Karya : Elys Calistya Silalahi
Hari mulai sore matahari
mulai terbenam, aku berjalan menuju halte bus. Nomor bus 313 telah tiba. Itu
adalah bus menuju rumahku. Saat menaiki bus mataku hanya tertuju keluar jendela
kaca mobil sambil melihat matahari yang semakin lama semakin menghilang. Perasaan
yang begitu aneh. Aku merasa sangat sedih tanpa alasan, tubuhku terasa sangat berat.
Rasanya aku hanya ingin hidup dalam ketenangan. Sesaat aku mengalihkan
pandanganku ke dalam bus. Aku melihat orang-orang dalam bus hanya diam. Tidak
ada tawa atau ucapan yang keluar dari mulut mereka satu persatu. Bus itu sangat
sunyi, seperti tidak ada penghuninya.
“Kenapa tidak ada manusia yang membuat aku menjadi bahagia?” ucapku
dalam batin.
Aku melihat
orang-orang yang berada dalam bus terlihat sibuk dan keras dalam menjalani
hidup mereka. Aku hanya terdiam dan mengalihkan pandangan kembali ke arah
jendela kaca bus.
Beberapa menit kemudian aku turun dari
bus. Aku keluar dari bus. Aku melangkah menuju rumah. Langkah demi langkah
terasa sangat melelahkan, bahkan untuk menuntun kakiku sendiri saja sudah tidak
bisa. Walaupun sudah seperti ini aku tidak akan berhenti melangkah. Ketika aku melangkahpun
aku sudah tertinggal jauh, apalagi ketika aku berhenti. Aku mungkin tidak akan
terlihat lagi.
“Kenapa
seisi dunia ini selalu menggangguku?”
Saat tiba di rumah, aku membuka pintu rumah dengan perlahan,
melihat rumah yang begitu gelap. Tidak ada seorang pun berada di sana kecuali kucing
tetangga yang selalu menunggu kedatanganku. Rasanya sangat sunyi dan sepi
hatiku semakin hancur dan tak bisa berkata-kata lagi.
“Kenapa? Padahal
aku sudah berusaha berlari dengan sangat keras.” Gumamku dengan air mata yang mulai
menetes membasahi pipi di wajahku.
“Kenapa ini
terjadi padaku?” dengan tangisan yang semakin lama semakin keras.
Saat ini aku
hanya berbaring di kasur kamarku. Menatap langit-langit kamar dengan penuh
bintang-bintang palsu.
“Apakah
semua ini salahku?” sambil berpikir keras.
Cahaya ungu yang tiba-tiba keluar dari
rak bukuku. Aku yang melihatnya langsung kaget. Tujuh pangeran kecil keluar
dari cahaya ungu tersebut. Mereka menatapku sambil tersenyum. Salah satu
pangeran yang paling depan atau disebut sebagai pemimpin mereka datang mendekatiku.
“Jangan
takut. Kami akan memberikan kebahagiaan kepadamu. Datanglah kepada kami.” Ucap
pangeran 1.
“Hapus air
mata yang ada di wajahmu.” Pangeran 2 itu berkata dengan wajah khawatir.
“Aku hanya
ingin bertanya apakah semua ini salahku?” Tanyaku sambil menghapus air mata.
“Tidak. Kamu
tidak salah. Tidak ada yang salah di dunia ini, hanya saja ada saatnya kamu
akan terpilih menjadi orang bahagia.” Balas pangeran 2.
“Kapan aku
akan bahagia.”
“Saat ini.”
Aku yang
mendengar kata itu langsung kaget dan bertanya-tanya. Mana mungkin boneka kecil
ini bisa menemukan kebahagiaan untukku. Sepertinya tidak akan mungkin, aku
hanya terlihat gila, jika percaya dengan hal beginian.
Salah satu pangeran itu berputar dan
melemparkan cahaya ungu berbentuk hati ke arahku. Tanpa pikir panjang aku sontak
menangkap cahaya ungu tersebut. Saat aku membuka tanganku, cahaya ungu berbentuk
hati itu berubah menjadi lumba-lumba kecil yang sangat lucu. Cahaya ungu lumba-lumba
itu terbang mengelilingi kamarku sambil berputar-putar. Melihat itu saja,
senyuman tipis terlihat jelas dari bibirku. Beberapa saat kemudian, cahaya ungu
lumba-lumba itu kembali ke dalam cahaya ungu tempat di mana tujuh pangeran itu
keluar.
Aku
hanya berpikir bahwa kesedihanku hari ini akan segera berakhir. Ketika jarum
detik dan menit saling bertemu di satu titik. Mungkin di saat itu dunia menahan
nafas untuk sesaat.
Jam menunjukkan pukul 00.00, di saat
itu juga cahaya ungu lumba-lumba yang awalnya kecil keluar dari cahaya ungu
menjadi sangat besar. Cahaya yang begitu terang membuat penglihatanku terganggu
hingga aku menutup mata untuk sesaat. Saat membuka mata, aku mendapatkan diriku
telah terbang di antara kota. Cahaya ungu lumba-lumba itu membawaku terbang untuk
mengelilingi kota.
“Aku sangat bahagia.”
Teriakku sambil terbang tanpa tujuan.
Ini akan menjadi awal yang baru dalam kehidupanku tepat pada pukul
00.00. Perlahan aku mulai merasa kehilangan kesedihan. Mungkin aku tak bisa
memberikan penampilan yang sempurna saat ini, tapi suatu saat aku pasti bisa.
Aku akan berusaha sedikit demi sedikit untuk melupakan semua masa lalu yang buruk
dan menemukan pintu magic shop. Semua hal yang aku lalui tidak ada yang
berjalan sesuai dengan keinginanku, bahkan saat aku berdiri di depan kaca dan
berbicara pada diri sendiri tidak ada jawaban yang sesuai dengan keinginanku.
Selesai mengelilingi kota, cahaya ungu lumba-lumba itu terbang semakin
lama semakin tinggi menuju bulan. Beberapa lapis awan kami lewati dengan penuh
tawa. Beberapa detik kemudian kami mendapatkan bulan dengan bintang-bintang
kecil yang sangat banyak. Senyuman dan tawa lebar terbentuk dari mulutku tanpa
sadar.
Aku
sangat bahagia walaupun sederhana tapi kebahagiaan yang kudapat saat ini sangat
luar biasa.
Aku menghabiskan sepanjang waktuku di atas bulan sambil
menatap bintang-bintang. Tak terasa hari sudah mulai dini. Aku sangat lelah
tertawa bersama ke Tujuh pangeran kecil itu. Beberapa saat kemudian, aku
kembali ke kamarku. Tujuh pangeran itu segera kembali ke cahaya ungu tadi. Mereka
meninggalkanku yang tertidur lelap di
ranjang kamarku. Mereka melambaikan tangan dan membungkuk ke arahku. Satu
persatu dari ke tujuh pangeran itu masuk ke dalam cahaya ungu. Pangeran
terakhir tetap berdiri di depan cahaya ungu itu dan menatap ke arahku. Pangeran
terakhir itu tersenyum dan membalikkan badannya menuju cahaya ungu tersebut. Perlahan-lahan
ketujuh pangeran itu mulai menghilang bersama dengan cahaya ungu lumba-lumba. Seketika cahaya ungu yang keluar
dari rak buku tersebut menghilang.
Penulis :
Siswa SMA Negeri 1 Purba
Editor : Mia
Saragih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar