Karya Josua Reinhard Sinaga
Sudah 2 tahun lamanya dia pergi untuk selamanya dari hidupku.Dia dulunya adalah lelaki tua dengan rambut putih yang berusia 84 tahun,sebelum dia kembali ke tangan Sang Kuasa.Kami memiliki banyak cerita masa lalu,mulai dari dia yang tak sedikit umurnya dihabuskan bersama ku sejak aku kecil,hingga usiaku 16 tahun,dan dia pergi untuk selamanya.Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia kami tak akan pernah bisa bertemu lagi.Sekarang aku harus bisa berusaha keras dengan bantuan motivasi dari orang-orang terdekatku,termasuk kakekku dulu.Itu semua adalah kenangan,sekarang aku hsrus bisa mewujudkan sejuta harapan yang kubuat di alam benakku,Namaku Jocuel Karl,aku berusia 19 tahun sekarang,mahasiswa di Universitas Brawijaya,dalam jurusan Astrofisika.Sinositis sudah melekat dalam perjuanganku,tapi itu harus bisa kuterima.
....
Aku sedang duduk di kursi tunggu dokter THT. Dari jauh aku
melihat ada seorang kakek yang berjalan dengan tidak terlalu tegap,bersama
dengan cucunya. Sontak aku langsung teringat kepada kakekku dulu yang pernah
juga kuperlakukan demikian. Aku menatap matanya dengan ramah dan tersenyum
padanya,balasnya juga dengan senyum hangat. Seolah-olah dia tau aku sedang
memikirkan apa saat ini. Tapi aku membuang jauh-jauh pemikiran itu,dan
mengalihkan perhatian ku pada gawai ku.
Check-in selesai, aku keluar dari rumah sakit sambil mrmbawa
obat rutin yang diberikan dokter untukku.
"Keknya aku pulang aja deh, soalnya dokter nya tadi
bilang kalau obatnya harus segera kuminum."
Sampai di rumah,
"Udah jam tengah enam, langsung makan aja, biar makan
obat," aku berbicara pada diriku sendiri.
Selesai makan aku berbaring di tempat tidur ku sambil
chatting-an dengan Liey.(topiknya mengenai kakek tadi)
....
"Astaga! Udah jam berapa ini!" ucapku sambil
terbangun panik karena mengingat besok aku akan melakukan persentasi di Kampus.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.15. Saat itu hujan sedang turun tapi tidak
terlalu deras.
"Powepoint nya juga belum selesai lagi,aduh begadang
lagi begadang lagi."
Jam 21.45,selesai makan aku langsung
memulai mengerjakan tugas itu.Saat aku sedang me-refresh laptopku,tiba-tiba.
Tok,tok,tok pintu diketuk.
"Apakah ada orang disini?" suaranya berat lemah.
"Pasti ini orang nya sudah tua" pikirku.
"Ada pak." jawabku dengan suara pelan sambil
membukakan pintu.
"Eh, kakek kan...?"
"Kebetulan sekali, nak. Kakek tadinya ingin ke rumah
teman lamaku, tapi aku salah masuk komplek, kakek bisa menginap disini
dulu?,hujannya juga makin deras, dan gerbang komplek ini baru bisa dibuka besok
pagi."
"Tentu saja,kek. Mari masuk." aku memberikan
handuk padanya.
Aku memberikan segelas teh untuknya, agar dia tidak merasa
kedinginan.Sambil membawa laptop ke dekat kakek itu,
"Kakek asalnya darimana kek?" tanyaku.
"Kakek asalnya dari Jawa Barat nak."
"Jauh sekali kakek sampai ke sini,kek. Tadi siang kakek
masih di rumah sakir sama cucu kakek,emangnya tujuan kakek kesini mau
ngapain?" tanyaku kebingungan.
"Iya, kakek jauh-jauh kesini mau melakukan kunjungan ke
Universitas Brawijaya, sama teman lama kakek, ternyata salah masuk komplek, malah
sampai nya disini, dan jumpa juga sama kamu nak."
"Wah, kebetulan sekali kek, aku juga mahasiswa di sana,
kakek dosen ya kek?"
"Benarkah?" ucapnya sambil menoleh ke laptop ku.
"Anak Astrofisika ya, kamu pasti sulit untuk sampai di
tahap ini kan? Kakek juga dulu sama kayak kamu, tapi jurusan kita beda,kalau
kakek dosen di jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia, nak."
"Wow! Fantastis! Ternyata kakek ini orang hebat
ya." bagaimana bisa aku tidak terkejut, aku sedang duduk dengan seorang
dosen Universitas terkenal, layaknya teman dekat.
"Ah, kamu bicara berlebihan, kakek hanya melakukan apa
yang menjadi profesi kakek."
"Hehehe, tapi kan pasti sulit bagi kakek untuk sampai di
titik ini kek."
"Begitulah kira-kira, sekarang lanjutkan tugas mu
supaya kamu juga bisa kayak kakek nantinya."
"Amin..., Kek."
....
Tugas itu pun selesai atas perbuatan kami berdua. Ya, kakek
ini memang sangat baik, aku beruntung dapat bertemu dengannya hari ini.Saat dia
sedang membaca beberapa buku yang kumiliki,
"Tau gak, kek? Aku dulunya punya kakek yang juga
menghabiskan hidupnya sebagai seorang dosen di USU.Dengan jurusan yang sama
dengan kakek."
"Iya? Siapa nama kakekmu itu?" tanya nya.
"Ferdinand Boh'r,kek.Almarhum maksudku, dia meninggal 2
tahun silam, diusia 76 tahun."
"Eh,yang benar saja? Beliau kan dulu juga pernah
menjadi dosen kakek di Universitas nya. Pantas saja kamu memilih jurusan yang
ada fisika-fisika nya, hehe."
"Benarkah kek? Berarti kakek ini mantan mahasiswa di
USU ya kek?"
"Tentu saja, makanya kakek sangat mengenal mendiang
kakekmu dulu. Dulu, dia
adalah guru terfavorit ku."
"Wah, kakek ku ternyata tidak kalah keren ya, kek"
"Tentu saja, makanya kamu juga harus bisa lebih dari kakekmu
kelak."
"Semoga kek, usaha tak kan menghianati hasil.Tapi
terkadang aku masih belum bisa melupakan kakekku,kek. Kakekku ga bakalan bisa
lagi liat cucunya, jika sukses nantinya."
"Wah, itu mah kita gabisa bantah nak,namanya juga
keputusan Tuhan, siapa yang tau itu semua, kita harus lebih kuat dengan
kepergian orang tersayang dari hidup kita."
"Ada benarnya kek, tapi tetap saja kepergian itu susah
diterima."
"Jangan salah, kakek juga baru aja kehilangan teman
hidup kakek 3 tahun silam,nak. Jadi apakah kakek harus terus mengeluh karena
kepergiannya? Kita harus berjuang, agar arwah mereka bangga melihat apa yang
sudah mereka perjuangkan bersama kita dulunya."
"Maaf, kek. Jadi buat kakek sedih lagi karena ngingat
itu."
"Gapapa nak, Ada kalanya kita
memang perlu untuk mengenang apa yang sudah pergi,agar kita tau betapa berharga
nya hidup itu untuk kita nikmati."
"Terima kasih kek,kakek memang orang
baik."
....
Pukul 00.45, aku dan kakek bersiap-siap untuk
tidur, usai bercerita tentang beberapa hal tadinya. Aku sedang menyiapkan
tempat tidur untuk kakek, sembari memberikan selimut,
"Kek."
"Kenapa nak?"
"Mungkin ga suatu saat nanti kita bisa
menggunakan teori Relativitas khusus untuk mundur ke masa lalu,di masa yang akan
datang?"
"Kamu bertanya random sekali, yaa.."
"Hehe, biasalah kek,banyak hal yang membuat
ku penasaran di dunia ini, kek."
"Soal kembali ke masa lalu itu, sepertinya
kamu juga udah pernah membaca Paradox kakek kan?"
"Iya, itu kan jika kita melakukan
perjalanan ke masa lalu dan membunuh kakek kita, yang akan terjadi adalah kakek
kita tidak akan pernah bertemu dengan nenek kita dan orang tua kita tentunya
juga tidak akan lahir. Lalu kenapa kita
bisa ada? Gitu kan kek?"
"Nah kamu tau sendiri, bahkan perjalanan ke
masa lalu itu sangat sulit untuk dilakukan,bisa saja itu tidak mungkin. Tapi
tidak ada salah nya jika kamu berfikir itu dapat terjadi, karena diluar sana
begitu banyak orang yang lebih brilian pemikirannya dari kakek, yang selalu
berjuang untuk menemukan teori-teori baru."
"Ah, semoga aja itu bisa terjadi kek."
"Iya. Kamu masih belum bisa terima kakekmu
pergi ya?"
"Aduh, ketahuan."
"Nak,kehidupan harus terus berlanjut
kedepannya. Jangan takut
kehilangan,karena sejatinya hidup adalah tentang kembalinya ke pelukan Tuhan. Kita harus bisa menerima nya walau kadang memang
sakit,kakek akui itu."
"Wah, bisa jadi kata-kata status nih, kek, kakek
kerenn deh. Makasih sekali lagi ya kek, malam ini menjadi lebih berarti karena
kakek datang kesini."
"Kamu ini bisa aja. Jangan cuma di status
aja, realisasi kan di hidup mu nak."
"Baik kek" ucapku sambil menguap
ngantuk.
"Kita istirahat saja, udah jam berapa
ini.Nanti kamu terlambat masuk kampus.Selamat malam"
"Malam kek."
....
Keesokan harinya kami pun memutuskan untuk pergi
bersama ke kampus. Karena memang kakek itu mau kesana juga. Kami pergi lebih
awal,karena akan menjemput teman nya kakek. Di perjalanan..
"Kek, selama kakek mengendarai mobil, kakek
pernah kecelakaan ga?"tanyaku.
"Wah,kamu belum tau ya. Istri kakek
meninggal dunia disaat kakek dan dia akan pergi refreshing."
"Aku turut prihatin kek. Kenapa sampai bisa
kecelakaan gitu kek?"
"Sebenarnya kakek sudah berkendara sebaik
mungkin, saat itu ada anak kecil yang menyebrang asal-asalan, dan sebab
mengelakkan dia, kakek spontan membelokkan mobil ke kiri, dan akhirnya bagian
kiri mobil itu tertabrak ke pohon, dan nenek mu dulu duduk di sebelah kiri. Dia
sempat dibawa ke rumah sakit, namun hanya dapat bertahan dalam beberapa jam
saja, dan dia pun meninggal dunia."
"Ternyata kakek mengalami luka yang lebih
perih ya kek. Tetap semangat ya kek."
"Iya nak, pasti.Kamu juga harus bisa
seperti kakek, jangan terlalu membawa itu ke kehidupan mu."
"Siap, Pak Dosen!" ucapku tegas.
....
Pukul 07.45, kami sampai di kampus bersama
dengan teman kakekku itu. Aku meminta nomor Whatsapp nya, supaya kami dapat
berkomunikasi lagi untuk kedepannya
"Sepertinya nanti kita ga bakalan ketemu
lagi. Jadi kita berpisah disini ya nak. Terima kasih sudah bersedia menerima
kakek di rumahmu tadi malam."
"Sama-sama kek . Aku juga mau bilang
makasih, karena kakek udah ngasi motivasi-motivasi untukku."
"Sama-sama juga." ucapnya
sambil.memberikan sebuah buku kepadaku.
"Ini salah satu buku kakek pas kuliah dulu,
sepertinya ini akam membantu kamu di masa kuliahmu."
"Wah, gapapa ini dikasih sama aku
kek?"
"Gapapa, kakek lihat kamu memiliki ambisi
yang sangat tinggi. Anggap saja itu sebagai hadiah perpisahan dari kakek."
"Makasih banyak kek, semoga kakek diberkati
umur yang panjang. Hati-hati kalau mau pulang nanti ya kek."
"Iya,sama-sama.Masuk sana, nanti
terlambat."
"Baik kek, sampai jumpa, aku beruntung bisa
bertemu sama kakek."
"Kakek juga."
....
Kuliah selesai, Dosen memuji ku karena
menurutnya apa yang kusamapaikan itu lumayan bagus dan mudah untuk dipahami. Aku
memutuskan untuk pergi ke cafe di perempatan kampus. Saat di gerbang,klakson
mobil membuat ku terkejut dan spontan berteriak di sana, dan menoleh ke arah
mobil itu. Ternyata mobil itu mobilnya kakek tadi.
"Eh, kirain kakek udah pulang tadi. Maaf
kek aku teriak-teriak tadi."
"Sudah, kakek juga ga tau kamu siapa tadi
karena kamu make jaket."
"Hehe, gapapa kok kek."
"Karena kita tidak jadi berpisah, mau ikut
makan sama kakek gak?"
"Gausah ngerepotin kek, nanti kakek telat
lagi."
"Enggak, kakek belum mau pulang ke Jakarta
kok, masih ada pekerjaan yang belum selesai."
"Yaudah deh, kalau kakek ga keberatan, aku
ikut ya kek."
"Naik sini."
....
Sesampainya di cafe itu, kami langsung memesan
makanan.
"Minumnya apa, Pak?" ucap pelayan
rumah makan itu.
"Air putih saja. Kamu nak?"
"Aku mesan teh satu kak."
"Oke, sebentar ya Pak, pesanannya segera
datang."
"Kakek memang ga suka mesan selain air
putih ya kek?"
"Iya, kakek selalu menjaga konsumsi air
dalam tubuh kakek, karena kakek sudah pernah hampir divonis kena gagal
ginjal."
"Jaga kesehatan ya kek, nanti kakek jadi
sakit."
"Iya, kakek gitu karena dulu setelah
nenekmu pergi meninggalkan kakek, kakek sempat defresi karena tak bisa menerima
kepergiannya."
"Segitu sayangnya kakek, ya kek."
"Pastinya, tapi kakek menyesal sudah
berbuat demikian, kesehatan kakek jadi terganggu."
"Berarti waktu kakek di rumah sakit
kemarin,kesana karena itu ya kek?"
"Iya, kakek check in rutin tiap bulan. Sekalian
ngambil obat." (makanan dihidangkan di meja)
"Yaudah, kita makan dulu, nanti kita
lanjutkan cerita nya," sambil mengambil sendok.
....
Setelah selesai makan, kami pun bercerita-cerita
tentang banyak hal. Banyak pelajaran yang kudapat dari kakek hari ini lagi.
"Makasih ya Kek, hari ini kakek udah
nemenin aku. Waktu kakek jadi terbuang."
"Iya, sama-sama, ini juga kan sekalian
perpisahan kita. Jaga buku tadi baik-baik ya."
"Oke kek, sip deh!" telepon kakek
berdering.
"Halo, Pak?" ucap Marko supir pribadi
kakek itu yang menunggu di mobil. Dia adalah tukang antar jemput saat kakek
lagi di Malang.
"Halo? Kenapa Mar?" ucap kakek.
"Pak, ini pesawat nya berangkat 3 jam lagi
ya Pak."
"Wah, ya sudah jemput bapak ke cafe di
perempatan jalan Universitas Brawijaya."
"Baik Pak."
"Kakek udah mau pulang?"
"Iya, nanti kakek terlambat masuk
pesawat."
"Yasudah kek, hati-hati di perjalanan ya
kek, terima kasih banyak."
"Iya, sudah berapa kali bilang makasih?
Kakek juga kan dibantu sama kamu."
"Hehe, iya kek gapapa kok."
Klakson mobil berbunyi dari tepi jalan.
"Tuh kek, mobilnya udah sampai."
"Eh iya, kita berpisah disini ya, sampai
jumpa lagi."
"Iya kek, nanti kalau udah dibandara
kabarin sama aku ya kek!"
"Iya, nanti kakek WA."
"Kakek berangkat ya."
"Iya Kek, senang bertemu dengan
kakek."
Kakek itu pun masuk kedalam mobil dan berangkat
menuju bandara. Jam menunjukkan pukul 14.15, aku memutuskan untuk pulang, karena
masih ngantuk karena tadi malam begadang.
....
Pukul 15.17. Aku sudah sampai di rumah, jam tiga
sore, chat kakek muncul di handphone ku.
"Em,
semoga kakek baik-baik aja sampai di tujuan," benakku.
"Tidur dulu ah."
....
"Haaah, akhirnya segar juga bisa tisur
nyenyak," aku baru saja bangun jam 17.30.
"Scroll IG dlu ah."
Baru saja membuka Instagram, aku dikejutkan
dengan berita duka di beranda ku.
"Kakek! Astaga, semoga saja tidak terjadi
apa-apa pada kakek ya Tuhan."
Saat itu aku sangat cemas, bagaimana tidak,kakek
baru saja berangkat tadi siang, dan aku mendapat berita seperti itu sekarang. Aku
pun mencoba menghubungi kakek beberapa kali, namun tidak ada jawaban.
Khawatir, cemas, takut, semua
bercampur aduk saat itu.
"Aduh, ini gimana sih!
Chat ku ga dibalas, telepon juga ga diangkat sama kakek."
"Nomor pesawat kakek
juga aku gak tau lagi."
Berdoa, itu saja yang dapat
kulakukan saat itu, berharap agar tidak terjadi apa-apa pada kakek. Semoga nama
kakek tidak tertulis di dalam daftar penumpang pesawat itu, yang katanya akan
di share secepat mungkin oleh BNPB.
....
Berselang satu jam setelah
berita itu,datang lah berita mengenai daftar penumpang pesawat jatuh itu. Aku
pun segera men-download file tersebut. Satu per satu nama penumpang kubaca, ternyata
semua berbandjng terbalik dengan harapan ku. Nama Michael Neel's tertulis
didalam daftar penumpang itu. Sontak hatiku tersayat, air mata ku keluar dengan
sendirinya.
"Kakek....kenapa bisa
jadi kayak gini kek..." ucapku sambil menangis.
"Kukira kakek bakal
bisa jadi kakek pengganti ku, tapi kenapa kakek juga ninggalin aku
sekarang."
Tidak sebentar aku
menangisi berita tentang kakek itu, mungkin aku agak berlebihan, tapi aku sudah
merasa dekat dengan kakek itu, karena aku sangat menghargai kehadiran seorang
kakek di hidupku, setelah kakek ku dulu meninggal. Aku berusaha menenangkan
diri, dan mencari nomor handphone supir pribadi kakek yang tadi siang kuminta
sebelum kami keluar dari mobil.
"Akhirnya dapat juga, bapak
ini tau alamat kakek itu dimana," ucapku sambil langsung menelfon nomor
bapak itu. Setelah beberapa kali akhirnya telpon ku dijawab.
"Halo, Pak?
"Iya, siapa ini?"
*Ini aku Pak! Yang tadi
siang minta nomor di mobil"
"Oh kamu. Ada apa, cepat
katakan bapak lagi buru-buru ini. Kamu kan udah tau beritanya?"
"Iya Pak, aku sangat
sedih nama kakek ada di dalam daftar penumpang itu. Aku mau nanya alamat kakek
di Bandung dimana, setidaknya aku masih bisa melihat nya untuk yang terakhir
kalinya."
"Hanya itu? Iya,nanti
bapak kirim secepatnya. Dari chat aja, soalnya bapak lagi di perjalanan menuju
bandara."
"Oke Pak, makasih ya
pak. Hati-hati" telepon langsung dimatikan oleh Pak Marko. Aku pun
menunggu chat dari nya beberapa jam. Hingga pukul 22.00,aku masih menunggu
nya,dan belum dikirim juga.
"Knapa lama banget ya,
huh, aku mau liat kakek. Tapi mungkin Pak Marko lagi sibuk, tunggu lagi
aja."
Aku menunggu, dan tertidur
karena sudah mulai ngantuk, sehingga aku tertidur karena alamat kakek belum
dikirim.
....
Pukul 04.30, aku segera
mencek handphone ku, dan alamat nya sudah dikirim oleh Pak Marko. Aku segera
membuka nya, dan memesan tiket menuju kesana sesegera mungkin. Untungnya aku
memiliki tabungan yang bisa kupakai untuk biaya ada hari itu.
"Oke, tiketnya udah
aku pesan. Langsung siap-siap aja ah, biar nanti ga terlambat. Pesawatnya kan
berangkat jam delapan."
Aku segera bersiap-siap dan
pukul 05.15 aku pun langsung pergi ke bandara.
....
Sesampainya di
bandara,pukul 07.30, aku duduk di kursi tunggu masuk pesawat, sambil memikirkan
kakek.
"Kok bisa sih, kakek
ninggalin aku juga," khayal ku karena masih belum menyangka tragedi itu
ikut menimpa kakek.
"Ayok kak, pesawatnya
udah mau berangkat," ucap seorang remaja padaku, karena aku sedang
mebghayal.
"Eh iya, duluan
dek."
Pesawat pun berangkat,dan
aku berdoa agar aku sampai disana dengan selamat. Karena masih memikirkan
kakek,aku pun memutuskan untuk tidur saja, agar tidak terlalu lelah.
"Kayak nya aku tidur
aja, kalo mikirkan itu terus nanti penyakit ku kambuh disini lagi."
....
Pesawat tiba di Bandara
Internasional Jawa Barat Kertajati.
"Dek, bangun.Udah
sampai."ucap pramugari membangunkan ku.
"Oh iya kak, makasih
kak."
Setelah keluar dari
pesawat, aku langsung memesan taksi menuju tempat kediaman kakek, sesuai yang
dikirim Pak Marko tadi pagi. Jam 11.00, sudah hampir sampai di kediaman kakek.
"Didepan sana ya pak,
yang lagi ramai disana." ucapku sambil menunjuk ke arah rumah yang sangat
ramai itu, mulai dari warga sekitar, dosen dari beberapa universitas, dan beberapa
mahasiswa-mahasiswi dari UI. Banyak papan bunga berisikan "Turut Berduka
Cita". Kesedihan mulai bertambah disaat aku turun dari mobil, aku masih
mencari dimana jasad kakek berada, karena sangat ramai.
Bicara di telpon.
"Halo pak Mar?"
"Kamu udah nyampe?"
"Udah pak, bapak
dimana? aku enggak bisa liat kakek, rame banget disini."
"Kamu dimana
nya?" ucap pak Marko, sambil kebetulan melihat aku.
"Eh pak! Aku mau liat
kakek bisa kan?" ucapku sambil mulai menangis.
"Sini ikut bapak,
cepat, sebentar lagi jenazah nya dibawa ke pemakaman."
Aku pun mengikuti bapak
itu, menuju ke peti kakek. Belum sampai di depan jenazah kakek, aku sudah
menangis kencang.
"Kakek...Kenapa bisa
gini kek?...Kakek pergi juga dari aku sekarang..."tangis ku sambil
meletakkan dagu di peti kakek. Setelah beberapa menit menangis, aku pun
berusaha meredakan air mataku.
"Sudah nak, janaxah
kakek udah mau dibawa ke pemakaman."
"Iya
pak...Baik.."
Peti kakek pun ditutup,
ternyata itu adalah hari terakhir ku melihat kakek untuk selama-lamanya. Aku
ikut ke pemakaman untuk menguburkan kakek.
Sesampainya di pemakaman,
proses pemakaman kakek pun dimulai, pak Marko merangkul punggungku.
"Jangan sedih lagi ,
kakek udah senang disana, bersama Sang Pencipta."
"Iya pak, kakek juga
yang ngajarin aku biar bisa menerima sebuah kehilangan."
"Itu benar."
....
Aku lega, karena kakek
sudah tenang di sana, bersama sang Pencipta. Aku hanya bisa mengenang kakek,
dan tidak akan menyesali kepergian kakek terlalu dalam. Karena hidup harus
terus berlanjut. Kepergian orang terkasih
akan lebih berarti ketika kita dapat menjadikan itu sebagai motivasi untuk
lebih semangat kedepannya.
Tidak ada yang tau kapan
kematian itu datang menghampiri. Kakek, aku, dan kita semua tidak akan tau
mengenai hal itu. Aku berjalan melewati kuburan demi kuburan, dan mulai
menyadari, memang betul pesan yang di katakan oleh kakek, bahwa sejatinya hidup
kita adalah tentang kembali ke pelukanNya.
Editor : Ryan Anggi D Simbolon.
Penulis adalah Siswa SMA NEGERI I PURBA




Tidak ada komentar:
Posting Komentar