Karya: Adelia Evi Vani Sidauruk
Hallo
aku Aca Emanuel dipangil Aca, usiaku 15
tahun dan aku anak tunggal. Ayahku bernama Jodi, usianya 40 tahun
berkerja sebagai pengusaha elektronik. Ibuku Bernama Jihan berusia 38 tahun
bekerja sebagai pengusaha kue yang dibuka di samping rumah. Puji Tuhan
keluargaku sangat sejahtra dan harmonis. Sekarang aku duduk di kelas X MIPA 1,
aku bercita-cita sebagai Dokter, aku mendapatkan dukungan penuh dari kedua
orangtuaku.
Pukul
05:30 aku bangun pagi lalu aku menuju dapur, ya seperti biasa aku sudah melihat
ibuku melakukan
aktivitas rutinnya yaitu memasak.
"Selamat
pagi bu," ucapku sambil memeluk ibuku.
"Selamat
pagi sayang (mencium kepala) ini minum dulu,"
ucap ayahku sambil menyodorkan minumku.
"
Terimakasih bu," ucapku dan meminum susu yang diberikan ibu
kepadaku.
"Langsung
siap-siap ya Ca,
jangan sampai kamu telat ke sekolah."
"Iya
bu, aku mandi dulu."
Dipagi hari aku memang tidak pernah diperbolehkan
ibuku untuk membantunya, dia ingin aku fokus
pada persiapanku kesekolah. Pukul 6:20 aku sudah selesai dengan pakaian
sekolahku, kubawa
tasku kemeja makan supaya tidak lagi ke kamar sebelum berangkat sekolah. Dimeja
makan sudah kulihat ayahku duduk dengan secangkir kopi dengan laptop, iya
ayahku dipagi hari memang sudah sibuk dengan perkerjaannya. Kulihat ayahku
sedang melihat investasinya di laptop. Ya ayahku senang sekali melakukan
investasi, katanya
sangat banyak keuntungannya, mungkin ayahku sudah
ahli makanya ayahku mengatakan hal tersebut.
"Selamat
pagi ayah," ucapku sambil memeluk
ayahku.
"Selamat
pagi putriku yang cantik," balas
ayah sambil mencium kepalaku.
"Yah,
mau kopi ayah boleh?"
"Tidak
boleh nak kenapa kamu ingin kopi? Apakah kamu mengantuk?"
"Tidak
ayah, aku hanya ingin mencicipi
saja."
"Tidak
nak, kamu minum susu saja, ini ibumu sudah buat."
"Terimakasih
ibu, ayah."
"Ca,
kamu kan udah seminggu jadi kelas X SMA gimana seru gak di sekolahnya?"
"Seru
bu, semua
teman-temanku sangat antusias belajar."
"Apakah
kamu melihat pria tampan di sekolahmu?"
(menutup laptop)
"Tidak
ayah, karna laki-laki tampan ada di rumah ini." (sambil tertawa kecil)
Ibu dan ayah hanya mengganguk setelah mendengar
perkataanku, kami menikmati sarapan dengan obrolan kecil.
"Ini
bekal nya ca, buku dan tugas jangan ada yang ketingalan ya."
"Iya
bu.."
"Ayo
brangkat nak, ayah ke garasi dulu buat ngeluarin mobil, kamu pakai sepatu."
"Okey
ayah."(memakai sepatu)
"Ca,
kalo ada apa-apa di sekolah kabarin ibu atau ayah ya."
"Pasti
ibuku sayang.. Aca
brangkat sekolah ya bu."
( memeluk dan menyalam ibu)
"Semangat
sekolahnya sayang, hati-hati." (mencium
kepala dan menyalam)
Aku berangkat
kesekolah diantar oleh ayah, perjalanan dari rumah kesekolah memakan waktu
25-30 menit. Di perjalanan kami selalu mengobrol dengan ayah.
"Aca."
"Iya
ayah."
"Apakah
ada pria tampan di sekolahmu?"
"Ayah
ini pertanyaan yang sama kedua kali ayah
tanyakan, kenapa ayah menanyakan hal ini?"
"Kamu
sangat cantik, baik dan juga cerdas Ca. Ayah yakin pasti ada
yang menyukai kamu dan mencoba mendekati kamu."
"Ayah
ayah…." ( sambil tertawa terbahak-bahak)
"Kenapa
tertawa ca?"
"Setiap
hari ayah dan ibu cek hp Aca,
apakah ada yang dekatin Aca
yah? Ada-ada saja ayah."
"Diusia
segini sangat wajar jika menyukai lawan jenis, Itu hal menyenangkan Ca. percaya deh sama
ayah. Tapi jika memang tidak ada sekarang ayah juga senang, tapi nanti jika sudah
ada Aca harus janji bakal
cerita sama ayah."
"Siap
ayahku."
Tak
terasa udah sampai di sekolah, kupeluk ayahku.
"Aca
sekolah ya yah."
"Semangat
sayang, kalo ada apa-apa kabarin ayah atau ibu."
"Iya
ayah."
Aku turun dari mobil lalu masuk ke dalam sekolah,
kelasku ada di lantai dua. Aku naik tangga dengan tas bekal di tangan kiriku.
Ada beberapa anak laki-laki yang turun tangga dengan berlari dan mereka
menyengolku sampai aku terjatuh. Mereka
kabur tanpa merasa bersalah. Laki-laki yang berjalan di belakangku membantu ku.
"Kakimu luka, ayo ke UKS", ujar laki-laki itu.
Aku hanya menangis karna aku merasa
kakiku sangat sakit. Aku semakin syok Ketika dia mengendongku ke UKS. Laki-laki
itu meletakkanku di bed
UKS lalu mengambil P3K. dia mengobati luka dikakiku, walaupun aku terus
menangis dia hanya terus diam sambil mengobati kakiku.
"Sudah
selesai, jangan terus menangis,” ujarnya,
aku masih terus
menangis.
"Apakah
masih sangat sakit?” aku hanya mengganguk.
Dia
meniup kakiku yang sudah diperbannya.
"Tunggu
sebentar ya,” dia keluar dari UKS, dia meniggalkan
ku sendiri. Sangat tega pria
itu yang ada dipikiranku.
Aku ingin menelpon ibuku tapi aku takut mereka
sangat khawatir. Tapi Kalo tidak
memberitahu aku akan sendiri di UKS ini,
aku tidak tau pria itu datang lagi atau tidak. Aku sangat binggung akan
keputusan yang akan kuambil. Tiba-tiba pria itu datang dengan 3 pria yang
menyengolku itu.
"Ini
pria yang menyengolmu tadi?”
tanyanya padaku, dan aku mengganguk.
"Kami
minta maaf, kami gak sengaja,"
ujar ketiga pria yang menyengolku.
"Tidak
sengaja tapi kalian kabur, apakah
kalian pria?” tanya pria yang
menolongku “Kami
minta maaf, kami salah,”
ujar ketiga pria itu Kembali.
"Udah
gapapa,lain kali di tangga jangan lari-lari,” kataku.
"Baik,
sekali lagi kami minta maaf,”
ujar ketiga
pria itu.
"Keluar,” ujar pria yang
menolongku.
Ketiga
pria itu keluar dari UKS.
"Aku
aca, terimakasi telah
membantuku,” ucapku pada pria itu.
"Aku
daniel, iya sama-sama."
"Apakah
kamu sangup untuk berdiri menuju kelasmu?"
"
Tidak, aku merasa kakiku
sangat sakit."
"Apakah
kamu ingin pulang? Dimana rumahmu?"
"Aku
ingin menelepon orangtuaku tapi aku takut mereka pasti sangat kawatir. Ayah
ibuku pasti sangat marah besar pada orang yang mebuat kakiku luka."
"Sini
aku hubungi."
"Gausah,
aku takut."
"Bukan
kamu yang menghubungi, tapi
aku."
"Gausah
Daniel."
"Trus
kamu mau gak pulang? Mau gak mau pasti orangtuamu bakal tau,sini aku yang
hubungi orangtuamu."
"Yasudah." (mengambil hp dari tas
dan memberikan kepada Daniel)
Daniel mengetik dan mencoba menghubungi ayahku,dia
keluar dari uks saat menghubugi ayahku. Aku tidak tau apa yang dikatakan Daniel
ke ayahku. Daniel menyerahkan hpku lalu dia duduk di kursi di samping Bedku
tempat aku di baringkan. Daniel hanya diam setelah menghubungi ayahku.
"Apa
yang kamu katakana pada ayahku?"
"Aku
hanya mengatakan kamu jatuh dari tanggga."
"Lalu
apa kata ayahku."
"Ayahmu sedang menuju kesini."
"Tapi
kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?"
"Gapapa."
Aku sangat khawatir,kulihat
Daniel sangat pucat. Kami
berdua menunggu kedatangan ayah dan ibuku.
"Acaaaaaa,
kamu gapapa nak? Mana yang sakit sayang?"
( menangis)
"Udah
gapapa bu, udah di obatain
kok."
"Kita
kerumah sakit ya nak."
"Iya
bu."
Aku melihat ayah menatap Daniel,dan Daniel menunduk
saat ayahku sudah sampai. Aku tidak mengerti mengapa ayah menatap Daniel dangan
tatapan marah.
"Ayo
yah.. kita harus bawa Aca
kerumah sakit."
"Aca
sabar ya nak… sakit sekali ya?"
"Gak
ko yah, udah diobatin."
Ayah mengendongku, lalu Daniel ikut dibelakang
ayahku. Aku dimasukkan ke mobil dibelakang Bersama ibu. Aku kaget Daniel ikut
di depan Bersama ayahku. Kami menuju rumah sakit dengan keadaan hening di mobil
dan tatapan ayahku sesekali kepada Daniel. Apa sebenarnya yang dikatakan Daniel
pada ayahku sampai Daniel ditatap begitu oleh ayahku. Kami sampai dirumah sakit
ayahku mengendongku sampai aku dicek dokter. Dokter mengatakan kakiku hanya
luka kecil dan Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Kulihat wajah ayah ku yang sudah mulai senyum.
"Aca,
selain kakimu adakah yang sakit?"
"Tidak
ada ayah."
"Sebelum
sampai ke sekolah ibu gabisa mikir Ca,
ibu takut kamu kenapa napa nak."
"Gapapa
bu, udah di obatin
tadi di UKS."
"Kamu
1 bulan home school aja ya nak."
"Gausah
bu, Aca masih bisa sekolah
di sekolah,aca gapapa bu. Hanya luka sikit ini."
"Yah..
liat Aca, gamau home school."
"Acaaa,
kamu home school aja ya, ayah sama ibu gak tenang kondisi kamu begini kamu ke
sekolah."
"Aca
gapapa bu,yah.. Aca
bisa jalan kok."
"Kamu
lain kali kalo jalan jangan buru-buru, lihatkan
akibatnya sampai ke anak saya." (menatap
Daniel)
"Saya
minta maaf om,tante. Saya salah. Gara-gara saya kakinya Aca luka."
"Daniel..
kamu ngomong apa?"
"Kamu
kelas berapa Daniel?"
"X
MIPA II om."
"Saya
bakal bilang ke kepala sekolah supaya lebih memperhatikan kamu, kamu sudah
membuat anak saya celaka. Saya mengatakan kepada kepala sekolah supaya
mengantisipasi kejadian begini lagi di sekolah kalian."
"Ayah…
tapi bukan Daniel yang buat kaki Aca
luka."
"Ca…
maafin aku. Jangan tutupi hal ini dari ayah kamu. Memang aku yang buat kaki
kamu jadi luka begitu."
"Kamu
ngomong apa sih, yakan memang bukan kamu."
"Sudah
Aca, kamu gak usah
belain dia."
"Ayah..
percaya sama Aca.
Bukan Daniel yang buat Aca
jatuh dan buat kaki Aca
luka. Kamu lagi Daniel, ngapain kamu ngakuin kesalahan yang bukan kamu yang
buat?"
"Sebenarnya
yang benar siapa Ca?"
"Bu,
Yah… justru Daniel lah
yang nolongin Aca
pas di senggol 3 laki-laki di
tangga. Daniel juga yang bawa aca ke UKS, Daniel juga yang perban kaki Aca sebelum ayah dan ibu
datang. Awalnya Aca
gak berani hubungi Ayah
dan Ibu. Tapi Daniel bilang
gapapa dan hubungi ayah dan ibu."
"Lalu
kenapa Daniel bilang ke ayah bahwasannya
dia tidak sengaja senggol kamu karena
dia buru-buru."
"Daniel,
kalo bukan kamu pelakunya kamu gak perlu mengakuinya nak. Ini akan membuat
kerugian pada diri kamu. Mengorbankan yang bukan kamu lakukan."
"Lagian
ngapain kamu ngakuin itu Daniel, padahal bukan kamu."
"Maaf
tante om. Saya pikir ini akan memperbaiki keadaan, supaya om dan tante tidak
sangat kawatir dan emosi melihat Aca
terluka. Jadi tidak masalah saya rasa yang menjadi korban emosi itu. Maka saya melakukan hal
itu."
"Daniel..
harusnya kamu tidak melakukan hal itu. Akuilah
apa yang kamu perbuat. Terimakasih
ya nak. Kamu udah nolongin Aca. Kamu sangat baik
hati nak."
"Terimakasih
Daniel, kamu sudah nolongin Aca."
"Sama-sama
om,tante."
"Daniel
kita makan siang di rumah ya."
"Gausah
om, saya
pulang saja."
"Ayolah
nak."
"Daniel
ayo, ayah dan ibuku udah ajak loh."
"Baiklah
om,tante."
Kamipun
menuju rumah, di perjalanan kami
mengobrol.
"Daniel
kamu berapa bersaudara?"
"Saya
anak tunggal om."
"Sama
seperti Aca ya."
"Aca
anak tunggal ya om"
"Iya
Daniel. Ayah, ibu kerja apa?"
"Ayah
polisi dan Ibu
bidan om."
"Wah
wah.. berarti kamu juga pasti ingin seperti ayahmu kan?"
"Iya
om."
"Iya
nak, kejarlah cita-cita agar orangtua gembira. Kamu mau gak jadi sahabat Aca?"
"Ayah…
ayah nanya apa sih?"
"Keknya
benar Ca, kamu perlu sahabat
buat jagain kamu di sekolah."
"Iya
tante boleh."
"Aku
gamau." (dengan wajah usil)
"Acaaaa…
"
"Bercanda yah.."
Kamipun sampai di rumah dan menikmati makan siang bersama, setelah makan bersama ayahku mengantar
Daniel kerumahnya. Ayahku bertemu dengan orangtua Daniel dan mengobrol dengan
orang tua Daniel. Mulai saat itu,
Daniel resmi menjadi sahabat laki-laki yang di setujui ayahku. Di sekolah Daniel sangat
memperhatikan ku mulai dari sampai sekolah hingga aku pulang di jemput Ayahku. Daniel juga
selalu mengobrol dengan ayahku saat mengantarku maupun saat menjemputku.
Daniel sangat menjagaku setiap waktu yang dia miliki
di sekolah. Kami pun mulai sering Bersama saat istirahat. Tak sedikit yang
mengatakan kami pacaran.
Kami juga dicalonkan sebagai ketua dan wakil ketua Osis. Itu yang membuat
kami semakin dekat. Saat sudah menjabat sebagi ketua dan aku wakil, aku merasakan
bahwasannya perasaan ini bukan sahabat lagi. Ya aku mulai menyukai Daniel, aku
tidak tau apakah Daniel juga menyukai ku. Ataukah dia hanya menggapku sahabat.
Aku mulai salting saat Daniel selalu menjagaku seperti pesan ayahku. Aku
memberanikan diri untuk menanyakan Daniel saat jam istirahat di taman sekolah.
"Daniel
kamu anggap aku apa?"
"Sahabat."
"Hanya
sebatas itu?"
"Kenapa
kamu menanyakan ini?"
"Ya
gapapa nanya aja, takutnya kamu suka dan jatuh cinta sama aku."
"Kalo
iya apa yang bisa kuperbuat, ini perasaan."
"Kamu
ngomong apa?"
"Apa
yang bisa kuperbuat, aku memang suka dan sayang?"
"Sejak
kapan kamu mulai suka dan sayang?"
"Sejak di rumah sakit saat kakimu terluka."
"Oh
itu yang buat kamu mau jadi sahabat aku?"
"Kalo
iya kenapa?"
"Kamu
kok baru ngomong."
"Aku
sangat menghargai apa yang diharapkan ayahmu kepadaku, aku harus menepatinya."
"Sampai
kapan kamu ingin menjadi sahabatku dengan perasaanmu ini?"
"Sampai
selamanya jika itu yang ayahmu inginkan."
"Apakah
kamu tidak ingin menjelaskan kepada Ayahku?"
"Tidak,
Ayahmu pasti tau sendiri
nantinya."
Mulai saat itu aku dan Daniel sama sama menjalani
persahabatan dengan perasaan yang bener benar saling suka dan menyayangi. Akupun tak tau
sampai kapan. Semoga ayahku memahami perasaanku dan perasaan Daniel.
Editor: Tita Princesva Damanik
Penulis: Siswa SMA N 1 PURBA 2022