Rabu, 19 Oktober 2022

KEJADIAN MALAM ITU



Karya : Jovita Ckristiani Panjaitan *

 

Malam itu, pukul 19:30 seorang gadis pergi mengendarai sepeda motor, bersama adiknya yang berusia 9 tahun. Mereka pergi ke sebuah kedai untuk membeli ikan, sayuran, dan bahan lainnya untuk dimasak.

Sesampainya di kedai gadis tersebut membeli belanjaan yang telah dia tulis kan dari rumah. Dan dia juga mengambilkan beberapa jajanan untuk adiknya.

Setelah selesai belanja gadis tersebut kembali mengendarai sepeda motornya untuk pulang ke rumah.

Gadis tersebut berhenti di persimpangan untuk menyeberang. Sebelum menyebrang ia melihat kiri dan kanan untuk melihat kendaraan yang lewat.

Saat gadis itu melihat ke kiri, dari arah kanan ada seorang pemuda mengendarai sepeda motor tanpa lampu, tanpa rem, dengan kecepatan tinggi, dan oleng- oleng  tiba tiba "Duarrrrr" dia menabrak gadis tersebut.

Gadis itu terlempar ke tengah pasar, sedangkan adiknya dan pemuda itu terlempar ke halaman warga. Para warga yang ada di sekitar itu berdatangan dan ribut.

Seketika gadis itu merasa waktu seperti berhenti sejenak, semua bagaikan mimpi.

Banyak orang yang hanya melihat, tidak ada satu pun yang langsung menolongnya.

Gadis itu pun merasa sesak untuk bernafas, rasanya susah untuk bergerak, seolah semua badannya mati rasa tidak dapat melakukan apapun.

Ia merasa khawatir karena dia tidak mendengar suara adik nya. Banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya.

"Apakah adikku terluka? Apakah adik ku tidak sadarkan diri? Mengapa tidak ada yang menolong dia?" pikir gadis itu.

Sampai sesaat kemudian, gadis itu mendengar suara teriakan adiknya.

"Tolong kakakkuuuu, Tolong diaaaa, Bou kenapa diam kakak kuuuu? Kakakkkkkkk," teriak nya.

Mendengar itu akhirnya gadis itu merasa lega, ternyata adik nya masih sadar dan tidak terluka parah karena  dia masih sanggup berteriak seperti itu.

Begitu banyak orang yang melihat ada Ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda, dan ada juga anak-anak, tetapi tidak langsung bertindak. Sampai ada seorang pemuda usia nya berkisar 25 tahunan, dia langsung menggendong gadis itu untuk dibawa ke klinik yang kebetulan  dekat dari tempat kejadian.

Saat melihat kondisi gadis itu, dengan badan yang lemas dan wajah nya yang sangat pucat, Bidan yang ada di sana awalnya menolak karena takut tidak bisa menangani.

Tetapi pemuda itu memohon,

"Di coba dulu sebelum ada pihak keluarga yang datang!  Kak tolong lah kk," ujar pemuda itu.

"Yaudah bawalah ke dalam biar di tangani!" jawab bidan itu.

Sesampainya di dalam gadis itu di baringkan di atas kasur kecil. Diikuti oleh adik nya dan pemuda yang menabrak nya. Saat bidan itu akan memeriksa gadis itu, Tiba-tiba terdengar suara orang tua nya dari luar.

"Mahua do bana? Sadar do?" teriak ibu nya sambil berjalan menghampiri anak nya.

"Paima ham ase hu cek lobe siapatau parah luka na." ujar bidan tersebut.

"Aih mase pucat tumang do?" tanya ibu itu seperti gemetaran karena terkejut mendengar anak nya kecelakaan.

"Halani syok do bana ai kak makana pucat sonin," jawab Ibu-ibu yang ada di sana.

Bidan itu pun men cek beberapa luka di badan gadis itu. Ada luka di sekitar tangan, kaki, perut, tidak terlalu parah.

Lalu bidan itu mencek adik gadis itu serta pemuda itu.

Setalah itu, bapak gadis itu bertanya kepada pemuda itu.

" Mase boi i langgar ho halak on?" tanya bapak itu ingin tahu bagai mana kejadian nya.

"Nakkin mamboan kareta au tulang, kancang  ro han atas an, lang huparuhurkon halak adek on,  halani agak golap dalan ai. Lang Mar lampu homa kareta ku, lang marrem." jawab pemuda itu menjelaskan kejadian tersebut.

Bapak itu terlihat sedikit emosi.

"Makana lain kali unang kancang-kancang markareta, apalagi malam lang Mar lampu, lang Marrem" ucap bapak itu.

"Ai oleng-oleng do bana nakkin na mamboan kareta ai tulang, anggo lurus do lang hona adek on," jawab seorang pemuda yang melihat kejadian itu.

Merasa tidak perlu memperpanjang masalah, bapak itu menasehati.

"Baen ma sahali nai hati-hati da pa."

Gadis itu pun di bawa pulang selesai di obati.

Sesampainya di rumah, oppung nya langsung menyambut dengan raut wajah cemas.

"Ai mahua do pala? adong na parah?" tanya oppung itu ingin tau kondisi cucunya.

"Lang mak luka otik dassa bana cuma lang boi mardalan sandiri, ikkon i togu," jawab ibu dari gadis itu menjelaskan keadaan anak nya.

"Istirahat ma lobe anggo sonai."

"Pio ma lobe paralut ai, ase i alut bana!" suru oppung itu kepada bapak gadis itu.

"Eak nantulang," jawab bapak itu seraya pergi menjemput tukang urut.

Tidak berapa lama tukang urut nya pun datang, lalu gadis itu di kusut.

Gadis itu berteriak saat di kusut

"Aih nantulang sakit kaliiii," teriaknya.

"Sabar nang jangan makin parah, nanti kalo kita biarkan gini makin susah diobati," jawab tukang urut itu.

Gadis itu terlihat pasrah, karena dia juga tidak punya pilihan lain, karena takut tangan nya juga semakin parah.

Setelah gadis itu selesai di urut giliran adik nya yang di urut.

Melihat adiknya yang menangis dia ikut menangis.

"Kakak bilang pun gak usa ikut kau tapi bandal jadi gini lah," sesal gadis itu karena merasa bersalah telah membawa adiknya, sehingga adiknya ikut merasakan sakit akibat kejadian itu.

Ibunya pun menenangkan dia.

"Udah gakpapa pokoknya masih selamat kalian nang," ujar ibunya.

"Yaudah tidur lah dulu kau, jangan nangis lagi  biar bisa tenang!" tambah ibunya lagi.

Setelah itu, gadis itu di beri makan oleh ibunya dan diberi obat, lalu di suru tidur.

Awalnya, gadis itu menolak karena tidak tega melihat adik nya yang menangis, dia ingin menenangkannya, tetapi ibunya membujuk agar dia bisa tenang. Akhirnyadia pun tidur.

Kalian mungkin bertanya bagaimana gadis itu sekolah? Masa itu masih belajar online (daring) jadi dia tetap bisa mengikuti pelajaran online.

Hari ke 3 dia dibawa untuk di kusut lagi. Begitu lah sampai dia di kusut 3 kali setelah malam itu.

Dalam empat hari setelah kejadian itu gadis itu belum bisa berjalan sendiri dan harus di bantu oleh orang tuanya. Dan di hari ke lima dia sudah mulai bisa berjalan sendiri.

Dia beristirahat selama dua minggu hingga kakinya sembuh.

Ya gadis itu adalah saya sendiri:).

T A M A T

*Penulis siswa SMA N 1 PURBA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...