Rabu, 09 November 2011

SEORANG PETANI MENATAP KAMPUS KEBENARAN


Karya Antilan Purba

Dari desa aku melihat samar keanggunan, kekukuhan rumahmu
Katanya, kami dan turunan kami dapat tinggal bersamamu
Aku tak tahu
Aku tak punya cerita dari leluhur
Tak pernah merasakannya

Berangan aku  di istana kebenaran engkau berada anakku
Dalam doa pagi, siang, malamku harapku padaNya,
Engkau sampai nanti
Menggali kesusahan kita
Menerangi kegelapan
Membangun rumah masa depan kita

Berharap aku di kampung kita
Engkau mulai langkah-langkah tegar menuju ke sana
Dalam setiap ayunan cangkulku selalu bersama cita-citamu
Dengan pinta polos
Ayah, ayah aku ingin hidup setia kepadaNya

Mendengar itu anakku
Kurangkai tahajudku menyertai penyerahan hidupmu padaNya
dengan penuh harap
Tanpa kejemuan
Tanpa kukenal lelah
Cucuran cinta membawamu ke sana
Anakku, anakku
Andai angan harap dan pendengaranku tak dapat menyertaimu
Aku serahkan padaNya
Semoga ada yang melihat dan membawamu dari lumpur
Ke tingkat istana kebenaran itu

Anakku, sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan milik kita
Tak mungkin menjualnya demi cita-citamu
Tenaga dan doa yang kuat dapat kuberikan padamu
Jika ada tangan-tangan suci meraih dan merangkulmu, ikutlah
Bersamalah engkau tetap pada cita-cita kecilmu dulu

Dalam yakinku, masih ada terang membawa berkah padmu anakku
Jika dia mau mengetuk pintu moral dan tanggungjawab meraka
Agar melanjutkan usia, cita dan hidup mereka
Pemangku kebenaran, yang bernilai tujuh kebenaran kepadaNya
Menitipkan padamu kehidupan ini
Anak kebenaran, ambil tongkat itu dengan tetap berada di jalannya

Aku hanya seorang petani
Irama menjalani hidup bersama alam
Hanya mampu menatap
Tak pernah hidup dalam kampusmu
Yang abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...