Sabtu, 22 Oktober 2022

Wujudan Talenta


 

Karya: Desni Permata Yani Sipayung

 

Katanya tempat berpulang dan istirahat yang paling tepat adalah rumah. “Iya itu benar”.Disaat lelah dan fikiran yang terasa konyol, keinginanku pulang semakin erat,Aku masih memiliki dua orang tua mereka sangat sayang kepada ku. Dengan sifat bapak yang selalu mencariku disaat dia tidak melihatku dirumah. Sedangkan mama,dia adalah sosok tempat sandaran segala keluh kesahku. Aku sering mendengar pertanyaan yang dipertanyakan Bapak ke mama yang berbunyikan “Dimana si Desni?”, kalimat itu selalu kudengar saat aku kembali ke rumah apalagi kalau aku tidak ijin dari bapak

.

  Dikeluarga yang diberikan Tuhan ini kepadaku, memang hidupku hanya berkecukupan namun kalimat berkecukupan itu mampu membangun kedewasaanku lebih cepat. Dulu aku memiliki cita- cita menjadi kowad ya itu semasa SMP adanya cita itu aku bertanya kepada kedua orang tuaku aku mencoba meluapkan isi hati dan fikiranku kepada mereka

Pak, Mak gimana kalau aku jadi kowad?”.

“Apa yang membuatmu tergoda akan profesi itu nang? “ tanya bapak.

“Aku udah niat pak, suka aku nengok karakter busananya rambutnya ditata cantik meski bondol mereka tetap cantik, yang penting pengen seperti mereka.” jawabku.

  Namun aku heran melihat mimik bapak yang hanya sedikit tersenyum dan hanya diam dan disisi lainnya mama hanya memberi sedikit komentar.

“Nang, bisanya bermimpi setinggi-tingginya namun perlu juga kita lihat kesiapan tubuh kita, apalagi mau jadi kowad giginya harus rapi, tinggi,nggak penakut!”.

   Shittt spontan saja aku sadar itu benar, rasa penasaranku atas kalimat yang dilontarkan mamaku itu semakin hari semakin dapat aku membenarkannya atas ketentuan dari internet.

“Huhhhh Tuhan kenapa aku memiliki cita-cita seperti ini, cita-cita ini sangat berbanding jauh tinggi dengan apa yang aku miliki “ aku bersungut-sungut sendirian sambil menatap langit-langit kamarku.

Bertambahnya umur aku menduduki kelas SMA kekurangan yang aku miliki sangat nyata di fisikku pernyataan saat SMP itu sangat tepat di jenjang SMA aku tidak lagi menjadi seorang penakut, di jenjang SMA kedewasaan ternyata membuahi keberanian dan ketegasan ditambah adanya ekskul Pramuka di sekolah Sedikit cerita tentang masa SMP ketika disuruh ke kedai.

“Des, beli dulu rokok bapak!”

“Gak berani aku pak”(dengan wajahku yang kasihan).

 “kenapa gak berani kau? “bapakku bingung.



“Udah gelap Pak takut aku hantu! ” jawapku.

Secepat kilat kalimat takut itu berubah setelah bertambah dewasanya dan umurku yang semakin tua dan ketika aku mengikuti kegiatan pramuka pengalamanku bertambah akan hal sejarah sekolah.

“Minggu depan kita akan melaksanakan pelantikan untuk sangker serta pengurus sangker!”ujaran pengumuman dari guru pembina Pramuka.

“baik pak!”sahut kami.

Sesampai di rumah aku menyampaikannya kepada orang tua ku,aku meminta ijin pada mereka.

 “Pak,Mak, Minggu depan kami akan mengadakan pelantikan sangker sama pengurus sangkernya di sekolah, dilaksanakan malam hari”ujarku.

“Berarti tidurnya di sekolah juga?”tanya mamak.

“Iya Mak!”jawabku.

Seiring aku memperhatikan mimik wajah mereka,namun mimik wajah mereka kelihatan sangat khawatir dan bingung.

“Gausahlah ikut kau,gak aman nang!”sahut bapak.

“Ngapainlah ikut kau kegiatan itu, seramnya dulu kisah-kisah di sekolah itu Des, banyak gaibnya!”ujar mamak.

“Iya Mak?”tanyaku.

“Iya, dulu terusnya ada yang kesurupan disana!”seru mamak menceritakan nya.”Dulu anjingpun sering mengaung disana larut malam.”

Tepat sekali rumah Mamakku berdekatan dengan sekolah itu berdekatan dengan sekolah itu hanya ada perantara sedikit ladang dan beton sekolah, sehingga zaman dulu dia mengetahui apa saja yang telah ia rasakan semenjak berdirinya sekolah itu

”Kan sekarang enggak gitu lagi Mak,lagiankan tergantung orangnya nya itu,kalau lemah imannya masuklah roh-roh jahat itu, apalagi sembarangan ngomong gak ada etika,manusia aja marah nengok yang kek gitu!”.ujarku dengan lantang, sehingga membuat mamak menjawabnya dengan pasrah aja.

“Terserahlah,bapaklah tanya”.

“Ya Pak,ikut aku ya?”rayuku dengan wajah kasihan”jaga dirinya aku”rengek-ku.Terlihat wajah yang masih ragu namun keputusannya sesuai dengan yang ku inginkan, seiring Bapak mengiayakan dengan bahasa Batak.

“Hati-hati ma holi dah Unang lasak, unang sipanggaron, Unang hetel!”.

“Eak Pak,era homani hetel.” jawabku dengan tegas.



Aku sangat senang akan hal itu.Tibalah dimana hari kami melaksanakan kegiatan itu .pertama kami di uji mental aku hanya berdoa dalam hati agar tidak terjadi suatu hal yang tidak di inginkan.Memang kenyataannya aku sedikit terbayang akan ucapan mama di hari itu.Namun semua baik-baik saja.Ada kabar baik juga untukku atas resminya menjadi sangker aku terpilih juga sebagai pengurus inti di Pramuka.


 Tempat wisata adalah tempat yang aku suka, entah bagaimana penyatuan keindahan dan ketenangan aku temukan di tempat -tempat wisata yang berbaurkan dengan alam.ketika mengunjungi tempat wisata pastinya ada fotografer, sehingga tidak sia-sia jika aku mengunjungi tempat wisata aku memiliki kenangan di setiap wisata yang ku kunjungi.

Fotografernya ramah-ramah “Tentu sihh kan mereka kerjanya dibayar!”mereka langsung menyapa dan menawarkan kepada setiap pengunjung untuk mengambil beberapa foto.Langkah demi langkah aku berjalan ternyata si Abang fotografernya sudah memotret ku tanpa aku ketahui.

“Selamat datang kakak!”sapa mereka.

“Iya bang!”sahutku

“kak,ini nih foto kakak kalau minat boleh kok kak kita foto lebih banyak!” rayunya.

“Berapa bang?” tanyaku.

“Jadi gini kak,kita ambil fotonya terus nanti kakak pilih foto yang mana yang kakak suka hitungannya gitu kak!” jawabnya.

Siapa sih yang tidak tertarik tawaran seperti itu

“Oke bang!” sambungku

Sesudah di potret aku memilih fotoku sambil berucap dalam hati “ Wah keren, pemandangannya juga bagus” sesampai dirumah aku menunjukkan gambarku itu kepada mereka di rumah (Bapak,Mamak, Abang,Adek)

“Dari mana ini?” tanya mereka

“Dari sipiso-piso tadi!”

 “Ehhh dah bagus yah, dulu waktu Mamak kesitu belum ada tiang pelanginya.” sahut mamak



“Iya Mak ,udah bagusnya

Sembari aku berjalan menuju kamarku,kelesuan kembali menguasai imajinasiku aku terus menerus memikirkan masa depanku tidak lama lagi aku sudah selesai dalam pendidikan sekolah menengah atas ini.Kata demi kata terucap dalam hati “Huh,aku mau jadi apa?bisa gak aku sukses? Sanggup gak yah orang tua ku membiayai pendidikan selanjutnya?”  (sangat lelah memikirkan yang namanya masa depan).



       Setelah lulus SMA aku banyak menghadapi kebingungan hidup,namun aku melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa baru,aku memilih kejuruan Hukum.semester per semester kulalui sungguh memang melelahkan.Namun aku terus dikuatkan oleh Bapak&Mamak dalam masa pendidikan mereka selalu ada mendukungku.Hingga saat ini sampai seumur hidupku aku terus mengingat effort dari mereka sungguh itu memang benar menjadi motivasi terkuat hingga aku dapat menyelesaikan kuliahku,benar aku bisa menjadi sarjana hukum. “Tidak ada alasan untuk menyerah sebab selalu ada jalan peluang menuju kesuksesan,jika kamu lelah istirahatlah.Jangan takut akan hal yang belum tentu terjadi.Jalani alurnya,jangan takut pada gelap sebab disana kamu tidak akan melihat apa-apa.Tingkatkan kemampuanmu sebab setiap orang memiliki talenta masing-masing!”. Motivasi itu kuat sekali mendorong semangatku sehingga aku mampu kuat teguh dalam proses menggapai cita.”Kamu tidak memiliki kesalahan atas kekurangan fisik dan kesempurna di hidupmu sebab itulah yang diberi Tuhan,jangan terlarut dalam perdebatan hati masalah ketidaksempurnaan yang kamu dapat !”Benar sekali ucapan itu,Aku tidak perlu menghawatirkan hal-hal sesuatu yang masih menjadi harapan, namun aku harus mampu mengembangkan sesuatu yang ada pada diriku,berharap itu menyiksa dan melelahkan dibandingkan mengemban
gkan talenta yang sudah menjamin.Tetap semangat jalan hidup tidak buntu



 

PENULIS:SISWA SMA N 1 PURBA TIGARUNGGU 2022

KELAS:XII MIA II

EDITOR:MILA SIMARMATA

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...