Karya:Rotua Yesefine Beatrix Damanik
Kehidupan 4 bersaudara Deri, Doni, Vita, dan Mora.
Keluarga ini yang dulunya keluarga harmonis dimana orang tua
dari 4 bersaudara ini saling menyayangi sesama mereka.
Suatu ketika kedua orang tua mereka meninggal dengan secara mengenaskan. semenjak kepergian
orang tuanya keharmonisan keluarga mereka mulai dilanda keretakan.
Dimana Mora mulai tidak menyukai adiknya Doni.
‘’Hey Doni…. Kamu kira Karena kamu anak paling bungsu sehingga semua yang ada disini menjadi hak milik kamu!!’’
Tanpa disadari Doni menjawab pembicaraan dari kakaknya.
‘’Saya tidak berkata bahwa peninggalan dari orang tua kita
menjadi hak milik saya’’
Ooh iya!! Jika kaka tidak
nyaman tinggal dirumah ini lebih baik kaka pergi saja.
‘’Oke saya akan pergi,’’ ujar Mora.
Deri
dan vita melerai pertengkaran mereka tetapi Deri dan Vita tidak mampu
membujuk kakaknya dimana kakaknya yang keras kepala.
Semenjak kepergian Mora, keluarga yang dulunya harmonis kini
sudah menjadi keretakan
persaudaraannya. Doni merasa bersalah kepada kakaknya .
Doni yang sebenarnya orang yang penyayang entah bagaimana
kata-kata itu terucap dari bibirnya.
Doni berusaha tegar untuk menerima itu dan mencoba untuk
membicarakan hal itu kepada kedua saudaranya Deri dan Vita.
‘’Kak maafkan Doni
ya, tidak seharusnya Doni berkata seperti itu kepada kak Mora.’’
‘’Kakak udah maafin kamu, ini semua juga tidak salah kamu,’’
ujar kakaknya Vita.
‘’Kak Deri gimana, apa kaka marah dengan saya?’’
‘’Kakak tidak marah ,bagaimana jika temui Mora dan kamu
minta maaf dengan dia?’’
‘’Baiklah ayok kita pergi
kak.’’
Mereka bertiga pergi menemui Mora ke kontrakannya.
Tok-tok-tok (suara ketukan pintu)
‘’Siapa ya?’’ ucap
Mora dari dalam rumah.
‘’Ini kami kak adik-adikmu.’’
Mora pun tidak ingin
membuka pintu ketika mengetahui yang datang adalah saudaranya dan Mora pun
berteriak dari dalam rumahnya dan berkata:
‘’Ngapain lagi kalian kesini?’’
Mulai hari ini saya tidak ingin memiliki saudara seperti
kalian.
Vita
berusaha membujuk kakanya Mora agar mau membuka pintu rumahnya.tetapi kakanya
Mora tetap tidak ingin membuka pintunya dan dia juga melempar foto keluarga
mereka melalui jendela.
Trang-trang-trang (suara pecahanan kaca foto keluarganya).
Doni menangis melihat foto keluarganya yang terbuang ditanah dan doni berbicara kepada kakaknya
Mora.
‘’Terimakasih kak buat semuanya, kakak tidak menghargai
orang tua kita lagi dengan cara kakak membuang ini.’’
"Baiklah jika ini memang ini mau kakak biarlah tanah
yang akan mempersatukan kita."
(Sambil menangis senggugukan)
Selesai berbicara
Doni dan kedua kakanya beranjak pergi dari rumah Mora dan menahan rasa sakit di
dada.
Beberapa tahun kemudian pertengkaran antara bersaudara tetap
berlanjut yang dimana Mora bersikeras tidak mau kembali kerumah peninggalan
orang tuanya.
Dan suatu ketika Mora Juga bersikeras untuk menuntut
kebahagiaan dari harta orangtuanya.
Akhirnya Doni dan kedua kakaknya memberikan sebahagian agar
tidak mempersulit masalah lagi.
"Ini dokumen -dokumen tanah yang kakak minta."
ucap Doni pada Mora.
"Oke....terimakasih dan mulai hari ini aku tidak
memiliki hubungan darah dengan kalian lagi." ucap mora.
Dan sambil beranjak pergi Mora dengan bengisnya berkata kepada
adik-adiknya dasar saudara tidak tau diri.
Dengan rasa kecewa Doni dan kedua kakaknya menahan pedihnya
ucapan dari kakaknya.
Suatu ketika Doni jatuh sakit, dan dokter memvonis umur dari Doni tidak
lama lagi. mendengar ucapan dari dokter kedua kakaknya menangis.
Dan kakaknya berinisiatif untuk pergi menemui Mora untuk
datang menjenguk adiknya Doni yang sedang sekarat.
Namun sesampainya di rumah Mora, jawaban darinya tidak
sesuai dengan dugaannya Vita.
"Ooh.... Maaf saya tidak memiliki saudara namanya
Doni." ucap mora
"Jangan seperti ini kak,bagaimanapun dia adik kita
kak." ujar Vita.
"Jika dia menganggap saya kakaknya biarkan dia yang
meminta maaf kepada saya." Ucap Mora
Dengan rasa
kecewa Vita pergi dari rumah kakaknya dan beranjak ke rumah sakit. tiba dirumah
sakit Vita berbicara kepada adiknya Doni
"Don maafkan kakakmu Mora berdamailah dengannya."
"Saya tidak berbuat salah kak,lupain dia kak dia
sendiri yang mengatakan bahwa kita tidak sedarah lagi dengannya."
Mendengar
ucapan dari adiknya, Vita dan Deri hanya diam membisu. Beberapa hari kemudian kondisi tidak
tertolong lagi dan menghembuskan nafas di hari ulang tahunnya.
Vita dan Deri tidak sanggup menahan air matanya melihat
kepergian adik kesayangannya.
Tiba hari
penguburannya, Mora datang tetapi hanya datang seperti tamu biasa dan tidak
setetes pun. Akhirnya kepergian adiknya itu tetap tidak akan mempersatukan
mereka dan hubungan persaudaraan mereka hanya akan bersatu di tanah merah.
*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar