Rabu, 19 Oktober 2022

VARRO'S STORY

 


Karya Helen J V Purba*

 

       Di Minggu pagi yang cerah, seorang anak laki-laki dengan tubuh gagahnya dan kulitnya yang berwarna sawo matang sedang melakukan olahraga kecil untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku, karena dia baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak malam tadi.

Di saat menuruni anak tangga, dia sudah disambut oleh ibunya yang sedang berada di dapur.

“Eh, Varro udah bangun?” Tanya ibunya. Ya namanya adalah Varro Nata Ryder.

“Iya bu, ibu lagi masak apa?” Ujar Varro.

“Ibu lagi masak sayur kesukaan kamu.”

“Udah selesai belum bu? Varro sudah lapar, hehe.”

“Iya ini sudah selesai.”                                      

       Pagi ini Varro dan keluarga kecilnya yaitu bapak, ibu, dan dua adik perempuannya Zane dan Daisha, makan dengan damai di meja makan. Terkadang mereka berbincang dan bercanda satu sama lain.

       Keesokan harinya, yaitu tepatnya pada hari Senin, Varro kembali bersekolah seperti biasanya. Varro adalah siswa kelas 11 IPA 3 di SMA Tunas Harapan, yaitu SMA yang menjadi salah satu sekolah favorit di kalangan anak remaja di sana. Siswa siswi di sekolah tersebut adalah murid yang berprestesi dan bertalenta, Varro juga termasuk murid yang pintar tidak hanya di bidang akademik, dia juga hebat dalam bidang olahraga basket dan bela diri seperti taekwondo.

       Varro memiliki dua sahabat yaitu Alvares atau yang sering dipanggil Ares dan Cakra, mereka sudah berteman sejak awal bertemu di kelas 10. Alvares adalah orang yang pecicilan dan juga humoris, sedangkan Cakra orangnya sedikit pendiam. Varro juga sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka, yang selalu melengkapi satu sama lain.

       Saat ini kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, Varro dan teman-temannya belajar dengan hikmat. Jam istirahat sudah tiba, banyak siswa yang keluar kelas untuk menenangkan pikirannya setelah pembelajaran yang menguras otak. Varro dan kedua sahabatnya pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.

       Setelah semua pembelajaran selesai akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Di saat perjalanan pulang ke rumah, Varro bertemu dengan seorang anak kecil yang terlihat kesusahan membenarkan rantai sepedanya yang sepertinya lepas. Varro pun memberhentikan sepeda motornya dan turun untuk membantu anak kecil tersebut.

“Adek namanya siapa?” Tanya Varro sambil membenarkan sepeda anak itu.

“Nama aku Gio bang,” jawabnya.

“Gio sekarang kelas berapa?”

“Gio udah kelas 4 SD bang,”

“Ohh……” Setelah Varro selesai membenarkan sepeda Gio tampaknya dia sangat senang.

“Terima kasih abang ganteng,” ujar Gio dengan senyuman yang terlihat lucu di mata Varro.

“Iya sama-sama, hati-hati di jalan yah…,” balas Varro pada anak itu.

Varro pun kembali ke motornya dan segera pulang ke rumah.

       Malam hari pun tiba, setelah selesai belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya Varro beranjak keluar menuju balkon kamarnya. Di sana Varro memandang ke arah langit malam yang indah, terlihat bulan yang bersinar terang dan ditemani oleh  bintang-bintang kecil yang bertaburan di sekitarnya. Varro saat ini merasa bahwa dia adalah bulan yang sedang ditemani oleh bintang-bintang di sekitarnya yang membuat pikirannya lebih tenang saat ini. Varro kembali ke dalam kamarnya untuk kembali mengistirahatkan badannya yang sudah letih.

       Pagi sudah tiba, Varro kembali bergegas untuk pergi ke sekolah. Bel masuk jam pertama di telah berbunyi, guru pun sudah masuk ke kelas. Nampaknya Ares sudah mulai lesu, terlihat dari wajahnya yang sudah kusut. Karena jam pertama adalah pelajaran kimia. Ares sangat lemah di bidang ini, dia tidak terlalu mengerti dan sangat sulit untuk memahaminya. Tetapi tidak dengan dengan Varro dan Cakra, mereka cukup mahir dalam pembelajaran kali ini.

        Akhir-akhir ini Varro sangat memaksakan dirinya untuk terus belajar, itu juga di sebabkan karena ujian penaikan kelas sudah semakin dekat. Dia tidak terlalu memperhatikan kesehatannya, dia sering begadang dan pola makan dan minumnya yang tidak baik untuk kesehatannya. Ibunya juga sangat khawatir akan kesehatan anaknya, seperti saat ini Varro belajar di dalam kamarnya hingga melewatkan jam makan malamnya. Pada akhirnya ibunya pergi ke kamar Varro untuk mengajak anaknya itu makan malam.

Tok…tok…tok… Varro mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.

“Varro ayo makan malam dulu, belajarnya lanjut nanti aja,” ucap ibunya.

“Iya Bu, kalian makan duluan saja nanti Varro menyusul,” balas Varro kepada ibunya itu.

       Lima menit, sepuluh menit, keluarga Varro sudah seleai dengan makan malamnya mereka sudah lama menunggu kedatangan anak itu. Namun, Varro tak kunjung datang ke ruang makan, sehingga ibunya pergi menyusul Varro ke kamarnya lagi dengan membawa nampan yang berisi makan malam untuk Varro.

Tok…tok…tok… Ibu Varro kembali mengetuk pintu kamar anaknya itu.

“Varro ini ibu bawa makan malam buat kamu, dimakan dulu,” ucap ibunya.

“Masuk aja Bu,pintunya gak Varro kunci,” jawab Varro dari dalam kamarnya.

        Saat masuk ke dalam kamar Varro terlihat banyak buku berserakan di atas meja belajarnya. Varro juga tampak berkutat dengan buku-buku tersebut.Sambil menunggu Varro selesai dengan makan malamnya ibunya pun berinisiatif untuk membantu Varro membenahi kamar anaknya itu, mulai dari sampah yang berserakan di lantai dan buku-buku di meja belajar. Sebenarnya tadi Varro sudah melarang ibunya untuk melakukan hal tersebut, dengan alasan bahwa dia dapat melakukannya sendiri. Namun ibunya itu sangat keras kepala untuk tetap membersihkan kamarnya, Varro pun hanya bisa pasrah.

“Kalau sudah selesai belajarnya langsung tidur, jangan begadang lagi.”

“Iya bu, ini bentar lagi juga akan selesai tugasnya.”

       Pagi pun tiba, terdengar suara kicauan burung yang merdu dan cahaya dari teriknya matahari yang masuk dari cela-cela jendela kamar Varro. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah berpamitan dari kedua orang tuanya dia langsung mengendarai sepeda motornya menuju ke sekolah. Selama perjalanan di koridor sekolah, Varro berpapasan dengan seorang gadis dari kelas 11 IPA 1, namanya Chesa Arabela. Dia adalah gadis yang ditaksir oleh Varro sejak duduk di kelas 10, memang tidak banyak yang mengetahui hal tersebut. Chesa termasuk anak yang pintar dan aktif di dalam organisasi-organisasi sekolah, hal itu membuat Varro enggan untuk mengungkapkan perasaannya dan hanya dapat memandang gadis itu dari kejauhan. Varro hanya memberitahu hal ini kepada kedua sahabatnya, yaitu Cakra dan Alvares. Saat ini juga Varro mengumpulkan keberaniannya untuk menyapa gadis itu.

“Ekhem… hai, Chesa ya?” Ujar Varro dengan gugup.

“iya, kamu Varro bukan?” Balas gadis manis itu. Varro hanya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Chesa. Melihat Chesa yang sedang membawa banyak buku Varro pun berniat untuk menawarkan bantuan kepadanya.

“Ehm… Chesa, aku bantuin bawa buku-bukunya boleh ya,” tawar Varro.

“Eh, gak usah Chesa bisa sendirian,”

“Aku ikhlas kok bantuinnya.”

       Varro langsung mengambil alih buku-buku itu dari tangan Chesa, dan dia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Varro tersebut. Selama perjalanan menuju ke ruang guru mereka berbincang-bincang dan saling bertanya antara satu sama lain, dapat dikatakan juga Varro sudah mulai pendekatan dengan Chesa, gadis dia suka selama ini. Apakah Varro akan berhasil mendapatkan cinta dari Chesa? Ya semoga itu dapat berjalan dengan lancer, hahahaha.

     Beberapa minggu kemudian, tampaknya Varro dan Chesa sudah semakin dekat. Mereka berdua sering belajar bersama atau pergi ke suatu tempat hanya untuk menenangkan pikiran mereka yang sudah lelah dengan materi-materi pembelajaran itu. Tetapi, walaupun begitu Varro tetap meluangkan waktunya bersama dengan kedua sahabatnya walaupun hanya sebentar, yah sekedar bertukar pikiran ataupun curhat tentang apa yang mereka alami.

      Saat ini Varro, Cakra dan Ares sedang berada di kantin sekolah menyantap makanan yang mereka pesan tadi. Ares makan dengan sangat rakus, sudah seperti tidak diberi makan berminggu-minggu. Varro dan Cakra yang melihat itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu. Tidak berselang lama ada seorang perempuan yang masuk ke kantin membuat Ares yang melihatnya menjadi tampak murung. Itu adalah Clara siswi kelas 11 IPS 3. Beberapa waktu lalu Ares mengajaknya untuk menjalin hubungan, yaitu berpacaran namun Ares ditolak. Kedua sahabatnya juga kasihan melihat seorang Alvares ditolak seperti itu, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menghiburnya.

“Udah jangan dipikirin terus masalah itu, nanti kalau jodoh pasti akan bertemu lagi,” ucap Varro untuk menenangkan Ares.

“Hukum kimia pernah berkata, sebenarnya cinta itu bagaikan hukum atom, ada saatnya untuk memiliki dan juga ada saatnya harus melespaskan,” ucap Cakra yang membuat Ares terdiam dan merenung, ucapan Cakra ada benarnya juga.

       Waktu terus beerjalan, ujian kenaikan kelas pun sudah dekat Varro pun sering belajar bersama dengan Chesa untuk saling bertukar pikiran. Kedekatan Varro dan Chesa sudah banyak yang mengetahuinya bahkan banyak siswa siswi lain mengira bahwa mereka sudah berpacaran, tapi mereka hanyalah sebatas teman dekat. Saat ini kelas Varro sedang jam pelajaran PJOK da nada praktek bermain basket. Tentu saja mereka sangat bersemangat, karena rata-rata di kelas mereka banyak yang mahir dalam bermain permainan tersebut. Namun, di tengah permainan konsentrasi Varro berkurang, rasanya otot-ototnya mulai kram dan dia merasa sangat lelah, padahal dia baru bermain basket sebentar. Akhirnya Varro menyudahi kegiatannya dan pergi menuju ke UKS, untuk istirahat sebentar. Bel pulang sekolah berbunyi, tapi Varro belum bangun sehingga petugas UKS pergi membangunkan dia saat ingin mengunci ruangan UKS. Saat sampai di rumah dia kembali masuk ke kamar dan istirahat. Namun, keadaan Varro semakin memburuk wajahnya yang pucat dan suhu badannya yang tinggi. Melihat keadaan Varro yang seperti itu orang tuanya pun membawa dia ke Rumah Sakit untuk perawatan lebih lanjut.

       Sudah seminggu ini Varro dirawat di RS dan teman-temannya pun sudah sering menjenguknya. Sebenarnya mereka sedih mendengar bahwa Varro memiliki penyakit gagal ginjal dan sudah masuk stadium 3, dimana ginjalnya sudah mulai rusak dan kinerja ginjal sudah terganggu. Walaupun saat ini kondisinya sudah mulai membaik dokter masih belum mengijinkan Varro pulang ke rumah, tujuannya untuk mempermudah memantau perkembangan kesehatannya.

       Setelah selesai ujian penaikan kelas kondisi Varro semakin memburuk dan langsung dibawa ke rumah sakit dan Varro masuk ke ruang UGD. Pemeriksaan terasa berjalan berjalan sangat lama, orang tuanya menunggu dengan perasaan yang gelisah karena khawatir dengan keadaan anaknya. Hampir sejam kemudian akhirnya dokter keluar dari ruang UGD. Orang tua Varro memandang dokter itu dengan berharap bahwa akan ada kabar baik yang terucap dari mulutnya. Namun harapan itu musnah seketika saat dokter itu mengatakan bahwa kondisi Varro sangat buruk dan sangat kecil kemungkinan dia akan bertahan hidup dengan lama. Hari selanjutnya orang tua Varro selalu bolak-balik rumah sakit untuk menjenguk anaknya itu. Tetapi pada hari ini duka menyelimuti seluruh keluarga Varro, sahabat serta teman-teman dekatnya. Saat dokter melakukan pemeriksaan rutin, keadaan Varro sangatlah buruk. Sehingga tidak berselang waktu yang lama Varro menghembuskan napas terakhirnya dan tertidur untuk selama-lamanya.

       Saat ini, tepat pada hari Senin ini Varro akan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ibu Varro hanya bisa menangis histeris melihat peti yang berisi tubuh anaknya yang sudah membeku dengan suaminya yang berada di sampingnya berusaha untuk menghibur istrinya itu. Cakra dan Ares juga merasa sangat terpukul akan berita duka cita yang menimpa mereka. Walaupun mereka belum cukup lama bersahabat dengan Varro tetapi, dia adalah sahabat terbaik yang pernah mereka jumpai. Varro merupakan orang yang selalu membantu mereka dalam keadaan apapun dan yang paling dapat mengerti mereka berdua. Varro sudah menjadi seseorang yang penting bagi mereka, tetapi kini dia sudah tiada menyisakan kenangan yang indah di dalam hatinya masing-masing.

       Di sisi lain seorang gadis manis sedang berdiam diri di dalam kamarnya sambil menangis pilu, dia adalah Chesa. Setelah dia mendengar kabar duka cita tentang Varro dia tiba-tiba menjadi sangat pendiam di sekolah. Chesa, gadis yang selama ini ditaksir oleh Varro ternyata juga sudah memiliki rasa yang sama dengannya, Chesa tidak tahu kapan perasaan itu muncul pada dirinya. Namun, rasanya kini sia-sia jika dia mengungkapkan perasaan itu, pria itu sudah tiada dia sudah kembali kepada penciptanya. Kini Chesa hanya bisa menangisinya di dalam kamarnya itu dan berharap Varro akan tenang di sana. Dia hanya akan hidup dengan bayangan dan kenang-kenangan saat bersama Varro. Meskipun Chesa baru dekat dengan Varro tapi dia akan menjadi orang yang istimewa bagi Chesa.

       Varro adalah pria yang memiliki sejuta keistimewaan di mata orang yang mengenalnya, kini dia sudah pergi meninggalkan dunia dan menemui Sang penciptanya. Meninggalkan orang tuanya yang sudah merawat, menjaga dan mendidik dia sampai akhir hidupnya, meninggalkan dua adik kecil perempuannya, meninggalkan dua orang sahabat yang menjadi tempat mencurahkan keluh kesahnya setiap hari, meninggalkan gadis yang kini sudah memiliki perasaan yang sama dengannya dan juga meninggalkan orang-orang yang dia sayangi maupun yang menyayanginya juga. Tapi inilah hidup, kita tidak tahu kapan kita berpulang kepada yang Maha Kuasa itu akan datang cepat atau lambat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, jadi nikmati apa yang ada saat ini dan hargai setiap detik dan momen di dalam hidupmu.

*Editor: Elly S Saragih

*Penulis adalah siswi SMA Negeri 1 Purba 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...