Trie Indah Purba
Dingin sekali. Udara berhembus. Bersama Sonya, Ketrin, Tasya, dan api
unggun. Ketika jam sudah menunjuk 21.00 api unggun sundah mulai meredup dan
akan mati. Sehingga aku dan temanku masuk ke tenda dan tidur.
“
Saya tidak bisa tidur.” kata sonya.
“ Kenapa ?” tanya Tasya.
“
Menyeramkan dan dingin masuk kedalam tubuh ku.”
Saya pun terbawa kedalam suasana tersebut tiba-tiba terdengar suara sura
aneh dari dalam semak yang berasa di samping tenda kami. Suasana menegangkan
dan suara tersebut makin keras kami ketakutan dan saling berpelukan tiba-tiba
babi hutan melompat dari semak tersebut dan kami berteriak;
“ Aaaaaaaaaaa......aaaa....aaaa....!!!!!!”
Dan setelah itu kami pun tertawa terbahak
bahak karena babi hutan tersebut lari dan tidak mengganggu kami setelah kami
bercerita bermacam macam kami pun tidur.
Dan pada pagi hari kami berencana untuk pulang siang hari. Saat itu
udara sejuk, indah, dan ada samudra awan disana, tak lupa dengan secangkir
kopi. Kami menikmati suasana tersebut bagaikan tidak mempunyai masalah. Dan
mengabadikan momen tersebut. Ketika jam
sudah menunjuk jam 08.00 kami memasak sarapan dan sarapan.
Tak habis- habis nya aku takjub pada suasana pagi hari di atas gunung
tersebut. Ketika jam hampir menunjuk jam 14.00 kami segera berberes barang,
awan mendung dan angin beriup kami cepat cepat beberes barang supaya kami tidak
terkena hujan. Ternyata belum siap berberes hujan turun lebat. Kami kembali ke
tenda untuk berteduh dan menunggu hujan reda.
“ Bagai mana kalau hujan ini terus sampai malam, kita tidak mempunyai
cadangan makanan lagi.” tanya Ketrin.
Lalu kami bersama sama membuat solusi tetapi tidak ada satupun solusi
solusi dri temanku termasuk aku yang baik dan mungkin. Sampai pada jam 17.00
sore hujan pun reda dan kami memaksa pulang karena hal tersebut. Lalu kami
berberes dan pulang ketika diperjalanan pulang jalan licin dan kabut menutupi
perjalanan kami. Dingin menusuk kedalam tubuh kami. Karena tidak memungkinkan
untuk melanjutkan perjalanan kami , kami medirikan tenda dan akan bermalam
dalam posko tersebut. Karena tidak mempunyai cadangan makanan kami berencana
pulang pagi.
Dipagi hari matahari bersinar dan menunjukkan keindahan nya. Tidak mau
membiarkan keindahan itu hilang kami mengabadikan momen tersebut berfoto foto
dan lainnya. Setelah itu kami bergegas memberesi barang kami lalu pulang
diperjalanan.
“Aku lapar, kita belum makan malam dan
sarapan.” kata Sonya.
“ Sabar... sedikit lagi kita sampai terminal.” Jawab Ku.
Beberapa jam kemudian kami sampai diterminal, lalu kami naik angkutan
dan berhenti disebuah warung makan padang.
“Disini saja kita makan, tercium enak dari
aromanya.” kata Ketrin.
“Oke.” jawab Tasya.
Kami pun masuk kedalam warung tersebut dan
memilih tempat duduk dengan berpakaian usang dan berbau lumpur.
“Kalian mau pesan apa?” tanya Ketrin.
Lalu kami menulis pesanan kami. Beberapa menit
kemudian makanan pun datang dan kami memakan nya. Setelah kami selesai makan
beristirahat sebentar lalu kami pulang kerumah kami masing masing dan akan
merencanakan kemah kami selanjutnya.
Penulis adalah Siswa
SMA N 1 Purba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar