Rabu, 03 November 2021

JEMIMA



 Oleh Lia Kristiani Manihuruk

 

            Jemima Athena Belladona, seorang wanita yang biasa-biasa saja menurut dirinya sendiri tetapi tidak menurut mata orang yang melihatnya. Nama Jemima sebenarnya memiliki arti merpati kecil sedangkan Athena diambil dari nama Dewi Athena, dan Belladona yang sebenarnya merupakan sebuah jenis bunga beracun yang dapat merusak saraf. Jemi begitu orang biasanya memanggilnya, dia anak yang memiliki mata cokelat yang indah, tinggi, kulit putih bersih, dan postur tubuh yang bagus. Dia benar-benar anak yang  introvert. Pendiam dan juga cerdas. Sangkin introvert nya dia tidak memiliki satu teman dekat pun selama hampir dua tahun dia SMA, dia tinggal di sebuah kota kecil.

            Kehidupan remaja Jemi sebenarnya baik-baik saja hingga akan ada satu hari dimana semuanya akan berubah. Pagi itu Jemima berangkat ke sekolah seperti biasanya, sangat pagi. Kenapa dia berangkat sangat pagi? Ya, jelas aja untuk menghindari siswa-siswa lain saat dia berjalan menuju kelasnya. Suasana kelas benar-benar tenang hingga teman-teman lain berdatangan dan mengobrol satu sama lain. Dan duarrrr........... sebuah tangan menggeplak meja guru dengan keras. Dia adalah Joy anak perempuan terheboh dikelas.

“Woi!!  Gila kau ya... kau kira meja itu bapak mu yang beli!” teriak ketua kelas kami yang geram melihat kelakuannya.

“Iya iya. Sanss kali...,” sahut Joy.

“Guys...guys...guys, ada berita VVVVIP nih high class pokoknya. Kita bakal kedatangan siswa pindahan baru yang super duper guantengsss,” cerita Joy dengan heboh.

Sementara para cewek-cewek langsung neror Joy dengan pertanyaan cowok-cowok lanjut main game. Dan Jemi yang lanjut baca novel.

            Tak tak tak suara high heels Ibu guru sukses membuat satu kelas diam. Terlihat seorang pria tampan yang berdiri gagah disamping Ibu guru.

“Semuanya diam, hari ini kita kedatangan siswa baru. Ayo perkenalkan dirimu,” ucap Ibu Amira.

“Halo semua, nama saya Chanyeol Athana Elenio. Saya tinggal di sekitar sekolah ini, semoga kedepan kita bisa berteman,” ucap Chanyeol dengan tersenyum sangat manis.

Dia adalah Chanyeol Athana Elenio, anak dari CEO Elenio Corporation yang terkenal seantero negeri. Dia anak yang super duper PD, ya kenapa dia ngga PD coba dia udah tampan no debat, putih, kalo kekayaan ngga usah ditanya lagi, sekali senyum kaum hawa langsung kehilangan tulang alias mleyot dia juga dikenal sebagai happy virus karena sangkin cerianya. Seperti sekarang ini cewek-cewek sudah ribut kayak emak-emak lagi bagi sembako aja.

“Diam” suara Ibu Amira sedikit meninggi.

“Silahkan duduk disana Chanyeol”

“Baik Bu,” sahut Chanyeol.

Chanyeol tepat duduk dibelakang Jemima. Sekilas Chanyeol melihat Jemi hati nya sedikit berdecak kagum akan kecantikan Jemi.

            Jam istirahat pun tiba seisi kelas menjadi heboh kembali apalagi dengan adanya Chanyeol di kelas. Chanyeol sudah berkenalan dengan hampir semua laki-laki di kelas itu karena dia memang anak yang supel. Sebenarnya Chanyeol punya seorang anak yang sangat dekat dengannya bahkan sebelum pindah, Rafael Chen merupakan anak dari pemimpin cabang perusahaan Elenio di kota itu maka dari itu Chen sudah kenal dengan Chanyeol.

“Chen, nama cewek yang depan ku ini siapa?” Chanyeol bertanya kepada Chen.

“Ya elah, baru juga nyampe sini dah mau deketin cewek aja” jawab Chen, yang akhirnya dihadiahi timpukan buku oleh Chanyeol.

“Kalo kami sih sering manggil dia itu Jemstery” jawab Chen lagi sambil terkekeh.

“Namanya Jemstery?”

“Ya, nggalah Yeol namanya itu Jemima tapi karna dia ini pendiam dan misterius kami kasih nama Jemstery artinya Jemi Mistery gituloh Yeol” jelas Chen.

            Hari itu Chanyeol tidak berkenalan dengan Jemima begitupun seminggu kedepannya, sebenarnya Chanyeol sangat ingin berkenalan dengan Jemi tapi karna Jemi anaknya sangat pendiam jadi pasti akan canggung jika berkenalan dengannya. Saat itu hari senin pagi saatnya jam pelajaran Ibu Amira yaitu kimia, pagi itu Ibu Amira memberi tugas kelompok. Ibu Amira membagi kelompok berdasarkan tempat duduk jadi Chayeol, Jemi, Chen, Joy dan dua anak lagi Dio dan Aqila satu kelompok. Mereka diberi tugas membuat power point, kelompok Jemi memutuskan untuk mengerjakan tugasnya besok.

Siang itu, sekitar jam 14.30 sore Jemi sampai dirumahnya dan mengganti bajunya lalu dia melihat meja belajarnya dan,

“Baeeekkkkiiii!” teriak Jemi dari kamarnya.

Jemi berteriak bukan tanpa sebab novel kesayangannya tidak berada di meja nya dan dia yakin itu diambil oleh adiknya dan jika sudah diambil adiknya itu baliknya pasti sudah tidak utuh lagi. Baekhyun Orfeo adik satu satunya Jemi sekaligus satu satunya saudara Jemi, biasa dipanggil Baekki anak ini benar-benar imut sekali tidak ada duanya, berusia 8 tahun. Sangkin imutnya orang-orang yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta padanya tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan mereka dari anak ini.

“Apa sih ka teriak-teriak kayak orang kesurupan aja”

“Kau kan yang ambil novel ku diatas meja”

“Ohh itu aja juga teriak-teriak nanti aku balikin,” jawabnya santai.

Rasanya Jemi benar-benar ingin meremas adiknya itu, tapi saat dia melihat wajah imut adiknya itu dia benar-benar tidak bisa marah.

            Malam itu, Jemi benar-benar sedih karena teringat akan sesuatu dia juga melihat adiknya yang masih kecil dia memandang adiknya dengan abstrak seolah-olah ada kesedihan yang sangat dalam tersimpan dalam tatapannya. Keluarga mereka merupakan anggota dari sebuah perkumpulan dikota nya, Jemi benar-benar sangat ingin keluar dari perkumpulan ini tapi sayangnya orang tua nya sepertinya tidak berpikiran demikian.

            Besoknya kelompok Jemi mulai mengerjakan tugas kimia mereka dan mau tidak mau ya Chanyeol dan Jemi harus berkenalan. Bukan cuman berkenalan tapi Chanyeol terus menggoda Jemi dengan candaan candaan yang dibalas dengan tatapan beku dari Jemi, tapi Chanyeol ngga akan berhenti begitu saja.

“Jemi nanti pulangnya aku antar ya, sekalian kenalan sama calon mertua hehe...... ya kan “

Jemi pun hanya menatap Chanyeol miris,

“Ya ampun Jemi kau ini terbuat dari es batu kah? Dingin banget ngga ada hangat-hangat nya, tapi ngga apa apa nanti aku hangatin.”

Teman yang lain yang melihat hal itupun hanya bisa geleng-geleng kepala sekaligus menahan rasa ingin muntah.

            Hari-hari pun berganti dan Chanyeol tetap melancarkan aksi-nya mengganggu Jemima, kadang Jemi sedikit tertawa melihat kelakuan Chanyeol bahkan mereka sekarang sudah mengobrol meskipun lebih sering tidak direspon oleh Jemi tapi Chanyeol udah senang direspon aja oleh Jemi sudah suatu kemajuan besar.

            Malam itu Chanyeol melihat Jemi berjalan dengan seorang pria kira-kira sebaya mereka menuju hutan kota itu. Chanyeol-pun mengikuti mereka karena dia takut Jemi diapa-apain sama cowok itu, lalu dia melihat Jemi menuju sebuah perkumpulan disana dan ada lumayan banyak orang lalu dia memutuskan untuk pergi karena dia merasa Jemi sudah aman. Pria yang bersama Jemi tadi adalah Sehun Adalvino Di Mambro, Sehun dan Jemi sudah bersahabat sejak mereka berusia 5 tahun. Jemi adalah anak yang dingin tapi Sehun anak yang jauh lebih dingin, dia anak yang sangat tampan memiliki proporsi wajah dan tubuh yang sempurna dia benar-benar terlihat seperti anime yang hidup. Dia anak dari pemimpin perkumpulan ini.

            Jemi dan keluarganya sudah ikut perkumpulan ini sejak Jemi berusia lima tahun atau lebih tepatnya saat mereka baru pindah ke kota ini. Saat itu, orang tua Jemi dan Jemi yang baru berusia lima tahun pindah dari sebuah kota besar ke kota ini karena orang tua Jemi di PHK. Menurut cerita dari orang tua Jemi pada saat itu orang tua-nya yang uangnya pas-pasan sedang luntang-lantung mencari rumah kontrakan yang murah tapi sangat sulit menemukannya, saat itulah orang tua-nya bertemu dengan Pendeta Josep Di Mambro dan istrinya Luci Di Mambro yang  merupakan orang tua dari Sehun. Mereka menawarkan makanan dan tempat tinggal gratis dan diperkenalkan dengan anggota lainnya yang akhirnya dibantu mencari pekerjaan di kota itu. Lalu akhirnya dipengaruhi untuk bergabung dengan perkumpulan mereka. Orang tua Jemi pun merasa sangat berutang budi pada Pendeta itu.

            Itu sebenarnya bukan sebuah perkumpulan biasa lebih tepatnya sebuah sekte sesat yang didirikan oleh Pendeta Josep. Sekte itu bernama “Order Of the Solar Temple” mereka memiliki 65 anggota yang tersebar di tiga kota tapi memiliki pusat perkumpulan di kota ini. Semua anggota sekte ini sudah seperti kerbau yang dicongok hidungnya, mereka akan mengikuti semua keinginan Pendeta Josep dan semua perkataan yang diucapkan oleh Pendeta Josep adalah benar tak terkecuali orang tua Jemi. Tapi tidak dengan Jemi dia anak yang sangat berpikiran kritis.

Sekte ini memiliki aturan aneh dan kepercayaan aneh. Mereka percaya bahwa Pendeta Josep adalah perantara mereka menuju surga. Dan anak laki-laki berusia delapan tahun suatu hari akan dibawa kesuatu tempat oleh para pengurus inti yang disebut “Suho” atau para guardian oleh anggota yang berjumlah lima orang dan anak yang selamat dipercaya akan langsung masuk surga nanti, tapi 3 dari 6 anak meninggal dalam ritual ini. Sedangkan anak perempuan yang berusia 17 tahun akan dilakukan sebuah ritual oleh Pendeta Josep langsung, sebenarnya bukan ritual lebih tepatnya pencabulan oleh Pendeta Josep dan mereka percaya anak perempuan yang masih perawan saat disentuh oleh Pendeta Josep akan masuk surga dan sebaliknya anak yang sudah tidak perawan sebelum disentuh pendeta Josep akan langsung dihakimi dan dibunuh. Dan Jemi akan segera melakukan ritual itu, dia benar-benar tidak ingin melakukan itu dia juga menghkhawatirkan adiknya. Penghakiman dan pembunuhan pernah terjadi pada satu orang anak bernama Ysavine dia langsung dibunuh dan dihakimi karena dikatakan sudah tidak pewaran lagi. Kepercayaan mereka yang lainnya adalah mereka percaya jalan tercepat menuju surga adalah bunuh diri, setidaknya sudah ada lima orang yang  bunuh diri di perkumupulan ini semenjak keluarga Jemi bergabung. Dan setiap malam perkumpulan mereka akan meminum darah dari hewan-hewan yang disembelih, dan setiap ada yang dihakimi mereka akan meminum darah dari orang yang dihakimi karena mereka percaya itu dapat menebus dosa mereka.

Malam itu, sepulang dari perkumpulan Sehun dan Jemi mengobrol dan bisa dipastikan obrolan mereka akan berakhir dengan singkat karena es batu ketemu es batu ngga mungkin mencair kan sama seperti obrolan mereka sebelum-sebelumnya.

“Jemima” Sehun memulai obrolan malam itu,

“Iya?”

“Kamu pasti mikirin ritual itu kan, ritual mu sama Baekhyun?” Sehun menatap Jemi dalam.

“Iya, hehe” Jemi terkekeh sambil tersenyum miris dia hampir saja meneteskan air matanya. Sakit. Dia benar-benar benci mengingat hal itu.

“Jemi pergilah bawa Baekhyun”

Mata Jemi terbelalak dia tidak menyangka akan mendengar hal itu dari mulut Sehun dia juga merasa senang karena dia seperti melihat sebuah harapan di mata Sehun.

“Iya kan Hun, perkumpulan ini memang tidak benar kan kau juga merasa seperti itukan kita harus membubarkan perkumpulan ini Hun” Jemi tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca dia benar-benar senang mendengar hal itu dari Sehun.

“Tidak Jemi!! Papa ku tidak salah, papa ku itu Pendeta Jemima!” suara Sehun benar-benar meninggi dia tidak suka mendengar Jemi mengatakan ayahnya tidak benar.

Jemi benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sehun.

“Aku tidak mengerti Sehun, kau menyuruhku untuk pergi,”

“Aku menyuruhmu pergi karna aku tidak ingin kau terluka” Sehun tidak ingin Jemi terluka tapi dia juga merasa Ayahnya tidak salah.

“Sudahlah ayo pulang aku akan mengantarmu pulang” ucap Sehun.

            Pagi itu Jemi membaca novel dikelas, dia suka membaca novel karena itu dapat mengalihkan perhatiannya dari masalah-maslah nya.

“Ya ampun Jemi baca novel mulu” ucap Chanyeol mengalihkan perhatian Jemi

“Baru kali ini aku iri sama buku”

“Hah?” Jemi bingung maksud dari Chanyeol

“Iyaloh Jemima soalnya buku aja kamu pandangin terus, aku dilirik aja engga”

“Oeekk, bucin! Ganteng-ganteng bucin amat” ejek Chen

“Tau ini si Cy kalo Jemi ngga mau samamu aku juga mau kok, hehehh...” ucap Joy

“Kau itu bukan tipe nya Cy Joy, Jenni Blackpink aja bukan tipe Cy, iyakan Yeol” balas Dio.

“Iya ngga, tipe ku itu IU tapi ngga lebih dari Jemima Athena Belladona” jawab Chanyeol sambil senyum narsis.

            Jemi saat ini berada dirumah dia mencari-cari adiknya tapi tidak menemukannya, orang tua-nya sedang pergi keluar kota bersama Pendeta untuk menyebarkan paham sekte. Dia benar-benar takut sekarang dia sudah mencari keseluruh rumah teman-teman adiknya yang dia ketahui tapi juga tidak menemukannya. Hujan pun turun Jemi terus berlari ditengah hujan karna dia benar-benar takut adiknya kenapa-napa, hingga sebuah mobil mewah berhenti disamping Jemi dan seseorang turun.

“Jemi kamu ngapain dihujan gini? Ayok naik aku antarin, ayok” ucap Chanyeol

Sekarang mereka sudah berada dalam mobil, Chanyeol melihat Jemi menangis lalu Chanyeol bertanya kepada Jemi dan Jemi menceritakan bahwa dia sedang mencari adiknya.

“Ya udah sekarang aku bantu nyari adikmu ya kamu pake jacket ku dulu inikan dingin, kamu tenang ya dia pasti ngga apa-apa kok” lalu Chanyeol seperti sedang menelepon sesorang.

“Kamu punya poto adikmu?”

“Iya ada”

“Oke kirim samaku ya”

“Halo, saya sudah kirim potonya kalian cari harus ketemu secepatnya!” itu adalah orang suruhan keluarga Chanyeol dia menyuruh mereka mencari Baekhyun agar semakin cepat ketemu.

            Tak selang beberapa lama salah satu orang suruhan Chanyeol menelepon Chanyeol mengatakan bahwa mereka sudah melihat Baekhyun sedang bersama dengan seorang pria, Jemi dan Chanyeol pun langsung menuju lokasi yang dikatakan orangnya. Ternyata Baekhyun bersama dengan Sehun di depan rumah perkumpulan.

“Ya ampun Baekkkiii, kau ini kok bisa sama abang Sehun sih? Ya udah ayok pulang nanti jelasin dirumah aja kakak udah kedinginan ini”

Tapi Baekhyun malah menatap sinis kearah Chanyeol seolah-olah ingin bertanya siapa kau dia benar-benar sangat imut saat ini, sementara Chanyeol dia menatap selidik ke arah Sehun seolah-olah Sehun sudah mencuri sesuatu darinya.

            Hari demi hari Jemima benar-benar semakin banyak berubah, sekarang dia sudah berbicara dengan teman-teman sekelasnya dia juga sudah semakin dekat dengan Chanyeol. Semakin hari mereka berdua semakin dekat Jemi sekarang benar-benar merasa nyaman disamping Chanyeol sehari tanpa Chanyeol mengganggunya mungkin akan sangat membosankan bagi Jemi dan Chanyeol dia semakin hari semakin menyukai Jemima. Seperti sekarang ini mereka sedang berjalan diatas sebuah jembatan di kota itu sambil bercanda, Chanyeol juga memberikan banyak sekali perhatian-perhatian kecil kepada Jemi yang tidak didapatkan Jemi dari orang lain selama ini. Pagi itu Chanyeol tiba-tiba megang tangan Jemi saat di depan sekolah.

“Eh, kenapa?” tanya Jemi bingung

“Ayok deh bentar aja kesuatu tempat”

“Ah engga ah nanti kita telat lagi”

“Ngga Jemi ini satu jam lagi loh masuk, ngga bakal telat deh ayok”

Lalu mereka pergi kejembatan kota itu lagi itu benar-benar masih sangat pagi, mereka memandangi matahari yang sedikit demi sedikit naik keatas, pemandangan sederhana yang luar biasa indah.

“Jemi kamu mau ngga jalani hari-hari seperti ini terus bersama Chanyeol Athana Elenio kedepannya sampe kita benar-benar keriput?”

“Hah?” Jemi benar-benar terkejut dengan perkataan Chanyeol itu disatu sisi juga dia sedih karna dia yakin tidak akan melalui hari itu bersama Chanyeol.

“Ya elah ngga usah seserius itu kali Jemi” canda Chanyeol untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba menyerang mereka. Setelah sekitar dua puluh menit mereka pun akhirnya kembali ke sekolah.

 Jemi juga akhir-akhir ini sering tidak menghadiri pertemuan dia selalu pergi dari rumah entah kemana untuk menghadiri pertemuan itu dan itu membuat oarang tua nya marah bahkan mengancam tidak akan mengijinkan Jemi sekolah lagi. Sehun juga menyadari perubahan Jemi itu mereka belum berbicara semenjak malam pembicaraan tentang ritual itu. Dan itu benar-benar melukai perasaan Sehun.

Malam pertemuan kali ini benar-benar berbeda dari malam lainnya hari ini seorang bayi akan dihakimi dan dibunuh karena katanya merupakan jelmaan anti-Kristus. Dia adalah bayi dari Amoera, tapi sepertinya tidak ada raut kesedihan sedikitpun di wajah Amoera malam ini dia malah mengatakan membenci bayi itu dan merasa berdosa karena telah menjadi perantara bayi itu menuju dunia.

Adverus homines peccatores tormentis erunt, et qui seipsos occidunt, detur introitus celum, et Pastor losephus est eorum medius in caelum

Lirik itu merupakan lirik yang selalu dilantunkan para Suho saat melakukan penghakiman yang artinya,

“Manusia-manusia berdosa akan dihadapkan dengan penyiksaan, dan orang-orang yang membunuh diri mereka sendiri akan diberi jalan menuju surga, dan Pendeta Josep merupakan perantara mereka menuju surga.

Pada ritual seperti ini mereka akan mengenakan sebuah jubah besar yang menutupi seluruh tubuh mereka. Dan ssstttt...... suara decikan pisau menghentikan semua nyanyian mereka dan suara tangisan bayi pun sudah tidak ada lagi, Para Suho lalu mengambil cawan yang akan diisi dengan darah bayi itu dan akan diberi pada seluruh anggota disana untuk diminum. Amoera lalu pergi ketengh orang-orang dan mengatakan

“Aku akan melakukan persembahan tubuhku malam ini, aku menyesal telah melahirkan bayi itu ke dunia ini” lalu Amoera berjalan menuju tali persembahan dan menggantung dirinya disana.

“Terpuji Amoera dia sudah melakukan hal yang sewajarnya dia akan langsunng menuju surga” ucap Pendeta Josep.

Semenjak malam itu setidaknya akan ada 3 atau 4 orang yang melakukan bunuh diri saat mereka melakukan perkumpulan. Orang-orang mungkin bertanya kemana polisi di kota itu pergi? Kenapa tidak menghentikan ritual semacam itu? Faktanya kepala polisi disana merupakan anggota dari sekte itu demikian juga beberapa orang paling berpengaruh di kota itu.

            Sedikit lagi akan tiba ritual  Jemima dan Baekhyun, entah kenapa sejak malam itu orang tua Jemi sepertinya sedikit tersadar bahwa ada kesalahan dalam sekte ini dan bahkan berpikir untuk membawa Jemi dan adiknya kabur dari ritual itu. Hari-hari berikutnya Jemima di sekolah selalu dipenuhi dengan banyak sekali pikiran-pikiran mengenai sekte itu. Dan Chanyeol menyadari bahwa Jemi sedang dikaluti oleh sebuah masalah

“Jem..Jem....Jem....Jemima Athena!” Chanyeol memanggil Jemi berkali-kali karna sepertinya sedang melamun.

“Iya?” sahut Jemi

“Ngelamunin apasih serius amat, kamu lagi ada masalah? Cerita samaku”

“Eh, engga kok cuman lagi ngelamun aja”

“Jemi perkumpulan yang kalian ikutin itu sebenarnya perkumpulan apasih kok kayak harus pertemuan ditengah hutan gitu?”

“Hah? Cuman perkumpulan biasa kok” Jemi menjawab dengan kelabakan karena dia tidak menyangka akan mendengar hal itu dari Chanyeol.

Chanyeol sebenarnya mulai curiga pada perkumpulan itu semenjak semalam dia tidak sengaja mengikuti Jemi ke perkumpulan itu dan dia melihat dari jauh semua orang disana memakai jubah dan itu benar-benar mengerikan. Meskipun Jemi menjawab seperti itu kepada Chanyeol, dia tidak akan percaya seperti itu aja dia malah menyuruh beberapa anak buah keluarga-nya untuk mencari tahu tentang perkumpulan itu.

            Angin segar seperti berhembus diwajah Jemi siang ini, bagaimana tidak orang tuanya tiba-tiba mengatakan akan menyembunyikan Jemi dan adiknya agar tidak mengikuti ritual sekte. Di tempat lain, Pendeta Josep yang mendengar hala itu merasa kesal dan mengatakan bahwa Jemi dan keluarganya adalah penghianat dan menyuruh seluruh anggota sekte untuk mencari mereka ke seluruh penjuru kota. Sehun yang mendengar hal inipun langsung pergi mencari Jemima. Jemima dibawa ke tengah hutan oleh orang tuanya karena tidak mungkin membawa Jemi ke kota, itu akan membuat mereka mudah ditemukan. Disisi lain Chanyeol yang khawatir karena Jemi tidak masuk sekolah selama berhari-hari tanpa keterangan, mendengar dengan serius penuturan dari orang suruhannya yang menjelaskan tentang sekte itu. Chanyeol yang mendengar penuturan tentang sekte itupun benar-benar kalut tapi dia yakin bahwa Jemi dan keluarganya hanya orang yang terjebak dalam hal ini lalu dia menyuruh suruhannya untuk mencari Jemi kembali.

            Orang tua Jemima memutuskan untuk tetap datang ke pertemuan sehingga mereka bisa melindungi kedua anak mereka. Sekeras apapun Jemi melarang mereka untuk pergi mereka tetap mengatakan akan pergi. Hari itu Sehun mendengar bahwa satu orang anggota sekte meliha Jemi di hutan, Sehun-pun langsung bergegas pergi menyelamatkan Jemi sebelum salah satu anggota menemukan Jemi.

“Jemima” Sehun memanggil Jemi

Suara Sehun benar-benar sukses membuat Jemi ketakutan dia takut Sehun akan memaksa dia mengikuti ritual tapi Sehun malah mengajak Jemi pergi dari hutan karena anggota lain sedang menuju hutan untuk mencari mereka. Mereka benar-benar tegesa-gesa Sehun sesekali menggendong Baekhyun saat Baekhyun kelelahan, mereka berhasil keluar dari hutan dan menuju jalan raya mereka benar-benar kelelahan. Tin tin suara klakson mobil mengalihkan pandangan mereka. Itu ternyata Chanyeol.

“Ayok naik”

Sehun sempat ragu akan naik tapi diyakinkan oleh Jemi untuk naik. Lalu mereka berhenti dan beristirahat di sebuah taman kota, Chanyeol membelikan minuman pada mereka.

“Orangtuamu mana Jemi?” Sehun yang bertanya kepada Jemi karena dia tidak melihat orangtua Jemi sedari tadi.

“Mereka nemuin Pendeta Josep”

“APA? Jemima mereka sudah dicap sebagai penghianat dan kamu tau kan hukuman bagi penghianat, harusnya mereka tidak pergi” Sehun berbica dengan nada terkejut kepada Jemi.

Hal itu benar-benar membuat Jemi banjir air mata dia merasa bersalah kepada orang tua-nya kalo aja dia mau mengikuti ritual orang tua-nya pasti tidak akan dihakimi sekarang tapi dia juga memikirkan adiknya yang sedang tidur pulas dipangkuannya.

            Sehun, Jemima, dan Chanyeol dengan beberapa anak buah Chanyeol pergi kearah perkumpulan sekte dengan harapan dapat menyelamatkan orangtua Jemi. Hari itu sudah menjadi malam ketika mereka tiba di perkumpulan, tapi sepertinya meraka terlambat ritual penghakiman sudah dilaksanakan. Jemi yang hendak ingin berlari kesana dan menghentikan ritual itupun ditahan oleh Sehun dan Chanyeol karna jika mereka melihat Jemi pasti akan langsung dihakimi. Aaaaaa.....teriakan ibu Jemi pun mengakhiri penghakiman malam itu mereka lalu mengambil darah orangtua Jemi dan meminumnya. Saat itu mata Jemima hanya dipenuhi oleh dendam terhadap orang-orang disana. Jemima sekarang sudah benar-benar seperti orang stres dia tidak tahu kemana tujuan hidupnya lagi dia bahkan tidak tau sekarang adiknya ada dimana, bahkan air mata pun sudah enggan menetes dari matanya.

            Disisi lain orang tua Chanyeol yang keheranan kenapa ada seorang anak laki-laki menangis di rumah mereka. Ya, itu Baekhyun. Dia sekarang sedang menangis karna dia tidak mengenal satupun orang yang berada dirumah itu hingga orangtua Chanyeol datang. Ibu Chanyeol yang melihat Baekhyun pun langsung jatuh cinta akan wajahnya yang benar-benar imut dan polos.

            Beberapa hari sudah berlalu semenjak penghakiman, malam itu Jemima menatap langit yang gelap bahkan satu bintang pun tidak ada disana tangannya memutar-mutar sebuah pisau, angannya terbang kemalam penghakiman. Jemi mengingat wajah kedua orang tua-nya wajah Pendeta Josep dan wajah orang-orang yang meminum darah orang tuanya. Dendam yang berapi-api dan darah Psikopatnya muncul kakinya beranjak dari tempat itu.

            Jemima mendatangi kamar khusus Pendeta Josep lalu dia melihat Pendeta Josep sedang duduk disana sambil tersenyum simrik. Dan srrrkkkk..... pisau Jemima menembus perut Pendeta Josep, Jemima tertawa sarkas sambil mengambil sebuah cawan dan mengisinya dengan darah Pendeta Josep,

“Ayo minum” Jemi menyuruh Pendeta Josep meminum darahnya sendiri tapi Pendeta Josep malah mencampakkan gelas itu.

“Kenapa? Hah, kau menyuruh orang lain meminum darah orang tua ku tapi kau sendiri tidak mau meminum darah mu? Anggaplah ini penghakiman dari ku bapak Pendeta Josep Di Mambro”

Istri dari Pendeta Josep, Luci yang mendengar kegaduhan dari kamar Pendeta Josep pun langsung membuka pintu dan seketika juga membelalakkan matanya melihat apa yang terjadi.

“Jemima!” Luci berteriak

Jemi hanya melirik sekilas Luci lalu dia melanjukan aksinya mencekek Pendeta Josep tapi tiba-tiba,

“Berikan pisau itu Jemima, kau tidak perlu mengotori tangan mu dengan membunuh suamiku aku yang akan membuhnya”

Dan srrkk, srrk, srrk Luci menusuk Pendeta Josep dengan pisau secara membabi buta sambil mengatakan,

“Kau setiap hari tidur dengan wanita lain kau hanya menggagap ku sebagai pajangan kau selalu menyiksaku sekarang kau menerima penghakiman dariku, tenang saja aku akan meminum darah mu dengan begitu dosaku terhapus bukan?”

Jemi keluar dari kamar itu dengan pikiran linglung lalu dia melihat para Suho yang sedang bersiap-siap untuk menangkapnya, lalu sebuah tangan menariknya membawanya lari dari sana itu adalah tangan Sehun.

            Chanyeol sepertinya memiliki firasat buruk terhadap Jemima setelah dia membaca pesan dari Jemi yang mengatakan untuk menjaga Baekhyun setelah dia tiada dan mengatakan dia akan selalu menyayangi Baekhyun bahkan setelah dia meninggal nanti, lalu dia memutuskan untuk pergi mencari Jemima tapi tidak menemukannya lalu dia memutuskan pergi ke tempat perkumpulan sekte. Dan alangkah terkejutnya Chanyeol menyaksikan apa yang terjadi.

            Kembali pada saat Sehun membawa Jemi pergi, saat itu semuanya sudah terlambat para anggota sekte disana sudah bersiap-siap untuk melakukan penghakiman terhadap Jemi dan Sehun. Mereka akan medapat anak panah lima pada masing-masing tubuh mereka dan Jemi yang pertama kali dihakimi. Satu anak panah dua anak panah hingga Sehun memeluk Jemi dan anak panah lainnya mengenai punggung Sehun. Tiga anak panah,

“Jemima aku tidak tau apa yang aku jalani selama di kehidupan ini” Sehun berkata sambil memeluk Jemi dan anak panah menusuk punggung Sehun. Empat anak panah,

“Jemima aku tidak mengerti apa itu cinta, tapi aku hanya ingin melindungimu”

Lima anak panah dan juga menjadi anak panah terakhir,

“Jemima aku tidak tau apakah Tuhan itu benar adanya tapi aku tidak ingin dia menghukummu atas hal ini nantinya, jika kehidupan selanjutnya itu benar adanya mari bersama dan bahagia di kehidupan selanjutnya nanti”

“Makasih Sehun, makasih untuk semuanya mari bertemu dikehidupan selanjutnya” Jemi berucap lirih dikuping Sehun, dia juga merasakan kehadiran Chanyeol disana meskipun dia tidak dapat melihatnya.

“Tolong jaga Baekhyun untukku Yeol”

Malam itupun kisah Jemima berakhir tapi dimata Chanyeol Jemima dan Sehun akan selalu menjadi trauma terbesarnya seumur hidupnya.

            Luci yang melihat anaknya terkapar dan tidak bernapas pun berteriak histeris dia mengambil pistol suaminya dan menembaki semua orang yang ada disana secara membabi buta, tidak ada yang luput dari pistol Luci semua yang ada disana pun mati malam itu. Dan anggota lain yang tidak ada disana pun memilih meminum racun dan bunuh diri karena mereka mendengar bahwa Pendeta Josep sang Juruselamat mereka telah tiada. Saat itupun sekte itu berakhir.

            Chanyeol menyerahkan semua bukti tentang sekte sesat itu ke pihak kepolisian dan pers dia juga menceritakan hal itu kepada orang tuanya. Berita itu menjadi trending seantero negeri dan dikatakan bahwa pihak kepolisian sedang menjalani penyelidikan. Lalu keluarga Chanyeol memutuskan untuk mengadopsi Baekhyun, mereka semua lalu pindah keluar negeri dan orangtua Chanyeol memberikan pendampingan Psikolog kepada Chanyeol dan Baekhyun. Mereka benar-benar menyayangi Baekhyun sepertia anak mereka sendiri sehingga Baekhyun tidak pernah kekurangan kasih sayang. Baekhyun selalu mengingat wajah dari orangtuanya dan Jemima. Sementara bagi Chanyeol Jemi adalah wanita pertama yang dia cintai dan dengan kejadian ini dia mengetahui bahwa dunia sebenarnya tak sesederhana seperti yang dia lihat selama ini.

“Jemima Athena Belladona, I will still love you for the next sixty years as much as yesterday” Chanyeol mengatakan hal itu didepan makam Jemima sebelum mereka berangkat keluar negeri.

           

 

 

 

 

           

            Siang itu sebuah mobil mewah Mercedes Benz AMG G65 terparkir di sebuah taman, seorang pria kira-kira berusia 27 tahun turun dari mobil dia menghampiri seorang wanita dengan rambut sebahu dan memakai kemeja sedang berkutat di depan laptopnya. Dia adalah Chanyeol Athana Elenio. Ya, ini sudah sepuluh tahun semenjak kejadian itu dan sekarang Chanyeol sudah dewasa  dan wanita yang dia temui ini adalah kekasihnya, wanita yang berhasil mengalihkan dunianya dari Jemima Jemima Jemima dan Jemima setelah bertahun tahun. Dia adalah Lia Kristiani seorang mahasiswa semester enam berusia 21 tahun.

“Kamu lagi nulis apasih?” Chanyeol menyapa Lia.

“Ohh aku lagi nulis blog tentang sekte Order of the Solar Temple, kamu pernah dengar cerita ini ngga? Nyari sumbernya benar-benar sulit deh aku udah nyari berita-beritanya di internet tapi mereka cuman nyeritain kisah intinya aja kisah ini juga ngga ada yang nyeritain dibuku.”

Tiba-tiba angan Chanyeol kembali ke sepuluh tahun yang lalu kenangan mengerikan yang coba dia kubur pelan-pelan.

“Kak Lia” Baekhyun datang menyapa mereka. Baekhyun sekarang menjadi anak usia 18 tahun yang tampan tapi tetap saja dia imut seperti 10 tahun lalu.

“Ya ampun Baekkiii udah datang, imut banget sih anak ini” Lia mencubiti pipi Baekhyun sangkin gemesnya

“Ih, sakit tau ka”

“Hahaha.........” Lia tertawa senang melihat pipi Baekkiii yang merah karena dia tambah imut jika seperti itu.

            Chanyeol, Baekhyun, dan Lia sekarang sedang berdiri disamping sebuah makam,

“Ini makam siapa Yeol,” tanya Lia

“Baca deh”

“Jemima Athena Belladona, Sehun Adalvino Di Mambro, tunggu deh aku kayak familiar sama nama ini, ini kan.....”

“Lia mungkin aku jadi satu-satunya orang yang bisa menceritakan kisah sekte itu sama kamu”

“Hah?” Lia masih bingung dengan hubungan Chanyeol dengan sekte itu dan orang-orang ini, tapi Chanyeol hanya membalas dengan senyuman manis sama seperti dia berkenalan dengan Jemima sepuluh tahun lalu.

TAMAT

*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...