KARYA : WITRISNAWATI SARAGIH
Pada tanggal 14
November, seorang gadis manis berambut sebahu, senyumanan yang sangat memikat
hati, dia adalah seorang yang pantang menyerah dan tidak pernah putus asa,
namanya Trisna Nandini ia di tugaskan di sebuah sekolah mengajar murid yang
sangat nakal dan tidak pernah tertip di dalam kelas.
Pada suatu pagi ia pun masuk kedalam
kelas yang sangat nakal itu. Semua guru menyerah setiap masuk kedalam kelas
tersebut, kelas itu adalah kelas 10 D.
"Selamat pagi anak- anak." Sapa Bun Trisna.
"Hahaha
jangan ganggu aku, hahahha di sini kita main." Suara anak-anak yang tidak
membalas apaan ibu Trisna.
"Anak-anak
sekarang ibu bertanya kepada kalian apa yang membuat kalian malas belajar?"
"Kami tidak
suka pelajaran nya buk". kata Miko dengan nada yang sangat keras.
Setelah itu mereka pun ribut kembali dan
tidak mendengarkan ibu Trisna, tetapi dengan keadaan tersebut ibu Trisna tak
pantang menyerah ia mencoba berbicara dengan nada yang sedikit membentak,
akhirnya mendengarkan ibu Trisna. Tetapi mereka tidak melakukan apa yang telah
disampaikan oleh buk Trisna, banyak nasehat dan arahan yang disampaikan oleh
nya tetapi mereka tidak peduli hal itu.
Keesokan harinya ibu Trisna datang dengan
sangat semangat untuk mengajar di kelas 10 D tetapi satu murid pun tidak ada
yang datang ke kelas ia menunggu dan bersabar, setelah 20 menit siswa-siswi 10
D pun datang buk Trisna sangat senang, mereka seperti ini karena selalu
dikucilkan oleh guru-guru lain dan sifat mereka yang sangat nakal tidak bisa di
atur guru lain selalu membandingkan mereka dengan kelas 10 A dan 10 B. Mereka
sering tidak di anggap di sekolah tersebut, karna sikap mereka yang sangat
nakal.
"Oke selamat pagi anak-anak."
Sapa ibu Trisna.
Tetapi seperti biasanya tidak mendengarkan
sama sekali lalu ibu Trisna memukul meja dan mereka pun terdiam.
"Apakah kalian tidak kasian dengan
orang tua kalian?" Tanya buk Trisna.
"Apa kalian tidak lelah ke sekolah
tetapi tidak mendapatkan apa-apa?"
"Coba kalian pikir orang tua kalian
yang sedang bekerja keras agar kalian dapat bersekolah dengan baik, agar kalian
mendapatkan pendidikan yang tinggi."
Mereka
hanya terdiam dan tunduk seolah merasa bersalah atas segala perbuatan
dan sikap mereka terhadap guru dan orang tua nya selama setelah itu mereka pun
pulang sekolah dan mereka berkumpul di tempat mereka biasanya bermain,
bercerita dan bisa di bilang itu adalah rumah kedua mereka. Setelah banyak
bercerita salah satu dari mereka pun bertanya tentang hal yang disampaikan ibu
Trisna tadi siang.
"Apakah yang di bilang ibu Trisna itu
benar?" Cindi kepada temannya.
"Gak usah pikirkan hal itu semua itu
tidak benar." Jawab Miko.
"Benar juga buat apa kita
mendengarkan kata- kata ibu Trisna semua itu hanya lah bohong supaya kita mau
belajar." Sahut Riski.
Mereka pun lanjut bermain tidak peduli
akan hal tersebut, mereka sangat keras kepala tidak mau di nasehati oleh
siapapun.
Pada tanggal 28 adalah hari dimana orang
tua dari siswa di undang ke sekolah. Ibu Trisna pun datang lebih awal ke
sekolah setelah sampai di sekolah ia menunggu kedatangan orang tua dari
siswa-siswi nya. Setelah lama menunggu tidak ada satu pun orang tua yang datang
sedangkan orang tua kelas lain sudah berpulangan, ia pun pergi dari kelas
tersebut dan bertemu dengan guru lain.
"Apakah hari ini ibu lancar?"
Tanya pak Gani.
"Ya tidak ada satupun orang tua yang
datang." Jawab buk Trisna.
"Apakah lebih baik ibu menemui orang
tua mereka ke rumah mereka langsung?"
"Oh iya pak makasih".
Ia pun pergi meninggalkan sekolah dan
pergi ke tempat murid-muridnya tinggal setelah sampai di sana ia melihat salah
satu siswanya yang sedang menjual sayur-sayuran di pajak ia pun menemui
muridnya itu dan bertanya kenapa orang tuanya tidak dapat hadir ke sekolah.Tetapi
ia hanya bisa tersenyum dan memeluk ibu Trisna setelah itu ia melanjutkan
perjalanannyadan bertemu Cindy yang sedang membatu orang tua nya mencuci dan
bertanya hal yang sama kepada nya tetapi ia bilang bahwa orang tuanya sibuk
bekerja lalu ibu Trisna pun meninggalkanya, setelah itu ia pun melanjutkan
perjalanannya dan bertemu murid lain yang sibuk dengan pekerjaannya dan sibuk
membantu orang tuanya itu sebabnya orang tua mereka tidak datang ke sekolah.
Setelah itu ia pun pulang dari sana dan merasakan kesedihan anak muridnya.
Keesokan harinya sudah tau dimana kelebihan atau kemampuan dari pada muridnya
ia memberikan pertanyaaan kepada salah satu siswa yang suka membantu orang
tuanya berdagang. Ia pun menjawab dengan sangat cepat sedangkan ibu Trisna
belum siap mengetik di kalkulator, ternyata murid-muridnya memiliki kemampuan
di bidangnya masing-masing. Ibu Trisna
pun mengajak mereka untuk belajar lebih serius lagi, ia mengajar dengan penuh
kesabaran hingga mereka menjadi bisa dan
tidak pernah malas belajar lagi.
Setelah lama mengajar para murid nya
seminggu lagi adalah waktu untuk ujian, tetapi salah satu dari mereka melakukan
kesalahan yang sangat besar. Miko murid
yang paling nakal itu merusak karya dari kelas lain hingga wali kelas dari mereka marah kepada Miko dan mengadukan Miko kepada
kepala sekolah. Kemudian kepala sekolah menyuruh kelas ibu Trisna agar para
murid nya belajar di rumah sebelum ujian. Ibu Trisna sangat kecewa kepada anak
murid ia berusaha mendidik mereka akan tetapi mereka melakukan kesalahan yang
sangat patal. Ibu Trisna pun datang ke dalam kelas dan mengatakan apa yang
telah disampaikan oleh kepala sekolah.
"Ibu sangat kecewa dengan sikap
kalian kenapa kalian melakukan hal yang sangat tidak ibu sukai."
"Kami minta maaf buk." Jawab
Miko.
"Kalian belajar sendiri saja seminggu
kalian tidak perlu datang ke sekolah sebelum ujian berlangsung kalian tidak
perlu datangke sekolah."
Kemudian ibu Trisna pergi dari kelas dan menangis ia sangat kecewa kepada mereka,
kemudian para muridnya merasa bersalah dan mereka belajar dengan giat agar
dapat membanggakan ibu Trisna, dari pagi hingga malam mereka trus belajar
dengan giat mereka berusaha sebisa mungkin supaya mereka bisa mengerti
pelajaran tersebut karena mereka tidak mau mengecewakan ibu Trisna lagi.
Malam ini mereka menyuruh Miko untuk
meminta maaf kepada ibu Trisna besok pagi Miko pun menyetujuinya.
Pagi hari yang cerah ibu Trina sedang
mengobrol dengan saudara yang sedang duduk santai sambil menikmati kopi
kemudian Miko datang menghampiri ibu Trisna.
"Buk saya minta maaf atas kesalahan
saya buk."
Ibu Trisna terdiam dan menatap Miko mata
ibu Trisna berkaca-kaca.
"Saya tidak akan melakukan
kesalahan-kesalahan seperti itu lagi buk."
Sambil berjalan ke arah ibu Trisna dan
memeluk nya.
"Iya ibu memaafkan mu tetapi jangan
lakukan itu lagi."
Mereka semua pun ikut memeluk ibu Trisna
sebagai tanda permintaan maaf kepada nya.
Kemudian waktu ujian pun tiba mereka sangat bersemangat dan menjawab soal dengan
penuh bergembira akhirnya setelah seminggu mereka ujian tibalah dimana ketentuan lulus atau tidak nya
mereka. Saat itu mereka sangat takut karena mereka takut tidak lulus kemudian
mereka pun melihat nama mereka yang tertera di mading sekolah dan ternyata
mereka lulus kemudian mereka berpelukan dan sangat senang karena telah lulus,
salah satu dari mereka mendapatkan penghargaan yaitu Cindi ia mendapatkan juara
kelas.
Ibu Trisna sangat bangga kepada nya
ternyata yang ia ajarkan selama ini membuahkan hasil. Kemudian mereka memeluk
ibu Trisna sebagai tanda trima kasih yang sangat besar karena telah sabar
mengajar dan mendidik mereka.
Tamat
Tidak ada usaha yang mehianati hasil, jika
kita berusaha maka semua ada jalan nya.
Siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar