Oleh: Binsar Purba
Hari mulai gelap.
Mentari pun mulai tenggelam disebelah barat. Akupun mulai bergegas meninggalkan
pantai.
"Apakah kita
akan pulang?"
Tanya seorang
temanku yg datang menghampiriku seolah olah belum puas menunjukkan
kebolehannya. Sebut saja namanya namanya Makesa. Makesa adalah satu dari sekian
temanku yang hobbynya suka berenang. Setiap kali pergi berenang senangnya bukan
main. Tak heran jika dia bertanya begitu.
"Apa lagi yang akan kita lakukan, hari sudah mulai gelap sedangkan kampung kita masih jauh." balasku seakan akan tidak tau perasaan Makesa.
"Kita baru saja
sampai, aku saja belum memegang batu di ujung sana." ucap Makesa sembari
menjulurkan telunjuknya seakan menunjuk batu besar di hulu Danau.
"Tadi kemana saja kita sudah berada disini hampir
setengah harian. Kau bilang baru sampai? " ucap beberapa temanku dengan
wajah kesal menatap Makesa.
"Aku juga sudah lapar." ucap Poltak sembari menjamah perutnya.
Poltak adalah temanku yang tidak tahan akan lapar.
"Tidak ada
yang menanyamu. "
Kata teman temanku yang tadinya kesal dengan Makesa
seketika tertawa terbahak bahak dengan dengan kelakuan Poltak.
"Ya sudah
ayo kita pulang saja lain kali kita kembali lagi kesini." ucap ku kepada
teman temanku sembari berjalan meninggalkan pantai.
Aku dan teman temanku pun pergi meninggalkan pantai dan
bergegas menghampiri kereta yang kami tinggalkan di parkiran. Dan benar saja
kereta yang kami tinggal masih berada disana. Kamipun bergegas pergi dengan lampu kereta sudah dinyalakan pertanda
hari semakin gelap.
Ditengah perjalanan Poltak pun memukul pundak temanku yang
bernama Parno dengan jemarinya sembari berkata.
"Bisakah
kita berhenti sebentar? "
"Aku sangat
lapar." Ucapnya menambahi
kalimatnya.
Dengan bisu Parno segera membunyikan klakson nya berulang
ulang.
Tinnn... Tinn.... Tinnn.....
Terdengar suara klakson Parno dibelakang tak jauh dari kami.
Kami menoleh bersamaan dan hendak memarkirkan kendaraan
kami dibahu jalan agar tidak mengganggu pengendara lain.
"Kenapa?
" tanyaku.
"Aku lapar."
ucap Poltak.
"Bisakah kita
berhenti makan sebentar? " menambahi kalimatnya.
"Tentu saja." ucap teman temanku yang kelihatanya juga
sedang lapar.
"Kalo begitu kita makan di samping galon itu saja
bagaimana?" tanya Poltak sepertinya tidak sabaran lagi.
"Gasss."
Balas kami bersamaan.
Kamipun melanjutkan perjalanan kami.
Sesampainya di tempat makan Poltak langsung pergi memesan
makanan kami tak sabaran. Kami hanya tertawa menanggapi sikap Poltak.
"Sabar hahaha"
Terdengar sebuah suara dari temanku sambil tersenyum
melihat Poltak.
Makanan kamipun tiba. Terlebih dahulu kami menghabiskan
nya karena tau perjalanan kami masih jauh.
Hari semakin gelap, alarmku berbunyi menandakan pukul
20.00 WIB tepat. Karena makanannya sudah habis kami pun melanjutkan perjalanan
kami, tak lupa kami membayarnya terlebih dahulu.
Kamipun melanjutkan perjalanan kami sampai tiba di
kampung halaman. Satu persatu kami mulai berpisah ke rumah masing-masing. Saat
itu perasaan kami sangat senang seakan akan menikmati perjalanan. Aku sangat
bersyukur semoga cerita itu akan dapat kami abadikan untuk masa tua kami nanti.
Penulis
siswa SMA Negeri 1 Purba 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar