Kringg....
Bunyi bel pertanda bahwa proses belajar mengajar di SD Maju Bersama telah usai. Siswa-siswi langsung berhamburan keluar bagaikan mengejar sesuatu yang sangat berharga. Tak kalah juga kepada komplotan boys yang lumayan nakal itu. Mereka adalah siswa kelas 5 di SD Maju Bersama, yaitu : Sani, Bima, dan Surya.Ya nama yang sangat indah tapi mungkin bukan dengan sifatnya.
Prak.. Prokk bunyi suara sepatu dari komplotan
boys yang sedang membagi dua jalan Raya itu. Namanya anak nakal, memborong
jalan adalah hobi mereka seakan-akan mereka mempunyai cadangan nyawa yang bisa
diganti dikala sudah habis.
Di setengah perjalanan mereka melihat sebuah
sepeda butut, mungkin itu sepeda zaman penjajahan pada masanya.
"Ehh, wee coba kalian lihat itu!!,"
ujar Bima sambil menunjuk.
"Apaan
Bim," ucap Sani.
"Ituloh,
yang didepan rumah itu," ucap Bima.
"Ohh,
sepeda emang mau kita apain sepeda itu...?," kata Sani menimpali.
"Ya
elahhh broo, ngelag aja sih otakmu. Ya dipakelah masa digoreng," ujar Bima
dengan geram.
"Oii Bim, jangan bilang kita mau
mencurinya ya, kita udah sering membuat masalah masa mau kau tambahi
lagi," ucap Surya menasehati.
"Stop... Stopp dulu broo, Aku
pertegaskan kita bukan mencuri tapi kita
memakainya.oke!!," ujar Bima menyakinkan.
"Memakai tanpa izin itu sama dengan
mencuri loh Bim,"ucap Surya.
"
Iyalah, suka mu saja. Emang kau nggak mau pulang cepat apa?, "tegas Bima.
" Iya
juga sih Bim, tapi gimana kalo kita ketahuan nanti??," ucap Surya.
"Tenang aja, kita nggak ketahuan
kok."ucap Bima.
"
Yoklahh, kita gaskan,"ucap Surya dengan rasa yang bimbang.
Bima langsung mengambil kendali, pelan-pelan
dia masuk kedalam pekarangan rumah itu, sementara kedua temannya tadi berada di
pinggir jalan sekaligus melihat situasi disana.
Hanya dalam hitungan detik
sepeda ontel itu sudah raip ditangan Bima sianak jalang itu. Dihampirinya kedua
temannya yang berada disisi jalan yang sedang menunggu kedatangannya.
"Yok, cepatan naik, nanti keburu kakeknya
datang," ucap Bima terengah-engah.
"Tapi
aku takut Bim, nanti kita ketahuan." ucap Sani dengan wajah cemas.
"Ya
elahh, kamu mau naik gak, " ucap Bima.
Mendengar adanya suara berbisik diluar si kakek terbangun dari
tidurnya. Dan karena penasaran, Dia bergegas keluar dan mengecek kondisi diluar
rumahnya itu.
"Woii...,malingg,"
ucap sang Kakek dengan suara lantang. Tapi apalah daya sepeda ontel sudah melaju
kencang tepat didepan penglihatannya.
"Dasar, anak nakal. Tunggu besok habis
kalian kubuat," batin kakek dengan marah.
Kemudian sangat Kakek masuk kembali kedalam rumah dengan wajah
kesal, sambil berpikir gimana caranya Dia dapat bertemu kembali dengan para
bocil itu.
"Hmmm, awas besok kalian, " gumam
kakek yang sepertinya telah mendapatkan ide baru untuk menangkap para bocah
itu.
Ditempat lain, tampak ada tiga orang anak yang sedang menaiki sepeda
yang kelebihan beban, sampai-sampai terdengar suara gesekan antara jalan dengan
ban sepeda ontel itu.
"Wehh,
Bim. Gimana kalau besok pagi kita dihadang kakek itu dijalan, " ucap
Surya.
"Nggak
usah takut serahin aja padaku, " ucap Bima sambil menggoyah sepeda ontel
itu.
Tak berselang beberapa lama, mereka pun
sampai dirumahnya masing-masing dan Bima mengambil alih kendali untuk membawa
sepeda itu ke rumahnya.
Keesokan
paginya mereka berangkat bersama-sama ke sekolah tentunya dengan menaiki sepeda
ontel itu. Tiba-tiba, saat diperjalanan sepeda itu rusak.
"Yah,
astaga sepeda butut tak ada guna, " ucap Bima dengan kesal.
"Sudah
yang dicuri, rusak lagi. " ucap Sani menambahi.
"Ya
sudah, kita tinggalin saja sepedanya disini, " kata Surya.
Kemudian mereka bertiga pun pergi meninggalkan
sepeda itu. Tak berapa lama berjalan mereka
akhirnya melewati rumah kakek itu.
"Heyy,
anak nakal. " ujar sang Kakek.
"Aihh,
gawat nih. " ucap Bima.
"Waduh,
mampus kita kali ini, " ucap Surya dengan datar.
"Haaa,
mau lari kemana kalian. Habis kali ini kalian kubuat, " kata Kakek dengan
geram.
"Ma..
maafkan kami kek, kami tidak sengaja. " ucap Surya ketakutan.
"Kami
diajak Bima kek, "ucap Sani sambil menunjuk.
"Iya
kek, Bima yang mengajak kami membawa lari sepeda kakek, " ucap Surya
menimpali.
"Maafkan aku teman-teman, aku yang
salah." ucap Bima sambil menunduk.
"Iyaa
Bim, ini bukan salah kamu juga kok. Tapi salah kita semua. Aku juga minta maaf
karna udah memojokkan mu tadi, " ucap Surya dengan bersalah.
"Udah..
udah, sekarang bukan saatnya saling menuduh. Apa yang telah kalian perbuat,
harus kalian pertanggungjawabkan, " ucap kakek menasehati.
"Iya kek, kami minta maaf. " ucap
Sani.
"Ya
udah, kalo kalian mau kakek maafkan, besok pagi kalian harus bawa balik sepeda
itu kesini tanpa ada sedikitpun yang rusak!!!"
"Baik
kek, kami akan memperbaikinya, " ucap Bima.
"Iya
kek, kami janji akan bawa sepeda itu besok pagi kesini, " kata Surya.
"Iya,
udah.. udah. Kakek udah maafin kalian. Sekarang cepat sana nanti kalian telat
sekolahnya. " Iya kek, kami pergi dulu ya kek. "ucap Bima.
" Iya, Hati-hati dijalan ya nak.
"Baik
Kek, " ucap mereka serentak.
Setelah berpamitan, mereka bertiga
kembali melanjutkan perjalanannya ke sekolah dengan perasaan yang tenang.
Mereka pun berencana setelah pulang sekolah nanti akan langsung memperbaiki
sepeda ontel tersebut.Bertanggung jawab atas perbuatan sendiri adalah
tindakan yang sangat tinggi nilainya. Kemudian mereka akhirnya sampai
disekolah yang bertepatan juga dengan bunyi bel masuk kelas. Mungkin itu suatu
berkat bagi mereka karna hari ini mereka tidak telat seperti biasanya. Dengan
kecepatan dan percepatan maksimal mereka langsung berlari kencang sebelum guru
les pertama masuk ke kelas mereka.
Tak terasa, matahari sudah mulai
terik, jarum jam sudah menunjuk angka dua belas yang waktunya pembelajaran di
sekolah itu akan segera usai. Setelah itu mereka bertiga pun langsung pergi ke tempat sepeda yang mereka
tinggalkan tadi pagi itu. Mereka langsung membawa sepeda itu ke bengkel dan
langsung memperbaikinya. Tidak hanya memperbaiki mereka juga memodifikasi
sepeda itu menjadi lebih keren agar siKakek nanti senang melihat sepedanya yang
sudah bagus,"batin mereka.
Setelah usai, mereka langsung
membawa sepeda ontel kerumah kakek itu dengan suasana hati yang bahagia. Mereka
pun langsung memberikan sepeda itu kepada kakek
yang sudah renta itu. Dengan wajah yang berseri-seri Sikakek pun sangat
senang menerima balik sepedanya yang sudah lebih bagus dari sebelumnya. Sebagai
ucapan terimakasihnya Kakek pun memberikan uang jajan dan mengajak mereka untuk
makan kerumahnya. Disela-sela sedang makan mereka berempat pun
berbincang-bincang dan bersenda gurau.Tak hanya itu, sebelum mereka pulang
siKakek pun berpesan agar mereka tidak melakukan kesalahan seperti itu lagi dan
dapat menjadi orang yang bisa membahagiakan kedua orangtuanya masing-masing.
"Ternyata, seberat apapun masalah dan
seburuk apapun perbuatan kita kalau kita mau mempertanggungjawabkan dan
mengakuinya pasti akan selalu ada jalan keluarnya," Batin tiga orang sahabat karib itu.
Editor
: Elimanson Sipayung
Penulis
adalah siswa SMA N 1 PURBA 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar