Selasa, 02 November 2021

Diary Ungu

 

 


 Karya: Regita Saragih


27 Agustus 1993. SMA Negeri 1 Purba. Cuaca hari ini sangat cerah sekali. Matahari sangat menghangatkan, sayang terlalu  menyengat di kulit, bahkan di pagi hari seperti ini. Nampak seorang gadis dengan saragam putih abu-abunya yang rapi. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan begitu rapi tidak lupa dengan tas slempang merahnya yang begitu  feminim. Begitu sederhana dia, namun sudah cukup menggambarkan  bahwa dia salah satu siswi teladan di sekolah ini. Wajahnya yang tegap dan tegas namun tetap terlihat lemah lembut. Sungguh anggun.

Dia memiliki postur tubuh yang tinggi di kalangan siswi di sekolah ini. 163 cm. Langkahnya panjang, tak butuh waktu lama baginya untuk melewati koridor sekolah menuju ke ruang kelasnya XII IPA-A.

Kelas itu ternyata sudah ramai. Dimasukinya kelas itu dan  melangkah menuju meja kedua paling pojok dekat dengan jendela.

1 DEKADE

 



Karya: DIO PRATAMA*

 

Satu dekade sudah berlalu, kenangan itu masih saja melekat dan terpikirkan dalam ingatanku. Mulai dari bermain dan bercerita, dari bersuka dan berduka. Ada satu hal yang masih kuingat kejadian dan peristiwa yang membuat aku bersedih. Yaitu dimana persahabatan kita berdua harus terpisah. Sebelum aku menceritakan peristiwa yang aku alami Perkenalkan aku: Lisa Syela Budikusuma, aku lahir di Bandung pada 01 Maret 2000. Aku memiliki 2 Orang adik dan 1 Orang kakak laki-laki. Mereka sangat sayang kepadaku. Balik kecerita awal, peristiwa yang ku alami adalah 1 orang sahabat ku yang sangat aku sayangi pergi meninggalkanku, karena orang tuanya harus bekerja diluar kota. Pada saat kami terakhir kali bersama dia berkata:

 

"Ini hanya sementara saja,Lisa." katanya padaku meyakinkanku.

"Apakah kau yakin,kita bisa bertemu lagi?" ucapku membendung air mata.

SEPENGGAL KISAH

 


 Karya : Geby Debora Damanik

 

Malam semakin larut ditambah guyuran hujan yang kian menderas. Jendela yang belum tertutup sepenuhnya menampakkan seorang gadis kecil berumur 10 tahun sedang melamun di meja belajarnya. Sepertinya langit juga tau ia sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang merindukan seseorang yang amat ia sayangi.

            Malam ini aku sedang merindukan nenekku. Ya, aku memang tinggal bersama nenek dan kakekku sejak umur 3 tahun. Ayahku telah meninggal sejak aku berumur 7 bulan dan Ibu, aku tidak tau dimana. Sudah satu minggu nenek pergi ke luar kota. Ia sedang ada urusan keluarga. Aku ingin sekali ikut dengannya, namun bagaimana dengan sekolahku?

            Sebenarnya aku tidak bisa berjauhan dengan nenek lama-lama. Aku sangat merindukannya. Nenek berjanji akan pulang hari ini. Namun sepertinya tidak jadi. Entah karena apa aku tidak tau. Tiba-tiba ponsel kakekku berdering. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku lagi mendengar suara seseorang di seberang sana.

KAKEK DAN SECANGKIR KOPI

 


Oleh Deygo Rivaldo Haloho

 

 

Sesaat setelah berhentinya hujan itu, dingin, sekujur tubuhku menggigil, mengapa tidak hujan sudah turun hampir setiap hari di bulan Oktober ini.

"Uhuk..uhuk." terdengar suara batuk yang sayup-sayup yang tidak lain dari seorang Kakek yang sudah berumur 76 tahun itu.

"Kek, mau dibuatkan minum?" ucapku.

"Teh tawar saja." balas Kakekku dengan malas.

Cita-Cita

 



Karya: Hotmarta Silaban

 

       Seorang anak perempuan yang bernama cia yg berumur 18 tahun dan dia duduk di kelas 12  sma.

      Dipagi hari jam 05.00 cia bangun dari tempat tidur nya , dan sebelum berangkat kesekolah dia membereskan tempat tidur nya, dan dan membereskan rumah sebelum mandi.

       Tidak lama kemudian dia melihat jam , jam itu menunjukkan jam 06.00 itu waktunya dia harus bergegas mandi dan membereskan pakaian yang akan di pakai nya , setelah dia mandi  dia berganti pakaian dan bersiap -siap untuk pergi kesekolah dan tidak lupa juga dia makan.

"Sesorang Bangun dari tempat tidur,dan ternyata itu Mama nya "

"Cia apa kamu sudah makan sebelum berangkat kesekolah ?"

Senin, 01 November 2021

Angan-Angan

Jones E Panjaitan



Angan angan adalah sebuah keinginan yang terkadang hanya terjadi dalam khayalan. Bisa juga dalam kenyataan.  Kemaren, sore hari. Aku sedang berbaring memandang matahari yang akan terbenam. Sambil terbayang akan angan-anganku. Yaaa angan angan ku ini memang cukup membuatku takut. Kenapa? Tentu karna aku takut tak bisa kuraih. Seketika itu Ana sahabatku mendatangiku.

"Jon??,  Jon?? Kamu ngapain Jon?"  Dia memanggilku dengan tergesa gesa berlari ke arahku.

"Hmmm, aku sedang istirahat na". Kujawab sembari kuangkat badanku yang berbaring dan duduk bersamanya. 

Jumat, 29 Oktober 2021

SAHABAT


Karya : Devira Sinaga

         


                       

 


Kringgg............. 

Bunyi alarm membangunkanku dari tidur, aku Memandang ke arah jendela sepertinya matahari mulai menunjukkan dirinya pertanda Pagi sudah kembali, aku Turun dari tempat tidur lalu membereskan Kasurku dan bergegas mandi, setelah mandi aku berjalan menuju dapur menghampiri ibuku yang sedang memasak untuk sarapan kami.

 "Pagi bu." aku menyapa ibuku sambil mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis.

 "Pagi juga," ibuku melirik ke arah ku dan lanjut memasak sarapan untuk kami, setelah selesai memasak kami pun serapan bersama, saatsedang makan aku teringat dengan rencana bersama temanku yang akan pergi jalan jalan ke sebuah pantai.

Senin, 24 Juni 2013

Puisi: Ibu Juga Pendidik




Universitas Negeri Medan
Desember 2011

Ibu Juga Pendidik
Oleh Rudi Hartono Saragih

Dan,
Kurangkai rindu dalam ranah esok hari,
menitih harap,
menggapai asa,
meraih cita-cita.

kutahu, berbakti itu hakiki insan,
kusadar, mengabdi itu kemuliaan jiwa yang tegar


ibu,
sebentar lagi anakmu akan mengabdi kepada anak bangsa,
memuliakan insan-insan kelu di sudut negeri ini,
membatik fajar untuk masa depan kita dan bangsa ini,

Rabu, 09 November 2011

SEORANG PETANI MENATAP KAMPUS KEBENARAN


Karya Antilan Purba

Dari desa aku melihat samar keanggunan, kekukuhan rumahmu
Katanya, kami dan turunan kami dapat tinggal bersamamu
Aku tak tahu
Aku tak punya cerita dari leluhur
Tak pernah merasakannya

Berangan aku  di istana kebenaran engkau berada anakku
Dalam doa pagi, siang, malamku harapku padaNya,
Engkau sampai nanti
Menggali kesusahan kita
Menerangi kegelapan
Membangun rumah masa depan kita

Rabu, 13 April 2011

AKU



Maafku kepada daun semilir tunas yang telah tumbuh.
 Bukan  tidak mungkin yang neuron menderu bersebab hati gundah menapaki jiwa yang goyah.
Terimalah sehelai gumam yang menelurkan bahwa aku sedih melihat ini.
Lantas dalam perjalanan kemarin, kuakui ada ketedeledoranku memutar gerigi perputaran waktu.
Jika aku ingin melepas dahaga, beri aku waktu.
Akan ku sulam hari kemarin untuk menebus air mata yang kau endapkan di ujung diskusi hari itu.
 Ah, tidak juga aku mungkin menepuk dada sambil tersipu melihat butir peluhmu.
Semoga.
Berikan aku ijinmu wahai Maha Pencipta.

Selasa, 18 Januari 2011

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG


Sumber:
Buku Kumpulan Cerpen “Para Penanti”
Judul Cerpen : Badai di Pinggir Jalan Bulan di Tepi Jurang
Penulis  : Rudi Hartono Saragih
Halaman : 83-87
Penerbit : Mentiko Publisher tahun 2008
ISBN : 978-602-95059-01

BADAI DI PINGGIR JALAN BULAN DI TEPI JURANG
Rudi Hartono Saragih

Malam  jatuh. Bulan membulat sempurna, sedang  lipatan-lipatan  awan  yang  semula  terperangkap  gelap  mulai  berbalut bias  purnama.  Kupandangi  perjalanan malam,  sejujurnya  bukan hanya jejak-jejak hening yang kudapati. Tetapi juga lamunan yang teramat panjang. Siluet-siluet penghidupan membentang dalam pikiranku. Betapa tidak, saat ini berpuluh pengalaman hidup sedang bergumul dalam otakku. Ya, sudah sejak kemarin bahkan kemarin lalu pengembaraan hidup dan kehidupan mengajakku menyusuri belantara  suka  dan  duka.  Aku  pernah  menyibak  kebahagiaan. Dulu, bahkan dulu sekali, aku sempat mencecap manisnya menjadi putra sulung. Saat ayahku masih mampu mencari nafkah, segala kebutuhanku  terpenuhi.  Sebelum  ayah  mengalami  kecelakaan mobil  yang  membuatnya  lumpuh,  sedang  ibu  jauh  lebih mengenaskan, aku hanya bisa melihat jasadnya berlumuran darah. Semenjak  itu,  aku  baru mengerti  bahwa menjadi  putra  sulung merupakan tanggung jawab yang teramat besar.
 Sejujurnya, jika harus berkata jujur, tak ada lagi yang dapat kubanggakan dalam keluargaku selain harga diri. Ya, harta benda kami  telah  terkuras  untuk  biaya  perobatan  ayah,  itupun  belum cukup. Pada akhirnya yang  tersisa hanyalah sepetak  rumah yang menampung empat kepala. Namun, walau tinggal sepetak rumah, aku tak akan menjualnya demi cita-citaku. Ya, aku memang masih sekolah, aku bermimpi menjadi sarjana. Bahkan aku juga bermimpi mengantarkan ke dua adikku meraih mimpinya. Sebab bagi tekadku miskin  bukanlah  halangan,  ketidakmauan  dan  ketidakberanian menakklukkan dunia itulah miskin yang sebenarnya.
Selama  ini,  untuk  menjaga  sejengkal  perut  kami  agar  tidak keroncongan, aku dan kedua adikku berkerja. Ya, sebenarnya aku tak tega melihat Lince dan Atma memeras keringat demi mengais rupiah, aku tak tega melihat keduanya beriringan mengumpulkan botol-botol  bekas,  tetapi  jika  mengandalkan  recehan  yang kudapatkan  dari mengamen, maka  sudah  pasti  tak  akan  cukup. Beruntung, untuk biaya  sekolah aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Sedang Lince memperoleh dana santunan dari pihak sekolah.
* * *
  Malam  semakin  jatuh.  Bulan membulat,  namun  terlihat pucat di mataku. Kulihat ayah  tidur dipeluk Atma. Ah,  si bungsu yang malang. Tak seharusnya kau cecap air mata kesedihan, tetapi inilah adanya. Di usia enam  tahun kau harus memikul  tanggung jawab keluarga. Pada cekung matanya, kulihat palung penghidupan mendalami bola matanya. Mata yang indah. Di mata adikku bukan hanya kudapati tatap mata kekanak-kanakan, tetapi juga tajamnya kedewasaan mendalami mata  air  airmata  kehidupan.  Kualihkan pandanganku pada sosok Lince, kali  ini aku  tersenyum, ada satu warisan ibu yang melekat dalam dirinya. Rambut ikalnya. Aku ingat betul, geraian rambut ibu serupa mayang. Hitam dan lembut. Ah, sedang apa ibu kini di surga?
  “Ibu,  sudahkah  ibu  tertidur malam  ini  di  surga? Apakah Tuhan mendongeng  cerita  untuk  ibu  sebelum  ibu  tidur  seperti yang ibu lakukan pada kami?”
  Perlahan air mataku membulir. Pecah dan melandai di pipi. Pada akhirnya aku coba beranjak dari jendela setelah menutupnya, kurebahkan  tubuhku  di  atas  tikar.  Sebab  ranjang  kami  hanya mampu menampung tiga orang saja. Minggu pagi merupakan hari yang kunantikan, sebab aku bisa  seharian mencurahkan pikiran memenuhi kantong plastikku dengan  recehan. Namun,  sebelum  aku berangkat  tiba-tiba  ayah memanggilku. Suaranya parau, wajahnya pucat.
  “Kau tahu mengapa ayah menamaimu Badai?”
  Aku menggeleng. 
“Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”  Aku hanya menunduk. Diam.
 “Apa kau mengerti apa yang ayah maksudkan?”  Aku semakin menunduk. Diam. 
 “Bicaralah.” 
“Ya Ayah. Badai mengerti, karena itulah Badai diam. Sebab untuk mewujudkan harapan ayah maka Badai harus berbuat, bukan hanya berkata.” 
“Ayah bangga padamu.” 
Entahlah,  aku  sendiri  belum  yakin  dengan  perkataanku, tetapi  demi  menumbuhkan  semangat  ayah  maka  aku  harus mengatakannya.
“Adikmu mana?” 
“Lagi ke warung yah”
 “Ngutang lagi?” 
Aku hanya mampu mengangguk.  
“Maafkan Ayah,  tak seharusnya kalian mengalami semua ini”
Aku  tak  mampu  membalas  ucapan  ayah,  yang  dapat kulakukan hanya menggenggam jemari ayah. Keharuan menyeruak dalam  dadaku.  Beruntung  tak  lama  berselang  Lince  dan  Atma datang. Pagi ini kami berhutang dua mug beras, dan dua ikat sayur bayam untuk sarapan.
* * *
Di persimpangan jalan aku berpisah dengan ke dua adikku. Mengais  nasib.  Di  lampu merah  kumainkan  alat musikku,  yang terbuat  dari  tutup-tutup  botol  bekas  yang  dipipihkan.  Dengan semangat kusenandungkan lagu kebangsaan anak jalanan.
  “Ngamen di pinggir jalan
  Konser lewat nyanyian 
  Sekedar untuk cari makan tuan 
  Dan sisanya buat bayar sekolahan
  Daripada maling ayam 
  Dipukuli, tiga bulan tahanan 
  Lebih baik aku mengamen tuan.”

            Dalam hati aku tersenyum, saat sorot mataku menangkap beberapa  lembar uang  ribuan masuk ke plastik yang kusodorkan. Saat  matahari  tepat  mengarah  ke  ubun-ubun,  kujumpai  adik-adikku di  tempat yang  telah kami  janjikan. Di perempatan  jalan, kulihat adikku melambaikan tangannya.
  “Bagaimana hasil kalian hari ini?” 
  “Lumayan bang, baru saja kami jual rongsokan yang kami dapat, dihargai tiga ribu enam ratus rupiah.”
  Aku tersenyum miris.  
  “Kalau abang?”
  Kuambil  kantong  plastikku,  kukeluarkan  recehan  yang kudapat. Lumayan, aku dapat empat ribu tujuh ratus rupiah. Segera saja kuserahkan uang itu pada adikku.
 “Nah,  pulanglah,  siapkan  makan  ayah.  Nanti  abang menyusul.”
* * *
            Kuiringi  langkah  adikku  dengan  ekor  mataku  yang menatapnya  tanpa  henti,  sampai menghilang  ditikungan  jalan. Kini,  aku  harus  melanjutkan  menggurat  nasibku.  Aku  harus mendapatkan tambahan uang. Sebab aku ingin membeli buku tulis baru. Ya, bukuku habis, aku  tak mungkin memintanya dari ayah. Maka aku harus mencari sendiri, mungkin sepenggal hari ini aku bisa mendapatkan uang untuk membelinya.
             Aku  lanjutkan  nada-nada  sumbangku  di  lampu  merah, sepertinya  Tuhan memberi  jalan  padaku.  Saat  kusenandungkan alunan  lagu didekat mobil sedan, tiba-tiba pintu terkuak. Mataku seakan  terlontar  saat  kulihat  selembar  uang    lima puluh  ribuan masuk  dalam  kantong  plastikku.  Ah,  Tuhan  telah menurunkan malaikat  bagiku.  Dengan  uang  ini  aku  bisa membeli  buku  dan mencicil hutang di warung.   Dengan penuh semangat aku menyelesaikan bait  laguku, sampai-sampai aku tak sadar lampu hijau telah menyala. Buru-buru aku melangkah ketepi jalan, namun tiba-tiba datang sepeda motor menghantam  tubuhku. 
Aku  terkapar,  kupeluk  erat-erat  kantong plastikku,  sebab  dikantong  plastikku  telah  tersimpan  mimpiku membeli  buku. Namun,  aku  tak  tahan  lagi  saat  semua menjadi gelap, yang kuingat bukan lagi buku, bukan pula hutang yang akan kucicil,  tetapi aku  ingat adikku, almarhumah  ibuku dan sepotong pesan ayah yang masih terngiang di telingaku.
  “Ayah  ingin  kau  mampu  memporak-porandakan kelemahanmu menjadi pusaran semangat bagi keluarga kita.”

Serambi KOMPAK, 05 Juni 2009

Rabu, 29 Desember 2010

Omong-omong cerita pendek


Pengertian
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

Unsur dan ciri khas
Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya), komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik dan tokoh utama); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis.
Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuath cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.
Cerpen juga memiliki [unsur intrinsik] cerpen.

Cerita-cerita pendek modern
Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov.
Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.
Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.
Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.

Gambar  penguak inspirasi! 
gambar apakah ini? 





Peraga materi cerita pendek
katupuk.blogspot.com

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...