Rabu, 19 Oktober 2022

New Universe : LABUHAN MASA DEPAN

 



Karya : Gryfia Munthe

 

Aku Nafasha Stichler. Saat ini, umurku 15 tahun. Aku duduk di bangku kelas XI SMA. Sejak SD, aku sudah ikut kelas akselarasi yang menetapkan sistem 4 bulan per semester.

Saat aku masih kecil, Pamanku yang adalah direktur NASA di Washington, menitipkanku pada Budeku. Aku yang tidak mau lebih lama merepotkan Bude, memilih untuk tinggal sendiri. Aku akan tinggal di rumah orangtuaku, yang sudah meninggal karna kecelakaan pesawat.

"Bagaimanapun, mati adalah bagian dari kehidupan. Ini memang takdirku," ucapku sambil menghela napas.

Setiap orang memiliki takdirnya sendiri. Satu-satunya keharusan adalah menerimanya ke mana pun ia membawa. Kalimat ini pernah kubaca di poster yang Papa tempel di kamarku. Mungkin berjuang mandiri, memang sudah menjadi skenario dalam hidupku.

Sejak kecil, Bude selalu mengajar dan memotivasiku untuk menjadi orang sukses. Bude seringkali menceritakan Papa yang sangat menginginkan aku menjadi astronot.

Sudah banyak medali dan trophi yang kumenangkan saat olimpide, terlebih dibidang fisika dan astronomi. Tahun lalu (2045), aku memenangkan KSN astronomi tingkat SMA  sampai ke tingkat nasional.

***

Suhu mentari pagi merangkak siang, hangatnya begitu menggigit. Aku dan Nadine memilih untuk berdiam di kelas sementara yang lain pergi ke kantin. Aku yang barusaja selesai kelas olahraga memandangi seragamku yang basah karna keringat itu.

"Fash...kantin yuk! Aku laper banget," ajak Nadine.

"Boleh. Aku juga pengen beli minum, gerah banget soalnya," jawabku sambil mengarahkan tubuhku ke permukaan AC di kelasku.

Aku dan Nadine buru-buru turun menapaki setiap anak tangga itu. Di kantin, aku mengambil beberapa minuman dan roti kemasan.

"Makan di  basecamp aja yuk!" Ajak Nadine.

Tempat duduk di bawah pohon rindang depan UKS, memang sudah menjadi tempat favoritku dan Nadine. Kamipun kerap menyebutnya basecamp.

Saat menikmati minuman segar, pandanganku terpaku pada Pak Rafa yang sedang memungut sampah yang berserak di lapangan.

"Din, liat deh! Kasian banget kan?" tanyaku pada Nadine sambil menunjuk ke arah Pak Rafa.

"Iya Fash. Siswa disini buang sampah sembarangan sih," celutuk Nadine dengan nada kesal.

"Eh, balik ke kelas yuk! Bentar lagi ada ulangan loh," sambungnya.

Setelah menyelesaikan ulangan, bel pulang berbunyi. Aku segera merapikan mejaku, kemudian mengeluarkan buku astronomi dan bekal makan siang dari ranselku.

"Din, kamu pulang duluan ya! Nafasha masih ada kelas tambahan nih, persiapan KSN nanti," ucapku pada Nadine.

***

"Rshhhhh," suara hujan yang terdengar di atas genteng.

Sudah seminggu ini, hujan di sore hari terus-terusan menjebakku di kelas ini. Aku yang kebingungan, memilih duduk sambil membaca buku astronomi yang difasilitasi sekolah. Sesekali aku buka YouTube untuk melihat pembahasan soal-soal KSN tahun sebelumnya.

Hujan berkepanjangan yang melanda desaku ini membuat banyak sekali kerusakan. Deras air hujan dan angin kencang turut merobohkan pohon-pohon di jalanan. Fenomena ini, seringkali menyebabkan kecelakaan yang bahkan sampai merenggut nyawa.

"Fash, sorry nunggu lama," ujar Kak Nathan yang datang sambil merapikan jambulnya yang kuyup.

"Santai Kak! Belum lama banget kok," jawabku sambil tersenyum tipis.

Bu Alice merekrut Kak Nathan menjadi tentor sekaligus motivator untukku yang sedang mematangkan persiapan KSN. Sudah seminggu ini, Kak Nathan membimbingku.

Kak Nathan barusaja lulus dari Universitas Cambridge di Inggris dengan jurusan astronomi. Sekarang Kak Nathan sudah bekerja dengan Perusahaan NASA di Washington.

1 bulan kedepan, Kak Nathan bertugas untuk penelitian di SMA ini. Kak Nathan yang juga alumni, tentu saja sudah tau dan mengenal orang-orang di sekolah ini. Pamanku juga sudah pernah mengenalkan Kak Nathan kepadaku.

"Besok kemana? Nonton yuk!" Ajak Kak Nathan sambil membereskan buku-buku di mejanya.

"Kosong sih Kak, kan libur," jawabku.

"Besok aku jemput ya! Ajakin temanmu sekalian!"

"Siap Prof."

***

Penayangan film bergenre sains-fiksi itu membuatku bingung. Alurnya kurang masuk akal, untukku yang hampir tidak faham tentang sains yang dibicarakan. Film ini memang sangat populer pada Agustus 2046 ini.

Saat melirik Kak Nathan, aku melongo memandangi ekspresi Kak Nathan yang sangat menikmati tayangan itu. Saat menoleh ke kiri, aku cekikikan melihat Nadine yang terlelap tidur. Akupun memilih main gadget menunggu Kak Nathan selesai nonton.

 Setelah keluar dari gedung, aku memandangi sampah snack kemasan dan popcorn yang berserakan.

"Bu, kok sampahnya dibuang disini?" Tanya Kak Nathan pada Ibu yang sedang memakan snack itu.

"Nanti juga ada tukang sampah kok yang ngambil," jawab si Ibu sambil berjalan meninggalkan kami.

"Padahal tukang sampah yang sebenarnya adalah mereka yang buang sampah sembarangan. Tapi zaman sekarang, malah petugas kebersihan yang disebut-sebut tukang sampah," jelas Kak Nathan.

Setelah petugas mengumpulkan sampah, sampah itu kemudian ditimbun di suatu pembuangan yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Setelah membukit, dilanjutkan dengan pembakaran yang membuat sistem mengeluarkan asap yang kemudian menyatu dengan udara.

"Liat aja! Gaada yang peduli sama aktivitas ini," ujar Kak Nathan.

Kami memilih meninggalkan tempat itu, dan kembali ke rumah. Kak Nathan kemudian mengantarkan aku dan Nadine pulang. Kak Nathan lebih dulu mengantarkan Nadine, kemudian mengantarkanku.

Di pertengahan jalan, Kak Nathan pamit kepadaku. Kak Nathan menjelaskan tentang NASA yang memintanya kembali karna ada urusan mendadak.

"Ditunggu ya! Nona Stichler yang jenius ini jadi Profesor," bisik Kak Nathan.

"Amin! Makasih banyak ya Kak. Senang banget bisa kenal Kakak," jawabku sambil menepuk bahu kiri pria itu.

***

2 hari setelah itu, aku mendengar berita di Internet tentang hujan asam yang jatuh ke Bumi. Kandungan pada hujan asam yang sangat berbahaya, membawa banyak musibah.

Pusat memutuskan untuk menutup sekolah. Seluruh siswa dihimbau untuk belajar dari rumah. Seluruh kegiatan yang mengharuskan siswa ke sekolah juga akan dihentikan sementara.

Aku kemudian menonton penjelasan Dokter di YouTube tentang hujan asam. Asap pembakaran sampah, asap kendaraan dan cerobong pabrik yang mengandung gas SO₂ dan NO₂ akan membentuk gas SO₃. Lalu gas SO₃ akan bereaksi dengan air membentuk asam sulfat H₂SO₄. Asam sulfat akan larut dalam air hujan dan membentuk hujan asam.

Kandungan hujan asam membuat lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi menghilang dan tanaman tidak tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan serangga.

"Partikel asam yang mengendap pada tumbuhan, jika masuk ke dalam paru-paru, dapat menyebabkan berbagai macam gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, emfisema, bahkan pneumonia yang bisa mencabut nyawa," jelas Dokter di dalam video itu.

***

Sudah 3 bulan sejak Kak Nathan kembali ke Washington. Sudah 3 bulan juga hujan ini tak henti-henti mengiringi hari-hariku yang sudah lost contact dengan Kak Nathan.

Hari-hari kulalui untuk berjuang dan berusaha menyempurnakan ilmu, agar bisa masuk ke Universitas impianku. Berharap aku masih bisa memenuhi keinginan Papa, yang sudah beda alam denganku.

Semakin hari, Bumiku semakin buruk. Seluruh tanaman perlahan-lahan mulai gugur. Bahkan hewan-hewan yang juga mulai punah satu-persatu.

Kandungan hujan yang mengendap pada daun, membuat tumbuhan layu dan berujung mati. Jagung menjadi satu-satunya bahan olahan pangan, yang masih bisa bertahan hidup.

"Hujan lagi, hujan lagi," gumamku yang sedang memandangi rumput-rumput di depan jendela kamarku.

Aku yang melamun di depan jendela kamarku itu mulai menghalu. Aku membayangkan diriku sudah menjadi astronot, yang bersiap terbang ke angkasa luar.

Tiba-tiba, aku melihat sosok Kak Nathan yang berdiri di hadapanku. Aku yang terkejut, mengusap bola mataku. Ternyata itu cuman halusinasi yang diciptakan oleh fikiranku karna rindu.

Hujan semakin deras, tidak terasa basahnya sampai ke pipiku. Air mata yang membasahi pipiku menunjukkan seberapa besar aku merindukan pria itu.

Hidupku menjadi berubah semenjak musibah ini datang. Satu-persatu impianku mulai hilang. Aku hanya bisa menangis dan mencoret-coret buku diaryku. Ditambah, saat Bu Alice mengabariku kalau KSN tahun ini ditiadakan.

Aku berusaha mengusap air mataku. Aku harus iklas pada garisan takdir yang tidak sesuai dengan harapanku.

***

"Tok, tok, tok," suara ketukan pintu itu.

"Sebentar," jawabku sambil berlari dan membuka pintu.

"Nona Stichler, Profesor memintamu datang ke Kantor. Sekarang siapkan seluruh barang-barang yang wajib kamu bawa. 1 jam lagi, Pesawat akan membawa kita meninggalkan tempat ini. Aku tidak menerima alasan dan penolakan," rocos Kak Nathan yang yang tiba-tiba sudah di depan pintu.

"Aku rindu banget sama Kakak," ucapku yang sontak memeluk pria itu.

Aku dan Kak Nathan kemudian mengobrol. Dilanjut dengan menyiapkan barang-barang, dan kamipun segera landing ke Washington dengan helikopter pribadi Pamanku.

***

Saat menginjakkan kaki di Washington, aku dan Kak Nathan segera masuk ke Kantor itu. Lift kemudian mengantarkan kami ke lantai 15 yang menjadi ruang diskusi.

Aku melihat Fisikawan Olisey, Kimiawan John dan Dr. Philip Frost yang sedang mempresentasikan tentang fenomena hujan asam yang melanda. Profesor Chris Kaft, sang direktur NASA dan Profesor terkenal lainnya turut mengikuti diskusi ini.

"Jagung pun, satu-satunya bahan pangan yang masih bisa bertahan hidup, beberapa tahun lagi akan mati," tegas Kimiawan.

"Kalau terus-terusan begini perlahan-lahan manusia akan punah," tegas Dr. Philip yang meyakinkan kami kalau Bumi benar-benar tidak lagi layak di rumahi makhluk hidup.

"Hujan asam akhir-akhir ini membuat banyak kerusakan pada makhluk hidup di Bumi. Kita akan menjelajahi planet yang bisa merumahi manusia," jelas Profesor Kaft.

"10 tahun lalu, NASA pernah mengirimkan 10 astronot untuk mengunjungi 10 planet yang dianggap layak huni. Tapi, hanya 2 planet yang mengirimkan sinyal balik ke Bumi yaitu Planet Kepler-62f dan Chonnel," sambungnya.

Aku, Kak Nathan, Fisikawan Olisey dan Thunder si robot pintar diminta untuk landing ke luar angkasa menjelajahi kedua planet itu. Sementara, Profesor Kaft, Dr. Philip dan Kimiawan John akan melakukan eksperimen untuk mempertahankan kehidupan, menunggu kami kembali. Thunder yang adalah mobile robot, tentu saja akan banyak membantu kami di sana.

"Nafasha, Paman tau kamu jenius. Paman mau, kamu ikut misi ini bersama Profesor Nathan dan yang lainnya menumpangi Dream Chaser," minta Profesor.

Tanpa fikir panjang, akupun meng-iyakan permintaan Paman. Mengeksplorasi angkasa luar yang penuh misteri, adalah mimpi terbesarku. Kak Nathan yang juga mahir di bidang mengemudi, akan menjadi awak kapal.

***

Dream chaser kemudian terbang ke luar angkasa. Kak Nathan sebagai awak kapal, memasangkan pesawat dengan station yang dibuat dengan manipulasi gravitasi. Setalah masuk, Kak Nathan memutarkan pesawat agar gravitasinya stabil seperti di Bumi.

Setelah terpasang, aku dan yang lain masuk ke station itu dan mempersiapkan diri, melakukan hypersleep-system (tidur panjang) untuk memperlambat penuaan tubuh dan menghemat bahan pangan. Ini dilakukan dengan merendamkan diri ke dalam box berisi air es dan menutupnya dari atas.

 ***

2 tahun (waktu Bumi) kemudian, kamipun bangun dari tidur panjang. Kami sudah berada di Saturnus. Setelah melintasi Saturnus, terlihat warm hole sudah dekat.

Aku menyempatkan waktu untuk memandangi angkasa luas itu. Ternyata Bumi yang luas, hanyalah kota kecil dengan banyak lingkungan, jika disandingkan dengan semesta luar yang sangat besar.

"Februari 2049, mimpiku jadi nyata," gumamku sambil mengusap air mata.

 Warm hole (lubang cacing) ini bulat seperti bola. Terrbentuk dari struktur ruang-waktu, yang bisa menghubungkan 2 daerah berjauhan di alam semesta, seperti halnya teleportasi. Chaser kemudian masuk ke warm hole.

"Pasti makhluk luar dimensi menaruh warm hole ini untuk menyelamatkan umat manusia," gumamku dalam hati.

Saat memasuki warm hole, Chaser melaju dengan laju cahaya. Secepat  299.792.458 Km/s. Kami pun berhasil menembus jutaan tahun cahaya yang tak terbayangkan jauhnya dan mendapati planet Kepler-62f.

Saat mendekati Kepler-62f, terlihat dari kejauhan, sebuah lubang hitam yang 3 kali lebih besar dari matahari. Paman sudah menjelaskan, tentang gravitasi yang sangat kuat pada benda angkasa ini. Karna tarikan gravitasinya, waktu di Kepler-62f mengalami distorsi. 1,0 jam di planet ini, setara dengan 61,320 jam atau samadengan ±7 tahun di Bumi.

Hal ini terbukti dalam fisika modern baik secara teoritis ataupun pengamatan yang disebut sebagai dilatasi waktu. Konsep ini didasarkan pada teori relativitas khusus Einstein yang menjelaskan bahwa waktu bersifat relatif. Kecepatan waktu tergantung dimana kita berada dan satu-satunya kecepatan yang konstan, hanya kecepatan cahaya.

"Butuh waktu 47,5 menit untuk sampai ke sana. Kita harus pakai waktu seefektif mungkin. Jangan sampai saat kembali ke Bumi, manusia sudah punah," tegas Kak Nathan.

***

Setibanya di Kepler-62f, terlihat permukaan planet ini dipenuhi air dengan temperatur rendah. Aku, Profesor Olisey dan Thunder turun dari pesawat untuk mencari tahu tentang planet air ini. Terlihat puing-puing pesawat astronot yang pernah berkunjung, terombang-ambing di atas air.

"Kembali ke chaser! Ombak besar itu akan menghantam kita," teriak Kak Nathan melihat ombak di belakang kami, yang akan menghantam.

Profesor dan Thunder kemudian bergegas masuk ke dalam pesawat. Kakiku yang mengalami hypothermia karna suhu dingin membuatku tidak bisa bangkit. Profesor kemudian berlari ke arahku dan menaikkanku ke Chaser. Saat Profesor Olisey ingin naik, ombak menghantam kami. Sontak Kak Nathan menutup pintu dan membiarkan Profesor tersapu ombak.

Sontak aku menangis melihat Fisikawan Olisey yang di hantam ombak. Aku merasa bersalah atas kematiannya. Aku memukul-mukul dinding pesawat itu sambil berteriak histeris.

"Arghhhh! Aku pembunuh," teriakku.

"Ini takdir, bukan salahmu," tegas Kak Nathan yang berusaha menenangkanku.

Karna terkena air, mesin chaser mengalami korslet dan harus dikeringkan selama 85 menit. Setelah mesin kering, Kak Nathan kemudian menyalakan Chaser dan kembali ke station.

***

Di Station, aku melihat jagung yang kuletakkan di atas meja sudah menghilang. Sudah 21 tahun aku meninggalkan station ini. Bahan bakar station pun sudah terancam habis, karna sudah lama melabuh di angkasa.

Thunder lalu menjelaskan hologram  yang dibuat dengan teknologi fotografi yang merekam cahaya yang tersebar dari suatu objek. Rekaman cahaya ini kemudian bisa ditampilkan dalam bentuk 3 dimensi.

Kami menayangkan satu-persatu video yang dikirimkan dari Bumi dengan hologram. Ada banyak sekali orang-orang yang mengirimkan video kepada kami.

Terlihat jelas, wujud 3D Kimiawan John yang sedang menjelaskan keadaan Bumi yang semakin buruk dan populasi makhluk hidup yang sudah berkurang hampir 50%.

"Halo Nafasha! Ini Nadine. Sekarang aku udah dewasa loh. Aku udah bergabung juga di NASA. Aku tahu, sekarang umur kita udah beda jauh. Pamanmu mengajarkanku tentang relativitas umum, ternyata waktu itu relatif ya Fash. Jujur aku kangen banget sama kamu," tangis sahabatku itu.

"Semenjak kamu dijemput Kak Nathan dari Bumi 23 tahun lalu, aku terus-terusan nangis di rumah. Aku kecewa banget sama kamu yang gaada ngabarin sama sekali. Ternyata saat seseorang jatuh cinta, mereka akan lupa dengan kehidupan normalnya. Sebelum Kak Nathan datang, mau tidur aja kamu pamit kepadaku. Tapi setelah mengenalnya, kamu gapernah kontak ke aku lagi," sambungnya sambil menutup video itu.

"Astaga, aku lupa pamitan. Aku memang udah lupa segalanya, Nadine yang kuanggap sahabatku aja, aku lupa," gumamku dalam hati sambil meratapi kesalahanku.

***

Kembali ke misi. Kamipun meyusun rencana untuk mendarat di Planet kedua, Chonnel.  Tapi sebelum itu, Thunder menjelaskan tentang black hole (lubang hitam) yang sangat dekat dengan eksoplanet itu.

Semakin dekat dengan black hole, pelebaran waktu meningkat. 1 jam di Chonnel adalah 10 tahun di Bumi. Butuh waktu 6,7 jam (67 tahun) untuk sampai ke Chonnel.

"Gravitasi (gaya tarik) di black hole sangat tidak waras. Bahkan cahaya aja bisa diserap," jelas Thunder.

"Black hole akan menarik kita, jika kita terbang ke Chonnel. Besar gravitasi akan berbanding lurus dengan ukuran benda. Semakin besar wujud benda, semakin besar juga gaya tariknya. Kita mungkin bisa menghindari tarikan black hole, jika chaser melaju mengikuti kecepatan cahaya," sambungnya.

Massa  akan mempengaruhi laju pesawat. Pesawat yang membawa banyak penumpang tidak akan bisa melaju dengan cepat. Kami berencana memasukkan Thunder ke dalam black hole, untuk mengurangi beban bawaan sekalian mengumpulkan data tentang black hole.

"Belum ada manusia yang pernah masuk ke black hole. Mungkin, di dalamnya ada misteri yang bisa menjadi jawaban misi kita," lanjut Kak Nathan.

"Keingintahuan adalah inti dari keberadaan kita," tegas aku pada mereka.

***

Saat Chaser mendekati black hole,  Thunder dengan sengaja menjatuhkan diri ke dalamnya. Aku dan Kak Nathan tetap di dalam pesawat yang meluncur ke Chonnel.

Kak Nathan berusaha mengemudi kapal dengan sangat cepat hampir tak terlihat. Massa di dalam pesawat ini mungkin belum stabil, pesawat masih saja oleng karna tarikan black hole.

Akupun sengaja keluar dari pesawat kemudian ditarik masuk ke dalam black hole. Aku terpental ke permukaan black hole dan masuk ke dalam singularitas, dimana ruang dan waktu menjadi tak terbatas (5 Dimensi).

Beruntung tidak ada kerusakan pada seragamku, aku masih bisa melayang-layang di bangun ruang 5D yang terbentuk dari ruang yang bertemu ruang dan diikuti dimensi waktu.

 Jangankan melihat bangun secara utuh, membayangkan saja pasti sulit. Aku saja tidak menyadari bahwa ruang dengan dimensi berderajat lebih dari 3 itu ada.

***

Ending : Masa Depan

Ruang 5D ini, membuatku bisa menyaksikan setiap detik kehidupanku di masa lalu bersamaan dengan saat ini. Aku bisa melihat semua yang terjadi di Bumi dengan transparan, ketika aku mau melihatnya.

Aku dengan puas melihat setiap detik kehidupan Mama Papa, yang akhirnya mengobati rasa rinduku. Aku juga melihat Nadine yang menangis setiap harinya karna merindukanku. Aku bisa melihat saat Kak Nathan mengajariku KSN dulu.

Aku bisa melihat apapun yang sudah terjadi di hidupku dan merasakannya dalam batinku. Tapi, aku cuman bisa melihat masa laluku, tidak dengan mengubahnya.

 Pandanganku kemudian terpaku pada Nadine yang bersikeras menyelesaikan persamaan gravitasi, untuk mengangkut manusia ke rumah barunya.

***

Sistem transmitter yang ada di helm ku, berhasil menyambungkanku dengan Thunder yang ada di dimensi lain dan Kak Nathan yang sudah melabuh di Chonnel.

"Kalian dimana? Aku sendirian disini," tangis Kak Nathan.

"Aku di sampingmu Kak. Kak Nathan mungkin gabisa liat Nafasha disini. Tapi Nafasha bisa liat Kak Nathan. Gatau ruangan ini ajaib atau ghaib. Yang pasti aku bisa menyaksikan masa lalu dan saat ini secara bersamaan," tangis aku yang tidak bisa menyentuh permukaan sekitarku.

"Aku sudah mengumpulkan data untuk mentransfer manusia ke Chonnel. Kita bisa buat warm hole dengan memanipulasi gravitasi. Tapi, kita butuh bantuan manusia di Bumi," sambung Thunder.

***

Setelah mengumpulkan data dari Thunder, akupun berhasil masuk ke dalam mimpi Nadine, sahabatku. Aku mentransfer seluruh data itu ke Nadine, dan meminta bantuan Nadine untuk menyelesaikan gravitasi itu dengan rekannya di NASA.

Ketika Nadine berhasil membuat perhitungan, kemudian pekerja NASA, membentuk pola bola hitam yang 2 kali besar Bumi. Warm hole yang daya tariknya sangat kuat, akan terhubung dengan planet Chonnel.

"Proses ini tidak berlangsung secepat yang ku perkirakan," gumamku dalam hati.

Aku yang masih terhubung dengan black hole, tetap terhubung dengan distorsi waktu. Aku menunggu Nadine yang menghabiskan 30 tahun waktu Bumi,  untuk menyelesaikan misi ini.

Setelah manusia Bumi berhasil menyelesaikan konstruksi warm hole, ruang hampa yang kutempati itu, tiba-tiba tertutup dan melontarkan aku dan Thunder ke Bumi. Sekarang, aku bisa melihat dan menyentuh semua warga, yang sudah bersiap ke Chonnel. Thunder pun dikembalikan ke NASA.

"Aku bisa kembali lagi ke Bumi. Ruang yang sudah kutinggalkan ratusan tahun lamanya," tangisku sambil meloncat di atas permukaan tanah.

***

Sebelum meninggalkan Bumi, aku mengunjungi makam Papa Mama, Paman dan Budeku. Rasanya tidak sanggup, saat mengunjungi 1 makam yang berhasil membuat airmataku pecah.

"Kali ini, Nafasha pamit ya. Makasi banyak udah bantuin Nafasha. Salam hangat buat Nadine di alam lain. Love you!" Tangisku sambil memeluk batu nisan bertuliskan Nadine Swift itu.

"Selamat tinggal Bumi! Makasi banyak udah numpangin aku dan seluruh makhluk bernyawa! Terimakasih tetap bertahan dan berputar mengitari kami ke segenap penjuru tanpa lelah juga tidak meminta imbalan."

Warm hole kemudian didekatkan ke Bumi, bola ini menarik apapun yang ada di Bumi, berpindah ke Chonnel. Satu-satunya yang tidak ditarik, adalah makam orang di Bumi.

"Yay!"

"Makasi banyak NASA, Nafasha, Nadine, Nathan!"

"Luar biasa."

Begitulah sorakan warga, saat berhasil memasuki Chonnel.

***

Tahun 2167, Kehidupan di mulai di Chonnel ini. Umurku yang sudah 137 tahun akan memulai hidup baru di planet ini. Padahal jika dihitung dengan waktu sekarang, aku masih berumur belasan tahun.

Aku tidak mengenali satupun dari mereka yang di sini. Mungkin kakek dan nenek yang kulihat berkeliaran, adalah cucu dari teman seumuranku dulu.

Aku berlari menemui Kak Nathan yang duduk di atas batuan itu, dan memeluknya. Kak Nathan kemudian menyatakan perasaanya padaku dan kamipun hidup bersama.

"Cinta adalah satu-satunya hal, yang mampu melampaui ruang dan waktu," bisik Kak Nathan.

•••TAMAT•••

 

Menurutku, sains bahkan lebih gila daripada fiksi. Atau mungkin aku yang gila, menceritakan hal yang sulit dimengerti. Tapi bagi orang gila, hanya merekalah yang waras, hehe.

Akhir kata, Nafasha mau bilang, jangan takut mencoba ya! Kalau Nafasha ga nyoba masuk ke black hole, mungkin cerita "LABUHAN MASA DEPAN" ini gaada kali ya. Keep spirit!

 

Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Editor : Melisa Sinaga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...