Selasa, 23 November 2021

KONCO

 Oleh: Binsar Purba 



  Hari mulai gelap. Mentari pun mulai tenggelam disebelah barat. Akupun mulai bergegas meninggalkan pantai.

  "Apakah kita akan pulang?"

 Tanya seorang temanku yg datang menghampiriku seolah olah belum puas menunjukkan kebolehannya. Sebut saja namanya namanya Makesa. Makesa adalah satu dari sekian temanku yang hobbynya suka berenang. Setiap kali pergi berenang senangnya bukan main. Tak heran jika dia bertanya begitu.

  "Apa lagi yang akan kita lakukan, hari sudah mulai gelap sedangkan kampung kita masih jauh." balasku seakan akan tidak tau perasaan Makesa.

  "Kita baru saja sampai, aku saja belum memegang batu di ujung sana." ucap Makesa sembari menjulurkan telunjuknya seakan menunjuk batu besar di hulu Danau.

"Tadi kemana saja kita sudah berada disini hampir setengah harian. Kau bilang baru sampai? " ucap beberapa temanku dengan wajah kesal menatap Makesa.

"Aku juga sudah lapar."  ucap Poltak sembari menjamah perutnya.

Poltak adalah temanku yang tidak tahan akan lapar.

  "Tidak ada yang menanyamu. "

Kata teman temanku yang tadinya kesal dengan Makesa seketika tertawa terbahak bahak dengan dengan kelakuan Poltak.

  "Ya sudah ayo kita pulang saja lain kali kita kembali lagi kesini." ucap ku kepada teman temanku sembari berjalan meninggalkan pantai.

Aku dan teman temanku pun pergi meninggalkan pantai dan bergegas menghampiri kereta yang kami tinggalkan di parkiran. Dan benar saja kereta yang kami tinggal masih berada disana. Kamipun bergegas pergi  dengan lampu kereta sudah dinyalakan pertanda hari semakin gelap.

Ditengah perjalanan Poltak pun memukul pundak temanku yang bernama Parno dengan jemarinya sembari berkata.

  "Bisakah kita berhenti sebentar? "

  "Aku sangat lapar."  Ucapnya menambahi kalimatnya.

Dengan bisu Parno segera membunyikan klakson nya berulang ulang.

  Tinnn...   Tinn....  Tinnn.....

Terdengar suara klakson Parno dibelakang tak jauh dari kami.

Kami menoleh bersamaan dan hendak memarkirkan kendaraan kami dibahu jalan agar tidak mengganggu pengendara lain.

  "Kenapa? "  tanyaku.

  "Aku lapar." ucap Poltak.

 "Bisakah kita berhenti makan sebentar? " menambahi kalimatnya.

  "Tentu saja."  ucap teman temanku yang kelihatanya juga sedang lapar.

"Kalo begitu kita makan di samping galon itu saja bagaimana?" tanya Poltak sepertinya tidak sabaran lagi.

  "Gasss." Balas kami bersamaan.

Kamipun melanjutkan perjalanan kami.

Sesampainya di tempat makan Poltak langsung pergi memesan makanan kami tak sabaran. Kami hanya tertawa menanggapi sikap Poltak.

 "Sabar hahaha"

Terdengar sebuah suara dari temanku sambil tersenyum melihat Poltak.

Makanan kamipun tiba. Terlebih dahulu kami menghabiskan nya karena tau perjalanan kami masih jauh.

Hari semakin gelap, alarmku berbunyi menandakan pukul 20.00 WIB tepat. Karena makanannya sudah habis kami pun melanjutkan perjalanan kami, tak lupa kami membayarnya terlebih dahulu.

Kamipun melanjutkan perjalanan kami sampai tiba di kampung halaman. Satu persatu kami mulai berpisah ke rumah masing-masing. Saat itu perasaan kami sangat senang seakan akan menikmati perjalanan. Aku sangat bersyukur semoga cerita itu akan dapat kami abadikan untuk masa tua kami nanti.

 

                                                                                               Penulis siswa SMA Negeri 1 Purba 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...