Rabu, 19 Oktober 2022

PERJUANGAN SEORANG GURU

 


                                                       

                                                                    KARYA : WITRISNAWATI SARAGIH

 

Pada tanggal 14 November, seorang gadis manis berambut sebahu, senyumanan yang sangat memikat hati, dia adalah seorang yang pantang menyerah dan tidak pernah putus asa, namanya Trisna Nandini ia di tugaskan di sebuah sekolah mengajar murid yang sangat nakal dan tidak pernah tertip di dalam kelas.

       Pada suatu pagi ia pun masuk kedalam kelas yang sangat nakal itu. Semua guru menyerah setiap masuk kedalam kelas tersebut, kelas itu adalah kelas 10 D.

"Selamat pagi anak- anak." Sapa Bun Trisna.

"Hahaha jangan ganggu aku, hahahha di sini kita main." Suara anak-anak yang tidak membalas apaan ibu Trisna.

"Anak-anak sekarang ibu bertanya kepada kalian apa yang membuat kalian malas belajar?"

"Kami tidak suka pelajaran nya buk". kata Miko dengan nada yang sangat keras.

Setelah itu mereka pun ribut kembali dan tidak mendengarkan ibu Trisna, tetapi dengan keadaan tersebut ibu Trisna tak pantang menyerah ia mencoba berbicara dengan nada yang sedikit membentak, akhirnya mendengarkan ibu Trisna. Tetapi mereka tidak melakukan apa yang telah disampaikan oleh buk Trisna, banyak nasehat dan arahan yang disampaikan oleh nya tetapi mereka tidak peduli hal itu.

Keesokan harinya ibu Trisna datang dengan sangat semangat untuk mengajar di kelas 10 D tetapi satu murid pun tidak ada yang datang ke kelas ia menunggu dan bersabar, setelah 20 menit siswa-siswi 10 D pun datang buk Trisna sangat senang, mereka seperti ini karena selalu dikucilkan oleh guru-guru lain dan sifat mereka yang sangat nakal tidak bisa di atur guru lain selalu membandingkan mereka dengan kelas 10 A dan 10 B. Mereka sering tidak di anggap di sekolah tersebut, karna sikap mereka yang sangat nakal.

"Oke selamat pagi anak-anak." Sapa ibu Trisna.

 Tetapi seperti biasanya tidak mendengarkan sama sekali lalu ibu Trisna memukul meja dan mereka pun terdiam.

"Apakah kalian tidak kasian dengan orang tua kalian?" Tanya buk Trisna.

"Apa kalian tidak lelah ke sekolah tetapi tidak mendapatkan apa-apa?"

"Coba kalian pikir orang tua kalian yang sedang bekerja keras agar kalian dapat bersekolah dengan baik, agar kalian mendapatkan pendidikan yang tinggi."

 

Mereka  hanya terdiam dan tunduk seolah merasa bersalah atas segala perbuatan dan sikap mereka terhadap guru dan orang tua nya selama setelah itu mereka pun pulang sekolah dan mereka berkumpul di tempat mereka biasanya bermain, bercerita dan bisa di bilang itu adalah rumah kedua mereka. Setelah banyak bercerita salah satu dari mereka pun bertanya tentang hal yang disampaikan ibu Trisna tadi siang.

"Apakah yang di bilang ibu Trisna itu benar?"  Cindi kepada temannya.

"Gak usah pikirkan hal itu semua itu tidak benar." Jawab Miko.

"Benar juga buat apa kita mendengarkan kata- kata ibu Trisna semua itu hanya lah bohong supaya kita mau belajar." Sahut Riski.

Mereka pun lanjut bermain tidak peduli akan hal tersebut, mereka sangat keras kepala tidak mau di nasehati oleh siapapun.

Pada tanggal 28 adalah hari dimana orang tua dari siswa di undang ke sekolah. Ibu Trisna pun datang lebih awal ke sekolah setelah sampai di sekolah ia menunggu kedatangan orang tua dari siswa-siswi nya. Setelah lama menunggu tidak ada satu pun orang tua yang datang sedangkan orang tua kelas lain sudah berpulangan, ia pun pergi dari kelas tersebut dan bertemu dengan guru lain.

"Apakah hari ini ibu lancar?" Tanya pak Gani.

"Ya tidak ada satupun orang tua yang datang." Jawab buk Trisna.

"Apakah lebih baik ibu menemui orang tua mereka ke rumah mereka langsung?"

"Oh iya pak makasih".

Ia pun pergi meninggalkan sekolah dan pergi ke tempat murid-muridnya tinggal setelah sampai di sana ia melihat salah satu siswanya yang sedang menjual sayur-sayuran di pajak ia pun menemui muridnya itu dan bertanya kenapa orang tuanya tidak dapat hadir ke sekolah.Tetapi ia hanya bisa tersenyum dan memeluk ibu Trisna setelah itu ia melanjutkan perjalanannyadan bertemu Cindy yang sedang membatu orang tua nya mencuci dan bertanya hal yang sama kepada nya tetapi ia bilang bahwa orang tuanya sibuk bekerja lalu ibu Trisna pun meninggalkanya, setelah itu ia pun melanjutkan perjalanannya dan bertemu murid lain yang sibuk dengan pekerjaannya dan sibuk membantu orang tuanya itu sebabnya orang tua mereka tidak datang ke sekolah. Setelah itu ia pun pulang dari sana dan merasakan kesedihan anak muridnya. Keesokan harinya sudah tau dimana kelebihan atau kemampuan dari pada muridnya ia memberikan pertanyaaan kepada salah satu siswa yang suka membantu orang tuanya berdagang. Ia pun menjawab dengan sangat cepat sedangkan ibu Trisna belum siap mengetik di kalkulator, ternyata murid-muridnya memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing. Ibu  Trisna pun mengajak mereka untuk belajar lebih serius lagi, ia mengajar dengan penuh kesabaran hingga  mereka menjadi bisa dan tidak pernah malas belajar lagi.

Setelah lama mengajar para murid nya seminggu lagi adalah waktu untuk ujian, tetapi salah satu dari mereka melakukan kesalahan yang sangat besar. Miko  murid yang paling nakal itu merusak karya dari kelas lain hingga wali kelas dari mereka  marah kepada Miko dan mengadukan Miko kepada kepala sekolah. Kemudian kepala sekolah menyuruh kelas ibu Trisna agar para murid nya belajar di rumah sebelum ujian. Ibu Trisna sangat kecewa kepada anak murid ia berusaha mendidik mereka akan tetapi mereka melakukan kesalahan yang sangat patal. Ibu Trisna pun datang ke dalam kelas dan mengatakan apa yang telah disampaikan oleh kepala sekolah.

"Ibu sangat kecewa dengan sikap kalian kenapa kalian melakukan hal yang sangat tidak ibu sukai."

"Kami minta maaf buk." Jawab Miko.

"Kalian belajar sendiri saja seminggu kalian tidak perlu datang ke sekolah sebelum ujian berlangsung kalian tidak perlu datangke sekolah."

Kemudian ibu Trisna pergi dari kelas  dan menangis ia sangat kecewa kepada mereka, kemudian para muridnya merasa bersalah dan mereka belajar dengan giat agar dapat membanggakan ibu Trisna, dari pagi hingga malam mereka trus belajar dengan giat mereka berusaha sebisa mungkin supaya mereka bisa mengerti pelajaran tersebut karena mereka tidak mau mengecewakan ibu Trisna lagi. Malam  ini mereka menyuruh Miko untuk meminta maaf kepada ibu Trisna besok pagi Miko pun menyetujuinya.

Pagi hari yang cerah ibu Trina sedang mengobrol dengan saudara yang sedang duduk santai sambil menikmati kopi kemudian Miko datang menghampiri ibu Trisna.

"Buk saya minta maaf atas kesalahan saya buk."

Ibu Trisna terdiam dan menatap Miko mata ibu Trisna berkaca-kaca.

"Saya tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan seperti itu lagi buk."

Sambil berjalan ke arah ibu Trisna dan memeluk nya.

"Iya ibu memaafkan mu tetapi jangan lakukan itu lagi."

Mereka semua pun ikut memeluk ibu Trisna sebagai tanda permintaan maaf kepada nya.

 

Kemudian waktu ujian pun tiba mereka  sangat bersemangat dan menjawab soal dengan penuh bergembira akhirnya setelah seminggu mereka ujian  tibalah dimana ketentuan lulus atau tidak nya mereka. Saat itu mereka sangat takut karena mereka takut tidak lulus kemudian mereka pun melihat nama mereka yang tertera di mading sekolah dan ternyata mereka lulus kemudian mereka berpelukan dan sangat senang karena telah lulus, salah satu dari mereka mendapatkan penghargaan yaitu Cindi ia mendapatkan juara kelas.

Ibu Trisna sangat bangga kepada nya ternyata yang ia ajarkan selama ini membuahkan hasil. Kemudian mereka memeluk ibu Trisna sebagai tanda trima kasih yang sangat besar karena telah sabar mengajar dan mendidik mereka.

                                                          Tamat

Tidak ada usaha yang mehianati hasil, jika kita berusaha maka semua ada jalan nya.

 

 

Siswa SMA Negeri 1 Purba

 

 

 

 

 

 

 

        

 

   

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...