Rabu, 19 Oktober 2022

Ketakutan dan Keraguan

 



Karya : Jhonatan Antonius Purba

 

                Disuatu hari malam yang penuh ketakutan, tidak terdengar suara apapun yang ada hanya ketakutan yang malang kedalam hati. Melihat temannya tidak kunjung sadar, ketakutan semakin menguat.

               Langit semakin gelap ditutupi awan hitam. Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Keraguan semakin kuat. Sesaat sebelum kejadian mereka berada disekolah.

"Angga, Ido, Dika, Sera nanti kita pulang bareng ya," ucap Lila.

"Okee, sippp," jawab mereka.

              Tidak lama kemudian suara bel terdengar "Ting, Ting, Ting, Ting," suara bel.

"Angga bangun oiii, dah pulang nih, mau sampai kapan lo tidur," ucap Ido.

"Udh pulang ya,"  jawab Angga.

"Seperti biasa si Angga selalu tidur saat belajar," ucap Sera.

"Udah yok pulang," ucap Dika usai bergegas mengangkat tas.

"Oke."

               Disaat perjalanan mereka melewati kan yang sudah di larang di desa mereka.

"Woi ayok kita lewat dari sini, pasti lebih cepat sampainya kedesa," ucap Angga.

"Janganlah kan kita udh dilarang lewat jalan itu," jawab Sera.

"Lagian ini udah mau gelap nggak mungkin lewat dari situ," ucap Ido.

"Kalau kita lewat dari jalan biasanya kita pasti kelamaan, lihat dah jam berapa ini," ucap Lila.

"Ya udah kita gas aja dari jalan sini, lagian aku kebelet mau BAB pula nih," ucap Dika bercanda.

              Mereka pun melewati jalan yang disarankan oleh Angga. Di perjalanan itu sudah merasa tidak nyaman lewat dari jalan yang disarankan oleh Angga. perjalanan sudah lumayan jauh tetapi tak kunjung sampai.

"Woi perasaan gue nggak enak dari tadi sepertinya nggak sampai-sampai dah," ucap Ido dengan raut wajah takut.

"Iya gue juga merasakan itu juga,"  sahut Dika.

"Ya udah nggak usah dipikirkan entar lagi bakalan sampai, palingan itu hanya perasaan kalian saja tuh," jawab Dika sambil tertawa.

            Mereka pun melanjutkan perjalanan tetapi mereka tak kunjung sampai juga. Ido mencoba mengingat jalan dan itu sadar bahwa mereka terus-menerus melewati jalan yang sama.

"Woi coba perhatikan sekitar kalian dari tadi kita hanya jalan di dekat sini saja," ucap Ido dengan raut wajah panik.

"Woi jangan bilang kita tersesat," ucap Dika.

"Woi seriusan nih kita tersesat aku jadi ketakutan banget nih," jawab Sera.

"Ini karena Angga nih jadi tersesatkan," ucap Ido.

"Woi Lila mana kok nggak ada," ucap Dika.

"Tadi dia di sampingku, kayak mana nih tadi dia di sampingku," ucap Sera dengan raut wajah ketakutan.

"Udah jangan panik dulu kita cari bersama-sama, tapi jangan ada yang bentar ya, nanti takutnya ada yang hilang pula," ucap Ido.

                Mereka pun mencari teman mereka Lila harus semakin gelap. mereka pun semakin ketakutan karena tidak ada suara yang lain selain suara jangkrik. Sekeliling mereka hanya ada pepohonan yang.

"Aduh gimana ini aku ketakutan banget nih," ucap Sera sambil menangis.

"Woi Sera sekarang bukan waktunya nangis sekarang yang harus kita lakukan mencari Lila dulu," ucap Ido.

                Tidur dan teman-temannya berusaha menenangkan diri mereka, setelah mereka tenang, mereka melanjutkan pencarian Lila.

"Lila."           "Lila."         

          "Lila."               "Lila!"

               Beberapa saat kemudian hidung melihat seseorang yang sedang duduk di dekat pohon besar.

"Angga, Dika, sera coba lihat sini, itu Lila bukan," ucap Ido.

"Kayaknya si Lila, ayo coba kita samperin," jawab Sera.

"Woi tunggu dulu, aku nggak ikut ya," ucap Angga.

"Dasar penakut," ucap Dika sambil menarik Angga.

                 Mereka pun mendekati pohon tersebut ternyata yang di pohon itu adalah Lila, tetapi ada yang aneh terjadi pada Lila.

"Lila kamu kenapa Lila, Lila kamu kenapa," ucap Sera sambil memegang Lila.

"Dia baru kesurupan kah, ngeri kali bah," ucap Angga.

"Dia cuman pingsan aja tuh,  jangan mikirin yang aneh-aneh lu Angga," jawab Dika.

"Betul tuh, kita bisa masuk ke dalam masalah ini kan karena lu Angga," ucap Ido.

"Udah jangan bertengkar, sekarang kita harus bangunin Lila dari tadi dia nggak mau bangun," ucap Sera dengan raut wajah cemas.

                  Situasi saat itu sudah semakin menakutkan, bercampur dengan hembusan angin, yang membuat mereka semakin ketakutan dan tiba-tiba Lila kesurupan dan berlari ke arah dalam hutan.

"Lila kamu sudah sadar," ucap Sera.

"Dia bukan sadar, tapi dia sedang kemasukan, ayo kejar," ucap Ido dengan wajah panik.

"Woi Angga malah tidur lo ayo kejar Lila, Lila kesurupan dan berlari ke dalam hutan," ucap Dika.

                  Mereka pun bergegas mengejar Lila, tetapi mereka tidak mampu mengejarnya hanya Ido dan Angga saja yang masih berlari mengajar Lila.

"Aduhhhh, aku tidak sanggup lagi nih," ucap Sera.

"Ido, Angga kejar Lila biar aku yang  jaga Sera," ucap Dika.

"Ok, aku serahkan Sera padamu," ucap Ido.

"Aku dan Sera akan menyusul oke," ucap Dika.

"Apa yang bisa bilang Angga," Ucap Dika sambil berlari.

"Nanti mereka menyusul," jawab Angga.

                Ido dan Angga terus mengejar Lila, saat tepat di tengah hutan Lila  seperti berhenti. Ido dan tangga pun mendekati Lila, Mereka melihat wajah pucat, tiba-tiba Lila berbicara seperti kerasukan.

"Ngapain kalian semua ke sini," ucap Lila yang kemasukan.

"Haduh harus jawab apa nih," ucap Ido dalam hati.

"Kami hanya mau pulang," ucap Ido.

"Tetapi kenapa kalian lewat sini, bukannya kalian sudah dilarang lewat sini," ucap Lila kemasukan.

"Ini karena udah sore jadi kami lewat jalan itu, kami mau cepat pulang," ucap Ido.

"Apa kalian mau pulang, tapi kalian tidak bisa melakukannya dengan keraguan, kalian harus melakukan apapun itu dengan sepenuh hati, akibat keraguan dalam hati kalian akan berakibat buruk," ucap Lila yang kemasukan.

                Di samping percakapan itu Sera dan Dika menemui mereka.

"Lila kenapa," ucap Sera.

"Sttt,"

"Jadi kami mau pulang, apa nggak ada jalan," ucap Ido.

"Ada satu jalan yaitu melakukan apapun tanpa keraguan," ucap Lila dan langsung pingsan.

"Tolongin Lila, Lila pingsan lagi," ucap Dika.

"Apa kalian mengerti apa yang diucapkan tadi, jangan melakukan apapun tanpa keraguan," ucap Ido.

"Sepertinya kita saat melewati jalan ini sangat tidak yakin dan ada keraguan dalam hati," ucap Sera.

                 Lyla pun terbangun dan Lila melihat wajah teman nya yang panik.

"lila kamu baik-baik saja," ucap Sera.

"Ada apa," ucap Lina.

"Kamu nggak tahu apa yang terjadi," ucap Sera.

"Di mana dia tahu orang dia kemasukan tadi," ucap Ido

"Menjelaskannya jangan di sini, sekarang kita harus memikirkan jalan supaya kita pulang ke desa," ucap Sera.

                Sambil berpikir Ido punya saran.

"Sepertinya seperti yang diucapkan tadi kita bisa pulang tanpa harus ada keraguan," ucap Ido.

"Ayo coba kita pulang tanpa keraguan dan jangan lupa berdoa dulu," ucap Ido.

"Satu lagi jangan pernah lihat ke belakang lagi,"

                Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dengan ketulusa, Tanpa keraguan mereka mereka berhasil pulang ke desa, mereka melihat wajah orang tua mereka yang sangat khawatir, Memeluk orang tua mereka sambil menangis.

 

Tamat

 

Kesimpulan yang dapat diambil

jangan melakukan apapun dengan setengah hati lakukanlah semuanya dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan

              

                                                            Penulis Adalah Siswa SMA NEGERI 1 PURBA 2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...