karya : Tita Princesva Damanik
Hari yang cerah menyambut hari bahagiaku hari ini. Diselimuti embun pagi dan kehangatan dari mentari yang sangat menawan. Bagiku, sekolah adalah tempat ternyaman setelah rumah. Selain mendapat teman yang ceria, aku juga bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan seseorang yang berhasil mengisi kekosongan di hati kecilku. Parasnya yang menawan, hatinya yang baik, dan rasa nyaman setiap kali aku berbicara dengannya. Mungkin itu adalah alasan mengapa aku memiliki perasaan yang lebih kepada dirinya.
Sebelumnya kami pernah
bersahabat. Namun, dengan perasaannya yang tepat tapi tumbuh di waktu yang
salah membuat persahabatan kami rentang dan akhirnya asing beberapa bulan.
Seiring berjalannya waktu, perasaan yang dia miliki mulai hilang dan disisi
lain aku mulai menyukainya hingga sekarang. Menyukai hal kecil yang dia lakukan
dan menyukai semua yang ada pada dirinya. Tetapi apa boleh buat aku hanya bisa
menyembunyikan perasaanku di balik kata persahabatan kami berdua saat ini.
Keberadaannya yang memberi ketenangan dan suaranya yang memberi kenyamanan, aku
selalu berfikir entah sampai kapan aku akan berada di posisi yang sama sekali
tidak berkembang dimana aku tidak berani mengutarakan yang sebenarnya.
Siang itu Lovania, Givano dan teman-temannya yang lain sedang melakukan
latihan pelayanan untuk di Gereja hari minggu. Setelah latihan, Lovania dan
Givano duduk bersampingan.
Disaat Givano dan Lovania
sedang duduk bersampingan, Lovania tiba tiba tertidur di sandaran bahu Givano
karena kecape'an latihan untuk pelayanan. Kepala Lovania hendak terjatuh,
Givano langsung membaguskan senderannya untuk Lovania, dan Givano mengelus-elus
kepalanya. Teman-teman yang lain ingin pulang, namun Lovania masih tertidur di
senderan bahu Givano.
"Vano
kami pulang duluan ya, udah lapar juga," ujar salah satu temannya.
"Mending kita makan dulu deh, daripada
langsung pulang, sekalian istirahat juga bentar."
"Iya juga ya, tapi kita makan
dimana?"
"Gimana kalau kita makan di rumah
makan dekat rumah Lovania aja?"
"Nah iya nih, biar lebih dekat
juga."
"Yaudah kalian duluan aja ya, nanti
aku sama Vania nyusul. Soalnya dia masih tidur."
"Oke. Sampai jumpa disana ya."
"Iya, hati-hati."
"Asiap haha..."
Teman-teman yang lain pun pergi ke rumah makan dekat rumah Lovania.
Sementara itu, Givano dan Vania masih tetap di gereja. Karena Givano sungkan
untuk membanguni Lovania yang sedang tertidur.
Setengah jam kemudian Lovania terbangun, dan masih melihat dirinya
yang tersender di bahu Givano.
"Eh...maaf ya Vano, aku tertidur.
Teman-teman yang lain mana?"
"Iya gakpapa. Mereka lagi makan
dirumah makan dekat rumahmu."
"Trus kita gimana?"
"Kita susul mereka, tadi udah aku
bilang kita akan segera nyusul."
"Owh yaudah ayok."
"Ayok, kamu gak ngantuk lagikan
haha..."
"Ihhh... apaansih jangan ngejek deh,
malu tau."
"Haha...yaudah ayok, nanti mereka
keburu pulang."
"Dengan senang hati Pak Givano."
Lovania dan Givano tiba di rumah makan yang tidak jauh dari rumah
Lovania. Dan mereka ikut bergabung makan dengan teman-teman. Dan seperti yang kami lihat, cuaca siang itu gerimis bercampur sinar matahari
yang membuat kita lebih mudah jatuh sakit. Selesai makan kami berniat untuk
pulang. Namun, Givano menahanku agar tidak pulang dulu dan menyuruh teman teman
yang lain lebih dulu untuk pulang.
"Vania..,"panggil Givano yang
lagi fokus ke videonya.
"Hmm...,"Aku menyahut tanpa menoleh ke arah Givano.
"Aldara hari ini ulang tahun dan aku diundang untuk
menghadiri pesta ulang tahunnya. Kamu diundang gak?"
"Iya, aku juga diundang emang kenapa
tumben nanya gituan."
"Gimana kalau kita pergi sama?"
"Boleh juga tapi cuaca hari ini tidak
mendukung."
"Kita tunggu aja kali siapa tau
hujannya reda."
"Iya, daripada kita lanjut hujan hujan
gini nanti malah sakit lagi."
"Iya juga sih."
Mendengar ajakan Givano, Aku merasa senang karena bisa bersama Givano
yang setelah sekian lama Aku menunggu moment kekginian. Namun, sayangnya cuaca
siang ini tidak bagus dimana gerimis datang ditambah lagi dengan cahaya
matahari membuat keadaan semakin sulit untuk dijalani.
"Gimana jadi gak nih? hujannya gak
reda reda mulu daritadi," ujarku kepada Givano.
"Kita tunggu aja sebentar lagi
siapatau hujannya reda."
"Yaudah sih aku ngikut aja."
Jam menunjukkan pukul 16.45, Lovania bisa memastikan bahwa mereka
tidak jadi pergi. Karena cuaca masih saja belum membaik. Lovania hanya bisa
pasrah dan semua angan angannya tentang hari itu juga hancur begitu saja.
"Vano, keknya kita gak usah pergi lagi
deh, cuacanya aja masih tetap gini."
"Menurutku juga gak usah pergi lagi,
ini juga udah terlalu sore, gak baik juga buat cewek keluar se-sore ini."
"Tapi gakpapakan kita gak jadi pergi.
Lagipula masih bisa tahun depankan buat ngehadirin itu", ucapku sambil tertawa kecil.
"Iya kalau diundang kalau enggak
gimana," ujar Givano tertawa.
"Ya pasti diundanglah masa gak
diundang. Kalau dia gak ngundang kita, kita demo'in tuh rumahnya si
Aldara."
"Haha... Bisa aja kamu Vania."
"Ehh...jangan lupa kabarin Aldara
kalau kita gak jadi datang, nanti dia nunggu-nunggu kita lagi."
"Iya juga ya, bentar aku kabarin
dulu."
"Iya Iya."
"Yaudah ayok aku antar kamu pulang, nanti
kelamaan."
"Dengan senang hati Pak Givano
haha..."
Setelah Givano mengabari Aldara, Givano mengantarku pulang.
Diperjalanan menuju rumahku, aku tidak begitu sering berbincang dengan Givano.
Aku selalu merasa sungkan jika akan mengajaknya berbincang dan selalu berfikir
dia akan merasa risih denganku. Namun diperjalanan, dalam hatiku berkata,
"Hai kamu, sebenarnya selama ini aku
menyimpan rasa padamu, tapi aku cuman bisa tersenyum saat kamu cerita tentang
seseorang yang kamu cintai. Aku terluka, aku sadar, meski aku mencintaimu,
kenyataannya yang kamu cintai bukanlah aku"
Sebelum sampai dirumah Lovania, tiba-tiba Givano bertanya,
"Vania, kok akhir-akhir ini kamu kek
ngediamin aku ya?"
"Enggak kok, kamu pikirannya lain-lain
mulu deh."
"Masa iya sih? Atau hanya perasaanku
aja ya?"
"Iya, itu perasaanmu aja kok. Ngapain
juga aku ngediamin kamu tanpa sebab."
"Kirain kamu ngediamin soalnya kek
aneh gitu."
"Udah jangan mikir yang
lain-lain."
"Siap kak Vania..."
Beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah Lovania.
"Makasih ya Vano, udah ngantarin aku.
Lain kali gitu dong baik sama cewek."
"Kalau gak dianterin kamu nanti
di culik om-om jalanan lagi, kan
gawat," ujar Givano tertawa.
"Aku kan bisa jaga diri Pak, aku tuh
gak selemah yang dipikiran anda tau."
"Udh gih buruan masuk, anak cewek
kerjaan rumah banyak haha..."
"Iya iyaa nanti aku kerjain tunggu
kamu pulang dulu, kamu pikir aku pemalas apa."
"Iya Vania iya bercanda kok, gak usah
marah. Udh masuk buruan."
"Harusnya kamu duluan yang pulang baru
aku masuk. Masa iya aku tinggal masuk gitu aja, nanti kamu ngira aku orang gak
tau terimakasih lagi."
"Iya deh iya. Aku pulang dulu ya
Vania.... Sampai jumpa besok di sekolah"
"Iya sekali lagi makasih ya udah
nganterin. Benar-benar sahabat cowok saya paling baik."
"Sama sama. Udh nih gak ada lagikan
yang mau di omongin, gak pulang-pulang nih aku daritadi. Kamunya kebanyakan
topik, bilang makasih mulu."
"Iya iya maaf. Hati hati ya kabarin
kalau udah nyampe."
"Siap kak Vania...sampai jumpa
besok."
"Haha...iya iya."
Givano pulang kerumah, Aku juga masuk ke dalam rumah dan langsung
menuju kamar. Aku merasa senang karena bisa ngobrol sekaligus barengan pulang
dengan Givano. Walau hanya sebentar, namun hatiku merasa senang. Karena
jarang-jarang kami ngobrol beginian. Meskipun gak jadi ke acara Aldara, Aku
tetap senang untuk hari itu.
Sesampainya dirumah Givano menelepon Lovania. Memberitahu bahwasanya
Givano udah nyampe di rumah.
"Halo Van, aku udah nyampe rumah ya."
"Baguslah. Masih keadaan sehat kan
haha..."
"Iya masihlah, astaga Vania....."
"Siapatau kan."
"Ehh Vania, ada yang mau aku ceritain,
bisa gak?"
"Yaudah cerita aja, apasih yang enggak
buat kamu", ucapku sambil tertawa kecil.
"Yakan siapatau gak bisa."
"Udah cepet cerita."
"Tapi janji ya, ini RAHASIA gak boleh ada
yang tau selain kita."
"Iya Pak iya janji."
"Sebenarnya aku udah lama mengagumi
Aldara, Vania."
"Shitt...Kenapa baru cerita sekarang.
Kalau tau tadi suka, aku paksain tuh kita pergi ke acara ultahnya dia",
ucapku yang kaget langsung memotong
perkataan Givano.
"Masalahnya tadi teman-temankan banyak
makanya gak aku ceritain tadi, nunggu waktu yang tepat."
"Kamu mengagumi dia dalam hal
apa?"
"Ya aku mengaguminya. Dia baik, dengan
parasnya yang menawan, tutur katanya yang sopan. Itu yang membuatku mengaguminya."
"Jika kamu memang menyukai dia dengan
tulus, menurutku ungkapin aja deh. Bilang sejujurnya sama dia, gak baik mendam
perasaan terlalu lama."
"Nah ini dia masalahnya Vania, aku
takut dia risih."
"Hei..tetap percaya diri, jangan mikir
yang negatifnya dulu dong. Apa salahnya jika di coba, ayolah aku mendukungmu.
Nanti keburu diambil orang loh."
"Tapi Vania...Aku takut dia
risih."
"Masa iya cowok mentalnya lemah,
tunjukin dong kalau emang lakik", ucapku tertawa gurau.
"Aku gak terima ya dibilang lemah."
"Yaudah makanya bukti'in dong jangan
takut mulu."
"Huhfff... Aku akan mencobanya tapi
tetap dukung aku ya Vania."
"Iya aku dukung kok. Semangat buat
dapatin Aldara haha..."
"Makasih ya Vania udah mau dengerin
aku, rasanya agak lega karena udah cerita dulu sama kamu sebelum sama
dia."
"Iya sama sama. Kalau udah kabarin ya
pengen tau gimana respon Aldara."
"Udah dulu ya Vania, mau ngumpulin
mental dulu buat ngomong sama dia", ucap Givano bercanda.
" Iya iya semangat Pak Givano
haha..."
"Iya. Sampai jumpa besok di sekolah
ya, Syalom."
"Iya syalom."
Mendengar perkataan Givano tadi, seketika hatiku terpuruk. Aku yang
telah lama menyukainya hanya bisa memendamnya tanpa memberitahu. Dimana jika
aku mengungkapkannya pasti akan merusak pertemanan kami, dan aku tidak ingin
hal itu terjadi. Berteman dengannya saja sudah lebih dari cukup.Hal itu juga
yang membuat bahagiaku semakin bertambah.
Tapi aku sadar aku bukan siapa-siapanya, dia berhak memilih
bahagianya sendiri. Mungkin bahagianya bukan denganku, bukan hanya mungkin sih
tapi memang tidak denganku. Tapi gakpapa
mengaguminya dalam diam adalah hal yang menyenangkan menurutku. Walaupun gak
terbalaskan, tapi aku udah senang kok berteman dengannya. Mungkin kalau meminta
lebih itu tidak akan terjadi, aku juga tidak mau lebih dari itu. Jangankan aku,
apalagi dia ya kan.
Tiga puluh menit kemudian Givano menelepon Lovania.
"Vania... Ada kabar baik."
"Kabar baik apa."
"Aku diterima Aldara Vania...aku
diterima Aldara...", ucap Givano dengan hati senang.
"Wahh, Bagus dong.. selamat ya Vano.
Jaga Aldara baik-baik jangan disakitin. Awas aja kalau Aldara cerita sama aku
dia sakit hati gegara kamu bakal aku sate kamu", ucapku bercanda gurau.
"Haha...iya Vania iya gak bakalan aku
sakitin kok, pasti aku jaga dengan baik. Karna udah lama ni perasaan timbul
sama dia."
"Nah makanya itu jangan
disakitin."
"Tapi terimakasih banyak loh atas
bantuan dan dukungannya, mungkin kalau kamu gak ngasih saran sama dukungan,
pasti aku gak bakalan bisa dapetin dia."
"Iya sama-sama Vano."
"Tapi kamu kapan nih, emang gak ada
yang kagumi gitu?"
"Aku? Mengagumi orang ? Haha... "
"Ini serius Vania... Gak bercanda.
Emang gak ada cowok yang kamu kagumi, masa iya sih?"
"Iya ada sih tapi ya itu.."
"Itu apa...jangan nanggung-nanggung
kalau cerita." ucap Givano sedikit kesal.
"Kepo yah. Mau tau atau mau tau bangat
haha..."
"Cepetan cerita Vania jangan buat
orang emosi deh makin kepo ini."
"Haha.. Iya iya. Sebenarnya ada sih
tapi gak akan bisa dimilikin."
"Lah kok gitu emang udah nyoba bilangin
ke dia?"
"Woi.. Aku tuh cewek malu tau kalau
aku yang duluan bilang suka."
"Apa maluan coba. Namanya juga
perasaan Vania gak mandang siapa duluan yang mengungkapkan."
"Udahlah gak usah dibahas intinya dia
gak bisa dimilikin."
"Kok langsung nyerah, semangatnya
mana? hilang ya, atau belum di semangatin sama dia," ucap Givano membuat
Aku sedkiti kesal.
"Udah deh jangan bikin aku
emosi."
"Lovania..hayolah, kamu yang bilang
sama aku mendam perasaan tuh gak baik, ini kok malah kamu yang mendam."
"Ya gimana lagipula dia udah punya
cewek nanti kalau diungkapin malah merusak lagi. Jadi udah biarin aja gini
sampai ini perasaan hilang sendiri."
"Eumm yaudah sih terserah kamu, udah
dibilangin juga."
"Udah gakpapa kok palingan tiga hari
atau satu minggu lagi ini perasaan bakalan hilang dari dia."
"Huhhff yaudah deh kalo gak mau
cerita, sekali lagi makasih ya Vania."
"Daritadi bilang makasih mulu. Udah
lah, sekarang mati'in telfonnya mending sama Aldara aja nanti dia nyari-nyari
lagi."
"Haha...bisa aja kamu Vania. Yaudah
iya, aku mati'in ya telfonnya. Syalom."
"Iya Syalom."
Givano mematikan telfonnya dan kembali kepada Aldara. Namun
Lovania, dia sedang menahan luka. Dia yang hanya memendam perasaannya
sendiri tanpa sepengetahuan Givano. Tapi dengan mengagumi Givano dalam diam dia
tetap merasa senang meski perasaannya tidak terbalaskan.
Hari-hari kulalui dengan melihat mereka tertawa bersama-sama. Namun,
aku sendiri menahan luka. Hari-hariku hanya disemangati oleh sahabat kecilku
dulu. Dia yang selalu memberikan aku motivasi agar aku bisa move on dari
Givano. Namun hal itu percuma, tentu saja kita akan semakin susah move on jika
satu sekolah dengan orang yang kita sukai bukan? Apalagi yang bahkan hampir setiap hari eye
contact.
Berbulan bulan aku bahkan masih menyimpan perasaanku terhadap
Givano. Tapi, aku mulai menata hatiku, memperbaiki perasaanku terhadap dia,
mulai mengiklaskan dia dengan Aldara temanku sendiri dan mulai menerima
kenyataan bahwa kami tidak akan bisa bersama. Dan ya, hatiku memang berhasil mengikhlaskannya.
Namun, mata dan pikiranku tetap masih tertuju padanya.
Aku gak tau sampai kapan aku harus menyimpan perasaanku ini terhadap
dia. Yang intinya "aku akan tetap mengagumimu walaupun kamu bukan
milikku". Memang salah apa yang kukatakan itu, namun aku hanya bisa
mengagumimu dari jauh dan dengan diam.
Aku titipkan kamu pada penciptamu, mungkin aku tak pantas untukmu,
mungkin kau pantas dapat yang lebih baik. Tenang, aku disini selalu mengalah
untuk kebaikanmu. Semoga Tuhan menjaga setiap langkahmu, menjauhkanmu dari
apa-apa yang merapuhkanmu dan menguatkan pundakmu yang memikul banyak beban
itu.
Sembunyi dalam senyum...adalah hal yang selalu aku lakukan setiap
aku mengingatmu dan setiap aku melihatmu bersamanya yang bahkan itu adalah
temanku sendiri. Entah sampai kapan aku sakit kerap kali mengingatmu. Tapi apa
boleh buat, Jika Tidak DenganMu Maka Tidak Dengan Yang Lain.
Editor: Adelia Evi Vani Sidauruk
Penulis: Siswa SMA N 1 PURBA 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar