan pikiran memenuhi kantong plastikku dengan  recehan. Namun,  sebelum  aku berangkat  tiba-tiba  ayah memanggilku. Suaranya parau, wajahnya pucat.
  “Kau tahu mengapa ayah menamaimu Badai?”
  Aku menggeleng. 
“Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”  Aku hanya menunduk. Diam.
 “Apa kau mengerti apa yang ayah maksudkan?”  Aku semakin menunduk. Diam. 
 “Bicaralah.” 
“Ya Ayah. Badai mengerti, karena itulah Badai diam. Sebab untuk mewujudkan harapan ayah maka Badai harus berbuat, bukan hanya berkata.” 
“Ayah bangga padamu.” 
Entahlah,  aku  sendiri  belum  yakin  dengan  perkataanku, tetapi  demi  menumbuhkan  semangat  ayah  maka  aku  harus mengatakannya.
“Adikmu mana?” 
“Lagi ke warung yah”
 “Ngutang lagi?” 
Aku hanya mampu mengangguk.  
“Maafkan Ayah,  tak seharusnya kalian mengalami semua ini”
Aku  tak  mampu  membalas  ucapan  ayah,  yang  dapat kulakukan hanya menggenggam jemari ayah. Keharuan menyeruak dalam  dadaku.  Beruntung  tak  lama  berselang  Lince  dan  Atma datang. Pagi ini kami berhutang dua mug beras, dan dua ikat sayur bayam untuk sarapan.
* * *
Di persimpangan jalan aku berpisah dengan ke dua adikku. Mengais  nasib.  Di  lampu merah  kumainkan  alat musikku,  yang terbuat  dari  tutup-tutup  botol  bekas  yang  dipipihkan.  Dengan semangat kusenandungkan lagu kebangsaan anak jalanan.
  “Ngamen di pinggir jalan
  Konser lewat nyanyian 
  Sekedar untuk cari makan tuan 
  Dan sisanya buat bayar sekolahan
  Daripada maling ayam 
  Dipukuli, tiga bulan tahanan 
  Lebih baik aku mengamen tuan.”

            Dalam hati aku tersenyum, saat sorot mataku menangkap beberapa  lembar uang  ribuan masuk ke plastik yang kusodorkan. Saat  matahari  tepat  mengarah  ke  ubun-ubun,  kujumpai  adik-adikku di  tempat yang  telah kami  janjikan. Di perempatan  jalan, kulihat adikku melambaikan tangannya.
  “Bagaimana hasil kalian hari ini?” 
  “Lumayan bang, baru saja kami jual rongsokan yang kami dapat, dihargai tiga ribu enam ratus rupiah.”
  Aku tersenyum miris.  
  “Kalau abang?”
  Kuambil  kantong  plastikku,  kukeluarkan  recehan  yang kudapat. Lumayan, aku dapat empat ribu tujuh ratus rupiah. Segera saja kuserahkan uang itu pada adikku.
 “Nah,  pulanglah,  siapkan  makan  ayah.  Nanti  abang menyusul.”
* * *
            Kuiringi  langkah  adikku  dengan  ekor  mataku  yang menatapnya  tanpa  henti,  sampai menghilang  ditikungan  jalan. Kini,  aku  harus  melanjutkan  menggurat  nasibku.  Aku  harus mendapatkan tambahan uang. Sebab aku ingin membeli buku tulis baru. Ya, bukuku habis, aku  tak mungkin memintanya dari ayah. Maka aku harus mencari sendiri, mungkin sepenggal hari ini aku bisa mendapatkan uang untuk membelinya.
             Aku  lanjutkan  nada-nada  sumbangku  di  lampu  merah, sepertinya  Tuhan memberi  jalan  padaku.  Saat  kusenandungkan alunan  lagu didekat mobil sedan, tiba-tiba pintu terkuak. Mataku seakan  terlontar  saat  kulihat  selembar  uang    lima puluh  ribuan masuk  dalam  kantong  plastikku.  Ah,  Tuhan  telah menurunkan malaikat  bagiku.  Dengan  uang  ini  aku  bisa membeli  buku  dan mencicil hutang di warung.   Dengan penuh semangat aku menyelesaikan bait  laguku, sampai-sampai aku tak sadar lampu hijau telah menyala. Buru-buru aku melangkah ketepi jalan, namun tiba-tiba datang sepeda motor menghantam  tubuhku. 
Aku  terkapar,  kupeluk  erat-erat  kantong plastikku,  sebab  dikantong  plastikku  telah  tersimpan  mimpiku membeli  buku. Namun,  aku  tak  tahan  lagi  saat  semua menjadi gelap, yang kuingat bukan lagi buku, bukan pula hutang yang akan kucicil,  tetapi aku  ingat adikku, almarhumah  ibuku dan sepotong pesan ayah yang masih terngiang di telingaku.
  “Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”

Serambi KOMPAK, 05 Juni 2009

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...