Kamis, 20 Oktober 2022

Sembunyi Dalam Senyum


                                                        karya : Tita Princesva Damanik 

       Hari yang cerah menyambut hari bahagiaku hari ini. Diselimuti embun pagi dan kehangatan dari mentari yang sangat menawan. Bagiku, sekolah adalah tempat ternyaman setelah rumah. Selain mendapat teman yang ceria, aku juga bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan seseorang yang berhasil mengisi kekosongan di hati kecilku. Parasnya yang menawan, hatinya yang baik, dan rasa nyaman setiap kali aku berbicara dengannya. Mungkin itu adalah alasan mengapa aku memiliki perasaan yang lebih kepada dirinya.

             Sebelumnya kami  pernah bersahabat. Namun, dengan perasaannya yang tepat tapi tumbuh di waktu yang salah membuat persahabatan kami rentang dan akhirnya asing beberapa bulan. Seiring berjalannya waktu, perasaan yang dia miliki mulai hilang dan disisi lain aku mulai menyukainya hingga sekarang. Menyukai hal kecil yang dia lakukan dan menyukai semua yang ada pada dirinya. Tetapi apa boleh buat aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku di balik kata persahabatan kami berdua saat ini. Keberadaannya yang memberi ketenangan dan suaranya yang memberi kenyamanan, aku selalu berfikir entah sampai kapan aku akan berada di posisi yang sama sekali tidak berkembang dimana aku tidak berani mengutarakan yang sebenarnya.

        Siang itu Lovania, Givano dan teman-temannya yang lain sedang melakukan latihan pelayanan untuk di Gereja hari minggu. Setelah latihan, Lovania dan Givano duduk bersampingan.

 Disaat Givano dan Lovania sedang duduk bersampingan, Lovania tiba tiba tertidur di sandaran bahu Givano karena kecape'an latihan untuk pelayanan. Kepala Lovania hendak terjatuh, Givano langsung membaguskan senderannya untuk Lovania, dan Givano mengelus-elus kepalanya. Teman-teman yang lain ingin pulang, namun Lovania masih tertidur di senderan bahu Givano.

"Vano  kami pulang duluan ya, udah lapar juga," ujar salah satu temannya.

"Mending kita makan dulu deh, daripada langsung pulang, sekalian istirahat juga bentar."

"Iya juga ya, tapi kita makan dimana?"

"Gimana kalau kita makan di rumah makan dekat rumah Lovania aja?"

"Nah iya nih, biar lebih dekat juga."

"Yaudah kalian duluan aja ya, nanti aku sama Vania nyusul. Soalnya dia masih tidur."

"Oke. Sampai jumpa disana ya."

"Iya, hati-hati."

"Asiap haha..."

Teman-teman yang lain pun pergi ke rumah makan dekat rumah Lovania. Sementara itu, Givano dan Vania masih tetap di gereja. Karena Givano sungkan untuk membanguni Lovania yang sedang tertidur.

Setengah jam kemudian Lovania terbangun, dan masih melihat dirinya yang tersender di bahu Givano.

"Eh...maaf ya Vano, aku tertidur. Teman-teman yang lain mana?"

"Iya gakpapa. Mereka lagi makan dirumah makan dekat rumahmu."

"Trus kita gimana?"

"Kita susul mereka, tadi udah aku bilang kita akan segera nyusul."

"Owh yaudah ayok."

"Ayok, kamu gak ngantuk lagikan haha..."

"Ihhh... apaansih jangan ngejek deh, malu tau."

"Haha...yaudah ayok, nanti mereka keburu pulang."

"Dengan senang hati Pak Givano."

Lovania dan Givano tiba di rumah makan yang tidak jauh dari rumah Lovania. Dan mereka ikut bergabung makan dengan teman-teman.  Dan seperti yang kami lihat, cuaca  siang itu gerimis bercampur sinar matahari yang membuat kita lebih mudah jatuh sakit. Selesai makan kami berniat untuk pulang. Namun, Givano menahanku agar tidak pulang dulu dan menyuruh teman teman yang lain lebih dulu untuk pulang.

"Vania..,"panggil Givano yang lagi fokus ke videonya.

"Hmm...,"Aku  menyahut tanpa menoleh ke arah Givano.

"Aldara  hari ini ulang tahun dan aku diundang untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Kamu diundang gak?"

"Iya, aku juga diundang emang kenapa tumben nanya gituan."

"Gimana kalau kita pergi sama?"

"Boleh juga tapi cuaca hari ini tidak mendukung."

"Kita tunggu aja kali siapa tau hujannya reda."

"Iya, daripada kita lanjut hujan hujan gini nanti malah sakit lagi."

"Iya juga sih."

         Mendengar ajakan Givano, Aku merasa senang karena bisa bersama Givano yang setelah sekian lama Aku menunggu moment kekginian. Namun, sayangnya cuaca siang ini tidak bagus dimana gerimis datang ditambah lagi dengan cahaya matahari membuat keadaan semakin sulit untuk dijalani.

"Gimana jadi gak nih? hujannya gak reda reda mulu daritadi," ujarku kepada Givano.

"Kita tunggu aja sebentar lagi siapatau hujannya reda."

"Yaudah sih aku ngikut aja."

Jam menunjukkan pukul 16.45, Lovania bisa memastikan bahwa mereka tidak jadi pergi. Karena cuaca masih saja belum membaik. Lovania hanya bisa pasrah dan semua angan angannya tentang hari itu juga hancur begitu saja.

"Vano, keknya kita gak usah pergi lagi deh, cuacanya aja masih tetap gini."

"Menurutku juga gak usah pergi lagi, ini juga udah terlalu sore, gak baik juga buat cewek keluar se-sore ini."

"Tapi gakpapakan kita gak jadi pergi. Lagipula masih bisa tahun depankan buat ngehadirin itu", ucapku  sambil tertawa kecil.

"Iya kalau diundang kalau enggak gimana," ujar Givano tertawa.

"Ya pasti diundanglah masa gak diundang. Kalau dia gak ngundang kita, kita demo'in tuh rumahnya si Aldara."

"Haha... Bisa aja kamu Vania."

"Ehh...jangan lupa kabarin Aldara kalau kita gak jadi datang, nanti dia nunggu-nunggu kita lagi."

"Iya juga ya, bentar aku kabarin dulu."

"Iya Iya."

"Yaudah ayok aku antar kamu pulang, nanti kelamaan."

"Dengan senang hati Pak Givano haha..."

Setelah Givano mengabari Aldara, Givano mengantarku pulang. Diperjalanan menuju rumahku, aku tidak begitu sering berbincang dengan Givano. Aku selalu merasa sungkan jika akan mengajaknya berbincang dan selalu berfikir dia akan merasa risih denganku. Namun diperjalanan, dalam hatiku berkata,

"Hai kamu, sebenarnya selama ini aku menyimpan rasa padamu, tapi aku cuman bisa tersenyum saat kamu cerita tentang seseorang yang kamu cintai. Aku terluka, aku sadar, meski aku mencintaimu, kenyataannya yang kamu cintai bukanlah aku"

Sebelum sampai dirumah Lovania, tiba-tiba Givano bertanya,

"Vania, kok akhir-akhir ini kamu kek ngediamin aku ya?"

"Enggak kok, kamu pikirannya lain-lain mulu deh."

"Masa iya sih? Atau hanya perasaanku aja ya?"

"Iya, itu perasaanmu aja kok. Ngapain juga aku ngediamin kamu tanpa sebab."

"Kirain kamu ngediamin soalnya kek aneh gitu."

"Udah jangan mikir yang lain-lain."

"Siap kak Vania..."

Beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah Lovania.

"Makasih ya Vano, udah ngantarin aku. Lain kali gitu dong baik sama cewek."

"Kalau gak dianterin kamu nanti di  culik om-om jalanan lagi, kan gawat," ujar Givano tertawa.

"Aku kan bisa jaga diri Pak, aku tuh gak selemah yang dipikiran anda tau."

"Udh gih buruan masuk, anak cewek kerjaan rumah banyak haha..."

"Iya iyaa nanti aku kerjain tunggu kamu pulang dulu, kamu pikir aku pemalas apa."

"Iya Vania iya bercanda kok, gak usah marah. Udh masuk buruan."

"Harusnya kamu duluan yang pulang baru aku masuk. Masa iya aku tinggal masuk gitu aja, nanti kamu ngira aku orang gak tau terimakasih lagi."

"Iya deh iya. Aku pulang dulu ya Vania.... Sampai jumpa besok di sekolah"

"Iya sekali lagi makasih ya udah nganterin. Benar-benar sahabat cowok saya paling baik."

"Sama sama. Udh nih gak ada lagikan yang mau di omongin, gak pulang-pulang nih aku daritadi. Kamunya kebanyakan topik, bilang makasih mulu."

"Iya iya maaf. Hati hati ya kabarin kalau udah nyampe."

"Siap kak Vania...sampai jumpa besok."

"Haha...iya iya."

Givano pulang kerumah, Aku juga masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar. Aku merasa senang karena bisa ngobrol sekaligus barengan pulang dengan Givano. Walau hanya sebentar, namun hatiku merasa senang. Karena jarang-jarang kami ngobrol beginian. Meskipun gak jadi ke acara Aldara, Aku tetap senang untuk hari itu.

Sesampainya dirumah Givano menelepon Lovania. Memberitahu bahwasanya Givano udah nyampe di rumah.

"Halo Van,  aku udah nyampe rumah ya."

"Baguslah. Masih keadaan sehat kan haha..."

"Iya masihlah, astaga Vania....."

"Siapatau kan."

"Ehh Vania, ada yang mau aku ceritain, bisa gak?"

"Yaudah cerita aja, apasih yang enggak buat kamu", ucapku sambil tertawa kecil.

"Yakan siapatau gak bisa."

"Udah cepet cerita."

"Tapi janji ya, ini RAHASIA gak boleh ada yang tau selain kita."

"Iya Pak iya janji."

"Sebenarnya aku udah lama mengagumi Aldara, Vania."

"Shitt...Kenapa baru cerita sekarang. Kalau tau tadi suka, aku paksain tuh kita pergi ke acara ultahnya dia", ucapku  yang kaget langsung memotong perkataan Givano.

"Masalahnya tadi teman-temankan banyak makanya gak aku ceritain tadi, nunggu waktu yang tepat."

"Kamu mengagumi dia dalam hal apa?"

"Ya aku mengaguminya. Dia baik, dengan parasnya yang menawan, tutur katanya yang sopan. Itu yang membuatku mengaguminya."

"Jika kamu memang menyukai dia dengan tulus, menurutku ungkapin aja deh. Bilang sejujurnya sama dia, gak baik mendam perasaan terlalu lama."

"Nah ini dia masalahnya Vania, aku takut dia risih."

"Hei..tetap percaya diri, jangan mikir yang negatifnya dulu dong. Apa salahnya jika di coba, ayolah aku mendukungmu. Nanti keburu diambil orang loh."

"Tapi Vania...Aku takut dia risih."

"Masa iya cowok mentalnya lemah, tunjukin dong kalau emang lakik", ucapku tertawa gurau.

"Aku gak terima ya dibilang lemah."

"Yaudah makanya bukti'in dong jangan takut mulu."

"Huhfff... Aku akan mencobanya tapi tetap dukung aku ya Vania."

"Iya aku dukung kok. Semangat buat dapatin Aldara haha..."

"Makasih ya Vania udah mau dengerin aku, rasanya agak lega karena udah cerita dulu sama kamu sebelum sama dia."

"Iya sama sama. Kalau udah kabarin ya pengen tau gimana respon Aldara."

"Udah dulu ya Vania, mau ngumpulin mental dulu buat ngomong sama dia", ucap Givano bercanda.

" Iya iya semangat Pak Givano haha..."

"Iya. Sampai jumpa besok di sekolah ya, Syalom."

"Iya syalom."

Mendengar perkataan Givano tadi, seketika hatiku terpuruk. Aku yang telah lama menyukainya hanya bisa memendamnya tanpa memberitahu. Dimana jika aku mengungkapkannya pasti akan merusak pertemanan kami, dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Berteman dengannya saja sudah lebih dari cukup.Hal itu juga yang membuat bahagiaku semakin bertambah.

Tapi aku sadar aku bukan siapa-siapanya, dia berhak memilih bahagianya sendiri. Mungkin bahagianya bukan denganku, bukan hanya mungkin sih tapi memang tidak denganku.  Tapi gakpapa mengaguminya dalam diam adalah hal yang menyenangkan menurutku. Walaupun gak terbalaskan, tapi aku udah senang kok berteman dengannya. Mungkin kalau meminta lebih itu tidak akan terjadi, aku juga tidak mau lebih dari itu. Jangankan aku, apalagi dia ya kan.

Tiga puluh menit kemudian Givano menelepon Lovania.

"Vania... Ada kabar baik."

"Kabar baik apa."

"Aku diterima Aldara Vania...aku diterima Aldara...", ucap Givano dengan hati senang.

"Wahh, Bagus dong.. selamat ya Vano. Jaga Aldara baik-baik jangan disakitin. Awas aja kalau Aldara cerita sama aku dia sakit hati gegara kamu bakal aku sate kamu", ucapku bercanda gurau.

"Haha...iya Vania iya gak bakalan aku sakitin kok, pasti aku jaga dengan baik. Karna udah lama ni perasaan timbul sama dia."

"Nah makanya itu jangan disakitin."

"Tapi terimakasih banyak loh atas bantuan dan dukungannya, mungkin kalau kamu gak ngasih saran sama dukungan, pasti aku gak bakalan bisa dapetin dia."

"Iya sama-sama Vano."

"Tapi kamu kapan nih, emang gak ada yang kagumi gitu?"

"Aku? Mengagumi orang ? Haha... "

"Ini serius Vania... Gak bercanda. Emang gak ada cowok yang kamu kagumi, masa iya sih?"

"Iya ada sih tapi ya itu.."

"Itu apa...jangan nanggung-nanggung kalau cerita." ucap Givano sedikit kesal.

"Kepo yah. Mau tau atau mau tau bangat haha..."

"Cepetan cerita Vania jangan buat orang emosi deh makin kepo ini."

"Haha.. Iya iya. Sebenarnya ada sih tapi gak akan bisa dimilikin."

"Lah kok gitu emang udah nyoba bilangin ke dia?"

"Woi.. Aku tuh cewek malu tau kalau aku yang duluan bilang suka."

"Apa maluan coba. Namanya juga perasaan Vania gak mandang siapa duluan yang mengungkapkan."

"Udahlah gak usah dibahas intinya dia gak bisa dimilikin."

"Kok langsung nyerah, semangatnya mana? hilang ya, atau belum di semangatin sama dia," ucap Givano membuat Aku sedkiti kesal.

"Udah deh jangan bikin aku emosi."

"Lovania..hayolah, kamu yang bilang sama aku mendam perasaan tuh gak baik, ini kok malah kamu yang mendam."

"Ya gimana lagipula dia udah punya cewek nanti kalau diungkapin malah merusak lagi. Jadi udah biarin aja gini sampai ini perasaan hilang sendiri."

"Eumm yaudah sih terserah kamu, udah dibilangin juga."

"Udah gakpapa kok palingan tiga hari atau satu minggu lagi ini perasaan bakalan hilang dari dia."

"Huhhff yaudah deh kalo gak mau cerita, sekali lagi makasih ya Vania."

"Daritadi bilang makasih mulu. Udah lah, sekarang mati'in telfonnya mending sama Aldara aja nanti dia nyari-nyari lagi."

"Haha...bisa aja kamu Vania. Yaudah iya, aku mati'in ya telfonnya. Syalom."

"Iya Syalom."

Givano mematikan telfonnya dan kembali kepada Aldara.  Namun  Lovania, dia sedang menahan luka. Dia yang hanya memendam perasaannya sendiri tanpa sepengetahuan Givano. Tapi dengan mengagumi Givano dalam diam dia tetap merasa senang meski perasaannya tidak terbalaskan.

 

Hari-hari kulalui dengan melihat mereka tertawa bersama-sama. Namun, aku sendiri menahan luka. Hari-hariku hanya disemangati oleh sahabat kecilku dulu. Dia yang selalu memberikan aku motivasi agar aku bisa move on dari Givano. Namun hal itu percuma, tentu saja kita akan semakin susah move on jika satu sekolah dengan orang yang kita sukai bukan?  Apalagi yang bahkan hampir setiap hari eye contact.

Berbulan bulan aku bahkan masih menyimpan perasaanku terhadap Givano. Tapi, aku mulai menata hatiku, memperbaiki perasaanku terhadap dia, mulai mengiklaskan dia dengan Aldara temanku sendiri dan mulai menerima kenyataan bahwa kami tidak akan bisa bersama. Dan ya, hatiku memang berhasil mengikhlaskannya. Namun, mata dan pikiranku tetap masih tertuju padanya.

Aku gak tau sampai kapan aku harus menyimpan perasaanku ini terhadap dia. Yang intinya "aku akan tetap mengagumimu walaupun kamu bukan milikku". Memang salah apa yang kukatakan itu, namun aku hanya bisa mengagumimu dari jauh dan dengan diam.  

Aku titipkan kamu pada penciptamu, mungkin aku tak pantas untukmu, mungkin kau pantas dapat yang lebih baik. Tenang, aku disini selalu mengalah untuk kebaikanmu. Semoga Tuhan menjaga setiap langkahmu, menjauhkanmu dari apa-apa yang merapuhkanmu dan menguatkan pundakmu yang memikul banyak beban itu.

Sembunyi dalam senyum...adalah hal yang selalu aku lakukan setiap aku mengingatmu dan setiap aku melihatmu bersamanya yang bahkan itu adalah temanku sendiri. Entah sampai kapan aku sakit kerap kali mengingatmu. Tapi apa boleh buat, Jika Tidak DenganMu Maka Tidak Dengan Yang Lain.

                                                                                                        Editor: Adelia Evi Vani Sidauruk

                                                                                                        Penulis: Siswa SMA N 1 PURBA 2022

 

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...