Karya: Cetrin Pebiola Haloho
Saat kelas 5 SD, guruku pernah mengajarkan cara menulis cerita dan esai. Katanya, kita harus mulai dengan apa yang disebut ‘fondasi’. Ibaratnya membangun sebuah rumah. Kita mulai dengan menyiapkan tanah sebagai ide cerita, lalu membangun cabang-cabang yang merambat keatas seperti dinding-dinding tembok yang menopang rumah. Cabang inilah yang menjadi alur cerita. Selanjutnya, dibagian puncak kita tutup dengan atap yang merupakan klimaks dan akhir kisah kesimpulan dari tulisan kita
. Tentu saja, itu tadi adalah
rumus untuk pemula, yang notabene murid kelas 5 SD. Sekitar tahun 1990-an, aku
hanyalah seorang murid sekolah dasar yang tidak meyukai pelajaran mengarang.
Menurutku, pelajaran mengarang terlalu banyak aturannya. Terlepas dari
ketidaksukaanku pada pelajaran mengarang, harus kuakui bahwa saat itulah awal
mula aku menulis. Dan entah kenapa akhirnya aku malah jatuh cinta pada dunia
ini. Mungkin karena tulisan mempunyai struktur. Aku meyakininya. Bagiku,
struktur sama halnya dengan skema rencana. Aku tak pernah bisa membayangkan
hidup tanpa sebuah rencana. Aku sudah menyusun rencana hidupku sejak umur lima
tahun. Serius! Aku ingat, pada saat itulah adik perempuanku lahir. Aku bisa
menayangkannya dipikiranku sejernih gambar yang terpancar dari layar TV plasma
HDTV.
Hari itu aku bangun dan ibu
tidak ada di depan tempat tidurku. Biasanya, ibu yang membangunkan aku sembari
mengunggu dengan handuk ditangan lalu menyuruhku mandi. Pagi itu, yang ada
malah pembantuku. Katanya, ibu harus pergi selama seminggu , jadi ia yang akan
mengurus diriku. Pembantuku itu bernama Mbok Acih. Sebenarnya kata mbok bisa diartikan pula sebagai ’ibu’
dalam masyarakat jawa tradisional. Karena kami bukan orang jawa dan tinggal di
lingkungan kota modern, kata mbok berubah
menjadi sebutan yang diperuntukkan bagi wanita yang lebih tua. Jadi, nama
pembantuku itu sebenarnya hanya ‘Acih’. Lucunya lagi , Acih sebetulnya bukan
orang jawa, melainkan orang Depok. Di kampung halamannya sendiri tak ada
panggilan mbok. Di Jakarta saja,
sebagai pembantu ia dipanggil mbok.
Aku senang sekali mendengar
bahwa ibu pergi. Aku juga tidak terlalu peduli kemana dan kenapa ia pergi. Aku
Cuma tahu ia akan kembali dalam seminggu. Toh, aku bukan akan kehilangan ibuku
selamanya. Aku senang karena bisa sekali-kali melepaskan diri dari
aturan-aturan dan dominasinya, termasuk hukumannya kalau aku tak mematuhi
aturannya.
Jangan salahkan aku. Waktu itu
aku hanya seorang bocah berumur lima tahun. Aku juga bukan anak nakal. Tapi,
hampir semua anak-anak kan gerah pada pada yang namanya peraturan. Seolah
peraturan diciptakan untuk dilanggar. Terlebih lagi untuk aturan yang tanpa
penjelasan. Bagaikan makhluk asing buatku. Seperti makanan aneh yang disodorkan
di muka begitu saja untuk ditelan dan dicerna. Tidak mudah, tentunya, untuk
menerima sesuatu tanpa penjelasan, bukan? Apalagi untuk menjalankan sesuatu
yang tidak kita pahami. Jangankan anak-anak, untuk orang dewasa saja susah.
Masalahnya, ibu hanya suka menyuruh tapi tak pernah menjelaskan jika aku
bertanya kenapa. Kenapa begini,kenapa begitu? Kenapa makan harus dihabiskan dan
tak boleh tersisa? Kenapa tiap pagi harus mandi padahal udara dingin sekali?
Kalau aku bertanya, katanya aku membantah. Padahal, bertanya kan berbeda dengan
membantah.
Aku sangat sayang pada ibu,
walaupun aku merasa lebih dekat dengan ayah. Mungkin karena ibu jarang dirumah.
Ibu bekerja di salon. Sebaliknya, ayahku tinggal di rumah mengurusi bisnis
keluarga. Terkadang, ia harus keluar rumah juga. Keluarga kami terutama dari
pihak ayah, adalah keluarga yang aktif di dunia politik. Kakekku adalah
pimpinan sebuah Partai Islam. Seperti politikus lainnya, kakekku juga memiliki
profesi rangkap sebagai pengusaha. Tentu saja, usahanya itu untuk membiayai
kegiatan partainya.
Hidup dalam keluarga pemimpin
partai merangkap pengusaha mirip dengan keluarga mafia. Begitulah bila
melakukan bisnis dengan para petinggi politik. Tapi, hal itu tidak mengubah
pandangan ku terhadap ayah. Aku tidak peduli. Saat itu, aku sangat menikmati
hidup menjadi anak orang kaya yang dimanja. Saat pergi kesekolah, aku bisa
memilih warna pita rambut yang senada dengan warna bajuku, bahkan warna mobilku
sekalipun. Saat belum banyak orang mampu memiliki mobil, kami sudah memiliki
sekitar sembilan yang terparkir berjejer didepan rumah. Kami tidak memiliki garasi,
jadi mobil hanya diparkir di halaman rumah.
Kami tinggal di lahan yang
sangat luas yang terdiri dari empat rumah, yang kami sebut pavilium. Rumah
utama dan yang terbesar adalah tempat tinggal kakek dan nenek. Mereka tinggal
bersama dengan beberapa saudara yang berasal dari sumatera daerah asal nenek
dan juga beberapa saudara lain yang berasal dari Kalimantan dan Jawa Barat dari
pihak kakek.
Aku belajar pertama kali tentang
cinta dari nenek. Dia adalah sosok wanita yang mungil. Katanya, saat ia lahir,
ia dinamai “Putri Baluki”, atau dalam bahasa Indonesia berarti “putri yang
melukis”. Mungkin karena para orang pintar setempat telah melihat bakat
terpendam dalam dirinya dan yakin bahwa ia akan menjadi pelukis andal dimasa
datang. Katanya, nenek akan membuat keluarganya bangga dengan bakatnya itu.
Tetapi, nenek tak pernah menjadi pelukis. Ia malahan menjadi pemberontak. Ia
sempat dibuang oleh keluarganya dan dari pulau asalnya. Semua karena
perjuangan cintanya untuk kakek. Padahal
ia hanya bertemu kakek sekali saja, yaitu saat kakek berkunjung ke Sumatera
untuk salah satu urusan politiknya.
Kakek berasal dari keluarga
pedesaan yang sederhana. Keluarga petani,begitu kakek selalu bilang padaku.
Kendati, sebenarnya, beliau lahir dari keluarga ulama yang pada zamannya cukup
dihormati dibanten, bahkan sampai saat ini, masih dianggap sebagai tempat
dimana mistik atau ilmu hitam berasal. Tempat bertuah dan mencari ilmu.
Sementara itu, nenek berasal
dari Bukittinggi. Keluarga beliau pun keluarga alim ulama. Ajaran agama yang
dianut keluarga nenek di Sumatra itu tidak ada kaitannya dengan ajaran
spiritual Jawa. Kalau di Jawa ada pengaruh agama Hindu-yang menurut sejarah
telah masuk sebelum agama islam ketanah
Jawa, tidak demikian halnya di Pulau Sumatra. Islam dibawa oleh
pedagang-pedagang dari Arab ke Sumatra.
Nenek sering berkata, “Uci
percaya, hanya cinta yang dapat membuat kita bahagia.’’ Uci adalah panggilan untuk seorang nenek
dalam Bahasa Minang. Nenek juga mengakatakan banyak hal lainnya. Padahal, nenek
terkenal pendiam di kalangan keluarga. Tapi, padaku nenek rajin bercerita.
Bahkan, bisa sampai berjam-jam kami duduk diteras rumah berduaan. Mungkin
karena itulah aku tumbuh menjadi seorang pendengar yang baik. Aku senang
mendengarkan cerita-ceritanya. Setiap ia bercerita aku akan mendengarkan tanpa
memotongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebenarnya, aku tidak perlu
menanyakan apa pun karena nenek tampaknya dapat membaca pikiranku. Seorang
pendongeng yang hebat seyogianya mampu membaca pikiran pendengarnya. Mereka
harus tau apa yang sedang dipikirkan para pendengar sehingga mereka dapat
menyampaikan sebuah cerita yang dapat memuaskan keingintahuan pendengarnya.
Sang pendengar betah mendengarkan sampai berjam-jam lamanya. Seperti aku, aku
bisa duduk selama berjam-jam mendengarkan cerita nenek. Aku sangat suka cerita.
Cerita dan kisah cinta beliau pribadi, khususnya.
Bagiku, cinta mengandung
kekuatan ajaib. Dan momen cinta seakan-akan selalu diselubungi oleh aura mistis
dan gaib. Aku sangat yakin itu. Beberapa film tentang cinta yang pernah aku
tonton telah membuktikannya. Sleepless in
seattle, contohnya. Ada banyak unsur ketidaksengajaan yang mampu
mempersatukan dua hati yang berbeda, dengan cara-cara yang tidak pernah
terpikirkan sebelumnya oleh kita. Siapa yang pernah menduga seorang wanita bisa
jatuh cinta dengan seorang ayah yang anaknya kebetulan sedang curhat diradio?
Cinta juga memiliki kekuatan mahadasyat untuk mengubah dua kutub yang bertolak
belakang menjadi satu. Dari benci jadi cinta. Dan sebaliknya, dari cinta
seseorang bisa berubah jadi psikopat. Membunuh orang yang dicintainya. Hebat
bukan?.
Cinta membuat kita terbuka pada
segala kemungkinan. Lantas mengalir sperti air, mengikuti kearah mana pun cinta
membawa kita. Karena itu, ada istilah “dimabuk asmara”. Rasanya memang seperti
orang yang mabuk laut. Hanyut terbawa arus. Lupa makan,waktu dan tempat.
Kenyataan ini sejalan dengan apa
yang selau dikatakan oleh ayah. Jangan
pernah menutup diri kepada siapapun atau apa pun. Tidak juga kepada orang
asing yang kebetulan berpapasan denganmu saat belanja dimalam natal. Seperti
halnya di film Serendipity.
Karena,pada kenyataanya, kau tidak akan pernah tahu kemana cinta akan
membawamu. Cinta adalah sebuah misteri, dan akan selalu seperti itu. Cinta bukanlah
sebuah mata pelajaran sekolah yang bisa kita kuasai setelah bertahun-tahun
mempelajarinya.
Sekolah kedokteran kan hanya
akan menelurkan tenaga medis, tidak mungkin lulusan kedokteran menjadi
insinyur. Tapi, cinta tak begitu halnya. Tidak ada aturan dan tidak ada yang
baku dalam cinta. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita dapatkan,
siapa yang akan kita temui atau akan menjadi seperti apa kita nantinya. Ayah
juga bilang kalau cinta itu sumbernya dari kehidupan. Tanpa cinta tak ada
kehidupan. Pernyataan ayah yang kedua ini masih sering aku pertanyakan.
Soalnya, zaman sekarang kan banyak orang melahirkan kehidupan tanpa asas cinta.
Misalnya, anak-anak yang lahir sebagai korban kasus asusila adalah ‘kehidupan’
yang bukan lahir dari cinta. Demikian juga para petani yang menanam benih
kehidupan berupa pepohonan, padi dan berbagai palawijaya lainnya. Apakah pohon
yang notabene melambambangkan ‘kehidupan’ itu tumbuh dari cinta? Kan tidak.
Mereka menanam pohon untuk mencari nafkah, bukan karena kecintaannya pada
pohon. Tapi, kalau mendengar argumentasiku, ayah hanya tersenyum lalu berkata,
“Suatu hari kamu akan mengerti. Sekarang kamu masih kecil. Masih sok pintar.”
Ayah seorang muslim, Ibu seorang
Protestan (Lhuteran) dan, benar, mereka mengirimku ke sekolah biarawati,
sekolah katolik. Sekolah katolik itu sangat disiplin. Sangking disiplinnya,
jika lupa memotong kuku mereka tidak segan memukulnya dengan penggaris kayu
atau ikat pinggang. Walau tidak begitucinta pada sekolah kedisiplinan ini, aku
cinta pada Ali, dan juga semua teman-temanku.
Ali adalah satu-satunya sahabat
yang kumiliki saat itu. Tidak heran kalau aku tidak punya banyak teman.
Bukankah aku lebih suka bermain dengan alam pikiranku sendiri dari pada teman
sebaya? Aku lebih suka membaca dari pada ngerumpi. Hanya Ali yang tidak tidak
menganggapku aneh. Mungkin karena ia pun termasuk aneh dimata teman-teman yang
lain. Teman Ali pun tak banyak. Istilahnya, kami menjadi sahabat karena merasa
senasib dan sepenanggungan. Sama-sama tak punya banyak teman. Sama-sama
dianggap eksentrik oleh teman satu sekolah.
Waktu terus berlalu. Seperti
bulan dan matahari. Siang dan malam. Semua yang ada didunia ini berjalan secara
alam. Dan sekarang aku sudah tamat SMA. Aku melanjutkan studyku keperguruan
tinggi. Namun saat aku baru masuk semester 7 perusahaan kakek dan ayah
bangkrut. Kakek meninggal dunia. Penyakit jantungnya kambuh saat ia mendengar
perusahaannya dan ayah bangkrut. Ditambah lagi dengan ayah yang juga terkena
stroke, karna dengar perusahaanya itu juga. Kini yang mencari nafkah hanya ibu.
Melihat ibu yang sering bekerja
hingga larut aku ga tega. Jadi aku berinisiatif untuk membantu ibu bekerja.
Ibukan punya cabang salon jadi aku meminta itu kepada ibu agar aku yang
mengolahnya. Sambil kuliah aku sembari bekerja.
Kini aku sudah lulus kuliah,
suatu hari aku pergi ke toko buku. Saat mencari-cari buku ada seorang lelaki
yang menyapaku,
“Eh kamu ririnkan?” ujarnya
kepadaku
“Iya, mas nya
siapa ya?” balas ku padanya
“Aku Ali rin, temen kamu dulu waktu
kita sekolah di sekolah biarawati.”
“Hah Ali? Ini kamu? Wah kok kamu
berubah banget, sampai-sampai aku ga ngenalin loh.”
“Gimana kalo kita ngobrolnya
sambil ngopi? Aku tau café tempat ngopi yang enak di deket sini,” ajak Ali
“Wah boleh tu li”
Saat kami sampai dicafe, kami
memesan kopi dan ngobrol banyak. Kami ercerita tentang kami yang dulu senasib
dan sepenanggungan, tentang kami yang tidak memiliki banyak teman, tetang kami
yang tidak terlalu suka bergaul, dan banyak lagi deh.
“Sekarang kamu sedang sibuk
ngapain rin?”
“Aku lagi sibuk kerja di salon
li.”
“Hah? Kerja disalon? Yang bener
aja kamu rin, masa iya anak dari seorang pengusaha sukses kerja jadi salon,
gausah ngelawak deh, galucu.”
“Iya bener, aku kerja disalon.
Beberapa tahun lalu perusahaan ayah udah bangkrut li, dan ayah kena stroke.
Jadi yang cari nafkah hanya ibu, aku ga tega liat ibu kerja sampai larut
terus.”
“Duh sory ya rin aku gatau.”
“Hahah.. santai aja kali li.”
“Kapan-kapan aku main ya rin
kesalon kamu.”
“Boleh li, dengan senang hati.”
Beberapa hari kemudian Ali
ngechat aku, nyuruh sharelock salon aku. Lalu aku kirim lokasi nya. Tak lama
Ali tiba disalon, kebetulan sedang ada pasien disalon, jadi Ali nunggu dulu
sampai aku selesai. Sambil aku kerja, Ali sambil merhatiin aku kerja, eksplor
salon aku. Aku sudah selesai bekerja, jadi aku ngeberesin peralatan yang habis
aku pakai tadi.
“Cape rin?” Tanya Ali
“Iya gitu lah li, namanya juga
kerja, gaada yang ga cape.”
“Aku liat-liat cara kamu ngemake
up tadi terlalu ribet deh kayanya rin, mesti gonta-ganti kuas, spons, dan
setelah siap pun kamu harus cape juga ngeberesinnya kan?”
“Iya sih li,
Cuma begitulah namanya juga ngemake up, pasti harus bolak-balik terus”
“Emm… kenapa kamu ga pake alat
otomatis aja buat kamu nyalon?”
“Hah? Maksut kamu?”
“Gini Rin,
gimana kalo kamu nyiptain alat otomatis buat ngebantu kamu kerja? Contoh nya
nih, kalo mau buat alis ada tuh khusus alat nya tinggal ditempelin aja di alis
nya udah jadi deh, kaya stempel gitu loh. Jadi kamu ga cape-cape lagi mau
nglukis alisnya, habis itu di consiler lagi, ribet banget, cape lagi kamu
dibuatnya.”
“Iya juga ya
li. Tapi kan aku gatau kalo mau nyiptain barang-barang canggih kaya gitu. Kamu
kira aku ilmuwan apa.”
“Ya ampun Rin, kan ada aku.”
“Oh iya, kan kamu ahli nya dalam
bagian itu. Yaampun ko aku bisa ga kepikiran kesana sih li.”
Kemudian kami berdua pun bekerja
sama untuk membuat alat yang Ali bilang tadi. Ali ngajak aku ke tempat dimana
dia captain banyak alat-alat canggih yang berguna banget. Saat pertama kali
masuk, aku terkejut banget liat semua yang ada didalam ruangan itu. Selama
didalam aku ga berenti nannya sama Ali, ini apa?, itu apa?, gunanya buat apa?, cara pakenya gimana?.
Sampai-sampai dia bingung mau ngejawab yang mana dulu.
Har-hari ku kini lebih sering
bersama Ali, hampir setiap hari kami berdua bersama seharian. Sembari bekerja
membuat alat itu kami sembari tertawa juga. Semakin sering aku bersama Ali,
entah kenapa dekat dengan dia sekarang rasanya hatiku ada getaran, mungkinkah
ini yang namanya cinta? Kaya yang Uci sering ceritain dulu? Ah sudah lah
abaikan saja dulu perasaan ini, sekarang aku hanya fokus untuk menyelesaikan
alat yang ingin kami buat ini.
Setelah beberapa lama, akhirnya
alat nya pun jadi. Kami membuat alat untuk membuat eyeshadow, alis, dan juga
lipstick. Aku sangat merasa beruntung punya teman seperti Ali, berkat dia,
sekarang aku menjadim lebih gampang bekerja, tidak perlu gonta-tanti kuas lagi
dalam membuat eyesahdow, dan tidak perlu cape-cape lagi dalam mengukir alis.
Ali juga turut senang katanya karena aku senang. Karena alat canggih yang kami
buat ini, jad banyak orang yang berminat utnuk berkujnung ke salonku. Dan
bahkan aku bisa buka cabang di berbagai daerah.
Ali mengajak aku kesebuah tempat, tempat nya
cantik, di tepi danau.
“Ali
terimakasih banyak ya, kamu udah bantu aku banyak banget, aku gabakal bisa
nyampe dititik ini kalo ga kamu bantu selama ini,” ujar ku kepada Ali.
“Sama-sama Rin. aku ikut seneng
kalo kamu juga seneng,” balasnya sembari tersenyum
Kami menikmati pemandangan danau
yang indah, lalu Ali berkata:
“Emm…. Rin .”
“Iiya? Kenapa
li.?”
“Selama ini kan kita selalu
ngabisin waktu berdua, ketawa bareng, pusing bareng, cape bareng, banyak deh
pokonya. Aku mau jujur sama kamu, Cuma aku ga berani bilanya.”
“Apa li? Bilang aja kali.”
“Aku suka sama kamu, udahh sedari
dulu, waktu kita masih sekolah di biarawati. Kamu mu ga jadi pacar aku?”
“Emm..”
“Kenapa rin? kamu gamau ya?
Gapapa kok.”
“Emm… ga li.”
“Ooh yaudah deh gpp.”
“Gabisa nolak
maksut nya, hahah...”
“Dasar ya kamuu ririiin!!!”
Kemudian kami pacarannya ga lama
6 bulan kami berpacran kami memutuskan untuk menuju ke tingkat hubungan yang
lebih serius. Yaitu menikah. Keluarga kami sudah sama-sama setuju. Kami pun
melangsungkan pernikahan. Kami dikaruniai anak dan keluarga kami hidup dengan
bahagia.
Waktu terus berlalu. Emosi dan
perasaan datang dan pergi silih berganti. Seperti bulan dan matahari. Siang dan
malam. Semua yang ada didunia ini berjalan secara alami. Mengikuti naluri.
Maka, satukanlah hidup-mu dengan irama
alam. Seperti matahari yang tak pernah memaksa untuk menerangi malam.
Atau bulan yang selalu ingin jadi purnama setiap hari. Semuanya harus selaras.
Seperti alam yang menyesuaikan diri dengan penuh kesabaran, namun meyakinkan.
Ibarat permainan puzzle, tiap detail dari aspek hidup pelan-pelan melengkapi
seiring dengan berjalannya waktu
*** TAMAT***
Penulis adalah siswa SMA Negeri
1 Purba
Editor:
Ruth Aurel Saragih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar