Karya Helen J V Purba*
Di Minggu pagi yang cerah, seorang anak laki-laki dengan tubuh gagahnya
dan kulitnya yang berwarna sawo matang sedang melakukan olahraga kecil untuk
meregangkan otot-ototnya yang kaku, karena dia baru saja bangun dari tidurnya
yang nyenyak malam tadi.
Di saat menuruni anak tangga, dia sudah disambut oleh ibunya yang sedang berada di dapur.
“Eh, Varro udah bangun?” Tanya ibunya. Ya namanya adalah Varro Nata
Ryder.
“Iya bu, ibu lagi masak apa?” Ujar Varro.
“Ibu lagi masak sayur kesukaan kamu.”
“Udah selesai belum bu? Varro sudah lapar, hehe.”
“Iya ini sudah selesai.”
Pagi ini Varro dan keluarga
kecilnya yaitu bapak, ibu, dan dua adik perempuannya Zane dan Daisha, makan
dengan damai di meja makan. Terkadang mereka berbincang dan bercanda satu sama
lain.
Keesokan harinya, yaitu
tepatnya pada hari Senin, Varro kembali bersekolah seperti biasanya. Varro
adalah siswa kelas 11 IPA 3 di SMA Tunas Harapan, yaitu SMA yang menjadi salah
satu sekolah favorit di kalangan anak remaja di sana. Siswa siswi di sekolah
tersebut adalah murid yang berprestesi dan bertalenta, Varro juga termasuk
murid yang pintar tidak hanya di bidang akademik, dia juga hebat dalam bidang
olahraga basket dan bela diri seperti taekwondo.
Varro memiliki dua sahabat
yaitu Alvares atau yang sering dipanggil Ares dan Cakra, mereka sudah berteman
sejak awal bertemu di kelas 10. Alvares adalah orang yang pecicilan dan juga
humoris, sedangkan Cakra orangnya sedikit pendiam. Varro juga sangat bersyukur
memiliki sahabat seperti mereka, yang selalu melengkapi satu sama lain.
Saat ini kegiatan belajar
mengajar sedang berlangsung, Varro dan teman-temannya belajar dengan hikmat.
Jam istirahat sudah tiba, banyak siswa yang keluar kelas untuk menenangkan
pikirannya setelah pembelajaran yang menguras otak. Varro dan kedua sahabatnya
pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.
Setelah semua pembelajaran
selesai akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Di saat perjalanan pulang ke
rumah, Varro bertemu dengan seorang anak kecil yang terlihat kesusahan
membenarkan rantai sepedanya yang sepertinya lepas. Varro pun memberhentikan
sepeda motornya dan turun untuk membantu anak kecil tersebut.
“Adek namanya siapa?” Tanya Varro sambil membenarkan sepeda anak itu.
“Nama aku Gio bang,” jawabnya.
“Gio sekarang kelas berapa?”
“Gio udah kelas 4 SD bang,”
“Ohh……” Setelah Varro selesai membenarkan sepeda Gio tampaknya dia
sangat senang.
“Terima kasih abang ganteng,” ujar Gio dengan senyuman yang terlihat
lucu di mata Varro.
“Iya sama-sama, hati-hati di jalan yah…,” balas Varro pada anak itu.
Varro pun kembali ke motornya dan segera pulang ke rumah.
Malam hari pun tiba,
setelah selesai belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya Varro beranjak keluar
menuju balkon kamarnya. Di sana Varro memandang ke arah langit malam yang
indah, terlihat bulan yang bersinar terang dan ditemani oleh bintang-bintang kecil yang bertaburan di
sekitarnya. Varro saat ini merasa bahwa dia adalah bulan yang sedang ditemani
oleh bintang-bintang di sekitarnya yang membuat pikirannya lebih tenang saat
ini. Varro kembali ke dalam kamarnya untuk kembali mengistirahatkan badannya
yang sudah letih.
Pagi sudah tiba, Varro
kembali bergegas untuk pergi ke sekolah. Bel masuk jam pertama di telah
berbunyi, guru pun sudah masuk ke kelas. Nampaknya Ares sudah mulai lesu,
terlihat dari wajahnya yang sudah kusut. Karena jam pertama adalah pelajaran
kimia. Ares sangat lemah di bidang ini, dia tidak terlalu mengerti dan sangat
sulit untuk memahaminya. Tetapi tidak dengan dengan Varro dan Cakra, mereka
cukup mahir dalam pembelajaran kali ini.
Akhir-akhir ini Varro sangat memaksakan dirinya untuk terus belajar, itu
juga di sebabkan karena ujian penaikan kelas sudah semakin dekat. Dia tidak
terlalu memperhatikan kesehatannya, dia sering begadang dan pola makan dan
minumnya yang tidak baik untuk kesehatannya. Ibunya juga sangat khawatir akan
kesehatan anaknya, seperti saat ini Varro belajar di dalam kamarnya hingga
melewatkan jam makan malamnya. Pada akhirnya ibunya pergi ke kamar Varro untuk
mengajak anaknya itu makan malam.
Tok…tok…tok… Varro mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Varro ayo makan malam dulu, belajarnya lanjut nanti aja,” ucap ibunya.
“Iya Bu, kalian makan duluan saja nanti Varro menyusul,” balas Varro
kepada ibunya itu.
Lima menit, sepuluh menit,
keluarga Varro sudah seleai dengan makan malamnya mereka sudah lama menunggu
kedatangan anak itu. Namun, Varro tak kunjung datang ke ruang makan, sehingga
ibunya pergi menyusul Varro ke kamarnya lagi dengan membawa nampan yang berisi
makan malam untuk Varro.
Tok…tok…tok… Ibu Varro kembali mengetuk pintu kamar anaknya itu.
“Varro ini ibu bawa makan malam buat kamu, dimakan dulu,” ucap ibunya.
“Masuk aja Bu,pintunya gak Varro kunci,” jawab Varro dari dalam
kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar
Varro terlihat banyak buku berserakan di atas meja belajarnya. Varro juga
tampak berkutat dengan buku-buku tersebut.Sambil menunggu Varro selesai dengan
makan malamnya ibunya pun berinisiatif untuk membantu Varro membenahi kamar
anaknya itu, mulai dari sampah yang berserakan di lantai dan buku-buku di meja
belajar. Sebenarnya tadi Varro sudah melarang ibunya untuk melakukan hal
tersebut, dengan alasan bahwa dia dapat melakukannya sendiri. Namun ibunya itu
sangat keras kepala untuk tetap membersihkan kamarnya, Varro pun hanya bisa
pasrah.
“Kalau sudah selesai belajarnya langsung tidur, jangan begadang lagi.”
“Iya bu, ini bentar lagi juga akan selesai tugasnya.”
Pagi pun tiba, terdengar
suara kicauan burung yang merdu dan cahaya dari teriknya matahari yang masuk
dari cela-cela jendela kamar Varro. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke
sekolah. Setelah berpamitan dari kedua orang tuanya dia langsung mengendarai
sepeda motornya menuju ke sekolah. Selama perjalanan di koridor sekolah, Varro
berpapasan dengan seorang gadis dari kelas 11 IPA 1, namanya Chesa Arabela. Dia
adalah gadis yang ditaksir oleh Varro sejak duduk di kelas 10, memang tidak
banyak yang mengetahui hal tersebut. Chesa termasuk anak yang pintar dan aktif
di dalam organisasi-organisasi sekolah, hal itu membuat Varro enggan untuk
mengungkapkan perasaannya dan hanya dapat memandang gadis itu dari kejauhan.
Varro hanya memberitahu hal ini kepada kedua sahabatnya, yaitu Cakra dan
Alvares. Saat ini juga Varro mengumpulkan keberaniannya untuk menyapa gadis
itu.
“Ekhem… hai, Chesa ya?” Ujar Varro dengan gugup.
“iya, kamu Varro bukan?” Balas gadis manis itu. Varro hanya
menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Chesa. Melihat Chesa yang sedang
membawa banyak buku Varro pun berniat untuk menawarkan bantuan kepadanya.
“Ehm… Chesa, aku bantuin bawa buku-bukunya boleh ya,” tawar Varro.
“Eh, gak usah Chesa bisa sendirian,”
“Aku ikhlas kok bantuinnya.”
Varro langsung mengambil
alih buku-buku itu dari tangan Chesa, dan dia hanya bisa pasrah dengan
perlakuan Varro tersebut. Selama perjalanan menuju ke ruang guru mereka berbincang-bincang
dan saling bertanya antara satu sama lain, dapat dikatakan juga Varro sudah
mulai pendekatan dengan Chesa, gadis dia suka selama ini. Apakah Varro akan
berhasil mendapatkan cinta dari Chesa? Ya semoga itu dapat berjalan dengan
lancer, hahahaha.
Beberapa minggu kemudian,
tampaknya Varro dan Chesa sudah semakin dekat. Mereka berdua sering belajar
bersama atau pergi ke suatu tempat hanya untuk menenangkan pikiran mereka yang
sudah lelah dengan materi-materi pembelajaran itu. Tetapi, walaupun begitu
Varro tetap meluangkan waktunya bersama dengan kedua sahabatnya walaupun hanya
sebentar, yah sekedar bertukar pikiran ataupun curhat tentang apa yang mereka
alami.
Saat ini Varro, Cakra dan
Ares sedang berada di kantin sekolah menyantap makanan yang mereka pesan tadi.
Ares makan dengan sangat rakus, sudah seperti tidak diberi makan
berminggu-minggu. Varro dan Cakra yang melihat itu pun hanya bisa geleng-geleng
kepala melihat tingkah temannya itu. Tidak berselang lama ada seorang perempuan
yang masuk ke kantin membuat Ares yang melihatnya menjadi tampak murung. Itu
adalah Clara siswi kelas 11 IPS 3. Beberapa waktu lalu Ares mengajaknya untuk
menjalin hubungan, yaitu berpacaran namun Ares ditolak. Kedua sahabatnya juga
kasihan melihat seorang Alvares ditolak seperti itu, tapi mereka tidak dapat
berbuat apa-apa selain menghiburnya.
“Udah jangan dipikirin terus masalah itu, nanti kalau jodoh pasti akan
bertemu lagi,” ucap Varro untuk menenangkan Ares.
“Hukum kimia pernah berkata, sebenarnya cinta itu bagaikan hukum atom,
ada saatnya untuk memiliki dan juga ada saatnya harus melespaskan,” ucap Cakra
yang membuat Ares terdiam dan merenung, ucapan Cakra ada benarnya juga.
Waktu terus beerjalan,
ujian kenaikan kelas pun sudah dekat Varro pun sering belajar bersama dengan
Chesa untuk saling bertukar pikiran. Kedekatan Varro dan Chesa sudah banyak
yang mengetahuinya bahkan banyak siswa siswi lain mengira bahwa mereka sudah
berpacaran, tapi mereka hanyalah sebatas teman dekat. Saat ini kelas Varro
sedang jam pelajaran PJOK da nada praktek bermain basket. Tentu saja mereka
sangat bersemangat, karena rata-rata di kelas mereka banyak yang mahir dalam
bermain permainan tersebut. Namun, di tengah permainan konsentrasi Varro
berkurang, rasanya otot-ototnya mulai kram dan dia merasa sangat lelah, padahal
dia baru bermain basket sebentar. Akhirnya Varro menyudahi kegiatannya dan
pergi menuju ke UKS, untuk istirahat sebentar. Bel pulang sekolah berbunyi,
tapi Varro belum bangun sehingga petugas UKS pergi membangunkan dia saat ingin
mengunci ruangan UKS. Saat sampai di rumah dia kembali masuk ke kamar dan
istirahat. Namun, keadaan Varro semakin memburuk wajahnya yang pucat dan suhu
badannya yang tinggi. Melihat keadaan Varro yang seperti itu orang tuanya pun
membawa dia ke Rumah Sakit untuk perawatan lebih lanjut.
Sudah seminggu ini Varro
dirawat di RS dan teman-temannya pun sudah sering menjenguknya. Sebenarnya
mereka sedih mendengar bahwa Varro memiliki penyakit gagal ginjal dan sudah
masuk stadium 3, dimana ginjalnya sudah mulai rusak dan kinerja ginjal sudah
terganggu. Walaupun saat ini kondisinya sudah mulai membaik dokter masih belum
mengijinkan Varro pulang ke rumah, tujuannya untuk mempermudah memantau
perkembangan kesehatannya.
Setelah selesai ujian
penaikan kelas kondisi Varro semakin memburuk dan langsung dibawa ke rumah
sakit dan Varro masuk ke ruang UGD. Pemeriksaan terasa berjalan berjalan sangat
lama, orang tuanya menunggu dengan perasaan yang gelisah karena khawatir dengan
keadaan anaknya. Hampir sejam kemudian akhirnya dokter keluar dari ruang UGD.
Orang tua Varro memandang dokter itu dengan berharap bahwa akan ada kabar baik
yang terucap dari mulutnya. Namun harapan itu musnah seketika saat dokter itu
mengatakan bahwa kondisi Varro sangat buruk dan sangat kecil kemungkinan dia
akan bertahan hidup dengan lama. Hari selanjutnya orang tua Varro selalu
bolak-balik rumah sakit untuk menjenguk anaknya itu. Tetapi pada hari ini duka
menyelimuti seluruh keluarga Varro, sahabat serta teman-teman dekatnya. Saat
dokter melakukan pemeriksaan rutin, keadaan Varro sangatlah buruk. Sehingga
tidak berselang waktu yang lama Varro menghembuskan napas terakhirnya dan
tertidur untuk selama-lamanya.
Saat ini, tepat pada hari
Senin ini Varro akan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ibu Varro
hanya bisa menangis histeris melihat peti yang berisi tubuh anaknya yang sudah
membeku dengan suaminya yang berada di sampingnya berusaha untuk menghibur
istrinya itu. Cakra dan Ares juga merasa sangat terpukul akan berita duka cita
yang menimpa mereka. Walaupun mereka belum cukup lama bersahabat dengan Varro
tetapi, dia adalah sahabat terbaik yang pernah mereka jumpai. Varro merupakan
orang yang selalu membantu mereka dalam keadaan apapun dan yang paling dapat
mengerti mereka berdua. Varro sudah menjadi seseorang yang penting bagi mereka,
tetapi kini dia sudah tiada menyisakan kenangan yang indah di dalam hatinya
masing-masing.
Di sisi lain seorang gadis
manis sedang berdiam diri di dalam kamarnya sambil menangis pilu, dia adalah
Chesa. Setelah dia mendengar kabar duka cita tentang Varro dia tiba-tiba
menjadi sangat pendiam di sekolah. Chesa, gadis yang selama ini ditaksir oleh
Varro ternyata juga sudah memiliki rasa yang sama dengannya, Chesa tidak tahu
kapan perasaan itu muncul pada dirinya. Namun, rasanya kini sia-sia jika dia
mengungkapkan perasaan itu, pria itu sudah tiada dia sudah kembali kepada
penciptanya. Kini Chesa hanya bisa menangisinya di dalam kamarnya itu dan
berharap Varro akan tenang di sana. Dia hanya akan hidup dengan bayangan dan
kenang-kenangan saat bersama Varro. Meskipun Chesa baru dekat dengan Varro tapi
dia akan menjadi orang yang istimewa bagi Chesa.
Varro adalah pria yang
memiliki sejuta keistimewaan di mata orang yang mengenalnya, kini dia sudah
pergi meninggalkan dunia dan menemui Sang penciptanya. Meninggalkan orang
tuanya yang sudah merawat, menjaga dan mendidik dia sampai akhir hidupnya,
meninggalkan dua adik kecil perempuannya, meninggalkan dua orang sahabat yang
menjadi tempat mencurahkan keluh kesahnya setiap hari, meninggalkan gadis yang
kini sudah memiliki perasaan yang sama dengannya dan juga meninggalkan
orang-orang yang dia sayangi maupun yang menyayanginya juga. Tapi inilah hidup,
kita tidak tahu kapan kita berpulang kepada yang Maha Kuasa itu akan datang
cepat atau lambat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan,
jadi nikmati apa yang ada saat ini dan hargai setiap detik dan momen di dalam
hidupmu.
*Editor: Elly S
Saragih
*Penulis adalah
siswi SMA Negeri 1 Purba 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar