Selasa, 02 November 2021

Keluarga kecilku


                                                             karya : wellpina w. Silalahi

 

 Rumah yang tadinya sepi seketika menjadi riuh karena teriakan abangku. Aku dan ibu yang kebingungan hanya menatapnya heran.

"Aku punya berita bagus..." katanya dengan semangat.

Kami hanya diam menunggunya melanjutkan ucapannya.

"Abang di terima di UNIMAD jurusan Hukum!"

"Wah selamat ya bang!" Kata ibu sambil memeluk Abang. Sepertinya Ibu senang sekali. Tapi aku hanya diam, Aku tidak tahu harus sedih atau senang.

"Kamu kenapa de?" tanya ibu dan abang yang menatapku heran.

"Jadi abang bakal ke Manado dong?" tanyaku sambil menunduk.

"Iya kan abang mau lanjutin kuliah." jawab abang sambil memperhatikanku.

Rasanya tak rela berjauhan dengan abang, apalagi bukan hanya 1 bulan atau 2 bulan. Tapi untuk beberapa tahun kedepan.

       Rumah pasti akan terasa sepi tanpanya.

Dia yang suka menggangguku.

Dia yang suka membuat candaan walaupun tidak lucu.

     Sebenarnya abangku selalu sekolah di luar daerah, sejak SMP. Tapi beda hal dengan ini. Abangku akan pergi ke luar pulau.

Melihatku yang terus menunduk, abangpun berjalan mendekatiku.

"Udah gak papa ya...." kata abang sambil mengusap kepalaku.

"Abang janji bakal sering-sering video call kamu sama ibu." katanya mencoba memberi pengertian.

"Trus nanti abang bakal pulang paling enggak sekali setahun." katanya menambahi.

Lalu aku menatap ibu.Ibu tersenyum dan mengangguk.

"Atau kamu mau ikut abang?" canda abang.

"Ya enggaklah!" jawabku dengan cepat.

"Bagaimana dengan ibu jika aku ikut abang." pikirku dalam hati.Lagipula aku masih sekolah baru duduk di bangku SMP.

     Sebenarnya aku adalah anak angkat. Tapi ibu dan abang tak pernah mengungkit hal itu.Bahkan ibu selalu mengatakan kepada orang-orang bahwa aku adalah anak kandungnya. Begitujuga dengan abang, dia selalu mengatakan kepada teman-temannya  aku adalah adik kandungnya. Dari kecil aku sudah dirawat oleh ibu. Ibu bilang ayah angkatku sudah meninggal sejak abang umur 1 tahun.

"Udah ya jangan sedih-sedih gini, kan abang mau kuliah bukan mau pergi kemana mana, seharusnya kita senang dan bersyukur dong." Kata ibu mencairkan suasana.

"Ya ampun kenapa aku jadi lebay begini!" rutukku dalam hati.

"Iya juga ya." jawabku sambil tersenyum kaku.

"Iya udah, terus abang berangkatnya kapan?" tanyaku tak sabaran.

"Ya ampun de... itu baru pengumuman diterima lho."

"Gak sabaran banget."

"Pengen banget ya biar abang cepat pergi dari sini? biar nanti kamu serasa anak tunggal.." kata abang sambil terkekeh.

“Ya enggaklah,kan cuman nanya!" jawabku sambil menatapnya tajam.

Abangku hanya tertawa melihat wajah kesalku.

"Udah-udah jangan ribut terus "

"Harusnya kalian tuh banyakin akur daripada berantemnya!"

"Biar nanti, kalau jauhan bukan ributnya aja yang diingat." kata ibu menasehati.

Kami hanya saling menatap sambil tersenyum kaku. Kami tahu jika sudah begini, ibu kami akan ceramah sampai beberapa jam kedepan. Kami sudah hapal kebiasaan ibu.Tapi walaupun begitu bagi kami, ibu kami adalah wanita terhebat. Ibu bisa merawat kami sendirian ,ia sudah sekaligus jadi ayah buat kami.

  Aku bersyukur Tuhan menitipkanku di keluarga ini. Keluarga kecil yang penuh kebahagiaan. Walaupun aku hanya anak angkat tapi ibu menganggapku seperti anaknya sendiri dan abang menganggapku adiknya sendiri. Mereka Sanyat menyayangi ku, begitupun aku.

 

*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...