Jumat, 21 Oktober 2022

Bukan Perkara Perbedaan


  Karya:Natasya purba

 

      Putri adalah seorang yang baik,setia dan tidak bermuka dua, hampir semua cerita hidupnya dan hidupku kami saling mengetahuinya satu sama lain. Sejak SD sampai SMP kami sudah berteman baik. Sewaktu SMP kami satu kelas, apabila ada tugas yang terlalu banyak kami akan mengerjakan di rumah bersama-sama,karna kebetulan rumah kami saling berdekatan. Ketika kami tidak bersama 1 hari saja akan banyak yang bertanya kenapa kami tidak bersama seperti biasanya, bisa di katakan kami seperti kakak dan adik.

       Panjang cerita kami pun duduk di kelas 3 SMP,tiba-tiba ada pengumuman kami di minta untuk keluar kelas dan berbaris di lapangan.

"Eh,woi kok kita di bariskan yaa?" Tanya nya kepadaku.

"Dengar-dengar sih katanya dikarenakan ada virus Covid-19 di Indonesia yang mulai menyebar dan gampang tertular, kita di liburkan dulu sementara."

"Ohh, iyaa katanya virus itu bisa sampai buat orang meninggal dunia loh."

"Iyaa, makanya untuk berjaga-jaga kita di liburkan."

"Tapi gapapa kok, kan rumah kita berdekatan jadi kita bisa belajar bersama."

       2 Minggu pun berlalu, tapi pemberitahuan dari sekolah belum ada untuk belajar kembali,jadi libur pun terus berlanjut. Kami pun jadi jarang berjumpa, lantas aku pun menchatnya untuk bermain-main ke rumah ku kebetulan hari itu hari Minggu.

"Putri..." kataku.

"Ada apa Jell?"

"Kamu sibuk ga? Kalau tidak main yok di rumah ku."

"Yukk,kebetulan kerjaan ku sudah siap semua."

       Tak lama kemudian dia pun datang ke rumah ku,kami sangat senang bercerita sampai tertawa terbahak-bahak.

"Sudah lama ya kita tidak begini."

"Iyaa kan,coba aja kalau tidak ada Covid-19 ini, kita sudah setiap hari tertawa di sekolah bersama yang lainnya."

       Tak terasa sore pun tiba,aku pun mengantar nya pulang.Beberapa minggu setelah itu kami sudah jarang berjumpa, Kalau aku mengajak dia selalu punya alasan.Karena kami sudah jarang jumpa, tak terasa karna covid kami sudah naik ke jenjang SMA dan kami pun beda sekolah.

      Suatu hari kami berjumpa, kami membahas tentang sekolah kami, kebetulan kami beda sekolah.

"Eh, kita ga satu sekolah lagi yaa?"

"iyaa, tapi aku satu sekolah loh dengan Lia"

"Ohh," respon ku dengan perasaan iri.

"Pasti nanti kau lupakan la aku kan?"

"Engga lah, kau kan sahabat sejati ku."

"Asal lah."

      Karena mereka satu sekolah, mereka jadi sering bersama seperti apa yang ku lakukan dulu bersamanya ketika kami satu sekolah. Aku berpikir apakah dia sudah mulai lupa dengan ku? Aku sering duduk di teras rumah dan melihat mereka melintas dari depan rumah ku menggunakan sepeda motor.Aku sering melihat mereka pergi jalan-jalan melalui story' WhatsApp mau pun Instagram. Padahal kalau aku yang ngajak dia selalu punya alasan untuk menolak ajakan ku. Mereka sering pergi diam-diam tanpa sepengetahuan ku.

       Suatu hari ketika aku pergi ke warung aku berjumpa dengan Putri.

"Put,kau beli apa?"

"Emm,aku beli jajan," dengan perasaan gelisah.

"Ohh,kenapa kau kok kek gelisah ku tengok?"

"Gapapa kok,eh aku duluan yaa,bay."

"Ooookeee," ucapku dengan bingung.

           Selesai belanja aku penasaran mengapa dia begitu gelisah ketika ku ajak bicara, ternyata ketika aku lewat dari depan rumah nyaa, aku melihat kereta Lia parkir di samping rumahnya. Ternyata dia takut ketahuan oleh ku, karena dia sedang bersama dengan Lia. Sampainya aku di rumah, ku buka ponsel ku dan ku chat Putri.

"Putt, tadi waktu kita jumpa di warung,kamu terlihat gelisah pasti karna ada Lia kan di rumah mu?"

"Maaf yaa, bukan bermaksud mau membohongi kau aku, kami cuman sebatas ngerjain tugas sekolah aja kok."

"Gapapa kok Putt, aku udah sering liat kereta Lia parkir di depan rumah mu."

 

      Suatu ketika kami tidak sengaja berjumpa,dia sedang bermain tik-tok bersama Lia

"Kok kalian setiap hari sama terus sih, emang setiap hari ada tugas ya sampe hari minggu juga."

"Wajar dong kami selalu sama, kan kami satu sekolah," ucap Lia, dengan nada yang jengkel.

"Ohh, jadi ini nya alasan mu nolak ajakan ku terus, biar kalian setiap hari bisa sama."

"Bukan gitu, kamu tenang aja ga ada kok yang bisa menggantikan posisi mu sebagai sahabat ku."

"Udah lah ga usah bersandiwara kalau memang lebih asik samanya, yaudah kau sahabat aja sama nya."

"Lucu kau, suka-suka nya lah berteman sama siapa aja," ucap Lia membela dirinya.

"Jangan mentang-mentang kalian satu sekolah ya, jadi kau hasut dia ga suka sama ku."

"Udah la itu."

"Dulu aja waktu kau susah puttt, aku yang selalu di samping, sekarang lagi senang kau samanya."

"Kami kan cuman ngerjain tugas kok sewott sihh, lagian kan itu dulu waktu kalian masih satu sekolah, sekarang kan dia udah satu sekolah dengan ku."

         Aku pun pergi dengan rasa kecewa, suatu ketika aku duduk di teras rumahku sambil main HP. Tak sengaja ketika aku membuka status Putri yang berisi dia sedang jalan-jalan lagi dengan Lia. Lantas aku pun langsung menchat Putri dan bertanya kepadanya.

"Putt, kamu lagi sama Lia kan?”

   Dia tidak membalas pesan ku sama sekali,bahkan aku udah spam dia berkali-kali, tidak tau di sengaja atau tidak. Bahkan sekarang dia sudah bersikap dingin kepada ku dengan kata lain dia sudah cuek dengan ku.

 

         Sejak saat itu aku ragu dengan perkataan nyaa karna sejak kejadian itu kami pun lost contact dan aku hanya sebagai penonton di antara kebahagiaan yang mereka lakukan di sosmed nya masing-masing.

          Dari situ aku belajar bahwa yang setia akan kalah dengan yang selalu ada di samping nya. Aku tidak membenci, hanya saja aku kecewa karena dia lebih memilih sahabat baru nya. Mulai hari itu esok dan sampai sekarang aku dan Putri belum berteman layaknya seperti sahabat. Sekarang dia hanyalah masa lalu yang buruk bagiku. Sahabat bukan mereka yang menghampirimu ketika butuh, namun mereka yang tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.

                                   Note: “Sahabat adalah teman yang sangat berharga

                                             Dan sekaligus keluarga yang mulia,

                                            Tetapi di sisi lain, sahabat bisa menjadi musuh dalam sekejap.

                                            Sahabat adalah teman terdekat dan musuh terdekat kita.”

 

Editor : Ruth Mayoni

Penulis Siswa SMA N 1 Purba

 

 

 

     

 

 

 

 

 

       

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...