Selasa, 02 November 2021

KAKEK DAN SECANGKIR KOPI

 


Oleh Deygo Rivaldo Haloho

 

 

Sesaat setelah berhentinya hujan itu, dingin, sekujur tubuhku menggigil, mengapa tidak hujan sudah turun hampir setiap hari di bulan Oktober ini.

"Uhuk..uhuk." terdengar suara batuk yang sayup-sayup yang tidak lain dari seorang Kakek yang sudah berumur 76 tahun itu.

"Kek, mau dibuatkan minum?" ucapku.

"Teh tawar saja." balas Kakekku dengan malas.

Sudah 3 hari ini hujan berturut-turut turun di bulan ini, wajar saja seorang kakek yang dulunya seorang veteran tampak bermalas-malasan, mengingat usianya yang sudah senja, ketika hendak menuju dapur,aku tertegun melihat foto kakekku saat masih muda wajahnya seperti artis Hollywood Gerard Sanders, sekilas wajahnya tidak jauh berbeda dengan ku, hanya saja style-nya berbeda.

"Mana teh nya?" tanya kakekku dengan bosan.

"Sebentar Kek, nanti kalau tidak dihayati, rasanya hambar." Ucapku.

"Teh tawar, rasanya memang hambar." sambungnya dengan tawa kecil.

"Hehehe, Kakek-" ucapku.

"Sudah, selesaikan dulu itu, nanti kita bercerita." Potongnya.

Sontak aku merasa senang dan bersemangat, mengira bahwa Kakekku akan bercerita tentang masa mudanya, aku memang sangat suka bercerita dan mendengarkan cerita, terutama dari orangtua, disamping selain mendapatkan motivasi, cara penyampaiannya sangat berbeda, ia bercerita seolah-olah terjadi pada saat itu juga.

Tak heran Kakekku memiliki banyak cerita masa muda mengingat, kakekku sangat aktif pada masa mudanya, ketika mendiang Ayahku bercerita kisah kakekku, yang kerap kusebut Oppung, yaitu seorang yang Humble ataupun Supel, tak heran yang mengenal kakekku sangat banyak dan juga berdampak positif kepada ku, kakekku dikenal sebagai orang yang berwarna, Humor dan berwibawa, banyak tokoh masyarakat yang menyegani kakekku.

Ir. Soekarno adalah sesosok yang dikagumi oleh kakekku, seorang Proklamator yang sangat berjasa pada Indonesia menjadi sosok yang sangat dikagumi olehnya, pada 1948 kakekku rela ke Bukittinggi demi hanya mendapat sebuah tanda tangan dari seorang yang sangat berpengaruh di Negara ini.

Tak heran dikamar nya juga banyak terdapat kata-kata bijak yang menghiasi kamar yang remang-remang itu, salah satu kata bijak itu bertuliskan

"Karena dari kopi kita belajar, bahwa rasa pahit itu dapat dinikmati."

Ia sangat menanamkan, bahwa dari skenario terburukpun kita dapat mengambil suatu pelajaran,

" Kek tolong ceritakan bagaimana ketika kakek masih remajaremaja," ucapku dengan sangat penasaran.

"Waduh, waktu remaja, kakek sudah rada-rada lupa, tetapi satu hal yang sangat ku ingat yaitu ketika kami membakar pos penjaga Jepang didekat Gunung Singgalang, Seribudolok, waktu itu pagi sekitar pukul 04.00 subuh kami ber-lima sudah berencana untuk membakarnya, karena hasil panen selalu diPalak oleh para tentara Jepang itu ." ucapnya dengan nada jengkel

" Bah..., jadi kekmna lah orang Oppung, ga di kejar?" ucapku dengan logat batak

"Enggak lah, kami dulu pake bom botol, kalok sekarang namanya bom molotov." Sambungnya.

Sontak aku membayangkan, jika aku pada zaman itu pasti sangat susah, ketakutan, gelisah, namun kakekku, demi mendapatkan sebuah keadilan, ia berani mempertaruhkan nyawa nya pada subuh itu.

Karena latarbelakang hidup seperti itu lah, makanya orang tua zaman dahulu memiliki semangat hidup yang luar biasa.

"Srrrrrpshhhh." bunyi seruput teh.

"Ah sudahlah, besok lagi lah kita cerita ya, sudah dingin kurasa hari ini. " sambungnya.

Mengingat ini juga sudah jam 6 sore.

Serempak kabut juga turut hanyut menyambut malam yang kian sayup, aku mengambil gitar dan mulai bersenandung di teras rumah sambil menatap lampu jalan dan berkata di dalam hatiku.

"Sungguh aku bersyukur hidup di zaman ini, kopi, musik, ketenangan, semuanya kudapat dengan tenang. "

Ku seruput kopi ku dan mulai meng-halu bagaimanakah nasibku dimasa depan nanti?

Apakah yang kulakukan saat ini sudah sesuai dengan masa depan yang menanti?

Sambil bermain dengan gitarku, muncul sebuah syair lagu, namun ku tunda dahulu, untuk menemani hari-hari yang 'kan datang untuk menemuiku.

Malam pun semakin pekat warnanya, tak terasa kopi ku sudah dingin, malam sudah hampir tenggelam dan aku masuk kedalam.

Sepintas cerita 5 tahun lalu masih ku ingat dengan jelas, betul seperti kata pepatah itu.

"Karena dari kopi kita belajar bahwa, rasa pahit itu juga dapat dinikmati. "

5 tahun sudah berlalu, banyak sudah pengalaman, cerita hidup yang sudah kudapat kan, baik buruk hidup sudah semakin dapat kurasakan, berawal dari tugas Bahasa Indonesia, kini aku mengingat pengalaman yang hampir meredam dimakan zaman dan bertambahnya pengalaman.

Tidak semua orang dapat menikmati cerita hidupmu, syukuri dan lanjutkan di iringi dengan niat dan kemauan.

Kini usiaku sudah 17 tahun, sudah 17 tahun aku menyandang nama Deygo Haloho, banyak sudah pengalaman yang kudapatkan namun seperti hari ini, Sabtu, sabtu dapat datang kembali, namun cerita hari ini hanya datang sekali.

"Jangan terburu-buru dalam menjalani sesuatu, nikmati saja apa yang ada, seperti halnya minum kopi. "

Kata terakhir yang dapat kuucapkan.

"Ketika kata-kata tak lagi banyak bersuara, secangkir kopi bisa jadi perantara dan mencairkan suasana."

*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...