Karya:Yusnita Manurung
Seringkali saya melihat orang orang disekitar saya takut untuk tumbuh menjadi dewasa. Pernah saya mendengar Ucapan "Dulu aku bebas, tak pernah ada beban masalah dipikiranku". Ucapan itu yang sering sekali saya dengarkan bahkan Sampai saat ini. Padahal nyatanya Semua orang itu haruslah tumbuh dewasa. Coba bayangkan kalo bumi dipenuhi dangan karakter anak-anak. Wah.... Pasti kita hanya tau bermain, lantas Siapa yang akan memecahkan masalah kita? Siapa yang akan bekerja, belajar, berjuang untuk kesuksesan hidup kita? Tentunya diri kita sendiri kan? Kalau kita tetap anak anak otomatis kita hanya menjadi figuran permainan dalam kehidupan.
Sebenarnya yang terjadi saat ini adalah dengan pola pikir kita yang "Toxic" alias distori kognitif. Pikiran berlebihan dan tidak rasional yang bikin kita mempersepsikan realita dengan tidak akurat. Akibatnya kita menjadi overthinking, insecure, Perfecksionisme, sampai gangguan mental kita kayak depresi. Saya Pernah membaca Quotes dari Seneca yang berisikan "kita lebih banyak menderita dipikiran kita, dibandingkan realita." Ternyata itu sangatlah benar!. Banyak kita memikirkan hal-hal yang berada di luar kontrol kita, padahal kita masih remaja dan masih beranjak dewasa. Belum menjadi dewasa kita sudah banyak memikirkan hal yang sudah pasti merusak mental kita.
Desember lalu saya tepat berumur 16 tahun. Apakah umur segini kita harus bolak balik baca buku, gak ingat makan, depan buku tiap hari hanya demi sebuah tujuan kita dan memaksa otak kita untuk memahami dan mempersiapkan kemana kita untuk kedepanny? Sangat benar jika masa muda seperti umur 15-18 tahun adalah masa dimana kita harus benar-benar memilih jalan kita dan mempersiapkan kemana kita melangkah. Tapi jangan lupa bahwa belajar berlebihan atau memaksa otak kita untuk berfikir itu hanyalah merusak mental kita menjadi mental health,cemas,takut,emosional,gak mood bahkan bisa jadi depresi dan berujung kita takut untuk bertumbuh menjadi dewasa, karena yang kita pikirkan bahwa dewasa itu memiliki banyak beban pikiran. Pada akhirnya mental health yang melekat didalam pikiran kita membuat kita bermalas malasan dan hanya tetap ingin menjadi anak anak karna takut dan cemas.
Saat berumur 13 tahun saya memiliki teman bernama Sela. Sela adalah anak pertama dari dua bersaudara, dia dipaksa dewasa oleh keadaan hidupnya. Ayah dan ibunya berpisah saat dia duduk di kelas 7 SMP. Gadis kelahiran tahun 2008 itu tidak memilih siapapun dan tidak mengikutkan ibu atau ayahnya karena dia takut kalau ayah dan ibunya tidak bisa bersama lagi. Diumur 12 tahun ini dia masih terbilang belum remaja atau bisa dibilang masih anak anak. Saat itu adiknya yang berumur 7 tahun mengikutkan ibunya. Sela yang tidak memilih siapapun diantara orangtuanya memutuskan untuk tinggal di kost bersama kami. Sela adalah anak dari orangtua yang bisa dibilang kaya, orangtuanya memiliki banyak sawit diluar kota, Sela selalu saja dimanjakan oleh ayahnya. Namun, karena keadaan dia dipaksa mendewasakan diri dan pada akhirnya terbiasa. Hingga pada akhirnya saat dia duduk dibangku kelas 8 SMP dia mendapati kabar bahwa ayahnya sudah menikah kembali kepada orang lain. Hari itu mungkin adalah hari yang paling hancur dalam hidupnya. Sela harus memiliki dua ibu dan memiliki adik tiri. Ibu angkatnya sangat jahat kepada Sela, dia tidak pernah memikirkan Sela dan hanya egois memikirkan diri sendiri. Ibu angkatnya melarang ayahnya untuk bertemu dengan Sela. Hingga suatu saat ibunya datang kepada Sela dan memeluknya dan menguatkan Sela dalam hal ini. Ibunya mendukung segala kegiatan Sela dan menghidupi Sela dan adiknya seorang diri.
Hingga pada akhirnya Sela mendewasakan diri pada usia yang masih terbilang dini. Dia mengubah pola pikirnya menjadi "Aku harus berhasil, aku harus banggain ibuku dan adikku." Dia berjuang bersusah payah bahkan kadang kami kerja untuk bayar uang sekolah. Berkat kuasa Tuhan dan kerja kerasnya Sela mendapat juara umum saat itu. ibu nya sangatlah bangga melihat Sela sudah memiliki pikiran yang dewasa namun masih bisa menikmati masa mudanya dengan baik dan tidak terlalu memaksakan otaknya untuk memikirkan hal hal di luar kontrol nya.
Kehidupan Sela lah yang selalu mengajarkan ku bahwa tidak perlu takut untuk beranjak dewasa. Walaupun saat beranjak dewasa lah kita akan menghadapi banyak cobaan. Benar kita harus memikirkan hal hal yang datang dan yang akan datang, namun kita tidak boleh berlebihan memikirkan hal yang masih diluar kontrol kita. Kita harus mengubah pola pikir, mindset hingga karakter kita yang akan kita bawa ke masa tua nanti. Di era zaman sekarang dewasa sudahlah hal yang tidak dinantikan lagi karna banyaknya hal yang terjadi seperti tidak tertidur tenang, Dunia ramai tapi kita cuman bisa mengandalkan diri sendiri dan dunia runtuh tapi hidup harus tetap berjalan.
So,kita dapat belajar bahwa ketika kita mengubah pola pikir kita, mindset kita dan mental health bukan alasan untuk takut menjadi dewasa, maka kita akan menyadari bahwa memang kehidupan harus ada pahitnya dan kita harus selalu positif thinking.
Kita harus aware kalau gak selamanya pikiran kita itu benar.
Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba
Editor: Larson Johansen Haloho

Tidak ada komentar:
Posting Komentar