Rabu, 13 April 2011

AKU



Maafku kepada daun semilir tunas yang telah tumbuh.
 Bukan  tidak mungkin yang neuron menderu bersebab hati gundah menapaki jiwa yang goyah.
Terimalah sehelai gumam yang menelurkan bahwa aku sedih melihat ini.
Lantas dalam perjalanan kemarin, kuakui ada ketedeledoranku memutar gerigi perputaran waktu.
Jika aku ingin melepas dahaga, beri aku waktu.
Akan ku sulam hari kemarin untuk menebus air mata yang kau endapkan di ujung diskusi hari itu.
 Ah, tidak juga aku mungkin menepuk dada sambil tersipu melihat butir peluhmu.
Semoga.
Berikan aku ijinmu wahai Maha Pencipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...