Sabtu, 27 November 2021

MERIAM BAMBU

 


Dhimas Krisna


           Dimalam yang dingin diselimuti kegelapan, aku dan teman ku duduk disamping api unggun. Kami merencanakan untuk membuat meriam bambu untuk merayakan pergantian tahun. Kami sangat senang dengan segala rencana kami pada malam itu. Sampai - sampai tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 00:00. Keesokan harinya aku mengajak teman-teman ku untuk mengambil bambu, untuk bahan membuat meriam. Itu masih pagi, embun masih menyelimuti rerumputan yang kami lalui, sehingga celana kami basah kuyup.

"We dingin kali pun." kata teman ku agak menggigil.

"Ayok lah biar cepat siap!" ucap ku padanya.

           Akhirnya kami pun sampai di tepi jurang tempat mengambil bambu. Jalannya sangat curam dan licin,karena tanahnya lembab. Sesmpaainya dibawah lokasi bambu berada, kami harus memanjat untuk memotong bambunya. Karena itu kami harus hati-hati dalam melangkah agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.

"Gantian ya!biar aku pertama." kuucapkan dengan semangat pada mereka.

 

"Oke oke ,aman lah itu." kata teman ku padaku.

 

Belum ada setengah yang kupotong tangan ku sudah pegal. Dan teman ku menggantikan aku untuk memotongnya. Tak terasa kini matahari sudah berada tepat di atas kepala, yang menandakan hari sudah siang. Bambunya pun sudah berhasil dirobohkan. Kini saatnya kami membereskan ranting-rantingnya, agar lebih mudah dibawa pulang.

Kini saatnya kami membawa bambu ke atas. Kami harus melewati medan yang terjal sambil memikul bambu bersama-sama,ini membutuh kan kerja sama agar lebih mudah memikulnya. Belum ada 30meter kami memikul bambu, kami sudah kelelahan dan kami beristirahat sejenak. Belum lagi sinar matahari yang menyengat ditambah lagi perut yang mulai kelaparan. Itu semua harus kami rasakan bersama-sama.

Sesampainya diatas kami merasa lega, kini kami menyeretnya menggunakan kreta agar cepat membawany pulang. Karena beban bambunya sangat berat, kreta yang kami naiki sering oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Di tengah jalan tali yang kami gunakan untuk mengikat bambu ,terlihat akan putus. Kami berhenti sejenak untuk memperbaikinya dan menambahkan tali baru.

Akhirnya kami pun twlah sampai di kampung. Kami harus melepaskan dahaga dan lapar terlebih dahulu.

"We makan lah dulu kita ya, dah lapar kali aku!" ucap teman ku.

"Okelah!" jawab ku pada meraeka perutku pun sudah keroncongan karena lapar.

 

Setelah selesai kami pun kembali berkumpul dan mulai memperbaiki meriam bambu. Aku dan teman ku membagi tugas masing-masing aku bertugas melobangi bambu, teman-teman ku bertugas membelah dan mencari alat-alat untuk membuat meriam. Tampa kami sadari hari mulai gelap, pergantian tahun mulai dekat. Malam ini kami sangat senang dan bersemangat.

 

Karena malam sangat dingin kami pun menghidupkan api unggun untuk menghilangkan rasa dingin.

"Hidupkan lah api nya we dah dinginan aku!" Aku menyuruh mereka,agak gemetar karena kedinginan.

Aku dan seorang teman ku pergi mencari kayu kering untuk dibakar, kami harus mengambilnya keladang yang tidak jauh daripemukiman. Setelah itu teman ku menyalakan api, yang membuat hangat.

Setelah itu aku menyuruh mereka membeli minyak lampu, untuk bahan bakar meriam kami.

"Belikan kalian lah minyak kita itu neh!" kubilang pada teman-teman ku.

"Ayok! Kau juga ikut, biar sama-sama kedinginan." kata teman ku.

"Sial." ucap ku dalam hati.

Karena udara malam sangat dingin, membuat bulu kudu ku berdiri. Bibir kami mulai bergemetar tak karuan karena kedinginan. Sembari menakut-nakuti teman ku di jalan yang gelap, kau mengarang cerita yang seram pada mereka. Salah seorang teman ku berteriak karena dia sangat penakut.

 

Setelah membeli minyak, kami mulai memainkan meriam. Kami harus membuat minyak didalam meriam panas agar bisa mengeluarkan suara yang keras. Tidak mudah melakukannya, butuh kesabaran.

Ketika sedang meniup api didalam meriam, tiba-tiba apinya keluar dan menghangus kan alis seorang teman ku. Kami pun tertawa terbahak-bahak karena alis teman ku habis terbakar.

Sambil menikmati indahnya kembang api kami bergantian memainkan meriam. Dan menikamati malam pergantian tahun baru bersama-sama.kini jam menunjukkan pukul 3 pagi kami mulai kelelahan dan mengantuk. Dan kami pulang kerumah masing-masing untuk tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diary Ungu

DIARY UNGU Antologi Cerita Pendek Penulis:  Rudi Saragih, Sariati Purba, S.Pd., Ayu Wahyuni Damanik, Regita Saragih, Yeni Olivia sipayung, A...