Sabtu, 22 Oktober 2022

CERITA DALAM KEHENINGAN

 

                                                           


                                             

                                                           Karya: Cetrin Pebiola Haloho

 

Saat kelas 5 SD, guruku pernah mengajarkan cara menulis cerita dan esai. Katanya, kita harus mulai dengan apa yang disebut ‘fondasi’. Ibaratnya membangun sebuah rumah. Kita mulai dengan menyiapkan tanah sebagai ide cerita, lalu membangun cabang-cabang yang merambat keatas seperti dinding-dinding tembok yang menopang rumah. Cabang inilah yang menjadi alur cerita. Selanjutnya, dibagian puncak kita tutup dengan atap yang merupakan klimaks dan akhir kisah kesimpulan dari tulisan kita

.       

                Tentu saja, itu tadi adalah rumus untuk pemula, yang notabene murid kelas 5 SD. Sekitar tahun 1990-an, aku hanyalah seorang murid sekolah dasar yang tidak meyukai pelajaran mengarang. Menurutku, pelajaran mengarang terlalu banyak aturannya. Terlepas dari ketidaksukaanku pada pelajaran mengarang, harus kuakui bahwa saat itulah awal mula aku menulis. Dan entah kenapa akhirnya aku malah jatuh cinta pada dunia ini. Mungkin karena tulisan mempunyai struktur. Aku meyakininya. Bagiku, struktur sama halnya dengan skema rencana. Aku tak pernah bisa membayangkan hidup tanpa sebuah rencana. Aku sudah menyusun rencana hidupku sejak umur lima tahun. Serius! Aku ingat, pada saat itulah adik perempuanku lahir. Aku bisa menayangkannya dipikiranku sejernih gambar yang terpancar dari layar TV plasma HDTV.

                Hari itu aku bangun dan ibu tidak ada di depan tempat tidurku. Biasanya, ibu yang membangunkan aku sembari mengunggu dengan handuk ditangan lalu menyuruhku mandi. Pagi itu, yang ada malah pembantuku. Katanya, ibu harus pergi selama seminggu , jadi ia yang akan mengurus diriku. Pembantuku itu bernama Mbok Acih. Sebenarnya kata mbok bisa diartikan pula sebagai ’ibu’ dalam masyarakat jawa tradisional. Karena kami bukan orang jawa dan tinggal di lingkungan kota modern, kata mbok berubah menjadi sebutan yang diperuntukkan bagi wanita yang lebih tua. Jadi, nama pembantuku itu sebenarnya hanya ‘Acih’. Lucunya lagi , Acih sebetulnya bukan orang jawa, melainkan orang Depok. Di kampung halamannya sendiri tak ada panggilan mbok. Di Jakarta saja, sebagai pembantu ia dipanggil mbok.

                Aku senang sekali mendengar bahwa ibu pergi. Aku juga tidak terlalu peduli kemana dan kenapa ia pergi. Aku Cuma tahu ia akan kembali dalam seminggu. Toh, aku bukan akan kehilangan ibuku selamanya. Aku senang karena bisa sekali-kali melepaskan diri dari aturan-aturan dan dominasinya, termasuk hukumannya kalau aku tak mematuhi aturannya.

                Jangan salahkan aku. Waktu itu aku hanya seorang bocah berumur lima tahun. Aku juga bukan anak nakal. Tapi, hampir semua anak-anak kan gerah pada pada yang namanya peraturan. Seolah peraturan diciptakan untuk dilanggar. Terlebih lagi untuk aturan yang tanpa penjelasan. Bagaikan makhluk asing buatku. Seperti makanan aneh yang disodorkan di muka begitu saja untuk ditelan dan dicerna. Tidak mudah, tentunya, untuk menerima sesuatu tanpa penjelasan, bukan? Apalagi untuk menjalankan sesuatu yang tidak kita pahami. Jangankan anak-anak, untuk orang dewasa saja susah. Masalahnya, ibu hanya suka menyuruh tapi tak pernah menjelaskan jika aku bertanya kenapa. Kenapa begini,kenapa begitu? Kenapa makan harus dihabiskan dan tak boleh tersisa? Kenapa tiap pagi harus mandi padahal udara dingin sekali? Kalau aku bertanya, katanya aku membantah. Padahal, bertanya kan berbeda dengan membantah.

                Aku sangat sayang pada ibu, walaupun aku merasa lebih dekat dengan ayah. Mungkin karena ibu jarang dirumah. Ibu bekerja di salon. Sebaliknya, ayahku tinggal di rumah mengurusi bisnis keluarga. Terkadang, ia harus keluar rumah juga. Keluarga kami terutama dari pihak ayah, adalah keluarga yang aktif di dunia politik. Kakekku adalah pimpinan sebuah Partai Islam. Seperti politikus lainnya, kakekku juga memiliki profesi rangkap sebagai pengusaha. Tentu saja, usahanya itu untuk membiayai kegiatan partainya.

                Hidup dalam keluarga pemimpin partai merangkap pengusaha mirip dengan keluarga mafia. Begitulah bila melakukan bisnis dengan para petinggi politik. Tapi, hal itu tidak mengubah pandangan ku terhadap ayah. Aku tidak peduli. Saat itu, aku sangat menikmati hidup menjadi anak orang kaya yang dimanja. Saat pergi kesekolah, aku bisa memilih warna pita rambut yang senada dengan warna bajuku, bahkan warna mobilku sekalipun. Saat belum banyak orang mampu memiliki mobil, kami sudah memiliki sekitar sembilan yang terparkir berjejer didepan rumah. Kami tidak memiliki garasi, jadi mobil hanya diparkir di halaman rumah.               

                Kami tinggal di lahan yang sangat luas yang terdiri dari empat rumah, yang kami sebut pavilium. Rumah utama dan yang terbesar adalah tempat tinggal kakek dan nenek. Mereka tinggal bersama dengan beberapa saudara yang berasal dari sumatera daerah asal nenek dan juga beberapa saudara lain yang berasal dari Kalimantan dan Jawa Barat dari pihak kakek.

                Aku belajar pertama kali tentang cinta dari nenek. Dia adalah sosok wanita yang mungil. Katanya, saat ia lahir, ia dinamai “Putri Baluki”, atau dalam bahasa Indonesia berarti “putri yang melukis”. Mungkin karena para orang pintar setempat telah melihat bakat terpendam dalam dirinya dan yakin bahwa ia akan menjadi pelukis andal dimasa datang. Katanya, nenek akan membuat keluarganya bangga dengan bakatnya itu. Tetapi, nenek tak pernah menjadi pelukis. Ia malahan menjadi pemberontak. Ia sempat dibuang oleh keluarganya dan dari pulau asalnya. Semua karena perjuangan  cintanya untuk kakek. Padahal ia hanya bertemu kakek sekali saja, yaitu saat kakek berkunjung ke Sumatera untuk salah satu urusan  politiknya.

                Kakek berasal dari keluarga pedesaan yang sederhana. Keluarga petani,begitu kakek selalu bilang padaku. Kendati, sebenarnya, beliau lahir dari keluarga ulama yang pada zamannya cukup dihormati dibanten, bahkan sampai saat ini, masih dianggap sebagai tempat dimana mistik atau ilmu hitam berasal. Tempat bertuah dan mencari ilmu.

                Sementara itu, nenek berasal dari Bukittinggi. Keluarga beliau pun keluarga alim ulama. Ajaran agama yang dianut keluarga nenek di Sumatra itu tidak ada kaitannya dengan ajaran spiritual Jawa. Kalau di Jawa ada pengaruh agama Hindu-yang menurut sejarah telah masuk  sebelum agama islam ketanah Jawa, tidak demikian halnya di Pulau Sumatra. Islam dibawa oleh pedagang-pedagang dari Arab ke Sumatra.

                Nenek sering berkata, “Uci percaya, hanya cinta yang dapat membuat kita bahagia.’’  Uci adalah panggilan untuk seorang nenek dalam Bahasa Minang. Nenek juga mengakatakan banyak hal lainnya. Padahal, nenek terkenal pendiam di kalangan keluarga. Tapi, padaku nenek rajin bercerita. Bahkan, bisa sampai berjam-jam kami duduk diteras rumah berduaan. Mungkin karena itulah aku tumbuh menjadi seorang pendengar yang baik. Aku senang mendengarkan cerita-ceritanya. Setiap ia bercerita aku akan mendengarkan tanpa memotongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebenarnya, aku tidak perlu menanyakan apa pun karena nenek tampaknya dapat membaca pikiranku. Seorang pendongeng yang hebat seyogianya mampu membaca pikiran pendengarnya. Mereka harus tau apa yang sedang dipikirkan para pendengar sehingga mereka dapat menyampaikan sebuah cerita yang dapat memuaskan keingintahuan pendengarnya. Sang pendengar betah mendengarkan sampai berjam-jam lamanya. Seperti aku, aku bisa duduk selama berjam-jam mendengarkan cerita nenek. Aku sangat suka cerita. Cerita dan kisah cinta beliau pribadi, khususnya.

                Bagiku, cinta mengandung kekuatan ajaib. Dan momen cinta seakan-akan selalu diselubungi oleh aura mistis dan gaib. Aku sangat yakin itu. Beberapa film tentang cinta yang pernah aku tonton telah membuktikannya. Sleepless in seattle, contohnya. Ada banyak unsur ketidaksengajaan yang mampu mempersatukan dua hati yang berbeda, dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh kita. Siapa yang pernah menduga seorang wanita bisa jatuh cinta dengan seorang ayah yang anaknya kebetulan sedang curhat diradio? Cinta juga memiliki kekuatan mahadasyat untuk mengubah dua kutub yang bertolak belakang menjadi satu. Dari benci jadi cinta. Dan sebaliknya, dari cinta seseorang bisa berubah jadi psikopat. Membunuh orang yang dicintainya. Hebat bukan?.

                Cinta membuat kita terbuka pada segala kemungkinan. Lantas mengalir sperti air, mengikuti kearah mana pun cinta membawa kita. Karena itu, ada istilah “dimabuk asmara”. Rasanya memang seperti orang yang mabuk laut. Hanyut terbawa arus. Lupa makan,waktu dan tempat.

                Kenyataan ini sejalan dengan apa yang selau dikatakan oleh ayah. Jangan pernah menutup diri kepada siapapun atau apa pun. Tidak juga kepada orang asing yang kebetulan berpapasan denganmu saat belanja dimalam natal. Seperti halnya di film Serendipity. Karena,pada kenyataanya, kau tidak akan pernah tahu kemana cinta akan membawamu. Cinta adalah sebuah misteri, dan akan selalu seperti itu. Cinta bukanlah sebuah mata pelajaran sekolah yang bisa kita kuasai setelah bertahun-tahun mempelajarinya.

                Sekolah kedokteran kan hanya akan menelurkan tenaga medis, tidak mungkin lulusan kedokteran menjadi insinyur. Tapi, cinta tak begitu halnya. Tidak ada aturan dan tidak ada yang baku dalam cinta. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita dapatkan, siapa yang akan kita temui atau akan menjadi seperti apa kita nantinya. Ayah juga bilang kalau cinta itu sumbernya dari kehidupan. Tanpa cinta tak ada kehidupan. Pernyataan ayah yang kedua ini masih sering aku pertanyakan. Soalnya, zaman sekarang kan banyak orang melahirkan kehidupan tanpa asas cinta. Misalnya, anak-anak yang lahir sebagai korban kasus asusila adalah ‘kehidupan’ yang bukan lahir dari cinta. Demikian juga para petani yang menanam benih kehidupan berupa pepohonan, padi dan berbagai palawijaya lainnya. Apakah pohon yang notabene melambambangkan ‘kehidupan’ itu tumbuh dari cinta? Kan tidak. Mereka menanam pohon untuk mencari nafkah, bukan karena kecintaannya pada pohon. Tapi, kalau mendengar argumentasiku, ayah hanya tersenyum lalu berkata, “Suatu hari kamu akan mengerti. Sekarang kamu masih kecil. Masih sok pintar.”

                Ayah seorang muslim, Ibu seorang Protestan (Lhuteran) dan, benar, mereka mengirimku ke sekolah biarawati, sekolah katolik. Sekolah katolik itu sangat disiplin. Sangking disiplinnya, jika lupa memotong kuku mereka tidak segan memukulnya dengan penggaris kayu atau ikat pinggang. Walau tidak begitucinta pada sekolah kedisiplinan ini, aku cinta pada Ali, dan juga semua teman-temanku.

                Ali adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki saat itu. Tidak heran kalau aku tidak punya banyak teman. Bukankah aku lebih suka bermain dengan alam pikiranku sendiri dari pada teman sebaya? Aku lebih suka membaca dari pada ngerumpi. Hanya Ali yang tidak tidak menganggapku aneh. Mungkin karena ia pun termasuk aneh dimata teman-teman yang lain. Teman Ali pun tak banyak. Istilahnya, kami menjadi sahabat karena merasa senasib dan sepenanggungan. Sama-sama tak punya banyak teman. Sama-sama dianggap eksentrik oleh teman satu sekolah.

                Waktu terus berlalu. Seperti bulan dan matahari. Siang dan malam. Semua yang ada didunia ini berjalan secara alam. Dan sekarang aku sudah tamat SMA. Aku melanjutkan studyku keperguruan tinggi. Namun saat aku baru masuk semester 7 perusahaan kakek dan ayah bangkrut. Kakek meninggal dunia. Penyakit jantungnya kambuh saat ia mendengar perusahaannya dan ayah bangkrut. Ditambah lagi dengan ayah yang juga terkena stroke, karna dengar perusahaanya itu juga. Kini yang mencari nafkah hanya ibu.

                Melihat ibu yang sering bekerja hingga larut aku ga tega. Jadi aku berinisiatif untuk membantu ibu bekerja. Ibukan punya cabang salon jadi aku meminta itu kepada ibu agar aku yang mengolahnya. Sambil kuliah aku sembari bekerja.

                Kini aku sudah lulus kuliah, suatu hari aku pergi ke toko buku. Saat mencari-cari buku ada seorang lelaki yang menyapaku,

Eh kamu ririnkan?” ujarnya kepadaku

“Iya, mas nya siapa ya?”  balas ku padanya

Aku Ali rin, temen kamu dulu waktu kita sekolah di sekolah biarawati.”

Hah Ali? Ini kamu? Wah kok kamu berubah banget, sampai-sampai aku ga ngenalin loh.”

Gimana kalo kita ngobrolnya sambil ngopi? Aku tau café tempat ngopi yang enak di deket sini,” ajak Ali

Wah boleh tu li”

                Saat kami sampai dicafe, kami memesan kopi dan ngobrol banyak. Kami ercerita tentang kami yang dulu senasib dan sepenanggungan, tentang kami yang tidak memiliki banyak teman, tetang kami yang tidak terlalu suka bergaul, dan banyak lagi deh.

Sekarang kamu sedang sibuk ngapain rin?”

Aku lagi sibuk kerja di salon li.”

Hah? Kerja disalon? Yang bener aja kamu rin, masa iya anak dari seorang pengusaha sukses kerja jadi salon, gausah ngelawak deh, galucu.”

Iya bener, aku kerja disalon. Beberapa tahun lalu perusahaan ayah udah bangkrut li, dan ayah kena stroke. Jadi yang cari nafkah hanya ibu, aku ga tega liat ibu kerja sampai larut terus.”

Duh sory ya rin aku gatau.”

Hahah.. santai  aja kali li.”

Kapan-kapan aku main ya rin kesalon kamu.”

Boleh li, dengan senang hati.”

                Beberapa hari kemudian Ali ngechat aku, nyuruh sharelock salon aku. Lalu aku kirim lokasi nya. Tak lama Ali tiba disalon, kebetulan sedang ada pasien disalon, jadi Ali nunggu dulu sampai aku selesai. Sambil aku kerja, Ali sambil merhatiin aku kerja, eksplor salon aku. Aku sudah selesai bekerja, jadi aku ngeberesin peralatan yang habis aku pakai tadi.

Cape rin?” Tanya Ali

Iya gitu lah li, namanya juga kerja, gaada yang ga cape.”

Aku liat-liat cara kamu ngemake up tadi terlalu ribet deh kayanya rin, mesti gonta-ganti kuas, spons, dan setelah siap pun kamu harus cape juga ngeberesinnya kan?”

“Iya sih li, Cuma begitulah namanya juga ngemake up, pasti harus bolak-balik terus”

Emm… kenapa kamu ga pake alat otomatis aja buat kamu nyalon?”

Hah? Maksut kamu?”

“Gini Rin, gimana kalo kamu nyiptain alat otomatis buat ngebantu kamu kerja? Contoh nya nih, kalo mau buat alis ada tuh khusus alat nya tinggal ditempelin aja di alis nya udah jadi deh, kaya stempel gitu loh. Jadi kamu ga cape-cape lagi mau nglukis alisnya, habis itu di consiler lagi, ribet banget, cape lagi kamu dibuatnya.”

“Iya juga ya li. Tapi kan aku gatau kalo mau nyiptain barang-barang canggih kaya gitu. Kamu kira aku ilmuwan apa.”

Ya ampun Rin, kan ada aku.”

Oh iya, kan kamu ahli nya dalam bagian itu. Yaampun ko aku bisa ga kepikiran kesana sih li.”

                Kemudian kami berdua pun bekerja sama untuk membuat alat yang Ali bilang tadi. Ali ngajak aku ke tempat dimana dia captain banyak alat-alat canggih yang berguna banget. Saat pertama kali masuk, aku terkejut banget liat semua yang ada didalam ruangan itu. Selama didalam aku ga berenti nannya sama Ali, ini apa?, itu apa?,  gunanya buat apa?, cara pakenya gimana?. Sampai-sampai dia bingung mau ngejawab yang mana dulu.

                Har-hari ku kini lebih sering bersama Ali, hampir setiap hari kami berdua bersama seharian. Sembari bekerja membuat alat itu kami sembari tertawa juga. Semakin sering aku bersama Ali, entah kenapa dekat dengan dia sekarang rasanya hatiku ada getaran, mungkinkah ini yang namanya cinta? Kaya yang Uci sering ceritain dulu? Ah sudah lah abaikan saja dulu perasaan ini, sekarang aku hanya fokus untuk menyelesaikan alat yang ingin kami buat ini.

                Setelah beberapa lama, akhirnya alat nya pun jadi. Kami membuat alat untuk membuat eyeshadow, alis, dan juga lipstick. Aku sangat merasa beruntung punya teman seperti Ali, berkat dia, sekarang aku menjadim lebih gampang bekerja, tidak perlu gonta-tanti kuas lagi dalam membuat eyesahdow, dan tidak perlu cape-cape lagi dalam mengukir alis. Ali juga turut senang katanya karena aku senang. Karena alat canggih yang kami buat ini, jad banyak orang yang berminat utnuk berkujnung ke salonku. Dan bahkan aku bisa buka cabang di berbagai daerah.

                 Ali mengajak aku kesebuah tempat, tempat nya cantik, di tepi danau.

“Ali terimakasih banyak ya, kamu udah bantu aku banyak banget, aku gabakal bisa nyampe dititik ini kalo ga kamu bantu selama ini,” ujar ku  kepada Ali.

Sama-sama Rin. aku ikut seneng kalo kamu juga seneng,” balasnya sembari tersenyum

                Kami menikmati pemandangan danau yang indah, lalu Ali berkata:

Emm…. Rin .”

“Iiya? Kenapa li.?

Selama ini kan kita selalu ngabisin waktu berdua, ketawa bareng, pusing bareng, cape bareng, banyak deh pokonya. Aku mau jujur sama kamu, Cuma aku ga berani bilanya.”

Apa li? Bilang aja kali.”

Aku suka sama kamu, udahh sedari dulu, waktu kita masih sekolah di biarawati. Kamu mu ga jadi pacar aku?”

Emm..”

Kenapa rin? kamu gamau ya? Gapapa kok.”

Emm… ga li.”

Ooh yaudah deh gpp.”

“Gabisa nolak maksut nya, hahah...”

Dasar  ya kamuu ririiin!!!”

                Kemudian kami pacarannya ga lama 6 bulan kami berpacran kami memutuskan untuk menuju ke tingkat hubungan yang lebih serius. Yaitu menikah. Keluarga kami sudah sama-sama setuju. Kami pun melangsungkan pernikahan. Kami dikaruniai anak dan keluarga kami hidup dengan bahagia.

                Waktu terus berlalu. Emosi dan perasaan datang dan pergi silih berganti. Seperti bulan dan matahari. Siang dan malam. Semua yang ada didunia ini berjalan secara alami. Mengikuti naluri. Maka, satukanlah hidup-mu dengan irama  alam. Seperti matahari yang tak pernah memaksa untuk menerangi malam. Atau bulan yang selalu ingin jadi purnama setiap hari. Semuanya harus selaras. Seperti alam yang menyesuaikan diri dengan penuh kesabaran, namun meyakinkan. Ibarat permainan puzzle, tiap detail dari aspek hidup pelan-pelan melengkapi seiring dengan berjalannya waktu

                                                              *** TAMAT***

                                                                                                                                    

                                                                                               Penulis adalah siswa SMA Negeri 1  Purba

                                                                                                                          Editor: Ruth Aurel Saragih

 

 

                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...