Selasa, 02 November 2021

Diary Ungu

 

 


 Karya: Regita Saragih


27 Agustus 1993. SMA Negeri 1 Purba. Cuaca hari ini sangat cerah sekali. Matahari sangat menghangatkan, sayang terlalu  menyengat di kulit, bahkan di pagi hari seperti ini. Nampak seorang gadis dengan saragam putih abu-abunya yang rapi. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan begitu rapi tidak lupa dengan tas slempang merahnya yang begitu  feminim. Begitu sederhana dia, namun sudah cukup menggambarkan  bahwa dia salah satu siswi teladan di sekolah ini. Wajahnya yang tegap dan tegas namun tetap terlihat lemah lembut. Sungguh anggun.

Dia memiliki postur tubuh yang tinggi di kalangan siswi di sekolah ini. 163 cm. Langkahnya panjang, tak butuh waktu lama baginya untuk melewati koridor sekolah menuju ke ruang kelasnya XII IPA-A.

Kelas itu ternyata sudah ramai. Dimasukinya kelas itu dan  melangkah menuju meja kedua paling pojok dekat dengan jendela.

“Ehhh Fidell. Baru datang?“ sapa salah satu temannya. Dara namanya. Teman dekat Fidell. Bisa dikatakan sahabat, karna sudah begitu dekat sejak SMP. Gadis itu berbeda 180 derajat dari Fidela. Fidela yang begitu kalem dan sangat pemalu, dengan Dara yang begitu terbuka dan sedikit berisik. Dia juga suka menghayal. Dia pun menghampiri Fidel.

“Dell. Ini!" ucap Dara sambil menyodorkan sebuah diary ungu dengan huruf  F di covernya.

“Kemarin tinggal di rumah aku. Mungkin pas kita ngerjain tugas ngelukis.” timpalnya

“Ooo iya. Makasih yaa!" ucap Fidel sambil menyimpan Diary itu di tasnya kemudian diraihnya novel yang ada di tasnya. Seketika dia membaca nvel itu dan tak memperdulikan  temannya yang tengah duduk di hadapannya itu. Yaaa. memang jam masih menunjukkan pukul 07.28 yang artinya bel untuk jam pertama kurang lebih setengah jam lagi. Fidel begitu tertutup. Dan selalu Nampak begitu sibuk. Kalau tidak belajar dia akan membaca ensiklopedia dan novel-novelnya yang begitu tebal itu.

“Umm..Ehh itu diary kan? Untung sih kamu gembok. Kalau gak aku udah baca semua sampai ke  akar-akarnya. HAHAHAHAHA."

“Mmm iya nih. Aku kira kamu bakal hancurin gemboknya. Karna kan kamu orangnya kepo parah.”

“Hahahha kok aku gak kepikiran ya. Kuncinya mana?”

 

………….

 

Kini Pukul 14.00. Fiidel sudah berada dirumahnya sekitar setengah jam yang lalu.

Setelah selesai berberes dan makan siang, ia bergegas kekamarnya. Ia teringat pertanyaan Dara tadi siang. Dimana kunci diary itu? Ia segera mencarinya di laci nakas. Dan yaa benar saja kunci itu memang ada disana. Ia segera mengambilnya dan merogoh kantung tasnya untuk mengambil diary tadi.

           

“Akhirnya. Kirain hilang. Udah lama gak dibuka." yaa begitulah Fidel. Diary itu sudah hampir 2 tahun tidak ia buka. Ia memang begitu mencintai buku. Buku apapun itu, sudah tak dipakai tapi tetap disimpan dan bahkan ada yang dibawa kemana-mana.

Klekkk…

Suara yang menandakan bahwa gembok diary itu sudah terbuka. Dibacanya ulang seluruh isi Diary itu. Bahkan dari halaman pertama. Di lembaran pertama dia teringat akan hal hal konyol dan benar-benar bodoh yang ia lakukan dulu. Yaa dulu. Buku diary ini memang ditulisnya saat dia kelas 11 SMA dulu.

“Setolol ini aku dulu. Astaga hahahha." Fidel mengejek dirinya sendiri. Kala dia merasa semakin dibuka lembarannya semakin terlihat sifatnya yang begitu kekanak kanakan dulu.

Hingga, tiba lah dia di tiga perempat bagian Diary itu. Berbeda. Warna tintanya pun berbeda dari yang lain.Tintanya merah jambu. Hahaha. Cerita itu, Fidel ingat lagi. Cerita yang mampu mengubahnya dari gadis pendiam dan tertutup menjadi ceria, cerita yang mengubah pandangannya bahwa masa remaja itu indah dan semua orang berhak merasakannya. Senyumnya memudar ia ingat lagi cerita itu juga yang membuatnya terguncang kala itu. Dan sejak itu ia memutuskan untuk kembali pada dirinya yang dulu. Fidela Anastasha Maleaki, sang ratu ambisius yang mendedikasikan waktunya untuk belajar, baca buku sampai dijuluki sebagai kutu buku dan menumpuk prestasi akademik. Dia melanjutkan membaca Diarynya itu, sembari mengingat kembali kenangannya itu. Yaa setidaknya untuk menghibur dirinya dan mengingatkan bahwa hal seindah itu pun pernah ia rasakan.

Kala itu. November 1991.

 

….…..

Tap..tap..tap langkah kaki seorang siswa laki-laki menyusuri koridor sekolah menuju lapangan depan. Badannya begitu tegap, 174 cm tingginya. Daniel Methyu Saragih. Nama yang bagus. Badannya proporsional. Kulitnya tidak terlalu putih, tidak pula terlalu gelap namun sangat bersih. Wajahnya sangat berkharisma, ditambah lagi dengan seragam putih abu-abu yang begitu rapi. Tidak terlalu tampan namun manis dan berwibawa. Ia adalah siswa di kelas XI IPA  B.

Hari ini adalah masa orientasi Siswa hari pertama.Seluruh siswa baru di SMA 1 Purba.

Di lapangan para siswa baru tengah diospek oleh para siswa senior. Ada yang disuruh meminta tandatangan, ada yang disuruh joget sambil bernyanyi,bahkan ada yang disuruh mencari bunga 7 warna berbeda.

            “Pagi kak!”

            “Hai kak!”

            “Astaga dia lewat. Gantengnya.”

            “Kakk!”

            “Waduh. Kalau ini sih wajib dapat tandatangannya.”

            “Kak Daniel!”

Itulah kalimat-kalimat yang didengar Daniel sepanjang ia menyusuri lapangan sekolah. Tak heran mengapa dia begitu dikagumi banyak adik kelas. Siapa yang tidak kagum pada kakak kelas tampan, lemah lembut dan berkharisma seperti dia? Bahkan ketenarannya di kalangan adik kelas mengalahkan sang Ketua Osis, Regita. Dia hanya menjabat sebagai wakil Ketua Osis saja. Dia juga kapten tim sepak Bola di SMA ini. Timnya bahkan sudah sangat terkenal. Tentu saja para adik kelas semakin kagum padanya.

            “Hai Kak minta tandatangannya dong kak. Hehe.”pinta seorang siswi pada Daniel.

            “Siapa yang suruh?”

            “Kak Irfan, “

            “Hmm..Mau tandatangan aku? Aku bakal kasih tapi harus penuhi syarat Dulu,"

            “Apa kak?”

            “Kamu harus dapatkan tandatangan sekretaris OSIS dulu." Daniel ini memang ingin merepotkan siswi ini. Pasalnya sang sekretaris OSIS itu sanganlah jutek dan cerewet. Di awal Ospek saja adik kelas sudah takut untuk berurusan dengannya. Bayangkan saja apa yang harus dihadapi siswi itu untuk mendapatkan tandatangannya .

            “Hmmm..Okedeh kak." ucap siswi itu dengan wajah yang malas campur gelisah

            “Oke semoga beruntung!" ucap Daniel sambil sedikit mengejeknya.

            Tiba-tiba terjadi kehebohan di sudut lapangan lain. Ada seorang siswi yang tiba-tiba pingsan. Refleks Daniel bergegas ke sana dan mengecek keadaan siswi itu.

            “Dia pingsan loh. Ini tadi kenapa?” tanya Daniel

            “Gak tau Kak.Tiba-tiba pingsan.”

            “Gak sarapan mungkin Dan. Cuaca juga lagi panas banget. Langsung bawa ke UKS aja yuk!" ucap teman Daniel yang merupakan panitia.

            “Ya udah. Kalian minggir dulu!" ucap Daniel sambil menggendong siswi tadi dan membawanya ke UKS diikuti 2 orang panitia lainnya Ghani dan Andre.

 

            Sesampainya di UKS.

            “Heii.Ada yang butuh bantuan!" ucap Daniel

Ternyata di sana ada Fidel. Dia yang tadinya tengah merapikan kotak P3K langsung meninggalkannya dan menghampiri siswa yang telah dibaringkan di ranjang UKS diikuti temannya, Anggi. Fidel adalah koordinator UKS.

            “Ehh tolong ambilin air hangat!" ucap Fidel  sambil mencari minyak kayu putih di tas UKS. Fidel pun menggosokkannya ke leher siswi itu dan membiarkannya menghirup aromanya.

            “Ehh ini tadi kenapa?" tanya Anggi

            “Gak tau. Tiba-tiba pingsan aja tadi." ucap Daniel    

            “Ini nihh. Pasti ga sarapan. Nanti sebaiknya kalian ingatin mereka buat sarapa. Bisa jadi karna ga sarapan belum apa-apa udah jatuh pingsan kaya gini." ucap Fidel

 

            Beberapa saat kemudian siswi tadi tersadar. Fidel Langsung memberikannya minum.

Dan beberapa saat kemudian.

            “Kayanya kamu izin pulang duluan dek. Mukanya aja masih pucat banget.” ucap Andre.

Siswi itu hanya mengangguk pelan.

            “Yaudah kalau gitu .Kita bawa dia ke piket buat izin.” ajak anggi teman UKS Fidel tadi.

            “Yaudah ayok. Kamu sekalian bantu nuntun dia. Ayok Dan sekalian balik ke lapangan.” ucap Ghani

            “Ohhh kalian duluan aja. Aku masih mau minum.” ucap Daniel sedikit melirik Fidel,seakan memberi kode.

            “Gii. Kamu aja ya sama mereka. Aku mau nyiapin kotak P3K sama laporan dulu.” ucap Fidel sambil mendudukkan diri di kursi UKS dan kembali merapikan kotak P3K.

            “Oo yaudah dehh.”ucap Anggi

Mereka pun meninggalkan UKS dan meninggalkan Daniel dan Fidel.

 

 

Setelah meneguk segelas air dari UKS Daniel berjalan mendekati Fidel dan duduk di kursi di sebelah Fidel dan ingin memulai pembicaraan .

            “Udah lama gak sedekat ini hehe," ucap Daniel

            “Gimana Ospek hari ini?”

            “Mhhm ..Langsung nanyain itu ya.Hari ini banyak loh adkel cewek yang minta tandatangan aku!" ucap Daniel sambil menghadapkan posisi duduknya ke Fidel.

            “Terus?” ucap Fidel sedikit mendesak dengan tatapannya yang agak sinis. Menurut Daniel Fidel Lucu saat sedang cemburu begitu.

            “Hahaha ancang-ancang mau marah ya? Tenang aja del, mereka cuman minta tandatangan kok bukan minta hati Hehe." Fidel langsung menepuk-nepuk  pundak Daniel pelan-pelan seakan mengatakan ‘ini punya aku’sambil tersenyum tipis.

            “Kamu hari ini sibuk gak Del?”

            “Bentar. Kayanya enggak, selesai ini aku langsung pulang aja.”

            “Jalan yukk!”

            “ Kemana?Nanti ada yang lihat."

Yaa begitulah mereka. Tak tahu  harus disebut apa hubungan mereka ini. Mereka sangat dekat sejak awal mereka bersekolah di SMA ini. Daniel sudah beberapa kali mengutarakan apa yang dia rasakan terhadap Fidel, dan Fidel pun merasakan yang sama.Tapi Fidel tak pernah menerimanya, tak pernah pula menolaknya. Karena dia tidak ingin disebut sebagai pacar, dia hanya ingin mereka menjalani kedekatan mereka tanpa ada status apapun. Ada alasan di balik semua itu.

Daniel seorang yang begitu populer di sekolah. Dia tampan, idaman banyak siswi, dia juga berasal dari keluarga yang sangat berada dan dia primadona sekolah.Sementara Fidel merasa sedikit minder. Hanya kemampuan akademik dan prestasinya saja yang membuatnya dikenal banyak orang, selain itu tidak ada lagi. Dia cantik namun sangat tertutup.

 

            Hubungan mereka ini sudah berlangsung lebih dari satu tahun, tanpa status apapun. Dan karena alasan sebelumnya juga, tidak ada satu siswa pun yang mengetahui hubungan Fidel dan Daniel. Mereka jalan diam-diam, bertemu diam-diam, bahkan sesekali berkomunikasi melalui surat. Karna ada kalanya dalam 1 minggu penuh mereka tak punya kesempatan untuk berinteraksi. Kalian pasti mengerti di masa itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang ini, yang jika ingin berkomunikasi tinggal menelepon dari handphone atau bahkan berkirim pesan teks begitu cepat. Mengapa mereka ingin merepotkan diri dengan hubungan sesulit itu?

            Fidel dan Daniel membicarakan  banyak hal saat di UKS. Mereka tak mau melewatkan kesempatan ini. Karna seminggu ini mereka jarang sekali berinteraksi. Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki menuju UKS. 1Daniel langsung melangkah menuju pintu UKS seakan ingin keluar dan Fidel pura-pura menulis.

            “Ehh dia udah pulang?”,ucap Daniel menanyakan siswi perempuan yang pingsan tadi,karena orang yang datang itu adalah Ghani dan Anggi yang langsung bergabung dengan Fidel.

            “Udah. Ehh kamu dicariin Pak Nababan.Ayokk!”

            “Iyaa ini juga kebetulan mau pergi ke lapangan. Ayokk!”

Mereka berdua pun beranjak pergi. Ia mrlirik ke dalam untuk melihst Fidel sebelum pergi.

….……….

            Di sebuah parkiran nampak Fidel yang sedang memarkirkan sepeda motornya. Ia agak berbeda. Ia memakai masker dan jaket hitam dengan topi jaket yang menutupi kepalanya.

Ternyata itu adalah parkiran sebuah rumah makan. Fidel beranjak dari parkiran memasuki rumah makan itu.

Ternyata disudut rumah makan ada Daniel yang sudah menunggunya. Yaa kalian pasti mengerti ini adalah salah satu cara agar tak ada yang tahu mereka sedang kencan. Fidel mendatangi meja makan itu dan duduk berhadapan dengan  Daniel.

            “Haiii Nona!” ucap Daniel

            “Heii! Aku udah lapar nih. Langsung pesan aja yok hihi.”

            “Iya mukanya aja udah kisut gitu.”

            “APA?"

            “Heheh nggak," tetap cantik sih." ucap Daniel pelan. Namun masih bisa didengar Fidel dan  itu membuatnya tersenyum.

Dalam hubungan mereka jarang sekali terdengar gombalan-gombalan atau kata-kata manis murahan seperti itu. Hubungan mereka sangat sehat. Belum pernah sekalipun mereka bertengkar. Perasaan diutarakan melalui dukungan yang diberikan satu sama lain untuk apapun yang mereka kerjakan. Saat Fidel butuh Daniel akan selalu ada, demikian pula sebaliknya.

            “Mau apa?” tanya Daniel

            “Mmm Es teh manis sama nasi goreng."

            “Itu aja?”

            “Iya.“

            “Oke .Bentar yaa.”

Daniel beranjak menuju etalase untuk memesan makanan.Tak butuh waktu lama makanan pun datang dan mereka makan bersama.

            Setelah selesai makan dan mengobrol di sana mereka pun pergi dan mengunjungi beberapa tempat dan menghabiskan waktu bersama-sama seharian itu.Tapi agak aneh, mereka kencan ditemani beberapa buku pelajaran.

Yaa mereka kencan sambil belajar bersama. Fidel mengajari Daniel di beberapa pelajaran yang kurang dia mengerti. Karena Daniel hebat dalam urusan Public Speaking dan olahraga. Untuk matematika, Fisika, Kimia dia agak kesulitan.

 

….…..

 

            Sekarang pukul 17.35. Fidel baru tiba di rumahnya. Kebetulan belum ada orang di rumah. Karena kebetulan orangtuanya sedang pergi untuk urusan keluarga.

Fidel membuka pintu rumah dan beranjak untuk membersihkan dirinya serta menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah .

Setelah selesai ia duduk di sofa rumah. Ia menatap telepon rumah dan berniat menghubungi Daniel

Ditekannya beberapa angka untuk menghubungi Daniel

            “Halo!” terdengar suara berat Daniel dari seberang sana

            “Haii. Ini aku!” ucap Fidel sambil tersenyum lebar dan merapikan rambutnya ke sela daun telinganya.

            “Ada apa nelepon aku Del?Tadi siang kan  kita baru jalan. Heheh udah rindu?”

            “ Iii kok gitu.Aku matikan aja yaa?”

            “Ehh jangan. Maaf  maaf  hehe. Kamu udah lama sampainya?”

            “Iya. Aku tadi langsung pulang kok.”

            "Del, aku mau bicara."

            "Ada apa?" ucap Fidel agak  gugup. Karena ia tahu kalau Daniel sudah bicara begitu pasti ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Sesuatu yang sudah berulang dibicarakan . Dan Fidel tak suka .

Tiba -tiba Fidel mendengar suara orangtuanya yang sedang mengetuk pintu .

            “Del,kita…”,ucapan Daniel terpotong

            “Dan maaf ya udah dulu Ibu sama Bapak udah datang. “

            “Ooo yaudah kamu matiin aja.”

            “Oke Dan selamat malam!”

            “Selamat malam.”  tut tut telepon langsung mati tanpa sempat didengar oleh Fidel.

            "Argghh..." erang Daniel sambil sedikit mengacak rambutnya bagian atas.

….…

            Dua hari setelah telepon itu.

Hari ini adalah hari penutupan Ospek. Semuanya berjalan dengan lancar. Dan mulai besok jam pembelajaran akan berjalan seperti biasanya.

Fidel tengah berada di UKS sendirian sembari merapikan barang-barangnya hendak pulang. Tiba-tiba Daniel masuk tetapi sikapnya aneh dia berjalan menuju lemari UKS hanya untuk mengantar kotak P3K yang tertinggal di lapangan.Ia menatap Fidel namun langsung berpaling. Kenyataannya ingin sekali Daniel berbincang dengan Fidel. Namun ia menahan diri karena sebuah alasan. Ia pun hendak beranjak. Fidel langsung mendekatinya.

            “Dan .Mau langsung pergi nihh ?Hihihi.” ucap Fidel dengan senyum manisnya

            “Aku duluan ya .Ada urusan .Dahhh”

            “Dan ada apa?”

            “Maaf Dell. Udah yaa aku  buru-buru” ucap Daniel sembari menepis tangan Fidel yang memegang bahunya. Ucapannya memang lembut tetapi sikapnya ini membuat Fidel bingung.

Tak biasanya Daniel seperti itu. Biasanya ia selalu berusaha untuk dekat dengan Fidel dan berdua saja dengannya. Tetapi kali ini. Apa yang terjadi?

Fidel pun hanya termenung menatap bahu lebar Daniel yang semakin menjauh .

 

….

          Sudah seminggu sejak mereka bertemu di UKS itu.Fidel pikir itu terjadi karena saat itu Daniel memang sibuk. Ternyata bukan begitu kenyataannya. Daniel selalu menghindari Fidel dan mencari alasan untuk meninggalkan dia pergi. Saat mereka berpapasan pun ia selalu memalingkan wajahnya. Fidel kini hanya melamun di kelasnya sambil menunggul Bel masuk.

            “Pagi  Dell..!” sapa Dara sambil meletakkan tasnya kemudian  mendekati Fidell. Hayalan Fidel tiba-tiba buyar.

“Ehhh Iya Darr. Tumben datangnya cepat?Biasanya 10 menit sebelum baris kamu baru datang. Hahaha." ucap Fidel sambil tertawa tipis.

            “Iya nihh. Aku baru dibeliin motor sama Papa. Biasanya kan harus naik Bis.Nunggunya juga lama.”

            “Widihhh..enak dong. kemana mana udah gampang. Hehe”

            “Iya dungs. Nanti aku tunjukin ke kamu. Aku senang banget”

            “Sippp lah!" ucap Fidel

            “Ohh iya Dell. Ke kantin yu. Aku belum sarapan nih." ajak Dara

            “Hmmmm..kamu itu kebiasaan ya. Sarapan itu dibiasakan dari rumah.”

            “Heheh biarin yang penting gak telat. Gimana ayok?”

            “Mmmm aku kayanya nggak deh. Aku ada sesuatu mau diselesaiin” tolak Fidel dengan halus.

            “Ooo ya udah dehh. Aku sama Anggi aja yaa. Dahh” Dara pun pergi sambil menggandeng Anggi.

Fidel hanya menatap kepergian temannya itu sambil sedikit menggelengkan kepala. Fidel pun menyibukkan diri dengan Novelnya. Belakangan ini ia malas untuk pergi keluar kelas .Biasanya ada Daniel yang selalu ada untuknya. Tetapi belakangan ini tidak sama sekali. Jujur, ia merasa kehilangan

….……

Fidel telah pulang dari sekolah dan kini tengah berada di rumahnya. Ia merebahkan dirinya di kasur dan menatap langit-langit kamarnya.Tak ada interaksi dengan Daniel seharian ini. Ia tiba tiba teringat bahwa besok adalah ulang tahun Daniel.Ia pun tersenyum dan langsung bangkit dari ranjangnya.Ia langsung sibuk memikirkan Kado untuk Daniel.Tahun lalu ia memberiksn sepatu bola.Tahun ini apa?Ia pun terpikir untuk memberi Daniel Jaket. Ia pun mengambil jaket dan  kunci sepeda motornya dan bergegas membelikan kado.

…..

            Fidel hari ini sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. Yaa karena hari ini ulang tahun Daniel. Ia ingin memberi kejutan sambil mencoba untuk memperbaiki kerenggangan mereka yang sudah terjadi seminggu ini.Tetapi  ia belum melihat Daniel sama sekali. Saat dibarisan pun dia sama sekali tidak melihat Daniel. Bahkan ia sengaja lewat dari depan kelas Daniel hanya untuk melihatnya .

“Permisi!" Fidel memijakkan kakinya di depan pintu kelas Daniel

            “Ehh Fidel. Ada  apa kemari?” tanya Karin salah satu teman sekelas Daniel

            “Mmm. Begini, aku ada perlu sama Daniel. Dia ada gak? Tolong panggilkan bentar”

            “Dia hari ini gak sekolah Del. Bisa dibilang dia gak bakal sekolah di sini lagi."

            “Hahh? maksudnya?” ucap Fidel yang masih belum bisa mencerna  ucapan Karin.

            “Daniel cerita ke kami teman sekelasnya, katanya dia mau pindah sekolah dan rencananya hari ini  pindahnya” jelas Karin

Fidel diam sesaat. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Lidahnya kaku wajahnya datar.

            “Ooo gitu ya. Kalau boleh tau pindah kemana?”

            “Kata Daniel sih ke kota Bogor,"

            “Ya udah deh Rin. Aku pergi dulu. Makasih ya." ucap Fidel menutupi keterkejutannya.

            “Oke Del.”

Fidel pun pergi dari sana. Wajahnya masih terlihat syok. Daniel pindah?Sejak kapan berencana begitui?Mengapa  tak mengabari sedikit pun?Apa mereka tak akan bertemu lagi?Apa yang telah terjadi pada nya?Pertanyaan-pertnyaan  itu terus berputar di kepala Fidel. Ia tidak menyangka saja. Seminggu ini Daniel menjauh darinya dan hari ini tiba-tiba Fidel mendengar kabar ini.

 

….….

Fidel kini sudah berada di rumahnya. Dia terduduk dengan lemas di sofa ruang tamu. Dia tak tahu harus berkata dan berbuat apa. Daniel pergi?Dia tak menyangka.Tiba-tiba Fidel berniat meneleponnya. Namun saat Fidel mencoba tak ada hasil sama sekali. Teleponnya yang terputus atau  tidak ada yang mendengar. Dia tak tahu

Dia sangat bimbang. Namun dalam  hatinya ia mengatakan bahwa ia harus menemui Daniel hari ini. Bagaimana pun caranya.Walau pun ini mungkin akan jadi pertemuan terakhirnya dengan Daniel, ia tak masalah. Setidaknya ia mendapat kejelasan dari apa yang telah terjadi diantara mereka.

Fidel pun mengambil kunci sepeda motornya. Dan pergi meuju rumah Daniel.Berharap Dia dan keluarganya belum berangkat. Untung saja tidak ada orang di rumahnya. Kalau tidak dia akan repot untuk memberi penjelasan lagi. Tak lupa ia juga membawa kado yang telah ia buat untuk Daniel.

Kini sampailah dia di depan rumah Daniel. Untuk pertama kalinya ia ke sini . Rumah kekasih yang bukan kekasihnya. Diinjakkannya kakinya di teras rumah besar itu dan mengecek keadaan di sekitarnya. Dia pun menekan bel rumah itu. Namun tak ada respon apapun.

Fidel pun duduk di kursi yang ada di sana. Ia menunggu. Sekitar satu jam dia menunggu. Sampai ia tersadar dengan plakat yang ada di sebuah tiang kecil rumah itu. 'RUMAH INI DIJUAL’. Seketika kado yang ada di tangan Fidel terjatuh air matanya tiba-tiba mengalir. Kalau sudah seperti ini berarti benar bahwa Daniel dan keluarganya telah berangkat ke Bogor. Tak dapat melihat Daniel lagi. Itulah yang langsung terlintas di benak Fidel. Dirasa tak ada lagi gunanya berada di sana, ia pun pulang.

Malam itu dia menangis dikamarnya tak tahu harus melakukan apa. Menunggu telepon dari Daniel?Ahh nampaknya mustahil. Sakit sekali mengingat apa yang telah terjadi hari ini. Setega itu kah Daniel? Fidel menangis hingga ia tertidur.

….…

Sudah satu minggu semenjak kepergian Daniel. Sakit ,kesal,marah ,rindu semua itu menjadi satu rasa di hati Fidel. Ingin rasanya menemui Daniel dan meluapkan kekesalan dengan memukulinya.

Namun ada secerca harapan. Sepulang sekolah hari ini. Fidel melihat surat yang ada di Kotak Surat rumahnya. Ia bawa ke rumah dan dibukanya. Untuknya? yaa surat itu untuknya dan pengirimnya adalah ‘DANIEL’

Alangkah terkejutnya Fidel.Ia langsung membukanya. Terburu-buru hingga amplopnya robek tak beraturan. Di surat itu Daniel meminta maaf padanya karena pergi tanpa kabar. Ia pergi karena sang Ayah dipindah tugaskan sehingga mereka harus ikut pergi pula. Daniel selama ini mengabaikan Fidel agar saat ia pergi Fidel tak terlalu merasa sakit. Namun ternyata sama saja sakitnya.

Di surat itu Daniel meminta agar mereka tetap berhubungan walaupun sangat jauh jaraknya.Mereka akan berkomunikasi melalui surat. Fidel bisa mengirim balasannya di alamat surat itu.

Fidel tentu sangat senang. Ada rasa yang amat lega di hatinya.

Ke esokan harinya ia langsung mengirimkan balasan surat itu .

Namun hal menyakitkan kembali terjadi. Fidel tak ingin menuduh Daniel mempermainkannya tetapi nampaknya memang begitu kenyataannya. Sudah sebulan sejak surat itu dikirim tak ada balasan apapun. Ada apa sebenarnya?

            Sejak saat itulah komunikasi mereka berdua benar benar terputus. Fidel tak pernah mendapat surat dari Daniel sampai hari ini. Di masa itulah Fidel benar-benar jatuh. Untuk apa Daniel memberi surat itu dan memberinya harapan. Kalau pada akhirnya harus begini juga. Sangat sakit .Namun tak ada seorang pun yang bisa diajak bercerita. Siapa yang akan percaya Fidel dan Daniel ada hubungan.

 

 

….…

            Begitulah kenangan Fidel. Satu tahun yang lalu, tapi belum bisa ia lupakan sepenuhnya.

Fidel pun menutup kembali Diarynya itu dan menggemboknya lagi. Masa itu. Indah walau menyakitkan. Fidel bersyukur pernah merasakannya. Perasaan yang dirasakan para remaja di usia sekarang ini.

Daniel adalah laki-laki pertama yang dekat dan punya hubungan khusus dengannya. Ia beruntung bisa mengenal orang seperti dia. Entah kapan lagi mereka akan bertemu. Mungkin akan butuh waktu yang panjang dan tempat tak terduga. Namun Fidel berharap bisa bertemu Daniel lagi. Walau pun situasinya sudah berbeda.

 *Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...