Sabtu, 27 November 2021

Diri Sendiri

 



Karya: Mari Artha Purba

 

     Aku terbangun lagi di antara sepi hanya pikiran yang ramai. Hari ini adalah hari yang aku rasa istimewa namun tak aku suka, tak boleh lupa kalau hari ini sekolah. Hari ini disambut dengan cuaca mendung dan berkabut yang membuat udara begitu dingin. Ingin aku berkata kasar namun tak bisa.

     Terkadang aku merasa sekolah itu tak menyenangkan dan sangat membosankan. Tapi demi masa depan yang cerah aku harus tetap semangat. Walaupun kurang menyenangkan.

     Aku adalah gadis desa yang di lahirkan dan di besarkan di keluarga petani.Hidup sederhana adalah kebahagiaan diriku dan keluargaku. Hidup dengan ekonomi lebih kurangnya cukup bagi kami. Orang tuaku selalu mengajarkan kami anak-anaknya untuk tetap bersyukur dalam apapun itu. Orang tua kami tak menuntut anak-anaknya pintar, namun orang tua kami menuntut kami agar bertanggung jawab dari apa yang kami perbuat. Aku adalah kakak dari adik-adik ku. Nama ku adalah Mari Artha Purba biasa di panggil dengan sebutan Artha.

"Artha! bangun, udah pagi. Nanti terlambat ke sekolah."  teriak mama dengan suara keras.

"Iya ma...."  jawab ku dengan setengah sadar.

"Ayah sama mamah nanti pergi dulu ke Seribudolok ada acara keluarga. malam baru ayah sama mama pulang.  Jangan berantem yah dengan adik mu."

"Iya ma...."

     Hari ini pun di mulai dengan di awali dengan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Dengan segera mulai merepotkan diri sendiri.

"Artha! udah siap atau belum?" tanya ayah sambil berteriak. Sampai tetanggapun mendengarkan ucapan ayah.

   "Bentar, ini udah siap." jawabku dengan nada rendah.

"Jangan lupa pakai masker." kata mama.

     Ayah yang sudah bersiap-siap di atas kendaraan dengan kegagahannya. Sampai para tetanggapun iri. Sesampainya di sekolah aku melihat keadaan sekitar masih sepi.

     Setelah itu aku tak perlu menghiraukan keadaan sekitar. Aku langsung berjalan menuju ke dalam kelas. Dan keadaan kelaspun masih sepi. Layaknya seperti hati yang sepi tidak ada yang mengisi. Di sekolah aku bukanlah murid teladan. Terkadang aku iri dengan orang-orang yang bisa dan mampu menguasai suatu pelajaran.

     Tidak terasa sudah 2 jam berlangsungnya pelajaran di sekolah akhirnya pulang. Ini adalah waktu yang aku tunggu. Aku sangat bersemangat dan bergembira. Terkadang aku heran dengan diriku sendiri. Bergegas dengan cepat menuju pulang ke rumah. Dengan kondisi rumah yang sepi, aku bertanya-tanya tentang adikku.

"Adikku dimana yah? biasanya dia lebih dulu pulang sekolah dari pada aku." tanyaku dalam hati.

"Kakak aku pulang." kata adik dari luar rumah menuju ke dalam rumah.

"Tumben lama pulangnya, biasanya enggak tuh."

"Tadi ada urusan di sekolah bentar kakak, jadi agak lama pulangnya. oh iya kakak bentar lagi temen aku jemput ke sini. kita ada tugas kelompok soalnya, jadi aku nanti pulang sore." sambil tersenyum.

"Yah udah, jangan kemalaman pulangnya nanti ayah sama mama khawatir loh."

"Iya tenang aja kakak, aku pergi dulu."

"Hati-hati di jalan yah." sambil melambaikan tangan.

     Sekarang tinggal aku sendiri di rumah. Terkadang aku merasa sedih tak tau kenapa. Tak sekali duakali aku merasakan ini, namun berulang-ulang kalinya. Entah mengapa aku suka dengan kesendirian dengan diri ku sendiri. Namun kesendirian ini membuat ku merasa sedih. Namun tak selalu.

     Aku lebih bisa berfikir jernih ketika aku sendiri, konsentrasi yang kuat ketika suasana sepi. Aku tak suka dengan keramaian, karena keramaian membuat ku tak bisa berfikir jernih.

     Sekarang aku sendiri di rumah,aku tak ingin memikirkan tentang kesedihan. Aku akan membuat konser dadakan. Hobby ku yaitu mendengarkan lagu KoreaPop sambil Dance. Ketika aku sendiri di rumah aku tak takut dengan hantu, namun aku takut dengan tamu yang datang ke rumah dan mengacaukan konser dadakan ku.

     "Baiklah aku putar lagu 'Savage Aespa' aja deh...." kataku kepada diriku sendiri.

 "Tapi aku tak tau bagaimana gerakan dancenya. Gimana yah caranya?" tanya ku di depan cermin.

 "Oh iya sambil buka videonya aja, konser sambil pelajari dancenya juga." merasa bangga dengan diri sendiri.

     Sesudah selesai konser dadakannya, langsung cek android siapa tau ada yang kirim pesan lewat WhatsApp. Ternyata ada, yaitu salah satu gebetan aku.

      "Hi Artha! Apa kabar?" pesan WhatsApp dari gebetan.

      "Baik, tumben tanya kabar aku?" jawab ku pada gebetan.

      "Cuman pengen tau aja sih kabar kamu gimana, hehehe."

      "Oh gitu, yah udah aku masih ada kerja lain nih. Kapan kapan lagi yah."

     Tanpa aku sadari aku melamun cukup lama. Entah apa faedahnya melamun aku tak tau. Dan tiba tiba aku terpikir tentang diriku sendiri. Aku bertanya-tanya dalam hati apa kelebihan diri sendiri ku dan kekurangan diriku itu apa. Di depan cermin aku berdiri memandangi diri ku dengan tatapan rasa penasaran.    

"Sebenarnya aku punya kelebihan apa dan kekurangan apa sih?" tanyaku di depan cermin.

"Apa keistimewaan dari diri ku?" tanyaku lagi dengan rasa penasaran yang lebih lagi.

"Cantik enggak, jelek iya." kataku lagi di depan cermin.

     Tiba-tiba aku melihat diri ku berdiri di depan cermin. Tubuhku yang begitu kurus membuat ku semakin iri dengan gadis lain. Kenapa aku berbeda dari gadis lainnya? Orang-orang bertanya tentang tubuh yang kurus. Orang-orang berkata padaku tentang tubuhku ini.

     Pernah suatu ketika aku ada di keramaian orang  yang di penuhi dengan gadis m-gadis yang mempunyai tubuh idealnya masing-masing. Hanya aku gadis dengan tubuh yang kurus di saat itu. Orang-orang sekitar mentapku dengan tatapan acuh. Aku hanya dapat menundukkan kepala dan aku merasa sangat malu saat itu.

     Tapi aku kembali sadar lagi,dan berfikir lagi tentang kelebihan dan kekurangan diriku. Aku tak pernah merasa tak percaya diri ketika melihat orang-orang yang sudah mengetahui kelebihan dan keknurangannya masing-masing. Aku hanya bisa memandangi diri sendiri di cermin dengan harapan meemukan jawaban dari segala pertanyaan ku. Aku juga tidak pintar dalam hal pelajaran seperti murid-murid teladan lainnya.

"Tak seperti yang lain, aku tak pintar dalam pelajaran di sekolah. Aku malu di dengan diri ku sendiri." kataku dalam hati sambil melamun.

"Kenapa aku tak seberuntung mereka yang bisa menguasai pelajaran dengan mudah seperti murid-murid lainnya?" tanyaku dalam hati.

    Tanpa sadar ternyata air mata sudah membasahi pipiku. Mungkin wajah ku bisa berbohong namun mataku tak menginginkan kebohongan itu.

     Namun aku teringat dengan pesan orang tuaku, untuk tetap bersyukur apa yang aku dapatkan. Tanpa aku sadari aku sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaan ku.

"Aku memiliki kelebihan dan kekurangan, aku juga memiliki ke istimewa, aku bersyukur dengan porsi badanku yang telah di berikan padaku dan aku yakin aku memiliki kemampuan dalam hal pelajaran. dan aku bersyukur memiliki ini semua." mulut ku berbicara dengan nada rendah.

"Ya...aku belum mengetahui apa kelebihan dan kekurangan dalam diriku, aku juga belum mengetahui apa keistimewaan dari diri ku. Tapi itu tak masalah bagi ku karena semuanya membutuhkan proses. Dan semua itu harus di syukuri terlebih dahulu, maka ketika aku mengetahui semuanya aku dapat menerima diri ku sendiri dengan baik." kata ku sambil tersenyum.

     Aku sadar bahwa diriku itu istimewa dan aku bersyukur dengan diriku sendiri. Dan aku tak akan mau lagi membandingkan diri ku dengan orang lain.

 

Penulis adalah siswa SMA N 1 PURBA 2021

 

 

 

 

 

    

 

 

     

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...