Rabu, 19 Oktober 2022

Aku dan Duka Kehilangan-Ku.

 


Karya Josua Reinhard Sinaga

Sudah 2 tahun lamanya dia pergi untuk selamanya dari hidupku.Dia dulunya adalah lelaki tua dengan rambut putih yang berusia 84 tahun,sebelum dia kembali ke tangan Sang Kuasa.Kami memiliki banyak cerita masa lalu,mulai dari dia yang tak sedikit umurnya dihabuskan bersama ku sejak aku kecil,hingga usiaku 16 tahun,dan dia pergi untuk selamanya.Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia kami tak akan pernah bisa bertemu lagi.Sekarang aku harus bisa berusaha keras dengan bantuan motivasi dari orang-orang terdekatku,termasuk kakekku dulu.Itu semua adalah kenangan,sekarang aku hsrus bisa mewujudkan sejuta harapan yang kubuat di alam benakku,Namaku Jocuel Karl,aku berusia 19 tahun sekarang,mahasiswa di Universitas Brawijaya,dalam jurusan Astrofisika.Sinositis sudah melekat dalam perjuanganku,tapi itu harus bisa kuterima.

....

Aku sedang duduk di kursi tunggu dokter THT. Dari jauh aku melihat ada seorang kakek yang berjalan dengan tidak terlalu tegap,bersama dengan cucunya. Sontak aku langsung teringat kepada kakekku dulu yang pernah juga kuperlakukan demikian. Aku menatap matanya dengan ramah dan tersenyum padanya,balasnya juga dengan senyum hangat. Seolah-olah dia tau aku sedang memikirkan apa saat ini. Tapi aku membuang jauh-jauh pemikiran itu,dan mengalihkan perhatian ku pada gawai ku.

Check-in selesai, aku keluar dari rumah sakit sambil mrmbawa obat rutin yang diberikan dokter untukku.

"Keknya aku pulang aja deh, soalnya dokter nya tadi bilang kalau obatnya harus segera kuminum."

Sampai di rumah,

"Udah jam tengah enam, langsung makan aja, biar makan obat," aku berbicara pada diriku sendiri.

Selesai makan aku berbaring di tempat tidur ku sambil chatting-an dengan Liey.(topiknya mengenai kakek tadi)

....

"Astaga! Udah jam berapa ini!" ucapku sambil terbangun panik karena mengingat besok aku akan melakukan persentasi di Kampus. Jam dinding menunjukkan pukul 21.15. Saat itu hujan sedang turun tapi tidak terlalu deras.

"Powepoint nya juga belum selesai lagi,aduh begadang lagi begadang lagi."

Jam 21.45,selesai makan aku langsung memulai mengerjakan tugas itu.Saat aku sedang me-refresh laptopku,tiba-tiba.

Tok,tok,tok pintu diketuk.

"Apakah ada orang disini?" suaranya berat lemah.

"Pasti ini orang nya sudah tua" pikirku.

"Ada pak." jawabku dengan suara pelan sambil membukakan pintu.

"Eh, kakek kan...?"

"Kebetulan sekali, nak. Kakek tadinya ingin ke rumah teman lamaku, tapi aku salah masuk komplek, kakek bisa menginap disini dulu?,hujannya juga makin deras, dan gerbang komplek ini baru bisa dibuka besok pagi."

"Tentu saja,kek. Mari masuk." aku memberikan handuk padanya.

Aku memberikan segelas teh untuknya, agar dia tidak merasa kedinginan.Sambil membawa laptop ke dekat kakek itu,

"Kakek asalnya darimana kek?" tanyaku.

"Kakek asalnya dari Jawa Barat nak."

"Jauh sekali kakek sampai ke sini,kek. Tadi siang kakek masih di rumah sakir sama cucu kakek,emangnya tujuan kakek kesini mau ngapain?" tanyaku kebingungan.

"Iya, kakek jauh-jauh kesini mau melakukan kunjungan ke Universitas Brawijaya, sama teman lama kakek, ternyata salah masuk komplek, malah sampai nya disini, dan jumpa juga sama kamu nak."

"Wah, kebetulan sekali kek, aku juga mahasiswa di sana, kakek dosen ya kek?"

"Benarkah?" ucapnya sambil menoleh ke laptop ku.

"Anak Astrofisika ya, kamu pasti sulit untuk sampai di tahap ini kan? Kakek juga dulu sama kayak kamu, tapi jurusan kita beda,kalau kakek dosen di jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia, nak."

"Wow! Fantastis! Ternyata kakek ini orang hebat ya." bagaimana bisa aku tidak terkejut, aku sedang duduk dengan seorang dosen Universitas terkenal, layaknya teman dekat.

"Ah, kamu bicara berlebihan, kakek hanya melakukan apa yang menjadi profesi kakek."

"Hehehe, tapi kan pasti sulit bagi kakek untuk sampai di titik ini kek."

"Begitulah kira-kira, sekarang lanjutkan tugas mu supaya kamu juga bisa kayak kakek nantinya."

"Amin..., Kek."

....

Tugas itu pun selesai atas perbuatan kami berdua. Ya, kakek ini memang sangat baik, aku beruntung dapat bertemu dengannya hari ini.Saat dia sedang membaca beberapa buku yang kumiliki,

"Tau gak, kek? Aku dulunya punya kakek yang juga menghabiskan hidupnya sebagai seorang dosen di USU.Dengan jurusan yang sama dengan kakek."

"Iya? Siapa nama kakekmu itu?" tanya nya.

"Ferdinand Boh'r,kek.Almarhum maksudku, dia meninggal 2 tahun silam, diusia 76 tahun."

"Eh,yang benar saja? Beliau kan dulu juga pernah menjadi dosen kakek di Universitas nya. Pantas saja kamu memilih jurusan yang ada fisika-fisika nya, hehe."

"Benarkah kek? Berarti kakek ini mantan mahasiswa di USU ya kek?"

"Tentu saja, makanya kakek sangat mengenal mendiang kakekmu dulu. Dulu, dia

adalah guru terfavorit ku."

"Wah, kakek ku ternyata tidak kalah keren ya, kek"

"Tentu saja, makanya kamu juga harus bisa lebih dari kakekmu kelak."

"Semoga kek, usaha tak kan menghianati hasil.Tapi terkadang aku masih belum bisa melupakan kakekku,kek. Kakekku ga bakalan bisa lagi liat cucunya, jika sukses nantinya."

"Wah, itu mah kita gabisa bantah nak,namanya juga keputusan Tuhan, siapa yang tau itu semua, kita harus lebih kuat dengan kepergian orang tersayang dari hidup kita."

"Ada benarnya kek, tapi tetap saja kepergian itu susah diterima."

"Jangan salah, kakek juga baru aja kehilangan teman hidup kakek 3 tahun silam,nak. Jadi apakah kakek harus terus mengeluh karena kepergiannya? Kita harus berjuang, agar arwah mereka bangga melihat apa yang sudah mereka perjuangkan bersama kita dulunya."

"Maaf, kek. Jadi buat kakek sedih lagi karena ngingat itu."

"Gapapa nak, Ada kalanya kita memang perlu untuk mengenang apa yang sudah pergi,agar kita tau betapa berharga nya hidup itu untuk kita nikmati."

"Terima kasih kek,kakek memang orang baik."

....

Pukul 00.45, aku dan kakek bersiap-siap untuk tidur, usai bercerita tentang beberapa hal tadinya. Aku sedang menyiapkan tempat tidur untuk kakek, sembari memberikan selimut,

"Kek."

"Kenapa nak?"

"Mungkin ga suatu saat nanti kita bisa menggunakan teori Relativitas khusus untuk mundur ke masa lalu,di masa yang akan datang?"

"Kamu bertanya random sekali, yaa.."

"Hehe, biasalah kek,banyak hal yang membuat ku penasaran di dunia ini, kek."

"Soal kembali ke masa lalu itu, sepertinya kamu juga udah pernah membaca Paradox kakek kan?"

"Iya, itu kan jika kita melakukan perjalanan ke masa lalu dan membunuh kakek kita, yang akan terjadi adalah kakek kita tidak akan pernah bertemu dengan nenek kita dan orang tua kita tentunya juga tidak akan lahir. Lalu kenapa kita  bisa ada? Gitu kan kek?"

"Nah kamu tau sendiri, bahkan perjalanan ke masa lalu itu sangat sulit untuk dilakukan,bisa saja itu tidak mungkin. Tapi tidak ada salah nya jika kamu berfikir itu dapat terjadi, karena diluar sana begitu banyak orang yang lebih brilian pemikirannya dari kakek, yang selalu berjuang untuk menemukan teori-teori baru."

"Ah, semoga aja itu bisa terjadi kek."

"Iya. Kamu masih belum bisa terima kakekmu pergi ya?"

"Aduh, ketahuan."

"Nak,kehidupan harus terus berlanjut kedepannya. Jangan takut kehilangan,karena sejatinya hidup adalah tentang kembalinya ke pelukan Tuhan. Kita harus bisa menerima nya walau kadang memang sakit,kakek akui itu."

"Wah, bisa jadi kata-kata status nih, kek, kakek kerenn deh. Makasih sekali lagi ya kek, malam ini menjadi lebih berarti karena kakek datang kesini."

"Kamu ini bisa aja. Jangan cuma di status aja, realisasi kan di hidup mu nak."

"Baik kek" ucapku sambil menguap ngantuk.

"Kita istirahat saja, udah jam berapa ini.Nanti kamu terlambat masuk kampus.Selamat malam"

"Malam kek."

....

Keesokan harinya kami pun memutuskan untuk pergi bersama ke kampus. Karena memang kakek itu mau kesana juga. Kami pergi lebih awal,karena akan menjemput teman nya kakek. Di perjalanan..

"Kek, selama kakek mengendarai mobil, kakek pernah kecelakaan ga?"tanyaku.

"Wah,kamu belum tau ya. Istri kakek meninggal dunia disaat kakek dan dia akan pergi refreshing."

"Aku turut prihatin kek. Kenapa sampai bisa kecelakaan gitu kek?"

"Sebenarnya kakek sudah berkendara sebaik mungkin, saat itu ada anak kecil yang menyebrang asal-asalan, dan sebab mengelakkan dia, kakek spontan membelokkan mobil ke kiri, dan akhirnya bagian kiri mobil itu tertabrak ke pohon, dan nenek mu dulu duduk di sebelah kiri. Dia sempat dibawa ke rumah sakit, namun hanya dapat bertahan dalam beberapa jam saja, dan dia pun meninggal dunia."

"Ternyata kakek mengalami luka yang lebih perih ya kek. Tetap semangat ya kek."

"Iya nak, pasti.Kamu juga harus bisa seperti kakek, jangan terlalu membawa itu ke kehidupan mu."

"Siap, Pak Dosen!" ucapku tegas.

....

Pukul 07.45, kami sampai di kampus bersama dengan teman kakekku itu. Aku meminta nomor Whatsapp nya, supaya kami dapat berkomunikasi lagi untuk kedepannya

"Sepertinya nanti kita ga bakalan ketemu lagi. Jadi kita berpisah disini ya nak. Terima kasih sudah bersedia menerima kakek di rumahmu tadi malam."

"Sama-sama kek . Aku juga mau bilang makasih, karena kakek udah ngasi motivasi-motivasi untukku."

"Sama-sama juga." ucapnya sambil.memberikan sebuah buku kepadaku.

"Ini salah satu buku kakek pas kuliah dulu, sepertinya ini akam membantu kamu di masa kuliahmu."

"Wah, gapapa ini dikasih sama aku kek?"

"Gapapa, kakek lihat kamu memiliki ambisi yang sangat tinggi. Anggap saja itu sebagai hadiah perpisahan dari kakek."

"Makasih banyak kek, semoga kakek diberkati umur yang panjang. Hati-hati kalau mau pulang nanti ya kek."

"Iya,sama-sama.Masuk sana, nanti terlambat."

"Baik kek, sampai jumpa, aku beruntung bisa bertemu sama kakek."

"Kakek juga."

....

Kuliah selesai, Dosen memuji ku karena menurutnya apa yang kusamapaikan itu lumayan bagus dan mudah untuk dipahami. Aku memutuskan untuk pergi ke cafe di perempatan kampus. Saat di gerbang,klakson mobil membuat ku terkejut dan spontan berteriak di sana, dan menoleh ke arah mobil itu. Ternyata mobil itu mobilnya kakek tadi.

"Eh, kirain kakek udah pulang tadi. Maaf kek aku teriak-teriak tadi."

"Sudah, kakek juga ga tau kamu siapa tadi karena kamu make jaket."

"Hehe, gapapa kok kek."

"Karena kita tidak jadi berpisah, mau ikut makan sama kakek gak?"

"Gausah ngerepotin kek, nanti kakek telat lagi."

"Enggak, kakek belum mau pulang ke Jakarta kok, masih ada pekerjaan yang belum selesai."

"Yaudah deh, kalau kakek ga keberatan, aku ikut ya kek."

"Naik sini."

....

Sesampainya di cafe itu, kami langsung memesan makanan.

"Minumnya apa, Pak?" ucap pelayan rumah makan itu.

"Air putih saja. Kamu nak?"

"Aku mesan teh satu kak."

"Oke, sebentar ya Pak, pesanannya segera datang."

"Kakek memang ga suka mesan selain air putih ya kek?"

"Iya, kakek selalu menjaga konsumsi air dalam tubuh kakek, karena kakek sudah pernah hampir divonis kena gagal ginjal."

"Jaga kesehatan ya kek, nanti kakek jadi sakit."

"Iya, kakek gitu karena dulu setelah nenekmu pergi meninggalkan kakek, kakek sempat defresi karena tak bisa menerima kepergiannya."

"Segitu sayangnya kakek, ya kek."

"Pastinya, tapi kakek menyesal sudah berbuat demikian, kesehatan kakek jadi terganggu."

"Berarti waktu kakek di rumah sakit kemarin,kesana karena itu ya kek?"

"Iya, kakek check in rutin tiap bulan. Sekalian ngambil obat." (makanan dihidangkan di meja)

"Yaudah, kita makan dulu, nanti kita lanjutkan cerita nya," sambil mengambil sendok.

 

....

Setelah selesai makan, kami pun bercerita-cerita tentang banyak hal. Banyak pelajaran yang kudapat dari kakek hari ini lagi.

"Makasih ya Kek, hari ini kakek udah nemenin aku. Waktu kakek jadi terbuang."

"Iya, sama-sama, ini juga kan sekalian perpisahan kita. Jaga buku tadi baik-baik ya."

"Oke kek, sip deh!" telepon kakek berdering.

"Halo, Pak?" ucap Marko supir pribadi kakek itu yang menunggu di mobil. Dia adalah tukang antar jemput saat kakek lagi di Malang.

"Halo? Kenapa  Mar?" ucap kakek.

"Pak, ini pesawat nya berangkat 3 jam lagi ya Pak."

"Wah, ya sudah jemput bapak ke cafe di perempatan jalan Universitas Brawijaya."

"Baik Pak."

"Kakek udah mau pulang?"

"Iya, nanti kakek terlambat masuk pesawat."

"Yasudah kek, hati-hati di perjalanan ya kek, terima kasih banyak."

"Iya, sudah berapa kali bilang makasih? Kakek juga kan dibantu sama kamu."

"Hehe, iya kek gapapa kok."

Klakson mobil berbunyi dari tepi jalan.

"Tuh kek, mobilnya udah sampai."

"Eh iya, kita berpisah disini ya, sampai jumpa lagi."

"Iya kek, nanti kalau udah dibandara kabarin sama aku ya kek!"

"Iya, nanti kakek WA."

"Kakek berangkat ya."

"Iya Kek, senang bertemu dengan kakek."

Kakek itu pun masuk kedalam mobil dan berangkat menuju bandara. Jam menunjukkan pukul 14.15, aku memutuskan untuk pulang, karena masih ngantuk karena tadi malam begadang.

....

Pukul 15.17. Aku sudah sampai di rumah, jam tiga sore, chat kakek muncul di handphone ku.

 


 "Em, semoga kakek baik-baik aja sampai di tujuan," benakku.

"Tidur dulu ah."

....

"Haaah, akhirnya segar juga bisa tisur nyenyak," aku baru saja bangun jam 17.30.

"Scroll IG dlu ah."

Baru saja membuka Instagram, aku dikejutkan dengan berita duka di beranda ku.



"Kakek! Astaga, semoga saja tidak terjadi apa-apa pada kakek ya Tuhan."

Saat itu aku sangat cemas, bagaimana tidak,kakek baru saja berangkat tadi siang, dan aku mendapat berita seperti itu sekarang. Aku pun mencoba menghubungi kakek beberapa kali, namun tidak ada jawaban.



Khawatir, cemas, takut, semua bercampur aduk saat itu.

"Aduh, ini gimana sih! Chat ku ga dibalas, telepon juga ga diangkat sama kakek."

"Nomor pesawat kakek juga aku gak tau lagi."

Berdoa, itu saja yang dapat kulakukan saat itu, berharap agar tidak terjadi apa-apa pada kakek. Semoga nama kakek tidak tertulis di dalam daftar penumpang pesawat itu, yang katanya akan di share secepat mungkin oleh BNPB.

....

Berselang satu jam setelah berita itu,datang lah berita mengenai daftar penumpang pesawat jatuh itu. Aku pun segera men-download file tersebut. Satu per satu nama penumpang kubaca, ternyata semua berbandjng terbalik dengan harapan ku. Nama Michael Neel's tertulis didalam daftar penumpang itu. Sontak hatiku tersayat, air mata ku keluar dengan sendirinya.

"Kakek....kenapa bisa jadi kayak gini kek..." ucapku sambil menangis.

"Kukira kakek bakal bisa jadi kakek pengganti ku, tapi kenapa kakek juga ninggalin aku sekarang."

Tidak sebentar aku menangisi berita tentang kakek itu, mungkin aku agak berlebihan, tapi aku sudah merasa dekat dengan kakek itu, karena aku sangat menghargai kehadiran seorang kakek di hidupku, setelah kakek ku dulu meninggal. Aku berusaha menenangkan diri, dan mencari nomor handphone supir pribadi kakek yang tadi siang kuminta sebelum kami keluar dari mobil.

"Akhirnya dapat juga, bapak ini tau alamat kakek itu dimana," ucapku sambil langsung menelfon nomor bapak itu. Setelah beberapa kali akhirnya telpon ku dijawab.

"Halo, Pak?

"Iya, siapa ini?"

*Ini aku Pak! Yang tadi siang minta nomor di mobil"

"Oh kamu. Ada apa, cepat katakan bapak lagi buru-buru ini. Kamu kan udah tau beritanya?"

"Iya Pak, aku sangat sedih nama kakek ada di dalam daftar penumpang itu. Aku mau nanya alamat kakek di Bandung dimana, setidaknya aku masih bisa melihat nya untuk yang terakhir kalinya."

"Hanya itu? Iya,nanti bapak kirim secepatnya. Dari chat aja, soalnya bapak lagi di perjalanan menuju bandara."

"Oke Pak, makasih ya pak. Hati-hati" telepon langsung dimatikan oleh Pak Marko. Aku pun menunggu chat dari nya beberapa jam. Hingga pukul 22.00,aku masih menunggu nya,dan belum dikirim juga.

"Knapa lama banget ya, huh, aku mau liat kakek. Tapi mungkin Pak Marko lagi sibuk, tunggu lagi aja."

Aku menunggu, dan tertidur karena sudah mulai ngantuk, sehingga aku tertidur karena alamat kakek belum dikirim.

....

Pukul 04.30, aku segera mencek handphone ku, dan alamat nya sudah dikirim oleh Pak Marko. Aku segera membuka nya, dan memesan tiket menuju kesana sesegera mungkin. Untungnya aku memiliki tabungan yang bisa kupakai untuk biaya ada hari itu.

"Oke, tiketnya udah aku pesan. Langsung siap-siap aja ah, biar nanti ga terlambat. Pesawatnya kan berangkat jam delapan."

Aku segera bersiap-siap dan pukul 05.15 aku pun langsung pergi ke bandara.

....

Sesampainya di bandara,pukul 07.30, aku duduk di kursi tunggu masuk pesawat, sambil memikirkan kakek.

"Kok bisa sih, kakek ninggalin aku juga," khayal ku karena masih belum menyangka tragedi itu ikut menimpa kakek.

"Ayok kak, pesawatnya udah mau berangkat," ucap seorang remaja padaku, karena aku sedang mebghayal.

"Eh iya, duluan dek."

Pesawat pun berangkat,dan aku berdoa agar aku sampai disana dengan selamat. Karena masih memikirkan kakek,aku pun memutuskan untuk tidur saja, agar tidak terlalu lelah.

"Kayak nya aku tidur aja, kalo mikirkan itu terus nanti penyakit ku kambuh disini lagi."

....

Pesawat tiba di Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati.

"Dek, bangun.Udah sampai."ucap pramugari membangunkan ku.

"Oh iya kak, makasih kak."

Setelah keluar dari pesawat, aku langsung memesan taksi menuju tempat kediaman kakek, sesuai yang dikirim Pak Marko tadi pagi. Jam 11.00, sudah hampir sampai di kediaman kakek.

"Didepan sana ya pak, yang lagi ramai disana." ucapku sambil menunjuk ke arah rumah yang sangat ramai itu, mulai dari warga sekitar, dosen dari beberapa universitas, dan beberapa mahasiswa-mahasiswi dari UI. Banyak papan bunga berisikan "Turut Berduka Cita". Kesedihan mulai bertambah disaat aku turun dari mobil, aku masih mencari dimana jasad kakek berada, karena sangat ramai.

Bicara di telpon.

"Halo pak Mar?"

"Kamu udah nyampe?"

"Udah pak, bapak dimana? aku enggak bisa liat kakek, rame banget disini."

"Kamu dimana nya?" ucap pak Marko, sambil kebetulan melihat aku.

"Eh pak! Aku mau liat kakek bisa kan?" ucapku sambil mulai menangis.

"Sini ikut bapak, cepat, sebentar lagi jenazah nya dibawa ke pemakaman."

Aku pun mengikuti bapak itu, menuju ke peti kakek. Belum sampai di depan jenazah kakek, aku sudah menangis kencang.

"Kakek...Kenapa bisa gini kek?...Kakek pergi juga dari aku sekarang..."tangis ku sambil meletakkan dagu di peti kakek. Setelah beberapa menit menangis, aku pun berusaha meredakan air mataku.

"Sudah nak, janaxah kakek udah mau dibawa ke pemakaman."

"Iya pak...Baik.."

Peti kakek pun ditutup, ternyata itu adalah hari terakhir ku melihat kakek untuk selama-lamanya. Aku ikut ke pemakaman untuk menguburkan kakek.

Sesampainya di pemakaman, proses pemakaman kakek pun dimulai, pak Marko merangkul punggungku.

"Jangan sedih lagi , kakek udah senang disana, bersama Sang Pencipta."

"Iya pak, kakek juga yang ngajarin aku biar bisa menerima sebuah kehilangan."

"Itu benar."

....

Aku lega, karena kakek sudah tenang di sana, bersama sang Pencipta. Aku hanya bisa mengenang kakek, dan tidak akan menyesali kepergian kakek terlalu dalam. Karena hidup harus terus berlanjut. Kepergian orang terkasih akan lebih berarti ketika kita dapat menjadikan itu sebagai motivasi untuk lebih semangat kedepannya.

Tidak ada yang tau kapan kematian itu datang menghampiri. Kakek, aku, dan kita semua tidak akan tau mengenai hal itu. Aku berjalan melewati kuburan demi kuburan, dan mulai menyadari, memang betul pesan yang di katakan oleh kakek, bahwa sejatinya hidup kita adalah tentang kembali ke pelukanNya.

 

 

Editor : Ryan Anggi D Simbolon.

Penulis adalah Siswa SMA NEGERI I PURBA

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...