Kamis, 20 Oktober 2022

LANGIT LAILI


       Karya: Sabrina Octavia Saragih

   Nama ku Laili Anasera, seorang pelajar kelas dua belas di SMA Garuda Bangsa. Aku adalah anak tunggal dari pasangan Riyan Saputra dan Annisa Amalia. Ayahku merupakan CEO dari PT Transjakarta Jaya, sedangkan Ibuku adalah seorang dokter di Rumah Sakit ternama di kotaku.

  Sekilas orang lain menganggap hidupku sempurna. Orang tua yang mapan, kehidupan serba cukup, terlebih lagi orang tuaku selalu menyempatkan waktunya untukku. Namun di samping itu aku sangat ingin memiliki seorang adik. Seorang adik yang akan ku ajak bermain nantinya.

  "Bu.. aku ingin punya adik," ucapku sambil memakan sarapan ku.

  "Kok tiba-tiba sekali?" Jawab ibu kebingungan.

  "Iya ada apa?" Sahut Ayah.

  "Aku ingin sekali punya adik, sepertinya asik," jawabku sembari tersenyum.

  "Mmm.. bagaimana ya..," jawab ibu sambil menoleh ke ayah.

  "Iya kami usahakan," Jawab ayah.

  " Asyiik..," Jawab ku kegirangan.

   Adik yang selalu ku dambakan, secantik ibu dan sebaik ayahku, sayang kepadaku sama halnya dengan diriku sayang kepada nya nanti. Selain itu kami akan selalu bermain bersama. Intinya kita tidak akan terpisahkan.

(Tiga bulan kemudian)

  Ibu di nyatakan hamil, aku senang sekali. Ayah pun tidak percaya akan berita ini, dan senang sekali mendengarnya. Ibu juga bahagia saat melihat aku dan ayah senang. Ayahku langsung membeli beberapa peralatan bayi, seperti baju dan mainan. Aku juga tidak kalah semangat, aku langsung menghias kamar untuk adikku nanti dan tentu saja tempat kami bermain bersama nanti. Dan bodohnya kami belum mengetahui jenis kelamin dari adikku tersebu. Laki-laki atau perempuan aku akan menjadi kakak terbahagia nantinya.

(Enam bulan kemudian)

  Saat itu ibu sedang menjaga rumah sendirian. Ibu bersantai di ruang tamu sambil meminum secangkir teh. Namun tiba-tiba ibu mengalami kontraksi yang artinya ibu akan melahirkan. Ibu mengalami pendarahan yang cukup hebat. Namun kami tidak ada yang dapat membantu nya, karena ayah sedang bekerja dan aku sedang bersekolah.

   Tapi untungnya pintu rumah terbuka, jadi orang-orang yang berjalan di depan rumah dapat melihat ibu, para tetangga menerobos masuk ke dalam rumah untuk membantu ibu dan segera menelpon ambulans. Dua puluh menit setelahnya ambulans datang dan membawa ibuku pergi ke rumah sakit terdekat.

  Setelah sampai di rumah sakit, pihak rumah sakit langsung menelepon ayahku dan pihak sekolahku, dan aku diberikan izin untuk menemui ibu ke rumah sakit. Aku sangat merasakan khawatir dan juga senang secara bersamaan. Akhirnya aku akan menemui adik yang ku damba-dambakan selama ini.

"Sepertinya dia sangat imut, aku tidak sabar melihatnya dan tidak sabar bermain bersama, dan melakukan semuanya bersama,"  benakku.

Setelah cukup lama akhirnya aku sampai di rumah sakit, aku melihat ayah yang juga sedang menantikan kehadiranku.

   "Bagaimana keadaan ibu Yah..? Apakah adiknya sudah lahir?" Tanyaku.

   "Ayah belum tau Laili, ibu masih di dalam ruangan ICU, mungkin sebentar lagi dokter akan keluar dan kita akan mengetahui keadaan ibumu."

   "Oke..," Jawabku.

  Tidak lama kemudian ruangan ICU itu terbuka, aku melihat seorang laki-laki keluar, berpakaian tertutup, berwarna hijau dan hampir seluruh tubuh laki-laki itu tertutupi, dia berjalan sambil melap tangannya yang sedikit memiliki bercak darah.  Sepertinya dia habis selesai melakukan operasi.

   "Bapak Riyan, suami bu Annisa?" tanya lelaki itu.

   "Iya dok, bagaimana keadaan istri saya?"

   "Saya punya kabar baik dan juga kabar buruk Pak, kabar baiknya anak bapak telah lahir dengan selamat, dan berjenis kelamin perempuan."

   "Wah.. Ayah, ternyata adikku berjenis kelamin perempuan" sahut ku dengan girang.

   "Dan kabar buruk nya?" Tanya ayah ku.

   "Dan kabar buruknya, kami tidak dapat menyelamatkan istri bapak," lanjut dokter itu.

   "Kenapaa.. kenapaa.. Dok..?"Tanya ayah menahan tangisnya.

  Kemudian dokter itu menjelaskan secara spesifik alasan-alasan mengapa ibu tidak terselamatkan. Karena ibu mengalami pendarahan yang cukup besar dan kurang cepatnya penanganan untuk ibu. Bila dibiarkan, perdarahan setelah persalinan akan menyebabkan syok dan kegagalan fungsi organ.

  Dokter juda mengatakan beberapa penyebab ibu mengalami pendarahan yang cukup besar ini. Perdarahan setelah melahirkan bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:Otot rahim yang tidak berkontraksi (atonia uteri). Luka jalan lahir, sisa jaringan plasenta yang tertinggal di dalam rahim (retensi plasenta). Kelainan pada proses pembekuan darah. Rahim pecah (ruptur uteri).

   Seketika tubuhku lemas, ini seperti di dalam mimpi. Bagaimana..? Bagaimana ini..? Kata-kata dokter itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Tidak terasa air mataku jatuh, aku sudah tidak dapat lagi membendung nya, hatiku terasa sakit dan perih pada pita suara ku yang menolak untuk mengeluarkan satu katapun. Muncul satu kalimat  dalam hatiku "selamat tinggal ibu, semoga kau di terima di sisi -Nya.."

  Satu bulan berlalu, Ayah mulai memaksakan diri untuk bekerja. Bagaimana denganku? aku masih terjebak bersandar di pintu kamar adikku, menatapi ranjang yang adikku gunakan untuk tidur. Siapa nama adikku? bahkan aku tidak mengingat nya. Aku hanya merasakan kekosongan. Aku mendekati ranjang goyang adikku, ku intip ke dalamnya dan melihat dirinya tertidur pulas. Sempat terbesit dalam benakku kata "lucu". Ya inilah peninggalan ibuku, seorang adik perempuan untukku. Ya aku ingat namanya sekarang, Althea Amalia, adikku.

  Apa yang harus ku lakukan dengan adikku? Semua rencana yang ku miliki dengan adikku ada kehadiran ibu di dalamnya. Sekarang ibu sudah tidak ada , apa yang harus ku lakukan? Seketika semuanya buntu, aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa.  Aku pergi meninggalkan kamar adikku dengan perasaan bingung dan kesal. Aku menuruni anak tangga dan kembali ke kamarku, mendobrak pintu dan menghempaskan tubuhku keatas kasur. Menenggelamkan wajahku ke dalam bantal favoritku yang masih memiliki bau ibu di dalamnya.

    "Bu.. aku rindu kamu, aku ingin bermain bersama. Ayah, aku dan kamu ibu, tanpa Althea pun  tak apa-apa. Aku hanya ingin kehadiranmu."

  Tanpa ku sadari, aku mulai menangis cukup keras hingga bantal ku terbasahi dengan air mataku. Aku menangis hingga lelah dan tertidur. Aku bermimpi di dalam mimpiku, aku melihat sesosok wanita dengan gaun putih. Kami berada di sebuah ladang bunga lavender di bawah langit jingga yang indah. Entah kenapa aku tidak dapat melihat wajah wanita itu. Wanita tersebut tiba-tiba mengangkat tangannya, dan menunjuk ke arah langit jingga itu dan menoleh ke arahku.

    "Di sana, kamu dan aku bertemu, jauh di dalam langit jingga itu," Ucap wanita misterius itu sembari tersenyum.

   "Siapa kamu?" Tanyaku menatap kebingungan

   "Tapi, aku sungguh tidak ingin bertemu denganmu, Laili. Jaga orang-orang di sekitamu, gunakan waktumu sebijak mungkin. " Jawab wanita tersebut tanpa menjawab pertanyaanku.

  Akupun terbangun dan mengingat dengan jelas semua mimpi yang baru saja aku dapat. Termasuk wajah wanita yang tampak sedih melihat ku itu, siapa dia?

    "Halo Laili..? Ayah pulang, dimana kamu? "

    "Laili di kamar Yah.., " Jawabku tanpa ragu-ragu.

  Tapi firasat apa ini, ada yang janggal. Aku menoleh ke arah jam dinding di kamarku. Jam empat lebih sepuluh menit, aku ingat betul ayah mengatakan akan pulang sekitar jam enam sore atau mungkin lebih. Aku spontan mengunci kamarku, meraih telpon darurat di dalam laci meja belajarku dan menelepon Ayah yang sesungguhnya. Aku memegang telepon dengan tangan yang gemetaran.

   "Ada yang aneh dengan semua ini,"  Batinku

   "Halo.. ada apa Laili?" Jawab Ayah dibalik telepon.

  Sudah ku duga, tidak ada bunyi nada dering apapun di rumah, Ayah tidak ada di rumah, aku terduduk lemas di depan pintu kamarku, sambil menggenggam telepon darurat yang ada di tanganku.

   " Yah.. ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai Ayah dan dia sudah masuk ke dalam rumah. Aku di dalam kamarku mengunci dii, tolong aku Yah.. " Jawabku pelan.

   "Ya Tuhan.. bertahan di situ, pegang benda keras apapun yang dapat melindungimu, Ayah segera datang, dimana adikmu?  

    "Dia di kamar yah.. Bagaimana ini?" Jawabku panik.

    "Tetap di situ, Ayah akan segera datang." Ayah akhirnya menutup telepon.

  Ada perasaan di dalam hatiku, yang mengatakan untuk menolong adik ku, walaupun Ayah memintaku untuk tetap menunggu di dalam kamarku. Hatiku berkata bahwa aku tidak akan kuat untuk kehilangan seseorang lagi, sekalipun adalah Adikku yang telah merenggut nyawa Ibu ku. Aku pun bertekad menolong adik ku. Aku mengambil tongkat golf yang Ayah belikan untukku di hari ulang tahunku, perlahan-lahan ku buka pintu kamarku dan mengintip keluar. Tidak ada orang satu pun, apakah aku berhalusinasi? Aku kembali menutup pintu dan mengunci nya.

  Setelah beberapa menit aku kembali membuka pintu kamarku, dan membulatkan niat untuk menemui adikku apapun yang terjadi. Sambil memegang tongkat golf, aku membulatkan niat untuk membuka kamar adikku.

  Disana aku melihat, ada seorang lelaki menggunakan kemeja putih menggendong Althea.Lelaki itu menoleh kebelakang sembari tersenyum. Seketika, aku merasa merinding. Kemeja putih lelaki itu berlumuran darah, dan wajah itu bukan lah wajah yang asing.

     "Ayah?" tanyaku ragu.

    "Laili, lihatlah adikmu ini, cantik, seperti dirimu dulu, ketika masih kecil dan lugu," jawab Ayah sembari tersenyum dan mengelus wajah Althea.

   "Ayah, darah apa itu?" tanyaku sembari menunjuk ke arah kemeja yang Ayah gunakan. Ayah benar-benar aneh sekali.

   "Hari itu, Laili, putri kesayangan keluarga ini, meminta orang tuanya seorang adik, dan bodohnya orang tua tersebut menurutinya, yang tidak ia ketahui adalah ibu nya sebenarnya susah memiliki keturunan. Tapi, mereka berusaha untuk dapat mewujudkannya dengan berbagai pengobatan..." Ayah mulai bercerita.

   "Aku..." jawabku sambil menahan tangis dan rasa takut.

Tiba-tiba saja Ayah menoleh ke arahku dan menatapku dalam-dalam.

   "Tak di sangka-sangka, hal itu beneran terwujud, hari terbahagia seumur hidup mereka. Lebih bahagia dari pada saat mereka mengadopsi anak bernama Laili. Tapi, siapa sangka ternyata anak yang bernama Althea ini hanya akan mendapatkan cinta dari Bapaknya saja, hanya karena Ibu nya menuruti ke egoisan anak angkatnya."

   "Ayah, maafkan aku," seketika itu air mataku menetas, aku ketakutan, aku merimangi kata-kata ayah barusan. Ternyata aku bukan anak kandung keluarga ini. Aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak berani mendekati Ayah, Ayah seperti bukan Ayah ku yang dulu lagi.

   "Maaf tidak akan dapat mengubahnya Laili, semuanya sudah terlanjur, tapi bukan berarti hal ini tidak bisa di perbaiki kan?" Tanya Ayah sembari tersenyum ke arahku, senyuman kosong.

   "Iya, tentu saja kita bisa memperbaikinya, mungkin kita bisa saling memaafkan dan kembali seperti semula?" jawabku sembari tersenyum menutupi rasa takut ku.

   "Oh tentu saja tidak, semuanya bisa di perbaikin, kalau kamu tidak ada,"

  Seketika aku mendengar kata-kata itu, aku spontan berlari keluar dari kamar itu, berlari menuruni tangga dan mengunci diriku kembali di dalam kamarku. Aku meraih telpon darurat dan menelpon polisi.

   "Selamat sore, di sini Kantor Polisi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita di balik telpon.

   "Halo, tolong aku, Ayahku berusaha membunuhku, rumahku berada di Jl.Cahaya No. 16," jawabku tergesa-gesa.

   "Baik, saya akan segera mengirim bantuan kesana, Adik, sekarang sedang dimana?"

   "Aku berada di kamarku, aku mengunci pintunya, tolong cepatlah, entah kenapa Ayahku menggunakan kemeja berdarah, aku sangat ketakutan" jawabku sambil menangis.

   "Berdarah? Oke, nama saya Jessi, Dik, namamu siapa?"

   "Laili..."

   "Oke, Laili, jangan panik, tetap tenang, saya sudah mengirimkan bantuan kesana, kamu tahu ayah mu dimana?"

   "Ada yang aneh, aku tidak mendengar ayahku mengejarku ke bawah, sepertinya dia masih di atas," jawabku ragu.

   "Baik, apakah ayahmu membawa senjata tajam?"

   "Tidak..."

   "Baiklah, Laili dengarkan perkataan saya, sepertinya darah yang ada pada kemeja ayahmu merupakan darahnya sendiri, saya menduga ia berusaha bunuh diri, karena itu saya akan mengirimkan ambulan juga, sebagai gantinya maukah kamu pergi dan mengecek keadaan ayahmu, tapi karena ini masih sebuah deduksi bawalah sebuah senjata dan tetap menelpon saya, mengerti?"

   "Baik," jawabku bergemetar.

  Aku membuka pintu, sambil membawa tongkat golf. Aku mencari-cari sosok ayah di depan pintuku. Sudah kuduga, ayah tidak mengejarku ke bawah. Aku bergegas lari ke lantai atas dan kembali ke kamar Althea. Disana aku menemui ayah tergeletak di atas lantai berlumuran darah.

   "Ayah!" aku berteriak sembari lari menuju ayah, aku memeluknya dan menaruhnya di atas pangkuanku. Seketika itu aku menangis.

   "Halo, Mbak Jessi, bagaimana ini, ayahku benar-benar lemas dan banyak darah yang keluar darinya, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.

   "Baik, Dik, luka ayahmu ada di bagian mana?"

   "Di bagian perutnya,"

   "Baiklah, sekarang tekan luka ayahmu dengan cukup keras dan letakan kaki ayahmu lebih tinggi dari pada kepala nya, ini agar darahnya tidak banyak keluar,"

   "Baik," jawabku sembari mengikuti instruksi tersebut.

   "Bentar lagi bantuan akan datang ke rumahmu, bertahanlah Laili,"

   "Iya," aku pun seketika itu menangis, aku tidak  ingin kehilangan seseorang lagi, aku tidak mau.

   "Laili..." Sahut ayah dengan lemas

   "Ayah? Bertahanlah Ayah, sebentar lagi bantuan akan datang,"

   "Laili, jaga Aisyah ya, Ayah minta maaf. Tidak pernah terbesit dalam pikiran Ayah, sekalipun kalau Ayah membencimu..." jawab Ayah dengan lirih.

   "Iya,tidak apa-apa Yah, Laili sudah memaafkan semua itu, sudah sekarang Ayah, jangan berbicara lagi,"

   "Laili, Ayah tidak sanggup hidup tanpa Ibumu, berkali-kali Ayah memikirkan untuk hidup hanya dengan kalian berdua. Tapi pemikiran tersebut membuat Ayah semakin sedih, Ayah tidak mampu melakukannya, karena itu Ayah melakukan ini..."

  Saat itu, aku melihat ayah menitik kan air mata untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku melihat ayah yang biasanya ceria dan selalu memberiku semangat, kini terkujur lemah, dan menangis memohon minta maaf padaku. Apa ayah berusaha bunuh diri karena tidak sanggup hidup tanpa ibu selama ini?, sepertinya iya. Aku pun menggenggam tangannya yang kini putih pucat dan sedingin es, menaruhnya di samping pipiku yang terbasahi oleh tangisan air mataku.

   "Ayah, Laili tidak akan memaafkan Ayah kalau Ayah meninggalkan Laili. Yah, jangan pergi..."

  Ayah menjawab permintaanku hanya dengan sebuah senyuman. Aku tersenyum kembali ke arahnya. Siapa yang akan menyangka bahwa itu adalah senyuman terkahirnya kepadaku. Karena saat itu pula, ayah menutup matanya untuk selamanya. Alasan Meninggalkan aku, Laili dan Althea sendiri, menjadi yatim piatu.

    (Sepuluh tahun kemudian)

  Di sebuah tempat yang banyak sekali batu nisan yang bertuliskan nama-nama orang yang sudah tentu orang lain mengatakan tempat pemakaman. Iya, dua gadis itu sedang berada di pemakaman, tepatnya di depan makam ayah dan ibu tercintanya. Gadis yang lebih tua berkata,

  "Ibu.. Ayah.., anak kecil ini telah beranjak dewasa dengan cepatnya secepat mengerti bagaimana sakitnya ketika jatuh saat belajar berjalan dulu, waktu berlalu melaju berlomba dengan kecepatan cahaya membuat anak kecilmu mulai belajar apa itu dunia belajar tentang apa saja yang telah diciptakan oleh semesta sakitnya sulitnya bahkan bahagia telah ia rasa dulu, pintaku yang kecil ini pada semesta hiduplah lebih lama, Ibu.. Ayah.., hiduplah dengan bahagia yang bersumber dariku tunggu hari bahagia itu tunggu aku. Namun.. ternyata itu hanya angan-angan ku dulu yang tidak akan pernah terlaksana. Andaikan semesta tau bahwa aku tak sekuat bahu ibu dan ayahku, aku tak setenang beliau, aku tak setegar beliau untuk menghadapi masalah. Aku hanya gadis lemah, yang bergantung pada harapanku sendiri.Bagaimana bisa aku menuntut diriku sendiri untuk menjadi seperti beliau?"

  Aku mengeluarkan semua isi hatiku, aku tidak menangis aku hanya menatap kosong kepada batu nisan yang bertuliskan nama Annisa Amalia dan Riyan Saputra itu. Lalu aku menatap gadis yang lebih muda dariku yang berada di sampingku, dia hanya diam sambil mendengarkanku. Setelah selesai dari pemakaman aku dan dia pergi ke sebuah tempat padang rumput yang sangat luas, tidak jauh dari pemakaman itu. Aku duduk di bawah pohon rindang yang besar.

  Aku melihat dia gadis dengan rambut bergelombang, bergaun putih yang sedang merangkai mahkota bunga. Dia berdiri dan memakaikan mahkota bunga itu di kepalanya.

   "Kak.. lihatlah aku seorang ratu," gadis itu memutar badannya.

  Aku dari kejauhan tersenyum tipis melihatnya, lalu aku melihat langit jingga di atas kami, sangat indah seperti ada kehidupan di dalamnya yang selalu melindungi kami. Jiwaku terasa hangat setiap melihat langit itu. Aku kembali tersenyum.

   "Langit yang indah.. "

Gadis yang bergaun putih itu adalah Althea Amalia dan gadis yang menatap langit itu ialah aku, Laili Anasera.

 

TAMAT

 

Editor:Juwelli A W Hutabalian

SMA NEGERI 1 PURBA,15 Oktober 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...