Karya : Jovita Ckristiani Panjaitan *
Malam itu, pukul 19:30
seorang gadis pergi mengendarai sepeda motor, bersama adiknya yang berusia 9
tahun. Mereka pergi ke sebuah kedai untuk membeli ikan, sayuran, dan bahan
lainnya untuk dimasak.
Sesampainya di kedai gadis
tersebut membeli belanjaan yang telah dia tulis kan dari rumah. Dan dia juga
mengambilkan beberapa jajanan untuk adiknya.
Setelah selesai belanja gadis tersebut kembali mengendarai sepeda motornya untuk pulang ke rumah.
Gadis tersebut berhenti di
persimpangan untuk menyeberang. Sebelum menyebrang ia melihat kiri dan kanan
untuk melihat kendaraan yang lewat.
Saat gadis itu melihat ke
kiri, dari arah kanan ada seorang pemuda mengendarai sepeda motor tanpa lampu,
tanpa rem, dengan kecepatan tinggi, dan oleng- oleng tiba tiba "Duarrrrr" dia menabrak
gadis tersebut.
Gadis itu terlempar ke
tengah pasar, sedangkan adiknya dan pemuda itu terlempar ke halaman warga. Para
warga yang ada di sekitar itu berdatangan dan ribut.
Seketika gadis itu merasa
waktu seperti berhenti sejenak, semua bagaikan mimpi.
Banyak orang yang hanya
melihat, tidak ada satu pun yang langsung menolongnya.
Gadis itu pun merasa sesak
untuk bernafas, rasanya susah untuk bergerak, seolah semua badannya mati rasa
tidak dapat melakukan apapun.
Ia merasa khawatir karena
dia tidak mendengar suara adik nya. Banyak pertanyaan yang terlintas di
pikirannya.
"Apakah adikku
terluka? Apakah adik ku tidak sadarkan diri? Mengapa tidak ada yang menolong
dia?" pikir gadis itu.
Sampai sesaat kemudian,
gadis itu mendengar suara teriakan adiknya.
"Tolong kakakkuuuu,
Tolong diaaaa, Bou kenapa diam kakak kuuuu? Kakakkkkkkk," teriak nya.
Mendengar itu akhirnya
gadis itu merasa lega, ternyata adik nya masih sadar dan tidak terluka parah
karena dia masih sanggup berteriak
seperti itu.
Begitu banyak orang yang
melihat ada Ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda, dan ada juga anak-anak, tetapi tidak
langsung bertindak. Sampai ada seorang pemuda usia nya berkisar 25 tahunan, dia
langsung menggendong gadis itu untuk dibawa ke klinik yang kebetulan dekat dari tempat kejadian.
Saat melihat kondisi gadis
itu, dengan badan yang lemas dan wajah nya yang sangat pucat, Bidan yang ada di
sana awalnya menolak karena takut tidak bisa menangani.
Tetapi pemuda itu memohon,
"Di coba dulu sebelum
ada pihak keluarga yang datang! Kak
tolong lah kk," ujar pemuda itu.
"Yaudah bawalah ke
dalam biar di tangani!" jawab bidan itu.
Sesampainya di dalam gadis
itu di baringkan di atas kasur kecil. Diikuti oleh adik nya dan pemuda yang
menabrak nya. Saat bidan itu akan memeriksa gadis itu, Tiba-tiba terdengar
suara orang tua nya dari luar.
"Mahua do bana? Sadar
do?" teriak ibu nya sambil berjalan menghampiri anak nya.
"Paima ham ase hu cek
lobe siapatau parah luka na." ujar bidan tersebut.
"Aih mase pucat
tumang do?" tanya ibu itu seperti gemetaran karena terkejut mendengar anak
nya kecelakaan.
"Halani syok do bana
ai kak makana pucat sonin," jawab Ibu-ibu yang ada di sana.
Bidan itu pun men cek
beberapa luka di badan gadis itu. Ada luka di sekitar tangan, kaki, perut,
tidak terlalu parah.
Lalu bidan itu mencek adik
gadis itu serta pemuda itu.
Setalah itu, bapak gadis
itu bertanya kepada pemuda itu.
" Mase boi i langgar
ho halak on?" tanya bapak itu ingin tahu bagai mana kejadian nya.
"Nakkin mamboan
kareta au tulang, kancang ro han atas
an, lang huparuhurkon halak adek on,
halani agak golap dalan ai. Lang Mar lampu homa kareta ku, lang
marrem." jawab pemuda itu menjelaskan kejadian tersebut.
Bapak itu terlihat sedikit
emosi.
"Makana lain kali
unang kancang-kancang markareta, apalagi malam lang Mar lampu, lang
Marrem" ucap bapak itu.
"Ai oleng-oleng do
bana nakkin na mamboan kareta ai tulang, anggo lurus do lang hona adek
on," jawab seorang pemuda yang melihat kejadian itu.
Merasa tidak perlu
memperpanjang masalah, bapak itu menasehati.
"Baen ma sahali nai
hati-hati da pa."
Gadis itu pun di bawa
pulang selesai di obati.
Sesampainya di rumah,
oppung nya langsung menyambut dengan raut wajah cemas.
"Ai mahua do pala?
adong na parah?" tanya oppung itu ingin tau kondisi cucunya.
"Lang mak luka otik
dassa bana cuma lang boi mardalan sandiri, ikkon i togu," jawab ibu dari
gadis itu menjelaskan keadaan anak nya.
"Istirahat ma lobe
anggo sonai."
"Pio ma lobe paralut
ai, ase i alut bana!" suru oppung itu kepada bapak gadis itu.
"Eak nantulang,"
jawab bapak itu seraya pergi menjemput tukang urut.
Tidak berapa lama tukang
urut nya pun datang, lalu gadis itu di kusut.
Gadis itu berteriak saat
di kusut
"Aih nantulang sakit
kaliiii," teriaknya.
"Sabar nang jangan
makin parah, nanti kalo kita biarkan gini makin susah diobati," jawab
tukang urut itu.
Gadis itu terlihat pasrah,
karena dia juga tidak punya pilihan lain, karena takut tangan nya juga semakin
parah.
Setelah gadis itu selesai
di urut giliran adik nya yang di urut.
Melihat adiknya yang
menangis dia ikut menangis.
"Kakak bilang pun gak
usa ikut kau tapi bandal jadi gini lah," sesal gadis itu karena merasa
bersalah telah membawa adiknya, sehingga adiknya ikut merasakan sakit akibat
kejadian itu.
Ibunya pun menenangkan
dia.
"Udah gakpapa
pokoknya masih selamat kalian nang," ujar ibunya.
"Yaudah tidur lah
dulu kau, jangan nangis lagi biar bisa
tenang!" tambah ibunya lagi.
Setelah itu, gadis itu di
beri makan oleh ibunya dan diberi obat, lalu di suru tidur.
Awalnya, gadis itu menolak
karena tidak tega melihat adik nya yang menangis, dia ingin menenangkannya,
tetapi ibunya membujuk agar dia bisa tenang. Akhirnyadia pun tidur.
Kalian mungkin bertanya
bagaimana gadis itu sekolah? Masa itu masih belajar online (daring) jadi dia
tetap bisa mengikuti pelajaran online.
Hari ke 3 dia dibawa untuk
di kusut lagi. Begitu lah sampai dia di kusut 3 kali setelah malam itu.
Dalam empat hari setelah
kejadian itu gadis itu belum bisa berjalan sendiri dan harus di bantu oleh
orang tuanya. Dan di hari ke lima dia sudah mulai bisa berjalan sendiri.
Dia beristirahat selama
dua minggu hingga kakinya sembuh.
Ya gadis itu adalah saya
sendiri:).
T A M A T
*Penulis siswa SMA N 1 PURBA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar