Karya : Jhonatan Antonius Purba
Langit semakin gelap ditutupi
awan hitam. Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Keraguan semakin
kuat. Sesaat sebelum kejadian mereka berada disekolah.
"Angga, Ido, Dika, Sera nanti kita pulang bareng ya," ucap Lila.
"Okee,
sippp," jawab mereka.
Tidak lama kemudian suara bel
terdengar "Ting, Ting, Ting, Ting," suara bel.
"Angga
bangun oiii, dah pulang nih, mau sampai kapan lo tidur," ucap Ido.
"Udh
pulang ya," jawab Angga.
"Seperti
biasa si Angga selalu tidur saat belajar," ucap Sera.
"Udah
yok pulang," ucap Dika usai bergegas mengangkat tas.
"Oke."
Disaat perjalanan mereka
melewati kan yang sudah di larang di desa mereka.
"Woi
ayok kita lewat dari sini, pasti lebih cepat sampainya kedesa," ucap
Angga.
"Janganlah
kan kita udh dilarang lewat jalan itu," jawab Sera.
"Lagian
ini udah mau gelap nggak mungkin lewat dari situ," ucap Ido.
"Kalau
kita lewat dari jalan biasanya kita pasti kelamaan, lihat dah jam berapa
ini," ucap Lila.
"Ya
udah kita gas aja dari jalan sini, lagian aku kebelet mau BAB pula nih,"
ucap Dika bercanda.
Mereka pun melewati jalan yang
disarankan oleh Angga. Di perjalanan itu sudah merasa tidak nyaman lewat dari
jalan yang disarankan oleh Angga. perjalanan sudah lumayan jauh tetapi tak
kunjung sampai.
"Woi
perasaan gue nggak enak dari tadi sepertinya nggak sampai-sampai dah,"
ucap Ido dengan raut wajah takut.
"Iya
gue juga merasakan itu juga," sahut
Dika.
"Ya
udah nggak usah dipikirkan entar lagi bakalan sampai, palingan itu hanya
perasaan kalian saja tuh," jawab Dika sambil tertawa.
Mereka pun melanjutkan perjalanan
tetapi mereka tak kunjung sampai juga. Ido mencoba mengingat jalan dan itu
sadar bahwa mereka terus-menerus melewati jalan yang sama.
"Woi
coba perhatikan sekitar kalian dari tadi kita hanya jalan di dekat sini
saja," ucap Ido dengan raut wajah panik.
"Woi
jangan bilang kita tersesat," ucap Dika.
"Woi
seriusan nih kita tersesat aku jadi ketakutan banget nih," jawab Sera.
"Ini
karena Angga nih jadi tersesatkan," ucap Ido.
"Woi
Lila mana kok nggak ada," ucap Dika.
"Tadi
dia di sampingku, kayak mana nih tadi dia di sampingku," ucap Sera dengan
raut wajah ketakutan.
"Udah
jangan panik dulu kita cari bersama-sama, tapi jangan ada yang bentar ya, nanti
takutnya ada yang hilang pula," ucap Ido.
Mereka pun mencari teman mereka Lila harus
semakin gelap. mereka pun semakin ketakutan karena tidak ada suara yang lain
selain suara jangkrik. Sekeliling mereka hanya ada pepohonan yang.
"Aduh
gimana ini aku ketakutan banget nih," ucap Sera sambil menangis.
"Woi
Sera sekarang bukan waktunya nangis sekarang yang harus kita lakukan mencari
Lila dulu," ucap Ido.
Tidur dan teman-temannya
berusaha menenangkan diri mereka, setelah mereka tenang, mereka melanjutkan
pencarian Lila.
"Lila." "Lila."
"Lila." "Lila!"
Beberapa saat kemudian hidung
melihat seseorang yang sedang duduk di dekat pohon besar.
"Angga,
Dika, sera coba lihat sini, itu Lila bukan," ucap Ido.
"Kayaknya
si Lila, ayo coba kita samperin," jawab Sera.
"Woi
tunggu dulu, aku nggak ikut ya," ucap Angga.
"Dasar
penakut," ucap Dika sambil menarik Angga.
Mereka pun mendekati pohon
tersebut ternyata yang di pohon itu adalah Lila, tetapi ada yang aneh terjadi
pada Lila.
"Lila
kamu kenapa Lila, Lila kamu kenapa," ucap Sera sambil memegang Lila.
"Dia
baru kesurupan kah, ngeri kali bah," ucap Angga.
"Dia
cuman pingsan aja tuh, jangan mikirin
yang aneh-aneh lu Angga," jawab Dika.
"Betul
tuh, kita bisa masuk ke dalam masalah ini kan karena lu Angga," ucap Ido.
"Udah
jangan bertengkar, sekarang kita harus bangunin Lila dari tadi dia nggak mau
bangun," ucap Sera dengan raut wajah cemas.
Situasi saat itu sudah
semakin menakutkan, bercampur dengan hembusan angin, yang membuat mereka
semakin ketakutan dan tiba-tiba Lila kesurupan dan berlari ke arah dalam hutan.
"Lila
kamu sudah sadar," ucap Sera.
"Dia
bukan sadar, tapi dia sedang kemasukan, ayo kejar," ucap Ido dengan wajah
panik.
"Woi
Angga malah tidur lo ayo kejar Lila, Lila kesurupan dan berlari ke dalam
hutan," ucap Dika.
Mereka pun bergegas mengejar
Lila, tetapi mereka tidak mampu mengejarnya hanya Ido dan Angga saja yang masih
berlari mengajar Lila.
"Aduhhhh,
aku tidak sanggup lagi nih," ucap Sera.
"Ido,
Angga kejar Lila biar aku yang jaga
Sera," ucap Dika.
"Ok,
aku serahkan Sera padamu," ucap Ido.
"Aku
dan Sera akan menyusul oke," ucap Dika.
"Apa
yang bisa bilang Angga," Ucap Dika sambil berlari.
"Nanti
mereka menyusul," jawab Angga.
Ido dan Angga terus mengejar
Lila, saat tepat di tengah hutan Lila
seperti berhenti. Ido dan tangga pun mendekati Lila, Mereka melihat
wajah pucat, tiba-tiba Lila berbicara seperti kerasukan.
"Ngapain
kalian semua ke sini," ucap Lila yang kemasukan.
"Haduh
harus jawab apa nih," ucap Ido dalam hati.
"Kami
hanya mau pulang," ucap Ido.
"Tetapi
kenapa kalian lewat sini, bukannya kalian sudah dilarang lewat sini," ucap
Lila kemasukan.
"Ini
karena udah sore jadi kami lewat jalan itu, kami mau cepat pulang," ucap
Ido.
"Apa
kalian mau pulang, tapi kalian tidak bisa melakukannya dengan keraguan, kalian
harus melakukan apapun itu dengan sepenuh hati, akibat keraguan dalam hati
kalian akan berakibat buruk," ucap Lila yang kemasukan.
Di samping percakapan itu Sera dan Dika
menemui mereka.
"Lila
kenapa," ucap Sera.
"Sttt,"
"Jadi
kami mau pulang, apa nggak ada jalan," ucap Ido.
"Ada
satu jalan yaitu melakukan apapun tanpa keraguan," ucap Lila dan langsung
pingsan.
"Tolongin
Lila, Lila pingsan lagi," ucap Dika.
"Apa
kalian mengerti apa yang diucapkan tadi, jangan melakukan apapun tanpa
keraguan," ucap Ido.
"Sepertinya
kita saat melewati jalan ini sangat tidak yakin dan ada keraguan dalam
hati," ucap Sera.
Lyla pun terbangun dan Lila
melihat wajah teman nya yang panik.
"lila
kamu baik-baik saja," ucap Sera.
"Ada
apa," ucap Lina.
"Kamu
nggak tahu apa yang terjadi," ucap Sera.
"Di
mana dia tahu orang dia kemasukan tadi," ucap Ido
"Menjelaskannya
jangan di sini, sekarang kita harus memikirkan jalan supaya kita pulang ke
desa," ucap Sera.
Sambil berpikir Ido punya
saran.
"Sepertinya
seperti yang diucapkan tadi kita bisa pulang tanpa harus ada keraguan,"
ucap Ido.
"Ayo
coba kita pulang tanpa keraguan dan jangan lupa berdoa dulu," ucap Ido.
"Satu
lagi jangan pernah lihat ke belakang lagi,"
Mereka pun melanjutkan
perjalanan mereka dengan ketulusa, Tanpa keraguan mereka mereka berhasil pulang
ke desa, mereka melihat wajah orang tua mereka yang sangat khawatir, Memeluk
orang tua mereka sambil menangis.
Tamat
Kesimpulan yang dapat diambil
jangan melakukan apapun dengan setengah hati lakukanlah
semuanya dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan
Penulis Adalah Siswa SMA NEGERI 1 PURBA 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar