Oleh: Rifael L Lingga
Hai… Aku Delia Anastasia. Umurku 17 tahun. Aku duduk
dikelas 12 MIPA tahun ini. Disekelilingku banyak orang yang yang sangat Aku
cintai dan yang mencintaiku. Mereka adalah orang-orang yang sangat tegar, kuat
dan nyaris sempurna dimataku. Mereka adalah Keluargaku, orang yang sangat aku sayangi
didalam hidupku. Akan Aku ceritakan kisah dan kenangan sejauh yang kuingat
didalam perjalanan hidupku.
Orang tuaku bekerja sebagai seorang petani. Mereka
adalah orang yang kuat dan layaknya super
hiro dimataku. Orang tua yang sangat kucintai dan Aku sayangi. Bukan Tuhan,
bukan malaikat tapi seperti teman berbabagi cerita dan teman menjalani
lika-likunya kehidupan ini. Orang tuakulah alasan mengapa aku harus melakukan
segala sesuatu dengan baik dan semangat menjalani hidup.
Ibuku juga seorang petani sekaligus seorang ibu rumah
tangga. Ibuku orang yang sangat kuat dan penyabar. Masa muda ibuku dipenuhi
oleh luka yang hingga saat ini masih membekas didalama dirinya. Sakit selama 6
tahun dan bekerja sebagai seorang pembantu dirumah orang selama kurang lebih 6
tahun itulah kisahnya. Demi mengambil gelar SMA dan mencukupi kehidupan selama
merantau karena ekonomi orang tua yang kurang memadai kala itu. Oleh karena itu, ibuku
selalu mengajarkan kepada kami arti kebedaan Seorang ibu didalam kehidupan
kami.
“Halo nang. udah makan? bagaimana pelajaranmu hari
ini?” tanya Ibuku dari telepon.
“Sudah makan ma. hari pelajarannya agak susah ma,tapi
nanti kupelajari lagi dirumah ma,” jawabku.
“Ooo bagus nang. jangan lupa bawa air minun juga
kesekolah ya, cuacanya enggak bagus.”
“Iya ma. mama lagi dimana?”
“Lagi diladang kami nang sama bapak,ini lagi istirahat
.”
“Oo yaudalah ma. istirahatlah dulu nanti kuhubungi
lagi ma.”
“Iya nang. yaudalah ya, da dah.”
“Iya Ma. da dah Ma.”
Suara ibu yang terdengar dari speaker hpku terdengar
lelah dan lesu membuat hatiku tersayat mendengar
nada itu. Tanpa tersadar air mata jatuh ke pipiku. Sungguh lelahnya orang tuaku
bekerja bagaimanapun juga aku harus membahagiakan mereka dan aku harus sukses,
itulah yang ada dibenakku saat itu. Kadang saat berjalan kesekolah, aku
melewati perkebunan orang. Saat itu juga Aku teringat pada orang tuaku. Aku
teringat ayahku yang sangat kuat dan tegar pasti sedang berada dikebun, tanpa
mengeluh dengan teriknya mentari dan keringat yang bercucuran. Sungguh sedihnya hatiku saat aku melihat orang tuaku terlihat
leleh, tapi apa boleh buat sudah itulah pekerjaan orang tuaku. Aku masih
mengingat saat ayahku memberi topinya padaku. Saat itu matahari sangat
menyengat.
“Ih mana topimu nang, panas ini,” kata Bapak.
“Lupa tadi Pak bawa topi, buru-buru,” ucapku.
“Ini nah, nanti sakit kau baya.”
“Hahaha enggak usah Pak.”
“Ehh nanti sakit, dimarahi mamamu bapak.”
“Hahaha kenapa pula bapak yang dimarahi?”
Yahh begitulah dia rela membuka topinya untukku. Dia
rela kepanasan demi aku. Sungguh kenagan yang indah bagiku. Mungkin bagi
beberapa orang akan berpikir kenangan itu biasa saja, tapi bagiku itu sebuah
kenangan indah yang akan aku kenang.
Orang tua yang sangat kurindukan dari kejauhan demi
mengejar cita-cita yang selama ini kuimpikan. Jika bukan karna sukses mungkin
aku tidak ingin jauh dari orang tuaku. Jauh dari kedua orang tua bukanlah
mudah. Saat aku berada diperantauan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru
dan bertemu orang-orang baru. Tentunya banyak masalah dan tantangan yang kuhadapi
tanpa orang tuaku. Kadang aku berfikir jika orang tua dan saudaraku ada disini
pasti tidak seburuk dan semenakutkan ini. Kadang aku sering iri melihat orang
diluar sana yang tidak perlu jauh dari orang tuanya untuk menggapai
cita-citanya tanpa harus merantau seperti kebanyakan orang desa sepertiku. Tapi
bagaimana boleh buat inilah hidupku yang akan kuukir sedemikian rupa agar
terlihat baik-baik saja.
Aku juga punya 2 saudara, satu perempuan dan satu
lelaki. Kami hidup layaknya seperti saudara pada umumnya. Berkelahi, tertawa
dan berbagi cerita, itulah suatu
kenangan yang tidak terlupakan olehku. Saat ini aku dan saudaraku saling
berjauhan.
Kakak perempuanku yang sedang menduduki bangku
perkuliahan disebuah universitas yang selama ini dia dambakan, tentunya dengan
jurusan yang selama ini dia kejar mati-matian. Dia adalah orang yang sangat
kuat dan pantang menyerah, bagiku dia layak mendapatkan julukan anak pertama yang
menjadi panutan bagi kami adik-adiknya. Dia sering berbagi cerita padaku, baik
itu cerita tentang keras dan lika -likunya kehidupan maupun tentang apa itu yang
namanya persahabatan dan cinta. Kata-katanya sering sekali menjadi acuan
sekaligus motivasi bagiku. Tak jarang pula ada kata-kata yang membuatku marah
dan kesal padanya, seolah-olah dia sedang menguji kesabaranku. Dilain hati aku
sebernarnya sangat beruntung punya kakak sepertinya.
Adikku juga begitu, dia sekarang duduk dibangku SMA. Bangku
yang didudukinya adalah sebuah sekolah yang dia impikan selama ini, yang
terkabul dengan doa dan kerja kerasnya. Dia orang yang sangat ramah dan pekerja
keras. Dia adikku yang paling kecil,yang cengeng,manja dan sedikit menyebalkan.
Motto kami berdua itu, ‘Tiada hari tanpa berkelahi.’ Yahh begitulah dia memang
orang yang sangat menyebalkan, kecuali ada sesuatu yang dia inginkan. Jika dia
ingin sesuatu dariku seperti mengajarinya mengerjakan tugas, membelikan
makanan, dan banyak hal lainnya, dia akan berperilaku baik dan melakukan segala
sesuatu yang kuinginkan layaknya seorang ratu.
“Dasar adik yang licik, jika bukan karna adikku dia
akan kujadikan sate! ” seketika pikiranku dipenuhi oleh amarah dan godaan iblis
saat aku berkelahi dengannya.
Tapi kata orang adikku sangat baik, sampai banyak
orang yang berkata,
“Baik sekali adikmu ganteng pula, ihhh irinya jadi pengen punya adik laki-laki,” kata orang-orang.
Padahal memang ia, enak jadi kakak dari adekku, tapi
pasti ada kelemahan dan kekurangan setiap orang. Tak dapat kupungkiri, dia
adalah laki-laki tebaik yang kutemui setelah ayahku.
Kadang-kadang kami juga sering berbagi cerita bersama-sama
sekalian melepas rindu lewat vidio call. Kami bercerita dan mengerjakan
tugas bersama-sama.
Bagiku keluarga adalah utama dan satu-satunya. Saat
aku butuh sandaran dan kawan bertukar cerita maupun pikiran, keluargakulah yang
senantiasa disampingku. Walaupun kami salih berjauhan, itu bukan penghambat
bagi kami. Seperti pepatah mengatakan, ‘Jauh dimata,namun dekat dihati ‘. Iw
mereka memang jauh dimataku tapi tidak dihatiku.
Sepenggal kalimat yang ingin kusampaikan pada
keluargaku
“Aku beruntung sekaligus berterimakasih kepada Tuhan
karena diberikan keluarga seperti kalian, aku mencintai kalian. ”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar