Karya :Melisa sinaga
Dia adalah Dara, gadis berumur 17
tahun yang sudah menduduki bangku kelas 3 SMA. Ia tinggal di desa Sukadame di
rumah kecil yang terbuat dari bambu. Ia tinggal bersama ibunya dengan kehidupan
yang sangat sederhana, Ayahnya yang sudah lama meninggal sehingga sangat
berpengaruh dalam kehidupan mereka.
Tentu saja ekonomi yang sangat sulit saat ini. Mereka hanya memiliki sebuah
rumah bambu yang dibuat oleh almarhum sang ayah dulu nya. Mereka sudah tidak
memiliki tanah untuk ditanami padi, karena sebelum Ayah Dara meninggal mereka
sudah menjual nya untuk biaya pengobatan sang Ayah di rumah sakit, namun sia-sia
Tuhan berkehendak lain sehingga sang Ayah mengakhiri hidupnya saat itu. Karena
itu Ibu Dara harus berjuang menjadi
tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhannya dan Dara setiap hari.
Walaupun hidup dengan sederhana, Dara dan Ibu nya selalu merasakan
kebahagiaan di rumah itu, mereka selalu bersyukur atas apa yang mereka punya
saat ini. Ibu Dara adalah seorang Ibu yang sangat berhati mulia, ia berdagang
kue setiap harinya dengan menggunakan sepeda kuno nya untuk berkeliling
kampung. Pagi itu Dara hendak berpamitan kepada Ibu nya untuk pergi ke sekolah.
"Bu, Dara pamit ya," ucap nya seiring mencium punggung tangan Ibu
nya yang berada di dapur untuk membereskan dagangan nya hari ini.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Ibu nya.
"Sudah Bu," jawab Dara.
"ya sudah sana nanti keburu telat!" sambung Ibu nya lagi. Dara
pun tersenyum sambil pergi berjalan menuju sekolah.
Sambil berjalan tiba-tiba seseorang
mengejutkan nya dari belakang
"Duarrrrr! "
"Iihh apaan si Nina ngagetin aja deh, untung jantung ku ga copot
tadi," dengkus nya kesal.
Tentu saja itu Nina, sahabat Dara semenjak menduduki bangku SMA.
"hahahahah, sorry Dar! lagian kamu ngapain si bengong-bengong di
jalan? Bahaya tau!" sambung Nina.
"Udah! Jangan banyak nanya, entar keburu telat,” jawab Dara sambil
berjalan meninggalkan Nina.
Sedangakan di rumah, Ibu Dara sedang membereskan dagangan nya untuk
segera dijual berkeliling kampung. Terik panas matahari yang di rasakan Ibu nya
Dara saat ini namun, dia selalu semangat untuk bisa mendapatkan rupiah. Seiring
berjalannya waktu semangatnya tidak pudar menawarkan kue dagangannya itu.
"Kue-kue, kuee..., kue nya buk!!, kue... " begitulah cara nya
menawarkan kue nya kepada kalangan masyarakat.
"Dagangan ku dari tadi belum laku satu pun, kemana lagi aku harus
menjualnya," gumam nya, sambil terus mendayung sepeda nya. Saat itu lewat
dalam pikirannya untuk pergi ke dekat sekolah Dara SMA N 1 SUKADAME.
Triingggg........, bunyi bel pulang sekolah
seluruh siswa-siswi SMA N 1 SUKADAME bergegas dari ruangan nya masing-masing
untuk pulang. Nina pun berlari ke gerbang untuk mencari keberadaan Dara namun
ternyata dara belum ada di sana sehingga Nina sedikit mengerutkan kening nya
sambil kesal.
"Dara dimana sih? lama bangat," gerutu nya sambil melihat jam
tangan nya.
"Eh.. Nin, dah lama nunggu nya?" Tanya Dara yang ngos-ngosan sambil
membungkuk kan badan nya.
"Ngga!, baru 15 menit," tegas Nina sambil memandangi Dara.
"Hehehe sory Nin, jangan
marah dong," sambung Dara.
"Lagian darimana sih?" Tanya Nina lagi.
"Habis jadwal kebersihan aku lupa kalo hari ini itu jadwal ku,"
jawab Dara.
"Yaudah ayok!, Dasar lambat,” ledek Nina sambil meninggalkan Dara.
Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Dara dan Nina tidak sengaja melihat
tukang kue yang di kerumuni siswa-siswi SMA N 1 Sukadame.
"Wihh kayak nya enak tuh Dar sampe di kerumuni gitu tukang kue nya,
beli yuk! Aku yang traktir deh," Ajak Nina.
"Ayok!" Jawab Dara senang.
Sesampai nya di tukang kue betapa terkejut nya Dara dan Nina melihat
tukang kue yang ternyata adalah ibu Dara sendiri.
"Loh ibu? kenapa ibu sampai kesini?" Tanya Dara kaget.
"Eh Dara, iya nih kalo ibu hanya jualan dikampung dagangan ibu ga
akan laku-laku, sekarang dagangan Ibu sudah habis semua Ibu sangat bersyukur
akhirnya habis juga," jawab Ibu nya.
Dara tersenyum mendengar ucapan Ibu nya itu yang terlihat senang hari
ini.
"Sini Dara bantu bu," pinta Dara kepada Ibu nya.
Dengan bingung Ibu Dara menjawab "Ga usah Dar nanti teman-teman
kamu pada liatin kamu, nanti kamu malu. Sana kamu duluan aja sama Nina.”
Dengan sigap Dara menjawab "Ngga dong bu, Dara ga malu ngapain Dara
malu, aku tuh lebih malu kalo aku ga ngakuin Ibu aku sendiri.”
Nina pun terharu dengan tingkah Dara terhadap Ibu nya.
"Dara itu benar Bi.. Kita ga boleh malu dengan pekerjaan orang tua kita, justru kita harus membantu
setiap pekerjaan orang tua kita,” jawab Nina.
"Kalian memang anak yang baik, Ibu bersyukur bangat diberikan anak
seperti kalian," jawab Ibu Dara.
"Ya udah kalo gitu aku duluan ya Dar, Bibi ntar kelamaan, ada urusan soalnya,” seru Nina sambil berjalan.
"Hati-hati ya Nin," sahut Dara sambil melambaikan tangan nya
kepada Nina.
"Kita pulang juga yuk Bu," ajak Dara kepada Ibu nya.
Saat sampai ke rumah Dara dan Ibu nya di buat bingung dengan orang-orang
yang mengenakan stelan jas hitam dan kacamata hitam itu berdiri dengan gagah di
depan rumah nya, mereka sangat tampan dengan banyak pengawal yang mendampinginya
di belakang.
"Maaf, kalian ini siapa ya?" tanya Ibu nya dengan bingung.
"Kami ingin membeli tanah ini, saya adalah Rendy CEO dari PT
ANGKASA PURA berapa pun akan kami bayar," jawab nya dengan sombong "Berikan
uangnya!" Seru nya lagi kepada pengawal nya.
Tiba-tiba Dara berkata "Berapa pun kami tidak akan pernah menjual
tanah ini!"
"Rumah ini sangat jelek! jika kalian menjual
nya, bukan kah kalian akan mendapat tempat tinggal yang lebih layak dasar bodoh,"
sambung nya lagi.
Karena merasa terhina akan perkataan orang itu Dara pun berkata lagi "Bukankah
kalian bisa mencari tanah yang lain! Kenapa harus rumah kami?"
"Kami hanya ingin tanah ini, kami akan segera membangun fila disini,
tapi karena rumah ini pembangunan kami terhalang," jawab Rendy dengan tegas.
"Ngga!, walaupun rumah ini jelek kami tidak akan menjualnya, ini
harta satu-satunya buat keluarga kami. Rumah ini dibangun oleh Ayah saya dengan
jerih payahnya sampai kapan pun kami tidak akan memberikannya pada kalian,"
sambung Dara lagi.
"Saya tidak berurusan dengan anak kecil seperti kamu! Saya hanya
berurusan dengan Ibu mu, jika kalian tidak memberikannya kami akan bertindak,"
tegas orang itu lagi.
Sambil menangis Ibu Dara membujuk Dara
"Sudah nak..., kita jual saja, Ibu takut kamu kenapa-napa," pinta
Ibu nya.
Walaupun itu hanya rumah bambu Dara tetap saja mempertahan kan rumah itu,
karena dulunya rumah itu di buat oleh almarhum sang Ayah. Dara pun teringat
ketika Ayahnya masih hidup.
***
"Ayah mau kemana?"
Tanya nya dengan bingung yang melihat sang Ayah memegang pisau.
"Ayah akan mengambil bambu dan membuatkan rumah untuk kita, supaya
kita tidak tinggal di rumah kardus ini terus," jawab sang Ayah.
"Hore.... Akhirnya sebentar lagi kita punya rumah sendiri yah,"
jawab Dara kegirangan.
"Walaupun rumah bambu, tapi setidaknya kita hidup lebih nyaman, nanti
kalo kamu udah sukses kamu yang akan ganti rumahnya agar besar, supaya nanti
Ayah dan Ibu bisa tinggal di rumah bergedung,"
sambungnya.
. ***
"Ngga Bu! Dara ga mau," jawab nya sambil menangis.
"Ibu tau kamu, Ibu akan coba bicara dulu ya," jawab Ibunya.
Karena merasa kelamaan dengan jawaban dari Ibu Dara, Rendy pun mulai bosan.
"Dasar miskin! Pake sok jual mahal," sambung salah satu pengawal
nya.
Dara pun tidak kuasa menahan amarahnya "Maaf Pak, kami memang
miskin akan harta tapi bapak lebih miskin akan etika! Bapak menginginkan tanah
kami, tapi Bapak melakukan dengan tindakan paksa," jawab Dara.
Karena merasa di kucil kan oleh anak
kecil, Rendy pun merasa malu dan langsung mengajak para pengawal nya pergi.
"Ayo cabut!" Seru nya.
Dara pun merasa lega karena Rendy dan pengawalnya sudah pergi. Ia pun memeluk
Ibunya sambil tersedu-sedu menangis.
"Dara sangat menyayangi rumah ini Bu! sampai kapan pun Dara ga akan
pernah menjual nya! Nanti kalo Dara dah sukses Dara akan ingat pesan Ayah,"
jawab Dara di sela kesedihan nya.
"Udah jangan nangis lagi ya "Sambung Ibu nya. Dara menganggukkan
kepalanya dan tersenyum memeluk Ibunya.
Dari
sini kita belajar bahwa bahagia itu tidak harus kaya. Terkadang dari kesusahan
kita akan banyak menciptakan motivasi. Jadilah orang yang bisa membentuk
motivasi dari diri sendiri, bukan sebagai pencari motivasi .
Penulis adalah siswa SMA N
1 PURBA 2022
Editor:Gryfia Munthe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar