Rabu, 03 November 2021

Sejauh yang Kuingat



 

Oleh: Rifael L Lingga

Hai… Aku Delia Anastasia. Umurku 17 tahun. Aku duduk dikelas 12 MIPA tahun ini. Disekelilingku banyak orang yang yang sangat Aku cintai dan yang mencintaiku. Mereka adalah orang-orang yang sangat tegar, kuat dan nyaris sempurna dimataku. Mereka adalah Keluargaku, orang yang sangat aku sayangi didalam hidupku. Akan Aku ceritakan kisah dan kenangan sejauh yang kuingat didalam perjalanan hidupku.

 

Orang tuaku bekerja sebagai seorang petani. Mereka adalah orang yang kuat dan layaknya super hiro dimataku. Orang tua yang sangat kucintai dan Aku sayangi. Bukan Tuhan, bukan malaikat tapi seperti teman berbabagi cerita dan teman menjalani lika-likunya kehidupan ini. Orang tuakulah alasan mengapa aku harus melakukan segala sesuatu dengan baik dan semangat menjalani hidup.

 

Ibuku juga seorang petani sekaligus seorang ibu rumah tangga. Ibuku orang yang sangat kuat dan penyabar. Masa muda ibuku dipenuhi oleh luka yang hingga saat ini masih membekas didalama dirinya. Sakit selama 6 tahun dan bekerja sebagai seorang pembantu dirumah orang selama kurang lebih 6 tahun itulah kisahnya. Demi mengambil gelar SMA dan mencukupi kehidupan selama merantau karena ekonomi orang tua yang  kurang memadai kala itu. Oleh karena itu, ibuku selalu mengajarkan kepada kami arti kebedaan Seorang ibu didalam kehidupan kami.

“Halo nang. udah makan? bagaimana pelajaranmu hari ini?” tanya Ibuku dari telepon.

“Sudah makan ma. hari pelajarannya agak susah ma,tapi nanti kupelajari lagi dirumah ma,” jawabku.

“Ooo bagus nang. jangan lupa bawa air minun juga kesekolah ya, cuacanya enggak bagus.”

“Iya ma. mama lagi dimana?”

“Lagi diladang kami nang sama bapak,ini lagi istirahat .”

“Oo yaudalah ma. istirahatlah dulu nanti kuhubungi lagi ma.”

“Iya nang. yaudalah ya, da dah.”

“Iya Ma. da dah Ma.”

Suara ibu yang terdengar dari speaker hpku terdengar lelah dan lesu  membuat hatiku tersayat mendengar nada itu. Tanpa tersadar air mata jatuh ke pipiku. Sungguh lelahnya orang tuaku bekerja bagaimanapun juga aku harus membahagiakan mereka dan aku harus sukses, itulah yang ada dibenakku saat itu. Kadang saat berjalan kesekolah, aku melewati perkebunan orang. Saat itu juga Aku teringat pada orang tuaku. Aku teringat ayahku yang sangat kuat dan tegar pasti sedang berada dikebun, tanpa mengeluh dengan teriknya mentari dan keringat yang bercucuran. Sungguh  sedihnya hatiku saat aku melihat orang tuaku terlihat leleh, tapi apa boleh buat sudah itulah pekerjaan orang tuaku. Aku masih mengingat saat ayahku memberi topinya padaku. Saat itu matahari sangat menyengat.

“Ih mana topimu nang, panas ini,” kata  Bapak.

“Lupa tadi Pak bawa topi, buru-buru,” ucapku.

“Ini nah, nanti sakit kau baya.”

“Hahaha enggak usah Pak.”

“Ehh nanti sakit, dimarahi mamamu bapak.”

“Hahaha kenapa pula bapak yang dimarahi?”

Yahh begitulah dia rela membuka topinya untukku. Dia rela kepanasan demi aku. Sungguh kenagan yang indah bagiku. Mungkin bagi beberapa orang akan berpikir kenangan itu biasa saja, tapi bagiku itu sebuah kenangan indah yang akan aku kenang.

 

Orang tua yang sangat kurindukan dari kejauhan demi mengejar cita-cita yang selama ini kuimpikan. Jika bukan karna sukses mungkin aku tidak ingin jauh dari orang tuaku. Jauh dari kedua orang tua bukanlah mudah. Saat aku berada diperantauan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan bertemu orang-orang baru. Tentunya banyak masalah dan tantangan yang kuhadapi tanpa orang tuaku. Kadang aku berfikir jika orang tua dan saudaraku ada disini pasti tidak seburuk dan semenakutkan ini. Kadang aku sering iri melihat orang diluar sana yang tidak perlu jauh dari orang tuanya untuk menggapai cita-citanya tanpa harus merantau seperti kebanyakan orang desa sepertiku. Tapi bagaimana boleh buat inilah hidupku yang akan kuukir sedemikian rupa agar terlihat baik-baik saja.

 

Aku juga punya 2 saudara, satu perempuan dan satu lelaki. Kami hidup layaknya seperti saudara pada umumnya. Berkelahi, tertawa dan  berbagi cerita, itulah suatu kenangan yang tidak terlupakan olehku. Saat ini aku dan saudaraku saling berjauhan.

 

Kakak perempuanku yang sedang menduduki bangku perkuliahan disebuah universitas yang selama ini dia dambakan, tentunya dengan jurusan yang selama ini dia kejar mati-matian. Dia adalah orang yang sangat kuat dan pantang menyerah, bagiku dia layak mendapatkan julukan anak pertama yang menjadi panutan bagi kami adik-adiknya. Dia sering berbagi cerita padaku, baik itu cerita tentang keras dan lika -likunya kehidupan maupun tentang apa itu yang namanya persahabatan dan cinta. Kata-katanya sering sekali menjadi acuan sekaligus motivasi bagiku. Tak jarang pula ada kata-kata yang membuatku marah dan kesal padanya, seolah-olah dia sedang menguji kesabaranku. Dilain hati aku sebernarnya sangat beruntung punya kakak sepertinya.

 

Adikku juga begitu, dia sekarang duduk dibangku SMA. Bangku yang didudukinya adalah sebuah sekolah yang dia impikan selama ini, yang terkabul dengan doa dan kerja kerasnya. Dia orang yang sangat ramah dan pekerja keras. Dia adikku yang paling kecil,yang cengeng,manja dan sedikit menyebalkan. Motto kami berdua itu, ‘Tiada hari tanpa berkelahi.’ Yahh begitulah dia memang orang yang sangat menyebalkan, kecuali ada sesuatu yang dia inginkan. Jika dia ingin sesuatu dariku seperti mengajarinya mengerjakan tugas, membelikan makanan, dan banyak hal lainnya, dia akan berperilaku baik dan melakukan segala sesuatu yang kuinginkan layaknya seorang ratu.

“Dasar adik yang licik, jika bukan karna adikku dia akan kujadikan sate! ” seketika pikiranku dipenuhi oleh amarah dan godaan iblis saat aku berkelahi dengannya.

Tapi kata orang adikku sangat baik, sampai banyak orang yang berkata,

“Baik sekali adikmu ganteng pula, ihhh irinya jadi pengen  punya adik laki-laki,” kata orang-orang.

Padahal memang ia, enak jadi kakak dari adekku, tapi pasti ada kelemahan dan kekurangan setiap orang. Tak dapat kupungkiri, dia adalah laki-laki tebaik yang kutemui setelah ayahku.

 

Kadang-kadang kami juga sering berbagi cerita bersama-sama sekalian melepas rindu lewat vidio call. Kami bercerita dan mengerjakan tugas bersama-sama.

 

Bagiku keluarga adalah utama dan satu-satunya. Saat aku butuh sandaran dan kawan bertukar cerita maupun pikiran, keluargakulah yang senantiasa disampingku. Walaupun kami salih berjauhan, itu bukan penghambat bagi kami. Seperti pepatah mengatakan, ‘Jauh dimata,namun dekat dihati ‘. Iw mereka memang jauh dimataku tapi tidak dihatiku.

Sepenggal kalimat yang ingin kusampaikan pada keluargaku

“Aku beruntung sekaligus berterimakasih kepada Tuhan karena diberikan keluarga seperti kalian, aku mencintai kalian. ”

 

*Penulis adalah siswa SMAN 1 Purba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...