Rabu, 17 November 2010

TEMPATKAN KEKELUARGAAN PADA TEMPAT YANG TEPAT

Oleh Rudi Saragih*

Jika sampah dibuang pada tempatnya, mengapa nepotisme tidak diperlakukan serupa? Pilih bulu itu boleh, tapi harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Memang salah, jika menyamakan antara hak-hak publik dan hak-hak pribadi. Tidak bisa dipungkiri, budaya dan nilai rasa kekeluargaan masyarakat Indonesia yang sangat tinggi. Itu identitas bangsa, itu kekayaan budaya bangsa.
Rasa kekeluargaan yang negatif tinggi inilah yang memicu tingginya nepotisme. Tentunya setiap orang menginginkan keluarga dan orang-orang terdekatnya sukses. Siapa sih yang gak mau balas budi? Siapa coba yang enggan menolong orang-orang terdekatnya? Itu baik. Itu khasanah budaya. Namun, tentunya ada hal sisi yang buruk di samping sisi yang baik.
Ada tempat kekeluargaan yang tepat. Tentunya tidak salah jika kita menempatkan anak kita menjadi manejer, memilih seseorang dengan pertimbangan pribadi untuk menempati suatu posisi di perusahaan pribadi.
Yang menjadi masalah besar adalah menganggap perusahaan publik menjadi seperti milik pribadi. Mungkin biar ‘dianggap jago’, sehingga sesuka hati mengambil tindakan. Padahal, ada instrumen penilaian terhadap sesuatu objek yang telah ditetapkan dalam perusahaan/instansi pemerintah (publik). Pemegang jabatan cukup melaksanakan.
Nah dalam hal ini, perlu adanya profesionalitas menempatkan kekeluargaan. Harus berani berlawanan dengan hati nurani ‘kekeluargaan sisi negatif’, jika ingin  menjadi pelayan publik. Hilangkan penyakit mengakar di negeri ini!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...