Angan angan adalah sebuah keinginan yang terkadang hanya terjadi dalam khayalan. Bisa juga dalam kenyataan. Kemaren, sore hari. Aku sedang berbaring memandang matahari yang akan terbenam. Sambil terbayang akan angan-anganku. Yaaa angan angan ku ini memang cukup membuatku takut. Kenapa? Tentu karna aku takut tak bisa kuraih. Seketika itu Ana sahabatku mendatangiku.
"Jon??, Jon?? Kamu ngapain Jon?" Dia memanggilku dengan tergesa gesa berlari ke arahku.
"Hmmm, aku sedang istirahat na". Kujawab sembari kuangkat badanku yang berbaring dan duduk bersamanya.
"Kamu pasti menghayal kan Jon?"
Ana menanya seakan dia mengejekku. Dia memang selalu seperti itu. Tapi, bagiku dialah yang selalu membuatku bisa tertawa terbahak bahak.
"hahahahahaha."
"Iya nihh."
"Aku takut bagaimana klo aku gk bisa meraih angan-anganku?"
Aku bertanya dengan muka murung.
"hahahahha, muka kamu jelek amat sih jon?"
Ana terbahak bahak melihat mukaku yang jelek dan sangat murung itu. Ya ya memang jelek juga sebenarnya. Hahahahhaha.
"Gini Jon, sebesar apapun impianmu itu, kamu hatus berani meraihnya. Belajar, doakan, semangat. Jangan tergoda sama hal hal negatif. Ada yang jatus kamu banggakan di rumah."
Ana ini memang selalu the best. Terbaik. Walau sedikit bandel juga. Abisss Dia sering isengin aku. Hahaha.
"Kamu memang selalu saja menasehati. Giliran kamu sendiri yang sedih, kamu gk bisa melawan sedihmu".
"hehehe." Dia malu dengan perkataanku.
"Kalo aku sedih, yaa kamulah yang nyemangatin aku Jon."
"Ahk. Aku malas nyemangati kamu Na, kamu rewel banget." Kujawab dengan candaanku.
"Alaahhh Jones mah gitu ahk, gk seru." Dia cemberut mendengar candaanku. "Ana, Ana Aku itu cuma bercanda Naa."
Setelah beberapa lama berbincang-bincang di taman, kami pulang ke rumah masing-masing. Di rumah, aku menyuci piring dan membereskan rumah. Aku mengambil HP dan melihat tanggal pelaksanaan SBMPTN akan segera dimulai. Aku harus belajar lebih giat lagi, agar angan-anganku dapat tercapai.
Pelaksanaan SBMPTN teleh tiba. Aku mengikutinya dengan bekal yang selama ini aku persiapkan dengan mati-matian. Saat pengumumanpun tiba. Aku sempat ddeg-degan. Setelah kulihat namaku tidak terlihat.
"Kok namaku gk ada ya?"
"Apa aku gk diterima ya?"
Aku bertanya-tanya dalam benakku. Setelah kupastikan lagi, tidak ada namaku. Aku sempat frustasi. Tapi, tak boleh nyerah. Harus lebih giat belajarnya.
"Aku gk boleh nyerah."
"Aku harus lebih giat lagi belajarnya."
Sewaktu itu Ana juga datang melihat pengumuman. Ternyata dia mendaftar di universitas yang sama denganku. Dia melihat namanya ada tertera dlaam pengumuman.
"Yee yee yee yeeee, aku diterima, aku lulus."
Dia berteriak gembira melihat namanya tertera. Lalu dia melihat aku dan mendatangiku.
"Ehh Jon? Kamu kok murung sih?"
"Gak ada apa apa Na. Aku gk diterima Naa."
"Ehhh Jon, kamu klo lihat pengumuman jangan liat setengah-setengah dong."
"Nohh liat nohhh nama kamu ada paling bawah."
Lalu akupun melihat. Ehhhh ternyata betul, Namaku ada paling bawah.
"Betul Na, namaku ada. Makasih ya Naaa kamu udah ngasih tau itu. Padahal, aku kira aku udah gk diterima. Ehh ternyata diterima dong."
Setelah kami melihat pengumuman, kami pulang ke rumah. Ana juga ikut ke rumahku. Sampai di rumah, kulihat ibuku yang memasak. Aku datang kepadanya. Kupeluk dan aku menangis sembari mengatakan.
"Buk, aku diterima buk, Aku diterima di universitas impianku." Aku mengatakan kabar itu seraya menangiskan airmata bahagia.
"Bagus nak. Teruslah belajar. Capai impianmu." Ibuku ikut meneteskan air matanya mendengar aku diterima di universitas impianku.
Ibu juga menanya Ana.
"Ana apa kamu juga diterima?"
"Yapp, benar Bi, aku juga diterima." Jawab Ana dengan senyum cerianya.
"Bagus Nak. Teruskanlah perjuangan kalian. Agar kelak, kalian bisa menjadi orang sukses."
Dalam angan-anganku sebenarnya, aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku. Bagiku, tak ada angan-angan yang lebih indah sekaligus menakutkan selain membuat mereka bahagia. Bahagia mereka itu utama bagiku.
*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar