Karya : Tomi Michael Sebayang
Di SMA N 1 PURBA
awal saya memasuki gerbang tampak sekilas
saya melihatnya berjalan dengan senyumnya yang indah itu, bagaikan hal
yang menakjubkan bagi saya melihatnya bahkan terpikir Olehku apakah dia Berpaling melihat ku ketika aku
melihatnya, apakah yang saya rasakan bisa ia Rasakan.
Mungkin itu tidak akan bisa namun setiap hal yang diinginkan pasti terwujudkan, guru menyuruh baris dilapangan sontak terpikir olehku “Dia baris di kelas berapa yah?”
Melihat
senyumnya sangat candu dikarenakan itu bagai hal yang sangat cepat berlalu,
kapan saya Bisa melihat itu kembali mungkinkah secepat ini atau bakal lama agar
itu kembali terulang "Akupun Mulai penasaran siapa dia sebenarnya." Hari
demi hari terpikir dalam benakku dan sewaktu istirahat Temanku mengajak ku
pergi ke kantin .
"Yok ke kantin dah lapar nih," ujar temanku kepadaku.
"Ya udah ayok biar gak lapar lagi."
Dan sesaat di kantin
akupun kembali melihatnya, ketika aku menatapnya ia langsung menatapku Balik
jantungku pun langsung berasa deg deg
kan saat dia mentapku kembali, mengapa hal ini Dapat terjadi, mengapa aku tidak
kuat mentap matanya itulah dalam hatiku ketika melihatnya.
Tatapannya memang begitu indah, senyumnya sangat mempesona,
akupun mulai terpikat olehnya. Sedikit demi sedikit akupun mengetahui
tentangnya tak berfikir panjang aku pun menyusun kata-Kata untuk memikat
hatinya seperti yang dilakukan. Banyak orang agar lebih dekat awal awalnya
Chatingan di WhatsApp. Memang sangat gugup bahkan deg-degkan dikarenakan
berfikir apakah chatku bakal di balas,
apakah bakal diabaikan, selalu terpikir olehku namun aku menghiraukannya aku
memberanikan diri untuk duluan chat.
Disaat itu juga teman ku berkata kepada ku.
"Sudah .......
Jangan di paksa jika dia nanti memang tidak membalas chatmu itu."
"Oke kawan apa pun nanti jawabannya itulah hasilnya,"
ujarku kepada temanku.
Akupun mulai chat dia tak lama menunggu diapun membalasnya,
tak terasa 3 Minggu pun berlalu di hari-hari chat dengannya akupun mempunyai
rasa padanya, 2 Minggu terpendam serasa
sulit ku rasakan karena menyimpan rasa itu sangat berat, kata demi kata terkumpul untuk mengungkapkan perasaan
padanya.
Setelah mengetahui hal
itu semua temanku pun berkata padaku.
"Sudahlah simpan saja dulu perasaanmu itu jangan terlalu
terburu-buru untuk mengungkapkan nya."
Aku pun berfikir sedemikian apa yang di Katakan oleh temanku
dan kembali menunggu waktu yang tepat Untuk mengungkapkan perasaan kepadanya.
Beberapa hari berlalu
akupun selalu menatapnya tak di sangka ia langsung menatapku balik, serasa terkejut
Ia langsung menatapku, indahnya tatapannya bahkan dalam hatiku ingin sekali
memilikinya .
Sama seperti lagu sempurna ia sangat sempurna dimataku, dengan
tatapan matanya yang indah, dan Senyumnya yang mempesona hingga paras
cantiknya.
"Dia adalah adek kelas senyumnya yang indah yang membuat
aku terpikat olehnya."
Sangking penasaran aku
dengannya akupun selalu bertanya tentangnya dengan temanku yang satu kelas
dengannya, memang dia sangat baik, senyumnya yang manis, bahkan dia sangat rajin belajar itulah
tentangnya yang dikatakan oleh temanku .
Ntah mengapa aku sangat
menyukainya bukan karena paras cantiknya, namun perasaan itu tumbuh karna baiknya
dirinya.
Aku pun berfikir jika aku menunggu lama maka bakal ada
seseorang yang duluan memiliki nya, namun aku Juga merasakan, jika aku
mengungkapkan perasaan dengannya aku harus siap untuk bersaing mendapatkan
hatinya.
Hari demi hari berlalu
aku semakin terpikir tentang perasaanku yang terpendam padanya, sungguh berat menahan
perasaan ini, ingin sekali mengungkapkan namun berat jika di abaikan. di tengah
perjalanan Sewaktu bercerita pada temanku dia memberikan saran untuk ku.
"Jika kamu gak sanggup lagi menahan perasaan itu lebih
baik katakan saja padanya."
"Karna semakin lama kamu menahannya maka semakin berat
kamu rasakan," lanjut ujarnya padaku.
Akupun mengikuti saran dari temanku dan memulai memikirkan
kata demi kata untuk meluluhkan hatinya. Tak lama kemudian sampailah 1 Minggu,
temanku menemuiku dan dia bertanya kepadaku,
"Domma i patugah ho hu bana perasaan mai?"
"Unang holi adong na parlobe da mbia," lanjut
ujarnya dengan logat bataknya.
Aku juga berfikir
sedemikian seperti yang dikatakan temanku, tak lama untuk menunggu, akupun mengumpulkan
segala kata - kataku dan aku tidak berfikir panjang lagi.
Karna apa pun hasilnya nanti itulah perjuangan ku, dan itulah
jawaban dari segala perasaan yang kupendam padanya.
Akupun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku
untuknya.
Kata demi kata diberikan.
Lalau dia menjawab semua kata - kata yang kuberikan, dia
menyuruhku untuk memberikan waktu berfikir agar memberitahu jawabannya. lanjut
chat seperti biasa dan tak terasa 3 hari berlalu, dan saat nya Menunggu
jawabannya, begitu lamanya dia mengetik namun pesan yang diberikan bertuliskan.
"Maaf aku fokus belajar dulu dan aku belum pengen
pacaran." Ujarnya padaku.
Bingung, hampa yang
kurasakan. Ku kira seperti yang ku harapkan mendapatkannya, namun sangat sulit
sehingga aku berfikir apakah ada sainganku, sehingga dia berkata seperti itu.
Apakah mungkin dia memang ingin lebih fokus belajar .
Tak terasa 1 bulan berlalu selalu terpikir tentangnya, setiap
baris di lapangan selalu melihatnya hingga dalam hatiku berkata.
"Mengapa sulit mendapatkan mu, andaikan aku disampingmu,
mungkin aku juga bakal ikut tersenyum bersamamu."
“Namun aku juga menyadari semuanya hanya harapan dan harus
dilupakan, apalagi masih memiliki perasaan. " Bulan demi bulan , hari demi
hari pun berlalu.
Tak
disangka aku melihatnya bersama pria lain, jalan ke sekolah tertawa bersama
hingga dia memasangkan dasi cowoknya itu.
Berat memang dulunya dia berkata ingin fokus
belajar namun buktinya dia bersama pria lain.
Dia
sendiri yang mengatakan tidak ingin pacaran namun dia sendiri yang menjalani
hubungan dengan pria tersebut.
"Sakit tapi tak berdarah."
Emosi namun harus memendamnya, sungguh kejam sangat menyiksa
perasaan ketika melihatnya Bersama cowok tersebut.
Beralasan seperti itu namun nyatanya hanya sebuah kata ,
bukanlah hal yang nyata.
Mengetahui hal itu temanku pun berkata kepadaku bahwa
percintaan itu memang memiliki 2 Pilihan .
"Berani mengungkapkan perasaan."
"Atau berani melihatnya dengan yang lain," lanjut
ujarnya padaku.
Aku juga berfikir
sedemikian yang hanya ku lakukan mengikhlaskan saja, mungkin itulah jawaban
dari segalanya.
Dan dalam hatiku pun berkata mungkin belum takdirnya, hanya
harapan saja untuk semuanya .
Serta mungkin saja dia belum takdirnya untuk bersamaku.
"Tidak apa-apa
bersamanya engkau lebih baik."
Kata terakhir yang bisa ku sampaikan ialah.
Rasa sayang itu ibaratkan dinasourus
Pernah ada tapi sudah punah.
Dan waktu itu aku memang menyukaimu namun sekarang aku
tersadar bahwa dia yang kau pilih menjadi pelengkap hidupmu.
EDITOR
: NATANIEL SANTOS PURBA
PENUlIS
SISWA SMA NEGERI 1 PURBA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar