Selasa, 02 November 2021

Mencintai Dalam Diam





Karya : Setianna Sinaga


       Disuatu pagi yang sejuk, aku berjalan menyusuri Jalan raya di sambut dengan angin pagi yang sangat sejuk.

     Sedikit tentangku, aku duduk di bangku SMA kelas 12. Namaku Ana, Banyak yang mengatakan kisah di bangku SMA itu menyenangkan dan itu memang kuakui benar, tapi aku punya kisah yang sedikit memalukan diriku di dalam SMA ku.

     Suatu pagi, bel berbunyi tanda pembelajaran akan segera dimulai. Kelas yang berpenghuni 27 orang ini sudah sangat antusias menerima pelajaran yang akan di sampaikan guru PKN kami.

  Dalam  pembelajaran yang satu ini aku sangat bersemangat karna aku sangat menyukai Pkn saat mulai dari kelas 10.

    Hal yang ditunggu-tunggu siswa siswi pun tiba yaitu bel istirahat. Dan suara riuh memenuhi sekolah ini sekarang. Tentu saja aku juga ikut menikmatinya. Aku, Citra dan Liza bergegas menuju kantin yang menunjukkan berbagai makanan yang enak untuk di nikmati.

    “Ana, ke kantin bareng yuk?” ajak citra padaku dan Liza sembari kami berdua mengangguki Citra.

“Ana itu ada Risky loh mana dia tampan bangat lagi hari ini!” goda Liza padaku sambil aku melirik Risky.

 “Duhh tampan bangat idaman aku gitu loh, tapi sayang aku cuman bisa melihat dia dari kejauhan.” ucapku dengan raut wajah lesu.

 “Ya elah Ana samperin kek atau ajak ngobrol gitu!” ucap Citra sambil menyenggol sedikit bahuku. Iya tuh pasti Risky nya pun senang bangat ya kan.” sahut Liza. “Iya yaudah sih aku liat dari jauh aja udah Senang bangat kok.” ucapku dengan membentuk senyuman sambil aku melihat langkah kaki Risky yang sedang menuju kantin sekolah.

   Sekarang Risky duduk berdekatan di kantin denganku. Bukan Risky dan aku yang saling bertukar cerita, malah Alex teman Risky yang selalu denganku.

   Memang mencintai dalam diam  sangat menyakitkan tetapi memilih memendam itu lebih menyenangkan.

“Ahk aku bingung.”

  Sepulang sekolah seperti biasa aku bergegas untuk mengikuti Extrakulikuler di sekolah. Aku mengabari kedua temanku agar bertemu di sekolah.

  "Hai Citra, Liza! udah lama nunggu gak?" sapaku kepada mereka.

 "Udah terbiasa kok nungguin kamu sampai 1 jam.” Ucap Liza yang di sambut tawa oleh Citra. Sedangkan aku hannya tersenyum malu.

  "Eh, Risky sama Alex udah datang blom?" tanyaku  sambil menyusuri sekolah itu dengan kedua bola mataku.

   "Tuh kan udah aku tebak kamu bakal nanya  Risky.” ucap Citra.

  "Mereka pergi ke kamar mandi kayanya tadi.” sahut Liza.

  "Hei Ana kamu dah sampai!” ucap Alex dengan senyumannya dari belakangku dan teman-temannya dan di ikuti senyuman Risky.

   Tentu aku sangat antusias membalas senyuman mereka.

  "Hei Alex, iya aku baru sampai.” sahutku pada Alex.

  "Riskynya gak di sapa gitu Ana?" ucap Liza sambil mengedip sebelah matanya kepadaku.

  Aku hanya Bisa tersenyum malu sambil menunduk kan kepalaku ke arah Risky yang  di balasnya dengan senyuman. Begitulah aku yang hanya bisa tersenyum malu pada Risky yang sangat aku kagumi dan kucintai. Aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Jangan kan mengungkapkan perasaan untuk bicara dengan Risky saja aku tidak berani.

  "Udah kita pemanasan yuk tuh pak Rudi udah datang!” ucap Risky sambil berjalan menuntun teman-temannya  itu untuk melakukan pemanasan sebelum melaksanakan Extra badmintonnya.

  Hari ini hari yang baru lagi dan di sambut oleh mentari pagi dan angin pagi yang lumayan dingin. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah berharap Risky akan berbicara baik denganku nanti.

  Pagi ini pak Rudi ada sedikit pekerjaan yang ternyata melibatkan aku dan Risky di dalamnya.

   "Ana bapak minta tolong panggilkan Risky ke kelasnya ya!” suruh Pak Rudi kepadaku. Tanpa menunggu lama aku langsung berjalan menuju ruangan Risky.

 Ya aku  sedikit mengatur nafasku  yang grogi untuk menjumpai Risky sekarang.

“Rizky, kamu dipanggil Pak Rudi!”

 “Aku ngapain di panggil sama pak Rudi?" tanya Risky menyahut pembicaraan denganku. "Aku gak tahu sih, cuman di suruh aja tadi.” Ucapku sambil tersenyum pada Risky.

  "Risky dan Ana tolong Bapak ya, kalian berdua pergi ke setiap kelas untuk mendata setiap anggota Extra Badminton ke setiap kelas ya!” perintah pak Rudi kepada kami.

  "Aduh mana aku gak pede lagi bicara ke setiap kelas.” gerutuku dengan  mukaku yang sedikit grogi.

  "Udah tidak papa kok kan aku ada nemanin kamu.” ucap Risky dengan senyumannya untuk menenangkan gugupku.

Tentu aku sangat senang dengan kalimat Risky tadi. Aku pun menyahutinya  dengan senyuman  yang lebar.

 Hari ini hari yang sangat menyenangkan bagiku karena aku banyak menghabiskan waktu dengan Risky dan saling berbagi cerita setelah melaksanakan pekerjaan kami tadi.

  Ternyata mencintai dalam diam dengan membuat dia sebagai teman pun akan menyenangkan walau harus memendam perasaan yang sudah begitu dalam. Kan kusimpan saja.

 

*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...