Malam
semakin larut ditambah guyuran hujan yang kian menderas. Jendela yang belum
tertutup sepenuhnya menampakkan seorang gadis kecil berumur 10 tahun sedang
melamun di meja belajarnya. Sepertinya langit juga tau ia sedang tidak
baik-baik saja. Dia sedang merindukan seseorang yang amat ia sayangi.
Malam ini aku sedang merindukan nenekku. Ya, aku memang
tinggal bersama nenek dan kakekku sejak umur 3 tahun. Ayahku telah meninggal
sejak aku berumur 7 bulan dan Ibu, aku tidak tau dimana. Sudah satu minggu
nenek pergi ke luar kota. Ia sedang ada urusan keluarga. Aku ingin sekali ikut
dengannya, namun bagaimana dengan sekolahku?
Sebenarnya aku tidak bisa berjauhan dengan nenek lama-lama. Aku sangat merindukannya. Nenek berjanji akan pulang hari ini. Namun sepertinya tidak jadi. Entah karena apa aku tidak tau. Tiba-tiba ponsel kakekku berdering. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku lagi mendengar suara seseorang di seberang sana.
"Ya, itu nenek." batinku dalam
hati. Melihat kakek yang ingin mengakhiri panggilan, akupun menghampiri kakek.
“Kakek, aku boleh tidak
berbicara dengan nenek sebentar?”
“Boleh,
dong.” kata kakek sambil memberikan ponselnya.
“Halo,
nek! ”
“Nenek
apa kabar?” tanyaku.
“Nenek
sehat, Geby. Bagaimana denganmu?” jawab nenek diseberang sana. Syukurlah hatiku
lega mendengarnya.
“Geby
sehat nek. Nenek kapan pulang?”
“Besok
nenek akan pulang sayang, doakan saja ya supaya dijalan tidak macet.”
“Iya
nek. Pasti dong.” jawabku dengan semangat.
“Nenek
jangan lupa membawa oleh-oleh ya.” Candaku.
“Iya
sayang.” jawab nenek di iringi kekehan.
“Selamat
malam nek.” setelah itu sambungan telepon terputus.
Setelah aku mengembalikan ponsel kakek, aku pun beranjak
ke kamar setelah pamit pada kakek. Rasanya tidak sabar menunggu hari esok. Ku
harap setelah aku pulang sekolah nenek sudah dirumah.
Pagi pun tiba, matahari tampak malu-malu menampakkan
diri. Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Setelah berdoa aku pun
membereskan tempat tidurku. Aku memang sudah belajar mandiri sejak masuk
sekolah. Seperti biasa tugasku sebelum pergi ke sekolah adalah membawa kerbau
ku ke tempat yang banyak rumputnya. Setelah selesai melakukan tugasku, aku
langsung berlari pulang ke rumah dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah
agar tidak terlambat.
Setelah
beberapa lama aku bersiap-siap sambil menunggu Wellpina, sahabatku.
“Geby…”
aku mendengar teriakan dari luar.
"Sepertinya dia sudah datang."
ucapku dalam hati.
Akupun
bergegas keluar dengan menenteng tas ku. Kami adalah tetangga, rumah kami juga
hanya berjarak satu rumah. Kami ke sekolah berjalan kaki. Jarak rumah kami ke
sekolah lumayan jauh. Jadi kami berjalan kaki sambil sesekali bercanda.
“Kamu
kenapa Geby?” tiba-tiba Wellpina bertanya sambil menatapku.
“Aku
juga tidak tau, tiba-tiba kepalaku pusing.”
“Kamu
tidak sarapan emangnya?”
“Sarapan,
kok!" jawabku dengan cepat.
“Gimana
kalau kita pulang saja? Mumpung
belum terlalu jauh dari rumah.” katanya memberi saran.
“Tidak
perlu, Well. Aku kuat kok, lagian aku hanya pusing, siapa tau sebentar lagi
pusingnya hilang.” jawabku.
"Malas
rasanya untuk berjalan kembali ke rumah. Jika aku tidak sekolah, aku akan
ketinggalan materi pelajaran." pikirku dalam hati.
Setelah
beberapa lama, kami pun sampai di sekolah. Kepalaku bukannya membaik malah
semakin pusing. Saat di kelas, guru menerangkan materi. Kepalaku semakin
pusing, keringat mengalir dari kepalaku, badanku dingin. Aku tidak kuat lagi.
Akupun menelungkupkan kepalaku diatas meja.
“Kamu
kenapa, Geby? Kamu sakit?” tiba-tiba aku mendengar guruku bertanya.
Aku mengangkat kepalaku dari meja
dan melihat guruku yang berjalan menghampiriku.
“Astaga
wajahmu pucat sekali.”
“Kamu
tidak sarapan?” tanyanya lagi.
“Saya
sarapan kok, Bu.”
“
Ya sudah, lebih baik sekarang kita ke kantor guru saja, ya. Kamu istirahat
disana.”
Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Kami
berjalan ke kantor guru, jaraknya tidak terlalu jauh dari kelasku. Sekolah kami
belum mempunyai UKS. Jadi jika ada siswa yang sakit di bawa ke kantor guru
saja. Setelah di kantor guru aku diberikan obat. Setelah berpikir, akhirnya
guruku memutuskan supaya aku istirahat di rumah saja. Jadi guruku memutuskan
untuk mengantarkan aku pulang dengan menaiki sepeda motor. Setelah mengeluarkan
motornya dari parkiran, akupun naik. Tapi saat kami akan melewati gerbang
sekolah, tiba-tiba sepeda motor yang kami naiki oleng. Ternyata ada batu
lumayan besar menghalangi jalan kami.
Kami
pun terjatuh dan ditimpa sepeda motor tersebut. Kakiku tak sengaja masuk ke
dalam jari-jari ban-nya. Aku berusaha mengeluarkan kakiku tapi tidak bisa. Saat
aku ingin memberitahu guruku, Ia tak sengaja menancap gasnya. Alhasil, kakiku
pun serasa lepas dari tempatnya. Aku berteriak kesakitan sambil menangis
histeris. Guruku kaget dan langsung shock.
Dia tidak tau kalau kakiku tadi masuk ke jari-jari ban sepeda motor itu.
Seluruh guru dan teman-teman mendengar teriakanku, mereka langsung menghampiri
kami. Guru yang ingin mengantarku tadi merasa sangat bersalah, ia menangis dan
memelukku.
Banyak
pertanyaan yang dilontarkan guru dan teman-temanku, tapi aku tidak bisa
menjawab mereka. Kakiku rasanya sakit sekali, rasanya seperti sudah putus.
Kemudian seorang guru laki-laki yang melihat kakiku, langsung membantuku
mengeluarkannya hdan menggendongku. Ia mengantarku pulang ke rumah. Saat itu
aku masih memakai sepatu, jadi kami belum melihat keadaan kakiku. Sampai di
rumah, aku masih terus menangis. Kakakku yang tinggal di samping rumah kami pun
datang menghampiriku karena mendengar keributan.
“Kamu
kenapa? Kok menangis?” tanya kakakku dengan wajah khawatir.
“Kakiku
sakit sekali kak!” jawabku setengah berteriak
Kakakku
pun membuka sepatu kananku yang sudah robek dan kaus kaki yang berlumuran
darah. Kakakku terkejut ternyata kakiku koyak. Aku juga kaget melihat kakiku
yang terluka. Aku semakin menangis dan memeluk kakakku.
“Kakekmu
dimana?” tanya guruku kepada kakakku dengan cepat.
“Kakek
tadi pergi menjemput anak sekolah” kata kakakku yang tak berhenti menangis
Ya,
kakekku memang seorang supir bus sekolah khusus anak SMP dan SMA. Kadang juga
Ia membawa penumpang yang bukan anak sekolah.
“Lebih
baik kita bawa Geby ke puskesmas terdekat, supaya kakinya bisa diobati !” kata guruku
mengambil keputusan.
Setelah
kami sampai di puskesmas, aku langsung ditangani oleh dokter dan beberapa
perawat. Saat aku ditangani, kakakku pergi mencari kakek. Ia tau kakek pasti di
warung sekitaran sini saat menunggu anak sekolahan. Tidak beberapa lama,
akhirnya kakak menemukan kakek sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Kakak
menghampiri kakek dan menceritakan semua kejadian yang menimpaku dan
memebritahukan aku sedang ditangani dokter. Kakekku yang terkejut langsung
berjalan dengan cepat menuju puskesmas.
Aku
sudah selesai ditangani, kakiku juga sudah di perban. Saat kakek melihatku, ia
langsung menangis dan memelukku. Aku juga ikut menangis. Kakek berhenti
menangis dan berusaha untuk menenangkanku. Aku berusaha menghentikan tangisku
dan menahan sakit yang menjalar di kakiku.
Beberapa
saat kemudian, ponsel kakakku berdering dan ternyata itu nenek yang
menelponnya. Aku hampir lupa nenek akan pulang hari ini. Nenek memberitahu
bahwa ia akan sampai di rumah sekitar satu jam lagi. Nenek menyuruh kakak
memasak, karena ia belum makan. Kakak menceritakan kejadian yang menimpaku
kepada nenek dan kakak juga mengatakan kami sedang berada di puskesmas.
Mendengar
itu nenek langsung shock dan kaget.
Ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Saat dokter mengobrol dengan kakak
dan kakekku, aku tertidur. Samar-samar aku mendengar suara nenek yang
memanggilku.
“Geby
sayang…” kata nenek menangis sambil memelukku.
Akupun
terbangun dan memanggil nenek. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukkan
nenek. Setelah kami menebus obat, dokterpun mengizinkan kami pulang. Setelah
kami sampai di rumah, nenekk langsung menyuruhku istirahat.
Aku
sudah tidak bisa lagi membantu kakek mencuci mobil dan membantu nenek
membereskan rumah. Sepertinya aku juga tidak akan ke sekolah beberapa minggu ke
depan. Dirumah kakek dan nenek bergantian menjagaku. Saat kakek mengantar anak
sekolah aku dijaga oleh nenek. Setelah kakek pulang ke rumah, kakek yang
menjagaku. Kadang juga aku dijaga oleh kakak.
Sudah
satu bulan aku hanya berada di rumah. Aku sudah sangat bosan, aku ingin sekali
sekolah. Aku sudah tidak tau berapa materi pelajaran yang kulewatkan. Aku
takut, aku tidak naik kelas. Aku selalu berdoa supaya Tuhan memberi kesembuhan
kepadaku.
"Aku harus semangat, gak boleh cengeng.
Aku harus sembuh, supaya bisa bersekolah
lagi !" kataku dalam hati
Saat
kakiku menginjak lantai, kepalaku sangat pusing. Aku duduk kembali di tempat
tidur, setelah itu aku berdiri dan berusaha melangkahkan kakiku.
" Brukkkkkh!" tiba-tiba aku terjatuh, dan
kakek langsung menghampiriku.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa ada di lantai ?”
“Aku ingin jalan kek, aku bosan di kasurku terus, aku
ingin jalan!" jawabku sambil menangis
Kakek pun membantuku duduk di kursi, di teras rumah.
Kemudian aku melihat kakek mengambil sesuatu.
“Ini tongkat untukmu. Kakek baru saja membuatnya untuk
membantumu berjalan.” kata kakek sambil memberikanku tongkat.
“Terimakasih, kek.” ucapku dengan senyum lebar dan merasa
sangat senang.
"Syukurlah, setidaknya aku
bisa berjalan dengan dibantu oleh tongkat ini." ucapku dalam hati sambil
memegang tongkat itu.
Beberapa hari kemudian, Ujian Akhir Semester tiba. Aku
ujian di rumah karena kondisiku yang tidak memungkinkan untuk pergi ke sekolah.
Tapi tak apa, aku bersyukur karena aku masih bisa mengikuti ujian. Beberapa
minggu kemudian, aku sudah diizinkan pergi ke sekolah walau masih berjalan
dibantu tongkatku. Saat di sekolah, guru-guru dan teman-teman menghampiriku.
Mereka senang aku sudah kembali sekolah.
Minggu berganti minggu, aku berjalan masih dibantu dengan
tongkat. Meskipun kakiku belum bisa berjalan dengan normal, tapi ada saja teman
sekelas yang usil kepadaku. Dia mengambil jepitan rambut dari kepalaku.
“Hei, balikin jepitanku!” teriakku dengan keras.
“Gak mau, kejar aku dulu baru kukembalikan!” katanya
sambil tertawa.
“Gila kamu ya, apa kamu tidak lihat kalau kakiku sedang
sakit?” teriakku
dengan kesal
“Bodo amat, kalau mau jepitannya, kejar aku
dulu lah!” katanya
dengan nada meremehkan.
Akupun marah dan emosi. Kuletakkan tongkatku, aku berlari
dan berusaha mengejarnya. Teman yang melihatku kesusahan pun membantuku
mengejarnya. Kami pun menemukannya dan aku langsung memukulinya. Aku mengatakan
padanya supaya tidak mengusiliku lagi. Semua teman-teman menatapku heran. Aku
bingung kenapa mereka menatapku.
“Geby, Kamu sudah bisa berjalan tanpa tongkat?” tanya
sahabatku dengan sedikit heran.
Aku langsung melihat kakiku. Aku baru sadar kalau aku
sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat walaupun agak sedikit pincang.
Begitulah, sepenggal kisah sedihku yang berhasil meninggalkan
trauma hingga saat ini. Namun, hari demi hari harus tetap ku lalui seperti
biasanya. Mencoba mengalahkan traumaku, karena dari kecil aku dituntut menjadi
manusia yang kuat.
*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar