Kamis, 20 Oktober 2022

cat curse



                                                                  Karya Elly Saragih

                                                   

"Krinngggggg"

          Bunyi alarmku berbunyi,tandanya aku harus bangun untuk beraktivitas.Tapi dengan rasa kantuk yang masih sangat mendominasi aku mematikan alarm itu.Lalu ku lanjutkan tidurku dan menyelam kembali ke dalam dunia mimpiku.

Tak lama Ibuku mengetuk pintu kamarku.

"Sayang bangun, liat sudah jam berapa, nanti kamu terlambat berangkat ke sekolahnya." Ujar ibuku dengan suaranya yang khas lemah lembut.

"ckkkkkkk"

Aku mendecak malas dan terpaksa bangun agar tidak mendengar suara wanita tua itu.

Aku adalah orang yang keras kepala, pemarah dan suka melawan pada orang tua terutama pada Ibuku.

"Iya iya," ucapku malas sambil berlalu melewati Ibuku.

Ku nyalakan air dan aku mulai membersihkan seluruh tubuhku.

Setelah selesai aku memakai seragam sekolah lalu duduk di meja makan.

"Ini makan yang banyak yaa sayang biar di sekolah kamu kuat, yang pintar yaaa belajarnya di sekolah biar Ayah bangga sama Lana ," dengan wajah memelas aku mendengar ocehan ibuku yang menurut ku tidak berguna sama sekali.

"Kapan Ayah pulang?" Tanyaku pada Ibu.

"Kayaknya masih lama Lana, Ayah lagi banyak kerjaan akhir-akhir ini jadi susah buat luangin waktu untuk sekadar pulang ke rumah." Jawab Ibuku sembari tersenyum. Setelah itu aku meninggalkan Ibuku di meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Saat aku ingin keluar dari rumah Ibuku memeluk dari belakang aku refleks menghempaskan tangannya dari tubuhku.

"Apasih Bu."

"Ibu cuma mau meluk kamu Lana."

"Udah deh gak penting. "

Aku beranjak dari sana dan meninggalkan Ibuku.

   Di sekolah aku merasa lebih baik daripada berada di rumah bertemu dengan wanita tua itu.

"Lana, gimana lo sama tante Cath dah baikan?" Tanya Anggi teman dekatku

"Lo gk bisa bahas yang lain aja,gue males dengar itu mulu Anggi."

"Lan nggak baik lo, masa lo mau gitu terus sih sama tante Cath kasian tau,karena gimanapun itu tetap Ibu kamu, masa kamu masih aja nyimpan dendam sama kejadian beberapa tahun lalu." Udah deh lo bilang gitu karena bukan lo yang rasain tapi gue," ucapku agak sedikit kasar, aku berlalu meninggalkan Anggi dengan wajah terkejutnya.

      Bel pulang berbunyi semua murid-murid lari berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. "Kamu udah pulang sayang?" Ku tolehkan kepalaku ke belakang ternyata Ibuku sedang duduk di sofa ruang depan. "Ibu liat aja sendiri," aku berjalan meninggalkan Ibuku dengan tatapan yang sedikit sendu, ada sedikit rasa kasian tapi egoku sulit untuk dikalahkan. "Hari ini lelah sekali, padahal aku gak ada ngapa ngapain sama sekali," monologku.

    Setelah membersihkan diri aku memilih untuk merebahkan tubuhku di atas ranjang tidurku. Sembari aku merebahkan tubuhku aku membuka ponsel pintarku dan mengecek apa ada sesuatu yang penting, ternyata tidak ada sama sekali. Lalu ku letakkan kembali ponsel itu dan mulai memejamkan mataku, lambat laun aku mulai masuk kedalam dunia mimpiku.

    Aku terbangun karena mendengar sesuatu seperti suara sirine, kulihat kiri kanan aku sudah tidak berada didalam kamarku lagi, tempat dimana aku terakhir kali untuk beristirahat sejenak, saat ini  aku berada di tengah padatnya jalanan kota dan suara sirine tadi, ternyata milik ambulans yang baru saja lewat dari depanku. "Tunggu kenapa semua kendaraan dan benda-benda di sekelilingku berukuran lebih besar dari biasanya apa yang terjadi." Aku mulai ketakutan kutelusuri pinggir jalan dengan hati-hati sampai tiba aku melewati sebuah genangan air,aku terkejut bukan main bagaimana tidak aku melihat seekor kucing hitam sedang berkaca di atas genangan air dan itu adalah aku. Aku berubah menjadi seekor kucing hitam. Aku menangis, berteriak meminta tolong pada Ibuku, namun nihil karena tidak ada satupun yang bisa mendengarkan suaraku.

    Aku sudah lelah tidak tau arah, dipikiranku hanya ingin memeluk dan menangis dipelukan Ibu.Dengan berjalan perlahan-lahan aku menyusuri jalanan yang ramai itu, menyeberangi jalanan dan aku sempat beberapa kali hampir ditabrak oleh mobil.Tak lama setelah itu seseorang wanita mengangkatku, aku tidak mengenalnya sama sekali,dia membawaku ke dalam mobilnya dan ohhh tidak dia sepertinya akan membawaku pergi. "Apa aku melompat saja,tapi jika aku melompat aku bisa mati di tabrak oleh kendaraan yang lain," aku bingung mau berbuat apa dan akupun memilih untuk diam.

    Jarak yang di tempuh tidak terlalu jauh, aku bersama wanita tadi sudah sampai disebuah rumah yang lumayan besar. Dia keluar meninggalkanku didalam mobil. Tak lama setelahnya aku mendengar derap kaki yang melangkah mendekati mobil dan dia kembali.

"Aku hampir saja meninggalkanmu kucing manis mulai sekarang kau akan menjadi kucingku, jadilah kucing yang baik dan penurut," ucapnya sambil mengelus kepalaku.

"Mama pulang."

Tiba-tiba seorang anak kecil yang mungkin berusia 7 tahunan berlari dan memeluk wanita yang sedang menggendongku yang dia panggil mama. Dia seperti terkejut melihatku.

"Mah, ini kucing siapa kok jelek sihh," aku merasa sangat jengkel dengan perkataan anak ini aku ingin sekali memukulnya.

"Ini kucing jalanan, tadi mama liat dia sendirian jadi mama ambil aja biar kamu juga punya teman dirumah."

"Kan mama bisa beli kucing lain di pet shop yang lebih cantik."

"Mama kasian liat kucingnya sayang."

"Ini kamu pegang dulu, mama mau ke dapur bentar lagi papa kamu pulang dari kantor," ucap wanita itu pada sang anak. Dia menggendongku, kulihat raut wajahnya dia sepertinya tidak suka denganku.

    Setelah Ibunya pergi dia membawaku ke dalam sebuah ruangan yang kutebak ini adalah kamarnya. Tiba-tiba aja dia melempar sebuah bantal kepadaku dan bantal itupun menimpa tubuhku, lalu diambilnya bantal itu dan dia melihatku lagi

"Kupikir kau mati, ternyata  masih hidup."

Karena aku merasa sangat jengkel aku mencakar wajahnya, dia marah dan membantingku ke atas lantai.

"Dasar kucing sialan," ucapnya sambil mengambil bantal dan ingin melemparkannya ke arahku lagi. Aku berlari berusaha menghindar dari anak kecil berhati iblis ini dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya. Namun dia dapat menggapai kakiku dan menyeretku tanpa rasa kasian.

"Lebih baik aku mati saja daripada aku hidup tapi disiksa oleh anak kecil ini," ucapku dalam hati sambil menangis dan mengingat Ibuku. Sepertinya ini adalah kutukan buatku karena sering mengabaikan Ibuku.

   Bukan tanpa alasan aku sering mengabaikan Ibuku, itu karena dulu waktu aku berusia 6 tahun aku memiliki saudara laki-laki yang usianya berbeda 2 tahun dariku. Aku merasa semua kasih sayang kedua orangtuaku terutama Ibuku tertuju pada kakak laki-lakiku itu, Ibuku bahkan pernah mengabaikanku ketika aku sakit. Tak selang berapa lama kakak laki-lakiku itu meninggal aku tidak tau pasti apa yang membuat dia meninggal karena saat itu aku masih berusia sangat belia.

Tapi apa aku harus marah kepada Ibuku hanya karena masalah itu. Aku menyesal atas semua yang kulakukan kepada Ibuku.

   Kembali lagi kepada anak kecil itu dia terus saja menyiksaku, aku sudah cukup lelah sampai tiba aku melihat jendela kamarnya terbuka aku berlari ke arah jendela itu dan melompat, aku melompat dari atas ketinggian. Ternyata kamar anak itu berada di lantai dua. Aku terjatuh dan sekelilingku berubah menjadi hitam.

  "Lana bangun,kamu gak makan udah malam sayang."

Aku terbangun dan melihat Ibuku, aku memeluknya erat sangat erat sambil menangis.

"Eh kok kamu nangis sayang,ada apa sini cerita sama Ibu"ucap Ibuku sedikit khawatir.”

"Bu aku minta maaf,aku udah sering marah-marah sm Ibu,gak peduliin Ibu."

Sembari aku menangis Ibuku menceritakan semua yg terjadi pada masa itu.

Ibuku lebih memperhatikan Kakak laki-lakiku karena dia sudah mengidap penyakit Leukimia sejak umur 2 tahun.

Aku sekarang mengerti kenapa Ibuku melakukan semua itu kepada kakakku.

    Ternyata kejadian tadi hanya mimpi, kucing hitam, anak kecil berhati iblis, dan wanita yang memungutku dari jalanan semuanya mimpi.

Tapi dari mimpi itu aku jadi berbaikan dengan Ibuku, semua kesalahpahaman sudah terjawab.

Dari sini aku belajar memendam sesuatu dan membuat persepsi sendiri adalah sebuah kesalahan yang bisa membuat jarak antara kita dengan orang lain.

 

                                                                                                                            *Editor :Helen Purba

                                                                                   *Penulis adalah siswi SMA Negeri 1 Purba

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...