Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2021

Motivasi: Menjadi Tampil Terampil

Oleh Rudi Saragih

Walau anda gagal, suatu saat nanti anda lebih senang mengingatnya. Penyesalan baru yang lebih besar akan timbul karena tidak melakukan sesuatu di masa lalu.

 

Kadang kala tidak terpikir apabila waktunya belum lewat. Tetapi jika pada tahapan mengingat, seseorang akan lebih senang (lebih berkesan) mengingat kegagalan daripada mengingat bahwa dirinya tidak pernah mencoba. Itu adalah kondisi paling parah, gagal. Bagaimana jika berhasil? Artinya seseorang akan menyesalkan hal-hal yang tidak pernah dilakukan dari pada hal yang telah dilakukan pada masa lalu.

Rabu, 17 November 2010

TEMPATKAN KEKELUARGAAN PADA TEMPAT YANG TEPAT

Oleh Rudi Saragih*

Jika sampah dibuang pada tempatnya, mengapa nepotisme tidak diperlakukan serupa? Pilih bulu itu boleh, tapi harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Memang salah, jika menyamakan antara hak-hak publik dan hak-hak pribadi. Tidak bisa dipungkiri, budaya dan nilai rasa kekeluargaan masyarakat Indonesia yang sangat tinggi. Itu identitas bangsa, itu kekayaan budaya bangsa.
Rasa kekeluargaan yang negatif tinggi inilah yang memicu tingginya nepotisme. Tentunya setiap orang menginginkan keluarga dan orang-orang terdekatnya sukses. Siapa sih yang gak mau balas budi? Siapa coba yang enggan menolong orang-orang terdekatnya? Itu baik. Itu khasanah budaya. Namun, tentunya ada hal sisi yang buruk di samping sisi yang baik.
Ada tempat kekeluargaan yang tepat. Tentunya tidak salah jika kita menempatkan anak kita menjadi manejer, memilih seseorang dengan pertimbangan pribadi untuk menempati suatu posisi di perusahaan pribadi.
Yang menjadi masalah besar adalah menganggap perusahaan publik menjadi seperti milik pribadi. Mungkin biar ‘dianggap jago’, sehingga sesuka hati mengambil tindakan. Padahal, ada instrumen penilaian terhadap sesuatu objek yang telah ditetapkan dalam perusahaan/instansi pemerintah (publik). Pemegang jabatan cukup melaksanakan.
Nah dalam hal ini, perlu adanya profesionalitas menempatkan kekeluargaan. Harus berani berlawanan dengan hati nurani ‘kekeluargaan sisi negatif’, jika ingin  menjadi pelayan publik. Hilangkan penyakit mengakar di negeri ini!


Kamis, 21 Oktober 2010

Mulai Cegah Korupsi Dari Hal Kecil!


Kegagalan pembangunan dan personalisasi hak-hak orang banyak mengantarkan Indonesia ke peringkat ketiga tertinggi angka korupsi di dunia. Sebuah hal yang  memprihatinkan, negara yang beragama dan terkenal dengan keramahannya mencoreng mukanya sendiri dengan korupsi.  Kejahatan korupsi mengakar di masyarakat Indonesia. Kejahatan ini memiliki sistem yang abstrak. Pemotongan dana dari atasan hingga bawahan, sehingga alokasi pelaksanaan program dalam pembangunan tinggal sisa-sisa pembagian para pejabat yang tidak bertanggung jawab. Hidup dalam Negara seperti permainan yang tidak memiliki sistem yang ketat. Kekuatan hukum dibolak-balik semena-mena oleh penegak hukum.

Rabu, 11 Agustus 2010

Universitas yang Sesungguhnya

Rudi Hartono Saragih

“Nanti lama tamatnya.” Kata-kata itu yang selalu terucap dari mahasiswa yang tidak ingin mengecap organisasi di kampus. Cara pandang ini mengkambinghitamkan organisasi sebagai penyebab lamanya menyelesaikan studi. Tidakkah terpikir bahwa semua itu sangat erat kaitannya dengan manajemen pribadi dalam menjalankan tugas akademisi?
Momok ini memang terbentuk ketika mengetahui lama tamatnya para organisator yang sering disebut aktivis. Namun perlu dikaji ulang latar belakang penyebab masalah tersebut. Tidak hanya itu, ketakutan dipersulit dosen juga tidak terenyahkan oleh orang yang disebut agen perubahan ini.

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...