Karya : Setianna
Sinaga
Sedikit tentangku, aku duduk di bangku SMA
kelas 12. Namaku Ana, Banyak yang mengatakan kisah di bangku SMA itu
menyenangkan dan itu memang kuakui benar, tapi aku punya kisah yang sedikit memalukan
diriku di dalam SMA ku.
Suatu pagi, bel berbunyi tanda
pembelajaran akan segera dimulai. Kelas yang berpenghuni 27 orang ini sudah
sangat antusias menerima pelajaran yang akan di sampaikan guru PKN kami.
Dalam pembelajaran yang satu ini aku sangat bersemangat karna aku sangat menyukai Pkn saat mulai dari kelas 10.
Hal yang ditunggu-tunggu siswa siswi pun
tiba yaitu bel istirahat. Dan suara riuh memenuhi sekolah ini sekarang. Tentu
saja aku juga ikut menikmatinya. Aku, Citra dan Liza bergegas menuju kantin
yang menunjukkan berbagai makanan yang enak untuk di nikmati.
“Ana, ke kantin bareng yuk?” ajak citra padaku
dan Liza sembari kami berdua mengangguki Citra.
“Ana
itu ada Risky loh mana dia tampan bangat lagi hari ini!” goda Liza padaku sambil
aku melirik Risky.
“Duhh tampan bangat idaman aku gitu loh, tapi
sayang aku cuman bisa melihat dia dari kejauhan.” ucapku dengan raut wajah lesu.
“Ya elah Ana samperin kek atau ajak ngobrol
gitu!” ucap Citra sambil menyenggol sedikit bahuku. Iya tuh pasti Risky nya pun
senang bangat ya kan.” sahut Liza. “Iya yaudah sih aku liat dari jauh aja udah
Senang bangat kok.” ucapku dengan membentuk senyuman sambil aku melihat langkah
kaki Risky yang sedang menuju kantin sekolah.
Sekarang Risky duduk berdekatan di kantin
denganku. Bukan Risky dan aku yang saling bertukar cerita, malah Alex teman
Risky yang selalu denganku.
Memang mencintai dalam diam sangat menyakitkan tetapi memilih memendam
itu lebih menyenangkan.
“Ahk
aku bingung.”
Sepulang sekolah seperti biasa aku bergegas
untuk mengikuti Extrakulikuler di sekolah. Aku mengabari kedua temanku agar
bertemu di sekolah.
"Hai
Citra, Liza! udah lama nunggu gak?" sapaku kepada mereka.
"Udah terbiasa kok nungguin kamu sampai 1
jam.” Ucap Liza yang di sambut tawa oleh Citra. Sedangkan aku hannya tersenyum
malu.
"Eh, Risky sama Alex udah datang
blom?" tanyaku sambil menyusuri
sekolah itu dengan kedua bola mataku.
"Tuh kan udah aku tebak kamu bakal
nanya Risky.” ucap Citra.
"Mereka pergi ke kamar mandi kayanya
tadi.” sahut Liza.
"Hei Ana kamu dah sampai!” ucap Alex
dengan senyumannya dari belakangku dan teman-temannya dan di ikuti senyuman Risky.
Tentu aku sangat antusias membalas senyuman
mereka.
"Hei Alex, iya aku baru sampai.” sahutku
pada Alex.
"Riskynya gak di sapa gitu Ana?" ucap
Liza sambil mengedip sebelah matanya kepadaku.
Aku hanya Bisa tersenyum malu sambil menunduk
kan kepalaku ke arah Risky yang di balasnya
dengan senyuman. Begitulah aku yang hanya bisa tersenyum malu pada Risky yang sangat
aku kagumi dan kucintai. Aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Jangan kan
mengungkapkan perasaan untuk bicara dengan Risky saja aku tidak berani.
"Udah kita pemanasan yuk tuh pak Rudi
udah datang!” ucap Risky sambil berjalan menuntun teman-temannya itu untuk melakukan pemanasan sebelum
melaksanakan Extra badmintonnya.
Hari ini hari yang baru lagi dan di sambut
oleh mentari pagi dan angin pagi yang lumayan dingin. Seperti biasa aku
berangkat ke sekolah berharap Risky akan berbicara baik denganku nanti.
Pagi ini pak Rudi ada sedikit pekerjaan yang ternyata
melibatkan aku dan Risky di dalamnya.
"Ana bapak minta tolong panggilkan Risky
ke kelasnya ya!” suruh Pak Rudi kepadaku. Tanpa menunggu lama aku langsung
berjalan menuju ruangan Risky.
Ya aku sedikit mengatur nafasku yang grogi untuk menjumpai Risky sekarang.
“Rizky,
kamu dipanggil Pak Rudi!”
“Aku ngapain di panggil sama pak Rudi?"
tanya Risky menyahut pembicaraan denganku. "Aku gak tahu sih, cuman di
suruh aja tadi.” Ucapku sambil tersenyum pada Risky.
"Risky dan Ana tolong Bapak ya, kalian
berdua pergi ke setiap kelas untuk mendata setiap anggota Extra Badminton ke
setiap kelas ya!” perintah pak Rudi kepada kami.
"Aduh mana aku gak pede lagi bicara ke
setiap kelas.” gerutuku dengan mukaku yang
sedikit grogi.
"Udah tidak papa kok kan aku ada nemanin
kamu.” ucap Risky dengan senyumannya untuk menenangkan gugupku.
Tentu
aku sangat senang dengan kalimat Risky tadi. Aku pun menyahutinya dengan senyuman yang lebar.
Hari ini hari yang sangat menyenangkan bagiku
karena aku banyak menghabiskan waktu dengan Risky dan saling berbagi cerita
setelah melaksanakan pekerjaan kami tadi.
Ternyata mencintai dalam diam dengan membuat
dia sebagai teman pun akan menyenangkan walau harus memendam perasaan yang
sudah begitu dalam. Kan kusimpan saja.
*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar