Karya Antilan Purba
Dari
desa aku melihat samar keanggunan, kekukuhan rumahmu
Katanya,
kami dan turunan kami dapat tinggal bersamamu
Aku
tak tahu
Aku
tak punya cerita dari leluhur
Tak
pernah merasakannya
Berangan
aku di istana kebenaran engkau berada
anakku
Dalam
doa pagi, siang, malamku harapku padaNya,
Engkau
sampai nanti
Menggali
kesusahan kita
Menerangi
kegelapan
Membangun
rumah masa depan kita
Berharap
aku di kampung kita
Engkau
mulai langkah-langkah tegar menuju ke sana
Dalam
setiap ayunan cangkulku selalu bersama cita-citamu
Dengan
pinta polos
Ayah,
ayah aku ingin hidup setia kepadaNya
Mendengar
itu anakku
Kurangkai
tahajudku menyertai penyerahan hidupmu padaNya
dengan
penuh harap
Tanpa
kejemuan
Tanpa
kukenal lelah
Cucuran
cinta membawamu ke sana
Anakku,
anakku
Andai
angan harap dan pendengaranku tak dapat menyertaimu
Aku
serahkan padaNya
Semoga
ada yang melihat dan membawamu dari lumpur
Ke
tingkat istana kebenaran itu
Anakku,
sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan milik kita
Tak
mungkin menjualnya demi cita-citamu
Tenaga
dan doa yang kuat dapat kuberikan padamu
Jika
ada tangan-tangan suci meraih dan merangkulmu, ikutlah
Bersamalah
engkau tetap pada cita-cita kecilmu dulu
Dalam
yakinku, masih ada terang membawa berkah padmu anakku
Jika
dia mau mengetuk pintu moral dan tanggungjawab meraka
Agar
melanjutkan usia, cita dan hidup mereka
Pemangku
kebenaran, yang bernilai tujuh kebenaran kepadaNya
Menitipkan
padamu kehidupan ini
Anak
kebenaran, ambil tongkat itu dengan tetap berada di jalannya
Aku
hanya seorang petani
Irama
menjalani hidup bersama alam
Hanya
mampu menatap
Tak
pernah hidup dalam kampusmu
Yang
abadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar