Karya : Gryfia Munthe
Aku Nafasha Stichler. Saat ini,
umurku 15 tahun. Aku duduk di bangku kelas XI SMA. Sejak SD, aku sudah ikut
kelas akselarasi yang menetapkan sistem 4 bulan per semester.
Saat aku masih kecil, Pamanku yang adalah direktur NASA di Washington, menitipkanku pada Budeku. Aku yang tidak mau lebih lama merepotkan Bude, memilih untuk tinggal sendiri. Aku akan tinggal di rumah orangtuaku, yang sudah meninggal karna kecelakaan pesawat.
"Bagaimanapun,
mati adalah bagian dari kehidupan. Ini memang takdirku," ucapku sambil
menghela napas.
Setiap orang memiliki takdirnya
sendiri. Satu-satunya keharusan adalah menerimanya ke mana pun ia membawa.
Kalimat ini pernah kubaca di poster yang Papa tempel di kamarku. Mungkin
berjuang mandiri, memang sudah menjadi skenario dalam hidupku.
Sejak kecil, Bude selalu mengajar
dan memotivasiku untuk menjadi orang sukses. Bude seringkali menceritakan Papa
yang sangat menginginkan aku menjadi astronot.
Sudah banyak medali dan trophi yang
kumenangkan saat olimpide, terlebih dibidang fisika dan astronomi. Tahun lalu
(2045), aku memenangkan KSN astronomi tingkat SMA sampai ke tingkat nasional.
***
Suhu mentari pagi merangkak siang,
hangatnya begitu menggigit. Aku dan Nadine memilih untuk berdiam di kelas
sementara yang lain pergi ke kantin. Aku yang barusaja selesai kelas olahraga
memandangi seragamku yang basah karna keringat itu.
"Fash...kantin
yuk! Aku laper banget," ajak Nadine.
"Boleh.
Aku juga pengen beli minum, gerah banget soalnya," jawabku sambil
mengarahkan tubuhku ke permukaan AC di kelasku.
Aku dan Nadine buru-buru turun
menapaki setiap anak tangga itu. Di kantin, aku mengambil beberapa minuman dan
roti kemasan.
"Makan
di basecamp aja yuk!" Ajak Nadine.
Tempat duduk di bawah pohon rindang
depan UKS, memang sudah menjadi tempat favoritku dan Nadine. Kamipun kerap
menyebutnya basecamp.
Saat menikmati minuman segar,
pandanganku terpaku pada Pak Rafa yang sedang memungut sampah yang berserak di
lapangan.
"Din,
liat deh! Kasian banget kan?" tanyaku pada Nadine sambil menunjuk ke arah
Pak Rafa.
"Iya
Fash. Siswa disini buang sampah sembarangan sih," celutuk Nadine dengan
nada kesal.
"Eh,
balik ke kelas yuk! Bentar lagi ada ulangan loh," sambungnya.
Setelah menyelesaikan ulangan, bel
pulang berbunyi. Aku segera merapikan mejaku, kemudian mengeluarkan buku
astronomi dan bekal makan siang dari ranselku.
"Din,
kamu pulang duluan ya! Nafasha masih ada kelas tambahan nih, persiapan KSN
nanti," ucapku pada Nadine.
***
"Rshhhhh,"
suara hujan yang terdengar di atas genteng.
Sudah seminggu ini, hujan di sore
hari terus-terusan menjebakku di kelas ini. Aku yang kebingungan, memilih duduk
sambil membaca buku astronomi yang difasilitasi sekolah. Sesekali aku buka
YouTube untuk melihat pembahasan soal-soal KSN tahun sebelumnya.
Hujan berkepanjangan yang melanda
desaku ini membuat banyak sekali kerusakan. Deras air hujan dan angin kencang
turut merobohkan pohon-pohon di jalanan. Fenomena ini, seringkali menyebabkan
kecelakaan yang bahkan sampai merenggut nyawa.
"Fash,
sorry nunggu lama," ujar Kak Nathan yang datang sambil merapikan jambulnya
yang kuyup.
"Santai
Kak! Belum lama banget kok," jawabku sambil tersenyum tipis.
Bu Alice merekrut Kak Nathan
menjadi tentor sekaligus motivator untukku yang sedang mematangkan persiapan
KSN. Sudah seminggu ini, Kak Nathan membimbingku.
Kak Nathan barusaja lulus dari
Universitas Cambridge di Inggris dengan jurusan astronomi. Sekarang Kak Nathan
sudah bekerja dengan Perusahaan NASA di Washington.
1 bulan kedepan, Kak Nathan
bertugas untuk penelitian di SMA ini. Kak Nathan yang juga alumni, tentu saja
sudah tau dan mengenal orang-orang di sekolah ini. Pamanku juga sudah pernah
mengenalkan Kak Nathan kepadaku.
"Besok
kemana? Nonton yuk!" Ajak Kak Nathan sambil membereskan buku-buku di
mejanya.
"Kosong
sih Kak, kan libur," jawabku.
"Besok
aku jemput ya! Ajakin temanmu sekalian!"
"Siap
Prof."
***
Penayangan film bergenre
sains-fiksi itu membuatku bingung. Alurnya kurang masuk akal, untukku yang
hampir tidak faham tentang sains yang dibicarakan. Film ini memang sangat
populer pada Agustus 2046 ini.
Saat melirik Kak Nathan, aku
melongo memandangi ekspresi Kak Nathan yang sangat menikmati tayangan itu. Saat
menoleh ke kiri, aku cekikikan melihat Nadine yang terlelap tidur. Akupun
memilih main gadget menunggu Kak Nathan selesai nonton.
Setelah keluar dari gedung, aku memandangi
sampah snack kemasan dan popcorn yang berserakan.
"Bu,
kok sampahnya dibuang disini?" Tanya Kak Nathan pada Ibu yang sedang
memakan snack itu.
"Nanti
juga ada tukang sampah kok yang ngambil," jawab si Ibu sambil berjalan
meninggalkan kami.
"Padahal
tukang sampah yang sebenarnya adalah mereka yang buang sampah sembarangan. Tapi
zaman sekarang, malah petugas kebersihan yang disebut-sebut tukang
sampah," jelas Kak Nathan.
Setelah petugas mengumpulkan
sampah, sampah itu kemudian ditimbun di suatu pembuangan yang tidak jauh dari
tempat kami berdiri. Setelah membukit, dilanjutkan dengan pembakaran yang
membuat sistem mengeluarkan asap yang kemudian menyatu dengan udara.
"Liat
aja! Gaada yang peduli sama aktivitas ini," ujar Kak Nathan.
Kami memilih meninggalkan tempat
itu, dan kembali ke rumah. Kak Nathan kemudian mengantarkan aku dan Nadine
pulang. Kak Nathan lebih dulu mengantarkan Nadine, kemudian mengantarkanku.
Di pertengahan jalan, Kak Nathan
pamit kepadaku. Kak Nathan menjelaskan tentang NASA yang memintanya kembali
karna ada urusan mendadak.
"Ditunggu
ya! Nona Stichler yang jenius ini jadi Profesor," bisik Kak Nathan.
"Amin!
Makasih banyak ya Kak. Senang banget bisa kenal Kakak," jawabku sambil
menepuk bahu kiri pria itu.
***
2 hari setelah itu, aku mendengar
berita di Internet tentang hujan asam yang jatuh ke Bumi. Kandungan pada hujan
asam yang sangat berbahaya, membawa banyak musibah.
Pusat memutuskan untuk menutup
sekolah. Seluruh siswa dihimbau untuk belajar dari rumah. Seluruh kegiatan yang
mengharuskan siswa ke sekolah juga akan dihentikan sementara.
Aku kemudian menonton penjelasan
Dokter di YouTube tentang hujan asam. Asap pembakaran sampah, asap kendaraan
dan cerobong pabrik yang mengandung gas SO₂ dan NO₂ akan membentuk gas SO₃.
Lalu gas SO₃ akan bereaksi dengan air membentuk asam sulfat H₂SO₄. Asam sulfat
akan larut dalam air hujan dan membentuk hujan asam.
Kandungan hujan asam membuat
lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi menghilang dan tanaman tidak
tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan serangga.
"Partikel
asam yang mengendap pada tumbuhan, jika masuk ke dalam paru-paru, dapat
menyebabkan berbagai macam gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis,
emfisema, bahkan pneumonia yang bisa mencabut nyawa," jelas Dokter di
dalam video itu.
***
Sudah 3 bulan sejak Kak Nathan
kembali ke Washington. Sudah 3 bulan juga hujan ini tak henti-henti mengiringi
hari-hariku yang sudah lost contact dengan Kak Nathan.
Hari-hari kulalui untuk berjuang
dan berusaha menyempurnakan ilmu, agar bisa masuk ke Universitas impianku.
Berharap aku masih bisa memenuhi keinginan Papa, yang sudah beda alam denganku.
Semakin hari, Bumiku semakin buruk.
Seluruh tanaman perlahan-lahan mulai gugur. Bahkan hewan-hewan yang juga mulai
punah satu-persatu.
Kandungan hujan yang mengendap pada
daun, membuat tumbuhan layu dan berujung mati. Jagung menjadi satu-satunya
bahan olahan pangan, yang masih bisa bertahan hidup.
"Hujan
lagi, hujan lagi," gumamku yang sedang memandangi rumput-rumput di depan
jendela kamarku.
Aku yang melamun di depan jendela
kamarku itu mulai menghalu. Aku membayangkan diriku sudah menjadi astronot,
yang bersiap terbang ke angkasa luar.
Tiba-tiba, aku melihat sosok Kak
Nathan yang berdiri di hadapanku. Aku yang terkejut, mengusap bola mataku.
Ternyata itu cuman halusinasi yang diciptakan oleh fikiranku karna rindu.
Hujan semakin deras, tidak terasa
basahnya sampai ke pipiku. Air mata yang membasahi pipiku menunjukkan seberapa
besar aku merindukan pria itu.
Hidupku menjadi berubah semenjak
musibah ini datang. Satu-persatu impianku mulai hilang. Aku hanya bisa menangis
dan mencoret-coret buku diaryku. Ditambah, saat Bu Alice mengabariku kalau KSN
tahun ini ditiadakan.
Aku berusaha mengusap air mataku.
Aku harus iklas pada garisan takdir yang tidak sesuai dengan harapanku.
***
"Tok,
tok, tok," suara ketukan pintu itu.
"Sebentar,"
jawabku sambil berlari dan membuka pintu.
"Nona
Stichler, Profesor memintamu datang ke Kantor. Sekarang siapkan seluruh
barang-barang yang wajib kamu bawa. 1 jam lagi, Pesawat akan membawa kita
meninggalkan tempat ini. Aku tidak menerima alasan dan penolakan," rocos
Kak Nathan yang yang tiba-tiba sudah di depan pintu.
"Aku
rindu banget sama Kakak," ucapku yang sontak memeluk pria itu.
Aku dan Kak Nathan kemudian
mengobrol. Dilanjut dengan menyiapkan barang-barang, dan kamipun segera landing
ke Washington dengan helikopter pribadi Pamanku.
***
Saat menginjakkan kaki di Washington,
aku dan Kak Nathan segera masuk ke Kantor itu. Lift kemudian mengantarkan kami
ke lantai 15 yang menjadi ruang diskusi.
Aku melihat Fisikawan Olisey,
Kimiawan John dan Dr. Philip Frost yang sedang mempresentasikan tentang
fenomena hujan asam yang melanda. Profesor Chris Kaft, sang direktur NASA dan
Profesor terkenal lainnya turut mengikuti diskusi ini.
"Jagung
pun, satu-satunya bahan pangan yang masih bisa bertahan hidup, beberapa tahun
lagi akan mati," tegas Kimiawan.
"Kalau
terus-terusan begini perlahan-lahan manusia akan punah," tegas Dr. Philip
yang meyakinkan kami kalau Bumi benar-benar tidak lagi layak di rumahi makhluk
hidup.
"Hujan
asam akhir-akhir ini membuat banyak kerusakan pada makhluk hidup di Bumi. Kita
akan menjelajahi planet yang bisa merumahi manusia," jelas Profesor Kaft.
"10
tahun lalu, NASA pernah mengirimkan 10 astronot untuk mengunjungi 10 planet
yang dianggap layak huni. Tapi, hanya 2 planet yang mengirimkan sinyal balik ke
Bumi yaitu Planet Kepler-62f dan Chonnel," sambungnya.
Aku, Kak Nathan, Fisikawan Olisey
dan Thunder si robot pintar diminta untuk landing ke luar angkasa menjelajahi
kedua planet itu. Sementara, Profesor Kaft, Dr. Philip dan Kimiawan John akan
melakukan eksperimen untuk mempertahankan kehidupan, menunggu kami kembali.
Thunder yang adalah mobile robot, tentu saja akan banyak membantu kami di sana.
"Nafasha,
Paman tau kamu jenius. Paman mau, kamu ikut misi ini bersama Profesor Nathan
dan yang lainnya menumpangi Dream Chaser," minta Profesor.
Tanpa fikir panjang, akupun
meng-iyakan permintaan Paman. Mengeksplorasi angkasa luar yang penuh misteri,
adalah mimpi terbesarku. Kak Nathan yang juga mahir di bidang mengemudi, akan
menjadi awak kapal.
***
Dream chaser kemudian terbang ke
luar angkasa. Kak Nathan sebagai awak kapal, memasangkan pesawat dengan station
yang dibuat dengan manipulasi gravitasi. Setalah masuk, Kak Nathan memutarkan
pesawat agar gravitasinya stabil seperti di Bumi.
Setelah terpasang, aku dan yang
lain masuk ke station itu dan mempersiapkan diri, melakukan hypersleep-system
(tidur panjang) untuk memperlambat penuaan tubuh dan menghemat bahan pangan.
Ini dilakukan dengan merendamkan diri ke dalam box berisi air es dan menutupnya
dari atas.
***
2 tahun (waktu Bumi) kemudian,
kamipun bangun dari tidur panjang. Kami sudah berada di Saturnus. Setelah
melintasi Saturnus, terlihat warm hole sudah dekat.
Aku menyempatkan waktu untuk
memandangi angkasa luas itu. Ternyata Bumi yang luas, hanyalah kota kecil
dengan banyak lingkungan, jika disandingkan dengan semesta luar yang sangat
besar.
"Februari
2049, mimpiku jadi nyata," gumamku sambil mengusap air mata.
Warm hole (lubang cacing) ini bulat
seperti bola. Terrbentuk dari struktur ruang-waktu, yang bisa menghubungkan 2
daerah berjauhan di alam semesta, seperti halnya teleportasi. Chaser kemudian
masuk ke warm hole.
"Pasti
makhluk luar dimensi menaruh warm hole ini untuk menyelamatkan umat
manusia," gumamku dalam hati.
Saat memasuki warm hole, Chaser
melaju dengan laju cahaya. Secepat
299.792.458 Km/s. Kami pun berhasil menembus jutaan tahun cahaya yang
tak terbayangkan jauhnya dan mendapati planet Kepler-62f.
Saat mendekati Kepler-62f, terlihat
dari kejauhan, sebuah lubang hitam yang 3 kali lebih besar dari matahari. Paman
sudah menjelaskan, tentang gravitasi yang sangat kuat pada benda angkasa ini.
Karna tarikan gravitasinya, waktu di Kepler-62f mengalami distorsi. 1,0
jam di planet ini, setara dengan 61,320 jam atau samadengan ±7 tahun di Bumi.
Hal ini terbukti dalam fisika
modern baik secara teoritis ataupun pengamatan yang disebut sebagai dilatasi
waktu. Konsep ini didasarkan pada teori relativitas khusus Einstein yang
menjelaskan bahwa waktu bersifat relatif. Kecepatan waktu tergantung dimana
kita berada dan satu-satunya kecepatan yang konstan, hanya kecepatan cahaya.
"Butuh
waktu 47,5 menit untuk sampai ke sana. Kita harus pakai waktu seefektif
mungkin. Jangan sampai saat kembali ke Bumi, manusia sudah punah," tegas
Kak Nathan.
***
Setibanya di Kepler-62f,
terlihat permukaan planet ini dipenuhi air dengan temperatur rendah. Aku,
Profesor Olisey dan Thunder turun dari pesawat untuk mencari tahu tentang
planet air ini. Terlihat puing-puing pesawat astronot yang pernah berkunjung,
terombang-ambing di atas air.
"Kembali
ke chaser! Ombak besar itu akan menghantam kita," teriak Kak Nathan
melihat ombak di belakang kami, yang akan menghantam.
Profesor dan Thunder kemudian
bergegas masuk ke dalam pesawat. Kakiku yang mengalami hypothermia karna suhu
dingin membuatku tidak bisa bangkit. Profesor kemudian berlari ke arahku dan
menaikkanku ke Chaser. Saat Profesor Olisey ingin naik, ombak menghantam kami.
Sontak Kak Nathan menutup pintu dan membiarkan Profesor tersapu ombak.
Sontak aku menangis melihat
Fisikawan Olisey yang di hantam ombak. Aku merasa bersalah atas kematiannya.
Aku memukul-mukul dinding pesawat itu sambil berteriak histeris.
"Arghhhh!
Aku pembunuh," teriakku.
"Ini
takdir, bukan salahmu," tegas Kak Nathan yang berusaha menenangkanku.
Karna terkena air, mesin chaser
mengalami korslet dan harus dikeringkan selama 85 menit. Setelah mesin kering,
Kak Nathan kemudian menyalakan Chaser dan kembali ke station.
***
Di Station, aku melihat
jagung yang kuletakkan di atas meja sudah menghilang. Sudah 21 tahun aku meninggalkan
station ini. Bahan bakar station pun sudah terancam habis, karna sudah lama
melabuh di angkasa.
Thunder lalu menjelaskan hologram yang dibuat dengan teknologi fotografi yang
merekam cahaya yang tersebar dari suatu objek. Rekaman cahaya ini kemudian bisa
ditampilkan dalam bentuk 3 dimensi.
Kami menayangkan satu-persatu video
yang dikirimkan dari Bumi dengan hologram. Ada banyak sekali orang-orang
yang mengirimkan video kepada kami.
Terlihat jelas, wujud 3D Kimiawan
John yang sedang menjelaskan keadaan Bumi yang semakin buruk dan populasi
makhluk hidup yang sudah berkurang hampir 50%.
"Halo
Nafasha! Ini Nadine. Sekarang aku udah dewasa loh. Aku udah bergabung juga di
NASA. Aku tahu, sekarang umur kita udah beda jauh. Pamanmu mengajarkanku
tentang relativitas umum, ternyata waktu itu relatif ya Fash. Jujur aku kangen
banget sama kamu," tangis sahabatku itu.
"Semenjak
kamu dijemput Kak Nathan dari Bumi 23 tahun lalu, aku terus-terusan nangis di
rumah. Aku kecewa banget sama kamu yang gaada ngabarin sama sekali. Ternyata
saat seseorang jatuh cinta, mereka akan lupa dengan kehidupan normalnya.
Sebelum Kak Nathan datang, mau tidur aja kamu pamit kepadaku. Tapi setelah
mengenalnya, kamu gapernah kontak ke aku lagi," sambungnya sambil menutup
video itu.
"Astaga,
aku lupa pamitan. Aku memang udah lupa segalanya, Nadine yang kuanggap
sahabatku aja, aku lupa," gumamku dalam hati sambil meratapi kesalahanku.
***
Kembali ke misi. Kamipun meyusun
rencana untuk mendarat di Planet kedua, Chonnel. Tapi sebelum itu, Thunder menjelaskan tentang
black hole (lubang hitam) yang sangat dekat dengan eksoplanet itu.
Semakin dekat dengan black hole,
pelebaran waktu meningkat. 1 jam di Chonnel adalah 10 tahun di Bumi.
Butuh waktu 6,7 jam (67 tahun) untuk sampai ke Chonnel.
"Gravitasi
(gaya tarik) di black hole sangat tidak waras. Bahkan cahaya aja bisa
diserap," jelas Thunder.
"Black
hole akan menarik kita, jika kita terbang ke Chonnel.
Besar gravitasi akan berbanding lurus dengan ukuran benda. Semakin besar wujud
benda, semakin besar juga gaya tariknya. Kita mungkin bisa menghindari tarikan black
hole, jika chaser melaju mengikuti kecepatan cahaya," sambungnya.
Massa akan mempengaruhi laju pesawat. Pesawat yang
membawa banyak penumpang tidak akan bisa melaju dengan cepat. Kami berencana
memasukkan Thunder ke dalam black hole, untuk mengurangi beban bawaan
sekalian mengumpulkan data tentang black hole.
"Belum
ada manusia yang pernah masuk ke black hole. Mungkin, di dalamnya ada
misteri yang bisa menjadi jawaban misi kita," lanjut Kak Nathan.
"Keingintahuan
adalah inti dari keberadaan kita," tegas aku pada mereka.
***
Saat Chaser mendekati black hole, Thunder dengan sengaja menjatuhkan diri ke
dalamnya. Aku dan Kak Nathan tetap di dalam pesawat yang meluncur ke Chonnel.
Kak Nathan berusaha mengemudi kapal
dengan sangat cepat hampir tak terlihat. Massa di dalam pesawat ini mungkin
belum stabil, pesawat masih saja oleng karna tarikan black hole.
Akupun sengaja keluar dari pesawat
kemudian ditarik masuk ke dalam black hole. Aku terpental ke permukaan black
hole dan masuk ke dalam singularitas, dimana ruang dan waktu menjadi
tak terbatas (5 Dimensi).
Beruntung tidak ada kerusakan pada
seragamku, aku masih bisa melayang-layang di bangun ruang 5D yang terbentuk
dari ruang yang bertemu ruang dan diikuti dimensi waktu.
Jangankan melihat bangun secara utuh,
membayangkan saja pasti sulit. Aku saja tidak menyadari bahwa ruang dengan
dimensi berderajat lebih dari 3 itu ada.
***
Ending : Masa Depan
Ruang 5D ini, membuatku bisa menyaksikan
setiap detik kehidupanku di masa lalu bersamaan dengan saat ini. Aku bisa
melihat semua yang terjadi di Bumi dengan transparan, ketika aku mau
melihatnya.
Aku dengan puas melihat setiap
detik kehidupan Mama Papa, yang akhirnya mengobati rasa rinduku. Aku juga
melihat Nadine yang menangis setiap harinya karna merindukanku. Aku bisa
melihat saat Kak Nathan mengajariku KSN dulu.
Aku bisa melihat apapun yang sudah
terjadi di hidupku dan merasakannya dalam batinku. Tapi, aku cuman bisa melihat
masa laluku, tidak dengan mengubahnya.
Pandanganku kemudian terpaku pada Nadine yang
bersikeras menyelesaikan persamaan gravitasi, untuk mengangkut manusia ke rumah
barunya.
***
Sistem transmitter yang ada di helm
ku, berhasil menyambungkanku dengan Thunder yang ada di dimensi lain dan Kak
Nathan yang sudah melabuh di Chonnel.
"Kalian
dimana? Aku sendirian disini," tangis Kak Nathan.
"Aku
di sampingmu Kak. Kak Nathan mungkin gabisa liat Nafasha disini. Tapi Nafasha
bisa liat Kak Nathan. Gatau ruangan ini ajaib atau ghaib. Yang pasti aku bisa
menyaksikan masa lalu dan saat ini secara bersamaan," tangis aku yang
tidak bisa menyentuh permukaan sekitarku.
"Aku
sudah mengumpulkan data untuk mentransfer manusia ke Chonnel.
Kita bisa buat warm hole dengan memanipulasi gravitasi. Tapi, kita butuh
bantuan manusia di Bumi," sambung Thunder.
***
Setelah
mengumpulkan data dari Thunder, akupun berhasil masuk ke dalam mimpi Nadine,
sahabatku. Aku mentransfer seluruh data itu ke Nadine, dan meminta bantuan
Nadine untuk menyelesaikan gravitasi itu dengan rekannya di NASA.
Ketika
Nadine berhasil membuat perhitungan, kemudian pekerja NASA, membentuk pola bola
hitam yang 2 kali besar Bumi. Warm hole yang daya tariknya sangat kuat, akan
terhubung dengan planet Chonnel.
"Proses ini tidak berlangsung
secepat yang ku perkirakan," gumamku dalam hati.
Aku
yang masih terhubung dengan black hole, tetap terhubung dengan distorsi waktu.
Aku menunggu Nadine yang menghabiskan 30 tahun waktu Bumi, untuk menyelesaikan misi ini.
Setelah
manusia Bumi berhasil menyelesaikan konstruksi warm hole, ruang hampa yang
kutempati itu, tiba-tiba tertutup dan melontarkan aku dan Thunder ke Bumi.
Sekarang, aku bisa melihat dan menyentuh semua warga, yang sudah bersiap ke Chonnel.
Thunder pun dikembalikan ke NASA.
"Aku bisa kembali lagi ke
Bumi. Ruang yang sudah kutinggalkan ratusan tahun lamanya," tangisku
sambil meloncat di atas permukaan tanah.
***
Sebelum
meninggalkan Bumi, aku mengunjungi makam Papa Mama, Paman dan Budeku. Rasanya
tidak sanggup, saat mengunjungi 1 makam yang berhasil membuat airmataku pecah.
"Kali ini, Nafasha pamit ya.
Makasi banyak udah bantuin Nafasha. Salam hangat buat Nadine di alam lain. Love
you!" Tangisku sambil memeluk batu nisan bertuliskan Nadine Swift itu.
"Selamat tinggal Bumi! Makasi
banyak udah numpangin aku dan seluruh makhluk bernyawa! Terimakasih tetap
bertahan dan berputar mengitari kami ke segenap penjuru tanpa lelah juga tidak
meminta imbalan."
Warm
hole kemudian didekatkan ke Bumi, bola ini menarik apapun yang ada di Bumi,
berpindah ke Chonnel. Satu-satunya yang tidak ditarik, adalah makam orang di
Bumi.
"Yay!"
"Makasi banyak NASA, Nafasha,
Nadine, Nathan!"
"Luar biasa."
Begitulah sorakan warga, saat
berhasil memasuki Chonnel.
***
Tahun
2167, Kehidupan di mulai di Chonnel ini. Umurku yang sudah 137 tahun
akan memulai hidup baru di planet ini. Padahal jika dihitung dengan waktu
sekarang, aku masih berumur belasan tahun.
Aku
tidak mengenali satupun dari mereka yang di sini. Mungkin kakek dan nenek yang
kulihat berkeliaran, adalah cucu dari teman seumuranku dulu.
Aku
berlari menemui Kak Nathan yang duduk di atas batuan itu, dan memeluknya. Kak
Nathan kemudian menyatakan perasaanya padaku dan kamipun hidup bersama.
"Cinta adalah satu-satunya
hal, yang mampu melampaui ruang dan waktu," bisik Kak Nathan.
•••TAMAT•••
Menurutku,
sains bahkan lebih gila daripada fiksi. Atau mungkin aku yang gila,
menceritakan hal yang sulit dimengerti. Tapi bagi orang gila, hanya merekalah
yang waras, hehe.
Akhir
kata, Nafasha mau bilang, jangan takut mencoba ya! Kalau Nafasha ga nyoba masuk
ke black hole, mungkin cerita "LABUHAN MASA DEPAN" ini gaada
kali ya. Keep spirit!♡
Penulis adalah siswa SMA Negeri 1
Purba
Editor : Melisa Sinaga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar