Karya
: Selin Simarmata
Zoe
adalah seorang gadis berparas bule yang cantik. Ia masuk golongan anak yang spesial
karena punya mata biru yang indah. Di turunan keluarga nya baik dari ayah
maupun ibunya tidak ada yang berdarah bule. Itu yang membuat dia spesial.
Ditambah dengan alisnya yang terukir indah dan kulitnya yang putih bening.
Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-17 yang bertepatan di liburan akhir semester, Zoe pengen liburan ke rumah kakeknya. Dia pengen ulang tahunnya dirayakan di sana. Zoe begitu senang berada di desa kakeknya. Bagaimana tidak pemandangan di desa begitu menenangkan jiwa jauh dari riuh kicuh kehidupan di kotanya.
Setelah
menempuh perjalanan panjang Zoe pun sampai di rumah kakeknya. Ulang tahun Zoe
dirayakan disana dan ia mendapat hadiah sebuah kotak dari neneknya. Rumah kakek
Zoe sangat luas dengan lantai satu. Zoe memutari rumah kakeknya itu. Rumah
dengan cara warna krem itu sangat bersih dan rapi. Neneknya memang seorang yang
sangat pembersih dan paling anti melihat barang yang tak tersusun dengan rapi.
Setiap pulang kesini, rasanya ia tidak ingin pulang. Ia merasa nyaman sekali
dengan suasana rumah itu ditambah dengan barang barang antik milik kakeknya
yang memanjakan mata.
Zoe
mengelilingi rumah itu. Dilihatnya sebuah ruangan dekat dapur yang hampir tak
kelihatan karena tertutup lemari. Ia baru menyadari ruangan itu setelah sekian lama.
Ia merasa asing dengan ruangan itu. Ia bertanya kepada kepada neneknya, “Nek ruangan yang di
dekat dapur itu ruangan apa ya?”
“Ooh
itu gudang. Lebih tepatnya gudang tempat barang barang kakekmu. Yaa biasalah
isinya hanya barang yang gak dipakai lagi.”
Zoe
penasaran dengan gudang itu dan dia pun menghampiri kakeknya. “Kek, aku
penasaran dengan gudang yang ada di dekat dapur. Boleh ga kakek bukain
pintunya?”
“Buat apa? Disana hanya
barang barang bekas dan banyak debu. Sudah lama juga kakek gak kesana bersih
bersih.”
“Tapi
aku pengen liat isinya kek, please janji deh ga bakal otak-atik barang kakek yang
ada disana.” Bujuk Zoe.
“Yaudah
kalau gitu ayo kek kita cek sama Sama sama.”
Lalu
Zoe dan kakeknya pergi ke gudang.
Begitu
sampai di gudang Zoe kagum sama isinya.
“Loh tadi kan kakek
bilang gudangnya udah lama ga dibersihkan, tapi kok gudangnya bersih bersinar gini
kek?”
“Mungkin Nenekmu yang
membersihkannya.”
Gudang
dengan bentuk persegi itu memiliki luas 100 m² dengan isi yang dipenuhi oleh
barang barang antik milik kakek Zoe. Lukisan yang digantung dan ditata dengan rapi
begitu juga dengan rak rak kayu jati yang diisi dengan berbagai pernak pernik
menunjukkan bahwa ruangan itu bukanlah sebuah gudang.
“Ini
mah bukan gudang, tapi museum kek!” Seru Zoe. Kakeknya hanya membalas dengan
kekehan kecil. “Kamu liat liat saja dulu kakek mau keluar sebentar.” Kata kakek
Zoe.
Zoe
mengamati ruangan itu sesekali dia menyentuh barang barang yang ada disana. Ia
pun memutari ruangan itu. Dirasa cukup puas melihat isi gudang, Zoe pun berniat
untuk keluar dari sana.
Namun
sesaat ia melangkahkan kakinya tiba tiba “Brukkkk!!!!” Terdengar suara buku jatuh
begitu kuat sehingga mengagetkan Zoe. Ia pun menghampiri asal suara tersebut
dan menjumpai beberapa buku sudah jatuh ke lantai.
Ada
lembaran buku yang terbuka dan nampaknya halaman yang terbuka itu adalah sebuah
peta. Peta yang sangat kuno. Ditulis dengan huruf yang Zoe tak tau huruf apa tulisan
di peta itu. Zoe pun ingin mengembalikan buku itu ke asal semula. Karena rak
buku itu ada di rak paling atas, Zoe mengambil kursi dan mengembalikan buku
itu. Namun, ia kehilangan keseimbangan dan bertumpu pada rak itu rak buku itu
bergeser dan Zoe pun jatuh. Zoe melihat ada ruangan di balik lemari itu. Lalu,
tiba tiba ada cahaya menyilaukan membuat Zoe menutup matanya.
Bersamaan
dengan itu cahaya tadi membawa Zoe ke dalam situasi yang sangat berbeda dengan
zaman sekarang. Serasa berada di ruang hampa Zoe mencoba membuka matanya. Namun
alangkah kagetnya ia karena ia sudah berada di suasana yang berbeda. Ia
terduduk di bawah pohon dekat trotoar.
“Loh, kok aku ada disini.
Kok aku ga tau apa yang terjadi? Aku dimana?” Tanya Zoe pada dirinya sendiri.
Ia tidak tau dimana ia berada sekarang. Namun
anehnya tak ada rasa takut dan cemas dalam dirinya. Ia mencoba berdiri. Di
seberang tempat ia berada dilihatnya banyak pabrik industri dengan kecanggihan
yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dipandanginya sekeliling dan ia dapat
menyimpulkan bahwa ia berada di masa depan. Dilihat dari bangunan bangunan
begitu juga dengan orang orang yang sibuk berlalu lalang. Antara rasa
takut dan gembira Zoe mencoba menikmati suasana yang ada.
Lalu
datang seseorang dengan penampilan asing menghampiri Zoe. Seorang pria dengan topi
hitam dengan style pakaiannya yang modis sesuai dengan zaman itu. Zoe juga
melihat beberapa orang yang berlalu lalang memiliki style yang sama.
“Aku tau kamu pasti dari
masa lampau.” Kata orang itu
“Namaku
Adriel aku salah satu karyawan yang bekerja di dekat sana.” Ia menunjuk arah
pabrik industri.
“Ooh, halo. Aku Zoe. Kau
tau sesuatu apa yang terjadi denganku? Aku masih bingung kenapa
bisa ada disini mungkin kamu bisa menjelaskan nya padaku?”
“Hal seperti ini sudah
biasa. Aku tau kau dari masa lalu. Dan aku bisa kok membantu mu keluar dari
sini melalui petualangan.”
“Petualangan
apa?” Tanya Zoe.
“Petualangan
singkat jelajah waktu.”
Adriel
mengajak Zoe untuk pergi.
“Yuk, kuajak berkeliling
ke distrik tempat ku tinggal.”
Zoe
mangangguk dan mengikuti Adriel. Mereka berjalan di trotoar menuju stasiun.
Kurang lebih jaraknya 50m. Stasiun yang dilihat Zoe benar benar membuatnya
kagum. Dengan desain yang modern melebihi penampakan 4.0 yang ia tau. Mereka
pun naik ke atas kereta itu. Di sana Adriel menjelaskan mengenai kereta itu
kepada Zoe.
“Kereta ini punya
kecepatan 500km/jam sedangkan jarak dari stasiun dekat rumahku hanya 70 mil. Kereta
ini sudah dimodifikasi dengan gaya magnetik. Sama seperti kereta magnetic
levitation namun dapat digunakan antar stasiun berdekatan. “ Ada lagi kereta
yang digunakan untuk jarak jauh yaitu kereta KA-5.0 dengan kecepatan
1000km/jam. Kalau kau mau kita bisa pergi ke kota Azmos menggunakan KA-5.0.”
Jelas Adriel.
“Berarti kota itu jauh ya
dari sini?”
“Iya, tapi semua bisa
menjadi perjalanan singkat dengan kereta KA-5.0.” Kata Adriel.
“Wah,
luar biasa.”
Kurang lebih 10 menit akhirnya mereka sampai di
stasiun dekat distrik Adriel tinggal. Mereka meninggalkan stasiun sambil
berjalan menuju distrik Adriel.
“Aku
penasaran dengan kota Azmos. Bisa kau
jelaskan aku tentang kota itu?
“Baiklah, kota Asmoz itu
adalah sebuah pusat dari semua peradaban di zaman ini. Kalau kau lihat disini
sudah sangat hebat. Kau akan lebih terpana dengan apa yang ada disana. Bangunan
yang ada di zaman mu tak akan kau temui di sana. Semuanya berbeda 360°. Kau
bisa melihat orang orang beterbangan dengan kuda mesin mereka masing masing. Menggunakan
hologram dimana mana. Disana anak usia 14 tahun sudah menyelesaikan pendidikan
sekolah menengah atas. Mereka sudah bekerja bekerja minimal menguasai
teknologi. Ku akui disana memang wow tapi tragis. Bahkan mereka sudah
berperilaku seperti robot. Aku masih bersyukur bisa tinggal disini. Soalnya
beban ku tak harus seberat mereka yang selalu dituntut sebagai warga yang
sempurna dan selalu mengikuti arus zaman.”
“Aku sih baru sekali dua
kali kesana. Aku pengen berkunjung lagi, tapi biaya nya mahal. Perlu menabung
gajiku berulan bulan untuk bisa kesana.” Kata Adriel sambil terkekeh.
Adriel
sendiri adalah remaja berusia 17 tahun. Tapi ia sudah terjun ke dunia kerja
dengan pekerjaan yang tak ringan menurut Zoe. Bayangkan saja di usianya yang
masih muda ia sudah mampu bekerja di pabrik industri yang mengandalkan
tekhnologi. Zoe kagum padanya.
Panjang
mereka bercerita akhirnya mereka sampai di rumah Adriel. Rumah Adriel memiliki
desain seperti yang umum ada disana. Pagar rumahnya terbuat dari super
material. Begitu masuk ke dalam rumah, suasana sejuk langsung terasa.
“Wah, pasti disini banyak
AC nya ya?”
“Bukan, ruangan ini
terasa sejuk karena temboknya yang dibuat dari Hydroceramics. Jadi otomatis
bisa menurunkan suhu sampai 6 derajat Celcius.”
“Waaah,”
takjub Zoe.
Lalu, Adriel mengajak Zoe untuk makan
siang. Di meja makan ternyata ada ibunya yang menyiapkan meja makan. Zoe pun
dikenalkan dengan ibu Adriel. Dan Adriel menceritakan kepada ibunya mengapa ia
bisa bertemu Zoe. Ibu Adriel memang sudah terbiasa dengan orang-orang dari
Zaman yang berbeda yang datang ke zaman mereka. Dan itu terjadi dalam waktu
yang singkat.
“Kamu pasti kaget dan tak
menyangka kan bisa berada di zaman ini sekarang?” Tanya ibu Adriel
namanya ibu Zefanya.
“Saya sendiri sudah
sering melihat orang terjebak dalam jelajah waktu seperti ini. Dan biasanya
mereka akan kembali ke zamannya dengan berbagai cara. Jadi, kamu ga perlu
khawatir. Adriel pasti akan membantu kamu untuk keluar dari jelajah waktu ini.”
Zoe
mengangguk angguk dengan perkataan ibu Zefanya. Beliau adalah orang yang baik
dan mampu membuat orang nyaman. Dan akhirnya mereka pun makan malam.
Mereka
kembali bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka masing masing.
“Mulai besok kita akan
mulai mencari jalan keluar dari sini. Jadi istirahatlah.” Kata Adriel. Zoe pun
diantarkan ke kamar tamu dan ia pun istirahat.
Keesokan
harinya, Adriel mengajak Zoe untuk pergi keluar.
“Kenapa
harus bawa payung? Padahal kan cuacanya terang gak ada tanda mau turun hujan.”
Tanya Zoe.
Cuaca sekarang lagi tak tentu. Bisa aja
nanti hujan panas. Bahkan bisa aja datang badai. Hujan asam bahkan gempa. Kita
harus waspada. Dua hari sebelumnya ada gempa terjadi di distrik sebelah.
Padahal pusat BMKG memprediksi tidak akan terjadi gempa. Tapi nyatanya, semua
bisa terjadi diluar prediksi.”
Lalu,
mereka pun pergi mengunjungi Mall. Menggunakan kereta bawah tanah, akhirnya
mereka sampai di mall. Pusat perbelanjaan yang begitu unik dengan kecanggihan
yang ada. Kita tak perlu capek-capek mengitari mall untuk mencari barang yang
kita inginkan. Cukup buat whistlist dan semua nya akan tersedia dan tinggal
bayar dengan uang elektronik.
Sambil
menunggu belanjaan mereka siap di packing, mereka memutari mall sembari melihat
apa saja yang ada disana. Ada yang mengadakan pertunjukan bakat dance. Zoe
melihat gerakan dance yang begitu cepat dan sulit untuk di pahami gerakannya.
Mereka melakukan gerakan dengan begitu lincah tanpa nampak kelelahan. “Gerakan
yang benar benar diluar nalar.” Kata Zoe. Ya, Zoe memang menyukai dance.
“Yayaya kira kira
begitulah gerakan dance masa depan.” Kata Adriel sambil tertawa kecil.
“Mungkin kalau aku yang
melakukannya aku bakal encok kali ya. Sumpah mereka keren banget wah gila parah.
Gerakan mereka out of the box banget. Bisa
tidak yaa aku belajar dari mereka. Dan
pas pulang nanti aku bisa nunjukin gerakan baru yang kupelajari dari sini
haha.”
“Boleh
aja. Yuk kesana.” Ajak Adriel. Zoe pun diajak dance bersama oleh kelompok dance
tadi dan Zoe mempelajari beberapa gerakan dance.
“Fiuhh, aktif banget.
Sampe keringat begini hahaha.” Kata Zoe.
Lalu
mereka makan di salah satu restoran di mall. Service-nya juga sudah berbasis
teknologi. Ada robot otomatis yang menyajikan makanan kepada pelanggan.
“Waah.”
Setelah
makan mereka menuju wahana bermain. Disana Zoe dan Adriel bermain mobil
terbang. Zoe merasakan betapa asyiknya bermain disana.
Selanjutnya,
mereka pergi ke sebuah danau di pinggir kota. Satu satunya danau yang menjadi
destinasi andalan disana. Pemandangan danau dipadukan dengan rumput hijau
disekelilingnya membuat Zoe nyaman duduk di sana. Zoe meminta ponsel Adriel
sambil mencari lagu kesukaannya. Adriel yang merasa asing dengan lagu itu
langsung berkata
“Selera musik yang aneh.”
Ejek Adriel
Zoe langsung menjawab Adriel.
“Yeuu lebih aneh lagi
selera musik kalian.” Nyanyi serasa nahan napas. Apa apaan lagu seperti itu,” balas Zoe. Adriel
hanya terkekeh.
Hening
sejenak, lalu Zoe membuka suara, “aku masih bisa kan kembali ke zaman ku?
Walaupun aku merasa zaman ini adalah zaman impian, tapi tetap saja aku ingin
kembali ke masa ku. Bagaimana caranya aku bisa kembali?”
“Sebelum ke sini, apa
kamu ingat bagaimana caranya agar bisa sampai disini?”
“Aku tak tau persis
kejadiannya. Tapi yang ku tau aku terjatuh dari kursi saat hendak memulangkan
buku yang jatuh di lantai. Dan tanpa aku sadari aku tiba tiba berada dalam
suasana yang beda.”
Adriel
mengangguk mendengar penjelasan Zoe. “Tapi orang orang yang pernah datang ke sini
sebelumnya, mereka hanya berkeliling kota dan mencari yang namanya box of time.
Itu adalah cara mereka kembali. Setelah menemukan itu mereka pun langsung
hilang dibawa oleh box itu. Dan mungkin kita juga harus melakukan hal yang sama
agar kamu bisa kembali.” Kata Adriel.
“Semoga
saja.”
Lalu
setelah dari danau, mereka menuju stasiun bawah tanah untuk pulang ke rumah. Di
perjalanan menuju stasiun, tiba tiba hujan lebat turun padahal baru saja
matahari bersinar. Benar saja, cuacanya
gak tentu.
Hari
selanjutnya mereka mencoba mencari petunjuk apapun untuk menemukan box sesuai yang direncanakan. Pertama mereka
menuju danau untuk berdiskusi kemana mereka akan pergi. Tujuan mereka adalah ke
sekolah Rose Wild. Karena sebelumnya disana ada orang yang menemukan box waktu.
Mereka
naik kereta kesana. Tapi saat turun dari kereta, Zoe melihat cahaya warna biru.
Zoe mencoba menghampiri cahaya itu begitu juga dengan Adriel. Cahaya itu
membawa mereka ke sebuah bangunan tua yang ada di tengah kota.
“Hmm
mungkin saja disini aja petunjuk. Ayo masuk.”
Bangunan
itu begitu tua dan tak terawat. Zoe bergidik ngeri membayangkan hal horor yang
mungkin saja bisa terjadi.
“Udah, gak perlu takut.
Sekarang ayo kita telusuri apa yang ada disini. Mungkin saja box itu berwarna
biru sesuai dengan cahaya tadi. Jadi fokus dengan benda berwarna biru saja.”
Kata Adriel.
“Okey.” Mereka pun
mencari segala sesuatu yang berwarna biru. Namun tak ada satupun barang apalagi
box berwarna biru. Lalu Zoe melihat ke sebuah rak buku kuno yang ada disana. Ia
merasa Déjà vu dengan rak itu dan ia
pun menuju ke sana. Iya pun mengingat peristiwa yang membawanya ke sini.
“Aku ingat waktu aku
kesini itu jalannya melalui sebuah rak. Aku yakin pasti dengan rak ini aku bisa
kembali. Ya, aku hanya perlu cari buku yang di dalamnya ada peta. Aku yakin
pasti ada disini.”
Zoe
menarik kursi dan mencari cari buku peta itu. Adriel juga membantu mencari nya.
Lama Zoe mencari akhirnya ia menemukan buku yang tak asing. Ia menarik buku itu
dan saat ia ingin membukanya, gemuruh gempa tiba tiba datang sehingga membuat
kursinya tergoyang dan ia pun terjatuh. Buku yang ada di tangannya terjatuh dan
terbuka halaman bagian peta. Lalu ada cahaya kuning menyilaukan. Bersamaan
dengan itu rak buku jatuh menimpa Adriel. Zoe berteriak dan cahaya tadi membawa
Zoe kembali ke gudang. Zoe pun kembali ke Zamannya.
“Aaaaaaaaaak!! Adriel, Adriel
awas!” Teriak Zoe.
Lalu
kakeknya datang menghampiri Zoe.
“Zoe,
Zoe ada apa? Apa yang terjadi?” Kata kakek Zoe sambil menepuk bahu Zoe.
Zoe
tertegun, “Huaaaa
kakek. Ternyata Zoe masih selamat huhuu.”
“Emangnya ada apa?”
“Gapapa
kok kek.”
“Gapapa
apanya kamu sampe nangis begini.”
Zoe
hanya menggeleng gelengkan kepala nya.
“Berapa lama kakek pergi
meninggalkan gudang?”
“Gak
lama kok, Cuma 15 menit terus kakek langsung kesini.”
“Yaudah,
sekarang yuk kita makan siang dulu. Nenek sudah masak.” Ajak kakakeknya.
Zoe
tetap tak menceritakan kejadian yang ia alami kepada siapapun. Ia juga tak
menyangka kejadian itu hanya terjadi selama 15 menit di zamannya.
Lalu,
Masuk tahun ajaran baru di sekolah pun tiba.
Zoe masih kepikiran soal apa yang ia alami dan Adriel saat tertimpa rak buku
besar itu.
Wali
kelas Zoe masuk dan menyambut siswa siswinya.
“Selamat
datang kembali anak-anak.
Semoga liburan kalian adalah liburan yang menyenangkan. Nah, disini kita akan
kedatangan teman baru semoga kalian bisa berteman baik dengannya.”
“Liel,
silahkan masuk perkenalkan diri kamu kepada teman teman dan ibu.”
“Halo,
perkenalkan nama saya Abraham Liel. Biasa dipanggil Liel. Semoga kita dapat
berteman baik.”
Saat
Zoe melihat kearah Murid baru itu. Matanya seketika melebar. Dan Liel tersenyum
kepadanya.
*Editor
: Nopriani Purba
*Penulis
adalah siswa SMAN 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar