Putri adalah seorang yang baik,setia dan tidak bermuka dua, hampir semua cerita hidupnya dan hidupku kami saling mengetahuinya satu sama lain. Sejak SD sampai SMP kami sudah berteman baik. Sewaktu SMP kami satu kelas, apabila ada tugas yang terlalu banyak kami akan mengerjakan di rumah bersama-sama,karna kebetulan rumah kami saling berdekatan. Ketika kami tidak bersama 1 hari saja akan banyak yang bertanya kenapa kami tidak bersama seperti biasanya, bisa di katakan kami seperti kakak dan adik.
Panjang cerita
kami pun duduk di kelas 3 SMP,tiba-tiba ada pengumuman kami di minta untuk
keluar kelas dan berbaris di lapangan.
"Eh,woi kok kita di bariskan yaa?" Tanya nya
kepadaku.
"Dengar-dengar sih katanya dikarenakan ada virus
Covid-19 di Indonesia yang mulai menyebar dan gampang tertular, kita di
liburkan dulu sementara."
"Ohh, iyaa katanya virus itu bisa sampai buat orang
meninggal dunia loh."
"Iyaa, makanya untuk berjaga-jaga kita di
liburkan."
"Tapi gapapa kok, kan rumah kita berdekatan jadi kita
bisa belajar bersama."
2 Minggu pun
berlalu, tapi pemberitahuan dari sekolah belum ada untuk belajar kembali,jadi
libur pun terus berlanjut. Kami pun jadi jarang berjumpa, lantas aku pun
menchatnya untuk bermain-main ke rumah ku kebetulan hari itu hari Minggu.
"Putri..." kataku.
"Ada apa Jell?"
"Kamu sibuk ga? Kalau tidak main yok di rumah ku."
"Yukk,kebetulan kerjaan ku sudah siap semua."
Tak lama
kemudian dia pun datang ke rumah ku,kami sangat senang bercerita sampai tertawa
terbahak-bahak.
"Sudah lama ya kita tidak begini."
"Iyaa kan,coba aja kalau tidak ada Covid-19 ini, kita
sudah setiap hari tertawa di sekolah bersama yang lainnya."
Tak terasa sore
pun tiba,aku pun mengantar nya pulang.Beberapa minggu setelah itu kami sudah
jarang berjumpa, Kalau aku mengajak dia selalu punya alasan.Karena kami sudah
jarang jumpa, tak terasa karna covid kami sudah naik ke jenjang SMA dan kami
pun beda sekolah.
Suatu hari kami
berjumpa, kami membahas tentang sekolah kami, kebetulan kami beda sekolah.
"Eh, kita ga satu sekolah lagi yaa?"
"iyaa, tapi aku satu sekolah loh dengan Lia"
"Ohh," respon ku dengan perasaan iri.
"Pasti nanti kau lupakan la aku kan?"
"Engga lah, kau kan sahabat sejati ku."
"Asal lah."
Karena mereka
satu sekolah, mereka jadi sering bersama seperti apa yang ku lakukan dulu
bersamanya ketika kami satu sekolah. Aku berpikir apakah dia sudah mulai lupa
dengan ku? Aku sering duduk di teras rumah dan melihat mereka melintas dari
depan rumah ku menggunakan sepeda motor.Aku sering melihat mereka pergi
jalan-jalan melalui story' WhatsApp mau pun Instagram. Padahal kalau aku yang
ngajak dia selalu punya alasan untuk menolak ajakan ku. Mereka sering pergi
diam-diam tanpa sepengetahuan ku.
Suatu hari
ketika aku pergi ke warung aku berjumpa dengan Putri.
"Put,kau beli apa?"
"Emm,aku beli jajan," dengan perasaan gelisah.
"Ohh,kenapa kau kok kek gelisah ku tengok?"
"Gapapa kok,eh aku duluan yaa,bay."
"Ooookeee," ucapku dengan bingung.
Selesai
belanja aku penasaran mengapa dia begitu gelisah ketika ku ajak bicara,
ternyata ketika aku lewat dari depan rumah nyaa, aku melihat kereta Lia parkir
di samping rumahnya. Ternyata dia takut ketahuan oleh ku, karena dia sedang
bersama dengan Lia. Sampainya aku di rumah, ku buka ponsel ku dan ku chat
Putri.
"Putt, tadi waktu kita jumpa di warung,kamu terlihat
gelisah pasti karna ada Lia kan di rumah mu?"
"Maaf yaa, bukan bermaksud mau membohongi kau aku, kami
cuman sebatas ngerjain tugas sekolah aja kok."
"Gapapa kok Putt, aku udah sering liat kereta Lia
parkir di depan rumah mu."
Suatu ketika
kami tidak sengaja berjumpa,dia sedang bermain tik-tok bersama Lia
"Kok kalian setiap hari sama terus sih, emang setiap
hari ada tugas ya sampe hari minggu juga."
"Wajar dong kami selalu sama, kan kami satu sekolah,"
ucap Lia, dengan nada yang jengkel.
"Ohh, jadi ini nya alasan mu nolak ajakan ku terus, biar
kalian setiap hari bisa sama."
"Bukan gitu, kamu tenang aja ga ada kok yang bisa menggantikan
posisi mu sebagai sahabat ku."
"Udah lah ga usah bersandiwara kalau memang lebih asik
samanya, yaudah kau sahabat aja sama nya."
"Lucu kau, suka-suka nya lah berteman sama siapa aja,"
ucap Lia membela dirinya.
"Jangan mentang-mentang kalian satu sekolah ya, jadi
kau hasut dia ga suka sama ku."
"Udah la itu."
"Dulu aja waktu kau susah puttt, aku yang selalu di
samping, sekarang lagi senang kau samanya."
"Kami kan cuman ngerjain tugas kok sewott sihh, lagian
kan itu dulu waktu kalian masih satu sekolah, sekarang kan dia udah satu
sekolah dengan ku."
Aku pun pergi
dengan rasa kecewa, suatu ketika aku duduk di teras rumahku sambil main HP. Tak
sengaja ketika aku membuka status Putri yang berisi dia sedang jalan-jalan lagi
dengan Lia. Lantas aku pun langsung menchat Putri dan bertanya kepadanya.
"Putt, kamu lagi sama Lia kan?”
Dia tidak membalas
pesan ku sama sekali,bahkan aku udah spam dia berkali-kali, tidak tau di
sengaja atau tidak. Bahkan sekarang dia sudah bersikap dingin kepada ku dengan
kata lain dia sudah cuek dengan ku.
Sejak saat
itu aku ragu dengan perkataan nyaa karna sejak kejadian itu kami pun lost
contact dan aku hanya sebagai penonton di antara kebahagiaan yang mereka
lakukan di sosmed nya masing-masing.
Dari situ aku
belajar bahwa yang setia akan kalah dengan yang selalu ada di samping nya. Aku
tidak membenci, hanya saja aku kecewa karena dia lebih memilih sahabat baru
nya. Mulai hari itu esok dan sampai sekarang aku dan Putri belum berteman
layaknya seperti sahabat. Sekarang dia hanyalah masa lalu yang buruk bagiku. Sahabat
bukan mereka yang menghampirimu ketika butuh, namun mereka yang tetap bersamamu
ketika seluruh dunia menjauh.
Note: “Sahabat
adalah teman yang sangat berharga
Dan
sekaligus keluarga yang mulia,
Tetapi
di sisi lain, sahabat bisa menjadi musuh dalam sekejap.
Sahabat
adalah teman terdekat dan musuh terdekat kita.”
Editor : Ruth Mayoni
Penulis Siswa SMA N 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar