Kau baru saja mengungkapkan ilmu padi diantara orang kerdil
Dalam malam guratan evaluasi terpahat kemilau, sahabat
Dari jiwa-jiwa sedih hari kemarin
Kita telah membubut kebersamaan
Tulisan prosa berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek / bidang kehidupan. Tulisan ini mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan analisis, sintesis dan kesimpulan yang khas dari penulisnya.
Langkah-langkah membuat Esai
1. Mulailah dengan Semangat! Dan jangan melemahkan diri anda katakana pada diri anda
“Ayo … (sebutkan nama anda) kamu pasti bisa!” opsssssss.... tetap senyum....
Kegagalan pembangunan dan personalisasi hak-hak orang banyak mengantarkan Indonesia ke peringkat ketiga tertinggi angka korupsi di dunia. Sebuah hal yangmemprihatinkan, negara yang beragama dan terkenal dengan keramahannya mencoreng mukanya sendiri dengan korupsi. Kejahatan korupsi mengakar di masyarakat Indonesia. Kejahatan ini memiliki sistem yang abstrak. Pemotongan dana dari atasan hingga bawahan, sehingga alokasi pelaksanaan program dalam pembangunan tinggal sisa-sisa pembagian para pejabat yang tidak bertanggung jawab. Hidup dalam Negara seperti permainan yang tidak memiliki sistem yang ketat. Kekuatan hukum dibolak-balik semena-mena oleh penegak hukum.
“Nanti lama tamatnya.” Kata-kata itu yang selalu terucap dari mahasiswa yang tidak ingin mengecap organisasi di kampus. Cara pandang ini mengkambinghitamkan organisasi sebagai penyebab lamanya menyelesaikan studi. Tidakkah terpikir bahwa semua itu sangat erat kaitannya dengan manajemen pribadi dalam menjalankan tugas akademisi? Momok ini memang terbentuk ketika mengetahui lama tamatnya para organisator yang sering disebut aktivis. Namun perlu dikaji ulang latar belakang penyebab masalah tersebut. Tidak hanya itu, ketakutan dipersulit dosen juga tidak terenyahkan oleh orang yang disebut agen perubahan ini.
(Rudi Hartono Saragih, Mantan Litbang Pers Mahasiswa Kreatif UNIMED, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.)
Fungsi pers kampus sebagai kontrol sosial terletak pada esensi berita yang disajikan. Keberadaannya di kampus menuai berbagai reaksi. Jika beritanya mengangkat nama baik seseorang/kelompok civitas akademika akan ada suguhan senyuman. Sebaliknya, wajah masam akan menjadi kebiasaan apabila menyajikan berita yang mengkritik. Padadasarnya hal itu bukan mengkritik namun hanya menyajikan pemberitaan yang akurat dan menarik. Dan ini sebuah kesalahpahaman antara pers mahasiswa dengan civitas akademika.