Sabtu, 22 Oktober 2022

Zoe dan Jelajah Waktu



Karya : Selin Simarmata

     Zoe adalah seorang gadis berparas bule yang cantik. Ia masuk golongan anak yang spesial karena punya mata biru yang indah. Di turunan keluarga nya baik dari ayah maupun ibunya tidak ada yang berdarah bule. Itu yang membuat dia spesial. Ditambah dengan alisnya yang terukir indah dan kulitnya yang putih bening.

    Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-17 yang bertepatan di liburan akhir semester,    Zoe pengen liburan ke rumah kakeknya. Dia pengen ulang tahunnya dirayakan di sana. Zoe begitu senang berada di desa kakeknya. Bagaimana tidak pemandangan di desa begitu menenangkan jiwa jauh dari riuh kicuh kehidupan di kotanya.

   Setelah menempuh perjalanan panjang Zoe pun sampai di rumah kakeknya. Ulang tahun Zoe dirayakan disana dan ia mendapat hadiah sebuah kotak dari neneknya. Rumah kakek Zoe sangat luas dengan lantai satu. Zoe memutari rumah kakeknya itu. Rumah dengan cara warna krem itu sangat bersih dan rapi. Neneknya memang seorang yang sangat pembersih dan paling anti melihat barang yang tak tersusun dengan rapi. Setiap pulang kesini, rasanya ia tidak ingin pulang. Ia merasa nyaman sekali dengan suasana rumah itu ditambah dengan barang barang antik milik kakeknya yang memanjakan mata.

   Zoe mengelilingi rumah itu. Dilihatnya sebuah ruangan dekat dapur yang hampir tak kelihatan karena tertutup lemari. Ia baru menyadari ruangan itu setelah sekian lama. Ia merasa asing dengan ruangan itu. Ia bertanya kepada kepada neneknya, “Nek ruangan yang di dekat dapur itu ruangan apa ya?”

“Ooh itu gudang. Lebih tepatnya gudang tempat barang barang kakekmu. Yaa biasalah isinya hanya barang yang gak dipakai lagi.”

Zoe penasaran dengan gudang itu dan dia pun menghampiri kakeknya. “Kek, aku penasaran dengan gudang yang ada di dekat dapur. Boleh ga kakek bukain pintunya?”

Buat apa? Disana hanya barang barang bekas dan banyak debu. Sudah lama juga kakek gak kesana bersih bersih.”

“Tapi aku pengen liat isinya kek, please janji deh ga bakal otak-atik barang kakek yang ada disana.” Bujuk Zoe.

“Yaudah kalau gitu ayo kek kita cek sama Sama sama.”

Lalu Zoe dan kakeknya pergi ke gudang.

Begitu sampai di gudang Zoe kagum sama isinya.

Loh tadi kan kakek bilang gudangnya udah lama ga dibersihkan, tapi kok gudangnya bersih bersinar gini kek?”

Mungkin Nenekmu yang membersihkannya.”

    Gudang dengan bentuk persegi itu memiliki luas 100 m² dengan isi yang dipenuhi oleh barang barang antik milik kakek Zoe.  Lukisan yang digantung dan ditata dengan rapi begitu juga dengan rak rak kayu jati yang diisi dengan berbagai pernak pernik menunjukkan bahwa ruangan itu bukanlah sebuah gudang.

“Ini mah bukan gudang, tapi museum kek!” Seru Zoe. Kakeknya hanya membalas dengan kekehan kecil. “Kamu liat liat saja dulu kakek mau keluar sebentar.” Kata kakek Zoe.

    Zoe mengamati ruangan itu sesekali dia menyentuh barang barang yang ada disana. Ia pun memutari ruangan itu. Dirasa cukup puas melihat isi gudang, Zoe pun berniat untuk keluar dari sana.

    Namun sesaat ia melangkahkan kakinya tiba tiba “Brukkkk!!!!” Terdengar suara buku jatuh begitu kuat sehingga mengagetkan Zoe. Ia pun menghampiri asal suara tersebut dan menjumpai beberapa buku sudah jatuh ke lantai.

   Ada lembaran buku yang terbuka dan nampaknya halaman yang terbuka itu adalah sebuah peta. Peta yang sangat kuno. Ditulis dengan huruf yang Zoe tak tau huruf apa tulisan di peta itu. Zoe pun ingin mengembalikan buku itu ke asal semula. Karena rak buku itu ada di rak paling atas, Zoe mengambil kursi dan mengembalikan buku itu. Namun, ia kehilangan keseimbangan dan bertumpu pada rak itu rak buku itu bergeser dan Zoe pun jatuh. Zoe melihat ada ruangan di balik lemari itu. Lalu, tiba tiba ada cahaya menyilaukan membuat Zoe menutup matanya.

   Bersamaan dengan itu cahaya tadi membawa Zoe ke dalam situasi yang sangat berbeda dengan zaman sekarang. Serasa berada di ruang hampa Zoe mencoba membuka matanya. Namun alangkah kagetnya ia karena ia sudah berada di suasana yang berbeda. Ia terduduk di bawah pohon dekat trotoar.

“Loh, kok aku ada disini. Kok aku ga tau apa yang terjadi? Aku dimana?” Tanya Zoe pada dirinya sendiri. 

Ia tidak tau dimana ia berada sekarang. Namun anehnya tak ada rasa takut dan cemas dalam dirinya. Ia mencoba berdiri. Di seberang tempat ia berada dilihatnya banyak pabrik industri dengan kecanggihan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dipandanginya sekeliling dan ia dapat menyimpulkan bahwa ia berada di masa depan. Dilihat dari bangunan bangunan begitu juga dengan orang orang yang sibuk berlalu lalang. Antara rasa takut dan gembira Zoe mencoba menikmati suasana yang ada.

Lalu datang seseorang dengan penampilan asing menghampiri Zoe. Seorang pria dengan topi hitam dengan style pakaiannya yang modis sesuai dengan zaman itu. Zoe juga melihat beberapa orang yang berlalu lalang memiliki style yang sama.

Aku tau kamu pasti dari masa lampau.”  Kata orang itu

“Namaku Adriel aku salah satu karyawan yang bekerja di dekat sana.” Ia menunjuk arah pabrik industri.

Ooh, halo. Aku Zoe. Kau tau sesuatu apa yang terjadi denganku? Aku masih bingung kenapa bisa ada disini mungkin kamu bisa menjelaskan nya padaku?”

Hal seperti ini sudah biasa. Aku tau kau dari masa lalu. Dan aku bisa kok membantu mu keluar dari sini melalui petualangan.”

“Petualangan apa?” Tanya Zoe.

“Petualangan singkat jelajah waktu.”

Adriel mengajak Zoe untuk pergi.

Yuk, kuajak berkeliling ke distrik tempat ku tinggal.”

Zoe mangangguk dan mengikuti Adriel. Mereka berjalan di trotoar menuju stasiun. Kurang lebih jaraknya 50m. Stasiun yang dilihat Zoe benar benar membuatnya kagum. Dengan desain yang modern melebihi penampakan 4.0 yang ia tau. Mereka pun naik ke atas kereta itu. Di sana Adriel menjelaskan mengenai kereta itu kepada Zoe.

Kereta ini punya kecepatan 500km/jam sedangkan jarak dari stasiun dekat rumahku hanya 70 mil. Kereta ini sudah dimodifikasi dengan gaya magnetik. Sama seperti kereta magnetic levitation namun dapat digunakan antar stasiun berdekatan. “ Ada lagi kereta yang digunakan untuk jarak jauh yaitu kereta KA-5.0 dengan kecepatan 1000km/jam. Kalau kau mau kita bisa pergi ke kota Azmos menggunakan KA-5.0.” Jelas Adriel.

Berarti kota itu jauh ya dari sini?”

Iya, tapi semua bisa menjadi perjalanan singkat dengan kereta KA-5.0.” Kata Adriel.

“Wah, luar biasa.”

 Kurang lebih 10 menit akhirnya mereka sampai di stasiun dekat distrik Adriel tinggal. Mereka meninggalkan stasiun sambil berjalan menuju distrik Adriel.

“Aku penasaran dengan kota Azmos.  Bisa kau jelaskan aku tentang kota itu?

Baiklah, kota Asmoz itu adalah sebuah pusat dari semua peradaban di zaman ini. Kalau kau lihat disini sudah sangat hebat. Kau akan lebih terpana dengan apa yang ada disana. Bangunan yang ada di zaman mu tak akan kau temui di sana. Semuanya berbeda 360°. Kau bisa melihat orang orang beterbangan dengan kuda mesin mereka masing masing. Menggunakan hologram dimana mana. Disana anak usia 14 tahun sudah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas. Mereka sudah bekerja bekerja minimal menguasai teknologi. Ku akui disana memang wow tapi tragis. Bahkan mereka sudah berperilaku seperti robot. Aku masih bersyukur bisa tinggal disini. Soalnya beban ku tak harus seberat mereka yang selalu dituntut sebagai warga yang sempurna dan selalu mengikuti arus zaman.”

Aku sih baru sekali dua kali kesana. Aku pengen berkunjung lagi, tapi biaya nya mahal. Perlu menabung gajiku berulan bulan untuk bisa kesana.” Kata Adriel sambil terkekeh.

Adriel sendiri adalah remaja berusia 17 tahun. Tapi ia sudah terjun ke dunia kerja dengan pekerjaan yang tak ringan menurut Zoe. Bayangkan saja di usianya yang masih muda ia sudah mampu bekerja di pabrik industri yang mengandalkan tekhnologi. Zoe kagum padanya.

Panjang mereka bercerita akhirnya mereka sampai di rumah Adriel. Rumah Adriel memiliki desain seperti yang umum ada disana. Pagar rumahnya terbuat dari super material. Begitu masuk ke dalam rumah, suasana sejuk langsung terasa.

Wah, pasti disini banyak AC nya ya?”

Bukan, ruangan ini terasa sejuk karena temboknya yang dibuat dari Hydroceramics. Jadi otomatis bisa menurunkan suhu sampai 6 derajat Celcius.”

“Waaah,” takjub Zoe.

Lalu, Adriel mengajak Zoe untuk makan siang. Di meja makan ternyata ada ibunya yang menyiapkan meja makan. Zoe pun dikenalkan dengan ibu Adriel. Dan Adriel menceritakan kepada ibunya mengapa ia bisa bertemu Zoe. Ibu Adriel memang sudah terbiasa dengan orang-orang dari Zaman yang berbeda yang datang ke zaman mereka. Dan itu terjadi dalam waktu yang singkat.

Kamu pasti kaget dan tak menyangka kan bisa berada di zaman ini sekarang?” Tanya ibu Adriel namanya ibu Zefanya.

Saya sendiri sudah sering melihat orang terjebak dalam jelajah waktu seperti ini. Dan biasanya mereka akan kembali ke zamannya dengan berbagai cara. Jadi, kamu ga perlu khawatir. Adriel pasti akan membantu kamu untuk keluar dari jelajah waktu ini.”

Zoe mengangguk angguk dengan perkataan ibu Zefanya. Beliau adalah orang yang baik dan mampu membuat orang nyaman. Dan akhirnya mereka pun makan malam.

Mereka kembali bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka masing masing.

Mulai besok kita akan mulai mencari jalan keluar dari sini. Jadi istirahatlah.” Kata Adriel. Zoe pun diantarkan ke kamar tamu dan ia pun istirahat.

Keesokan harinya, Adriel mengajak Zoe untuk pergi keluar.

“Kenapa harus bawa payung? Padahal kan cuacanya terang gak ada tanda mau turun hujan.” Tanya Zoe.

Cuaca sekarang lagi tak tentu. Bisa aja nanti hujan panas. Bahkan bisa aja datang badai. Hujan asam bahkan gempa. Kita harus waspada. Dua hari sebelumnya ada gempa terjadi di distrik sebelah. Padahal pusat BMKG memprediksi tidak akan terjadi gempa. Tapi nyatanya, semua bisa terjadi diluar prediksi.”

Lalu, mereka pun pergi mengunjungi Mall. Menggunakan kereta bawah tanah, akhirnya mereka sampai di mall. Pusat perbelanjaan yang begitu unik dengan kecanggihan yang ada. Kita tak perlu capek-capek mengitari mall untuk mencari barang yang kita inginkan. Cukup buat whistlist dan semua nya akan tersedia dan tinggal bayar dengan uang elektronik.

Sambil menunggu belanjaan mereka siap di packing, mereka memutari mall sembari melihat apa saja yang ada disana. Ada yang mengadakan pertunjukan bakat dance. Zoe melihat gerakan dance yang begitu cepat dan sulit untuk di pahami gerakannya. Mereka melakukan gerakan dengan begitu lincah tanpa nampak kelelahan. “Gerakan yang benar benar diluar nalar.” Kata Zoe. Ya, Zoe memang menyukai dance.

Yayaya kira kira begitulah gerakan dance masa depan.” Kata Adriel sambil tertawa kecil.

Mungkin kalau aku yang melakukannya aku bakal encok kali ya. Sumpah mereka keren banget wah gila parah. Gerakan mereka  out of the box banget. Bisa tidak yaa aku  belajar dari mereka. Dan pas pulang nanti aku bisa nunjukin gerakan baru yang kupelajari dari sini haha.”

“Boleh aja. Yuk kesana.” Ajak Adriel. Zoe pun diajak dance bersama oleh kelompok dance tadi dan Zoe mempelajari beberapa gerakan dance.

Fiuhh, aktif banget. Sampe keringat begini hahaha.” Kata Zoe.

Lalu mereka makan di salah satu restoran di mall. Service-nya juga sudah berbasis teknologi. Ada robot otomatis yang menyajikan makanan kepada pelanggan.

“Waah.”

Setelah makan mereka menuju wahana bermain. Disana Zoe dan Adriel bermain mobil terbang. Zoe merasakan betapa asyiknya bermain disana.

Selanjutnya, mereka pergi ke sebuah danau di pinggir kota. Satu satunya danau yang menjadi destinasi andalan disana. Pemandangan danau dipadukan dengan rumput hijau disekelilingnya membuat Zoe nyaman duduk di sana. Zoe meminta ponsel Adriel sambil mencari lagu kesukaannya. Adriel yang merasa asing dengan lagu itu langsung berkata

Selera musik yang aneh.” Ejek Adriel

 Zoe langsung menjawab Adriel.

Yeuu lebih aneh lagi selera musik kalian.” Nyanyi serasa nahan napas. Apa apaan lagu seperti itu,” balas Zoe. Adriel hanya terkekeh.

Hening sejenak, lalu Zoe membuka suara, “aku masih bisa kan kembali ke zaman ku? Walaupun aku merasa zaman ini adalah zaman impian, tapi tetap saja aku ingin kembali ke masa ku. Bagaimana caranya aku bisa kembali?”

Sebelum ke sini, apa kamu ingat bagaimana caranya agar bisa sampai disini?”

Aku tak tau persis kejadiannya. Tapi yang ku tau aku terjatuh dari kursi saat hendak memulangkan buku yang jatuh di lantai. Dan tanpa aku sadari aku tiba tiba berada dalam suasana yang beda.”

Adriel mengangguk mendengar penjelasan Zoe. “Tapi orang orang yang pernah datang ke sini sebelumnya, mereka hanya berkeliling kota dan mencari yang namanya box of time. Itu adalah cara mereka kembali. Setelah menemukan itu mereka pun langsung hilang dibawa oleh box itu. Dan mungkin kita juga harus melakukan hal yang sama agar kamu bisa kembali.” Kata Adriel.

“Semoga saja.”

Lalu setelah dari danau, mereka menuju stasiun bawah tanah untuk pulang ke rumah. Di perjalanan menuju stasiun, tiba tiba hujan lebat turun padahal baru saja matahari bersinar.  Benar saja, cuacanya gak tentu.

Hari selanjutnya mereka mencoba mencari petunjuk apapun untuk menemukan box  sesuai yang direncanakan. Pertama mereka menuju danau untuk berdiskusi kemana mereka akan pergi. Tujuan mereka adalah ke sekolah Rose Wild. Karena sebelumnya disana ada orang yang menemukan box waktu.

Mereka naik kereta kesana. Tapi saat turun dari kereta, Zoe melihat cahaya warna biru. Zoe mencoba menghampiri cahaya itu begitu juga dengan Adriel. Cahaya itu membawa mereka ke sebuah bangunan tua yang ada di tengah kota.

“Hmm mungkin saja disini aja petunjuk. Ayo masuk.”

Bangunan itu begitu tua dan tak terawat. Zoe bergidik ngeri membayangkan hal horor yang mungkin saja bisa terjadi.

Udah, gak perlu takut. Sekarang ayo kita telusuri apa yang ada disini. Mungkin saja box itu berwarna biru sesuai dengan cahaya tadi. Jadi fokus dengan benda berwarna biru saja.” Kata Adriel.

Okey.” Mereka pun mencari segala sesuatu yang berwarna biru. Namun tak ada satupun barang apalagi box berwarna biru. Lalu Zoe melihat ke sebuah rak buku kuno yang ada disana. Ia merasa Déjà vu dengan rak itu dan ia pun menuju ke sana. Iya pun mengingat peristiwa yang membawanya ke sini.

Aku ingat waktu aku kesini itu jalannya melalui sebuah rak. Aku yakin pasti dengan rak ini aku bisa kembali. Ya, aku hanya perlu cari buku yang di dalamnya ada peta. Aku yakin pasti ada disini.”

Zoe menarik kursi dan mencari cari buku peta itu. Adriel juga membantu mencari nya. Lama Zoe mencari akhirnya ia menemukan buku yang tak asing. Ia menarik buku itu dan saat ia ingin membukanya, gemuruh gempa tiba tiba datang sehingga membuat kursinya tergoyang dan ia pun terjatuh. Buku yang ada di tangannya terjatuh dan terbuka halaman bagian peta. Lalu ada cahaya kuning menyilaukan. Bersamaan dengan itu rak buku jatuh menimpa Adriel. Zoe berteriak dan cahaya tadi membawa Zoe kembali ke gudang. Zoe pun kembali ke Zamannya.

Aaaaaaaaaak!! Adriel, Adriel awas!” Teriak Zoe.

Lalu kakeknya datang menghampiri Zoe.

“Zoe, Zoe ada apa? Apa yang terjadi?” Kata kakek Zoe sambil menepuk bahu Zoe.

Zoe tertegun, “Huaaaa kakek. Ternyata Zoe masih selamat huhuu.”

Emangnya ada apa?”

“Gapapa kok kek.”

“Gapapa apanya kamu sampe nangis begini.”

Zoe hanya menggeleng gelengkan kepala nya.

Berapa lama kakek pergi meninggalkan gudang?”

“Gak lama kok, Cuma 15 menit terus kakek langsung kesini.”

“Yaudah, sekarang yuk kita makan siang dulu. Nenek sudah masak.” Ajak kakakeknya.

Zoe tetap tak menceritakan kejadian yang ia alami kepada siapapun. Ia juga tak menyangka kejadian itu hanya terjadi selama 15 menit di zamannya.

Lalu,  Masuk tahun ajaran baru di sekolah pun tiba. Zoe masih kepikiran soal apa yang ia alami dan Adriel saat tertimpa rak buku besar itu.

Wali kelas Zoe masuk dan menyambut siswa siswinya.

“Selamat datang kembali anak-anak. Semoga liburan kalian adalah liburan yang menyenangkan. Nah, disini kita akan kedatangan teman baru semoga kalian bisa berteman baik dengannya.”

“Liel, silahkan masuk perkenalkan diri kamu kepada teman teman dan ibu.”

“Halo, perkenalkan nama saya Abraham Liel. Biasa dipanggil Liel. Semoga kita dapat berteman baik.”

Saat Zoe melihat kearah Murid baru itu. Matanya seketika melebar. Dan Liel tersenyum kepadanya.

 

*Editor : Nopriani Purba

*Penulis adalah siswa SMAN 1 Purba

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...