Sabtu, 22 Oktober 2022

ZERO O’CLOCK

 



Karya : Elys Calistya Silalahi

            Hari mulai sore matahari mulai terbenam, aku berjalan menuju halte bus. Nomor bus 313 telah tiba. Itu adalah bus menuju rumahku. Saat menaiki bus mataku hanya tertuju keluar jendela kaca mobil sambil melihat matahari yang semakin lama semakin menghilang. Perasaan yang begitu aneh. Aku merasa sangat sedih tanpa alasan, tubuhku terasa sangat berat. Rasanya aku hanya ingin hidup dalam ketenangan. Sesaat aku mengalihkan pandanganku ke dalam bus. Aku melihat orang-orang dalam bus hanya diam. Tidak ada tawa atau ucapan yang keluar dari mulut mereka satu persatu. Bus itu sangat sunyi, seperti tidak ada penghuninya.

“Kenapa tidak ada manusia yang membuat aku menjadi bahagia?” ucapku dalam batin.

Aku melihat orang-orang yang berada dalam bus terlihat sibuk dan keras dalam menjalani hidup mereka. Aku hanya terdiam dan mengalihkan pandangan kembali ke arah jendela kaca bus.

        Beberapa menit kemudian aku turun dari bus. Aku keluar dari bus. Aku melangkah menuju rumah. Langkah demi langkah terasa sangat melelahkan, bahkan untuk menuntun kakiku sendiri saja sudah tidak bisa. Walaupun sudah seperti ini aku tidak akan berhenti melangkah. Ketika aku melangkahpun aku sudah tertinggal jauh, apalagi ketika aku berhenti. Aku mungkin tidak akan terlihat lagi.

“Kenapa seisi dunia ini selalu menggangguku?”

        Saat tiba di rumah, aku membuka pintu rumah dengan perlahan, melihat rumah yang begitu gelap. Tidak ada seorang pun berada di sana kecuali kucing tetangga yang selalu menunggu kedatanganku. Rasanya sangat sunyi dan sepi hatiku semakin hancur dan tak bisa berkata-kata lagi.

“Kenapa? Padahal aku sudah berusaha berlari dengan sangat keras.” Gumamku dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipi di wajahku.

“Kenapa ini terjadi padaku?” dengan tangisan yang semakin lama semakin keras.

Saat ini aku hanya berbaring di kasur kamarku. Menatap langit-langit kamar dengan penuh bintang-bintang palsu.

“Apakah semua ini salahku?” sambil berpikir keras.

        Cahaya ungu yang tiba-tiba keluar dari rak bukuku. Aku yang melihatnya langsung kaget. Tujuh pangeran kecil keluar dari cahaya ungu tersebut. Mereka menatapku sambil tersenyum. Salah satu pangeran yang paling depan atau disebut sebagai pemimpin mereka datang mendekatiku.

“Jangan takut. Kami akan memberikan kebahagiaan kepadamu. Datanglah kepada kami.” Ucap pangeran 1.

“Hapus air mata yang ada di wajahmu.” Pangeran 2 itu berkata dengan wajah khawatir.

“Aku hanya ingin bertanya apakah semua ini salahku?” Tanyaku sambil menghapus air mata.

“Tidak. Kamu tidak salah. Tidak ada yang salah di dunia ini, hanya saja ada saatnya kamu akan terpilih menjadi orang bahagia.” Balas pangeran 2.

“Kapan aku akan bahagia.”

“Saat ini.”

Aku yang mendengar kata itu langsung kaget dan bertanya-tanya. Mana mungkin boneka kecil ini bisa menemukan kebahagiaan untukku. Sepertinya tidak akan mungkin, aku hanya terlihat gila, jika percaya dengan hal beginian.

        Salah satu pangeran itu berputar dan melemparkan cahaya ungu berbentuk hati ke arahku. Tanpa pikir panjang aku sontak menangkap cahaya ungu tersebut. Saat aku membuka tanganku, cahaya ungu berbentuk hati itu berubah menjadi lumba-lumba kecil yang sangat lucu. Cahaya ungu lumba-lumba itu terbang mengelilingi kamarku sambil berputar-putar. Melihat itu saja, senyuman tipis terlihat jelas dari bibirku. Beberapa saat kemudian, cahaya ungu lumba-lumba itu kembali ke dalam cahaya ungu tempat di mana tujuh pangeran itu keluar.

Aku hanya berpikir bahwa kesedihanku hari ini akan segera berakhir. Ketika jarum detik dan menit saling bertemu di satu titik. Mungkin di saat itu dunia menahan nafas untuk sesaat.

        Jam menunjukkan pukul 00.00, di saat itu juga cahaya ungu lumba-lumba yang awalnya kecil keluar dari cahaya ungu menjadi sangat besar. Cahaya yang begitu terang membuat penglihatanku terganggu hingga aku menutup mata untuk sesaat. Saat membuka mata, aku mendapatkan diriku telah terbang di antara kota. Cahaya ungu lumba-lumba itu membawaku terbang untuk mengelilingi kota.

“Aku sangat bahagia.” Teriakku sambil terbang tanpa tujuan.

        Ini akan menjadi awal yang baru dalam kehidupanku tepat pada pukul 00.00. Perlahan aku mulai merasa kehilangan kesedihan. Mungkin aku tak bisa memberikan penampilan yang sempurna saat ini, tapi suatu saat aku pasti bisa. Aku akan berusaha sedikit demi sedikit untuk melupakan semua masa lalu yang buruk dan menemukan pintu magic shop. Semua hal yang aku lalui tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginanku, bahkan saat aku berdiri di depan kaca dan berbicara pada diri sendiri tidak ada jawaban yang sesuai dengan keinginanku.

        Selesai mengelilingi kota, cahaya ungu lumba-lumba itu terbang semakin lama semakin tinggi menuju bulan. Beberapa lapis awan kami lewati dengan penuh tawa. Beberapa detik kemudian kami mendapatkan bulan dengan bintang-bintang kecil yang sangat banyak. Senyuman dan tawa lebar terbentuk dari mulutku tanpa sadar.

Aku sangat bahagia walaupun sederhana tapi kebahagiaan yang kudapat saat ini sangat luar biasa.

             Aku menghabiskan sepanjang waktuku di atas bulan sambil menatap bintang-bintang. Tak terasa hari sudah mulai dini. Aku sangat lelah tertawa bersama ke Tujuh pangeran kecil itu. Beberapa saat kemudian, aku kembali ke kamarku. Tujuh pangeran itu segera kembali ke cahaya ungu tadi. Mereka meninggalkanku yang  tertidur lelap di ranjang kamarku. Mereka melambaikan tangan dan membungkuk ke arahku. Satu persatu dari ke tujuh pangeran itu masuk ke dalam cahaya ungu. Pangeran terakhir tetap berdiri di depan cahaya ungu itu dan menatap ke arahku. Pangeran terakhir itu tersenyum dan membalikkan badannya menuju cahaya ungu tersebut. Perlahan-lahan ketujuh pangeran itu mulai menghilang bersama dengan cahaya ungu  lumba-lumba. Seketika cahaya ungu yang keluar dari rak buku tersebut menghilang.

 

Penulis : Siswa SMA Negeri 1 Purba

Editor : Mia Saragih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...