Karya: Sabrina Octavia Saragih
Nama ku Laili Anasera, seorang pelajar kelas
dua belas di SMA Garuda Bangsa. Aku adalah anak tunggal dari pasangan Riyan
Saputra dan Annisa Amalia. Ayahku merupakan CEO dari PT Transjakarta Jaya,
sedangkan Ibuku adalah seorang dokter di Rumah Sakit ternama di kotaku.
Sekilas orang lain menganggap hidupku sempurna. Orang tua yang mapan, kehidupan serba cukup, terlebih lagi orang tuaku selalu menyempatkan waktunya untukku. Namun di samping itu aku sangat ingin memiliki seorang adik. Seorang adik yang akan ku ajak bermain nantinya.
"Bu.. aku ingin
punya adik," ucapku sambil memakan sarapan ku.
"Kok tiba-tiba
sekali?" Jawab ibu kebingungan.
"Iya ada apa?"
Sahut Ayah.
"Aku ingin sekali
punya adik, sepertinya asik," jawabku sembari tersenyum.
"Mmm..
bagaimana ya..," jawab ibu sambil menoleh ke ayah.
"Iya kami usahakan,"
Jawab ayah.
" Asyiik..,"
Jawab ku kegirangan.
Adik yang selalu ku dambakan, secantik ibu dan
sebaik ayahku, sayang kepadaku sama halnya dengan diriku sayang kepada nya
nanti. Selain itu kami akan selalu bermain bersama. Intinya kita tidak akan
terpisahkan.
(Tiga
bulan kemudian)
Ibu di nyatakan
hamil, aku senang sekali. Ayah pun tidak percaya akan berita ini, dan senang
sekali mendengarnya. Ibu juga bahagia saat melihat aku dan ayah senang. Ayahku
langsung membeli beberapa peralatan bayi, seperti baju dan mainan. Aku juga
tidak kalah semangat, aku langsung menghias kamar untuk adikku nanti dan tentu
saja tempat kami bermain bersama nanti. Dan bodohnya kami belum mengetahui
jenis kelamin dari adikku tersebu. Laki-laki atau perempuan aku akan menjadi
kakak terbahagia nantinya.
(Enam
bulan kemudian)
Saat itu ibu sedang
menjaga rumah sendirian. Ibu bersantai di ruang tamu sambil meminum secangkir
teh. Namun tiba-tiba ibu mengalami kontraksi yang artinya ibu akan melahirkan. Ibu
mengalami pendarahan yang cukup hebat. Namun kami tidak ada yang dapat membantu
nya, karena ayah sedang bekerja dan aku sedang bersekolah.
Tapi untungnya pintu
rumah terbuka, jadi orang-orang yang berjalan di depan rumah dapat melihat ibu,
para tetangga menerobos masuk ke dalam rumah untuk membantu ibu dan segera menelpon
ambulans. Dua puluh menit setelahnya ambulans datang dan membawa ibuku pergi ke
rumah sakit terdekat.
Setelah sampai di
rumah sakit, pihak rumah sakit langsung menelepon ayahku dan pihak sekolahku,
dan aku diberikan izin untuk menemui ibu ke rumah sakit. Aku sangat merasakan
khawatir dan juga senang secara bersamaan. Akhirnya aku akan menemui adik yang
ku damba-dambakan selama ini.
"Sepertinya dia sangat imut, aku tidak sabar melihatnya
dan tidak sabar bermain bersama, dan melakukan semuanya bersama," benakku.
Setelah cukup lama akhirnya aku sampai di rumah sakit, aku
melihat ayah yang juga sedang menantikan kehadiranku.
"Bagaimana
keadaan ibu Yah..? Apakah adiknya sudah lahir?" Tanyaku.
"Ayah belum
tau Laili, ibu masih di dalam ruangan ICU, mungkin sebentar lagi dokter akan keluar
dan kita akan mengetahui keadaan ibumu."
"Oke..,"
Jawabku.
Tidak lama kemudian
ruangan ICU itu terbuka, aku melihat seorang laki-laki keluar, berpakaian
tertutup, berwarna hijau dan hampir seluruh tubuh laki-laki itu tertutupi, dia
berjalan sambil melap tangannya yang sedikit memiliki bercak darah. Sepertinya dia habis selesai melakukan
operasi.
"Bapak Riyan,
suami bu Annisa?" tanya lelaki itu.
"Iya dok, bagaimana keadaan istri saya?"
"Saya punya kabar
baik dan juga kabar buruk Pak, kabar baiknya anak bapak telah lahir dengan
selamat, dan berjenis kelamin perempuan."
"Wah.. Ayah, ternyata
adikku berjenis kelamin perempuan" sahut ku dengan girang.
"Dan kabar buruk nya?" Tanya ayah
ku.
"Dan kabar buruknya,
kami tidak dapat menyelamatkan istri bapak," lanjut dokter itu.
"Kenapaa..
kenapaa.. Dok..?"Tanya ayah menahan tangisnya.
Kemudian dokter itu
menjelaskan secara spesifik alasan-alasan mengapa ibu tidak terselamatkan. Karena
ibu mengalami pendarahan yang cukup besar dan kurang cepatnya penanganan untuk
ibu. Bila dibiarkan, perdarahan setelah persalinan akan menyebabkan syok dan
kegagalan fungsi organ.
Dokter juda
mengatakan beberapa penyebab ibu mengalami pendarahan yang cukup besar ini. Perdarahan
setelah melahirkan bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:Otot rahim yang
tidak berkontraksi (atonia uteri). Luka jalan lahir, sisa jaringan plasenta
yang tertinggal di dalam rahim (retensi plasenta). Kelainan pada proses
pembekuan darah. Rahim pecah (ruptur uteri).
Seketika tubuhku
lemas, ini seperti di dalam mimpi. Bagaimana..? Bagaimana ini..? Kata-kata
dokter itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Tidak terasa air mataku jatuh,
aku sudah tidak dapat lagi membendung nya, hatiku terasa sakit dan perih pada
pita suara ku yang menolak untuk mengeluarkan satu katapun. Muncul satu kalimat
dalam hatiku "selamat tinggal
ibu, semoga kau di terima di sisi -Nya.."
Satu bulan berlalu, Ayah mulai memaksakan
diri untuk bekerja. Bagaimana denganku? aku masih terjebak bersandar di pintu kamar
adikku, menatapi ranjang yang adikku gunakan untuk tidur. Siapa nama adikku?
bahkan aku tidak mengingat nya. Aku hanya merasakan kekosongan. Aku mendekati
ranjang goyang adikku, ku intip ke dalamnya dan melihat dirinya tertidur pulas.
Sempat terbesit dalam benakku kata "lucu". Ya inilah peninggalan
ibuku, seorang adik perempuan untukku. Ya aku ingat namanya sekarang, Althea
Amalia, adikku.
Apa yang harus ku
lakukan dengan adikku? Semua rencana yang ku miliki dengan adikku ada kehadiran
ibu di dalamnya. Sekarang ibu sudah tidak ada , apa yang harus ku lakukan?
Seketika semuanya buntu, aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Aku pergi meninggalkan kamar adikku dengan perasaan
bingung dan kesal. Aku menuruni anak tangga dan kembali ke kamarku, mendobrak
pintu dan menghempaskan tubuhku keatas kasur. Menenggelamkan wajahku ke dalam
bantal favoritku yang masih memiliki bau ibu di dalamnya.
"Bu.. aku
rindu kamu, aku ingin bermain bersama. Ayah, aku dan kamu ibu, tanpa Althea pun
tak apa-apa. Aku hanya ingin kehadiranmu."
Tanpa ku sadari, aku
mulai menangis cukup keras hingga bantal ku terbasahi dengan air mataku. Aku
menangis hingga lelah dan tertidur. Aku bermimpi di dalam mimpiku, aku melihat
sesosok wanita dengan gaun putih. Kami berada di sebuah ladang bunga lavender
di bawah langit jingga yang indah. Entah kenapa aku tidak dapat melihat wajah
wanita itu. Wanita tersebut tiba-tiba mengangkat tangannya, dan menunjuk ke
arah langit jingga itu dan menoleh ke arahku.
"Di sana, kamu dan aku bertemu, jauh di
dalam langit jingga itu," Ucap wanita misterius itu sembari tersenyum.
"Siapa kamu?"
Tanyaku menatap kebingungan
"Tapi, aku
sungguh tidak ingin bertemu denganmu, Laili. Jaga orang-orang di sekitamu,
gunakan waktumu sebijak mungkin. " Jawab wanita tersebut tanpa menjawab
pertanyaanku.
Akupun terbangun dan
mengingat dengan jelas semua mimpi yang baru saja aku dapat. Termasuk wajah
wanita yang tampak sedih melihat ku itu, siapa dia?
"Halo Laili..?
Ayah pulang, dimana kamu? "
"Laili di
kamar Yah.., " Jawabku tanpa ragu-ragu.
Tapi firasat apa
ini, ada yang janggal. Aku menoleh ke arah jam dinding di kamarku. Jam empat
lebih sepuluh menit, aku ingat betul ayah mengatakan akan pulang sekitar jam
enam sore atau mungkin lebih. Aku spontan mengunci kamarku, meraih telpon
darurat di dalam laci meja belajarku dan menelepon Ayah yang sesungguhnya. Aku
memegang telepon dengan tangan yang gemetaran.
"Ada yang
aneh dengan semua ini," Batinku
"Halo.. ada
apa Laili?" Jawab Ayah dibalik telepon.
Sudah ku duga, tidak
ada bunyi nada dering apapun di rumah, Ayah tidak ada di rumah, aku terduduk
lemas di depan pintu kamarku, sambil menggenggam telepon darurat yang ada di
tanganku.
" Yah.. ada
seseorang yang mengaku-ngaku sebagai Ayah dan dia sudah masuk ke dalam rumah.
Aku di dalam kamarku mengunci dii, tolong aku Yah.. " Jawabku pelan.
"Ya Tuhan.. bertahan
di situ, pegang benda keras apapun yang dapat melindungimu, Ayah segera datang,
dimana adikmu?
"Dia di kamar
yah.. Bagaimana ini?" Jawabku panik.
"Tetap di situ, Ayah akan segera
datang." Ayah akhirnya menutup telepon.
Ada perasaan di
dalam hatiku, yang mengatakan untuk menolong adik ku, walaupun Ayah memintaku
untuk tetap menunggu di dalam kamarku. Hatiku berkata bahwa aku tidak akan kuat
untuk kehilangan seseorang lagi, sekalipun adalah Adikku yang telah merenggut nyawa
Ibu ku. Aku pun bertekad menolong adik ku. Aku mengambil tongkat golf yang Ayah
belikan untukku di hari ulang tahunku, perlahan-lahan ku buka pintu kamarku dan
mengintip keluar. Tidak ada orang satu pun, apakah aku berhalusinasi? Aku
kembali menutup pintu dan mengunci nya.
Setelah beberapa
menit aku kembali membuka pintu kamarku, dan membulatkan niat untuk menemui
adikku apapun yang terjadi. Sambil memegang tongkat golf, aku membulatkan niat
untuk membuka kamar adikku.
Disana aku melihat,
ada seorang lelaki menggunakan kemeja putih menggendong Althea.Lelaki itu
menoleh kebelakang sembari tersenyum. Seketika, aku merasa merinding. Kemeja
putih lelaki itu berlumuran darah, dan wajah itu bukan lah wajah yang asing.
"Ayah?"
tanyaku ragu.
"Laili, lihatlah
adikmu ini, cantik, seperti dirimu dulu, ketika masih kecil dan lugu,"
jawab Ayah sembari tersenyum dan mengelus wajah Althea.
"Ayah, darah
apa itu?" tanyaku sembari menunjuk ke arah kemeja yang Ayah gunakan. Ayah
benar-benar aneh sekali.
"Hari itu,
Laili, putri kesayangan keluarga ini, meminta orang tuanya seorang adik, dan
bodohnya orang tua tersebut menurutinya, yang tidak ia ketahui adalah ibu nya
sebenarnya susah memiliki keturunan. Tapi, mereka berusaha untuk dapat
mewujudkannya dengan berbagai pengobatan..." Ayah mulai bercerita.
"Aku..."
jawabku sambil menahan tangis dan rasa takut.
Tiba-tiba saja Ayah menoleh ke arahku dan menatapku dalam-dalam.
"Tak di
sangka-sangka, hal itu beneran terwujud, hari terbahagia seumur hidup mereka.
Lebih bahagia dari pada saat mereka mengadopsi anak bernama Laili. Tapi, siapa
sangka ternyata anak yang bernama Althea ini hanya akan mendapatkan cinta dari
Bapaknya saja, hanya karena Ibu nya menuruti ke egoisan anak angkatnya."
"Ayah, maafkan
aku," seketika itu air mataku menetas, aku ketakutan, aku merimangi kata-kata
ayah barusan. Ternyata aku bukan anak kandung keluarga ini. Aku menangis
sejadi-jadinya, aku tidak berani mendekati Ayah, Ayah seperti bukan Ayah ku
yang dulu lagi.
"Maaf tidak
akan dapat mengubahnya Laili, semuanya sudah terlanjur, tapi bukan berarti hal
ini tidak bisa di perbaiki kan?" Tanya Ayah sembari tersenyum ke arahku,
senyuman kosong.
"Iya, tentu
saja kita bisa memperbaikinya, mungkin kita bisa saling memaafkan dan kembali
seperti semula?" jawabku sembari tersenyum menutupi rasa takut ku.
"Oh tentu saja
tidak, semuanya bisa di perbaikin, kalau kamu tidak ada,"
Seketika aku
mendengar kata-kata itu, aku spontan berlari keluar dari kamar itu, berlari
menuruni tangga dan mengunci diriku kembali di dalam kamarku. Aku meraih telpon
darurat dan menelpon polisi.
"Selamat sore,
di sini Kantor Polisi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita di
balik telpon.
"Halo, tolong aku, Ayahku berusaha
membunuhku, rumahku berada di Jl.Cahaya No. 16," jawabku tergesa-gesa.
"Baik, saya
akan segera mengirim bantuan kesana, Adik, sekarang sedang dimana?"
"Aku berada di
kamarku, aku mengunci pintunya, tolong cepatlah, entah kenapa Ayahku
menggunakan kemeja berdarah, aku sangat ketakutan" jawabku sambil
menangis.
"Berdarah?
Oke, nama saya Jessi, Dik, namamu siapa?"
"Laili..."
"Oke, Laili,
jangan panik, tetap tenang, saya sudah mengirimkan bantuan kesana, kamu tahu
ayah mu dimana?"
"Ada yang
aneh, aku tidak mendengar ayahku mengejarku ke bawah, sepertinya dia masih di
atas," jawabku ragu.
"Baik, apakah
ayahmu membawa senjata tajam?"
"Tidak..."
"Baiklah,
Laili dengarkan perkataan saya, sepertinya darah yang ada pada kemeja ayahmu
merupakan darahnya sendiri, saya menduga ia berusaha bunuh diri, karena itu
saya akan mengirimkan ambulan juga, sebagai gantinya maukah kamu pergi dan
mengecek keadaan ayahmu, tapi karena ini masih sebuah deduksi bawalah sebuah
senjata dan tetap menelpon saya, mengerti?"
"Baik,"
jawabku bergemetar.
Aku membuka pintu,
sambil membawa tongkat golf. Aku mencari-cari sosok ayah di depan pintuku.
Sudah kuduga, ayah tidak mengejarku ke bawah. Aku bergegas lari ke lantai atas
dan kembali ke kamar Althea. Disana aku menemui ayah tergeletak di atas lantai
berlumuran darah.
"Ayah!"
aku berteriak sembari lari menuju ayah, aku memeluknya dan menaruhnya di atas
pangkuanku. Seketika itu aku menangis.
"Halo, Mbak Jessi,
bagaimana ini, ayahku benar-benar lemas dan banyak darah yang keluar darinya,
apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.
"Baik, Dik,
luka ayahmu ada di bagian mana?"
"Di bagian
perutnya,"
"Baiklah,
sekarang tekan luka ayahmu dengan cukup keras dan letakan kaki ayahmu lebih
tinggi dari pada kepala nya, ini agar darahnya tidak banyak keluar,"
"Baik,"
jawabku sembari mengikuti instruksi tersebut.
"Bentar lagi
bantuan akan datang ke rumahmu, bertahanlah Laili,"
"Iya,"
aku pun seketika itu menangis, aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi, aku tidak mau.
"Laili..."
Sahut ayah dengan lemas
"Ayah?
Bertahanlah Ayah, sebentar lagi bantuan akan datang,"
"Laili, jaga
Aisyah ya, Ayah minta maaf. Tidak pernah terbesit dalam pikiran Ayah, sekalipun
kalau Ayah membencimu..." jawab Ayah dengan lirih.
"Iya,tidak
apa-apa Yah, Laili sudah memaafkan semua itu, sudah sekarang Ayah, jangan
berbicara lagi,"
"Laili, Ayah
tidak sanggup hidup tanpa Ibumu, berkali-kali Ayah memikirkan untuk hidup hanya
dengan kalian berdua. Tapi pemikiran tersebut membuat Ayah semakin sedih, Ayah
tidak mampu melakukannya, karena itu Ayah melakukan ini..."
Saat itu, aku
melihat ayah menitik kan air mata untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku melihat
ayah yang biasanya ceria dan selalu memberiku semangat, kini terkujur lemah,
dan menangis memohon minta maaf padaku. Apa ayah berusaha bunuh diri karena
tidak sanggup hidup tanpa ibu selama ini?, sepertinya iya. Aku pun menggenggam
tangannya yang kini putih pucat dan sedingin es, menaruhnya di samping pipiku
yang terbasahi oleh tangisan air mataku.
"Ayah, Laili
tidak akan memaafkan Ayah kalau Ayah meninggalkan Laili. Yah, jangan
pergi..."
Ayah menjawab
permintaanku hanya dengan sebuah senyuman. Aku tersenyum kembali ke arahnya.
Siapa yang akan menyangka bahwa itu adalah senyuman terkahirnya kepadaku.
Karena saat itu pula, ayah menutup matanya untuk selamanya. Alasan Meninggalkan
aku, Laili dan Althea sendiri, menjadi yatim piatu.
(Sepuluh tahun kemudian)
Di sebuah tempat
yang banyak sekali batu nisan yang bertuliskan nama-nama orang yang sudah tentu
orang lain mengatakan tempat pemakaman. Iya, dua gadis itu sedang berada di pemakaman,
tepatnya di depan makam ayah dan ibu tercintanya. Gadis yang lebih tua berkata,
"Ibu.. Ayah.., anak
kecil ini telah beranjak dewasa dengan cepatnya secepat mengerti bagaimana
sakitnya ketika jatuh saat belajar berjalan dulu, waktu berlalu melaju berlomba
dengan kecepatan cahaya membuat anak kecilmu mulai belajar apa itu dunia
belajar tentang apa saja yang telah diciptakan oleh semesta sakitnya sulitnya
bahkan bahagia telah ia rasa dulu, pintaku yang kecil ini pada semesta hiduplah
lebih lama, Ibu.. Ayah.., hiduplah dengan bahagia yang bersumber dariku tunggu hari
bahagia itu tunggu aku. Namun.. ternyata itu hanya angan-angan ku dulu yang
tidak akan pernah terlaksana. Andaikan semesta tau bahwa aku tak sekuat bahu
ibu dan ayahku, aku tak setenang beliau, aku tak setegar beliau untuk
menghadapi masalah. Aku hanya gadis lemah, yang bergantung pada harapanku
sendiri.Bagaimana bisa aku menuntut diriku sendiri untuk menjadi seperti
beliau?"
Aku mengeluarkan
semua isi hatiku, aku tidak menangis aku hanya menatap kosong kepada batu nisan
yang bertuliskan nama Annisa Amalia dan Riyan Saputra itu. Lalu aku menatap
gadis yang lebih muda dariku yang berada di sampingku, dia hanya diam sambil
mendengarkanku. Setelah selesai dari pemakaman aku dan dia pergi ke sebuah
tempat padang rumput yang sangat luas, tidak jauh dari pemakaman itu. Aku duduk
di bawah pohon rindang yang besar.
Aku melihat dia
gadis dengan rambut bergelombang, bergaun putih yang sedang merangkai mahkota
bunga. Dia berdiri dan memakaikan mahkota bunga itu di kepalanya.
"Kak.. lihatlah
aku seorang ratu," gadis itu memutar badannya.
Aku dari kejauhan
tersenyum tipis melihatnya, lalu aku melihat langit jingga di atas kami, sangat
indah seperti ada kehidupan di dalamnya yang selalu melindungi kami. Jiwaku
terasa hangat setiap melihat langit itu. Aku kembali tersenyum.
"Langit yang
indah.. "
Gadis yang bergaun putih itu adalah Althea Amalia dan gadis
yang menatap langit itu ialah aku, Laili Anasera.
TAMAT
Editor:Juwelli A W
Hutabalian
SMA NEGERI 1 PURBA,15
Oktober 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar