Oleh Rudi Saragih
Walau
anda gagal, suatu saat nanti anda lebih senang mengingatnya. Penyesalan baru
yang lebih besar akan timbul karena tidak melakukan sesuatu di masa lalu.
Kadang kala tidak terpikir apabila waktunya belum lewat. Tetapi jika pada tahapan mengingat, seseorang akan lebih senang (lebih berkesan) mengingat kegagalan daripada mengingat bahwa dirinya tidak pernah mencoba. Itu adalah kondisi paling parah, gagal. Bagaimana jika berhasil? Artinya seseorang akan menyesalkan hal-hal yang tidak pernah dilakukan dari pada hal yang telah dilakukan pada masa lalu.
Pernahkah
anda merasa takut tampil di depan orang banyak? Atau, sebenarnya anda bukan
takut, tetapi setelah berdiri di depan, perasaan anda semakin tidak karuan.
Semua buyar dan tiba-tiba lupa apa yang akan disampaikan. Gemetar, Ei tambah
lagi keringat dingin. Apalagi para
audiens yang hadir pada saat itu adalah orang-orang terhormat, orang-orang
pintar, para atasan atau orang-orang penting yang status sosialnya sama atau
bahkan lebih tinggi daripada anda, kemungkinan besar rasa takut atau kurang
percaya diri akan semakin tinggi. Sebenarnya, permasalahannya terletak pada
pola pikir mengenai hal tersebut. Anda akan terlepas dari ketakutan atau
keraguan tersebut jika secara filosofi anda benar-benar memahami diri dan
posisi anda. Mari kita bahas.
Timbul
pertanyaan, apakah anda pernah melihat diri anda berada di pentas yang megah?
Atau anda pernah melihat diri anda berbicara di depan umum? Singkat kata,
pernahkah melihat rekaman tentang keberanian anda berbicara? Rekaman ini bisa
berupa evaluasi dari orang lain atau rekaman visual. Apa yang anda nilai
setelah melihat diri sendiri? Tidak perlu kecewa dengan diri sendiri.
Kekecewaan hanya pengurangan energi diri dan bisa-bisa anda jera, semoga jangan
sampai trauma.
Kadangkala
apa yang kita rasakan tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Memang, ketika
berbicara di depan umum, mungkin kita tidak takut, tetapi sering dikatakan
demam panggung. Tidak ada alasan yang logis terhadap kondisi psikologis seperti
ini. Semua terarah kepada situasi kejiwaan yang ada pada diri pribadi. Tingkat
keberanian, tingkat kepercayadirian, tingkat perencanaan, tingkat kemauan dan
berbagai hal yang sangat berhubungan dengan kesiapan anda untuk tampil terampil
di depan umum. Perencanaan
sebelum anda tampil memang sangat penting. Namun itu bukan factor utama.
Kondisi psikis anda menjadi bagian terpenting. Disadari, hal ini sangat susah
untuk diubah. Namun kita sadari segala sesuatu bisa berubah jika diri kita
dengan tekat yang bulat ingin dan mau (berhasrat) untuk mengubahnya.
Perencaan
untuk tampil menjadi bagian yang kesekian. Artinya ketika minim perencaan, anda
bisa berimprovisasi mengenai topik yang dibicarakan atau bahkan anda bisa
melarikan pembicaraan ke arah lain. Tentunya hal tersebut didukung kemampuan
retorika anda. Dalam hal ini, anda harus menyiapkan mental, sehingga apa yang
anda katakan dapat diterima pendengar. Bagaimana orang lain bisa percaya atau
membiarkan anda melarikan pembicaraan jika anda dalam keadaan gemetar, keringat
dingin atau terbata-bata ketika menyampaikan sebuah topik?
Tidak
terlepas dari pepatah, “Anda bisa karena biasa,” pengaruh kebiasaan sangat
besar terhadap hal ini. Ketika anda mencoba, dalam proses ini anda termasuk
membiasakan, dalam proses membiasakan ada proses pematangan mental dan strategi
untuk berimprovisasi. Hal inilah yang membuat betapa pentingnya anda
mengevaluasi/melihat rekaman mengenai gaya, cara dan teknik anda berbicara.
Sekarang coba anda pikirkan. Jawab pertanyaan ini di
dalam hati. Pertama, kesempatan
tampil merupakan nilai tambah terhadap diri anda. Nah, apakah anda salah jika
tampil ke depan? Kedua, kata-kata
bijak sering kita dengar, “Mencoba tidak mengapa, mengapa tidak dicoba?” pada
bagian ini, anda memilih mencoba tampil atau tidak mencoba samasekali? Orang
yang mencoba sudah menang 1-0 daripada orang yang belum mencoba, walaupun orang
yang mencoba tersebut belum memiliki kualitas yang maksimal. Ketiga, anda memilih sebagai pecundang
atau orang yang berani? Padahal pembawa acara atau ketua panitia telah
memberikan sebuah penghormatan kepada anda untuk memberikan sambutan.
Jangan-jangan anda diberikan kesempatan karena dianggap orang yang berpotensi
untuk menyampaikan sebuah topik atau anda diberikan kesempatan memperbaiki
nilai oleh guru maupun dosen. Keempat, sampai kapan anda berdiam dan
berteman dengan ketidakpercayadirian? Kelima,
menurut anda siapa yang lebih terhormat, anda yang sedang berbicara atau
mereka yang sedang mendengarkan?
Kembali terhadap pertanyaan pertama. Jika anda tidak
salah tampil ke depan lantas kenapa anda ragu. Jalan benar yang telah anda
jalani tersebut tentunya sebuah jalan yang anda inginkan. Tentunya anda setuju
dengan pernyataan: “Takutlah pada jalan yang salah dan beranilah anda pada
jalan yang benar.” Kebenaran itu akan tetap menjadi kebenaran walau orang lain
terkadang mengusiknya. Membiasakan yang benar akan menyisihkan kebiasaan yang
tidak benar (kebiasaan buruk).
Apa yang membuat anda tidak mencoba untuk tampil? Apa
yang menghalangi anda untuk tidak terampil? Berjuta penemuan baru merupakan
buah dari kemauan mencoba. Menunjukkan kemampuan, hingga pada akhirnya akan
secara sendirinya menjadi paham dan mengetahui letak kelebihan dan kelemahan.
Tidak hanya itu, tidak ada ruginya bagi anda untuk mencoba terampil, bahkan hal
itu menjadi pelajaran yang sangat berharga. Pengalaman yang tidak dapat
diperjual-belikan.
Jangan akui diri anda sebagai pecundang. Jangan biarkan diri anda terkatung-katung dengan rasa
was-was. Jangan biarkan penyakit ketidakpercayadirian merebak di seluruh
anggota tubuh anda. Segera ubah
pola pikir, bahwa anda merupakan orang terhormat ketika diberikan kesempatan
untuk berbicara di hadapan hadirin. Andalah yang sedang memegang pengeras
suara, sekarang kesempatan anda, semua orang mendengarkan anda, jadi fokuskan
bahwa anda harus percaya diri dengan apa yang anda katakan. Jangan berpikir
lagi bahwa hadirin merupakan orang yang lebih dari anda tetapi, sekarang anda
yang pegang kendali, para hadiri hanyalah sebagai pendengar.
Fokuskan pikiran
anda, ketika bingung apa yang akan anda katakan, segeralah berimprovisasi.
Ambil cara pandang anda dari sisi lain. Ibarat membahas kubus, ketika anda
sudah bosan (habis materi) mengenai pembahasan sisi kiri, ambil pembahasan lain
dari sisi kanan, ambil lagi pembahasan dari sisi atas, ambil pemabahasan dari
sisi bawah, ambil pembahasan dari bagian tengah, ambil pembahasan dari bagian
isi, pembahasan dari bagian luas sisi, kolaborasikan pembahasan sisi kiri dan
kanan, kolaborasikan bagian isi dan sisi
lain, sampai seterusnya. Tentunya masih banyak lagi pembahasan yang diangkat
dari kubus tersebut. Demikian juga dengan pembahasan apa saja. Anda dapat mengambil
pembahasan dari berbagai sisi dan sudut pandang. Selain itu, anda juga bisa
melarikan pembicaraan yang masih menyangkut topik yang dibicarakan.
Nah, sekarang anda sudah tahu strateginya. Jangan lupa,
tetap persiapkan diri sebelum tampil sehingga anda bisa jadi orang terampil.
Apa yang anda katakan memiliki makna yang berharga dan dapat dinikmati oleh
para pendengar. Gunakan segala potensi anda dan ubah pola pikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar