Karya Elly Saragih
"Krinngggggg"
Bunyi alarmku
berbunyi,tandanya aku harus bangun untuk beraktivitas.Tapi dengan rasa kantuk
yang masih sangat mendominasi aku mematikan alarm itu.Lalu ku lanjutkan tidurku
dan menyelam kembali ke dalam dunia mimpiku.
Tak lama Ibuku mengetuk pintu kamarku.
"Sayang bangun, liat sudah jam berapa, nanti kamu terlambat berangkat ke sekolahnya." Ujar ibuku dengan suaranya yang khas lemah lembut.
"ckkkkkkk"
Aku mendecak malas dan terpaksa bangun agar tidak mendengar
suara wanita tua itu.
Aku adalah orang yang keras kepala, pemarah dan suka melawan
pada orang tua terutama pada Ibuku.
"Iya iya," ucapku malas sambil berlalu melewati
Ibuku.
Ku nyalakan air dan aku mulai membersihkan seluruh tubuhku.
Setelah selesai aku memakai seragam sekolah lalu duduk di
meja makan.
"Ini makan yang banyak yaa sayang biar di sekolah kamu
kuat, yang pintar yaaa belajarnya di sekolah biar Ayah bangga sama Lana ,"
dengan wajah memelas aku mendengar ocehan ibuku yang menurut ku tidak berguna
sama sekali.
"Kapan Ayah pulang?" Tanyaku pada Ibu.
"Kayaknya masih lama Lana, Ayah lagi banyak kerjaan
akhir-akhir ini jadi susah buat luangin waktu untuk sekadar pulang ke
rumah." Jawab Ibuku sembari tersenyum. Setelah itu aku meninggalkan Ibuku
di meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Saat aku ingin keluar dari
rumah Ibuku memeluk dari belakang aku refleks menghempaskan tangannya dari
tubuhku.
"Apasih Bu."
"Ibu cuma mau meluk kamu Lana."
"Udah deh gak penting. "
Aku beranjak dari sana dan meninggalkan Ibuku.
Di sekolah aku
merasa lebih baik daripada berada di rumah bertemu dengan wanita tua itu.
"Lana, gimana lo sama tante Cath dah baikan?" Tanya
Anggi teman dekatku
"Lo gk bisa bahas yang lain aja,gue males dengar itu
mulu Anggi."
"Lan nggak baik lo, masa lo mau gitu terus sih sama
tante Cath kasian tau,karena gimanapun itu tetap Ibu kamu, masa kamu masih aja
nyimpan dendam sama kejadian beberapa tahun lalu." Udah deh lo bilang gitu
karena bukan lo yang rasain tapi gue," ucapku agak sedikit kasar, aku
berlalu meninggalkan Anggi dengan wajah terkejutnya.
Bel pulang
berbunyi semua murid-murid lari berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah
masing-masing. "Kamu udah pulang sayang?" Ku tolehkan kepalaku ke
belakang ternyata Ibuku sedang duduk di sofa ruang depan. "Ibu liat aja
sendiri," aku berjalan meninggalkan Ibuku dengan tatapan yang sedikit
sendu, ada sedikit rasa kasian tapi egoku sulit untuk dikalahkan. "Hari
ini lelah sekali, padahal aku gak ada ngapa ngapain sama sekali," monologku.
Setelah
membersihkan diri aku memilih untuk merebahkan tubuhku di atas ranjang tidurku.
Sembari aku merebahkan tubuhku aku membuka ponsel pintarku dan mengecek apa ada
sesuatu yang penting, ternyata tidak ada sama sekali. Lalu ku letakkan kembali
ponsel itu dan mulai memejamkan mataku, lambat laun aku mulai masuk kedalam
dunia mimpiku.
Aku terbangun
karena mendengar sesuatu seperti suara sirine, kulihat kiri kanan aku sudah
tidak berada didalam kamarku lagi, tempat dimana aku terakhir kali untuk
beristirahat sejenak, saat ini aku
berada di tengah padatnya jalanan kota dan suara sirine tadi, ternyata milik
ambulans yang baru saja lewat dari depanku. "Tunggu kenapa semua kendaraan
dan benda-benda di sekelilingku berukuran lebih besar dari biasanya apa yang
terjadi." Aku mulai ketakutan kutelusuri pinggir jalan dengan hati-hati
sampai tiba aku melewati sebuah genangan air,aku terkejut bukan main bagaimana
tidak aku melihat seekor kucing hitam sedang berkaca di atas genangan air dan
itu adalah aku. Aku berubah menjadi seekor kucing hitam. Aku menangis,
berteriak meminta tolong pada Ibuku, namun nihil karena tidak ada satupun yang
bisa mendengarkan suaraku.
Aku sudah lelah
tidak tau arah, dipikiranku hanya ingin memeluk dan menangis dipelukan
Ibu.Dengan berjalan perlahan-lahan aku menyusuri jalanan yang ramai itu,
menyeberangi jalanan dan aku sempat beberapa kali hampir ditabrak oleh
mobil.Tak lama setelah itu seseorang wanita mengangkatku, aku tidak mengenalnya
sama sekali,dia membawaku ke dalam mobilnya dan ohhh tidak dia sepertinya akan
membawaku pergi. "Apa aku melompat saja,tapi jika aku melompat aku bisa
mati di tabrak oleh kendaraan yang lain," aku bingung mau berbuat apa dan
akupun memilih untuk diam.
Jarak yang di
tempuh tidak terlalu jauh, aku bersama wanita tadi sudah sampai disebuah rumah
yang lumayan besar. Dia keluar meninggalkanku didalam mobil. Tak lama
setelahnya aku mendengar derap kaki yang melangkah mendekati mobil dan dia
kembali.
"Aku hampir saja meninggalkanmu kucing manis mulai sekarang
kau akan menjadi kucingku, jadilah kucing yang baik dan penurut," ucapnya
sambil mengelus kepalaku.
"Mama pulang."
Tiba-tiba seorang anak kecil yang mungkin berusia 7 tahunan
berlari dan memeluk wanita yang sedang menggendongku yang dia panggil mama. Dia
seperti terkejut melihatku.
"Mah, ini kucing siapa kok jelek sihh," aku merasa
sangat jengkel dengan perkataan anak ini aku ingin sekali memukulnya.
"Ini kucing jalanan, tadi mama liat dia sendirian jadi
mama ambil aja biar kamu juga punya teman dirumah."
"Kan mama bisa beli kucing lain di pet shop yang lebih
cantik."
"Mama kasian liat kucingnya sayang."
"Ini kamu pegang dulu, mama mau ke dapur bentar lagi
papa kamu pulang dari kantor," ucap wanita itu pada sang anak. Dia
menggendongku, kulihat raut wajahnya dia sepertinya tidak suka denganku.
Setelah
Ibunya pergi dia membawaku ke dalam sebuah ruangan yang kutebak ini adalah
kamarnya. Tiba-tiba aja dia melempar sebuah bantal kepadaku dan bantal itupun
menimpa tubuhku, lalu diambilnya bantal itu dan dia melihatku lagi
"Kupikir kau mati, ternyata masih hidup."
Karena aku merasa sangat jengkel aku mencakar wajahnya, dia
marah dan membantingku ke atas lantai.
"Dasar kucing sialan," ucapnya sambil mengambil
bantal dan ingin melemparkannya ke arahku lagi. Aku berlari berusaha menghindar
dari anak kecil berhati iblis ini dan bersembunyi di bawah kolong tempat
tidurnya. Namun dia dapat menggapai kakiku dan menyeretku tanpa rasa kasian.
"Lebih baik aku mati saja daripada aku hidup tapi
disiksa oleh anak kecil ini," ucapku dalam hati sambil menangis dan
mengingat Ibuku. Sepertinya ini adalah kutukan buatku karena sering mengabaikan
Ibuku.
Bukan tanpa alasan
aku sering mengabaikan Ibuku, itu karena dulu waktu aku berusia 6 tahun aku
memiliki saudara laki-laki yang usianya berbeda 2 tahun dariku. Aku merasa
semua kasih sayang kedua orangtuaku terutama Ibuku tertuju pada kakak
laki-lakiku itu, Ibuku bahkan pernah mengabaikanku ketika aku sakit. Tak selang
berapa lama kakak laki-lakiku itu meninggal aku tidak tau pasti apa yang
membuat dia meninggal karena saat itu aku masih berusia sangat belia.
Tapi apa aku harus marah kepada Ibuku hanya karena masalah
itu. Aku menyesal atas semua yang kulakukan kepada Ibuku.
Kembali lagi kepada
anak kecil itu dia terus saja menyiksaku, aku sudah cukup lelah sampai tiba aku
melihat jendela kamarnya terbuka aku berlari ke arah jendela itu dan melompat,
aku melompat dari atas ketinggian. Ternyata kamar anak itu berada di lantai
dua. Aku terjatuh dan sekelilingku berubah menjadi hitam.
"Lana
bangun,kamu gak makan udah malam sayang."
Aku terbangun dan melihat Ibuku, aku memeluknya erat sangat
erat sambil menangis.
"Eh kok kamu nangis sayang,ada apa sini cerita sama
Ibu"ucap Ibuku sedikit khawatir.”
"Bu aku minta maaf,aku udah sering marah-marah sm
Ibu,gak peduliin Ibu."
Sembari aku menangis Ibuku menceritakan semua yg terjadi pada
masa itu.
Ibuku lebih memperhatikan Kakak laki-lakiku karena dia sudah
mengidap penyakit Leukimia sejak umur 2 tahun.
Aku sekarang mengerti kenapa Ibuku melakukan semua itu kepada
kakakku.
Ternyata kejadian
tadi hanya mimpi, kucing hitam, anak kecil berhati iblis, dan wanita yang
memungutku dari jalanan semuanya mimpi.
Tapi dari mimpi itu aku jadi berbaikan dengan Ibuku, semua
kesalahpahaman sudah terjawab.
Dari sini aku belajar memendam sesuatu dan membuat persepsi
sendiri adalah sebuah kesalahan yang bisa membuat jarak antara kita dengan
orang lain.
*Editor :Helen Purba
*Penulis adalah siswi SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar