Kamis, 20 Oktober 2022

RUMAH BAMBU DARA.


                                                    Karya :Melisa sinaga

 

   Pagi yang cerah dengan kicauan burung-burung yang bersiul di dahan pohon yang hijau nan rindang. Tampak sinar matahari yang masuk lewat celah ding-ding rumah yang terbuat dari bambu itu. Seorang gadis yang baru saja terusik dari tidur nya, bergegas merapikan tempat tidurnya dan hendak siap-siap menuju sekolah yaitu SMA N 1 Sukadame.

   Dia adalah Dara, gadis berumur 17 tahun yang sudah menduduki bangku kelas 3 SMA. Ia tinggal di desa Sukadame di rumah kecil yang terbuat dari bambu. Ia tinggal bersama ibunya dengan kehidupan yang sangat sederhana, Ayahnya yang sudah lama meninggal sehingga sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka.

  Tentu saja ekonomi yang sangat sulit saat ini. Mereka hanya memiliki sebuah rumah bambu yang dibuat oleh almarhum sang ayah dulu nya. Mereka sudah tidak memiliki tanah untuk ditanami padi, karena sebelum Ayah Dara meninggal mereka sudah menjual nya untuk biaya pengobatan sang Ayah di rumah sakit, namun sia-sia Tuhan berkehendak lain sehingga sang Ayah mengakhiri hidupnya saat itu. Karena itu Ibu Dara  harus berjuang menjadi tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhannya dan Dara setiap hari.    

  Walaupun hidup dengan sederhana, Dara dan Ibu nya selalu merasakan kebahagiaan di rumah itu, mereka selalu bersyukur atas apa yang mereka punya saat ini. Ibu Dara adalah seorang Ibu yang sangat berhati mulia, ia berdagang kue setiap harinya dengan menggunakan sepeda kuno nya untuk berkeliling kampung. Pagi itu Dara hendak berpamitan kepada Ibu nya untuk pergi ke sekolah.

   "Bu, Dara pamit ya," ucap nya seiring mencium punggung tangan Ibu nya yang berada di dapur untuk membereskan dagangan nya hari ini.

   "Kamu sudah sarapan?" Tanya Ibu nya.

   "Sudah Bu," jawab Dara.

   "ya sudah sana nanti keburu telat!" sambung Ibu nya lagi. Dara pun tersenyum sambil pergi berjalan menuju sekolah.

Sambil berjalan tiba-tiba seseorang mengejutkan nya dari belakang

   "Duarrrrr! "

   "Iihh apaan si Nina ngagetin aja deh, untung jantung ku ga copot tadi," dengkus nya kesal.

  Tentu saja itu Nina, sahabat Dara semenjak menduduki bangku SMA.

   "hahahahah, sorry Dar! lagian kamu ngapain si bengong-bengong di jalan? Bahaya tau!" sambung Nina.

   "Udah! Jangan banyak nanya, entar keburu telat,” jawab Dara sambil berjalan meninggalkan Nina.

  Sedangakan di rumah, Ibu Dara sedang membereskan dagangan nya untuk segera dijual berkeliling kampung. Terik panas matahari yang di rasakan Ibu nya Dara saat ini namun, dia selalu semangat untuk bisa mendapatkan rupiah. Seiring berjalannya waktu semangatnya tidak pudar menawarkan kue dagangannya itu.

   "Kue-kue, kuee..., kue nya buk!!, kue... " begitulah cara nya menawarkan kue nya kepada kalangan masyarakat.

   "Dagangan ku dari tadi belum laku satu pun, kemana lagi aku harus menjualnya," gumam nya, sambil terus mendayung sepeda nya. Saat itu lewat dalam pikirannya untuk pergi ke dekat sekolah Dara SMA N 1 SUKADAME.

 Triingggg........, bunyi bel pulang sekolah seluruh siswa-siswi SMA N 1 SUKADAME bergegas dari ruangan nya masing-masing untuk pulang. Nina pun berlari ke gerbang untuk mencari keberadaan Dara namun ternyata dara belum ada di sana sehingga Nina sedikit mengerutkan kening nya sambil kesal.

   "Dara dimana sih? lama bangat," gerutu nya sambil melihat jam tangan nya.

   "Eh.. Nin, dah lama nunggu nya?" Tanya Dara yang ngos-ngosan sambil membungkuk kan badan nya.

   "Ngga!, baru 15 menit," tegas Nina sambil memandangi Dara.

   "Hehehe  sory Nin, jangan marah dong," sambung Dara.

   "Lagian darimana sih?" Tanya Nina lagi.

   "Habis jadwal kebersihan aku lupa kalo hari ini itu jadwal ku," jawab Dara.

   "Yaudah ayok!, Dasar lambat,” ledek Nina sambil meninggalkan Dara.

  Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Dara dan Nina tidak sengaja melihat tukang kue yang di kerumuni siswa-siswi SMA N 1 Sukadame.

   "Wihh kayak nya enak tuh Dar sampe di kerumuni gitu tukang kue nya, beli yuk! Aku yang traktir deh," Ajak Nina.

   "Ayok!" Jawab Dara senang.

  Sesampai nya di tukang kue betapa terkejut nya Dara dan Nina melihat tukang kue yang ternyata adalah ibu Dara sendiri.

   "Loh ibu? kenapa ibu sampai kesini?" Tanya Dara kaget.

   "Eh Dara, iya nih kalo ibu hanya jualan dikampung dagangan ibu ga akan laku-laku, sekarang dagangan Ibu sudah habis semua Ibu sangat bersyukur akhirnya habis juga," jawab Ibu nya.

  Dara tersenyum mendengar ucapan Ibu nya itu yang terlihat senang hari ini.

   "Sini Dara bantu bu," pinta Dara kepada Ibu nya.

  Dengan bingung Ibu Dara menjawab "Ga usah Dar nanti teman-teman kamu pada liatin kamu, nanti kamu malu. Sana kamu duluan aja sama Nina.”

  Dengan sigap Dara menjawab "Ngga dong bu, Dara ga malu ngapain Dara malu, aku tuh lebih malu kalo aku ga ngakuin Ibu aku sendiri.”

  Nina pun terharu dengan tingkah Dara terhadap Ibu nya.

   "Dara itu benar Bi.. Kita ga boleh malu dengan pekerjaan  orang tua kita, justru kita harus membantu setiap pekerjaan orang tua kita,” jawab Nina.

   "Kalian memang anak yang baik, Ibu bersyukur bangat diberikan anak seperti kalian," jawab Ibu Dara.

   "Ya udah kalo gitu aku duluan ya Dar, Bibi  ntar kelamaan, ada urusan  soalnya,” seru Nina sambil berjalan.

   "Hati-hati ya Nin," sahut Dara sambil melambaikan tangan nya kepada Nina.

   "Kita pulang juga yuk Bu," ajak Dara kepada Ibu nya.

  Saat sampai ke rumah Dara dan Ibu nya di buat bingung dengan orang-orang yang mengenakan stelan jas hitam dan kacamata hitam itu berdiri dengan gagah di depan rumah nya, mereka sangat tampan dengan banyak pengawal yang mendampinginya di belakang.

   "Maaf, kalian ini siapa ya?" tanya Ibu nya dengan bingung.

   "Kami ingin membeli tanah ini, saya adalah Rendy CEO dari PT ANGKASA PURA berapa pun akan kami bayar," jawab nya dengan sombong "Berikan uangnya!" Seru nya lagi kepada pengawal nya.

  Tiba-tiba Dara berkata "Berapa pun kami tidak akan pernah menjual tanah ini!"

 "Rumah ini sangat jelek! jika kalian menjual nya, bukan kah kalian akan mendapat tempat tinggal yang lebih layak dasar bodoh," sambung nya lagi.

   Karena merasa terhina akan perkataan orang itu Dara pun berkata lagi "Bukankah kalian bisa mencari tanah yang lain! Kenapa harus rumah kami?"

  "Kami hanya ingin tanah ini, kami akan segera membangun fila disini, tapi karena rumah ini pembangunan kami terhalang," jawab Rendy dengan tegas.

   "Ngga!, walaupun rumah ini jelek kami tidak akan menjualnya, ini harta satu-satunya buat keluarga kami. Rumah ini dibangun oleh Ayah saya dengan jerih payahnya sampai kapan pun kami tidak akan memberikannya pada kalian," sambung Dara lagi.

   "Saya tidak berurusan dengan anak kecil seperti kamu! Saya hanya berurusan dengan Ibu mu, jika kalian tidak memberikannya kami akan bertindak," tegas orang itu lagi.

  Sambil menangis Ibu Dara membujuk Dara   "Sudah nak..., kita jual saja, Ibu takut kamu kenapa-napa," pinta Ibu nya.

  Walaupun itu hanya rumah bambu Dara tetap saja mempertahan kan rumah itu, karena dulunya rumah itu di buat oleh almarhum sang Ayah. Dara pun teringat ketika Ayahnya masih hidup.

                                                            ***

   "Ayah mau kemana?" Tanya nya dengan bingung yang melihat sang Ayah memegang pisau.

   "Ayah akan mengambil bambu dan membuatkan rumah untuk kita, supaya kita tidak tinggal di rumah kardus ini terus," jawab sang Ayah.

   "Hore.... Akhirnya sebentar lagi kita punya rumah sendiri yah," jawab Dara kegirangan.

   "Walaupun rumah bambu, tapi setidaknya kita hidup lebih nyaman, nanti kalo kamu udah sukses kamu yang akan ganti rumahnya agar besar, supaya nanti Ayah dan Ibu bisa tinggal  di rumah bergedung," sambungnya.

                                        .               ***

   "Ngga Bu! Dara ga mau," jawab nya sambil menangis.

   "Ibu tau kamu, Ibu akan coba bicara dulu ya," jawab Ibunya.

  Karena merasa kelamaan dengan jawaban dari Ibu Dara, Rendy pun mulai bosan.

   "Dasar miskin! Pake sok jual mahal," sambung salah satu pengawal nya.

  Dara pun tidak kuasa menahan amarahnya "Maaf Pak, kami memang miskin akan harta tapi bapak lebih miskin akan etika! Bapak menginginkan tanah kami, tapi Bapak melakukan dengan tindakan paksa," jawab Dara.

Karena merasa di kucil kan oleh anak kecil, Rendy pun merasa malu dan langsung mengajak para pengawal nya pergi.

   "Ayo cabut!" Seru nya.

  Dara pun merasa lega karena Rendy dan pengawalnya sudah pergi. Ia pun memeluk Ibunya sambil tersedu-sedu menangis.

   "Dara sangat menyayangi rumah ini Bu! sampai kapan pun Dara ga akan pernah menjual nya! Nanti kalo Dara dah sukses Dara akan ingat pesan Ayah," jawab Dara di sela kesedihan nya.

  "Udah jangan nangis lagi ya "Sambung Ibu nya. Dara menganggukkan kepalanya dan tersenyum memeluk Ibunya.

  Dari sini kita belajar bahwa bahagia itu tidak harus kaya. Terkadang dari kesusahan kita akan banyak menciptakan motivasi. Jadilah orang yang bisa membentuk motivasi dari diri sendiri, bukan sebagai pencari motivasi .

 

 

                                             Penulis adalah siswa SMA N 1 PURBA 2022

                                                                                      Editor:Gryfia Munthe

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...