Karya: MARIA EVI FANI PURBA
***
Berdenyut seperti nadi,
berdetak seperti jantung demikian hati ini yang tak kunjung temukan
kedamaian. Aku Whis Ania, gadis yang
barusaja menjejalkan kaki di bangku kuliah dengan jurusan sastra Indonesia
disalah satu universitas swasta di daerah ini. Panggil saja aku Whis, si
pengagum bintang yang bertebar cantik di angkasa.
Malam ini hujan turun sangat lebat, membasahi tanah yang kering kerontang. Ini bukan hujan pertama bulan ini, bukan juga hujan terakhir bulan September ini, ini hanya hujan yang sama dengan hujan-hujan lainnya. Tak ada yang istimewa. Namun entah mengapa rasanya ada yang salah. Gelisah melanda jiwa, pikiran pun tak tenang juga. Seakan hati ini punya kendali sendiri di luar nalar dan logika.
Kulayangkan pandang
keluar jendela kamar kost yang sempit ini, terlihat hujan masih saja sama, tak
kunjung reda padahal tanah sudah kenyang minum air. Kuhirup nafas panjang dan
dengan perlahan kuhembuskan, coba tuk menetralkan perasaan yang mencacah.
Dengan perlahan tangan ini bergerak meraih laptop yang bertuliskan ‘acer’ di
belakang layar. Kutekan tombol power hingga laptop usang ini perlahan
beroprasi. Dengan lihai jari-jariku menari-nari di atas keyboard, kata demi
kata telah kuketik demi tugas kuliah. Namun lagi-lagi perasaan aneh itu
menjalar hebatnya membuat konsentrasi
buyar begitu saja. Mendadak ide-ide yang ada di kepala melayang jauh entah
kemana. Suara petir silang-menyilang di luar sana, membuatku refleks menutup
laptop karna terkejut. Rasanya jantung ini mau keluar dari singgasananya.
Oh, ayolah! Mengapa mendadak
persaan ini berkecamuk tak karuan? Kucoba mencari apa yang salah, namun tak kutemui
jua. Dengan langkah gontai kulankahkan kaki meraih air mineral yang terletak di meja kecil kamar
berwarna biru muda ini. Kuteguk dengan rakus hingga tandas tak bersisa. Resah
kenapa kau hadir mengacau akal dan logika?
“Hai, Whisa!” sapa seseorang
mengejutkanku.
“Ah, Moan kau buat kaget
saja,” kataku mengusap kecil dada yang terasa berdangdut di dalam sana. Moan
hanya terkekeh kecil, tanpa rasa bersalah sedikit pun laki-laki yang setahun
lebih tua dariku itu menjitak kepalaku kuat. Sakit sekali rasanya.
“Tugas kamu uda siap Whish?”
Moan menyipitkan mata elangnya, masker hitamnya Nampak mengerut. Aku mengannguk
samar, dan kudapati laki-laki itu tersenyum puas.
Laki-laki itu adalah
Moandra Purba, orang batak asli namun logat bicaranya seperti orang jawa yang
kemayu bertolak belakang dengan sukunya yang berlogat unik. Dia adalah kakak
tingkatku, seorang penulis yang cukup tenar di kota ini. Aku bertemu denganya dua bulan yang lalu
saat mengurus berkas daftar ulang universitas. Status kami bersahabat. Catat
ya, Cuma sekedar sahabat, gak kurang apalagi lebih.
Moan mengajakku
jalan-jalan hari ini, yah walau pun masih dalam keadaan pandemi. Laki-laki
berpostur maskulin itu, membawaku ke taman kota. Ia nampak tampan dengan kaus
hitam polos dan celana jeans berwarna hitam yang melekat pas di tubuhnya.
Lengan jaketnya di gulung di bawah siku. Masker hitamnya bertengger manis di
wajah itu. Dan aku hanya mengenakan celana jeans biru dongker dan hodie kuning
dengan masker berwarna hitam seperti Moan. Dalam keadaan pandemi begini,
protokol kesehatan harus dijalankan! Yah, walaupun untuk menjaga jarak, sama
sekali tak kami indahkan, kami selalu dekat seperti perangko dan surat. Hehehe.
Menyenangkan berada di taman ini, banyak hal
unik, dan yang paling tak bisa aku lupakan adalah tingkah konyol Moan saat
penggemarnya mengajak foto atau sekedar minta tanda tangan. Menggemaskan sekali
melihat wajahnya yang merasa tidak nyaman.
Tiba-tiba
bayangan kemarin saat aku jalan-jalan bersama Moan terlintas dibenak yang
membuat senyumku tersungging manis. Tapi pudar saat bayangan kelam yang selama
ini kusimpan rapat muncul merongrong pikiran. Bulu kudukku tiba-tiba meremang,
nafas jadi tak beraturan, dan detak jantung memacu dua kali lipat. Apakah
peristiwa itu ada hubungannya dengan resahku ini?
Hujan baru
saja reda, aroma tanah basah menyeruak samar di hidungku. Dengan perlahan aku
keluar kamar, kebetulan kamarku berada di ujung tempat kost dan di depanya ada
halaman yang cukup luas. Ah, sepertinya bintang akan terlihat jelas malam ini
karena hujan langit jadi sedikit bersih,
awan tidak menutupi bintang lagi. Sungguh cantik. Aku tak pernah bosan menatap
benda langit itu sungguh cantik. Mulut ini pun tiada hentinya berdecak kagum
melayangkan pujian kepada yang Esa atas karya-Nya yang luar biasa. sejenak aku
lupa resah yang menghantui tadi, namun hanya sejenak. Bulu kudukku kembali
meremang bersamaan dengan pikiran-pikiran negatif yang menyiksa. Ditambah lagi udara malam yang menusuk
indra perasa karna aku tak mengenakan jaket atau sebangsanya saat keluar tadi.
Tanpa sadar
air mataku meluncur tanpa permisi, untung sudah malam kalau tidak aku akan jadi
pusat perhatian orang-orang yang ada di luaran sini. Jantungku semakin buas
berdetak seolah aku sedang lari maraton, keringat membanjiri pelipisku walau
udara malam sangat dingin. Sungguh tidak menyenangkan! Kujambak rambutku
frustasi berharap membantu, namun malah semakin menjadi. Gelisah, takut, marah
menjadi satu menyerang pusat nadi, mengobrak-abrik nurani hingga seperti kapal
pecah. Nafas semakin memburu menghirup rakus oksigen seolah hanya tersedia
sedikit. Ditambah lagi ulu hati yang meradang perih. Air mataku terus berlomba,
seolah mereka berkompetisi, mata mana yang lebih banyak mengeluarkan cairan
bening.
“Whis? Ngapain disisni?”
Tanya seorang perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Sekali lagi syukur sudah malam sehingga perempuan itu
tidak bisa melihat parasku yang aku yakin sudah sangat menjijikkan.
“Cuma cari udara Din,”
kataku sok tidak terjadi apa-apa, samar kulihat perempuan itu mengangguk. Dia
adalah Dinda Pratiwi, tetangga kamarku. Dinda seumuranku, namun tidak berkuliah
karna kondisi ekonomi keluarganya yang tergolong kurang mampu, jadinya dia bekerja
di salah satu PT di kota ini dengan gaji pas-pasan.
“Ouh, aku masuk dulu
ya Whis. Jangan lama-lama di luar ntar masuk angin lagi,” kata Dinda sambil
berlalu kekamarnya. Aku hanya mengiayakan.
Cih, sial!
Perasaan itu datang lagi. Kubuka ponselku dan melihat angka besar yang tertera
dilayar. 21.36 WIB. Ah sudah hampir larut, dengan tertatih kulangkahkan kakiku
kembali ke kamar menutup pintu kasar, aku yakin Dinda di kamar sebelah terkejut
mendengar suara keras bantingan pintu. Kubaringkan tubuhku di kasur empuk yang
tidak terlalu besar. Nyeri. Itu yang kurasakan saat ini, sesak sekali rasanya.
Tidak nyaman dengan posisi berbaring aku bangkit dan duduk di kasur sebentar.
Namun tak kunjung ketemui ketenangan. Modar-mandir tubuh ini menelusuri kamar
sempit yang aku sudah tak tau berapa kali kakiku melangkahkan kaki pada jejak
yang sama. Kuraih ponselku mencoba mengalihkan pikiran yang sudah amburadul.
Namun tak ada gunanya, peraaan ini masih sama. Air mataku pun telah habis.
Adakah yang bisa membantu?
Berulang-ulang
kutarik ulur beranda media sosialku, namun pikiran tak fokus. Hingga kulihat
ada panggilan masuk, Moan meneleponku. Segera kugeser tombol hijau yang tertera
di layar. Cukup lama kami mengobrol, yah walaupun ngarol-ngidul gak jelas,
ditambah pikiranku yang tidak fokus. Setelah sambungan teputus kuletakkan
kembali ponselku. Nyeri di ulu hati masih begitu terasa, dan resah ini rasanya
sedang berpesta-pora menyiksaku dan tak berniat berhenti. Kembali kubaringkan
tubuh kecilku di atas kasur, baru saja aku berbaring sudah bangkit berdiri
lagi, menjejalkan kakikiku di lantai. Duduk sebentar, berdiri lagi, berbaring
lagi, tengkurap, duduk, mondar-mandir, itu menjadi aktivitasku semalaman ini.
Sebenarnya siapa yang aku cemaskan? Lelah? Jangan ditanya lagi, sudah teramat
lelah rasanya. Ngantuk? Untuk berkedip saja rasanya malas, apalagi tidur.
Kesal? Sangat. Benci? Untuk siapa? Aku jadi pangling sendiri.
Sudah benar-benar larut
dan hampir dini hari, namun perasaan ini tak kunjung tenang. Suara jangkrik
saling bershutan di luar. Entah mengapa rasanya tiba-tiba mencekam? Seperti ada
yang aneh. Kusingkirkan pikiran konyol tentang hantu-hantuan dari otakku,kok
jadi horor gini?
‘Whis…’
Apa itu? Mengapa samar-samar kudengar seseorang memanggilku? Kuedarkan
pandangan keseluruh penjuru namun nihil tak ada apa-apa. Tiba-tiba bulu kuduk
ini kembali meremang. Kutarik paksa selimut dan segera membungkus diri.
Sedikit lagi aku akan tertidur kudengar lagi bisikan halus ditelingaku.
‘Tetaplah punya harappan Whis, seperti arti namamu!’
Mataku melotot tak percaya,
sekali lagi kuedarkan pandangan kepenjuru rungan namun tak ada siapa-siapa di
sini selain aku.
Tok tok tok.
Kudengar ketukan
dari luar, dengan malas kuraih ponselku. Mataku terbelalak melihat jam yang
tertera di ponsel. Sudah jam 12 siang. Ini ponselku yang eror atau akunya yang
eror? Ketokan pintu terdengar lagi dari
luar yang menyadarkanaku. Segera aku bangkit dari kasur dan membuka pintu.
Ternyata Sasya, sahabat dekatku. Wajahnya nampak kesal.
“Lama bangat!” Cerocosnya saat pintu telah
kubuka, aku hanya nyengir kuda.
“Kamu baru bangun
Whis?” tanyanya penuh selidik dan masuk kedalam kamarku tampa izin. Aku
mengekori Sasya sambil berdehem. Gadis itu melihatku tak percaya mata sipitnya
melebar yang nampak lucu, ingin rasanya aku tertawa, tapi situasi dan kondisi
tidak mendukung sehingga kuredam di tenggorokan.
“Biasa aja
dong!” kataku menoyor pelan kepalanya. Sasya duduk di kasur sambil menatapku
dengan sinis.
“Tau gak? ada
kejadian aneh semalam sya!” Kataku antusias ingin menceritakan pengalaman horor
semalam. Sasya menggeleng dengan raut muka penasaran. Aku mengambil duduk di
sebelah kanan Sasya lalu melihat gadis itu dengan tatapan serius. Sasya nampak
menanti dengan tidak sabaran.
“Semalam di sini, di kamar ini, ada yang mangil
aku! Waktu kucek gak ada siapa-siapa.
Kupikir cuma salah dengar ternyata engak! Suaranya halus bangat tau
ngak?” Kataku antusias
“Trus?”
“Dia bilang gini ‘tetaplah punya harapanWhis,
seperti namamu!’ Gitu.”
“Halusinasi aja kali.”
“Enggak! Aku yakin itu benaran. Tapi waktu kucek
gak ada siapa-siapa.”
Sasya memutar bola matanya malas, aku yakin sahabatku ini gak percaya
tapi itu benarbenar terjadi. Sasya berdiri dari posisinya lalu meraih laptopku
yang terletak di meja.
“Gak usah
dipikirin Whis, ngomong-ngomong tugas kamu uda selesai?” Aku menggeleng. Kulihat
Sasya membuka laptop itu, lalu mengecek sesuatu.
“Selesaiin! Besok dikumpul loh,” peringatnya,
aku mengangguk mengiyakan.
Masa sih semalam Cuma halusinasi aku doang? Tapi kok suara itu serasa
nyata ya? Suara itu mirip suara…
“ALDO!” Pekikku keras membuat
Sasya menoleh. Tatapan gadis itu mengitrogasi. Hatiku kembali tidak tenang,
mengingat sosok orang yang menyelamatkan aku dari kekelaman yang mengerikan
dulu. Sosok orang yang bertaruh nyawa menolongku. Suara itu sagat mirip dengan
suara Aldo. Sungguh aku sangat yakin itu suara Aldo. Tapi kok bisa? Kok bisa aku dengar suara malaikat penolongku
itu? Apa yang terjadi padanya?
“Siapa tuh?
Pacar baru kamu ya?” Tanya Sasya kembali fokus pada laptokku. Tapi tak
kugubris, pikiranku mendadak menuju kepada Aldo. Kuraih ponselku mencari kontak
Aldo di sana. Setelah kutemukan segera kuhubungi. Namun tak ada balasan. Sudah
kuulang-ulang namun sama saja tidak diangkat sama sekali. Membuat rasa
kawatirku bertambah saja.
Sasya
menoleh melihatku heran, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak kujawab
sama sekali. Hal itu membuat sahabatku itu kesal sendiri.
Tak putus asa
kucuba menghubungi Aldo via media sosial tapi nihil. Aku hampir putus asa,
akhirnya ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Kuharap itu Aldo,
segera ku angkat.
Deg. Bukan
Aldo! Tapi Aldi kembaran Aldo. Setelah mendengar suara dari sebrang sana
rasanya jantungku berhenti berdetak dan oksigen menipis disekelinglingku.
Pantas saja! Pantas saja aku gelisah semalam ini. Pantas saja aku mendengar
suara Aldo. Ponselku jatuh dari tangan mungilku, membuat Sasya mendadak panik.
Air mata telah memebanjiri pipiku. Kupungut kembali benda pipih yang tercecer
itu, memesan tiket pesawat online ke kampung halaman. Sasya mengamatiku dengan
seksama.
“Kenapa?” Tanya Sasya sendu. Kuseka airmataku
kasar lalu menetralakan degup jantungku.
“Semalam bukan
halusinasi Sya! BUKAN! Itu suara Aldo, Aldonya aku. Hiks hiks hiks itu Aldo…”
aku terduduk lemas di lantai. Sasya yang tak mengerti menghampiriku. Sasya tak
pernah tau siapa Aldo atau pun masalalu kelamku, wajarsaja kalau gadis itu
pangling.
Dengan sigap Sasya menarikku
kedalam dekapan hangatnya, mengelus rambutku sayang. Memang Sasya tak tau
apa-apa tapi sebagai seorang sahabat dia akan ikut sedih melihat aku yang kini
hancur.
Acara
pemakaman baru saja selesai. Kulihat batu nisan bertuliskan ‘Aldo Fian Jiwara’.
Nama orang yang menyelamatkanku dari kejamnya dunia. Nama malaikat penolongku.
‘Selamat
tinggal Do! Semoga kau bahagia di sana. Sekarang aku mengerti mengapa kemarin resahku berpesta
pora. Bukan karna Moan, atau orang lain, tapi kamu Do, kamu pergi. Meninggalkan
aku untuk selama-lamanya. Aku akan selalu
ingat kata-kata terakhir kamu yang kamu ucapakan kepadaku saat resah itu
menyiksaku. Whis akan selalu punya pengharapan seperti namanya. Pengharapan!
Selalu. Trimakasih atas semua jasamu Aldo, trimakasih atas pertolonganmu, karna
kamu sekarang aku bisa hidup normal… dan sekali lagi selamat tinggal malaikat
penolongku’.
Penulis
siswi SMAN 1 PURBA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar