Selasa, 02 November 2021

SEPENGGAL KISAH

 


 Karya : Geby Debora Damanik

 

Malam semakin larut ditambah guyuran hujan yang kian menderas. Jendela yang belum tertutup sepenuhnya menampakkan seorang gadis kecil berumur 10 tahun sedang melamun di meja belajarnya. Sepertinya langit juga tau ia sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang merindukan seseorang yang amat ia sayangi.

            Malam ini aku sedang merindukan nenekku. Ya, aku memang tinggal bersama nenek dan kakekku sejak umur 3 tahun. Ayahku telah meninggal sejak aku berumur 7 bulan dan Ibu, aku tidak tau dimana. Sudah satu minggu nenek pergi ke luar kota. Ia sedang ada urusan keluarga. Aku ingin sekali ikut dengannya, namun bagaimana dengan sekolahku?

            Sebenarnya aku tidak bisa berjauhan dengan nenek lama-lama. Aku sangat merindukannya. Nenek berjanji akan pulang hari ini. Namun sepertinya tidak jadi. Entah karena apa aku tidak tau. Tiba-tiba ponsel kakekku berdering. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku lagi mendengar suara seseorang di seberang sana.

            "Ya, itu nenek." batinku dalam hati. Melihat kakek yang ingin mengakhiri panggilan, akupun menghampiri kakek.

“Kakek, aku boleh tidak berbicara dengan nenek sebentar?”

“Boleh, dong.” kata kakek sambil memberikan ponselnya.

“Halo, nek! ”

“Nenek apa kabar?” tanyaku.

“Nenek sehat, Geby. Bagaimana denganmu?” jawab nenek diseberang sana. Syukurlah hatiku lega mendengarnya.

“Geby sehat nek. Nenek kapan pulang?”

“Besok nenek akan pulang sayang, doakan saja ya supaya dijalan tidak macet.”

“Iya nek. Pasti dong.” jawabku dengan semangat.

“Nenek jangan lupa membawa oleh-oleh ya.” Candaku.

“Iya sayang.” jawab nenek di iringi kekehan.

“Selamat malam nek.” setelah itu sambungan telepon terputus.

            Setelah aku mengembalikan ponsel kakek, aku pun beranjak ke kamar setelah pamit pada kakek. Rasanya tidak sabar menunggu hari esok. Ku harap setelah aku pulang sekolah nenek sudah dirumah.

            Pagi pun tiba, matahari tampak malu-malu menampakkan diri. Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Setelah berdoa aku pun membereskan tempat tidurku. Aku memang sudah belajar mandiri sejak masuk sekolah. Seperti biasa tugasku sebelum pergi ke sekolah adalah membawa kerbau ku ke tempat yang banyak rumputnya. Setelah selesai melakukan tugasku, aku langsung berlari pulang ke rumah dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah agar tidak terlambat.

Setelah beberapa lama aku bersiap-siap sambil menunggu Wellpina, sahabatku.

“Geby…” aku mendengar teriakan dari luar.

 "Sepertinya dia sudah datang." ucapku dalam hati.

Akupun bergegas keluar dengan menenteng tas ku. Kami adalah tetangga, rumah kami juga hanya berjarak satu rumah. Kami ke sekolah berjalan kaki. Jarak rumah kami ke sekolah lumayan jauh. Jadi kami berjalan kaki sambil sesekali bercanda.

“Kamu kenapa Geby?” tiba-tiba Wellpina bertanya sambil menatapku.

“Aku juga tidak tau, tiba-tiba kepalaku pusing.”

“Kamu tidak sarapan emangnya?”

“Sarapan, kok!" jawabku dengan cepat.

“Gimana kalau kita pulang saja? Mumpung belum terlalu jauh dari rumah.” katanya memberi saran.

“Tidak perlu, Well. Aku kuat kok, lagian aku hanya pusing, siapa tau sebentar lagi pusingnya hilang.” jawabku.

"Malas rasanya untuk berjalan kembali ke rumah. Jika aku tidak sekolah, aku akan ketinggalan materi pelajaran." pikirku dalam hati.

Setelah beberapa lama, kami pun sampai di sekolah. Kepalaku bukannya membaik malah semakin pusing. Saat di kelas, guru menerangkan materi. Kepalaku semakin pusing, keringat mengalir dari kepalaku, badanku dingin. Aku tidak kuat lagi. Akupun menelungkupkan kepalaku diatas meja.

“Kamu kenapa, Geby? Kamu sakit?” tiba-tiba aku mendengar guruku bertanya.

            Aku mengangkat kepalaku dari meja dan melihat guruku yang berjalan menghampiriku.

“Astaga wajahmu pucat sekali.”

“Kamu tidak sarapan?” tanyanya lagi.

“Saya sarapan kok, Bu.”

“ Ya sudah, lebih baik sekarang kita ke kantor guru saja, ya. Kamu istirahat disana.”

 Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

Kami berjalan ke kantor guru, jaraknya tidak terlalu jauh dari kelasku. Sekolah kami belum mempunyai UKS. Jadi jika ada siswa yang sakit di bawa ke kantor guru saja. Setelah di kantor guru aku diberikan obat. Setelah berpikir, akhirnya guruku memutuskan supaya aku istirahat di rumah saja. Jadi guruku memutuskan untuk mengantarkan aku pulang dengan menaiki sepeda motor. Setelah mengeluarkan motornya dari parkiran, akupun naik. Tapi saat kami akan melewati gerbang sekolah, tiba-tiba sepeda motor yang kami naiki oleng. Ternyata ada batu lumayan besar menghalangi jalan kami.

Kami pun terjatuh dan ditimpa sepeda motor tersebut. Kakiku tak sengaja masuk ke dalam jari-jari ban-nya. Aku berusaha mengeluarkan kakiku tapi tidak bisa. Saat aku ingin memberitahu guruku, Ia tak sengaja menancap gasnya. Alhasil, kakiku pun serasa lepas dari tempatnya. Aku berteriak kesakitan sambil menangis histeris. Guruku kaget dan langsung shock. Dia tidak tau kalau kakiku tadi masuk ke jari-jari ban sepeda motor itu. Seluruh guru dan teman-teman mendengar teriakanku, mereka langsung menghampiri kami. Guru yang ingin mengantarku tadi merasa sangat bersalah, ia menangis dan memelukku.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan guru dan teman-temanku, tapi aku tidak bisa menjawab mereka. Kakiku rasanya sakit sekali, rasanya seperti sudah putus. Kemudian seorang guru laki-laki yang melihat kakiku, langsung membantuku mengeluarkannya hdan menggendongku. Ia mengantarku pulang ke rumah. Saat itu aku masih memakai sepatu, jadi kami belum melihat keadaan kakiku. Sampai di rumah, aku masih terus menangis. Kakakku yang tinggal di samping rumah kami pun datang menghampiriku karena mendengar keributan.

“Kamu kenapa? Kok menangis?” tanya kakakku dengan wajah khawatir.

“Kakiku sakit sekali kak!” jawabku setengah berteriak

Kakakku pun membuka sepatu kananku yang sudah robek dan kaus kaki yang berlumuran darah. Kakakku terkejut ternyata kakiku koyak. Aku juga kaget melihat kakiku yang terluka. Aku semakin menangis dan memeluk kakakku.

“Kakekmu dimana?” tanya guruku kepada kakakku dengan cepat.

“Kakek tadi pergi menjemput anak sekolah” kata kakakku yang tak berhenti menangis

Ya, kakekku memang seorang supir bus sekolah khusus anak SMP dan SMA. Kadang juga Ia membawa penumpang yang bukan anak sekolah.

“Lebih baik kita bawa Geby ke puskesmas terdekat, supaya kakinya bisa diobati !” kata guruku mengambil keputusan.

Setelah kami sampai di puskesmas, aku langsung ditangani oleh dokter dan beberapa perawat. Saat aku ditangani, kakakku pergi mencari kakek. Ia tau kakek pasti di warung sekitaran sini saat menunggu anak sekolahan. Tidak beberapa lama, akhirnya kakak menemukan kakek sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Kakak menghampiri kakek dan menceritakan semua kejadian yang menimpaku dan memebritahukan aku sedang ditangani dokter. Kakekku yang terkejut langsung berjalan dengan cepat menuju puskesmas.

Aku sudah selesai ditangani, kakiku juga sudah di perban. Saat kakek melihatku, ia langsung menangis dan memelukku. Aku juga ikut menangis. Kakek berhenti menangis dan berusaha untuk menenangkanku. Aku berusaha menghentikan tangisku dan menahan sakit yang menjalar di kakiku.

Beberapa saat kemudian, ponsel kakakku berdering dan ternyata itu nenek yang menelponnya. Aku hampir lupa nenek akan pulang hari ini. Nenek memberitahu bahwa ia akan sampai di rumah sekitar satu jam lagi. Nenek menyuruh kakak memasak, karena ia belum makan. Kakak menceritakan kejadian yang menimpaku kepada nenek dan kakak juga mengatakan kami sedang berada di puskesmas.

Mendengar itu nenek langsung shock dan kaget. Ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Saat dokter mengobrol dengan kakak dan kakekku, aku tertidur. Samar-samar aku mendengar suara nenek yang memanggilku.

“Geby sayang…” kata nenek menangis sambil memelukku.

Akupun terbangun dan memanggil nenek. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukkan nenek. Setelah kami menebus obat, dokterpun mengizinkan kami pulang. Setelah kami sampai di rumah, nenekk langsung menyuruhku istirahat.

Aku sudah tidak bisa lagi membantu kakek mencuci mobil dan membantu nenek membereskan rumah. Sepertinya aku juga tidak akan ke sekolah beberapa minggu ke depan. Dirumah kakek dan nenek bergantian menjagaku. Saat kakek mengantar anak sekolah aku dijaga oleh nenek. Setelah kakek pulang ke rumah, kakek yang menjagaku. Kadang juga aku dijaga oleh kakak.

Sudah satu bulan aku hanya berada di rumah. Aku sudah sangat bosan, aku ingin sekali sekolah. Aku sudah tidak tau berapa materi pelajaran yang kulewatkan. Aku takut, aku tidak naik kelas. Aku selalu berdoa supaya Tuhan memberi kesembuhan kepadaku.

 "Aku harus semangat, gak boleh cengeng. Aku harus sembuh,  supaya bisa bersekolah lagi !" kataku dalam hati

Saat kakiku menginjak lantai, kepalaku sangat pusing. Aku duduk kembali di tempat tidur, setelah itu aku berdiri dan berusaha melangkahkan kakiku.

             " Brukkkkkh!"  tiba-tiba aku terjatuh, dan kakek langsung menghampiriku.

            “Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa ada di lantai ?”

            “Aku ingin jalan kek, aku bosan di kasurku terus, aku ingin jalan!" jawabku sambil menangis

            Kakek pun membantuku duduk di kursi, di teras rumah. Kemudian aku melihat kakek mengambil sesuatu.

            “Ini tongkat untukmu. Kakek baru saja membuatnya untuk membantumu berjalan.” kata kakek sambil memberikanku tongkat.

            “Terimakasih, kek.” ucapku dengan senyum lebar dan merasa sangat senang.

             "Syukurlah, setidaknya aku bisa berjalan dengan dibantu oleh tongkat ini." ucapku dalam hati sambil memegang tongkat itu.

            Beberapa hari kemudian, Ujian Akhir Semester tiba. Aku ujian di rumah karena kondisiku yang tidak memungkinkan untuk pergi ke sekolah. Tapi tak apa, aku bersyukur karena aku masih bisa mengikuti ujian. Beberapa minggu kemudian, aku sudah diizinkan pergi ke sekolah walau masih berjalan dibantu tongkatku. Saat di sekolah, guru-guru dan teman-teman menghampiriku. Mereka senang aku sudah kembali sekolah.

            Minggu berganti minggu, aku berjalan masih dibantu dengan tongkat. Meskipun kakiku belum bisa berjalan dengan normal, tapi ada saja teman sekelas yang usil kepadaku. Dia mengambil jepitan rambut dari kepalaku.

            “Hei, balikin jepitanku!” teriakku dengan keras.

            “Gak mau, kejar aku dulu baru kukembalikan!” katanya sambil tertawa.

            “Gila kamu ya, apa kamu tidak lihat kalau kakiku sedang sakit?” teriakku dengan kesal

            “Bodo amat, kalau mau jepitannya, kejar aku dulu lah!” katanya dengan nada meremehkan.

            Akupun marah dan emosi. Kuletakkan tongkatku, aku berlari dan berusaha mengejarnya. Teman yang melihatku kesusahan pun membantuku mengejarnya. Kami pun menemukannya dan aku langsung memukulinya. Aku mengatakan padanya supaya tidak mengusiliku lagi. Semua teman-teman menatapku heran. Aku bingung kenapa mereka menatapku.

            “Geby, Kamu sudah bisa berjalan tanpa tongkat?” tanya sahabatku dengan sedikit heran.

            Aku langsung melihat kakiku. Aku baru sadar kalau aku sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat walaupun agak sedikit pincang.

            Begitulah, sepenggal kisah sedihku yang berhasil meninggalkan trauma hingga saat ini. Namun, hari demi hari harus tetap ku lalui seperti biasanya. Mencoba mengalahkan traumaku, karena dari kecil aku dituntut menjadi manusia yang kuat.


*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...