Karya : Mia Engie Bestari Saragih
Malam begitu tenang, langit
dihiasi oleh bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang
bersinar terang menebar cahaya berkilauan. Sesekali terdengar suara jangkrik
dan burung malam memecah keheningan. Udara terasa dingin dan menyegarkan
membuat diriku yang sedang belajar tetap fokus dan semangat di meja belajarku.
Materi yang telah di ajarkan guru kupelajari kembali, aku bersungguh-sungguh dalam mempelajari materi pelajaran ini agar aku bisa menjawab ujian harian besok dengan nilai yang paling tinggi. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB.
"Putri, sudah jam berapa ini , sudahi
belajarmu sekarang waktunya untuk
tidur," ucap mamaku.
"Bentar lagi mah, besok aku ujian jadi
aku harus fokus," balasku.
"Oke baiklah, jangan telat tidurnya yah,"
balas mamaku dengan nada ngantuk.
Aku kembali melanjutkan
belajarku sambil memutar musik yang sendu untuk meningkatkan kefokusanku. Satu
jam kemudian, aku sudah merasa lelah dan ngantuk jadi aku mengakhiri belajarku
dan pergi ke kamarku untuk tidur.
Jam 05:00 WIB aku bangun dan berdoa, tidak lupa aku
juga merapikan tempat tidurku. Setelah itu, aku pergi ke meja belajar untuk
mempelajari kembali pelajaran yang tadi malam. Jam 06:00 WIB aku mulai bergegas pergi ke sekolah. Aku
mandi dan sarapan.
"Pagi
Mah, Pah," sapaku.
"Selamat
pagi juga sayang," balas mama dan papaku
"Pagi
ini kamu keliatan semangat, ada apa nih?" tanya papaku
"Iya
dong Pah, hari ini kami ujian harian, aku sudah belajar dari tadi malam pasti
aku bakal dapat nilai tinggi,"
"Papah
punya pesan buat kamu, nanti ngerjakan ujiannya kamu harus jujur jangan
melakukan kecurangan," ucap papaku.
"Iya
nak kamu ga boleh curang. Kamu harus yakin pada dirimu kalo kamu bisa tanpa
mencontek,"
"Nah
sekarang kita sarapan dulu yah," sambung mamaku
"Baik
mah.”
Jam 06:30 WIB, aku dan papaku
pamitan ke mama. Aku pergi ke sekolah dan ayahku pergi ke kantor. Aku berangkat
ke sekolah di antar ayahku, di mobil aku membaca buku yang berisikan materi yang kupelajari.
Sesampainya
di sekolah, aku berkumpul dengan temanku yaitu Amanda dan Rizky.
"Put,
kamu udah belajar materi yang akan di ujiankan hari ini?" Tanya Amanda
"Udah
dong, kalian gimana?" tanyaku.
"Aku
juga udah kok," balas Amanda.
"Aku
sih belum ada belajar, tadi malam aku main game jadi lupa waktu," jawab
Rizky
"Lahk,
kan kamu tau kita ujian hari ini,kenapa kamu kebablasan main game nya, ujianmu
nanti gimana?" tanya Amanda.
"Ahk
ngapain belajar, aku punya kopekan kok, kalian mau?" jawab Rizky.
"Gak
mau ahk, aku gamau berbuat curang," jawabku kepada Rizky dengan rasa
percaya diri.
Bel berbunyi kami masuk kedalam
kelas. Ujian kini berlangsung, Bu Nani guru bahasa Indonesia ku membagi soal
ujian . Aku membaca soal itu. Aku mengerjakan ujian itu dengan semangat dan
jujur. Aku melihat teman sekelasku banyak mencontek bahkan membuat kopekan/
catatan kecil. Namun aku tidak perduli, aku tetap melanjutkan ujianku dengan
jujur dan percaya diri.
Satu jam telah berlalu, lembar jawaban
kini di kumpul. Ibu Nani langsung memeriksa lembar jawaban kami. Setelah Ibu
Nani selesai mengoreksi, dia langsung membagikan lembar jawaban. Aku kaget
mendapat nilai 87, sedangkan temanku yang mencontek mendapatkan nilai 90. Aku
sangat kecewa, padahal aku sudah berusaha semampuku tapi nilaiku masih di bawah
temanku yang mencontek.
"Putri,
kamu dapat nilai berapa?" tanya Rizky.
"Aku
cuma dapat 87," balasku dengan nada sedih.
"Lahk
kok cuma dapat 87, tapi kamu sudah belajar tadi malam kok nilaimu masih dibawah
nilaiku padahal aku tidak belajar," ucap Rizky.
"Emang
kamu dapat nilai berapa?" tanyaku
"Aku
dapat nilai 92, tadi aku udah nawarin kopekan untukmu tapi kamu malah
nolak,"
"Emmm
yaudalah gapapa," ucapku
"Besokan
kita ujian fisika, nah kamu bikin catatan kecil aja biar dapat nilai
tinggi," ucap Rizky
"Liat
nanti deh, aku lagi badmood." jawabku sembari memikirkan apakah besok aku
tetap jujur atau curang. Namun, ketika aku melihat nilaiku yang masih di bawah
temanku yang curang, jadi aku berniat untuk curang juga.
Kini malam telah tiba, namun
tidak diiringi oleh bintang -bintang. Aku menuliskan catatan kecil untuk ujian
fisika besok, setelah itu aku scroll tik tok ,dan main game. Aku tidak belajar,
aku hanya sibuk bermain.
"Nak,
kamu tadi dapat nilai ujian
berapa?" tanya mamaku.
"Nilai
87 mah," jawabku dengan nada putus asa.
"Kok
kamu keliatan sedih? nilai kamu bagus
kok," ucap papaku
"Aku
udah berusaha sebisaku tapi nilaiku malah di bawah nilai teman temanku yang
curang, kan ga adil pah," rengekku pada papa.
"Meskipun
nilaimu cuma dapat 87 kamu harus bangga, karena itu nilaimu yang real,
dibandingkan mereka yang mendapat nilai tinggi tapi dengan cara kecurangannya,"
jawab mamaku.
Aku tidak memperdulikan perkataan ayah
dan ibuku, aku tetap berniat untuk curang juga supaya aku bisa mendapat nilai
tinggi. Paginya, aku melanjutkan aktivitasku namun aku tidak belajar, aku hanya
berdoa dan merapikan tempat tidurku dan mandi lalu sarapan.
Sesampainya di sekolah, ujian fisika
kini berlangsung. Pak Jodi kini membagikan soal ujian. Aku mengerjakan ujian
dengan curang namun aku tampak gugup, karena ini pertama kali aku curang dalam
ujian. Pak Jodi pergi meninggalkan kelas kami, jadi aku berusaha secepat
mungkin mengerjakan ujianku sambil membaca catatan kecil yang kutuliskan tadi
malam. 15 menit kemudian bapak itu datang dan mengawasi kami . Aku hanya
berpura - pura serius mengerjakan ujianku padahal lembar jawabanku telah
terisi.
Satu jam kemudian, ujian kini telah
selesai dan lembar jawaban telah di kumpulkan. Bapak itu langsung mengoreksi
hasil ujian kami. Aku sangat yakin aku
pasti dapat nilai tinggi karena aku sudah membuat catatan kecil sama seperti
temanku yang curang. Ketika pak Jodi membagikan lembar jawaban kembali diriku
merasakan kecewa, bagaimana tidak aku mendapat nilai 30 padahal aku sudah
berbuat curang sama seperti yang di lakukan teman temanku. Aku sangat kecewa
dan sedih.
Aku merenung saat aku melakukan
ujianku dengan jujur, aku mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan saat
aku melakukan kecurangan. Jadi aku berprinsip untuk tidak melakukan kecurangan
dan tetap berbuat jujur pada ujian berikutnya.
Besok kami ujian matematika, aku
belajar mulai dari siang sampai malam, aku juga berdoa supaya Tuhan memberiku
kemudahan dalam mengerjakan ujianku besok.
Keesokan harinya kami melakukan ujian matematika, aku mengerjakan
ujianku dengan jujur, aku bekerja keras dalam mengerjakan ujianku.
Satu jam kemudian,
telah ujian selesai lembar jawaban kini telah dikumpulkan. Bu Wati guru
matematika kami langsung mengoreksi lembar jawaban kami dan setelah selesai dia
langsung membagikan hasil ujian kami.
"Baik,
saya akan membacakan nilai hasil ujian satu persatu , jika nilainya dibawah KKM
maka akan remedial." ucap Bu Wati
Aku sangat
tegang mendengar perkataan Bu Wati.
"Nilai
tertinggi jatuh kepada..... Putri... dengan nilai 95." ucap Bu Wati
Aku sangat senang dan bangga
mendapatkan nilai 95, aku mendapatkan nilai yang paling tinggi di kelasku,
teman temanku memberikan ucapan selamat kepadaku. Dari kisah ini aku belajar
bahwa "jujur di awal akan terasa lebih baik daripada berbohong di
sepanjang jalan, jujur itu membawa bahagia walaupun awalnya itu sulit."
Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba
Editor:Elys Silalahi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar