Rabu, 19 Oktober 2022

KEJUJURAN

        


                

                                                      Karya : Mia Engie Bestari Saragih

 

                 Malam begitu tenang, langit dihiasi oleh bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan. Sesekali terdengar suara jangkrik dan burung malam memecah keheningan. Udara terasa dingin dan menyegarkan membuat diriku yang sedang belajar tetap fokus dan semangat di meja belajarku.

             Materi yang telah di ajarkan guru kupelajari kembali, aku bersungguh-sungguh dalam  mempelajari materi pelajaran ini agar aku bisa menjawab ujian harian besok dengan nilai yang paling  tinggi. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB.

  "Putri, sudah jam berapa ini , sudahi belajarmu sekarang waktunya  untuk tidur," ucap mamaku.

  "Bentar lagi mah, besok aku ujian jadi aku harus fokus," balasku.

  "Oke baiklah, jangan telat tidurnya yah," balas mamaku  dengan nada ngantuk.

                 Aku kembali melanjutkan belajarku sambil memutar musik yang sendu untuk meningkatkan kefokusanku. Satu jam kemudian, aku sudah merasa lelah dan ngantuk jadi aku mengakhiri belajarku dan pergi ke kamarku untuk tidur.

                Jam 05:00  WIB aku bangun dan berdoa, tidak lupa aku juga merapikan tempat tidurku. Setelah itu, aku pergi ke meja belajar untuk mempelajari kembali pelajaran yang tadi malam. Jam 06:00  WIB aku mulai bergegas pergi ke sekolah. Aku mandi dan sarapan.

"Pagi Mah, Pah," sapaku.

"Selamat pagi juga sayang," balas mama dan papaku

"Pagi ini kamu keliatan semangat, ada apa nih?" tanya papaku

"Iya dong Pah, hari ini kami ujian harian, aku sudah belajar dari tadi malam pasti aku bakal dapat nilai tinggi,"

"Papah punya pesan buat kamu, nanti ngerjakan ujiannya kamu harus jujur jangan melakukan kecurangan," ucap papaku.

"Iya nak kamu ga boleh curang. Kamu harus yakin pada dirimu kalo kamu bisa tanpa mencontek,"

"Nah sekarang kita sarapan dulu yah," sambung mamaku

"Baik mah.”

            Jam 06:30 WIB, aku dan papaku pamitan ke mama. Aku pergi ke sekolah dan ayahku pergi ke kantor. Aku berangkat ke sekolah di antar ayahku, di mobil aku membaca  buku yang berisikan materi yang kupelajari.

Sesampainya di sekolah, aku berkumpul dengan temanku yaitu Amanda dan Rizky.

"Put, kamu udah belajar materi yang akan di ujiankan hari ini?" Tanya Amanda

"Udah dong, kalian gimana?" tanyaku.

"Aku juga udah kok," balas Amanda.

"Aku sih belum ada belajar, tadi malam aku main game jadi lupa waktu," jawab Rizky

"Lahk, kan kamu tau kita ujian hari ini,kenapa kamu kebablasan main game nya, ujianmu nanti gimana?" tanya Amanda.

"Ahk ngapain belajar, aku punya kopekan kok, kalian mau?" jawab Rizky.

"Gak mau ahk, aku gamau berbuat curang," jawabku kepada Rizky dengan rasa percaya diri.

              Bel berbunyi kami masuk kedalam kelas. Ujian kini berlangsung, Bu Nani guru bahasa Indonesia ku membagi soal ujian . Aku membaca soal itu. Aku mengerjakan ujian itu dengan semangat dan jujur. Aku melihat teman sekelasku banyak mencontek bahkan membuat kopekan/ catatan kecil. Namun aku tidak perduli, aku tetap melanjutkan ujianku dengan jujur dan percaya diri.

         Satu jam telah berlalu, lembar jawaban kini di kumpul. Ibu Nani langsung memeriksa lembar jawaban kami. Setelah Ibu Nani selesai mengoreksi, dia langsung membagikan lembar jawaban. Aku kaget mendapat nilai 87, sedangkan temanku yang mencontek mendapatkan nilai 90. Aku sangat kecewa, padahal aku sudah berusaha semampuku tapi nilaiku masih di bawah temanku yang mencontek.

"Putri, kamu dapat nilai berapa?" tanya Rizky.

"Aku cuma dapat 87," balasku dengan nada sedih.

"Lahk kok cuma dapat 87, tapi kamu sudah belajar tadi malam kok nilaimu masih dibawah nilaiku padahal aku tidak belajar," ucap Rizky.

"Emang kamu dapat nilai berapa?" tanyaku

"Aku dapat nilai 92, tadi aku udah nawarin kopekan untukmu tapi kamu malah nolak,"

"Emmm yaudalah gapapa," ucapku

"Besokan kita ujian fisika, nah kamu bikin catatan kecil aja biar dapat nilai tinggi," ucap Rizky

"Liat nanti deh, aku lagi badmood." jawabku sembari memikirkan apakah besok aku tetap jujur atau curang. Namun, ketika aku melihat nilaiku yang masih di bawah temanku yang curang, jadi aku berniat untuk curang juga.

              Kini malam telah tiba, namun tidak diiringi oleh bintang -bintang. Aku menuliskan catatan kecil untuk ujian fisika besok, setelah itu aku scroll tik tok ,dan main game. Aku tidak belajar, aku hanya sibuk bermain.

"Nak, kamu tadi dapat nilai ujian  berapa?" tanya mamaku.

"Nilai 87 mah," jawabku dengan nada putus asa.

"Kok kamu keliatan sedih?  nilai kamu bagus kok," ucap papaku

"Aku udah berusaha sebisaku tapi nilaiku malah di bawah nilai teman temanku yang curang, kan ga adil pah," rengekku pada papa.

"Meskipun nilaimu cuma dapat 87 kamu harus bangga, karena itu nilaimu yang real, dibandingkan mereka yang mendapat nilai tinggi tapi dengan cara kecurangannya," jawab mamaku.

         Aku tidak memperdulikan perkataan ayah dan ibuku, aku tetap berniat untuk curang juga supaya aku bisa mendapat nilai tinggi. Paginya, aku melanjutkan aktivitasku namun aku tidak belajar, aku hanya berdoa dan merapikan tempat tidurku dan mandi lalu sarapan.

           Sesampainya di sekolah, ujian fisika kini berlangsung. Pak Jodi kini membagikan soal ujian. Aku mengerjakan ujian dengan curang namun aku tampak gugup, karena ini pertama kali aku curang dalam ujian. Pak Jodi pergi meninggalkan kelas kami, jadi aku berusaha secepat mungkin mengerjakan ujianku sambil membaca catatan kecil yang kutuliskan tadi malam. 15 menit kemudian bapak itu datang dan mengawasi kami . Aku hanya berpura - pura serius mengerjakan ujianku padahal lembar jawabanku telah terisi.

       Satu jam kemudian, ujian kini telah selesai dan lembar jawaban telah di kumpulkan. Bapak itu langsung mengoreksi hasil ujian kami.  Aku sangat yakin aku pasti dapat nilai tinggi karena aku sudah membuat catatan kecil sama seperti temanku yang curang. Ketika pak Jodi membagikan lembar jawaban kembali diriku merasakan kecewa, bagaimana tidak aku mendapat nilai 30 padahal aku sudah berbuat curang sama seperti yang di lakukan teman temanku. Aku sangat kecewa dan sedih.

                Aku merenung saat aku melakukan ujianku dengan jujur, aku mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan saat aku melakukan kecurangan. Jadi aku berprinsip untuk tidak melakukan kecurangan dan tetap berbuat jujur pada ujian berikutnya.

          Besok kami ujian matematika, aku belajar mulai dari siang sampai malam, aku juga berdoa supaya Tuhan memberiku kemudahan dalam mengerjakan ujianku besok.  Keesokan harinya kami melakukan ujian matematika, aku mengerjakan ujianku dengan jujur, aku bekerja keras dalam mengerjakan ujianku. 

        Satu jam  kemudian,  telah ujian selesai lembar jawaban kini telah dikumpulkan. Bu Wati guru matematika kami langsung mengoreksi lembar jawaban kami dan setelah selesai dia langsung membagikan hasil ujian kami.

"Baik, saya akan membacakan nilai hasil ujian satu persatu , jika nilainya dibawah KKM maka akan remedial." ucap Bu Wati

Aku sangat tegang mendengar perkataan Bu Wati.

"Nilai tertinggi jatuh kepada..... Putri... dengan nilai 95."  ucap Bu Wati

 

               Aku sangat senang dan bangga mendapatkan nilai 95, aku mendapatkan nilai yang paling tinggi di kelasku, teman temanku memberikan ucapan selamat kepadaku. Dari kisah ini aku belajar bahwa "jujur di awal akan terasa lebih baik daripada berbohong di sepanjang jalan, jujur itu membawa bahagia walaupun awalnya itu sulit."

 

 

 

 

                                                           Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

                                                           Editor:Elys Silalahi 

 

 

 

 

      

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...