karya
: wellpina w. Silalahi
Rumah yang tadinya sepi seketika menjadi riuh
karena teriakan abangku. Aku dan ibu yang kebingungan hanya menatapnya heran.
"Aku punya berita bagus..." katanya
dengan semangat.
Kami hanya diam menunggunya melanjutkan ucapannya.
"Abang di terima di UNIMAD jurusan
Hukum!"
"Wah selamat ya bang!" Kata ibu sambil memeluk Abang. Sepertinya Ibu senang sekali. Tapi aku hanya diam, Aku tidak tahu harus sedih atau senang.
"Kamu kenapa de?" tanya ibu dan abang
yang menatapku heran.
"Jadi abang bakal ke Manado dong?"
tanyaku sambil menunduk.
"Iya kan abang mau lanjutin kuliah."
jawab abang sambil memperhatikanku.
Rasanya tak rela berjauhan dengan abang, apalagi
bukan hanya 1 bulan atau 2 bulan. Tapi untuk beberapa tahun kedepan.
Rumah
pasti akan terasa sepi tanpanya.
Dia yang suka menggangguku.
Dia yang suka membuat candaan walaupun tidak lucu.
Sebenarnya abangku
selalu sekolah di luar daerah, sejak SMP. Tapi beda hal dengan ini. Abangku
akan pergi ke luar pulau.
Melihatku yang terus menunduk, abangpun berjalan
mendekatiku.
"Udah gak papa ya...." kata abang sambil
mengusap kepalaku.
"Abang janji bakal sering-sering video
call kamu sama ibu." katanya mencoba memberi pengertian.
"Trus nanti abang bakal pulang
paling enggak sekali setahun." katanya menambahi.
Lalu aku menatap ibu.Ibu tersenyum
dan mengangguk.
"Atau kamu mau ikut abang?"
canda abang.
"Ya enggaklah!" jawabku
dengan cepat.
"Bagaimana dengan ibu jika aku
ikut abang." pikirku dalam hati.Lagipula aku masih sekolah baru duduk di
bangku SMP.
Sebenarnya
aku adalah anak angkat. Tapi ibu dan abang tak pernah mengungkit hal itu.Bahkan
ibu selalu mengatakan kepada orang-orang bahwa aku adalah anak kandungnya.
Begitujuga dengan abang, dia selalu mengatakan kepada
teman-temannya aku adalah adik kandungnya. Dari kecil aku sudah
dirawat oleh ibu. Ibu bilang ayah angkatku sudah meninggal sejak abang umur 1
tahun.
"Udah ya jangan sedih-sedih
gini, kan abang mau kuliah bukan mau pergi kemana mana, seharusnya kita senang
dan bersyukur dong." Kata ibu mencairkan suasana.
"Ya ampun kenapa aku jadi lebay
begini!" rutukku dalam hati.
"Iya juga ya." jawabku
sambil tersenyum kaku.
"Iya udah, terus abang
berangkatnya kapan?" tanyaku tak sabaran.
"Ya ampun de... itu baru
pengumuman diterima lho."
"Gak sabaran banget."
"Pengen banget ya biar abang
cepat pergi dari sini? biar nanti kamu serasa anak tunggal.." kata abang
sambil terkekeh.
“Ya enggaklah,kan cuman nanya!"
jawabku sambil menatapnya tajam.
Abangku hanya tertawa melihat wajah
kesalku.
"Udah-udah jangan ribut terus
"
"Harusnya kalian tuh banyakin
akur daripada berantemnya!"
"Biar nanti, kalau jauhan bukan
ributnya aja yang diingat." kata ibu menasehati.
Kami hanya saling menatap sambil
tersenyum kaku. Kami tahu jika sudah begini, ibu kami akan ceramah sampai
beberapa jam kedepan. Kami sudah hapal kebiasaan ibu.Tapi walaupun begitu bagi
kami, ibu kami adalah wanita terhebat. Ibu bisa merawat kami sendirian ,ia
sudah sekaligus jadi ayah buat kami.
Aku bersyukur Tuhan
menitipkanku di keluarga ini. Keluarga kecil yang penuh kebahagiaan. Walaupun
aku hanya anak angkat tapi ibu menganggapku seperti anaknya sendiri dan abang
menganggapku adiknya sendiri. Mereka Sanyat menyayangi ku, begitupun aku.
*Penulis adalah
siswa SMA Negeri 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar