Karya: Regita Saragih
27 Agustus 1993. SMA
Negeri 1 Purba. Cuaca hari ini sangat cerah sekali. Matahari sangat menghangatkan,
sayang terlalu menyengat di kulit, bahkan
di pagi hari seperti ini. Nampak seorang gadis dengan saragam putih abu-abunya
yang rapi. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan begitu rapi tidak lupa
dengan tas slempang merahnya yang begitu
feminim. Begitu sederhana dia, namun sudah cukup menggambarkan bahwa dia salah satu siswi teladan di sekolah
ini. Wajahnya yang tegap dan tegas namun tetap terlihat lemah lembut. Sungguh
anggun.
Dia memiliki postur
tubuh yang tinggi di kalangan siswi di sekolah ini. 163 cm. Langkahnya panjang,
tak butuh waktu lama baginya untuk melewati koridor sekolah menuju ke ruang
kelasnya XII IPA-A.
Kelas itu ternyata sudah ramai. Dimasukinya kelas itu dan melangkah menuju meja kedua paling pojok dekat dengan jendela.
“Ehhh Fidell. Baru
datang?“ sapa salah satu temannya. Dara namanya. Teman dekat Fidell. Bisa
dikatakan sahabat, karna sudah begitu dekat sejak SMP. Gadis itu berbeda 180
derajat dari Fidela. Fidela yang begitu kalem dan sangat pemalu, dengan Dara
yang begitu terbuka dan sedikit berisik. Dia juga suka menghayal. Dia pun
menghampiri Fidel.
“Dell. Ini!" ucap
Dara sambil menyodorkan sebuah diary ungu dengan huruf F di covernya.
“Kemarin tinggal di
rumah aku. Mungkin pas kita ngerjain tugas ngelukis.” timpalnya
“Ooo iya. Makasih yaa!"
ucap Fidel sambil menyimpan Diary itu di tasnya kemudian diraihnya novel yang
ada di tasnya. Seketika dia membaca nvel itu dan tak memperdulikan temannya yang tengah duduk di hadapannya itu.
Yaaa. memang jam masih menunjukkan pukul 07.28 yang artinya bel untuk jam
pertama kurang lebih setengah jam lagi. Fidel begitu tertutup. Dan selalu
Nampak begitu sibuk. Kalau tidak belajar dia akan membaca ensiklopedia dan
novel-novelnya yang begitu tebal itu.
“Umm..Ehh itu diary
kan? Untung sih kamu gembok. Kalau gak aku udah baca semua sampai ke akar-akarnya. HAHAHAHAHA."
“Mmm iya nih. Aku kira
kamu bakal hancurin gemboknya. Karna kan kamu orangnya kepo parah.”
“Hahahha kok aku gak
kepikiran ya. Kuncinya mana?”
………….
Kini
Pukul 14.00. Fiidel sudah berada dirumahnya sekitar setengah jam yang lalu.
Setelah
selesai berberes dan makan siang, ia bergegas kekamarnya. Ia teringat pertanyaan
Dara tadi siang. Dimana kunci diary itu? Ia segera mencarinya di laci nakas. Dan
yaa benar saja kunci itu memang ada disana. Ia segera mengambilnya dan merogoh
kantung tasnya untuk mengambil diary tadi.
“Akhirnya.
Kirain hilang. Udah lama gak dibuka." yaa begitulah Fidel. Diary itu sudah
hampir 2 tahun tidak ia buka. Ia memang begitu mencintai buku. Buku apapun itu,
sudah tak dipakai tapi tetap disimpan dan bahkan ada yang dibawa kemana-mana.
Klekkk…
Suara
yang menandakan bahwa gembok diary itu sudah terbuka. Dibacanya ulang seluruh
isi Diary itu. Bahkan dari halaman pertama. Di lembaran pertama dia teringat
akan hal hal konyol dan benar-benar bodoh yang ia lakukan dulu. Yaa dulu. Buku
diary ini memang ditulisnya saat dia kelas 11 SMA dulu.
“Setolol
ini aku dulu. Astaga hahahha." Fidel mengejek dirinya sendiri. Kala dia
merasa semakin dibuka lembarannya semakin terlihat sifatnya yang begitu kekanak
kanakan dulu.
Hingga,
tiba lah dia di tiga perempat bagian Diary itu. Berbeda. Warna tintanya pun
berbeda dari yang lain.Tintanya merah jambu. Hahaha. Cerita itu, Fidel ingat
lagi. Cerita yang mampu mengubahnya dari gadis pendiam dan tertutup menjadi
ceria, cerita yang mengubah pandangannya bahwa masa remaja itu indah dan semua
orang berhak merasakannya. Senyumnya memudar ia ingat lagi cerita itu juga yang
membuatnya terguncang kala itu. Dan sejak itu ia memutuskan untuk kembali pada
dirinya yang dulu. Fidela
Anastasha Maleaki, sang ratu ambisius yang mendedikasikan waktunya untuk
belajar, baca buku sampai dijuluki sebagai kutu buku dan menumpuk prestasi
akademik. Dia melanjutkan membaca Diarynya itu, sembari mengingat kembali
kenangannya itu. Yaa setidaknya untuk menghibur dirinya dan mengingatkan bahwa
hal seindah itu pun pernah ia rasakan.
Kala
itu. November 1991.
….…..
Tap..tap..tap
langkah kaki seorang siswa laki-laki menyusuri koridor sekolah menuju lapangan
depan. Badannya begitu tegap, 174 cm tingginya. Daniel Methyu Saragih. Nama
yang bagus. Badannya proporsional. Kulitnya tidak terlalu putih, tidak pula
terlalu gelap namun sangat bersih. Wajahnya sangat berkharisma, ditambah lagi
dengan seragam putih abu-abu yang begitu rapi. Tidak terlalu tampan namun manis
dan berwibawa. Ia adalah siswa di kelas XI IPA
B.
Hari
ini adalah masa orientasi Siswa hari pertama.Seluruh siswa baru di SMA 1 Purba.
Di
lapangan para siswa baru tengah diospek oleh para siswa senior. Ada yang
disuruh meminta tandatangan, ada yang disuruh joget sambil bernyanyi,bahkan ada
yang disuruh mencari bunga 7 warna berbeda.
“Pagi kak!”
“Hai kak!”
“Astaga dia lewat. Gantengnya.”
“Kakk!”
“Waduh. Kalau ini sih wajib dapat
tandatangannya.”
“Kak Daniel!”
Itulah
kalimat-kalimat yang didengar Daniel sepanjang ia menyusuri lapangan sekolah.
Tak heran mengapa dia begitu dikagumi banyak adik kelas. Siapa yang tidak kagum
pada kakak kelas tampan, lemah lembut dan berkharisma seperti dia? Bahkan
ketenarannya di kalangan adik kelas mengalahkan sang Ketua Osis, Regita. Dia
hanya menjabat sebagai wakil Ketua Osis saja. Dia juga kapten tim sepak Bola di
SMA ini. Timnya bahkan sudah sangat terkenal. Tentu saja para adik kelas
semakin kagum padanya.
“Hai Kak minta tandatangannya dong
kak. Hehe.”pinta seorang siswi pada Daniel.
“Siapa yang suruh?”
“Kak Irfan, “
“Hmm..Mau tandatangan aku? Aku bakal
kasih tapi harus penuhi syarat Dulu,"
“Apa kak?”
“Kamu harus dapatkan tandatangan
sekretaris OSIS dulu." Daniel ini memang ingin merepotkan siswi ini.
Pasalnya sang sekretaris OSIS itu sanganlah jutek dan cerewet. Di awal Ospek
saja adik kelas sudah takut untuk berurusan dengannya. Bayangkan saja apa yang
harus dihadapi siswi itu untuk mendapatkan tandatangannya .
“Hmmm..Okedeh kak." ucap siswi
itu dengan wajah yang malas campur gelisah
“Oke semoga beruntung!" ucap
Daniel sambil sedikit mengejeknya.
Tiba-tiba terjadi kehebohan di sudut
lapangan lain. Ada seorang siswi yang tiba-tiba pingsan. Refleks Daniel
bergegas ke sana dan mengecek keadaan siswi itu.
“Dia pingsan loh. Ini tadi kenapa?”
tanya Daniel
“Gak tau Kak.Tiba-tiba pingsan.”
“Gak sarapan mungkin Dan. Cuaca juga
lagi panas banget. Langsung bawa ke UKS aja yuk!" ucap teman Daniel yang
merupakan panitia.
“Ya udah. Kalian minggir dulu!"
ucap Daniel sambil menggendong siswi tadi dan membawanya ke UKS diikuti 2 orang
panitia lainnya Ghani dan Andre.
Sesampainya di UKS.
“Heii.Ada yang butuh bantuan!"
ucap Daniel
Ternyata
di sana ada Fidel. Dia yang tadinya tengah merapikan kotak P3K langsung
meninggalkannya dan menghampiri siswa yang telah dibaringkan di ranjang UKS
diikuti temannya, Anggi. Fidel adalah koordinator UKS.
“Ehh tolong ambilin air
hangat!" ucap Fidel sambil mencari
minyak kayu putih di tas UKS. Fidel pun menggosokkannya ke leher siswi itu dan
membiarkannya menghirup aromanya.
“Ehh ini tadi kenapa?" tanya
Anggi
“Gak tau. Tiba-tiba pingsan aja
tadi." ucap Daniel
“Ini nihh. Pasti ga sarapan. Nanti
sebaiknya kalian ingatin mereka buat sarapa. Bisa jadi karna ga sarapan belum
apa-apa udah jatuh pingsan kaya gini." ucap Fidel
Beberapa saat kemudian siswi tadi
tersadar. Fidel Langsung memberikannya minum.
Dan
beberapa saat kemudian.
“Kayanya kamu izin pulang duluan
dek. Mukanya aja masih pucat banget.” ucap Andre.
Siswi
itu hanya mengangguk pelan.
“Yaudah kalau gitu .Kita bawa dia ke
piket buat izin.” ajak anggi teman UKS Fidel tadi.
“Yaudah ayok. Kamu sekalian bantu
nuntun dia. Ayok Dan sekalian balik ke lapangan.” ucap Ghani
“Ohhh kalian duluan aja. Aku masih
mau minum.” ucap Daniel sedikit melirik Fidel,seakan memberi kode.
“Gii. Kamu aja ya sama mereka. Aku
mau nyiapin kotak P3K sama laporan dulu.” ucap Fidel sambil mendudukkan diri di
kursi UKS dan kembali merapikan kotak P3K.
“Oo yaudah dehh.”ucap Anggi
Mereka
pun meninggalkan UKS dan meninggalkan Daniel dan Fidel.
Setelah
meneguk segelas air dari UKS Daniel berjalan mendekati Fidel dan duduk di kursi
di sebelah Fidel dan ingin memulai pembicaraan .
“Udah lama gak sedekat ini
hehe," ucap Daniel
“Gimana Ospek hari ini?”
“Mhhm ..Langsung nanyain itu ya.Hari
ini banyak loh adkel cewek yang minta tandatangan aku!" ucap Daniel sambil
menghadapkan posisi duduknya ke Fidel.
“Terus?” ucap Fidel sedikit mendesak
dengan tatapannya yang agak sinis. Menurut Daniel Fidel Lucu saat sedang
cemburu begitu.
“Hahaha ancang-ancang mau marah ya?
Tenang aja del, mereka cuman minta tandatangan kok bukan minta hati Hehe."
Fidel langsung menepuk-nepuk pundak
Daniel pelan-pelan seakan mengatakan ‘ini punya aku’sambil tersenyum tipis.
“Kamu hari ini sibuk gak Del?”
“Bentar. Kayanya enggak, selesai ini
aku langsung pulang aja.”
“Jalan yukk!”
“ Kemana?Nanti ada yang lihat."
Yaa
begitulah mereka. Tak tahu harus disebut
apa hubungan mereka ini. Mereka sangat dekat sejak awal mereka bersekolah di
SMA ini. Daniel sudah beberapa kali mengutarakan apa yang dia rasakan terhadap
Fidel, dan Fidel pun merasakan yang sama.Tapi Fidel tak pernah menerimanya, tak
pernah pula menolaknya. Karena dia tidak ingin disebut sebagai pacar, dia hanya
ingin mereka menjalani kedekatan mereka tanpa ada status apapun. Ada alasan di balik
semua itu.
Daniel
seorang yang begitu populer di sekolah. Dia tampan, idaman banyak siswi, dia
juga berasal dari keluarga yang sangat berada dan dia primadona
sekolah.Sementara Fidel merasa sedikit minder. Hanya kemampuan akademik dan
prestasinya saja yang membuatnya dikenal banyak orang, selain itu tidak ada
lagi. Dia cantik namun sangat tertutup.
Hubungan mereka ini sudah
berlangsung lebih dari satu tahun, tanpa status apapun. Dan karena alasan
sebelumnya juga, tidak ada satu siswa pun yang mengetahui hubungan Fidel dan
Daniel. Mereka jalan diam-diam, bertemu diam-diam, bahkan sesekali
berkomunikasi melalui surat. Karna ada kalanya dalam 1 minggu penuh mereka tak
punya kesempatan untuk berinteraksi. Kalian pasti mengerti di masa itu belum
ada alat komunikasi seperti sekarang ini, yang jika ingin berkomunikasi tinggal
menelepon dari handphone atau bahkan berkirim pesan teks begitu cepat. Mengapa
mereka ingin merepotkan diri dengan hubungan sesulit itu?
Fidel dan Daniel membicarakan banyak hal saat di UKS. Mereka tak mau
melewatkan kesempatan ini. Karna seminggu ini mereka jarang sekali
berinteraksi. Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki menuju UKS. 1Daniel
langsung melangkah menuju pintu UKS seakan ingin keluar dan Fidel pura-pura
menulis.
“Ehh dia udah pulang?”,ucap Daniel
menanyakan siswi perempuan yang pingsan tadi,karena orang yang datang itu
adalah Ghani dan Anggi yang langsung bergabung dengan Fidel.
“Udah. Ehh kamu dicariin Pak
Nababan.Ayokk!”
“Iyaa ini juga kebetulan mau pergi
ke lapangan. Ayokk!”
Mereka
berdua pun beranjak pergi. Ia mrlirik ke dalam untuk melihst Fidel sebelum
pergi.
….……….
Di sebuah parkiran nampak Fidel yang
sedang memarkirkan sepeda motornya. Ia agak berbeda. Ia memakai masker dan
jaket hitam dengan topi jaket yang menutupi kepalanya.
Ternyata
itu adalah parkiran sebuah rumah makan. Fidel beranjak dari parkiran memasuki
rumah makan itu.
Ternyata
disudut rumah makan ada Daniel yang sudah menunggunya. Yaa kalian pasti
mengerti ini adalah salah satu cara agar tak ada yang tahu mereka sedang
kencan. Fidel mendatangi meja makan itu dan duduk berhadapan dengan Daniel.
“Haiii Nona!” ucap Daniel
“Heii! Aku udah lapar nih. Langsung
pesan aja yok hihi.”
“Iya mukanya aja udah kisut gitu.”
“APA?"
“Heheh nggak," tetap cantik
sih." ucap Daniel pelan. Namun masih bisa didengar Fidel dan itu membuatnya tersenyum.
Dalam
hubungan mereka jarang sekali terdengar gombalan-gombalan atau kata-kata manis
murahan seperti itu. Hubungan mereka sangat sehat. Belum pernah sekalipun mereka
bertengkar. Perasaan diutarakan melalui dukungan yang diberikan satu sama lain
untuk apapun yang mereka kerjakan. Saat Fidel butuh Daniel akan selalu ada,
demikian pula sebaliknya.
“Mau apa?” tanya Daniel
“Mmm Es teh manis sama nasi
goreng."
“Itu aja?”
“Iya.“
“Oke .Bentar yaa.”
Daniel
beranjak menuju etalase untuk memesan makanan.Tak butuh waktu lama makanan pun
datang dan mereka makan bersama.
Setelah selesai makan dan mengobrol
di sana mereka pun pergi dan mengunjungi beberapa tempat dan menghabiskan waktu
bersama-sama seharian itu.Tapi agak aneh, mereka kencan ditemani beberapa buku
pelajaran.
Yaa
mereka kencan sambil belajar bersama. Fidel mengajari Daniel di beberapa
pelajaran yang kurang dia mengerti. Karena Daniel hebat dalam urusan Public
Speaking dan olahraga. Untuk matematika, Fisika, Kimia dia agak kesulitan.
….…..
Sekarang pukul 17.35. Fidel baru
tiba di rumahnya. Kebetulan belum ada orang di rumah. Karena kebetulan
orangtuanya sedang pergi untuk urusan keluarga.
Fidel
membuka pintu rumah dan beranjak untuk membersihkan dirinya serta menyelesaikan
beberapa pekerjaan rumah .
Setelah
selesai ia duduk di sofa rumah. Ia menatap telepon rumah dan berniat
menghubungi Daniel
Ditekannya
beberapa angka untuk menghubungi Daniel
“Halo!” terdengar suara berat Daniel
dari seberang sana
“Haii. Ini aku!” ucap Fidel sambil
tersenyum lebar dan merapikan rambutnya ke sela daun telinganya.
“Ada apa nelepon aku Del?Tadi siang
kan kita baru jalan. Heheh udah rindu?”
“ Iii kok gitu.Aku matikan aja yaa?”
“Ehh jangan. Maaf maaf
hehe. Kamu udah lama sampainya?”
“Iya. Aku tadi langsung pulang kok.”
"Del, aku mau bicara."
"Ada apa?" ucap Fidel
agak gugup. Karena ia tahu kalau Daniel
sudah bicara begitu pasti ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Sesuatu
yang sudah berulang dibicarakan . Dan Fidel tak suka .
Tiba
-tiba Fidel mendengar suara orangtuanya yang sedang mengetuk pintu .
“Del,kita…”,ucapan Daniel terpotong
“Dan maaf ya udah dulu Ibu sama
Bapak udah datang. “
“Ooo yaudah kamu matiin aja.”
“Oke Dan selamat malam!”
“Selamat malam.” tut tut telepon langsung mati tanpa sempat
didengar oleh Fidel.
"Argghh..." erang Daniel
sambil sedikit mengacak rambutnya bagian atas.
….…
Dua hari setelah telepon itu.
Hari
ini adalah hari penutupan Ospek. Semuanya berjalan dengan lancar. Dan mulai
besok jam pembelajaran akan berjalan seperti biasanya.
Fidel
tengah berada di UKS sendirian sembari merapikan barang-barangnya hendak
pulang. Tiba-tiba Daniel masuk tetapi sikapnya aneh dia berjalan menuju lemari
UKS hanya untuk mengantar kotak P3K yang tertinggal di lapangan.Ia menatap
Fidel namun langsung berpaling. Kenyataannya ingin sekali Daniel berbincang
dengan Fidel. Namun ia menahan diri karena sebuah alasan. Ia pun hendak
beranjak. Fidel langsung mendekatinya.
“Dan .Mau langsung pergi nihh
?Hihihi.” ucap Fidel dengan senyum manisnya
“Aku duluan ya .Ada urusan .Dahhh”
“Dan ada apa?”
“Maaf Dell. Udah yaa aku buru-buru” ucap Daniel sembari menepis tangan
Fidel yang memegang bahunya. Ucapannya memang lembut tetapi sikapnya ini
membuat Fidel bingung.
Tak
biasanya Daniel seperti itu. Biasanya ia selalu berusaha untuk dekat dengan
Fidel dan berdua saja dengannya. Tetapi kali ini. Apa yang terjadi?
Fidel
pun hanya termenung menatap bahu lebar Daniel yang semakin menjauh .
….
Sudah seminggu sejak mereka bertemu di UKS itu.Fidel pikir
itu terjadi karena saat itu Daniel memang sibuk. Ternyata bukan begitu
kenyataannya. Daniel selalu menghindari Fidel dan mencari alasan untuk
meninggalkan dia pergi. Saat mereka berpapasan pun ia selalu memalingkan
wajahnya. Fidel kini hanya melamun di kelasnya sambil menunggul Bel masuk.
“Pagi Dell..!” sapa Dara sambil meletakkan tasnya
kemudian mendekati Fidell. Hayalan Fidel
tiba-tiba buyar.
“Ehhh Iya Darr. Tumben datangnya
cepat?Biasanya 10 menit sebelum baris kamu baru datang. Hahaha." ucap
Fidel sambil tertawa tipis.
“Iya nihh. Aku baru dibeliin motor
sama Papa. Biasanya kan harus naik Bis.Nunggunya juga lama.”
“Widihhh..enak dong. kemana mana
udah gampang. Hehe”
“Iya dungs. Nanti aku tunjukin ke
kamu. Aku senang banget”
“Sippp lah!" ucap Fidel
“Ohh iya Dell. Ke kantin yu. Aku
belum sarapan nih." ajak Dara
“Hmmmm..kamu itu kebiasaan ya.
Sarapan itu dibiasakan dari rumah.”
“Heheh biarin yang penting gak
telat. Gimana ayok?”
“Mmmm aku kayanya nggak deh. Aku ada
sesuatu mau diselesaiin” tolak Fidel dengan halus.
“Ooo ya udah dehh. Aku sama Anggi
aja yaa. Dahh” Dara pun pergi sambil menggandeng Anggi.
Fidel hanya menatap
kepergian temannya itu sambil sedikit menggelengkan kepala. Fidel pun
menyibukkan diri dengan Novelnya. Belakangan ini ia malas untuk pergi keluar
kelas .Biasanya ada Daniel yang selalu ada untuknya. Tetapi belakangan ini
tidak sama sekali. Jujur, ia merasa kehilangan
….……
Fidel telah pulang dari
sekolah dan kini tengah berada di rumahnya. Ia merebahkan dirinya di kasur dan
menatap langit-langit kamarnya.Tak ada interaksi dengan Daniel seharian ini. Ia
tiba tiba teringat bahwa besok adalah ulang tahun Daniel.Ia pun tersenyum dan
langsung bangkit dari ranjangnya.Ia langsung sibuk memikirkan Kado untuk
Daniel.Tahun lalu ia memberiksn sepatu bola.Tahun ini apa?Ia pun terpikir untuk
memberi Daniel Jaket. Ia pun mengambil jaket dan kunci sepeda motornya dan bergegas membelikan
kado.
…..
Fidel
hari ini sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. Yaa karena hari ini ulang
tahun Daniel. Ia ingin memberi kejutan sambil mencoba untuk memperbaiki
kerenggangan mereka yang sudah terjadi seminggu ini.Tetapi ia belum melihat Daniel sama sekali. Saat
dibarisan pun dia sama sekali tidak melihat Daniel. Bahkan ia sengaja lewat
dari depan kelas Daniel hanya untuk melihatnya .
“Permisi!" Fidel
memijakkan kakinya di depan pintu kelas Daniel
“Ehh
Fidel. Ada apa kemari?” tanya Karin
salah satu teman sekelas Daniel
“Mmm.
Begini, aku ada perlu sama Daniel. Dia ada gak? Tolong panggilkan bentar”
“Dia
hari ini gak sekolah Del. Bisa dibilang dia gak bakal sekolah di sini
lagi."
“Hahh?
maksudnya?” ucap Fidel yang masih belum bisa mencerna ucapan Karin.
“Daniel
cerita ke kami teman sekelasnya, katanya dia mau pindah sekolah dan rencananya
hari ini pindahnya” jelas Karin
Fidel diam sesaat. Dia tak tahu harus mengatakan
apa. Lidahnya kaku wajahnya datar.
“Ooo
gitu ya. Kalau boleh tau pindah kemana?”
“Kata
Daniel sih ke kota Bogor,"
“Ya
udah deh Rin. Aku pergi dulu. Makasih ya." ucap Fidel menutupi
keterkejutannya.
“Oke
Del.”
Fidel pun pergi dari sana. Wajahnya masih terlihat
syok. Daniel pindah?Sejak kapan berencana begitui?Mengapa tak mengabari sedikit pun?Apa mereka tak akan
bertemu lagi?Apa yang telah terjadi pada nya?Pertanyaan-pertnyaan itu terus berputar di kepala Fidel. Ia tidak
menyangka saja. Seminggu ini Daniel menjauh darinya dan hari ini tiba-tiba
Fidel mendengar kabar ini.
….….
Fidel kini sudah berada
di rumahnya. Dia terduduk dengan lemas di sofa ruang tamu. Dia tak tahu harus
berkata dan berbuat apa. Daniel pergi?Dia tak menyangka.Tiba-tiba Fidel berniat
meneleponnya. Namun saat Fidel mencoba tak ada hasil sama sekali. Teleponnya
yang terputus atau tidak ada yang
mendengar. Dia tak tahu
Dia sangat bimbang.
Namun dalam hatinya ia mengatakan bahwa
ia harus menemui Daniel hari ini. Bagaimana pun caranya.Walau pun ini mungkin
akan jadi pertemuan terakhirnya dengan Daniel, ia tak masalah. Setidaknya ia
mendapat kejelasan dari apa yang telah terjadi diantara mereka.
Fidel pun mengambil
kunci sepeda motornya. Dan pergi meuju rumah Daniel.Berharap Dia dan
keluarganya belum berangkat. Untung saja tidak ada orang di rumahnya. Kalau
tidak dia akan repot untuk memberi penjelasan lagi. Tak lupa ia juga membawa
kado yang telah ia buat untuk Daniel.
Kini sampailah dia di
depan rumah Daniel. Untuk pertama kalinya ia ke sini . Rumah kekasih yang bukan
kekasihnya. Diinjakkannya kakinya di teras rumah besar itu dan mengecek keadaan
di sekitarnya. Dia pun menekan bel rumah itu. Namun tak ada respon apapun.
Fidel pun duduk di
kursi yang ada di sana. Ia menunggu. Sekitar satu jam dia menunggu. Sampai ia
tersadar dengan plakat yang ada di sebuah tiang kecil rumah itu. 'RUMAH INI
DIJUAL’. Seketika kado yang ada di tangan Fidel terjatuh air matanya tiba-tiba
mengalir. Kalau sudah seperti ini berarti benar bahwa Daniel dan keluarganya
telah berangkat ke Bogor. Tak dapat melihat Daniel lagi. Itulah yang langsung
terlintas di benak Fidel. Dirasa tak ada lagi gunanya berada di sana, ia pun
pulang.
Malam itu dia menangis
dikamarnya tak tahu harus melakukan apa. Menunggu telepon dari Daniel?Ahh
nampaknya mustahil. Sakit sekali mengingat apa yang telah terjadi hari ini.
Setega itu kah Daniel? Fidel menangis hingga ia tertidur.
….…
Sudah satu minggu
semenjak kepergian Daniel. Sakit ,kesal,marah ,rindu semua itu menjadi satu
rasa di hati Fidel. Ingin rasanya menemui Daniel dan meluapkan kekesalan dengan
memukulinya.
Namun ada secerca
harapan. Sepulang sekolah hari ini. Fidel melihat surat yang ada di Kotak Surat
rumahnya. Ia bawa ke rumah dan dibukanya. Untuknya? yaa surat itu untuknya dan
pengirimnya adalah ‘DANIEL’
Alangkah terkejutnya
Fidel.Ia langsung membukanya. Terburu-buru hingga amplopnya robek tak
beraturan. Di surat itu Daniel meminta maaf padanya karena pergi tanpa kabar.
Ia pergi karena sang Ayah dipindah tugaskan sehingga mereka harus ikut pergi
pula. Daniel selama ini mengabaikan Fidel agar saat ia pergi Fidel tak terlalu
merasa sakit. Namun ternyata sama saja sakitnya.
Di surat itu Daniel
meminta agar mereka tetap berhubungan walaupun sangat jauh jaraknya.Mereka akan
berkomunikasi melalui surat. Fidel bisa mengirim balasannya di alamat surat
itu.
Fidel tentu sangat
senang. Ada rasa yang amat lega di hatinya.
Ke esokan harinya ia langsung mengirimkan balasan
surat itu .
Namun hal menyakitkan kembali terjadi. Fidel tak
ingin menuduh Daniel mempermainkannya tetapi nampaknya memang begitu
kenyataannya. Sudah sebulan sejak surat itu dikirim tak ada balasan apapun. Ada
apa sebenarnya?
Sejak
saat itulah komunikasi mereka berdua benar benar terputus. Fidel tak pernah
mendapat surat dari Daniel sampai hari ini. Di masa itulah Fidel benar-benar
jatuh. Untuk apa Daniel memberi surat itu dan memberinya harapan. Kalau pada
akhirnya harus begini juga. Sangat sakit .Namun tak ada seorang pun yang bisa
diajak bercerita. Siapa yang akan percaya Fidel dan Daniel ada hubungan.
….…
Begitulah
kenangan Fidel. Satu tahun yang lalu, tapi belum bisa ia lupakan sepenuhnya.
Fidel pun menutup kembali Diarynya itu dan
menggemboknya lagi. Masa itu. Indah walau menyakitkan. Fidel bersyukur pernah
merasakannya. Perasaan yang dirasakan para remaja di usia sekarang ini.
Daniel adalah laki-laki pertama yang dekat dan punya hubungan khusus dengannya. Ia beruntung bisa mengenal orang seperti dia. Entah kapan lagi mereka akan bertemu. Mungkin akan butuh waktu yang panjang dan tempat tak terduga. Namun Fidel berharap bisa bertemu Daniel lagi. Walau pun situasinya sudah berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar