Oleh Deygo Rivaldo Haloho
Sesaat setelah berhentinya hujan itu,
dingin, sekujur tubuhku menggigil, mengapa tidak hujan sudah turun hampir
setiap hari di bulan Oktober ini.
"Uhuk..uhuk." terdengar
suara batuk yang sayup-sayup yang tidak lain dari seorang Kakek yang sudah
berumur 76 tahun itu.
"Kek, mau dibuatkan minum?"
ucapku.
"Teh tawar saja." balas Kakekku dengan malas.
Sudah 3 hari ini hujan berturut-turut
turun di bulan ini, wajar saja seorang kakek yang dulunya seorang veteran
tampak bermalas-malasan, mengingat usianya yang sudah senja, ketika hendak
menuju dapur,aku tertegun melihat foto kakekku saat masih muda wajahnya seperti
artis Hollywood Gerard Sanders, sekilas wajahnya tidak jauh berbeda
dengan ku, hanya saja style-nya berbeda.
"Mana teh nya?" tanya
kakekku dengan bosan.
"Sebentar Kek, nanti kalau tidak
dihayati, rasanya hambar." Ucapku.
"Teh tawar, rasanya memang
hambar." sambungnya dengan tawa kecil.
"Hehehe, Kakek-" ucapku.
"Sudah, selesaikan dulu itu,
nanti kita bercerita." Potongnya.
Sontak aku merasa senang dan
bersemangat, mengira bahwa Kakekku akan bercerita tentang masa mudanya, aku
memang sangat suka bercerita dan mendengarkan cerita, terutama dari orangtua,
disamping selain mendapatkan motivasi, cara penyampaiannya sangat berbeda, ia
bercerita seolah-olah terjadi pada saat itu juga.
Tak heran Kakekku memiliki banyak
cerita masa muda mengingat, kakekku sangat aktif pada masa mudanya, ketika
mendiang Ayahku bercerita kisah kakekku, yang kerap kusebut Oppung, yaitu
seorang yang Humble ataupun Supel, tak heran yang mengenal kakekku
sangat banyak dan juga berdampak positif kepada ku, kakekku dikenal sebagai
orang yang berwarna, Humor dan berwibawa, banyak tokoh masyarakat yang menyegani
kakekku.
Ir. Soekarno adalah sesosok yang dikagumi
oleh kakekku, seorang Proklamator yang sangat berjasa pada Indonesia menjadi
sosok yang sangat dikagumi olehnya, pada 1948 kakekku rela ke Bukittinggi demi
hanya mendapat sebuah tanda tangan dari seorang yang sangat berpengaruh di Negara
ini.
Tak heran dikamar nya juga banyak
terdapat kata-kata bijak yang menghiasi kamar yang remang-remang itu, salah
satu kata bijak itu bertuliskan
"Karena dari kopi kita belajar,
bahwa rasa pahit itu dapat dinikmati."
Ia sangat menanamkan, bahwa dari
skenario terburukpun kita dapat mengambil suatu pelajaran,
" Kek tolong ceritakan bagaimana
ketika kakek masih remajaremaja," ucapku dengan sangat penasaran.
"Waduh, waktu remaja, kakek
sudah rada-rada lupa, tetapi satu hal yang sangat ku ingat yaitu ketika kami
membakar pos penjaga Jepang didekat Gunung Singgalang, Seribudolok, waktu itu
pagi sekitar pukul 04.00 subuh kami ber-lima sudah berencana untuk membakarnya,
karena hasil panen selalu diPalak oleh para tentara Jepang itu ." ucapnya
dengan nada jengkel
" Bah..., jadi kekmna lah orang Oppung,
ga di kejar?" ucapku dengan logat batak
"Enggak lah, kami dulu pake bom
botol, kalok sekarang namanya bom molotov." Sambungnya.
Sontak aku membayangkan, jika aku
pada zaman itu pasti sangat susah, ketakutan, gelisah, namun kakekku, demi
mendapatkan sebuah keadilan, ia berani mempertaruhkan nyawa nya pada subuh itu.
Karena latarbelakang hidup seperti
itu lah, makanya orang tua zaman dahulu memiliki semangat hidup yang luar biasa.
"Srrrrrpshhhh." bunyi
seruput teh.
"Ah sudahlah, besok lagi lah
kita cerita ya, sudah dingin kurasa hari ini. " sambungnya.
Mengingat ini juga sudah jam 6 sore.
Serempak kabut juga turut hanyut
menyambut malam yang kian sayup, aku mengambil gitar dan mulai bersenandung di
teras rumah sambil menatap lampu jalan dan berkata di dalam hatiku.
"Sungguh aku bersyukur hidup di
zaman ini, kopi, musik, ketenangan, semuanya kudapat dengan tenang. "
Ku seruput kopi ku dan mulai meng-halu
bagaimanakah nasibku dimasa depan nanti?
Apakah yang kulakukan saat ini sudah
sesuai dengan masa depan yang menanti?
Sambil bermain dengan gitarku, muncul
sebuah syair lagu, namun ku tunda dahulu, untuk menemani hari-hari yang 'kan
datang untuk menemuiku.
Malam pun semakin pekat warnanya, tak
terasa kopi ku sudah dingin, malam sudah hampir tenggelam dan aku masuk
kedalam.
Sepintas cerita 5 tahun lalu masih ku
ingat dengan jelas, betul seperti kata pepatah itu.
"Karena dari kopi kita belajar
bahwa, rasa pahit itu juga dapat dinikmati. "
5 tahun sudah berlalu, banyak sudah
pengalaman, cerita hidup yang sudah kudapat kan, baik buruk hidup sudah semakin
dapat kurasakan, berawal dari tugas Bahasa Indonesia, kini aku mengingat
pengalaman yang hampir meredam dimakan zaman dan bertambahnya pengalaman.
Tidak semua orang dapat menikmati
cerita hidupmu, syukuri dan lanjutkan di iringi dengan niat dan kemauan.
Kini usiaku sudah 17 tahun, sudah 17
tahun aku menyandang nama Deygo Haloho, banyak sudah pengalaman yang kudapatkan
namun seperti hari ini, Sabtu, sabtu dapat datang kembali, namun cerita hari
ini hanya datang sekali.
"Jangan terburu-buru dalam
menjalani sesuatu, nikmati saja apa yang ada, seperti halnya minum kopi. "
Kata terakhir yang dapat kuucapkan.
"Ketika kata-kata tak lagi
banyak bersuara, secangkir kopi bisa jadi perantara dan mencairkan suasana."
*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar